• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi dan Prioritas Pengembangan Sektor Pertanian

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.5. Strategi dan Prioritas Pengembangan Sektor Pertanian

Subsektor peternakan di Provinsi NTT mempunyai peranan penting bagi Daerah. Kontribusi subsektor peternakan terhadap PDRB atas dasar harga berlaku tahun 2009 mencapai 10.37 persen terhadap total PDRB Provinsi NTT dan 26.28 persen terhadap lapangan usaha sektor pertanian. Salah satu komoditas unggulan peternakan daerah ini adalah ternak sapi potong, dimana ternak ini berperan besar dalam peningkatan pendapatan masyarakat dan daerah serta penyerapan tenaga kerja.

Dalam pengembangan peternakan sapi potong di Provinsi NTT, khususnya di Pulau Timor, aspek pakan masih merupakan permasalahan utama bagi petani

peternak. Tingginya angka kematian anak sapi Bali dan sapi Bali muda pada musim kemarau adalah akibat kekurangan pakan. Selain aspek pakan, aspek lain yang perlu mendapat perhatian serius adalah aspek pembibitan atau reproduksi ternak sapi. Adanya indikasi penurunan kualitas ternak sapi bibit, antara lain semakin mengecilnya ukuran linear tubuh sapi Bali. Dua faktor utama penyebab penurunan kualitas ternak bibit adalah seleksi dan penyingkiran relatif tidak dilaksanakan secara efektif serta disinyalir terjadi silang dalam (inbreeding) serta peternak lebih memilih menjual ternak berkualitas baik dengan tampilan bagus karena harga jualnya lebih tinggi. Dalam manajemen perkawinan ternak, peternak masih menggunakan pejantan yang bersifat seadanya atau tidak memperhatikan standar kualitas genetik pejantan oleh karena minimnya pengetahuan peternak dalam aspek pembibitan ini. Kendala berikutnya adalah rendahnya daya saing komoditas peternakan karena skala usahatani ternak yang relatif kecil dan tersebar, kondisi ini diperparah oleh sarana transportasi yang belum memadai. Disamping itu, masalah kekurangan sarana pemasaran ternak dan produk ternak, misalnya pasar hewan, rumah potong hewan dan kelengkapannya menyebabkan kesulitan dalam pengawasan mutu produk.

Berdasarkan beberapa kendala di atas, maka strategi pengembangan subsektor peternakan khususnya ternak sapi potong dapat diarahkan pada beberapa hal berikut:

1. Pemerintah daerah perlu terus mendukung agar peternak dapat mengusahakan ketersediaan pakan bagi ternaknya sepanjang waktu dengan penggunaan teknologi pengawetan pakan.

2. Dinas Peternakan perlu mengusahakan suatu program breeding yang terencana dan berkelanjutan dengan cara antara lain, menyebarkan ternak bibit bermutu genetik bagus, penggunaan teknologi reproduksi, dan diikuti oleh upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia dalam rangka penguasaan teknologi tersebut.

3. Peningkatan skala usaha perlu dilakukan di tingkat peternak, di tingkat kelompok tani peternak dan di tingkat gabungan kelompok tani atau koperasi. Hal ini akan mendorong berkembangnya kawasan sentra pembibitan ternak unggulan.

4. Pemerintah perlu memfasilitasi sarana dan prasarana pemasaran sebagai upaya peningkatan daya saing dan nilai tambah yang lebih besar.

Wilayah perairan Provinsi NTT merupakan kekayaan yang belum digali secara optimal untuk dimanfaatkan bagi kepentingan masyarakat daerah ini. Wilayah laut nyatanya masih menjadi hiasan dan kebanggaan semata bagi warga NTT. Padahal bila kekayaan laut ini dikelola secara baik, maka dapat memberikan kontribusi untuk kemajuan ekonomi NTT. Wilayah perairan laut Propinsi NTT mencapai luas sekitar 200 000 km2di luar Zone Ekonomi Eksklusif Indonesia dan memiliki potensi perikanan cukup besar, yaitu potensi lestari mencapai 240.000 ton ikan per tahun dan pengusahaannya baru mencapai 25.88 persen (BPS NTT, 2010).

Potensi perikanan dan kelautan lain yang merupakan komoditi andalan Provinsi NTT, yaitu: (1) mutiara meliputi Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, Larantuka, Lambata, Sikka, Alor, Sumba Timur, Sumba Barat, dan Kupang, (2) rumput laut meliputi Kabupaten Kupang, Rote Ndao, perairan Utara

Daratan Flores dan Kabupaten Sumba Barat, (3) potensi perikanan lainnya seperti

ikan tuna, cakalang, kerapu, dan teripang masih cukup besar dan tersebar di seluruh perairan di Provinsi NTT, dan (4) Potensi ikan hias juga terdapat di Kabupaten Kupang, Alor, Rote Ndao, Ende, Manggarai dan Manggarai Barat.

Upaya Pemerintah Provinsi NTT untuk menjadikan NTT sebagai provinsi kepulauan dengan mengandalkan laut untuk kemajuan ekonomi masih menghadapi beberapa kendala antara lain, rendahnya produktivitas nelayan dan pembudidaya karena sebagian besar nelayan dan pembudidaya adalah nelayan tradisional, ketimpangan tingkat pemanfaatan kawasan, terjadinya kerusakan lingkungan ekosistem. Berikut, rendahnya kemampuan penanganan dan pengolahan hasil perikanan, pemasaran produk perikanan yang masih lemah, dan terbatasnya kemampuan sumberdaya manusia.

Dalam perencanaan pembangunan Provinsi NTT dibutuhkan keseriusan untuk meletakkan laut dalam paradigma lahan bisnis. Oleh karena, strategi pengembangan subsektor perikanan dapat diarahkan pada beberapa hal berikut: (1) memanfaatkan sumberdaya kelautan secara optimal dan berkelanjutan, (2) meningkatkan pengawasan dan pengendalian sumberdaya ikan, (3) merehabilitasi ekosistem habitat pesisir dan laut, (4) penerapan iptek dan manajemen profesional pada setiap mata rantai, (5) membantu dukungan modal, (6) memberdayakan sosial ekonomi masyarakat perikanan dan kelautan, (7) mengembangkan dan memperkuat jaringan ekonomi, dan (8) meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Jika semua hal tersebut dipadukan dengan baik, maka subsektor perikanan dapat menjadi salah satu sumber penghasilan terbesar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT.

Permasalahan dan tantangan dalam rangka upaya peningkatan produksi komoditi tanaman pangan dalam pembangunan pertanian pada umumnya di masa mendatang semakin kompleks. Permasalahan dan tantangan internal yang dihadapi antara lain masih rendahnya produktivitas. Produktivitas rata-rata padi di Provinsi NTT pada tahun 2009 sekitar 3.18 ton per hektar dibanding produktivitas rata-rata nasional sebesar 5.15 ton per hektar. Sedangkan jagung produktivitas rata-rata di NTT sekitar 2.55 ton per hektar dibanding produktivitas rata-rata jagung nasional sebesar 4.25 ton per hektar (BPS Provinsi NTT, 2010). Kondisi ini disebabkan antara lain oleh rendahnya penggunaan benih unggul bersertifikat di tingkat petani, masih rendahnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh para petani, perubahan iklim yang tidak menentu, belum mantapnya kelembagaan sarana dan prasarana serta masih lemahnya akses petani terhadap sumber permodalan.

Strategi pengembangan tanaman pangan dapat diarahkan pada beberapa hal berikut: (1) pembenahan infrastruktur irigasi. (2) pembenahan kepemilikan lahan usaha tani pada lahan lama dan pembukaan lahan baru, (3) optimalisasi pemanfaatan lahan kering, (4) melakukan kajian pengembangan komoditas tanaman pangan, (5) mengembangkan penangkar benih sebagai upaya penyediaan benih berlabel atau bersertifikat, (6) meningkatkan mutu dan kualitas produksi melalui penerapan teknologi pasca panen yang tepat, (7) pemberian bantuan sarana produksi, dan (8) peningkatan kualitas sumberdaya petani melalui diklat- diklat teknis pertanian. Prinsip utama dalam pelaksanaan kegiatan peningkatan produksi dan produktivitas adalah penguatan sistem koordinasi dan keterpaduan antara seluruh stakeholder yang berperan pada usahatani tanaman pangan.