DAFTAR LAMPIRAN
IV. METODE PENELITIAN
2. Alokasi Biaya Tataniaga
4.4.3. Penentuan Harga Bayangan Input dan Output 1 Harga Bayangan Output
Harga bayangan output ditentukan dengan harga perbatasan yaitu harga fob (free on board)bila output yang dihasilkan merupakan barang potensial untuk diekspor dan harga cif (cost insurance freight)untuk output yang diimpor. Namun didalam penelitian ini harga bayangan output untuk kedua varietas beras ditentukan berdasarkan harga yang terjadi di pasar supermarket. Penggunaan harga tersebut didasarkan karena kondisi pasar supermarket mendekati kondisi pasar persaingan sempurna. Harga bayangan untuk beras Pandan Wangi adalah Rp. 18.000,00 per kilogram dan harga untuk beras Varietas Unggul Baru adalah Rp. 7.229,50 per kilogram. Alasan digunakannya harga yang terjadi di pasar supermarket sebagai harga bayangan output adalah:
• Data ekspor dan impor yang tersedia di BPS tidak merinci hingga varietas beras.
• Khusus untuk beras pandan wangi, beras jenis ini belum diekspor maupun impor. Namun komoditas beras pandanwangi memiliki potensi ekspor (output tradable) karena pada tanggal 11 April 2008 telah dikeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan nomor 12/M-DAG/PER/4/2008 yang memperbolehkan beras pandan wangi di ekspor.
4.4.3.2. Harga Bayangan Input a. Harga bayangan benih
Para petani mendapatkan benih padi Pandan Wangi dari penangkar benih Pandan Wangi yang terletak pada tempat penelitian dan sebagian dari mereka memproduksi benih sendiri. Sedangkan untuk benih padi Varietas Unggul Baru, petani biasa memperoleh benih dengan membeli benih padi hasil produsen benih nasional, hasil produksi sendiri, dan beberapa petani memperoleh benih dari program bantuan pemerintah. Karena benih padi kedua varietas merupakan
produksi dalam negeri, maka komponen input benih padi termasuk dalam komponen input non tradable. Harga bayangan untuk benih padi kedua varietas sama dengan harga finansialnya.
b. Harga bayangan pupuk
Pada pengusahaan komoditas padi varietas Pandan Wangi dan padi Varietas Unggul Baru input pupuk yang umumnya mengunakan pupuk Urea, TSP/SP-36, KCL dan Phonska (NPK). Di dalam biaya produksi pupuk anorganik terkandung berbagai macam subsidi maka kurang menggambarkan harga yang sebenarnya, sehingga harga bayangan ditentukan berdasarkan harga border
price (harga perbatasan).
Input pupuk Urea di Indonesia sudah bisa diproduksi secara domestik, sehingga rumus perhitungan harga bayangannya berdasarkan harga fob. Harga bayangan untuk pupuk urea adalah Rp. 2.233,37 dengan besar nilai fob pupuk urea US$ 0,269 dan biaya tataniaga Rp. 220 per kilogram pupuk. Untuk menentukan harga bayangan pupuk urea dengan cara:
Berbeda dengan pupuk urea, pupuk TSP/SP-36, KCl dan Phonska (NPK) karena sampai saat ini sebagian besar bahan dasarnya masih diimpor, maka untuk menentukan harga bayangannya ditentukan berdasarkan harga cif. Harga cif pupuk TSP/Sp-36, KCl dan NPK berturut-turut adalah US$ 0,318, US$ 0,205 dan US$ 0,699 per kilogram. Setelah dikonversi dengan SER kemudian ditambah biaya tataniaga, maka diperolehlah harga bayangan pupuk TSP, KCl dan NPK masing-masing Rp. 3.120,26, Rp. 2.089,67, Rp. 6.595,11 per kilogram.
c. Harga bayangan pestisida
Subsidi untuk pestisida telah dicabut, sehingga penentuan harga sosial pestisida akan didasarkan pada harga yang terjadi di tempat penelitian. Karena subsidi untuk pestisida sudah tidak ada maka harga diserahkan pada mekanisme pasar.
d. Harga bayangan peralatan
Karena tidak ada kebijakan pemerintah yang mengatur secara langsung, sehingga distorsi pasar yang terjadi amat kecil, maka harga sosial untuk peralatan sama dengan harga finansialnya.
e. Harga bayangan tenaga kerja
Bila pasar tenaga kerja bersaing sempurna, maka upah yang berlaku mencerminkan nilai produk marjinal. Hal ini tidak berlaku untuk sektor pertanian karena tingkat upah dipedesaan cenderung lebih tinggi sehingga tidak mencerminkan nilai produk marjinalnya. Hal ini disebabkan karena adanya share proverty instituton seperti gotong royong dan sambatan (Suryana dalam Novianti, 2003). Dalam penelitian ini, harga sosial upah ditentukan dengan memakai perhitungan Rusastra et. al dalam Novianti (2003) yaitu sebesar 80 persen dari tingkat upah yang berlaku.
f. Harga bayangan lahan
Lahan atau tanah merupakan salah faktor produksi yang sangat penting. Di dalam usaha tani lahan merupakan input non tradable. Harga bayangan lahan ditentukan berdasarkan nilai sewa lahan yang diperhitungkan tiap musim tanam yang berlaku di masing-masing tempat usahatani (Gittinger, 1986). Sehingga penentuan harga bayangan lahan berdasarkan nilai sewa lahan yang berlaku di lokasi penelitian.
g. Harga bayangan nilai tukar
Harga bayangan nilai tukar menggunakan formula yang telah dirumuskan oleh Squire dan Van Der Tak (1975) dalam Gittinger (1986) yaitu :
Dimana:
SERT : Shadow exchange rate (nilai tukar bayangan) Tahun ke-T OERT : Official exchange rate (nilai tukar resmi) Tahun ke-T
SCFT : Standart conversion factor (faktor konversi standar) Tahun ke-T
Nilai faktor konversi standar yang merupakan rasio dari nilai impor dan ekspor ditambah pajaknya dapat ditentukan sebagai berikut :
Dimana:
MT : Nilai impor Tahun ke-T (Rp) XT : Nilai ekspor Tahun ke-T (Rp)
TMT : Penerimaan pemerintah melalui pajak impor Tahun ke-T (Rp)
TXT : Penerimaan pemerintah melalui pajak ekspor Tahun ke-T (Rp)
Pada tahun 2006 nilai tukar dollar terhadap rupiah sebesar Rp. 9.020,00, sedangkan penerimaan pemerintah dari komponen pajak ekspor diperoleh sebesar Rp 377,70 milyar (TX) serta penerimaan pemerintah dari komponen pajak impor sebesar Rp 12.141,70 milyar (TM). Sementara nilai ekspor Indonesia sebesar Rp 539.400 milyar (X) dan nilai impor sebesar Rp 559.300 milyar (M). Dari hasil perhitungan, maka diperoleh nilai faktor konversi standar tahun 2006 (SCF) sebesar 0,989, sehingga nilai SER yang digunakan adalah Rp 9.120,32. Data dan perhitungan mengenai harga bayangan nilai tukar dapat dilihat pada Lampiran 9. T T T SCF OER SER =
(M
TM
) (X
TX
T)
X
M
SCF
T T T T T T−
+
+
+
=
h. Harga bayangan bunga modal
Sumber modal yang digunakan oleh para petani untuk melakukan usahatani tanaman padi berasal dari modal petani sendiri. Sehingga bunga modal tidak dimasukan sebagai komponen biaya pada analisis ekonomi. Pada penelitian ini digunakan suku bunga yang digunakan untuk analisis finansial adalah suku bunga nominal aktual rata-rata tahun 2007 di tempat penelitian yakni sebesar 13 persen.