• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

IV. METODE PENELITIAN

2. Alokasi Biaya Tataniaga

4.5. Policy Analysis Matriks (PAM)

4.5.2. Dampak Kebijakan Pemerintah 1 Kebijakan Output

Transfer Output menunjukkan terdapat kebijakan pemerintah pada output sehingga ada perbedaan antara harga output privat dan sosial. Nilai Transfer Output yang positif menunjukkan bahwa ada intensif masyarakat terhadap produsen, artinya harga yang dibayarkan oleh konsumen pada produsen lebih tinggi dari seharusnya, atau kebijakan pemerintah berupa subsidi output yang

menyebabkan harga privat output yang diterima oleh produsen lebih tinggi dari harga sosialnya. Rumus Transfer Output adalah sebagai berikut (Monke dan Pearson,1989):

TO (I) = A – E

Keterangan: A = Penerimaan Privat; E = Penerimaan Sosial

Jika nilai NPCO kurang dari satu berarti terjadi pengurangan penerimaan petani akibat adanya efek divergensi. Sementara apabila nilai NPCO lebih dari satu, maka yang terjadi adalah sebaliknya. NPCO dirumuskan sebagai berikut (Monke dan Pearson,1989):

NPCO = E A = Sosial Penerimaan ivat PenerimaanPr 4.5.2.2. Kebijakan Input

Nilai TI menunjukkan bahwa kebijakan input yang diharapkan pada input tradable yang menyebabkan terjadinya perbedaan antara biaya input tradable privat dan biaya input tradable sosial. Jika nilai TI positif hal ini menunjukan harga sosial input asing yang lebih rendah. Akibatnya produsen harus membayar input lebih mahal. Sebaliknya jika TI kurang dari nol hal ini menunjukan adanya subsidi pemerintah terhadap input asing, sehingga petani tidak membayar penuh korbanan sosial yang seharusnya dibayarkan.

Transfer Input (TI) oleh Monke dan Pearson (1989), dirumuskan sebagai berikut:

TI (J) = B – F

Keterangan: B = Biaya Input Tradable Privat; F = Biaya Input Tradable Sosial

Nilai NPCI bernilai lebih dari satu menginformasikan bahwa terdapat proteksi terhadap produsen input asing tradable, yang menyebabkan sektor yang menggunakan input tersebut akan dirugikan dengan tingginya biaya produksi.

Sebaliknya, jika Koefisien proteksi input nominal kurang dari satu maka petani menerima subsidi atas input asing tradable sehingga petani dapat membeli dengan harga yang lebih rendah. NPCI dirumuskan oleh Monke dan Pearson (1989): NPCI = F B = Sosial Tradable Input Biaya ivat Tradable Input Biaya Pr

Transfer Faktor menunjukkan besarnya subsidi terhadap input non

tradable. Jika nilai Transfer Faktor positif, menunjukkan bahwa terjadi subsidi negatif pada input non tradable. Sedangkan jika nilai Transfer Faktor negatif, berarti terdapat subsidi positif pada input non tradable. Pada matriks PAM Transfer Faktor dirumuskan sebagai berikut (Monke dan Pearson,1989):

TF (K) = C – G

Keterangan: C = Biaya Input Non Tradable Privat; G = Biaya Input Non Tradable Sosial 4.5.2.3. Kebijakan Input-Output

Koefisien proteksi efektif (EPC) merupakan indikator dari dampak keseluruhan kebijakan input dan output terhadap sistem produksi komoditas dalam negeri. Nilai EPC menggambarkan sejauh mana kebijakan pemerintah bersifat melindungi atau menghambat produksi domestik. Nilai EPC lebih dari satu artinya adalah bahwa kebijakan melindungi produsen domestik secara efektif. Monke dan Pearson (1989) merumuskan nilai EPC sebagai berikut:

EPC = F E B A − − = Sosial Tradable Input Biaya Sosial Penerimaan ivat Tradable Input Biaya ivat Penerimaan − − Pr Pr

Transfer Bersih (TB) menggambarkan dampak kebijakan pemerintah secara keseluruhan terhadap penerimaan petani, apakah merugikan atau menguntungkan petani. Nilai TB lebih dari nol (positif) menginformasikan bahwa tambahan surplus produsen yang disebabkan oleh adanya kebijakan pemerintah

terhadap input dan output. Monke dan Pearson (1989) merumuskan Transfer Bersih, sebagai berikut:

TB (L) = D – H

Keterangan: D = Keuntungan Privat; H = Keuntungan Sosial

Pengaruh keseluruhan dari kebijakan yang menyebabkan keuntungan privat berbeda dengan keuntungan sosial dicerminkan oleh nilai koefisien keuntungan (PC). Jika nilai PC kurang dari satu maka yang terjadi adalah kebijakan pemerintah membuat keuntungan yang diterima oleh produsen lebih kecil bila dibandingkan tanpa ada kebijakan. Koefisien keuntungan dirumuskan sebagai berikut (Monke dan Pearson,1989):

PC = H D = Sosial Penerimaan ivat PenerimaanPr

Nilai Rasio Subsidi bagi Produsen (Subsidi Ratio to Producers atau SRP) menunjukan tingkat penambahan dan pengurangan penerimaan karena adanya kebijakan pemerintah. SRP yang bernilai negatif berarti kebijakan pemerintah menyebabkan produsen mengeluarkan biaya produksi lebih besar dari biaya sosial untuk berproduksi. SRP dirumuskan oleh Monke dan Pearson (1989):

SRP = E L = Sosial Penerimaan Bersih Transfer 4.6. Analisis Sensitivitas

Analisis sensitivitas dilakukan dengan mengubah-ubah nilai input dan output, lalu melihat pengaruhnya terhadap daya saing suatu komoditas. Di dalam penelitian ini analisis sensitivitas dilakukan dengan dua cara yang berbeda. Analisis sensitivitas yang pertama dilakukan dengan cara mengubah variabel input dan output berdasarkan asumsi-asumsi kondisi yang mungkin terjadi di tempat penelitian, perubahan-perubahan tersebut adalah:

1. Analisis sensitivitas jika terjadi penurunan jumlah kedua output sebesar 20 persen dengan asumsi faktor lainnya tetap (ceteris paribus). Berdasarkan hasil wawancara langsung kepada petani penurunan jumlah output tersebut disebabkan apabila terjadi serangan hama atau ganguan cuaca pada pengusahaan beras Pandan Wangi dan Varietas Unggul Baru.

2. Analisis sensitivitas jika terjadi kenaikan harga input pupuk anorganik sebesar 16,67 persen, ceteris paribus. Perubahan harga pupuk diakibatkan karena situasi yang tak terduga yaitu jika terjadi kelangkaan saat musim tanam tiba. Rata-rata peningkatan harga jual pupuk di desa Bunikasih adalah sebesar 16,67 persen.

3. Analisis sensitivitas jika terjadi penurunan harga output, ceteris paribus. Khusus untuk komoditas Pandan Wangi, penurunan harga output terjadi jika petani menjual hasil produksinya kepada pedagang pengumpul. Sedangkan untuk komoditas beras Varietas Unggul Baru, perubahan harga disebabkan karena memasuki masa panen raya. Berdasarkan data yang dikumpulkan di tingkat petani, rata-rata penurunan harga output sebesar 12 persen.

4. Analisis sensitivitas jika terjadi penurunan harga output dan biaya imbangan penggunaan lahan, ceteris paribus. Penurunan harga output akan diikuti dengan turunnya biaya imbangan penggunaan lahan, hal ini terjadi karena penentuan biaya imbangan lahan didasarkan dari sistem bagi hasil yang nilainya di tentukan oleh harga malai kering panen. Penurunan yang terjadi sebesar 12 persen.

5. Analisis sensitivitas gabungan, jika terjadi penurunan jumlah output sebesar 20 persen yang di ikuti dengan peningkatan harga input pupuk

anorganik sebesar 16,67 persen dan penurunan harga output serta biaya imbangan penggunaan lahan sebesar 12 persen.

Analisis sensitivitas cara yang kedua dilakukan dengan merubah besaran masing-masing variabel (poin satu sampai empat) dengan besaran prosentase perubahan yang sama. Besarnya prosentase perubahan adalah sebesar 16 persen yang diperoleh dari rataan perubahan-perubahan yang terjadi pada analisis sensitivitas cara pertama. Analsis sensitivitas dengan cara yang kedua ini dilakukan untuk membandingkan variabel-variabel manakah yang sangat berpengaruh pada daya saing beras Pandan Wangi dan Varietas Unggul Baru.