III. KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS
3.2. Kerangka Teori
3.2.1. Analisis Input-Output 3.2.1.1. Model Input-Output
Keterpaduan program ekonomi yang kuat, menyeluruh, dan berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan pembangunan ekonomi. Secara ideal, output dari suatu sektor produksi bisa menjadi output bagi sektor-sektor lain. Pembangunan yang besifat ego-sektor diduga dapat merugikan kepentingan di sektor lain. Dalam perekonomian yang lebih luas, hubungan antar kegiatan ekonomi menunjukkan keterkaitan yang semakin kuat dan dinamis. Bahkan jenis-jenis kegiatan baru bermunculan untuk mengisi kekosongan mata rantai kegiatan yang semakin panjang dan kait-mengkait. Kemajuan suatu sektor tidak mungkin tercapai tanpa dukungan sektor-sektor lain (BPS, 1999).
Salah satu model yang dapat memaparkan bagaimana interaksi antar pelaku ekonomi terjadi adalah Model I-O yang pertama kali diperkenalkan oleh Wassily Leontief pada tahun 1930-an. Menurut Leontief, analisis I-O merupakan suatu metode yang secara sistematis mengukur hubungan timbal balik diantara beberapa sektor dalam sistem ekonomi yang kompleks. Sistem ekonomi yang dimaksud adalah sistem ekonomi yang mencakup suatu bangsa atau dunia. Selanjutnya Leontief juga memfokuskan perhatian terhadap hubungan antarsektor dalam suatu wilayah (Nazara, 2005).
Adapun konsep dasar Model I-O Leontif sebagai berikut: (1) struktur perekonomian tersusun dari berbagai sektor (industri) yang saling terkait melalui transaksi jual beli, (2) output suatu sektor dijual kepada sektor lainnya untuk memenuhi permintaan akhir rumahtangga, pemerintah, pembentukan modal, dan
ekspor, (3) input suatu sektor dibeli dari sektor-sektor lainnya, rumahtangga dalam bentuk jasa dan tenaga kerja, pemerintah dalam bentuk pajak tidak langsung, penyusutan, surplus usaha, dan impor, (4) hubungan input-output bersifat linear, (5) dalam suatu kurun waktu analisis, biasanya satu tahun, total input sama dengan total output, dan (6) suatu sektor terdiri dari satu atau beberapa perusahaan. Suatu sektor hanya menghasilkan suatu output dan output tersebut dihasilkan oleh suatu teknologi.
Data yang disajikan dalam Tabel I-O mempunyai kegunaan antara lain (BPS, 1999):
1. Memperkirakan dampak dari permintaan akhir dan perubahannya terhadap berbagai output sektor produksi, nilai tambah, permintaan, pajak, kebutuhan tenaga kerja, dan sebagainya.
2. Memproyeksi variabel-variabel ekonomi makro.
3. Mengamati komposisi penyediaan dan penggunaan barang atau jasa sehingga mempermudah analisis tentang kebutuhan impor dan kemungkinan subsitusinya.
4. Menganalisis perubahan harga, dimana perubahan biaya input mempengaruhi baik langsung maupun tidak langsung perubahan harga output.
5. Memberi petunjuk mengenai sektor-sektor yang mempunyai pengaruh terkuat terhadap pertumbuhan ekonomi serta sektor-sektor yang peka terhadap pertumbuhan perekonomian nasional.
6. Menilai tingkat keserasian data statistik serta kelemahan-kelemahannya, sehingga dapat digunakan sebagai landasan perbaikan, penyempurnaan, dan pengembangan statistik lebih lanjut.
Di banyak negara khususnya di Indonesia, penggunaan Tabel I-O masih terbatas pada Tabel I-O statik. Sebagaimana diketahui bahwa analisis dalam model statik menggunakan koefisien teknis yang merupakan ukuran arus barang yang dibutuhkan untuk produksi berjalan (current production) dalam suatu periode tertentu. Tetapi pada kenyataannya kegiatan produksi suatu sektor juga dipengaruhi oleh beberapa input barang, khususnya barang modal yang digunakan sebagai penunjang terlaksananya proses produksi pada tahun yang bersangkutan, misalnya bangunan, mesin, dan peralatan lainnya. Dengan kata lain, dalam melaksanakan kegiatan produksinya suatu sektor mempunyai stok barang modal atau stok kapital yang juga sangat dibutuhkan untuk menunjang keperluan produksinya. Di dalam model statik, barang tersebut merupakan variabel eksogen yang dianggap tidak berpengaruh terhadap jalannya proses produksi.
3.2.1.2. Asumsi-asumsi dan Keterbatasan dalam Analisis Input-Output
Dalam menyusun suatu Model I-O yang bersifat terbuka dan statis, transaksi-transaksi yang digunakan dalam penyusunan Tabel I-O harus memenuhi tiga asumsi dasar, yaitu: (1) asumsi homogenitas, artinya suatu komoditas hanya dihasilkan secara tunggal oleh suatu sektor dengan susunan yang tunggal dan tidak ada substitusi output diantara berbagai sektor, (2) asumsi proporsionalitas, yaitu dalam proses produksi hubungan antara input dengan output merupakan fungsi linier. Artinya tiap input yang diserap oleh sektor tertentu naik atau turun sebanding dengan kenaikan atau penurunan output sektor tersebut, dan (3) asumsi
di berbagai sektor dihasilkan oleh masing-masing sektor secara terpisah. Hal ini berarti bahwa semua pengaruh di luar sistem input output diabaikan (BPS, 1999).
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, maka Tabel I-O sebagai model kuantitatif mempunyai keterbatasan, yaitu karena koefisien input ataupun koefisien teknis diasumsikan tetap (konstan) selama periode analisis atau proyeksi sehingga teknologi yang digunakan oleh sektor-sektor ekonomi dalam produksi dianggap konstan. Hubungan yang tetap ini menunjukkan bahwa apabila input suatu sektor diduakalikan maka outputnya akan dua kali juga. Asumsi semacam ini menolak adanya pengaruh perubahan teknologi ataupun produktivitas yang berarti perubahan kuantitas dan harga input akan selalu sebanding dengan perubahan kuantitas dan harga output. Walaupun mengandung keterbatasan, Model I-O tetap merupakan alat analisis ekonomi yang lengkap dan komprehensif (Daryanto dan Hafizrianda, 2010).
3.2.1.3. Tabel Input-Output
Penyajian Tabel I-O lazimnya dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok tabel-tabel dasar dan kelompok tabel-tabel analisis. Dalam kelompok tabel-tabel dasar disajikan informasi statistik yang menggambarkan besarnya nilai transaksi barang dan jasa antarsektor ekonomi, seperti transaksi total atas dasar harga pembeli dan harga produsen serta transaksi domestik atas dasar harga produsen. Tabel-tabel dasar ini diperlukan dalam membuat analisis deskriptif, seperti struktur perekonomian nasional/regional, nilai tambah sektoral, distribusi barang dan jasa, struktur konsumsi dan pembentukan modal, struktur impor dan ekspor, dan sebagainya. Tabel-tabel analisis menyajikan informasi yang
diturunkan dari tabel-tabel dasar, seperti tabel koefisien input dan matriks kebalikan yang sangat berguna untuk keperluan analisa lanjutan (Nazara, 2005).
Format Tabel I-O terdiri dari kerangka matriks berukuran “n x n” dimensi yang dibagi menjadi empat kuadran dan tiap kuadran mendeskripsikan suatu hubungan tertentu. Gambaran yang lebih lengkap mengenai Tabel I-O disajikan pada Tabel 1. Dapat diamati bahwa bagian horisontal memperlihatkan bagaimana output suatu sektor dialokasikan, sebagian untuk memenuhi permintaan antara dan sebagian lagi dipakai untuk memenuhi permintaan akhir. Sedangkan isian angka menurut garis vertikal menunjukkan pemakaian input antara maupun input primer yang disediakan oleh sektor-sektor lain untuk kegiatan produksi suatu sektor. Tabel 1. Ilustrasi Tabel Input-Output
Alokasi Output Susunan Input Permintaan Antara Permintaan Akhir Total Output Sektor Produksi 1 2 3 . . . n In p u t A n ta ra Sektor Produksi 1 x11 x12 x13 . . . x1n F1 X1 2 x21 x22 x23 . . . x2n F2 X2 3 x31 x32 x33 . . . x3n F3 X3 . . . . . . . . . . . . n xn1 xn2 . . . . . xnn Fn Xn Total Input Primer V1 V2 V3 . . . Vn
Total Input X1 X2 X3 . . . Xn Sumber: BPS (1999).
Ada tiga matriks yang dapat dilihat dari Tabel 1, yaitu: (1) matriks x atau matriks input antara, (2) matriks F atau matriks permintaan akhir yang terdiri atas konsumsi rumahtangga (C), pemerintah (G), investasi (I), dan Ekspor (X), dan (3) matriks V atau matriks input primer yang terdiri atas upah/gaji (W), surplus usaha (S), penyusutan (D), dan pajak tidak langsung/minus subsidi (T).
Misalkan dalam suatu perekonomian terdapat tiga sektor produksi, yaitu sektor 1, sektor 2, dan sektor 3. Tabel 1 bila dilihat secara horisontal, setiap isi sel total output menunjukkan bagaimana output suatu sektor dialokasikan, yang mana sebagian untuk memenuhi permintaan antara (intermediate input) pada sektor produksi dan sebagian lagi untuk memenuhi permintaan akhir (final demand). Baris pertama pada sektor produksi 1, jika dibaca secara horisontal bahwa besarnya output sektor produksi 1 adalah X1 dimana dari total output tersebut
sebagian dialokasikan untuk memenuhi permintaan input antara pada sektor 1 sebesar x11, sektor 2 sebesar x12, dan sektor 3 sebesar x13. Selain itu, sebagian juga
untuk memenuhi permintaan akhir sebesar F1. Demikian juga untuk baris-baris
lainnya dibaca demikian. Secara keseluruhan distribusi output tersebut dapat dituliskan dalam bentuk persamaan aljabar sebagai berikut:
x11 + x12+ x13+ F1 = X1
x21 + x22 + x23+ F2 = X2
x31 + x32 + x33+ F3 = X3 ……….... (1)
Secara umum persamaan-persamaan di atas dapat dituliskan kembali menjadi: n
∑
xij + Fi = Xi; untuk i = 1,2,3, dan seterusnya …………....……... (2)i=1 dimana:
xij : Jumlah output sektor iyang dialokasikan sebagai input antara pada
sektor j
Fi : Jumlah permintaan akhir terhadap sektor i
Xi : Jumlah output sektor i
Sebaliknya jika Tabel 1 dibaca secara vertikal, angka-angka tersebut menunjukkan distribusi pemakaian input antara dan input primer pada suatu sektor produksi. Total input X1 menunjukkan bahwa sebagian jumlah input
sebesar x31. Sebagian lagi untuk pengeluaran input primer sebesar V1. Seluruh
distribusi input tersebut dapat ditulikan dalam bentuk persamaam aljabar sebagai berikut:
x11 + x21 + x31+ V1 = X1
x12 + x22 + x32+ V2 = X2
x13 + x23 + x33+ V3 = X3 ……….…….…. (3)
Secara umum persamaan-persamaan di atas dapat dituliskan menjadi: n
∑
xij + Vj= Xj; untuk j = 1,2,3, dan seterusnya ….…...… (4)j=1 dimana:
xij : Jumlah input antara yang berasal dari sektor i yang digunakan
oleh sektor j
Vj : Jumlah input primer atau nilai tambah bruto (NTB) yang
digunakan oleh sektor j Xj : Jumlah input sektor j
Data Tabel 1 dapat dianalisis mengenai koefisien input antara dan koefisien input primer. Koefisien input menggambarkan jumlah input sektor i yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit output sektor j. Koefisien input dibedakan atas koefisien input antara (aij) dan koefisien input primer (vj). Untuk
memperoleh kedua koefisien tersebut digunakan rumus berikut: xij
aij = untuk i dan j = 1,2,3, dan seterusnya …...……….… (5)
Xj
Vj
vj = untuk j = 1,2,3, dan seterusnya …………..……...…...… (6)
Xj
dimana:
aij : Jumlah output dari sektor iyang digunakan sebagai input antara
xij : Jumlah input antara yang berasal dari sektor i yang digunakan
oleh sektor j
vj : Jumlah input primer yang dibutuhkan oleh sektor j untuk
menghasilkan output
Vj : Jumlah input primer yang digunakan oleh sektor j
Xj : Jumlah output sektor j
Jumlah koefisien input antara dan input primer sama dengan 1. Akibatnya jika aij makin besar maka vj menjadi kecil dan sebaliknya. Koefisien input antara
yang tinggi menunjukkan indikasi tingkat efisiensi yang rendah.
Koefisien input antara bermanfaat untuk melihat komponen input yang paling dominan, peranan penggunaan bahan baku dan energi, tingkat pemakaian jasa bank, komunikasi, transportasi, dan sebagainya. Sedangkan koefisien input primer menunjukkan peranan dan komposisi dari upah/gaji, surplus usaha, pajak tak langsung neto, dan penyusutan.
Berdasarkan koefisien input, maka persamaan-persamaan (1) di atas dapat dituliskan menjadi:
a11X1 + a12X2 + a13X3+ F1 = X1
a21X1 + a22X2 + a23X2+ F2 = X2
a31X1 + a32X2 + a33X3 + F3 = X3 ……….…….…... (7)
Dalam bentuk persamaan matriks menjadi:
a11a12a13 X1 F1 X1
a21a22a23 X2 + F2 = X2
a31 a32a33 X3 F3 X3
A X + F = X
Sistem persamaan (7) dapat dituliskan dalam notasi matriks lebih sederhana sebagai berikut:
F = X – AX
F = (I – A)X ……….…………..…. (8) dimana:
I : Matriks identitas berukuran n x n A : Koefisien input
X : Vektor kolom matriks output Persamaan matriks (8) dapat dituliskan menjadi:
X = (I – A)-1F ……….……….……….…………... (9) dimana (I – A)-1 dikenal dengan nama matriks invers Leontief atau matriks kebalikan. Kekuatan peramalan Model I-O terletak pada matriks invers Leontief ini. Dengan matriks tersebut, dapat diprediksi perubahan setiap variabel eksogen dalam permintaan akhir, seperti pengeluaran pemerintah terhadap sistem perekonomian secara simultan. Selain itu, matriks invers Leontief juga dapat memberikan informasi tentang dampak keterkaitan antarsektor produksi.
Dalam Tabel I-O, matriks koefisien input memegang peranan yang sangat penting karena dengan matriks koefisien input tersebut analisis I-O dapat dilakukan. Salah satu cara untuk membuat matriks koefisien input adalah melalui matriks transaksi ekonomi. Untuk mendapatkan matriks transaksi ekonomi maka perlu dilakukan survey besar yang melibatkan berbagai aspek kegiatan ekonomi. Kegiatan survey tersebut akan membutuhkan biaya yang mahal, waktu yang lama, dan sumberdaya manusia yang banyak. Oleh karena adanya kendala-kendala yang dihadapi, menyebabkan analisis I-O yang sering dilakukan dengan asumsi statis. Asumsi ini bisa membuat perencanaan pembangunan daerah salah arah.
Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan pada pembuatan Tabel I-O melalui survey, maka dikembangkan suatu metode pembuatan Tabel I-O tanpa
melakukan survey. Tabel I-O tersebut disusun berdasarkan matriks koefisien teknologi (koefisien input) pada tahun sebelumnya dan beberapa data mengenai total penjualan output antarsektor, total pembelian input antarsektor, dan total output keseluruhan pada periode yang dijadikan dasar penurunan. Cara pembuatan Tabel I-O nonsurvey disebut RAS. Ahli ekonomi yang pertama memperkenalkan metode RAS adalah Richard Stone dari Cambridge University pada tahun 1961 (Miller dan Blair, 1985).
RAS adalah sebuah nama rumus matriks, dimana R dan S merupakan matriks diagonal berukuran n x n yang menunjukkan banyaknya sektor ekonomi. Elemen matriks A pada periode t atau At dapat diprediksi jika diketahui elemen matriks A pada periode t = 0 atau A(0), maka At dapat ditentukan dengan rumus:
A(t) = R.A(0).S ……… (10) Elemen matriks A disebut koefisien teknologi atau koefisien input. Tingkat perubahan koefisen teknologi pada dua periode yang berbeda diwakili oleh elemen matriks R dan S. Elemen matriks diagonal R menunjukkan efek subsitusi teknologi yang diukur melalui penambahan jumlah permintaan antara tiap output sektor-sektor ekonomi. Elemen matriks diagonal S merupakan efek perubahan jumlah input antara dan primer pada setiap sektor ekonomi.
3.2.2. Peranan Sektor Ekonomi
3.2.2.1. Struktur Permintaan dan Penawaran
Pada periode tertentu, jumlah seluruh permintaan terhadap barang dan jasa di suatu daerah atau negara akan mencapai jumlah tertentu. Jumlah permintaan tersebut akan digunakan oleh sektor produksi dalam rangka kegiatan produksinya atau biasa disebut sebagai permintaan antara. Permintaan tersebut digunakan
untuk memenuhi konsumsi akhir domestik (konsumsi rumahtangga dan yayasan nirlaba), konsumsi pemerintah, pembentukan modal, perubahan stok, dan ekspor. Selebihnya digunakan untuk ekspor baik untuk luar negeri maupun provinsi lain. Apabila dilihat dari sisi penawaran, barang dan jasa yang ditawarkan di suatu daerah atau negara dapat berasal dari produksi domestik, dapat juga berasal dari produksi luar daerah atau daerah tersebut (BPS, 1999).
Berdasarkan pengamatan terhadap struktur permintaan dan penawaran pada setiap sektor dapat dilihat sektor yang merupakan produsen utama untuk suatu produk tertentu. Misalkan berdasarkan nilai outputnya, produsen utamanya sektor pertanian. Dari sektor ini selanjutnya dapat ditelusuri subsektor atau komoditi mana yang mengalami surplus paling tinggi ataupun paling rendah yang nilainya berdasarkan selisih antara jumlah permintaan dan penawaran.
3.2.2.2. Struktur Output
Output merupakan nilai produksi baik barang atau jasa yang dihasilkan oleh sektor-sektor ekonomi di suatu daerah atau negara. Dengan menelaah besarnya output yang dihasilkan oleh masing-masing sektor, maka akan diketahui pula sektor-sektor mana yang mampu memberikan sumbangan yang besar dalam membentuk output total di suatu daerah atau negara. Dilihat dari segi output yang dihasilkan dari masing-masing sektor dapat ditentukan sektor produksi mana yang merupakan leading sector, yang perlu mendapat perhatian dalam rangka pengembangan perekonomian daerah (BPS, 1999).
3.2.2.3. Struktur Nilai Tambah Bruto
Nilai tambah bruto adalah balas jasa terhadap faktor-faktor yang tercipta karena adanya kegiatan produksi. Dalam Tabel I-O, nilai tambah ini dirinci menurut upah dan gaji, surplus usaha (sewa, bunga, dan keuntungan), penyusutan, dan pajak tak langsung neto. Besarnya nilai tambah di masing-masing sektor ditentukan oleh besarnya output yang dihasilkan dan jumlah biaya yang digunakan dalam proses produksi. Oleh karena itu, suatu sektor yang mempunyai
output yang besar belum tentu memiliki nilai tambah yang besar pula (BPS, 1999).
3.2.2.4. Struktur Permintaan Akhir
Barang dan jasa selain digunakan oleh sektor produksi dalam rangka proses produksi (memenuhi permintaan antara) juga digunakan untuk memenuhi permintaan oleh konsumen akhir seperti untuk konsumsi rumahtangga dan lembaga nirlaba, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap, perubahan stok, dan ekspor. Dalam terminologi I-O, penggunaan barang dan jasa untuk konsumen akhir seperti disebutkan di atas, dikatakan sebagai permintaan akhir (BPS, 1999).
Dalam Tabel I-O suatu negara/daerah, komponen permintaan akhir terdiri dari pengeluaran konsumsi rumahtangga, pengeluaran konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap, perubahan stok, dan ekspor. Dengan demikian, apabila jumlah masing-masing komponen permintaan akhir tersebut dikurangi dengan jumlah impornya, maka akan sama dengan jumlah penggunaan akhir barang dan jasa yang berasal dari faktor produksi domestik atau disebut PDB/PDRB.
Pengeluaran konsumsi rumahtangga adalah pengeluaran rumahtangga dan lembaga swasta nirlaba (private non profit institution) selama satu tahun yang meliputi konsumsi barang dan jasa baik yang diperoleh dari pihak lain maupun yang dihasilkan sendiri, dikurangi nilai neto penjualan barang bekas dan barang sisa. Pengeluaran konsumsi rumahtangga ini meliputi konsumsi yang dilakukan di dalam region. Data konsumsi yang dilakukan di luar region dianggap sebagai konsumsi terhadap barang impor. Sebaliknya konsumsi oleh penduduk asing di dalam region dianggap sebagai ekspor.
Pengeluaran konsumsi pemerintah mencakup pengeluaran pemerintah pusat dan daerah kecuali yang sifatnya pembentukan modal. Tolak ukur pengeluaran pemerintah meliputi seluruh pengeluaran untuk belanja pegawai, belanja barang, belanja perjalanan dinas, belanja pemeliharaan, dan perbaikan serta belanja rutin lainnya.
Pembentukan modal tetap bruto meliputi pengadaan, pembuatan dan pembelian barang-barang modal baru, baik dari dalam dalam maupun luar negeri, dan barang bekas dari luar negeri oleh sektor-sektor ekonomi. Pembentukan modal tetap mencakup juga perbaikan yang dilakukan terhadap barang-barang modal. Metode yang dipakai dalam perkiraan angka pembentukan modal tetap adalah pendekatan arus barang, yaitu suatu pendekatan melalui penyediaan barang-barang modal baik yang berasal dari produksi dalam maupun luar negeri.
Perubahan stok adalah selisih antara nilai stok barang pada akhir dengan stok pada awal tahun, yang dapat dirinci sebagai berikut: (1) perubahan stok barang jadi dan setengah jadi yang disimpan oleh produsen termasuk perubahan jumlah ternak dan unggas, dan barang-barang strategis yang disimpan pemerintah,
(2) perubahan stok bahan mentah dan bahan baku yang belum digunakan oleh produsen, dan (3) perubahan stok di sektor perdagangan terdiri dari barang-barang dagangan yang belum terjual pada pedagang besar dan pengecer.
Ekspor dan impor barang dan jasa adalah transaksi ekonomi antar penduduk dengan penduduk provinsi dan negara lain. Ada dua aspek penting dalam ekspor dan impor, yaitu transaksi ekonomi dan penduduk. Transaksi ekonomi meliputi transaksi barang (merchandise), jasa pengangkutan, jasa pariwisata, jasa asuransi, jasa komunikasi, dan jasa transaksi komoditas lainnya. Transaksi penduduk mencakup badan pemerintah pusat dan daerah, perorangan, perusahaan, dan lembaga-lembaga keuangan lainnya. Termasuk transaksi ekspor adalah transaksi langsung di pasar domestik oleh penduduk negara/wilayah lain. Sedangkan pembelian langsung di pasar luar wilayah oleh penduduk dikategorikan sebagai transaksi impor.
3.2.3. Keterkaitan Antarsektor Ekonomi
Menurut Daryanto dan Hafizrianda (2010) hasil analisis I-O dapat ditentukan sektor-sektor yang dijadikan leading sector atau sektor pemimpin dalam pembangunan ekonomi. Suatu sektor yang terindikasi sebagai pemimpin memiliki kemampuan daya sebar dan kepekaan yang sangat tinggi dalam suatu perekonomian. Sektor pemimpin mampu mendorong permintaan agregat (aggregate demand) yang lebih tinggi dan meningkatkan penawaran agregat (aggregate supply) untuk pemenuhan kebutuhan domestik. Dengan demikian, memfokuskan pembangunan pada sektor-sektor yang menjadi pemimpin maka target pertumbuhan ekonomi yang direncanakan dapat dicapai.
Adanya penggunaan input antara dan input primer yang berasal dari output sektor produksi lain, menyebabkan suatu sektor produksi menjadi terintegrasi dengan sektor-sektor lainnya dalam suatu perekonomian. Hubungan ini menciptakan saling ketergantungan satu dengan lainnya, dimana output dari suatu sektor produksi merupakan input bagi sektor produksi lainnya, begitu sebaliknya. Dengan demikian, perubahan output suatu sektor produksi akan mempengaruhi pula output dari sektor produksi yang lain. Keterkaitan antarsektor dapat dirinci menjadi: (1) keterkaitan langsung ke belakang, (2) keterkaitan langsung ke depan, (3) daya sebar ke depan, dan (4) daya sebar ke belakang. Atas dasar analisis keterkaitan ini, dapat ditentukan pengaruh suatu perubahan dalam satu sektor terhadap semua sektor lain dalam perekonomian.
Sebagai ilustrasi untuk menunjukkan bagaimana keterkaitan langsung dan tidak langsung antarsektor dalam perekonomian terjadi dapat dilihat di Gambar 2. Diasumsikan dalam suatu perekonomian hanya terdapat 3 sektor, yaitu sektor 1, sektor 2, dan sektor 3. Sektor 2 membutuhkan output dari sektor 1 sebagai faktor produksinya, sedangkan sektor 3 dalam proses produksinya membutuhkan input yang berasal dari output sektor 2. Oleh karena sektor 2 membeli output dari sektor 1 untuk digunakan sebagai input dalam proses produksinya, maka dikatakan sektor 2 mempunyai keterkaitan ke belakang secara langsung dengan sektor 1. Namun disisi lain, output sektor 2 juga dijual kepada sektor 3, artinya sektor 2 juga mempunyai keterkaitan ke depan secara langsung dengan sektor 3. Bagi sektor 3, karena outputnya dibeli oleh sektor 2, sementara sektor 2 membeli output sektor 1 sebagai inputnya, maka dikatakan sektor 3 mempunyai keterkaitan ke belakang secara tidak langsung dengan sektor 1. Demikian juga dengan
Sektor 1
Sektor 2
Sektor 3
sektor 1, karena outputnya dijual kepada sektor 2, sementara output sektor 2 dijual kepada sektor 3, maka sektor 1 mempunyai keterkaitan ke depan secara tidak langsung dengan sektor 3.
Keterkaitan Tidak Langsung ke Depan
Keterkaitan Langsung Keterkaitan Langsung ke Depan ke Depan
Menjual ke Menjual ke
Membeli dari Membeli dari
Keterkaitan Langsung Keterkaitan Langsung ke Belakang ke Belakang
Keterkaitan Tidak Langsung ke Belakang
Gambar 2. Alur Keterkaitan Antarsektor dalam Perekonomian Sumber: Daryanto dan Hafizrianda (2010).
3.2.3.1. Keterkaitan ke Belakang dan Keterkaitan ke Depan
Arief (1993) menyatakan bahwa metode I-O dapat digunakan untuk menentukan sektor-sektor yang dapat menjadi pemimpin dalam pembangunan daerah. Sektor-sektor dianggap sebagai sektor kunci apabila: (1) mempunyai kaitan ke belakang (backward linkage) dan kaitan ke depan (forward linkage) yang relatif tinggi, (2) menghasilkan output bruto yang relatif tinggi, sehingga mampu mempertahankan final demand yang relatif tinggi pula, (3) mampu menghasilkan penerimaan bersih devisa yang relatif tinggi, dan (4) mampu menciptakan lapangan kerja yang relatif tinggi.
Penentuan sektor kunci dalam pembangunan ekonomi suatu daerah dapat menggunakan dua metode tradisional pengukuran keterkaitan antar sektor, yaitu: (1) metode Chenery dan Watanabe dan (2) metode Rasmussen (Daryanto dan Hafizrianda, 2010). Pada metode Chenery dan Watanabe, keterkaitan antarsektor dibagi dalam dua bagian, yaitu keterkaitan ke belakang dan keterkaitan ke depan. Ukuran keterkaitan ke belakang pada suatu sektor beranjak dari metode Leontief dengan melihat sisi permintaan (demand-driven), sedangkan untuk keterkaitan ke depan dilihat dari sisi penawaran (supply-driven).
Chenery and Watanabe menggunakan koefisien input (output) secara langsung, yang didapat dari satu kali iterasi perhitungan keterkaitan antarsektor,