• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Modernisasi Dan Motorisasi Terhadap Transportasi Perairan Perairan

Dalam dokumen 1950-1970an D (Halaman 106-112)

sebagai sumber tenaga sarana-sarana transportasi perairan mereka.130 Motorisasi atau proses pemotoran sarana-sarana transportasi perairan sangat sederhana dan cepat. Hanya dengan sedikit modifikasi pada bagian buritan untuk mendudukan motor, muncul bentuk-bentuk baru seperti stempel, klotok, dan speed, begitupun kapal. Proses penerimaan yang cepat dan perubahan terhadap sarana-sarana, menyebabkan begitu banyak jenis dan istilah bagi sarana transportasi perairan di daerah Kalimantan Selatan, hilang jenis tertentu kemudian muncul jenis baru.131 Sebagai tambahan perlu diketahui bahwa pada tahun 1970 ke atas mulai populer jenis baru sarana transportasi masyarakat Kalimantan Selatan, di samping speed jenis baru (komersial/ jasa angkutan), dikenal pula jenis yang disebut dengan bis air dan truk air.132

Motorisasi bertujuan untuk mencapai kemajuan di bidang transportasi perairan, praktis, serba cepat dan penghematan tenaga manusia. Tingkat efisiensi yang dicapai memang cukup menonjol akibat otomatisasi sarana-sarana transportasi masyarakat yang ditimbulkan oleh motor. Dampak negatif yang mula-mula dapat dirasakan adalah hilangnya beberapa jenis sarana transportasi perairan seperti pangkuh, bagawis dan sebagainya, begitupun berikutnya getek, tambangan, rakit, dan tiung sudah semakin terdesak kedudukannya menjelang tahun 1970-an. Keadaan ini

130 Periksa Bahan Expose (1983).

131 Silahkan periksa mengenai jenis-jenis dan istilah sarana-sarana transportasi perairan jaman dahulu pada J. J. Ras, Hikayat Bandjar, a Study in Malay Historiography (Den Haag: The Hague, Martinus Nijhoff, 1968), hlm. 228-252; juga Sartono Kartodirdjo, et al., (ed.), Sejarah Nasional Indonesia, jilid III (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1975), hlm. 22-24.

132 Periksa Bahan Expose (1983)

jelas akibat telah diterimanya sarana-sarana transportasi dengan motor (otomatisasi) oleh masyarakat. Sebegitu jauh pemotoran memang lebih efektif dari berbagai segi dibandingkan dari beberapa jenis sarana sebelumnya tanpa motor. Otomatisasi terhadap sarana-sarana transportasi perairan telah memberi jaminan yang serba praktis, mudah dan cepat, tidak saja semata-mata untuk urusan komunikasi dan transportasi, tetapi juga dapat sebagai dasar bagi segi-segi kehidupan yang lain untuk berkembang.133

Sebenarnya perkembangan yang terjadi di sektor transportasi perairan diterima oleh masyarakat daerah Kalimantan Selatan dengan sangat bersahaja. Hal ini disebabkan adanya ketidakmampuan untuk menyadari bahwa hasil teknologi modern dapat juga menimbulkan kemunduran dan kerugian, di samping keuntungan yang sudah pasti hasilnya. Masyarakat di daerah ini rupanya terpaku hanya pada soal pemanfaatan hasil teknologi modern berupa motor secara langsung, tanpa mampu melihat kemungkinan lain yang dapat ditimbulkannya kemudian. Keadaan ini dapat dimengerti, karena semenjak mulai digunakannya motor pada tahun 1950-an sampai beberapa waktu kemudian, tidak menimbulkan ketegangan secara mendadak bagi kehidupan masyarakat. Lebih penting lagi karena tidak ada perhatian pemerintah dan para ilmuan di sektor transportasi perairan ini.

Selanjutnya dapat dilihat, terutama tahun 1970 ke atas sudah semakin nampak bahwa jenis-jenis jukung semakin kurang diminati masyarakat. Untuk menggunakan jukung orang harus berkayuh selama berjam-jam atau sampai seharia, misalnya untuk

133 Bandingkan dengan Basit Wahit, op. cit., hlm. 2-3.

mengangkut hasil panen dari sawah ke rumah. Pekerjaan seperti ini tidak mesti dapat sekali selesai memakan tenaga dan waktu, sehingga bagi mereka adalah lebih baik memanfaatkan jasa klotok yang jauh lebih besar kapasitas muatnya, dan waktu tempuh yang lebih singkat-cepat. Kebiasaan lama akhirnya mulai ditinggalkan para petani, terutama petani yang tinggalnya di kota. Masyarakat umumnya sudah tidak suka lagi terhadap jukung sebagai sarana pengangkutan dan menggantinya dengan klotok atau mengandalkan jasa angkutan para pemilik klotok.

Berubahnya kebiasaan dengan berkurangnya minat terhadap pemilikan jukung, membawa akibat lanjutan terhadap industri rakyat yang memproduksi jenis ini. Industri jukung berangsur-angsur terdesak dan mulai ditinggalkan, karena tidak dapat berproduksi lagi akibat tidak ada pemesan atau pembelinya.

Keadaan seperti ini dapat terjadi ketika klotok semakin berkenan di masyarakat dan diproduksi secara meluas menjelang tahun 1970, demikianpun harganya relatif murah sehingga dapat terjangkau oleh masyarakat luas.

Otomatisasi terhadap sarana-sarana transportasi perairan telah memperbaiki pekerjaan dan menghemat tenaga manusia, dengan demikian anak-anak punya kesempatan bersekolah dengan baik, para wanita (isteri) dapat mencari pekerjaan di bidang lain, atau berkonsentrasi sebagai ibu rumah tangga. Mereka ini tidak perlu lagi harus membantu para bapak/ suami untuk mengayuh perahu sebagaimana kebiasaan sebelumnya, karena dengan otomatisasi tidak diperlukan lagi banyak tenaga manusia.134

134 Bandingkan ibid., juga dengan Iskandar Alisjahbana, “Teknologi”, majalah Prisma, no. 1 (Jakarta: LP3ES, 1979), hlm. 49.

Dampak lain dari motorisasi adalah tuntutan terhadap tingkat dan ketrampilan tertentu yang lebih baik. Sedikit berbeda dari klotok, ialah jenis kapal, stempel dan speed. Pada ketiga jenis terakhir, sedikitnya diperlukan dua orang untuk mengoperasikan, di samping pengemudi (nakhoda) diperlukan pula ahli mesin (motoris). Bagi mereka ini perlu tuntutan kursus untuk memperoleh sertifikat atau penghargaan berupa surat keterangan yang memperkenankan mereka melakukan pekerjaannya. Mereka ini baru sah melaksanakan pekerjaannya bila mendapatkan Surat Tanda Kecakapan (STK) nakhoda, motoris, atau sekaligus STK nakhoda dan motoris.135 Tentang STK ini periksa juga pada lampiran H1 dan H2.

Masih banyak lagi dampak yang dapat ditimbulkan akibat adanya motorisasi terhadap sarana-sarana transportasi perairan menjelang tahun 1970 sudah mulai terasa gejala perpindahan penduduk tepi sungai dari rumah-rumah terapung (lanting), di sepanjang tepi sungai Martapura, dan anak-anak sungainya di kawasan Banjarmasin dan Martapura, daerah Marabahan, Negara, dan lain-lainnya ke daerah permukiman baru terutama di tepi-tepi jalur darat/ jalan raya. Posisi penduduk dengan lanting-lantingnya di sepanjang jalur-jalur transportasi perairan sudah tidak begitu aman lagi akibat gerak air yang ditimbulkan oleh sarana-sarana transportasi dengan motor, yang seolah-olah tanpa henti. Di samping itu tidak jarang lanting mengalami kecelakaan lalu lintas

135 Laporan Pengeluaran: Surat Tanda Kecakapan Tahun 1983 (Banjarmasin:

Kantor Wilayah XI Bidang LLASDP Propinsi Kalimantan Selatan/ Tengah, 1996);

juga bandingkan H. W. Dick, part II (1975), op.cit. hlm. 98; Bahan Expose (1983)

perairan akibat benturan keras tertabrak speed atau kapal yang lepas kendali.136.

Gerak air yang ditimbulkan tidak saja mengancam kehidupan dan ketenangan para penghuni lanting, tetapi juga tidak jarang menyebabkan karamnya sarana-sarana transportasi jenis jukung beserta muatannya. Di samping itu menyebabkan tepi-tepi sungai dan anjir terus-menerus mengalami erosi (rumbih) cukup berat.

Untuk mengatasi tanah rumbih pemerintah dan masyarakat setempat terpaksa mengeluarkan biaya dan tenaga yang tidak sedikit, yaitu dengan membuat siring di sepanjang tepi jalur-jalur perairan itu. Pekerjaan semacam ini bukan saja tidak mudah dilakukan, tetapi juga siring umumnya tidak dapat bertahan lama, sehingga benar-benar merupakan beban berat yang harus ditanggung oleh masyarakat.137

Dampak berikutnya dari motorisasi yang juga harus diterima ialah timbulnya pencemaran atau polusi terhadap perairan akibat proses pembakaran motor dan sisa-sisa bahan bakar yang terbuang ke dalam air. Sudah tentu dampak negatif dari sistem modern melalui motorisasi tidak diinginkan, tetapi akibat kurang perhitungan maka resiko dengan sendirinya dialami, baik berupa pencemaran terhadap perairan dan lingkungan maupun kerugian-kerugian yang harus ditanggung oleh masyarakat.

136 Periksa juga “Berakit-berakit di dalam Rumah”, majalah Tempo, 5 September 1981, hlm. 77-79; “Akibat Gelombang Speed, 10 Pelajar SD Tercebur ke Sungai”, harian Banjarmasin Post, 26 Agustus 1983.

137 Ibid,; Periksa juga “Enam Orang di Bawah Umur 7 Tahun Nyaris Lemas di Sungai Barito”, harian Banjarmasin Post, 28 Agustus 1983. “Siring adalah alat/

benda penahan agar tanah tidak rumbih (tanah longsor, runtuh), lebih jelasnya silahkan periksa Pekan Kontak Tani-Nelayan IV di Barabai (Martapura: Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Banjar, 1981), hlm. 78.

Dalam dokumen 1950-1970an D (Halaman 106-112)