• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Dampak Penggunaan Eritrosin dan Rhodamin B

Hiperaktivitas dikenal juga sebagai Attention Deficit Disorder

(ADD) atau Attention Deficit Hyperactivitity Disorder (ADHD)

(Thompson, 2002). Kondisi ini disebut sebagai gangguan hiperkinetik.

Dahulu kondisi ini sering disebut Minimal Brain Dysfunction

Syndrome (Fadhli, 2010). Tingkah laku individu-individu yang mengalami gangguan hiperaktivitas tidak dapat dikontrol (Semiun, 2006).

Istilah hiperaktif atau ADD biasanya digunakan untuk menggambarkan anak yang masih muda, yang dianggap sangat aktif, terlalu menuruti kata hati, kurang dapat berkonsentrasi atau anak yang sulit diatur. Namun sebagian besar anak kecil umumnya mempunyai tingkat aktivitas tinggi dan sulit diatur, tanpa harus menjadi hiperaktif. Hal itu seringkali menyulitkan orang tua bahkan tenaga kesehatan dalam mengidentifikasi. Derajat hiperaktif pada anak berbeda-beda. Beberapa anak mungkin menderita hiperaktif sedang sementara anak lain menderita hiperaktif tingkat tinggi (Thompson, 2002).

Seorang anak untuk dapat disebut memiliki gangguan hiperaktif harus ada tiga gejala utama yang nampak dalan perilakunya yaitu inatensi, hiperaktif dan impulsif. Inatensi adalah pemusatan perhatian yang kurang baik atau kegagalan seorang anak dalam memberikan perhatian secara utuh (Fadhli, 2010). Impulsif adalah kecenderungan bertindak tiba-tiba tanpa berpikir disebabkan ketidakmampuannya mengendalikan dorongan (Gichara, 2008).

Berbagai tipe hiperkinetik atau ADHD adalah tipe sulit berkonsentrasi, tipe hiperaktif-impulsif dan tipe kombinasi. Anak-anak dengan ADHD biasanya menampakkan perilaku yang dapat dikelompokkan dalam 2 kategori utama yaitu kurangnya kemampuan memusatkan perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas (Fadhli, 2010).

Ada beberapa teori tentang penyebab seorang anak menjadi hiperaktif akan tetapi belum ditemukan satupun penyebab pastinya. Salah satunya adalah pangan, zat penambah pangan seperti pewarna (Thompson, 2002). Semiun (2006) juga menegaskan bahan-bahan tambahan pangan seperti pewarna dapat menjadi penyebab hiperaktif pada anak. Hal tersebut diperkuat dengan penelitian Feingold pada 1975 dan 1976, sekitar 50% dari anak-anak yang hiperaktif dapat berfungsi lagi secara normal ketika diberikan pangan yang tidak mengandung bahan tambahan. Tetapi dalam penelitian-penelitian yang telah dikontrol, anak-anak yang hiperaktif diberikan pangan yang mengandung bahan-bahan tambahan atau placebo ditemukan bahwa

kasus-kasus hiperaktivitas yang disebabkan oleh bahan-bahan tambahan itu hanya sekitar 5%. Dari penelitian itu jelas bahwa akibat dari bahan-bahan tambahan pangan tidak begitu kuat seperti yang dipikirkan (walaupun begitu tidak bisa diabaikan pengaruhnya dalam menimbulkan gangguan hiperaktivitas). Pangan tertentu belum terbukti bisa menyebabkan hiperaktif namun sebaiknya menghentikan pemberian pangan dan minuman olahan yang mengandung pewarna atau pengawet (Thompson, 2002).

2.4.2 Kanker

Kanker merupakan penyakit yang berawal dari kerusakan gen, materi genetika atau DNA sel. Satu sel saja mengalami kerusakan genetika sudah cukup untuk menghasilkan sel kanker atau neoplasma. Sel yang gennya rusak itu dapat menjadi liar dan berkembang biak atau tumbuh terus tanpa henti dari satu sel menjadi beribu-ribu bahkan jutaan sel sehingga membentuk jaringan baru. Akhirnya terbentuklah jaringan tumor atau kanker (Mardiah dkk, 2006).

Gen dalam sel ada yang disebut gen kanker (oncogen) dan gen penekan tumor (tumor suppressor gen). Bila salah satu atau kedua gen ini mengalami perubahan atau kerusakan maka kedua gen ini dapat menjadi salah kaprah lalu menjadi sal kanker atau tumor dan mulai melakukan pertumbuhan sel dengan tidak terkendali. Sebenarnya, dalam sel ada juga gen yang bertugas memperbaiki gen yang rusak, gen ini disebut gen pembentul (repair gen) namun bila gen ini juga

rusak maka tidak ada lagi yang dapat memperbaiki (Mardiah dkk, 2006).

Penyakit kanker ada yang jinak dan ganas, kanker jinak disebut dengan tumor. Sebenarnya tidak semua gen sel yang rusak langsung menjadi kanker karena mungkin saja menjadi tumor namun kapan dan mengapa sel yang rusak itu memilih menjadi tumor saja atau langsung menjadi kanker atau menjadi tumor dulu lalu berubah menjadi kanker belum diketahui secara pasti. Dari banyak laporan hasil penelitian ilmiah diketahui bahwa semakin parah kerusakan gen dalam sel maka semakin besar pula kemunginan menjadi kanker (Mardiah dkk, 2006).

Pemicu kanker dapat beragam, salah satunya dari pangan yang kita konsumsi. Senyawa pemicu kanker yang terdapat dalam bahan pangan dapat berupa bahan tambahan pangan yang sering digunakan dalam proses olahan industri pangan. Apabila senyawa pemicu kanker yang terdapat dalam bahan pangan dikonsumsi sehari-hari, dikhawatirkan sedikit demi sedikit terakumulasi dalam tubuh sehingga dosis sekecil apapun dalam waktu cukup lama akan berbahaya bagi kesehatan (Mardiah dkk, 2006).

Hasil penelitian Zakaria dkk pada tahun 1996 terhadap pangan jajanan tercemar food additives atau bahan tambahan pangan (seperti salah satunya pewarna) yang dikonsumsi remaja menunjukan bahwa pangan jajanan tersebut merupakan penyebab terbentuknya radikal bebas dalam tubuh. Bahan pewarna amaranth yang memberikan warna

merah dan tartrazin yang memeberikan warna kuning pada produk pangan juga mengindikasikan karsinogenik (Mardiah dkk, 2006).

2.5 Pangan Jajanan Anak Sekolah

2.5.1 Pengertian Pangan Jajanan Anak Sekolah

Menurut Pasal 1 Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 942 Tahun 2003 tentang pedoman persyaratan higiene sanitasi makanan jajanan, makanan jajanan atau pangan jajanan adalah makanan dan minuman yang diolah oleh pengrajin pangan di tempat penjualan dan atau disajikan sebagai pangan siap santap untuk dijual bagi umum selain yang disajikan jasa boga, rumah makan/restoran dan hotel.

2.5.2 Jenis Pangan Jajanan Anak Sekolah

Berikut adalah jenis-jenis pangan jajanan anak sekolah menurut Kementerian Kesehatan RI (2011):

1. Pangan Sepinggan

Pangan sepinggan merupakan kelompok pangan utama, yang dapat disiapkan di rumah terlebih dahulu atau disiapkan di tempat penjualan. Contoh pangan sepinggan seperti gado-gado, nasi uduk, siomay, bakso, mi ayam, lontong sayur dan lain-lain.

2. Pangan camilan

Pangan camilan adalah pangan yang dikonsumsi diantara dua waktu makan. Pangan camilan terdiri dari:

a. Pangan camilan basah, seperti pisang goreng, lemper, lumpia, risoles, dan lain-lain. Pangan camilan ini dapat disiapkan di rumah terlebih dahulu atau disiapkan di tempat penjualan. b. Pangan camilan kering, seperti produk ekstrusi (brondong),

keripik, biskuit, kue kering, dan lain-lain. Pangan camilan ini umumnya diproduksi oleh industri pangan baik industri besar, industri kecil dan industri rumah tangga.

3. Minuman

Kelompok minuman yang biasanya dijual meliputi:

a. Air minum, baik dalam kemasan maupun yang disiapkan

sendiri

b. Minuman ringan, dalam kemasan misalnya teh, minuman sari buah, minuman berkarbonasi dan lain-lain; disiapkan sendiri oleh kantin, misalnya es sirup dan teh; serta minuman campur seperti es buah, es cendol, es doger dan lain-lain.

Dokumen terkait