• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

K. Dampak Pengembangan Pariwisata

Yoeti (2008 : 20) mengatakan bahwa industri pariwisata akam memberikan berbagai dampak :

1. Dampak Positif

a. Dapat menciptakan kesempatan berusaha. Dengan datangnya wisatawan, perlu layanan untuk menyediakan kebutuhan (need), keinginan (want),

commit to user

26 dan harapan (expectation) wisatawan yang terdiri dari berbagai kebangsaan dan tingkah lakunya.

b. Dapat meningkatkan kesempatan kerja (employment).

c. Dapat meningkatkan pendapatan sekaligus mempercepat pemerataan pendapatan masyarakat, sebagai akibat multiplier effect yang terjadi dari pengeluaran wisatawan yang relatif cukup besar itu.

d. Dapat meningkatkan penerimaan pajak pemerintah dan retribusi daerah. Seperti yang kita ketahui, tiap wisatawan berbelanja selalu dikenai pajak sebesar 10 persen sesuai Peraturan Pemerintah yang berlaku. e. Dapat meningkatkan pendapatan nasional atau Gross Domestic Bruto. f. Dapat meningkatkan investasi dari sektor industri pariwisata dan sektor

ekonomi lainnya.

g. Dapat memperkuat neraca pembayaran.

2. Dampak negatif

a. Harga tanah menjadi mahal, pantai-pantai dikaveling sehingga sering terjadi spekulasi harga yang pada akhirnya meningkatkan harga disekitarnya.

b. Di pusat-pusat konsentrasi pariwisata harga-harga bahan makanan semakin mahal sehingga dapat meningkatkan inflasi.

c. Sumber-sumber hayati menjadi rusak, sehingga menurunkan daya tarik wisata.

commit to user

27 e. Ramainya lalu lintas wisatawan, ternyata ditumpangi oleh penyeludupan

obat bius dan narkotika. 3. Dampak Sosial Budaya

a. Sering terjadi komersialiasi seni-budaya.

b. Terjadi pemalsuan benda-benda budaya, seperti lukisan atau keramik. c. Terjadi demonstration effect, kepribadian anak-anak muda rusak. d. Demi dollar wisatawan, upacara adat dijual kepada wisatawan. 4. Dampak Lingkungan Hidup

a. Pembuangan sampah sembarangan selain menyebabkan bau tidak sedap, rusaknya keindahan, juga membuat tanaman di sekitarnya mati.

b. Pembuangan limbah restoran, hotel, dan rumah sait yang merusak air sungai, danau, atau laut.

c. Kerusakan terumbu karang. d. Perambahan hutan.

Akibatnya, banyak hewan-hewan langka tidak bisa hidup di habitatnya, sehingga daya tariknya akan hilang.

e. Perusakan sumber-sumber hayati yang tidak terkendali, merusak hutan, merusak tanaman, dan lain-lain.

Melihat berbagai macam dampak yang ditimbulkan, maka pengembangan pariwisata memerlukan perencanaan yang matang. Khususnya untuk dampak lingkungan, maka konsep ramah lingkungan sangat penting dipraktikan untuk pengembangan industri pariwisata ke depannya.

commit to user

28 L.Perencanaan Strategis

1. Definisi Perencanaan Strategis

Manajemen strategis dapat didefinisikan sebagai seni dan pengetahuan dalam merumuskan, mengimplementasikan, serta mengevaluasi keputusan – keputusan lintas – fungsional yang membuat sebuah organisasi mencapai tujuannya (David, 2009 : 4). Istilah manajemen strategis sering disebut juga dengan perencanaan strategis.

Manajemen strategis awalnya muncul pada tahun 1950-an dan menjadi sangat populer pada pertengahan 1960-an dan pertengahan 1970-an. Saat itu, manajemen strategis selalu diterapkan oleh berbagai perusahaan di dunia. Kemudian pada tahun 1980-an, popularitas manajemen strategis mulai meredup dan mulai ditinggalkan karena dianggap sebagai model perencanaan yang tidak menghasilkan keuntungan. Lalu pada tahun 1990-an, manajemen strategis mulai bangkit dan diterapkan di dunia bisnis hingga saat ini.

Tujuan utama perencanaan strategis adalah agar organisasi dapat melihat secara obyektif kondisi-kondisi internal dan eksternal, sehingga dapat mengantisipasi perubahan lingkungan eksternal. Perusahaan sangat perlu untuk melakukan manajemen strategis karena manajemen strategis merupakan suatu pendekatan yang objektif, logis, dan sistematis untuk membuat keputusan – keputusan besar dalam organisasi. Oleh karena itu, manajemen strategis sangat membantu tugas seorang pengambil keputusan di dalam suatu perusahaan.

commit to user

29 Proses manajemen strategis didasarkan pada keyakinan bahwa setiap organisasi harus terus memantau berbagai informasi internal dan eksternal, sehingga perusahaan mampu bertahan dengan melakukan berbagai perubahan. Manajemen strategis membantu organisasi untuk beradaptasi secara efektif terhadap perubahan jangka panjang (David, 2009 : 10).

Sebelum suatu perencanaan strategis dikembangkan, manajemen puncak perlu menganalisis hubungan antara fungsi – fungsi manajemen perusahaan dengan mempelajari struktur perusahaan (corporate’s structure), budaya perusahaan (corporate’s culture), dan sumber daya perusahaan (corporate’s resource).

2. Tahap – tahap Manajemen Strategis

Rangkuti (1997) mengungkapkan tahapan proses penyusunan perencanaan strategis, yaitu :

a. Tahap pengumpulan data.

Pada tahap ini dilakukan kegiatan pengumpulan data, pengklasifikasikan dan pra – analisis. Kegiatan pra – analisis dapat dibedakan menjadi dua, yaitu data internal dan data eksternal. Data internal diperoleh dari dalam perusahaan, sedangkan data eksternal diperoleh dari luar perusahaan. Pada tahap ini terdiri dari tiga mdoel yaitu matriks faktor strategi internal, matriks faktor strategi eksternal, dan matriks profil kompetitif.

commit to user

30 b. Tahap analisis.

Pada tahap ini, dilakukan analisis terhadap data dan informasi yang telah didapat dari tahap pengumpulan data tersebut. Ada beberapa model kuantitatif perumusan strategi yaitu :

1) Matriks SWOT

2) Matriks BCG (Boston Company Group) 3) Matriks Internal – Eksternal

4) Matriks Space

5) Matriks Grand Strategy

Untuk menghasilkan suatu analisis yang akurat, maka perusahaan harus menggunakan beberapa model sekaligus. Pemilihan model kuantitatifnya dipilih berdasarkan informasi yang diperoleh pada tahap pengumpulan data.

c. Tahap pengambilan keputusan.

Manajer sebagai pengambil keputusan akan memutuskan strategi alternatif mana yang akan paling menguntungkan bagi perusahaan. Strategi yang diambil harus menentukan keunggulan kompetitif jangka panjang. Perumusan strategi harus mencangkup pengembangan visi dan misi, identifikasi peluang dan ancaman eksternal, kesadaran akan kekuatan dan kelemahan internal, dan pemilihan strategi tertentu untuk mencapai tujuan. Manajemen strategis mengolah informasi kualitatif dan kuantutatif sedemikian rupa, sehingga akan menghasilkan keputusan yang efektif dalam kondisi ketidakpastian yang melingkupinya.

commit to user

31 3. Kekuatan dan Kelemahan Internal

Manajemen strategis sangat memerlukan data dan informasi kekuatan dan kelemahan organisasi. Mengidentifikasi serta mengevaluasi kekuatan dan kelemahan organisasional dalam wilayah – wilayah fungsional suatu bisnis merupakan sebuah aktivitas manajemen strategis yang sangat penting. Organisasi harus menjalankan strategi yang mampu meningkatkan kekuatan dan mengurangi kelemahannya.

4. Peluang dan Ancaman Eksternal

Peluang dan ancaman menunjuk pada berbagai tren dan kejadian ekonomi, sosial, budaya, demografis, lingkungan hidup, politik, hukum, pemerintah, teknologi, dan kompetitif yang dapat secara signifikan menguntungkan atau merugikan suatu organisasi di masa yang akan datang (David, 2009 : 17).

Perumusan berbagai strategi untuk mengambil keuntungan dari peluang eksternal dan menghindari atau meminimalkan ancaman merupakan salah satu aspek utama dari manajemen strategis. Identifikasi, pengawasan, dan evaluasi peluang dan ancaman eksternal sangat penting dalam keberhasilan manajemen strategis.

5. Konsep Strategi

Strategi merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan. Dalam perkembangannya, konsep mengenai strategi initerus berkembang. Contohnya seperti yang dikemukakan oleh Learned, Andrews, dan Guth (1965) dalam buku Freddy Rangkuti (1997 : 3) mengatakan bahwa strategi

commit to user

32 merupakan alat untuk menciptakan keunggulan bersaing. Dengan demikian salah satu fokus strategi adalah memutuskan apakah bisnis tersebut harus ada atau tidak.

Argrys (1985), Mintzberg (1979), Steiner dan Miner (1977) dalam buku Rangkuti (1997 : 4) menyebutkan bahwa strategi merupakan respon yang terus-menerus maupun adaptif terhadap peluang dan ancaman eksternal serta kekuatan dan kelemahan internal yang dapat mempengaruhi organisasi. Lain lagi dengan pendapat Andrews (1980) dan Chaffe (1985) dalam buku Rangkuti (1997 : 4), strategi adalah kekuatan motivasi untuk

stakeholders, seperti stakeholders, debtholders, manajer, karyawan, konsumen, komunitas, pemerintah, dan sebagainya, yang baik secara langsung maupun tidak langsung menerima keuntungan atau biaya yang ditimbulkan oleh semua tindakan yang dilakukan oleh perusahaan. Pemahaman tentang konsep strategi dan konsep-konsep lain yang berkaitan akan menentukan suksesnya strategi yang disusun.