Orientasi yang dimaksud di sini adalah pusat perhatian atau titik berat pandangan. Misalnya, seseorang yang berorientasi eko- nomi dalam pergaulan, maka ia akan menitikberatkan pandangan atau memusatkan perhatiannya pada perhitungan untung rugi yang dapat ditimbulkan oleh pergaulan yang ia lakukan dengan'orang lain; sedangkan orang yang berorientasi agama akan melihat pergaulan itu sebagai lapangan tempat dilangsungkannya ibadah ^enurut ajaran agama.
Apakah yang menjadi titik berat pandangan atau pusat perhatian konselor terhadap kliennya? Itulah orientasi bimbingan dan konseling yang menjadi pokok pembahasan pada bagian ini, yaitu orientasi perseorangan, orientasi perkembangan, dan orientasi permasalahan. (Priyatno dan Erman Anti, 1999: 234-239). Adapun penjelasannya masing-masing sebagai berikut:
1. Orientasi Perseorangan
Orientasi perseorangan dalam bimbingan dan konseling menghendaki agar konselor menitikberatkan pandangan pada siswa secara individual. Satu per satu siswa perlu mendapatkan perhatian. Pemahaman konselor yang baik terhadap keseluruhan siswa sebagai kelompok dalam kelas itu penting juga, tetapi arah pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling ditujukan kepada masing-masing siswa. Kondisi keseluruhan (kelompok) siswa itu merupakan konfigurasi (bentuk keseluruhan) yang dampak positif dan negatifnya terhadap siswa secara individual harus diperhitungkan.
Berkenaan dengan isu “kelompok” atau “individu”, konselor memilih individu sebagai titik berat pandangannya. Dalam hal ini individu diutamakan dan kelompok dianggap sebagai lapangan yang dapat memberikan pengaruh tertentu terhadapa individu. Dengan kata lain, kelompok dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepen- tingan dan kebahagiaan individu, dan bukan sebaliknya. Pemusatan perhatian terhadap individu itu sama sekali tidak berarti mengabaikan kepentingan kelompok; dalam hal ini kepentingan kelompok diletakkan dalam kaitannya dengan hubungan timbal balik yang wajar anatar individu dan kelompoknya. Kepentingan kelompok dalam arti misalnya keharuman nama dan^citra kelompok, kesetiaan kepada kelompok, kesejahteraan kelompok, dan sebagainya, tidak akan terganggu oleh pemusatan pada kepentingan dan kebahgiaan individu yang menjadi anggota kelompok itu. Kepentingan kelom pok justru dikembangkan dan ditingkatkan melalui terpenuhinya
kepentingan dan tercapainya kebahagiaan individu. Apabila secara
Drs. Abror Sodik, M.Si.
individual para anggota kelompok itu dapat terpenuhi kepentingan- nya dan merasa bahagia, dapat diharapkan kepentingan kelompok pun akan terpenuhi. Lebih-lebih lagi, pelayanan bimbingan dan konseling yang berorientasi individu itu sama sekali tidak boleh menyimpang ataupun bertentangan dengan nilai-nilai itu sesuai dengan norma-norma umum yang berlaku.
Sejumlah kaidah yang berkaitan dengan orientasi perorangan dalam bimbingan dan konseling dapat dikemukakan sebagai berikut: a. Semua kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka pelayanan
bimbingan dan konseling diarahkan bagi peningkatan perwujudan diri sendiri setiap individu yang menjadi sasaran layanan.
b. Pelayanan bimbingan dan konseling meliputi kegiatan berkenaan dengan individu untuk memahami kebutuhan-kebutuhannya, motivasi-motivasinya, dan kemampuan-kemampuan potensial- nya, yang semuanya unik, serta untuk membantu individu agar dapat menghargai kebutuhan, motivasi, dan potensinya itu ke arah pengembangannya yang optimal, dan pemanfaatan yang sebesar-besarnya bagi diri dan lingkungannya.
c. Setiap klien harus diterima sebagai individu dan harus ditangani secara individual. (Rogers, dalam McDaniel, 1956).
d. Adalah menjadi tanggung jawab konselor untuk memahami minat, kemampuan, dan perasaan klien serta untuk menyesuaikan program-program pelayanan dengan kebutuhan klien setepat mungkin. Dalam hal itu, penyelenggaraan program yang sistematis untuk mempelajari individu merupakan dasar yang tak terelakkan bagi berfungsinya program bimbingan dan konseling. (McDaniel, 1956).
2. Orientasi Perkembangan
Ivey dan Rigazio Digilio (dalam Mayers, 1992) menekankan bahwa orientasi perkembangan justru merupakan ciri khas yang Menjadi inti gerakan bimbingan dan konseling. Perkembangan Merupakan konsep inti dan terpadukan, serta menjadi tujuan dari
Drs. A bror Sodik, JVLSi.
segenap layanan bimbingan dan konseling. Selanjutnya ditegaskan bahwa praktek bimbingan dan konseling tidak lain adalah memberi- kan kemudahan berlangsungnya perkembangan yang berkelanjutan. Permasalahan yang dihadapi oleh individu harus diartikan sebagai terhalangnya perkembangan, dan hal itu setnua mendorong konselor dan klien bekerjasama untuk menghilangkan penghalang itu serta mempengaruhi lajunya perkembangan klien.
Secara khusus, Thompson & Rudolph ( 1 9 8 3 ) melihat perkem bangan individu dari sudut perkembangan kognisi. Dalam perkem- bangannya, anak-anak berkemungkinan mengalami hambatan perkembangan kognisi dalam empat bentuk, yaitu:
a. Hambatan egosentrisme, yaitu ketidakmampuan melihat kemungkinan lain di luar apa yang dipahaminya.
b. Hambatan konsentrasi, yaitu ketidakmampuan untuk memusat- kan perhatian pada lebih dari satu aspek tentang sesuatu hal. c. Hambatan reversibilitas, yaitu ketidakmampuan menelusuri alur
yang terbalik dari alur yang dipahami semula.
d. Hambatan transformasi, yaitu ketidakmampuan meletakkan sesuatu pada susunan urutan yang ditetapkan.
Thompson & Rudolph menekankan bahwa tugas bimbingan dan konseling adalah menangani hambatan-hambatan perkem bangan itu.
3 . Orientasi Permasalahan
Orientasi masalah dalam bimbingan dan konseling secara langsung bersangkut-paut dengan fungsi pemahaman, fungsi pencegahan, fungsi pengenta§anv dfiln futtgsi pemeliharaan/ pengembangan. Oleh karena itu konsep orientasi masalah terentang seluas daerah beroperasinya fungsi-fungsi bimbingan dan konseling itu.
Jenis masalah yang (mungkin) dialami oleh individu a mat bervariasi. Roos L . Mooney (dalam Prayitno, 1 9 8 7 ) m e n g i d e n t i f i k a s i
330 masalah yang digolongkan ke dalam sebelas kelompok masalah,
yaitu kelompok yang berkenaan dengan:
a Perkembangan jasamani dan kesehatan (PJK)
b. Keuangan, lingkungan, dan pekerjaan (KLP)
c. Kegiatan sosial dan reaksi (KSR)
d. Hubungan muda-mudi, pacaran dan perkawinan (HPP)
e. Hubungan sosial kejiwaan (HSK) f. Keadaan pribadi kejiwaan (KPK)
g. Moral dan agama (MDA)
h. Keadaan rumah dan keluarga (KRK)
i. Masa depan pendidikan dan pekerjaan (MPP) j. Penyesuaian terhadap tugas-tugas sekolah (PTS) k. Kurikulum dan prosedur pengajaran (KPP)
Frekuensi dialaminya masalah-masalah tersebut juga bervariasi. Satu jenis masalah barangkali lebih banyak dialami, sedang jenis masalah lain lebih jarang muncul. Frekuensi munculnya masalah- masalah itu diwarnai oleh berbagai kondisi lingkungan.
Orientasi masalah dalam bimbingan dan konseling mewasdai kemungkinan timbulnya masalah-masalah itu, dan kalau individu ternyata (sudah terlanjur) mengalaminya, tugas bimbingan dan konseling adalah membantu individu tersebut mengatasi masalah- tnasalahnya itu.