METODOLOGI PENELITIAN
F. ANALISIS SWOT
5. Matriks Space ( Strategic Position and Action Evaluation ) Tabel IV.56
Matriks Space
Kekuatan Ekonomi (KE) Rating Stabilitas Lingkungan (SL) Rating 1. Penawaran obyek
wisata 2. Pangsa pasar
konsumen
3. Manfaat ekonomi pada saat event
4
4
3
1. Kerusakan lingkungan -3
Total +11 Total -3
Keunggulan Bersaing (KB) Kekuatan Daya Tarik (Kw)
1. Biaya relatif murah 2. Spesialisasi lokasi 3. Mutu obyek wisata
-4 -2 -3
1. Daya tarik obyek wisata
2. Daya tarik event
3. Dukungan aksesibilitas 4. Dukungan
kelembagaan
5. Dukungan masyarakat 6. Latar belakang sejarah
4 3 4 4 3 2 -9 +20 KE = 11/3 = 3,6 SL = -3/1 = -3 KB = -9/3 = -3 KW = 20/6 = 3,3 Analisis :
Sumbu vertikal = Kekuatan Ekonomi + Stabilitas Lingkungan = 3,6 + (-3) = 0,6 Sumbu horizontal = Kekuatan Daya Tarik Wisata + Keunggulan Bersaing = 3,3 + (-3) = 0,3
commit to user 119 Kurva : KE Konservatif 0,6 Agresif KB 0,3 KW Defensif Kompetitif SL
Gambar IV.2 Kurva Matriks Space
Berdasarkan gambar IV.2, terlihat bahwa garis vektor bernilai positif, baik untuk kekuatan ekonomi dan kekuatan daya tarik wisata. Ini menunjukkan bahwa Taman Balekambang ini memiliki kekuatan ekonomi yang cukup kuat dibandingkan kekuatan daya tariknya. Kekuatan ekonomi ini didukung oleh nilai penawaran obyek wisata dan pangsa pasar konsumennya sedangkan faktor kekuatan daya tarik wisata didukung oleh daya tarik wisata, dukungan aksesibilitas, dan dukungan kelembagaan sebagai penyumbang rating terbesar. Posisi agresif ini menunjukkan Taman Balekambang harus memanfaatkan peluang, mengatasi kelemahan, dan menghindari ancaman.
commit to user 120 6. Penentuan Strategi a. Matriks SWOT Tabel IV.57 Matriks SWOT Faktor Penentu Faktor Internal Strength Weakness Faktor Eksternal Opportunity Strategi SO : 1. Pengoptimalan perawatan hewan dan tanaman.
2. Memasang papan penunjuk jalan di akses masuk Taman Balekambang. 3. Memasang peta representatif Taman Balekambang di tempat yang strategis. 4. Meningkatkan promosi event Taman Balekambang dengan memasang one year caledar event board di tempat strategis di Taman Balekambang.
5. Mengembangkan fasilitas outbond dengan pengelola yang profesional.
Strategi WO :
1. Pengelola harus lebih gencar mencari sponsor untuk memperbaiki fasilitas dari pihak swasta, LSM, BUMN, dan lain-lain. 2. Memasang kotak saran dan
kritik agar pengelola mengetahui bagaimana keinginan pengunjung. 3. Mengadakan kerja sama
dengan tour operator untuk mempromosikan ketoprak. 4. Memperbaiki fasilitas
pendukung (lahan parkir, warung makan, shelter kursi, mck, dsb).
5. Mengembangkan daya tarik sejarah.
Threats
Strategi ST :
1. Menambah kuantitas SDM. 2. Meningkatkan kualitas SDM
dengan cara pengadaan pelatihan karyawan.
3. Meningkatkan kerja sama dengan LSM, universitas, perusahaan, dan lain-lain untuk mencegah kerusakan lingkungan.
Strategi WT :
1. Membuat event yang menarik dengan konsep yang matang. 2. Meningkatkan promosi untuk menghadapi persaingan. 3. Pengoptimalan penggunaan dana.
commit to user
121 b. Analisis Strategi Pengembangan
Konsep Taman Balekambang adalah sebagai public area atau ruang publik yang dapat difungsikan sebagai Taman Seni & Budaya, Taman Botani, Taman Edukasi dan Taman Rekreasi. Untuk mewujudkan konsep tersebut dibutuhkan strategi pengembangan yang sesuai dengan keadaan di lapangan. Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan berbagai pihak, peneliti menemukan berbagai masalah yang perlu ditangani dengan strategi yang benar.
Taman Balekambang sudah memiliki sebuah desain pengembangan yang biasanya disebut Grand Design. Menurut penuturan Bapak Widi (Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata) yaitu :
“Tentunya kita sudah memiliki Grand Design, dari Grand Design
tersebut dikembangkan setiap tahunnya. Pencapaian Grand Design
Taman Balekambang masih 30%.” (Wawancara 3 April 2012) Sedangkan menurut Bapak FX Hadi Rudyatmo (Wakil Walikota Solo) adalah :
“Taman Balekambang ini menurut saya masih 20% dari Grand Design, yang penting kita sudah bisa menyelamatkan aset penting saya rasa sudah bagus, selanjutnya adalah kita berusaha mengembangkannnya secara perlahan.” (Wawancara 5 Mei 2012) Kepala UPTD Kawasan Wisata dan Maliawan selaku pengelola menyatakan bahwa Grand Design telah mengalami perubahan dimana bangunan beton yang ada di Grand Design tidak akan dibangun seperti rencana semula dikarenakan Walikota Solo tidak menginginkan hal tersebut. Berikut pernyataan dari Ibu Endang Sri Murniyati selaku Kepala UPTD Kawasan Wisata dan Maliawan :
commit to user
122 “Ya, tetapi disertai dengan sedikit perubahan. Contohnya Grand Design yang dahulu rencananya ada galeri dan beberapa bangunan beton, tetapi ke depannya akan dihilangkan karena pembangunan bangunan akan mengurangi fungsi sebagai hutan kota. Kalaupun ada beberapa perubahan maka perubahan tersebut harus sesuai dengan konsepnya.” (Wawancara 2 April 2012)
Disini terlihat melihat bahwa ada ketidakjelasan pencapaian Grand Design. Grand Design juga telah mengalami banyak perubahan termasuk rencana integrasi lingkungan Taman Balekambang yang sebelumnya belum ada di Grand Design.
Saat ini terdengar kabar bahwa Taman Balekambang akan diperluas menjadi sebuah kawasan wisata yang terintegrasi dengan Pasar Burung Depok dan Pasar Ikan. Bapak FX. Hadi Rudyatmo mengungkapkan :
“Ya, saya kira ini merupakan suatu perjuangan. Kalau nantinya ini bisa menjadi suatu kesatuan maka Taman Balekambang menjadi sangat luar biasa. Kalau kita bandingkan dengan taman yang ada di Bali, mungkin Taman Balekambang belum ada apa-apanya karena disana memang luasnya puluhan hektar. Meskipun Taman Balekambang yang kita punya tidak begitu luas, kita berusaha untuk mengembangkannya dengan sebaik mungkin.” (Wawancara 5 Mei 2012)
Pengintegrasian wilayah ini tentu akan membutuhkan banyak dana karena akan ada pemindahan pemakaman umum. Sebaiknya Taman Balekambang mengoptimalkan dana yang ada untuk memperbaiki komponen penawaran yang ada sebelum membuat keputusan memperluas wilayah. Keputusan pengintegtrasian wilayah ini dirasa kurang tepat karena untuk pengelolaan Taman Balekambang yang hanya 9,8 Ha saja pengelola masih merasa kesulitan dalam perawatannya dan masalah
commit to user
123 fasilitas sarana prasarana pendukung pariwisatanya. Menurut Yoeti (1985 : 181), mengatakan : “Prasarana kepariwisataan adalah semua fasilitas yang memungkinkan agar sarana kepariwisataan dapat hidup dan berkembang sehingga dapat memberikan pelayanan untuk memuaskan kebutuhan wisatawan yang beraneka ragam”. Maka strategi yang dibutuhkan adalah harus memprioritaskan pembenahan sarana dan prasarana pendukung pariwisatanya.
Banyak masyarakat yang tidak mengetahui bahwa Taman Balekambang adalah peninggalan sejarah dari Mangkunegara VII. Potensi daya tarik latar belakang sejarah ini sebenarnya sangat menarik apabila dikembangkan dengan maksimal. Hal ini diungkapkan oleh Bapak Hidayatullah Al Banjari selaku Kepala BPPIS (Badan Promosi Pariwisata Indonesia Kota Surakarta) yaitu :
“Namun, yang belum dikembangkan lebih jauh adalah menghidupkan kembali cerita di balik Taman Balekambang ini (sejarahnya). Diperlukan adanya alat-alat promosi dan informasi yang bisa menceritakan sejarah dari taman ini.” (Wawancara 9 April 2012)
Pendapat tentang kurangnya pengelolaan daya tarik sejarah juga diungkapkan oleh Bapak FX. Hadi Rudyatmo yaitu :
“Di Taman Balekambang juga terdapat bangunan bersejarah yang tidak banyak diketahui orang yaitu monumen yang berada di dekat patung katak. Monumen tersebut adalah tempat mandi 2 puteri Mangkunegara VII itu, yaitu Partini dan Partinah. Lalu apabila kita coba untuk menonjolkan sisi sejarah yang ada disana dengan cara memasang papan penjelasan di monumen tersebut, saya rasa ini akan menarik pengunjung yang datang. Ya nanti sisi sejarahnya akan kita wujudkan kembali.” (Wawancara 5 Mei 2012)
Bapak Suharto (Kepala ASHITTA) juga menyatakan hal yang sama yaitu : “Saya pikir tinggal satu langkah sedikit sekali Balekambang bisa kita jadikan obyek wisata, karena yang namanya kolam itu
commit to user
124 peninggalan kerajaan Mangkunegaran. Nah, Pura Mangkunegaran itu memiliki nilai yang luar biasa, dari sisi sejarah nya kemudian seni nya, apa pun dia sangat indah sekali. Itu sementara terbengkalai dan tidak dimanfaatkan. Saya pikir Pemerintah Kota, baru berupa taman ya, belum masuk pemeliharaan kolam, bangunan dan lain-lain.” (Wawancara 10 April 2012)
Dari berbagai pendapat tersebut, dapat diidentifikasikan bahwa daya tarik sejarah Taman Balekambang sebenarnya sangat menarik. Oleh karena itu, Taman Balekambang harus dikembangkan dengan menonjolkan keasliannya dalam arti dari sisi sejarahnya, sehingga nantinya daya tarik ini bisa dijual ke wisatawan bukan hanya pengunjung. Kenyataan di lapangan memang Taman Balekambang belum dikembangkan dari sisi sejarahnya, disana juga tidak ada papan interpretasi sejarah sedangkan beberapa bangunan sejarah, patung, dan tulisan Jawa Kuno dibiarkan begitu saja tanpa ada perhatian dari pengelola. Padahal hal ini bisa menjadi daya tarik yang luar biasa bagi pengunjung atau wisatawan yang datang. Langkah awal yang bisa dimulai oleh pengelola adalah memasang papan penjelasan tentang sejarah umum di tempat yang strategis, bangunan-bangunan kuno, dan tulisan kuno. Untuk beberapa prasasti yang berisi tulisan kuno, pengelola bisa memasang papan yang berisi terjemahan ke dalam bahasa Indonesia.
Masalah keterbatasan dana dan SDM di Taman Balekambang merupakan masalah yang paling utama. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan pada pihak-pihak yang terkait, mereka memang mengakui bahwa memang ada masalah keterbatasan dana dan SDM. Taman Balekambang mempunyai anggaran pengembangan yang sudah
commit to user
125 disetujui oleh dewan, tetapi Taman Balekambang memiliki target APBD yang harus dicapai setiap tahunnya. Keterbatasan danalah yang menyebabkan pengembangan Taman Balekambang mengalami kesulitan. Hal tersebut diungkapkan oleh Ibu Endang Sri Murniyati (Kepala UPTD Kawasan Wisata dan Maliawan) yaitu :
“Kendalanya adalah kita masih belum mempunyai lahan parkir, jalan akses yang belum memiliki petunjuk arah yang jelas, dan keterbatasan SDM. Untuk masalah SDM, memang kita masih belum memiliki tenaga ahli untuk merawat tanaman.” (Wawancara 2 April 2012)
Hal senada juga diungkapkan oleh Bapak Hadi Rudyatmo selaku Wakil Walikota Solo, yaitu :
“Kemudian untuk masalah perawatan dan pemeliharaan, kita masih membutuhkan tenaga SDM yang benar-benar bisa menyapa alam. Sementara ini SDM yang ada hanya bisa membersihkan, belum bisa merawat tanaman dan hewan yang baik, karena memang mereka tidak mempunyai keahlian dalam bidang itu.” (Wawancara 5 Mei 2012)
Untuk masalah keterbatasan SDM, pengelola dapat memilih strategi meningkatkan kualitas SDM yang dimiliki ketimbang menambah kuantitas SDM. Peningkatan kualitas SDM dapat dilakukan dengan mengadakan pelatihan atau training bagi SDM Taman Balekambang. Pelatihan dapat dilakukan dengan bantuan kerja sama dari DKP (Dinas Kebersihan dan Pertamanan). Hal ini sesuai dengan yang dungkapkan oleh Bapak Suhanto selaku Kepala Bidang Pertamanan dan Penerangan Jalan DKP yaitu :
“Jadi prinsipnya begini, Dispar sudah mempunyai kewenangan sendiri sehingga jika kami tidak dimintai bantuan secara resmi yang sesuai dengan norma yang ada maka kami tidak akan membantu. Tetapi lain halnya apabila mereka meminta bantuan secara resmi kepada kami, maka kami siap melakukan
commit to user
126 pendampingan dan bantuan pelatihan terhadap pemeliharaan tanaman tersebut.” (Wawancara 10 April 2012)
Sedangkan masalah keterbatasan dana, hal ini diungkapkan oleh Bapak FX. Hadi Rudyatmo selaku Wakil Walikota Solo yaitu :
“Wah kalau membicarakan kekurangan, saya kira banyak sekali, khususnya anggaran dan perawatannya. Taman Balekambang juga ditarget APBD sehingga kalau membicarakan kekurangan akan sangat banyak sekali.” (Wawancara 5 Mei 2012)
Hal senada juga diungkapkan oleh Bapak Widi selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta yaitu :
“Ya, Taman Balekambang tentunya mengalami beberapa kendala yaitu keterbatasan anggaran (APBD) yang dilakukan secara bertahap.” (Wawancara 3 April 2012)
Salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah menambah pemasukan dana selain dari event. Kebijakan yang bisa dilakukan adalah penetapan tarif masuk Taman Balekambang. Hal itu ditunjukkan oleh pernyataan Bapak FX. Hadi Rudyatmo, yaitu :
“Kalau seandainya diberlakukan tiket masuk, saya harap tiketnya murah dan bisa terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Kalu saya pribadi inginnya Taman Balekambang tidak ada tiket masuk alias gratis. Tetapi saya sadari bahwa memang Taman Balekambang memerlukan biaya pemeliharaan dan perawatan yang tidak sedikit. Tetapi hal ini juga sudah ditangani oleh pihak UPTD disana selaku pengelola dan tercantum pada SKPD yang ada.” (Wawancara 5 Mei 2012)
Tiket masuk yang diterapkan harus sesuai dengan kondisi masyarakat, artinya harus terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Jumlah pengunjung yang datang ke Taman Balekambang sangat banyak, apalagi pada akhir pekan, hari libur, dan pada saat event. Dengan adanya tiket masuk diharapkan pengelola bisa memanfaatkan dana tersebut untuk
commit to user
127 memperbaiki komponen penawarannya dengan perlahan. Tiket masuk ini bisa menimbulkan tambahan efek pengganda (multiplier effect) kepada masyarakat. Sayangnya yang menjadi kendala adalah saat ini Pak Walikota belum menghendaki adanya pemberlakuan tiket masuk.
Pengembangan event di Taman Balekambang yang ini harus memiliki konsep acara yang menarik. Sebagian besar pengunjung anak muda, seharusnya Taman Balekambang mennyelenggarakan acara yang melibatkan anak muda. Observasi di lapangan pada saat event adalah Taman Balekambang tidak memiliki konsep acara yang jelas dan konsep biasanya monoton, hampir sama di setiap acara rutinnya. Tema acara juga tidak sesuai dengan pengunjung yang datang. Pengelola hanya semata-mata memanfaatkan event tersebut hanya untuk mencari keuntungan semata.
Promosi event juga sangat penting, oleh karena itu pengelola harus memiliki papan one year calendar event khusus di Taman Balekambang. Nantinya papan ini dapat mengakordinir berbagai informasi tentang event yang dibutuhkan oleh pengunjung. Promosi Taman Balekambang melalui teknologi juga sangat penting. Oleh karena itu, pengelola harus bisa memanfaatkan peran teknologi dengan cara memperbaharui (update) isi blog dan facebook sesering mungkin.
Pertunjukkan ketoprak di Taman Balekambang merupakan salah satu upaya pengelola untuk mewujudkan konsep Taman Balekambang sebagai Taman Seni dan Budaya. Pertunjukkan ketoprak yang hanya dilakukan setiap Sabtu malam ini sepi penonton. Beberapa kendalanya
commit to user
128 adalah upaya promosi yang masih kurang, jam pertunjukkan yang hanya dilakukan pada malam hari, dan kurang adanya ketertarikan untuk menonton ketoprak. Tetapi anehnya, pertunjukkan Sendratari Ramayana yang dilakukan setiap bulan purnama ini menyedot banyak pengunjung. Padahal, kedua pertunjukkan ini dapat dibilang hampir sama. Hal ini harus dikaji lebih lanjut mengapa Sendratari Ramayana lebih bisa mengundang penonton dibandingkan dengan Ketoprak Taman Balekambang. Apakah hal ini semata karena Sendratari Ramayana ini tidak ada tiket masuk (gratis). Maka strategi yang dilakukan adalah meningkatkan promosi ketoprak Taman Balekambang. Strategi yang dapat dilakukan adalah melakukan promosi yang lebih gencar lewat media cetak maupun elektronik dan meningkatkan promosi di sekolah-sekolah dari TK, SD, SMP maupun SMA dan memberikan diskon khusus untuk rombongan, dan mencoba mengadakan kerja sama dengan tour operator. Apabila itu masih belum maksimal dalam menghidupkan kembali ketoprak, maka strategi terakhir adalah mencoba merubah jam pertunjukkan ketoprak pada siang atau sore hari di saat Taman Balekambang ramai pengunjung. Diharapkan dengan strategi ini, daya tarik ketoprak akan semakin berkembang dan memajukan pengembangan budaya di Taman Balekambang.
Konsep Taman Balekambang sebagai taman budaya, taman rekreasi, taman edukasi, dan taman botani harus dikembangkan dengan semaksimal mungkin. Hal yang menjadi dasar dari pengelolaan Taman Balekambang adalah pengelolaan dan perawatan amenitas yang merupakan komponen yang cukup penting di dalam pariwisata. Kemudian
commit to user
129 Taman Balekambang juga harus meningkatkan produk pariwisatanya dengan perencanaan yang matang. Misalnya pengadaan suatu atraksi dan
event tertentu, pengelola seharusnya memiliki perencanaan yang jelas bagaimana konsep pengelolaan dari atraksi tersebut. Dengan konsep atraksi dan event yang jelas, diharapkan akan menarik banyak pengunjung untuk datang dan memberikan ruang publik untuk berekreasi dan berkreasi. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, pengelola harus memiliki prioritas apa saja yang harus dikembangkan sebelum melakukan hal-hal yang baru. Dengan melakukan analisis SWOT terhadap Taman Balekambang sebagai suatu produk pariwisata, peneliti mencoba memberikan strategi dan kebijakan yang harus dilakukan oleh pengelola dalam pengembangan potensi pariwisatanya. Apabila kebijakannya dilakukan oleh pengelola dan berhasil, maka diharapkan akan memberikan dampak positif bagi pengembangan potensi pariwisatanya. Semakin baik penawaran pariwisatanya maka akan meningkatkan jumlah pengunjung Taman Balekambang. Taman Balekambang harus melakukan suatu manajemen strategik untuk perkembangan ke depannya, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat disekitarnya dengan dampak ekonomi melalui timbulnya multipliereffect.
commit to user
130 G. Implikasi Kebijakan
Kebijakan adalah batasan bagi organisasi dan atau pejabatnya dalam pengambilan keputusan untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Beberapa implikasi kebijakan yang harus dilakukan oleh pengelola Taman Balekambang :
1. Dana dan SDM.
Pengelola dapat meningkatkan pemasukan selain dari penyelenggaraan
event rutin maupun biaya sewa dengan cara menetapkan biaya tiket masuk yang terjangkau bagi pengunjung dan melakukan perbaikan pada lahan parkir sehingga nantinya pemasukan biaya parkir bisa dikelola oleh pengelola. Masalah SDM adalah faktor yang sangat penting bagi keberlangsungan suatu tempat wisata, maka dari itu pengelola harus meningkatkan kualitas SDM dengan cara mengadakan pelatihan rutin bekerja sama dengan DKP. Pengelola dapat mengajukan kerja sama secara resmi dengan DKP.
2. Promosi.
Pengelola dapat meningkatkan promosi dengan cara memanfaatkan teknologi informasi misalnya dengan internet dan sering melakukan kerja sama dengan media cetak maupun elektronik. Pengelola harus memperbaharui isi akun facebook dan blog resmi Taman Balekambang secara berkelanjutan. Kedua akun tersebut harus berisi tentang berbagai macam informasi, event, atraksi, dan aktivitas dari Taman Balekambang. Pemasangan papan representatif tentang Taman Balekambang dan papan
commit to user
131 Promosi ketoprak dilakukan dengan mengadakan kerja sama dengan sekolah maupun universitas, tour operator, bahkan dengan mengganti jam pertunjukkan di siang hari.
3. Pengelolaan amenitas.
Pengelola harus memprioritaskan perencanaan perbaikan amenitas (fasilitas pendukung pariwisata). Pengelola dapat membuat sebuah rencana yang matang termasuk dana yang dibutuhkan. Dana perbaikan dapat berasal dari dana internal maupun eksternal yang didapat dari sponsor. 4. Penyelenggaraan event.
Event rutin harus memiliki sebuah konsep perencanaan yang jelas. Konsep
event harus memiliki esensi dan tujuan yang jelas dengan
mempertimbangkan profil pengunjung yang datang ke Taman Balekambang. Sebagian besar pengunjung Taman Balekambang adalah pelajar dan mahasiswa, maka seharusnya pengelola lebih banyak membuat
event yang dapat menampung kreatifitas, minat, dan bakat remaja dan dewasa.
5. Atraksi wisata.
Kebijakan untuk mengembangkan suatu atraksi wisata di Taman Balekambang dimulai dari pembuatan konsep atraksi yang menarik. Atraksi yang akan dibuat harus dikelola dengan sumber daya yang berkualitas.
6. Pengelolaan kondisi lingkungan.
Aspek lingkungan sangat penting untuk diperhatikan agar dalam pengembangannya tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Kebijakan
commit to user
132 yang harus dilakukan adalah bekerja sama dengan perusahaan swasta, BUMN, universitas, sekolah, bahkan Lembaga Sosial Masyarakat untuk mencegah kerusakan tanaman yang ada di Taman Balekambang.
7. Pengembangan daya tarik sejarah.
Taman Balekambang merupakan peninggalan sejarah masa lampau. Maka dari itu, sisi sejarah ini harus ditonjolkan kembali sebagai daya tarik wisata. Kebijakan yang perlu dilakukan pengelola adalah pembuatan papan interpretasi sejarah Taman Balekambang, papan penjelasan patung-patung dan bangunan kuno, serta papan berisi terjemahan bahasa indonesia dari tulisan Jawa kuno.
8. Pengembangan daya tarik outbond.
Pengelola dapat membuka kesempatan bagi investor yang ingin mengadakan kerja sama dalam pengadaan dan pengelolaan outbond. H. Keterbatasan Penelitian
Penelitian tentang pengembangan potensi pariwisata Taman Balekambang berbasis analisis SWOT ini telah berupaya untuk memberikan langkah pengembangan berupa strategi dan kebijakan secara optimal dengan berdasarkan data kuesioner, studi pustaka, dan wawancara. Tetapi, penelitian ini masih memiliki berbagai keterbatasan yaitu :
1. Penelitian ini belum dilengkapi dengan analisis kuantitatif contohnya seperti analisis finansial. Analisis kuantitatif ini sangat diperlukan untuk melengkapi proses penentuan strategi dan kebijakan dalam perencanaan strategis.
commit to user
133 2. Penelitian ini belum dapat mengidentifikasikan semua data dan informasi mengenai profil, pendapat, dan pengalaman semua pengunjung Taman Balekambang. Ini dikarenakan oleh data dari responden tersampling masih umum dan relatif sederhana. Oleh karena itu seharusnya dilakukan wawancara yang lebih mendalam dan intensif.
3. Adanya keterbatasan informasi yang diperoleh dari narasumber yang berkepentingan.
4. Pertanyaan kuesioner yang belum dapat memperoleh jawaban yang mendalam dari responden.
commit to user
134 BAB 5
PENUTUP
Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, maka ada beberapa kesimpulan dan saran, yaitu :
A. Kesimpulan
1. Keberadaan Taman Balekambang mendapat respon yang positif dari pengunjung. Hal ini dilihat dari data-data jawaban kuesioner yang diperoleh peneliti selama penelitian. Meskipun Taman Balekambang memiliki berbagai kendala, tetapi hal ini tidak menyurutkan keinginan masyarakat untuk mengunjungi Taman Balekambang. Taman Balekambang harus meningkatkan kualitas penawarannya untuk meningkatkan jumlah pengunjung.
2. Taman Balekambang dinilai urgent karena posisinya yang berada di kuadran I (pertumbuhan) pada Matriks Internal-Eksternal.
B. Saran
1. Pengelolaan dan perawatan yang dilakukan oleh UPTD Kawasan Wisata dan Maliawan harus dilakukan semaksimal mungkin untuk menunjang kebutuhan pengunjung yang datang. Pihak UPTD disarankan untuk merekrut SDM yang berkompeten dan selalu mengadakan sebuah pelatihan untuk meningkatkan kualitas SDM yang diperlukan dalam pengelolaan Taman Balekambang. Pelatihan SDM bisa dilakukan dengan bekerja sama dengan DKP.
commit to user
135 2. Taman Balekambang disarankan dapat membuat suatu acara atau event
yang dapat mendukung apresiasi, minat, dan kreativitas bagi anak muda karena mayoritas pengunjung berasal dari kalangan pelajar/mahasiswa. Kegiatan yang bisa dilakukan adalah lomba fotografi, festival band, lomba melukis Taman Balekambang, dan kegiatan kreatif lainnya.
3. Pengelola Taman Balekambang disarankan memiliki suatu perencanaan pengembangan yang jelas karena rencana pengembangan yang ada sering mengalami perubahan. Penetapan rencana pengembangan yang jelas akan