• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masalah Perairan dan Kelancaran Lalu Lintas

Dalam dokumen 1950-1970an D (Halaman 42-48)

A. Keadaan Perairan Yang Memungkinkan Penyelenggaraan Transportasi Transportasi

2. Masalah Perairan dan Kelancaran Lalu Lintas

(kering) sangat rendah dibeli leh para tengkulak yang dating ke desa tersebut dan mengangkutnya dengan sarana berupa sepeda.45

Gambaran diatas merupakan sebagian dari keadaan yang dihadapi oleh masyarakat dalam soal pengangkutan, khususnya di perairan daratan. Kemarau panjang biasanya berlangsung selama enam bulan yaitu antara bulan Juni hingga Nopember. Kemarau seperti ini dengan akibat serupa juga terjadi pada tahun 1961 dan 1965.46 Mengenai keadaan kemarau ini periksa kembali pada tabel 1 tentang banyaknya curah hujan pada tahun 1969.

Seiring dengan perkembangan sector transportasi darat semenjak tahun 1960 ke atas kelak bisa dimengerti bahwa peristiwa kemarau panjang merupakan yang mempercepat tidak berfungsinya sungai-sungai kecil dan handil penghubung secara berkelanjutan. Pengaruhnya cukup besar baik terhadap pertumbuhan sector transportasinya perairan maupun terhadap tanah pertanian dan penduduk.

Masalah berikutnya adalah pencemaran terhadap perairan yang ditimbulkan oleh limbah domestic dan gulma air.47 Kedua hal ini tidak jarang menyebabkan ketidaklancaran, kemacetan dan kecelakaan lalu lintas di perairan. Keadaan perairan yang tenang dan dangkal

45 Keterangan dari wawancara dengan Padli di Sungai Batang, tanggal 22 Agustus 1983; dengan Masdar di Barabai, tanggal 6 Agustus 1983; dan Hamsani di Tanjung, tanggal 7 Agustus 1983.

46 Buku Petunjuk Territorial Untuk Daerah Kalimantan Selatan (1971), op.cit., hlm. 4.

47 Pengertian limbah domestic dan gulma air silahkan periksa lebih jauh pada Otto Soemarwoto, Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan (Jakarta:

Djambatan, 1983) hlm. 232.

menyebabkan gulma air mudah tumbuh dan cepat berkembang biak sehingga dapat dengan segera menutupi permukaan-permukaan sungai, terusan dan danau.

Tumbuhan air seperti purun tikus, ilung (Eichornia crasipes Soms), berbagai jenis bakung (Crinum asiaticum L), serta nipah (Nypa fruticans Wurmb) merupakan gulma air yang banyak tumbuh menutupi permukaan-permukaan perairan di daerah Kalimantan Selatan.48 Gulma air, terutama ilung, kerapkali pada fase pertumbuhannya yang sangat cepat tidak lagi dapat dikendalikan oleh masyarakat dan pemerintah. Ilung dalam jumlahnya yang sangat besar tumbuh terapung misalnya di permukaan-permukaan sungai dan terusan yang mengakibatkan terhambatnya kelancaran lalu lintas di perairan itu. gambaran ini tidak saja menyangkut lalu lintas perairan daratan umumnya, tetapi juga bagi para petani yang akan menuju ke tanah-tanah pertanian mereka, dan bagi perairan tanah-tanah pertanian itu. Contoh gulma air berupa ilung yang menghambat arus lalu lintas transportasi periksa pada lampiran C1.

Seiring dengan masalah gulma air ialah limbah domestic terhadap perairan, terutama sungai dan terusan. Limbah domestic ditimbulkan oleh penduduk sendiri, terutama oleh penduduk yang tinggal pada perkampungan di sepanjang pinggiran sungai dan terusan. Limbah domestic umumnya berupa sampah dari rumah tangga yang dengan mudah

48 Buku Petunjuk Territorial Untuk Daerah Kalimantan Selatan (1971), op,cit., hlm. 178; “Jadwal Pelayaran Terganggu Enceng Gondok,” harian Kompas, 21 Februari 1983.

dibuang ke sungai dan terusan di sekitar mereka. Sampah yang dibuang oleh penduduk sebagian besar mengapung dan menjadi satu ke satuan dalam jumlah yang makin lama bertambah besar. Limbah domestic ini bersama-sama dengan gulma air seperti ilung dan jenis bakung menjadi satu membentuk hampangan, menurut istilah masyarakat dalam bahasa Banjar. Hampangan yang terapung di sungai dan di terusan ikut hilir mudik seirama dengan arus perairan pasang surut. Hampangan dapat berhenti pada perairan danau dan terbentuk semakin luas bersama-sama sebagai tempat bertumbuhnya gulma air. Hampangan-hampangan yang mencapai muara untuk selanjutnya ke luar mengotori perairan pantai-pantai di Kalimantan Selatan. Hampangan pada dasarnya merupakan masalah yang secara langsung dan terus menerus dihadapi oleh sector transportasi perairan di daerah ini, terutama dari segi kelancaran lalu lintas di perairan.49

Selain limbah domestic ada pula limbah usaha terutama dari usaha-usaha penggergajian (wantilan) dan produksi sarana-sarana transportasi perairan milik masyarakat.

Limbah usaha ini berupa serbuk-serbuk gergajian dan potongan-potongan papan atau kayu. Hampir semua usaha wantilan dan produksi sarana transportasi perairan rakyat di Kalimantan Selatan berada di sepanjang pinggiran sungai dan sudah berlangsung sejak lama, akibatnya serbuk-serbuk

49 Ibid.; Bahan Expose : Permasalahan dan Pemecahan Masalah LLAJR dan LLASDP di Propinsi Kalimantan Selatan (Banjarmasin: Kantor Wilayah XI Propinsi Kalimantan Selatan/Tengah, 1983), tanpa halaman ; “Musibah Di Sungai Kapuas,” harian Banjarmasin Post, 7 Mei 1983.

gergajian dan potongan-potongan papan yang memang dibuang ke sungai semakin besar jumlahnya. Limbah usaha ini bersama dengan limbah domestic dan gulma air merupakan unsur-unsur utama pembentuk hampangan.

Pencemaran perairan semakin besar akibat banyak pula bangkai kapal dan perahu yang dibiarkan berada di perairan, terutama sungai. Akibat yang ditimbulkannya ialah terbentuknya gosong-gosong dan mempercepat proses pendangkalan perairan.50 Gosong-gosong yang terdapat di peraran Kalimantan Selatan merupakan masalah yang serupa dengan hampangan bagi kelancaran lalu lintas transportasi di peairan. Gosong-gosong seperti juga hampangan kerapkali dapat menimbulkan kecelakaan lalu lintas perairan.

Sekitar tahun 1960-an keadaan yang ditimbulkan oleh masalah-masalah seperti diatas terhadap perairan sudah semakin parah. Gangguannya terhadap perairan hampir merata kesemua daerah kabupaten di Kalimantan Selatan.

Keadaan ini sangat menghambat kelancaran arus lalu lintas transportasi perairan yang sangat diandalkan masyarakat baik untuk hubungan daerah maupun soal pengangkutan barang dan penumpang. Kegiatan seperti pertanian, perikanan dan lainnya yang selalu berkaitan dengan transportasi perairan akibatnya turut pula mengalami hambatan.

50 Ibid, ; Bahan Expose (1983) ; “74 Ekor Hewan Korban Untuk Banjarmasin Tenggelam di Muara Sungai Barito,” harian Banjarmasin post, 16 September 1983; Buku Petunjuk Territorial Untuk Daerah Kalimantan Selatan (1971), op.cit., hlm. 326 dan 329.

Menyadari pentingnya peran perairan bagi masalah transportasi khususnya, maka pemerintah daerah dibawah pimpinan gubernur Borthami pada tahun 1963 melaksanakan pengerukan dan pembersihan besar-besaran terhadap perairan di Kalimantan Selatan. Perairan yang dikerukan dibersihkan seluruhnya seluas 547, 5 kiloemter persegi dengan perincian seperti terlihat pada tabel 2 berikut ini:

Tabel 2 Usaha Pengerukan dan Pembersihan Perairan Kalimantan Selatan 1963

No. Kabupaten Luas dalam Meter

1 Banjar 238.500

2 Hulu Sungai Selatan 78.000

3 Hulu Sungai Tengah 47.000

4 Hulu Sungai Utara 148.000

5 Barito Kuala 16.000

6 Pulau Laut 20.000

Jumlah 547.500

Usaha serupa kemudian dilaksanakan oleh gubernur H.

Abrani Sulaiman pada tahun 1967 untuk perairan di kabupaten Banjar dan Barito Kuala. Perairan yang dikeruk dan dibersihkan adalah perairan Cintapuri, Alalak Padang, Galam Rabah, dan Jajangkit.51

Pada dasarnya pencemaran besar terhadap perairan daratan di Kalimantan Selatan akibat yang saling berkaitan

51 Ibid., hlm. 180.

dari penyebab-penyebab pencemaran itu. Limbah domestic, limbah usaha, gulma air, hampangan, gosong-gosong, dan pendangkalan merupakan penyebab-penyebab pencemaran besar yang satu sama lain saling berkaitan.

Hampangan, gosong-gosong, dan pendangkalan, di samping masalah kabut dan kemarau panjang, merupakan masalah-masalah yang selalu dihadapi oleh transportasi perairan daratan di Kalimantan Selatan. Kesemuanya merupakan masalah yang dapat menimbulkan ketidaklancaran, kemacetan, dan kecelakaan lalu lintas di perairan daratan. Ketiga hal yang pertama di atas pada dasarnya ditimbulkan oleh manusia, sebaliknya membawa akibat bagi manusia itu sendiri, dalam hal ini oleh dan bagi masyarakat Kalimantan Selatan.

B. Peran Hutan Bagi Kebutuhan Bahan Utama Bangunan

Dalam dokumen 1950-1970an D (Halaman 42-48)