BAB VI PEMBAHASAN
6.1 Keterbatasan Penelitian
6.3.6 Pengaruh Sesama Pedagang
Pengaruh teman adalah kemampuan memengaruhi perilaku individu di antara anggota kelompok berdasarkan norma-norma kelompok, kesadaran kelompok atas apa yang merupakan hal atau cara
benar untuk melakukan hal-hal serta kebutuhan untuk dinilai dan diterima oleh kelompok (Pearce dan Robinson, 2008). Berdasarkan hasil analisis univariat pada tabel 5.7 dari 30 responden diketahui bahwa 80% dari pedagang pangan jajanan di sekitar SDN Sekelurahan Pondok Benda menyatakan tidak saling berdiskusi mengenai bahan-bahan yang digunakan dalam membuat pangan jajanan. Umumnya pedagang pangan jajanan hanya berdiskusi mengenai hal sehari-hari namun tidak berdiskusi tentang bahan apa yang digunakan dalam pangan jajanan yang dijualnya. Pujiasuti (2002) menyatakan sebesar 38,6% produsen mendapatkan informasi mengenai bahan tambahan pangan untuk produk jualannya dari penjual bahan tambahan dan 27,3% lainnya dari teman serta sisanya dari orang tua dan saudara.
Hasil analisis bivariat dengan pengujian Chi-square mengenai hubungan pengaruh sesama pedagang pangan jajanan dengan penggunaan Eritrosin dan Rhodamin B pada tabel 5.15 diperoleh
pValue = 0,287 yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pengaruh sesama pedagang dengan penggunaan Eritrosin dan Rhodamin B.
Kurangnya pengetahuan pedagang pangan jajanan membuat mereka tidak bisa membuat keputusan baik oleh karena itu ada baiknya pemerintah meningkatkan edukasi tentang gizi dan keamanan pangan berupa Training of Trainer (TOT) kepada penyedia PJAS (pengelola kantin, penjaja PJAS, IRTP produsen PJAS), pembinaan Cara Produksi
Pangan yang Baik (CPPB) dan praktek penggunaan BTP (BPOM RI & 30 Balai Besar/Balai POM, 2009).
6.3.7 Pembinaan dan Pengawasan Petugas Kesehatan
Petugas kesehatan adalah orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan untuk melakukan upaya kesehatan seperti kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan (Pasal 1 UU No. 36 Tahun 2014). Berdasarkan hasil analisis univariat pada tabel 5.8 dari 30 responden diketahui bahwa 53,3% dari pedagang pangan jajanan di sekitar SDN Sekelurahan Pondok Benda menyatakan pernah terdapat pembinaan dan pengawasan dari petugas kesehatan terkait keamanan pangan jajanan anak sekolah. Mujianto dkk (2005) menyatakan 64% pedagang pangan jajanan di Kecamatan Pondok Gede tidak pernah mendapatkan pembinaan dan 83% pedagang pangan tidak pernah mendapatkan pengawasan. Damayanthi dkk (2013) juga menyatakan hampir dari seluruh penjaja PJAS tidak pernah mengikuti pelatihan atau training terkait gizi maupun keamanan pangan. Kemudian Wariyah dan Dewi (2013), 80% pedagang PJAS belum pernah mengikuti penyuluhan tentang pengolahan pangan yang baik.
Hasil analisis bivariat dengan pengujian Chi-square mengenai hubungan pembinaan dan pengawasan petugas kesehatan dengan penggunaan Eritrosin dan Rhodamin B pada tabel 5.16 diperoleh
signifikan antara pembinaan dan pengawasan petugas kesehatan dengan penggunaan Eritrosin dan Rhodamin B.
Mujianto dkk (2005) menyatakan pedagang yang tidak diberikan pembinaan mempunyai kecenderungan menggunakan bahan tambahan terlarang 2 kali lebih besar jika dibandingkan dengan pedagang yang telah menerima pembinaan dan pedagang yang tidak diberikan pengawasan mempunyai kecenderungan menggunakan bahan tambahan terlarang 1,58 kali lebih besar jika dibandingkan dengan pedagang yang telah diberikan pengawasan. Hal tersebut menunjukan pedagang yang tidak mendapat pembinaan dan pengawasan menjadi faktor resiko penggunaan bahan tambahan terlarang.
Pemerintah adalah pihak yang secara resmi mempunyai kewenangan untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pangan. Kewenangan ini berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 942 Tahun 2003 tentang Persyaratan Higiene Sanitasi Pangan Jajanan pada pasal 15 tertulis pembinaan dan pengawasan pangan jajanan dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pada pasal 17 tertulis dalam melaksanakan pembinaan dan pengawasan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengikut sertakan instansi terkait, pihak pengusaha, organisasi, profesi, asosiasi, paguyuban dan atau lembaga swadaya masyarakat (Mujianto dkk, 2005).
Kurang terkontrolnya pembinaan dan pengawasan oleh pemerintah mungkin terjadi karena terlalu banyak industri rumah tangga maka menyebabkan kurang terjangkau oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk melakukan pembinaan keseluruh industri rumah tangga. Untuk melakukan inspeksi mendadak dipasar-pasar khususnya pada pangan jajanan juga terlalu berat, menginggat berbagai macam jenis pangan yang dijajakan dari berbagai industri rumah tangga meskipun Direktorat Survailens Penyuluhan Keamanan Pangan (SPKP) telah rnelakukan usaha membentuk jaringan di 400 kabupaten kota seluruh Indonesia dalam rangka pembinaan industri skala rumah tangga (Aminah dan Hidayah, 2012).
Adapun dalam penelitian ini juga diketahui bahwa sebesar 79% pedagang pangan jajanan menyatakan bersedia ikut serta dalam acara penyuluhan dan kursus mengenai keamanan pangan jajanan apabila kelak diadakan oleh pemerintah dan LSM, dengan persyaratan tidak mengambil waktu berdagang mereka dan lokasi yang terjangkau. Pada dasarnya para pedagang pangan jajanan mempunyai keinginan untuk melakukan praktek pengolahan pangan yang baik hanya saja mereka tidak memiliki sumber daya yang sesuai untuk melaksanakan keinginannya.
Pembinaan dan pengawasan dapat dilakukan dengan
menyediakan Peralatan Uji Cepat (Rapid Test Kit) yang dapat digunakan semua pihak untuk mengetahui kandungan bahan kimia
berbahaya pada pangan, melaksanakan pengawasan BTP dan bahan kimia berbahaya yang disalahgunakan sebagai BTP, pembinaan penyedia PJAS tentang Cara Produksi Pangan yang Baik (CPPB) serta praktek penggunaan BTP (BPOM RI & 30 Balai Besar/Balai POM, 2009).
6.3.8 Pembinaan dan Pengawasan Sekolah
Pembinaan dan pengawasan pihak sekolah terhadap pangan jajanan yang dijual di sekitar dapat membantu menjaga siswa terhindar dari bahaya pangan yang tidak aman. Berdasarkan hasil analisis univariat pada tabel 5.9 dari 30 responden diketahui bahwa 80% dari pedagang pangan jajanan di sekitar SDN Sekelurahan Pondok Benda menyatakan tidak pernah ada pembinaan dan pengawasan dari pihak sekolah terhadap pangan jajanan yang dijual. Namun pada di antara mereka yang menyatakan pernah ada pengawasan dari sekolah sedangkan pedagang lainnya di lokasi yang sama menyatakan tidak pernah ada pengawasan dari pihak sekolah, perbedaan tersebut dapat dimungkin karena tidak meratanya pengawasan yang dilakukan oleh pihak sekolah.
Hasil analisis bivariat dengan pengujian Chi-square mengenai hubungan pembinaan dan pengawasan sekolah dengan penggunaan Eritrosin dan Rhodamin B pada tabel 5.17 diperoleh pValue = 0,645 yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara
pembinaan dan pengawasan sekolah dengan penggunaan Eritrosin dan Rhodamin B.
Selain itu 70% pedagang pangan jajanan juga menyatakan bahwa pihak sekolah tidak pernah melakukan pendataan terhadap meraka yang berjualan di lingkungan sekitar sekolah padahal jika pihak sekolah melakukan pendataan dapat lebih memudahkan dalam pengawasan dan pembinaan pedagang pangan jajanan sehingga pencegahan kejadian kesakitan akibat pangan jajanan yang tidak aman dapat terlaksana.
Pembinaan dan pengawasan memiliki peranan yang cukup penting dalam mengendalikan peredaran pangan jajanan yang tidak aman sehingga diharapkan pihak sekolah dapat menetapkan kebijakan dan peraturan mengenai keamanan PJAS di lingkungan sekolah, menyediakan sarana dan prasarana pendukung keamanan pangan di sekolah yang memadai, melakukan pengawasan terhadap penyediaan PJAS baik di kantin sekolah maupun di luar sekolah dengan memperhatikan jenis pangan yang dijual serta kebersihan tempat penyedia PJAS dan penjaja PJAS serta menyediakan alat Uji Cepat (Rapid Test Kit) untuk pengujian sederhana (BPOM RI & 30 Balai Besar/Balai POM, 2009).
122