VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.2. Keterkaitan Sektor Pertanian dengan Sektor Ekonom
Keterkaitan ke belakang (direct backward linkage) menunjukkan seberapa besar input yang digunakan oleh suatu sektor dari output sektor lain akibat peningkatan satu satuan permintaan akhir sektor tersebut. Hasil analisis keterkaitan ke belakang sektor-sektor ekonomi di Provinsi NTT dapat dilihat di Lampiran 16.
Tabel 13 menunjukkan nilai keterkaitan output ke belakang baik langsung maupun langsung dan tidak langsung subsektor atau komoditi pertanian tahun 2009. Nilai Keterkaitan output langsung ke belakang tertinggi dimiliki oleh komoditi unggas dan hasil-hasilnya sebesar 0.22615. Berikut secara berurutan nilai keterkaitan output langsung ke belakang diikuti oleh komoditi kopi sebesar
0.20076, subsektor peternakan dan pemotongan hewan sebesar 0.19691, komoditi padi sebesar 0.14997, dan komoditi jambu mete sebesar 1.4279.
Tabel 13. Keterkaitan ke Belakang Subsektor/Komoditi Pertanian di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Tahun 2009
Kode I-O Subsektor/Komoditi Keterkaitan ke Belakang Langsung Peringkat Langsung dan Tidak Langsung Peringkat 1 Padi 0.14997 24 1.18320 26 2 Jagung 0.10431 29 1.12064 30
3 Tanaman bahan makanan 0.08957 31 1.10505 31
4 Umbi-umbian 0.13190 28 1.15641 28 5 Jambu mete 0.14279 25 1.19058 25 6 Kelapa 0.05203 34 1.07451 34 7 Tanaman perkebunan 0.13226 27 1.17764 27 8 Kopi 0.20076 21 1.26430 21 9 Pertanian lainnya 0.06067 33 1.08269 33
10 Peternakan dan pemotongan hewan 0.19691 22 1.23838 22 11 Unggas dan hasil-hasilnya 0.22615 18 1.27701 20
12 Kehutanan 0.13286 26 1.19995 24
13 Perikanan 0.10173 30 1.12321 29
Sumber: Tabel Input Output Transaksi Domestik Atas Dasar Harga Produsen Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2009 (Diolah Kembali).
Demikian juga dengan nilai keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke belakang tertinggi dimiliki oleh komoditi unggas dan hasil-hasilnya sebesar 1.27701. Berikut secara berurutan nilai keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke belakang diikuti oleh komoditi kopi sebesar 1.26430, subsektor peternakan dan pemotongan hewan sebesar 1.23838, subsektor kehutanan sebesar 1.99995, dan komoditi jambu mete sebesar 1.19058.
Komoditi unggas dan hasil-hasilnya memiliki nilai keterkaitan output ke belakang baik langsung maupun langsung dan tidak langsung masing-masing sebesar 0.22615 dan 1.27701. Angka ini dapat diartikan, bahwa apabila terjadi peningkatan permintaan akhir sebesar satu rupiah pada komoditi unggas dan hasil- hasilnya, maka komoditi ini akan meningkatkan permintaan output dari komoditi
itu sendiri dan sektor-sektor ekonomi lainnya untuk digunakan sebagai input oleh komoditi tersebut secara langsung sebesar 0.22615 rupiah serta langsung dan tidak langsung sebesar 1.27701 rupiah.
Peningkatan permintaan akhir sebesar satu rupiah pada komoditi unggas dan hasil-hasilnya, maka akan berdampak langsung ke belakang terhadap naiknya permintaan input pada sektor-sektor ekonomi lainnya. Sektor-sektor ekonomi tersebut antara lain permintaan input dari sektor perdagangan meningkat sebesar 0.07249 rupiah, komoditi padi sebesar 0.06914 rupiah, komoditi unggas dan hasil- hasilnya itu sendiri sebesar 0.03532 rupiah, sektor angkutan sebesar 0.02378 rupiah, serta industri makanan dan minuman sebesar 0.00710 rupiah. Keterkaitan output langsung ke belakang sektor-sektor ekonomi di Provinsi NTT dapat dilihat di Lampiran 12.
Demikian pula, naiknya permintaan akhir sebesar satu rupiah pada komoditi unggas dan hasil-hasilnya maka akan berdampak langsung dan tidak langsung ke belakang terhadap naiknya permintaan input pada sektor-sektor ekonomi lainnya. Sektor-sektor ekonomi tersebut antara lain permintaan input dari komoditi unggas dan hasil-hasilnya itu sendiri meningkat sebesar 1.03672 rupiah, komoditi padi sebesar 0.08209 rupiah, sektor perdagangan sebesar 0.07889 rupiah, sektor angkutan sebesar 0.02798 rupiah, dan komoditi umbi-umbian sebesar 0.01010 rupiah. Keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke belakang sektor-sektor ekonomi di Provinsi NTT dapat dilihat di Lampiran 13. Cara membaca nilai keterkaitan output ke belakang baik langsung maupun langsung dan tidak langsung sektor-sektor ekonomi lainnya sama seperti di atas.
Nilai keterkaitan ke belakang pada Tabel 13 menunjukkan bahwa apabila terjadi peningkatan permintaan akhir sebesar satu rupiah terhadap sektor tertentu, maka sektor tersebut membutuhkan tambahan input untuk proses produksi dari sektor itu sendiri dan sektor-sektor lainnya sebesar nilai keterkaitannya. Tingginya nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang komoditi unggas dan hasil-hasilnya menunjukkan bahwa komoditi tersebut merupakan komoditi yang strategis bagi pengembangan sektor-sektor ekonomi lainnya di Provinsi NTT karena pertumbuhan output pada komoditi tersebut akan mendorong pertumbuhan output sektor hulunya.
Perunggasan di Provinsi NTT Timur mulai berkembang tahun 2000-an, dimana pada saat itu cukup sulit untuk memperoleh DOC (a day old chicken) dan pakan. Seiring dengan perkembangan jumlah penduduk dan peningkatan pendapatan per kapita masyarakat, permintaan terhadap komoditas unggas semakin meningkat pula. Dalam lima tahun terakhir cukup banyak poultry shop yang memenuhi kebutuhan peternak untuk DOC, pakan, dan lainnya. Ketersediaan sarana produksi ternak (sapronak) yang memadai mendukung perkembangan perunggasan di Provinsi NTT. Peternak lebih mudah memperoleh sarana produksi ternak untuk kepentingan peternakan mereka. Kondisi ini juga tidak lepas dari sarana transportasi udara yang memadai dengan jalur penerbangan yang semakin banyak baik dari Jakarta, Surabaya, dan Denpasar. Dengan demikian suplai DOC ke Provinsi NTT semakin lancar. Namun, dengan kebutuhan yang terus meningkat dan daya angkut terbatas maka kebutuhan masih belum terpenuhi.
Peternakan unggas di Propinsi NTT masih dihadapkan kepada berbagai permasalahan. Salah satu masalah mendasar adalah rendahnya manajemen usaha dan kualitas produk ternak unggas. Rendahnya manajemen usaha ini berakibat langsung kepada rendahnya keuntungan peternak serta tingginya harga produk unggas. Beberapa upaya yang perlu dilakukan pengambil kebijakan di Provinsi NTT untuk meningkatkan manajemen usaha dan kualitas produk unggas antara lain:
1. Substitusi bahan pakan.
Ongkos produksi yang berasal dari pakan merupakan bagian terbesar yaitu sekitar 50-80 persen dari total biaya produksi tergantung kepada jenis unggas yang dipeliharanya dan manajemennya. Oleh karena itu perlu upaya untuk mendapatkan pakan yang murah tanpa mengurangi nilai gizi.
2. Peningkatan mutu produk.
Pengembangan industri pasca panen sebagai salah satu pengendali dan stabilitas harga serta pengaman hasil unggas sehubungan hasil unggas tersebut termasuk produk yang mudah rusak. Disamping itu, pengembangan industri pasca panen tersebut dapat meningkatkan nilai tambah produk unggas.
3. Peningkatan produktivitas unggas.
Meskipun secara genetik unggas tersebut mempunyai potensi produksi yang tinggi, namun jika faktor pakan dan manajemen serta tatalaksana pemeliharaan kurang mendapat perhatian, maka potensi produksi yang tinggi itu tidak akan tercapai.
4. Pembinaan sumberdaya manusia.
Peluang ekonomi yang timbul karena otonomi daerah hanya akan efektif dimanfaatkan jika perekonomian rakyat diberdayakan untuk menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Pemberdayaan tersebut dapat dilakukan dengan merestrukturisasi sistem peternakan unggas menjadi sistem agribisnis agar proses agroindustrialisasi dengan ”value added” yang tinggi dapat menjadi kenyataan.
5. Membentuk koperasi mandiri.
Pengelolaan oleh peternak kecil masih dirasa kurang efisien, sehingga menghambat kemajuan peternakan unggas. Oleh karena itu, sebaiknya peternak kecil melakukan penggabungan usaha dalam koperasi yang mandiri. Dengan koperasi yang mandiri ini mereka dapat melakukan tawar-menawar dalam penentuan harga produknya.
6.2.2. Keterkaitan ke Depan
Keterkaitan ke depan menunjukkan kemampuan suatu sektor tertentu untuk menyediakan input bagi sektor-sektor lain per unit kenaikan permintaan akhir. Hasil analisis keterkaitan ke depan sektor-sektor ekonomi di Provinsi NTT dapat dilihat di Lampiran 17.
Tabel 14 menunjukkan nilai keterkaitan output ke depan baik langsung maupun langsung dan tidak langsung subsektor atau komoditi pertanian tahun 2009. Nilai Keterkaitan output langsung ke depan tertinggi dimiliki oleh komoditi padi sebesar 0.90327. Berikut secara berurutan nilai keterkaitan output langsung ke depan diikuti oleh subsektor peternakan dan pemotongan hewan sebesar
0.81458, subsektor tanaman perkebunan sebesar 0.74191, subsektor tanaman bahan makanan sebesar 0.40933, serta komoditi unggas dan hasil-hasilnya sebesar 0.18620.
Tabel 14. Keterkaitan ke Depan Subsektor/Komoditi Pertanian di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Tahun 2009
Kode I-O Subsektor/Komoditi Keterkaitan ke Depan Langsung Peringkat Langsung dan Tidak Langsung Peringkat 1 Padi 0.90372 3 2.11797 4 2 Jagung 0.16257 13 1.21069 13
3 Tanaman bahan makanan 0.40933 8 1.63638 9
4 Umbi-umbian 0.13490 17 1.18849 15 5 Jambu mete 0.01481 26 1.01697 26 6 Kelapa 0.00558 27 1.00738 28 7 Tanaman perkebunan 0.74191 6 1.80561 7 8 Kopi 0.17560 12 1.21126 12 9 Pertanian lainnya 0.00309 31 1.00406 29
10 Peternakan dan pemotongan hewan 0.81458 5 1.95598 5 11 Unggas dan hasil-hasilnya 0.18620 11 1.22787 11
12 Kehutanan 0.03255 22 1.03705 22
13 Perikanan 0.14258 15 1.17249 17
Sumber: Tabel Input Output Transaksi Domestik Atas Dasar Harga Produsen Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2009 (Diolah Kembali).
Demikian juga dengan nilai keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke depan tertinggi dimiliki oleh komoditi padi sebesar 2.11797. Berikut secara berurutan nilai keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke depan diikuti oleh subsektor peternakan dan pemotongan hewan sebesar 1.95598, subsektor tanaman perkebunan sebesar 1.80561, subsektor tanaman bahan makanan sebesar 1.63638, serta komoditi unggas dan hasil-hasilnya sebesar 1.22787.
Komoditi padi memiliki nilai keterkaitan output ke depan baik langsung maupun langsung dan tidak langsung masing-masing sebesar 0.90327 dan 2.11797. Angka ini dapat diartikan, bahwa apabila terjadi peningkatan permintaan
akhir sebesar satu rupiah, maka kemampuan sektor padi untuk mengalokasikan outputnya kepada komoditi padi itu sendiri dan sektor-sektor ekonomi lainnya secara langsung sebesar 0.90327 rupiah serta langsung dan tidak langsung sebesar 2. 11797 rupiah.
Peningkatan permintaan akhir sebesar satu rupiah pada komoditi padi, maka akan berdampak langsung ke depan terhadap peningkatan alokasi output dari komoditi tersebut kepada sektor-sektor ekonomi lainnya. Sektor-sektor ekonomi tersebut antara lain alokasi output kepada industri penggilingan padi- padian meningkat sebesar 0.69024 rupiah, komoditi padi itu sendiri sebesar 0.09582 rupiah, komoditi unggas dan hasil-hasilnya sebesar 0.06914 rupiah, subsektor peternakan dan pemotongan hewan sebesar 0.04588 rupiah, dan komoditi pertanian lainnya sebesar 0.0026 rupiah. Keterkaitan output langsung ke depan sektor-sektor ekonomi di Provinsi NTT dapat dilihat di Lampiran 12.
Demikian pula, peningkatan permintaan akhir sebesar satu rupiah pada komoditi padi, maka akan berdampak langsung dan tidak langsung ke depan terhadap peningkatan alokasi output dari komoditi tersebut kepada sektor-sektor ekonomi lainnya. Sektor-sektor ekonomi tersebut antara lain alokasi output kepada komoditi padi itu sendiri meningkat sebesar 1.10744 rupiah, industri penggilingan padi-padian sebesar 0.76524 rupiah, komoditi unggas dan hasil- hasilnya sebesar 0.08209 rupiah, subsektor peternakan dan pemotongan hewan sebesar 0.05504 rupiah, serta sektor industri yang belum digolongkan dimanapun sebesar 0.03380 rupiah. Keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke depan sektor-sektor ekonomi di Provinsi NTT dapat dilihat di Lampiran 13. Cara
membaca nilai keterkaitan output ke depan baik langsung maupun langsung dan tidak langsung sektor-sektor ekonomi lainnya sama seperti di atas.
Nilai keterkaitan ke depan pada Tabel 14 menunjukkan bahwa apabila terjadi peningkatan permintaan akhir sebesar satu rupiah pada sektor lainnya, maka sektor tertentu akan meningkatkan alokasi outputnya kepada sektor itu sendiri dan sektor-sektor ekonomi lainnya sebesar nilai keterkaitannya. Tingginya nilai keterkaitan ke depan komoditi padi menunjukkan bahwa komoditi tersebut merupakan komoditi yang strategis bagi pengembangan sektor-sektor ekonomi lainnya di Provinsi NTT karena komoditi tersebut mampu menyediakan bahan baku sektor hilirnya atau dengan kata lain memiliki kemampuan mendorong pertumbuhan output sektor hilirnya.
Tingkat produktivitas padi di Provinsi NTT pada tahun 2009 hanya 3.18 ton per hektar, lebih rendah dibandingkan dengan produktivitas nasional yang mencapai 5.15 ton per hektar (BPS Provinsi NTT, 2010). Rendahnya produktivitas ini merupakan tantangan internal yang dihadapi pemerintah daerah dalam pembangunan pertanian di Provinsi NTT. Rendahnya tingkat produktivitas ini antara lain disebabkan oleh penggunaan benih unggul bersertifikat di tingkat petani yang belum optimal, rendahnya penguasaan teknologi para petani, perubahan iklim yang tidak menentu, belum mantapnya kelembagaan sarana dan prasarana, dan lemahnya akses petani terhadap sumber permodalan juga masih menjadi persoalan yang menghambat perkembangan komoditi ini. Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan berbagai upaya dalam rangka peningkatan produktivitas dan produksi padi. Prinsip utama dalam pelaksanaan kegiatan
peningkatan produktivitas dan produksi adalah penguatan sistem koordinasi dan keterpaduan antara seluruh stakeholder yang berperan pada usahatani padi.
Dari hasil analisis keterkaitan langsung dan tidak langsung baik ke belakang maupun ke depan pada Tabel 13 dan Tabel 14 menunjukkan bahwa komoditi unggas dan hasil-hasilnya, komoditi kopi, komoditi padi, dan subsektor peternakan dan pemotongan hewan memiliki nilai keterkaitan tinggi. Oleh karena itu, subsektor atau komoditi tersebut layak dipertimbangkan oleh pengambil kebijakan di Provinsi NTT untuk menjadi prioritas pengembangan. Pengembangan terhadap subsektor atau komoditi tersebut, berarti pemerintah mengarahkan pembangunan untuk mendorong pertumbuhan output baik sektor hulu dan hilirnya.
6.2.3. Daya Penyebaran
Daya penyebaran (power of dispersion) menggambarkan besarnya peran suatu sektor dalam menarik pertumbuhan sektor-sektor lain dalam perekonomian. Nilai daya penyebaran menunjukkan banyaknya input yang digunakan oleh suatu sektor yang berasal dari output sektor lain secara langsung maupun tidak langsung sebagai akibat dari peningkatan satu satuan permintaan akhir sektor tersebut. Nilai daya penyebaran ini merupakan nilai keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke belakang yang dibobot dengan jumlah sektor kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung semua sektor. Sektor yang mempunyai daya penyebaran tinggi atau lebih besar dari satu memberikan indikasi bahwa sektor tersebut mempunyai ketergantungan tinggi terhadap sektor lain atau menunjukkan bahwa daya penyebaran suatu sektor berada di atas
rata-rata daya penyebaran seluruh sektor. Hasil analisis indeks daya penyebaran sektor-sektor ekonomi di Provinsi NTT dapat dilihat di Lampiran 18.
Tabel 15 menunjukkan indeks daya penyebaran subsektor atau komoditi pertanian tahun 2009. Indeks daya penyebaran tertinggi dimiliki oleh komoditi unggas dan hasil-hasilnya sebesar 0.92584. Berikut secara berurutan indeks daya penyebaran diikuti oleh komoditi kopi sebesar 0.91662, subsektor peternakan dan pemotongan hewan sebesar 0.89783, subsektor kehutanan sebesar 0.86997, dan komoditi jambu mete sebesar 0.86318.
Tabel 15. Indeks Daya Penyebaran Subsektor/Komoditi Pertanian di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Tahun 2009
Kode I-O Subsektor/Komoditi Indeks Daya
Penyebaran Peringkat
1 Padi 0.85782 26
2 Jagung 0.81247 30
3 Tanaman bahan makanan 0.80116 31
4 Umbi-umbian 0.83840 28 5 Jambu mete 0.86318 25 6 Kelapa 0.77902 34 7 Tanaman perkebunan 0.85380 27 8 Kopi 0.91662 21 9 Pertanian lainnya 0.78495 33
10 Peternakan dan pemotongan hewan 0.89783 22
11 Unggas dan hasil-hasilnya 0.92584 20
12 Kehutanan 0.86997 24
13 Perikanan 0.81433 29
Sumber: Tabel Input Output Transaksi Domestik Atas Dasar Harga Produsen Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2009 (Diolah Kembali).
Komoditi unggas dan hasil-hasilnya memiliki indeks daya penyebaran sebesar 0.92584. Angka ini dapat diartikan, bahwa apabila terjadi peningkatan permintaan akhir sebesar satu rupiah pada komoditi unggas dan hasil-hasilnya, maka akan menyebabkan kenaikan output komoditi itu sendiri dan sektor-sektor ekonomi lainnya sebesar 0.92584 rupiah.
Peningkatan permintaan akhir sebesar satu rupiah pada komoditi unggas dan hasil-hasilnya, maka akan berdampak terhadap meningkatnya permintaan input pada sektor-sektor ekonomi lainnya. Sektor-sektor ekonomi tersebut antara lain permintaan input dari komoditi unggas dan hasil-hasilnya itu sendiri meningkat sebesar 0.75163 rupiah, komoditi padi sebesar 0.05952 rupiah, sektor perdagangan sebesar 0.05719 rupiah, sektor angkutan sebesar 0.02028 rupiah, dan komoditi umbi-umbian sebesar 0.00732 rupiah. Keterkaitan antarsektor ekonomi menurut indeks daya penyebaran di Provinsi NTT dapat dilihat di Lampiran 19. Cara membaca indeks daya penyebaran sektor-sektor ekonomi lainnya sama seperti di atas.
6.2.4. Derajat Kepekaan
Derajat kepekaan (degree of sensivity) menggambarkan besarnya peranan suatu sektor dalam mendorong pertumbuhan sektor-sektor lain dalam suatu wilayah. Nilai derajat kepekaan menunjukkan banyaknya output yang digunakan oleh sektor lain yang berasal dari input sektor tersebut secara langsung maupun tidak langsung sebagai akibat dari peningkatan satu satuan permintaan akhir. Nilai derajat kepekaan ini merupakan nilai keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke depan yang dibobot dengan jumlah sektor kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung semua sektor. Sektor yang mempunyai derajat kepekaan tinggi atau lebih dari satu memberikan indikasi bahwa sektor lain mempunyai ketergantungan tinggi terhadap sektor tersebut atau menunjukkan bahwa suatu sektor merupakan sektor strategis karena secara relatif sektor tersebut dapat memenuhi permintaan akhir sebanyak di atas kemampuan
rata-rata sektor lainnya. Hasil analisis indeks derajat kepekaan sektor-sektor ekonomi di Provinsi NTT dapat dilihat di Lampiran 18.
Tabel 16 menunjukkan indeks derajat kepekaan subsektor/komoditi pertanian tahun 2009. Indeks derajat kepekaan tertinggi dimiliki oleh komoditi padi sebesar 1.53554. Berikut secara berurutan indeks daya penyebaran diikuti oleh subsektor peternakan dan pemotongan hewan sebesar 1.41809, subsektor tanaman perkebunan sebesar 1.30907, subsektor tanaman bahan makanan sebesar 1.18638, dan subsektor unggas dan hasil-hasilnya sebesar 0.89021.
Tabel 16. Indeks Derajat Kepekaan Subsektor/Komoditi Pertanian di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Tahun 2009
Kode I-O Subsektor/Komoditi Indeks Daya
Penyebaran Peringkat
1 Padi 1.53554 4
2 Jagung 0.87776 13
3 Tanaman bahan makanan 1.18638 9
4 Umbi-umbian 0.86166 15 5 Jambu mete 0.73731 26 6 Kelapa 0.73035 28 7 Tanaman perkebunan 1.30907 7 8 Kopi 0.87817 12 9 Pertanian lainnya 0.72795 29
10 Peternakan dan pemotongan hewan 1.41809 5
11 Unggas dan hasil-hasilnya 0.89021 11
12 Kehutanan 0.75186 22
13 Perikanan 0.85006 17
Sumber: Tabel Input Output Transaksi Domestik Atas Dasar Harga Produsen Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2009 (Diolah Kembali).
Komoditi padi memiliki indeks derajat kepekaan sebesar 1.53554. Angka ini dapat diartikan, bahwa apabila terjadi peningkatan permintaan akhir sebesar satu rupiah pada sektor-sektor lainnya, maka akan menyebabkan kenaikan output komoditi padi itu sendiri dan sektor-sektor ekonomi lainnya sebesar 1.53554 rupiah.
Peningkatan permintaan akhir sebesar satu rupiah pada komoditi padi, maka akan berdampak terhadap peningkatan alokasi output dari komoditi padi tersebut kepada sektor-sektor ekonomi lainnya. Sektor-sektor ekonomi tersebut antara lain alokasi output kepada komoditi padi itu sendiri meningkat sebesar 0.80290 rupiah, industri penggilingan padi-padian sebesar 0.55480 rupiah, komoditi unggas dan hasil-hasilnya sebesar 0.05952 rupiah, subsektor peternakan dan pemotongan hewan sebesar 0.03990 rupiah, dan industri lain yang belum digolongkan dimanapun sebesar 0.02450 rupiah. Keterkaitan antarsektor ekonomi menurut indeks derajat kepekaan di Provinsi NTT dapat dilihat di Lampiran 19. Cara membaca indeks derajat kepekaan sektor-sektor ekonomi lainnya sama seperti di atas.
Dari hasil analisis derajat kepekaan pada Tabel 16 menunjukkan bahwa komoditi padi, subsektor peternakan dan pemotongan hewan, subsektor tanaman perkebunan, dan subsektor bahan makanan di Provinsi NTT mempunyai peranan besar dalam mendorong pertumbuhan output sektor hilirnya atau sektor-sektor ekonomi lainnya mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap subsektor atau komoditi tersebut.
Tabel 15 menunjukkan bahwa tidak ada sektor atau komoditi pertanian yang berbasis domestik dari sisi input karena memiliki indeks daya penyebaran lebih kecil dari satu atau di bawah rata-rata. Sedangkan dari sisi output pada Tabel 16, sektor atau komoditi pertanian yang berorientasi domestik adalah komoditi padi, subsektor peternakan dan pemotongan hewan, subsektor tanaman perkebunan, dan subsektor tanaman bahan makanan karena memiliki indeks derajat kepekaan di atas satu atau di atas rata-rata.
Hasil analisis daya penyebaran dan derajat kepekaan menunjukkan bahwa tidak ada sektor atau komoditi pertanian yang dapat dijadikan sebagai sektor pemimpin karena tidak ada satu subsektor atau komoditi pun yang memiliki indeks daya penyebaran dan derajat kepekaan sekaligus di atas rata-rata. Komoditi
padi memiliki derajat kepekaan di atas rata-rata, tetapi indeks penyebaran di bawah rata-rata. Demikian juga untuk subsektor peternakan dan pemotongan
hewan, subsektor perkebunan, dan subsektor tanaman bahan makanan. Kondisi ini dapat dilihat di diagram empat kuadran Gambar 3.
Gambar 3. Daya Penyebaran dan Derajat Kepekaan
Berdasarkan daya penyebaran dan derajat kepekaan, sektor-sektor ekonomi di Provinsi NTT dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok yaitu: (1) kelompok I adalah sektor yang mempunyai daya penyebaran dan derajat kepekaan tinggi, (2) kelompok II adalah sektor yang mempunyai daya penyebaran
27 32 30 33 1 3 7 10 28 1218 2 4 5 6 8 913 11 19 172434 22 15 25 14 31 16 20 2126 23 29 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 0,5 1,0 1,5 In d e k s D e ra ja t K e p e k a a n
rendah dan derajat kepekaan tinggi, (3) kelompok III adalah sektor yang
mempunyai daya penyebaran tinggi dan derajat kepekaan rendah, dan (4) kelompok VI adalah sektor yang mempunyai daya penyebaran rendah dan derajat kepekaan rendah. Pengelompokkan sektor-sektor ekonomi
berdasarkan daya penyebaran dan derajat kepekaan di Provinsi NTT dapat dilihat di Lampiran 41.
Dalam kondisi seperti di atas, dengan dana pembangunan yang terbatas, maka pembangunan sektor pertanian di Provinsi NTT dapat diarahkan pada pilihan untuk mengembangkan komoditi padi, subsektor peternakan dan pemotongan hewan, subsektor perkebunan, dan subsektor tanaman bahan makanan. Dengan melakukan pengembangan terhadap subsektor atau komoditi tersebut, berarti pemerintah mengarahkan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan input antara yang lebih besar dalam rangka mendorong pertumbuhan output sektor hilirnya.