• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.3. Dampak Berganda Sektor Pertanian

Analisis ini bertujuan untuk melihat dampak perubahan permintaan akhir di suatu sektor ekonomi terhadap output, pendapatan rumahtangga, penyerapan tenaga kerja pada sektor-sektor ekonomi lainnya. Ada dua tipe pengganda atau multiplier yang digunakan untuk analisis, yaitu multiplier tipe I dan multiplier tipe II. Keduanya masing-masing untuk analisis multiplier output, pendapatan rumahtangga, dan penyerapan tenaga kerja. Multiplier tipe I diperoleh dari pengolahan lebih lanjut matrik kebalikan Leontief model terbuka yang menjadikan rumahtangga sebagai variabel eksogen, sedangkan multiplier tipe II

dari matrik kebalikan Leontief model tertutup yang memasukkan rumahtangga sebagai variabel endogen. Dalam hal ini rumahtangga dijadikan sektor produksi seperti halnya sektor-sektor ekonomi. Oleh karena itu, multiplier tipe II nilainya selalu lebih besar dibandingkan dengan multiplier tipe I.

6.3.1. Multiplier Output

Multiplier output menunjukkan nilai total dari output yang dihasilkan oleh perekonomian untuk memenuhi adanya perubahan satu unit permintaan akhir di suatu sektor. Peningkatan permintaan akhir sektor jtidak hanya meningkatkan output sektor j tersebut, tetapi juga akan berdampak peningkatan output sektor- sektor lainnya di suatu perekonomian. Peningkatan output sektor-sektor lain tersebut tercipta akibat adanya dampak langsung dan dampak tidak langsung dari peningkatan permintaan akhir sektor j tersebut. Dengan demikian, jika terjadi perubahan permintaan akhir dalam model I-O, maka akan terjadi perubahan output oleh sektor-sektor ekonomi dalam suatu perekonomian. Hasil analisis multiplier output tipe I dan tipe II sektor-sektor ekonomi di Provinsi NTT dapat dilihat di Lampiran 20.

Tabel 17 menunjukkan nilai multiplier output tipe I dan tipe II subsektor atau komoditi pertanian tahun 2009. Nilai multiplier output tipe I tertinggi dimiliki oleh komoditi unggas dan hasil-hasilnya sebesar 1.277. Berikut secara berurutan nilai multiplier output tipe I diikuti oleh komoditi kopi sebesar 1.264, subsektor peternakan dan pemotongan hewan sebesar 1.238, subsektor kehutanan peringkat sebesar 1.200, komoditi jambu mete sebesar 1.191, dan komoditi padi sebesar 1.183. Demikian juga dengan nilai multiplier output tipe II tertinggi dimiliki oleh komoditi unggas dan hasil-hasilnya sebesar 1.541. Berikut secara

berurutan nilai multiplier output tipe II diikuti oleh subsektor peternakan dan pemotongan hewan sebesar 1.478, komoditi padi sebesar 1.448, subsektor kehutanan sebesar 1.437, dan komoditi kopi sebesar 1.436.

Tabel 17. Multiplier Output Subsektor/Komoditi Pertanian di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Tahun 2009

Kode

I-O Subsektor/Komoditi

Multiplier Output

Tipe I Peringkat Tipe II Peringkat

1 Padi 1.183 26 1.448 22

2 Jagung 1.121 30 1.428 25

3 Tanaman bahan makanan 1.105 31 1.332 30

4 Umbi-umbian 1.156 28 1.383 27 5 Jambu mete 1.191 25 1.324 33 6 Kelapa 1.075 34 1.331 31 7 Tanaman perkebunan 1.178 27 1.347 29 8 Kopi 1.264 21 1.436 24 9 Pertanian lainnya 1.083 33 1.400 26

10 Peternakan dan pemotongan hewan 1.238 22 1.478 21

11 Unggas dan hasil-hasilnya 1.277 20 1.541 18

12 Kehutanan 1.200 24 1.437 23

13 Perikanan 1.123 29 1.299 34

Sumber: Tabel Input Output Transaksi Domestik Atas Dasar Harga Produsen Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2009 (Diolah Kembali).

Komoditi unggas dan hasil-hasilnya memiliki nilai multiplier output tipe I sebesar 1.277. Angka ini dapat diartikan, jika permintaan akhir komoditi unggas dan hasil-hasilnya dinaikkan sebesar satu rupiah, maka diperkirakan output perekonomian akan naik sebanyak 1.277 rupiah. Peningkatan permintaan akhir sebesar satu rupiah pada komoditi unggas dan hasil-hasilnya akan berdampak terhadap peningkatan output sektor-sektor ekonomi lainnya. Sektor-sektor ekonomi tersebut antara lain peningkatan output komoditi unggas dan hasil- hasilnya itu sendiri sebesar 1.037 rupiah, komoditi padi sebesar 0.082 rupiah, sektor perdagangan sebesar 0.079 rupiah, sektor angkutan sebesar 0.028 rupiah, dan komoditi umbi-umbian sebesar 0.001 rupiah. Multiplier output tipe I sektor- sektor ekonomi di Provinsi NTT dapat dilihat di Lampiran 23.

Demikian pula komoditi unggas dan hasil-hasilnya memiliki nilai multiplier output tipe II sebesar 1.541. Angka ini dapat diartikan, jika permintaan akhir komoditi unggas dan hasil-hasilnya dinaikkan sebesar satu rupiah, maka diperkirakan output perekonomian akan naik sebanyak 1.541 rupiah dengan memperhitungkan efek konsumsi rumahtangga. Peningkatan permintaan akhir sebesar satu rupiah pada komoditi unggas dan hasil-hasilnya akan berdampak terhadap peningkatan output sektor-sektor ekonomi lainnya. Sektor-sektor ekonomi tersebut antara lain peningkatan output pada komoditi unggas dan hasil- hasilnya itu sendiri sebesar 1.051 rupiah, sektor perdagangan sebesar 0.116 rupiah, komoditi padi sebesar 0.079 rupiah, sektor jasa swasta sebesar 0.070, dan sektor angkutan sebesar 0.047 rupiah. Multiplier output tipe II sektor-sektor ekonomi di Provinsi NTT dapat dilihat di Lampiran 24. Cara membaca nilai multiplier output sektor-sektor ekonomi lainnya sama seperti di atas.

Hasil analisis multiplier output menunjukkan ada kesamaan keputusan yang diberikan oleh tipe I dan tipe II. Perbedaan mendasar hanya terletak pada keterkaitan pengeluaran rumahtangga. Pada tipe I rumahtangga tidak diperhitungkan, sementara pada tipe II rumahtangga ikut masuk dalam pengukuran multiplier. Oleh karena itu, pilihan pembangunan di sektor pertanian berdasarkan multiplier tipe II dianggap lebih tepat dijadikan acuan bagi pengambil kebijakan di Provinsi NTT, dimana komoditi unggas dan hasil-hasilnya memiliki nilai multiplier output tipe II relatif tinggi.

6.3.2. Multiplier Pendapatan

Multiplier pendapatan menunjukkan dampak kenaikan permintaan akhir dari suatu sektor terhadap pendapatan rumahtangga yang bekerja pada sektor

tersebut. Suatu sektor yang mempunyai multiplier pendapatan tinggi akan memberikan dampak yang besar pula terhadap kesejahteraan tenaga kerja pada sektor tersebut. Hasil analisis multiplier pendapatan tipe I dan tipe II sektor-sektor ekonomi di Provinsi NTT dapat dilihat di Lampiran 21.

Tabel 18. Multiplier Pendapatan Subsektor/Komoditi Pertanian di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Tahun 2009

Kode

I-O Subsektor/Komoditi

Multiplier Pendapatan

Tipe I Peringkat Tipe II Peringkat

1 Padi 1.185 27 1.473 27

2 Jagung 1.114 31 1.387 31

3 Tanaman bahan makanan 1.106 32 1.359 32

4 Umbi-umbian 1.158 28 1.424 28 5 Jambu mete 1.285 18 1.514 24 6 Kelapa 1.055 33 1.302 33 7 Tanaman perkebunan 1.238 22 1.485 26 8 Kopi 1.372 17 1.692 18 9 Pertanian lainnya 1.046 34 1.295 34

10 Peternakan dan pemotongan hewan 1.261 21 1.553 21

11 Unggas dan hasil-hasilnya 1.268 19 1.554 20

12 Kehutanan 1.238 24 1.526 22

13 Perikanan 1.153 29 1.404 30

Sumber: Tabel Input Output Transaksi Domestik Atas Dasar Harga Produsen Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2009 (Diolah Kembali).

Tabel 18 menunjukkan nilai multiplier pendapatan tipe I dan tipe II subsektor atau komoditi pertanian tahun 2009. Nilai multiplier pendapatan tipe I tertinggi dimiliki oleh komoditi kopi sebesar 1.372. Berikut secara berurutan nilai multiplier pendapatan tipe I diikuti oleh komoditi jambu mete sebesar 1.285, komoditi unggas dan hasil-hasilnya sebesar 1.268, subsektor peternakan dan pemotongan hewan sebesar 1.261, dan subsektor tanaman perkebunan sebesar 1.238. Demikian juga dengan nilai multiplier pendapatan tipe II tertinggi dimiliki oleh komoditi kopi sebesar 1.692. Berikut secara berurutan nilai multiplier pendapatan tipe II diikuti oleh komoditi unggas dan hasil-hasilnya sebesar 1.554,

subsektor peternakan dan pemotongan hewan sebesar 1.553, subsektor kehutanan sebesar 1.526, dan komoditi jambu mete sebesar 1.514.

Komoditi kopi memiliki nilai multiplier pendapatan tipe I sebesar 1.372. Angka ini dapat diartikan, jika pendapatan rumahtangga yang bekerja di komoditi kopi meningkat karena kenaikan permintaan akhir komoditi tersebut sebesar satu rupiah, maka diperkirakan pendapatan rumahtangga di sektor perekonomian akan meningkat sebesar 1.372 rupiah baik langsung maupun tidak langsung. Peningkatan permintaan akhir sebesar satu rupiah pada komoditi kopi akan berdampak terhadap peningkatan pendapatan rumahtangga sektor-sektor ekonomi lainnya. Sektor-sektor ekonomi tersebut antara lain peningkatan pendapatan rumahtangga komoditi kopi itu sendiri sebesar 1.141 rupiah, sektor jasa swasta sebesar 0.077 rupiah, sektor bangunan sebesar 0.045 rupiah, sektor perdagangan sebesar 0.042 rupiah, dan sektor jasa pemerintah sebesar 0.018 rupiah. Multiplier

pendapatan tipe I sektor-sektor ekonomi di Provinsi NTT dapat dilihat di Lampiran 25.

Demikian pula, komoditi kopi memiliki nilai multiplier pendapatan tipe II sebesar 1.692. Angka ini dapat diartikan, jika pendapatan rumahtangga yang bekerja di komoditi kopi meningkat karena kenaikkan permintaan akhir komoditi

tersebut sebesar satu rupiah, maka diperkirakan pendapatan rumahtangga di sektor perekonomian akan meningkat sebesar 1.692 rupiah baik langsung

maupun tidak langsung dengan memperhitungkan efek konsumsi rumahtangga. Peningkatan permintaan akhir sebesar satu rupiah pada komoditi kopi akan berdampak terhadap peningkatan pendapatan rumahtangga sektor-sektor ekonomi lainnya. Sektor-sektor ekonomi tersebut antara lain peningkatan pendapatan

komoditi kopi itu sendiri sebesar 1.147 rupiah, sektor jasa swasta sebesar 0.130 rupiah, sektor perdagangan sebesar 0.089 rupiah, sektor jasa pemerintah sebesar 0.059 rupiah, dan sektor bangunan sebesar 0.057 rupiah. Multiplier pendapatan tipe II sektor-sektor ekonomi di Provinsi NTT dapat dilihat di Lampiran 26. Cara membaca nilai multiplier pendapatan sektor-sektor ekonomi lainnya sama seperti di atas.

Hasil analisis multiplier pendapatan menunjukkan adanya kesamaan keputusan yang diberikan oleh tipe I dan tipe II. Perbedaan mendasar hanya terletak pada keterkaitan pengeluaran rumahtangga. Pada tipe I rumahtangga tidak diperhitungkan, sementara pada tipe II rumahtangga ikut masuk dalam pengukuran multiplier. Oleh karena itu, pilihan pembangunan di sektor pertanian berdasarkan multiplier tipe II dianggap lebih tepat dijadikan acuan bagi pengambil kebijakan di Provinsi NTT, dimana komoditi kopi memiliki nilai multiplier pendapatan rumahtangga tipe II relatif tinggi.

Kawasan Manggarai Pulau Flores merupakan salah satu sentra produksi kopi terbesar di Provinsi NTT. Komoditi ”mutiara hitam” ini juga menjadi gantungan hidup umum masyarakat setempat sehingga mereka dapat menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke jenjang pendidikan tinggi. Kopi dari kawasan ini dengan cita rasa khas dan aroma kuat, diperkirakan sudah populer sejak masa kolonial Belanda. Komoditi kopi juga menjadi salah satu andalan ekspor hasil perkebunan Provinsi NTT. Namun kenyataannya, produksi kopi di Manggarai, yang telah dimekarkan menjadi tiga kabupaten (Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur) kini cenderung tertinggal dibanding produksi perkebunan di kabupaten tetangganya, yaitu Ngada.

Kabupaten Manggarai Timur yang berbukit-bukit dengan ketinggian 1 100-1 300 meter di atas permukaan laut memang ideal untuk budidaya kopi. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten setempat, luas lahan kebun kopi tahun 2010 mencapai 16 957 hektar (terluas di kawasan Manggarai) dengan produksi 5 289 ton. Komposisi jenis kopi yang ditanam adalah kopi arabika seluas 3 790 hektar dan kopi robusta seluas 13 167 hektar. Setiap hektar kebun mampu menghasilkan 500 kilogram kopi robusta dan 450 kilogram kopi arabika.

Sedangkan menurut data Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Manggarai, total areal kopi arabika tahun 2010 mencapai 2 767.63 hektar dengan tingkat produktivitas 367.53 kilogram per hektar. Sedangkan tanaman kopi robusta seluas 4 261.65 hektar dengan produktivitas 353.89 kilogram per hektar. Sementara di Kabupaten Ngada yang total luas areal kebun kopinya hanya sekitar 2 883 hektar dengan produksi 2 242 ton justru tingkat produktivitasnya lebih tinggi sebesar 777.66 kilogram per hektar.

Sejak beberapa tahun terakhir, petani menghadapi dampak cuaca ekstrem yang menyebabkan produksi kopi turun drastis. Curah hujan yang tinggi menyebabkan tanaman kopi tidak berbuah banyak, sementara harga kopi tak pasti, belum lagi harga masih dipermainkan oleh tengkulak. Produksi kopi banyak berkurang, sementara para petani butuh penghasilan untuk menopang hidup keluarga sehingga sebagian dari mereka terperangkap dalam sistem ijon. Mereka menjual kopi dengan harga sangat murah kepada para tengkulak. Petani kopi menjual kopinya dengan harga hanya sekitar Rp 3 000-Rp 4 000 per kilogram kepada tengkulak. Padahal, harga normal kopi bisa mencapai Rp 20 000 per

kilogram. Akibat sistem ijon, petani memiliki sedikit kopi kualitas terbaik untuk dijual kepada eksportir sehingga permintaan pasar luar negeri pun tidak dapat dipenuhi.

PT Indokom Citra Persada merupakan perusahaan eksportir kopi yang mulai menangani kopi flores sekitar tahun 2000-an. Ekspor terakhir tahun 2010 ke Amerika Serikat sebanyak 8 000 ton. Dari jumlah tersebut, kopi arabika dari Flores hanya sebesar 300-400 ton atau sekitar 4 persen dengan nilai ekspor sekitar Rp 8.5 miliar. Untuk meningkatkan volume ekspor, khususnya dari Flores, maka pemerintah daerah perlu melakukan perluasan dan peremajaan tanaman kopi. Umumnya tanaman kopi di daerah ini sudah tua sehingga tingkat produktivitasnya rendah. Kopi juga bisa dikembangkan bukan hanya di Manggarai dan Ngada, tetapi juga Kabupaten Ende dan Kabupaten Flores Timur yang merupakan daerah potensial. Jika digarap dengan serius, bukan mustahil ke depan kopi flores akan memberikan peranan lebih besar dalam meningkatkan pendapatan masyarakat dan kesempatan kerja di Provinsi NTT.

6.3.3. Multiplier Tenaga Kerja

Multiplier tenaga kerja merupakan efek total dari perubahan lapangan pekerjaan di perekonomian akibat adanya satu satuan perubahan permintaan akhir di suatu sektor tertentu. Hasil analisis multiplier tenaga kerja tipe I dan tipe II sektor-sektor ekonomi di Provinsi NTT dapat dilihat di Lampiran 22.

Tabel 19 menunjukkan nilai multiplier tenaga kerja tipe I dan tipe II subsektor atau komoditi pertanian tahun 2009. Nilai multiplier pendapatan tipe I tertinggi dimiliki oleh komoditi kopi sebesar 1.200. Berikut secara berurutan nilai

multiplier tenaga kerja tipe I diikuti oleh subsektor perternakan dan pemotongan hewan sebesar 1.192, komoditi unggas dan hasil-hasilnya sebesar 1.175, komoditi jambu mete sebesar 1.162, dan komoditi padi sebesar 1.144. Demikian juga dengan nilai multiplier tenaga kerja tipe II tertinggi dimiliki oleh komoditi kopi sebesar 1.371. Berikut secara berurutan nilai multiplier pendapatan tipe II diikuti oleh subsektor peternakan dan pemotongan hewan sebesar 1.336, komoditi unggas dan hasil-hasilnya sebesar 1.311, komoditi padi sebesar 1.295, dan komoditi jambu mete sebesar 1.258.

Tabel 19. Multiplier Tenaga Kerja Subsektor/Komoditi Pertanian di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Tahun 2009

Kode

I-O Subsektor/Komoditi

Multiplier Tenaga Kerja

Tipe I Peringkat Tipe II Peringkat

1 Padi 1.144 23 1.295 22

2 Jagung 1.100 27 1.233 28

3 Tanaman bahan makanan 1.085 29 1.206 29

4 Umbi-umbian 1.127 25 1.248 26 5 Jambu mete 1.162 21 1.258 24 6 Kelapa 1.026 34 1.145 34 7 Tanaman perkebunan 1.106 26 1.246 27 8 Kopi 1.200 15 1.371 18 9 Pertanian lainnya 1.037 33 1.152 33

10 Peternakan dan pemotongan hewan 1.192 16 1.336 19

11 Unggas dan hasil-hasilnya 1.175 18 1.311 21

12 Kehutanan 1.044 32 1.195 30

13 Perikanan 1.068 30 1.195 31

Sumber: Tabel Input Output Transaksi Domestik Atas Dasar Harga Produsen Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2009 (Diolah Kembali).

Komoditi kopi memiliki nilai multiplier tenaga kerja tipe I sebesar 1.200. Angka ini dapat diartikan, jika permintaan akhir komoditi kopi dinaikkan satu rupiah, maka diperkirakan akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja di sektor perekonomian sebesar 1.200 orang. Peningkatan permintaan akhir sebesar satu rupiah pada komoditi kopi akan berdampak terhadap peningkatan penyerapan tenaga kerja sektor-sektor ekonomi lainnya. Sektor-sektor ekonomi tersebut antara

lain peningkatan penyerapan tenaga kerja komoditi kopi itu sendiri sebesar 1.141 orang, subsektor peternakan dan pemotongan hewan sebesar 0.013 orang, sektor perdagangan sebesar 0.013 orang, sektor bangunan sebesar 0.005 orang, dan sektor angkutan sebesar 0.005 orang. Multiplier tenaga kerja tipe I sektor-sektor ekonomi di Provinsi NTT dapat dilihat di Lampiran 27.

Demikian pula, komoditi kopi memiliki nilai multiplier tenaga kerja tipe II sebesar sebesar 1.371. Angka ini dapat diartikan, apabila permintaan akhir komoditi kopi naik sebesar satu rupiah, maka diperkirakan akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja di sektor perekonomian sebesar 1.371 orang dengan memperhitungkan efek konsumsi rumahtangga. Peningkatan permintaan akhir sebesar satu rupiah pada komoditi kopi akan berdampak terhadap peningkatan penyerapan tenaga kerja sektor-sektor ekonomi lainnya. Sektor-sektor ekonomi tersebut antara lain peningkatan penyerapan tenaga kerja komoditi kopi itu sendiri sebesar 1.147 orang, subsektor tanaman bahan makanan sebesar 0.037 orang, subsektor peternakan dan pemotongan hewan sebesar 0.029 orang, sektor perdagangan sebesar 0.027 orang, dan komoditi jagung sebesar 0.022 orang. Multiplier tenaga kerja tipe II sektor-sektor ekonomi di Provinsi NTT dapat dilihat di Lampiran 28. Cara membaca nilai multiplier tenaga kerja sektor-sektor ekonomi lainnya sama seperti di atas.

Hasil analisis multiplier tenaga menunjukkan adanya kesamaan keputusan yang diberikan oleh tipe I dan tipe II. Perbedaan mendasar hanya terletak pada keterkaitan pengeluaran rumahtangga. Pada tipe I rumahtangga tidak diperhitungkan, sementara pada tipe II rumahtangga ikut masuk dalam pengukuran multiplier. Oleh karena itu, pilihan pembangunan di sektor pertanian

berdasarkan multiplier tipe II dianggap lebih tepat dijadikan acuan bagi pengambil kebijakan di Provinsi NTT, dimana komoditi kopi memiliki nilai multiplier penyerapan tenaga kerja tipe II relatif tinggi.

6.4. Dampak Perubahan Permintaan Akhir di Komoditi Padi, Subsektor