• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III: PAPARAN DATA DAN HASIL TEMUAN

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

C. Dampak Perceraian Orang Tua Terhadap Pendidikan Agama Anak

 



Artinya: Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Nasihat atau cerita sangat tinggi nilainya dalam proses mendidik anak (Nawawi, 1993: 221).

C.Dampak Perceraian Orang Tua Terhadap Pendidikan Agama Anak

Setelah orang tua bercerai pasti perhatian orang tua berubah, yang awalnya mereka bekerja sama membangun rumah tangga mulai dari merawat anak mencari nafkah mereka bagi berdua. Sekarang setelah terjadinya perceraian jadi berubah derastis. Mereka menjadi orang tua single parent(orang tua tunggal). Dengan keadaan orang tua seperti itu, maka berdampak kepada anak-anknya. Diantaranya:

1. Anak menjadi tidak menurut dengan orang tuanya

Orang tua adalah figur yang pertama bagi anak-anaknya. Namun ketika anak sudah pernah melihat pertengkaran orang tua pasti anak akan berfikir bahwa orang tua tidak berhasil menjadi panutan/ teladan bagi anak-anaknya. Sebagaimana yang dituturkan oleh Ibu DY sebagai berikut.

70

“Enggih bu, LS dari awal niku ken sholat niku angile pol. Geh kulo geh tak akoni pancen kulo ki dereng nglampahi, tapi geh mulai niki kulo ajeng milai nglampahi. ( Iya bu, LS dari awal disuruh unuk melaksanakan sholat itu sangat susah bu. Iya memang saya akui kalau saya juga tidak pernah sholat, namun mulai sekarang saya akan mulai sholat).”(DY, 6-3-2017).

Sesuai dengan pendapat Arifin dalam Ahid (2010: 123) mengatakan bahwa perbuatan anak merupakan cerminan dari orang tuanya atau berpangkal dari perbuatan orang tuanya sendiri.

2. Sering berkata keras atau kasar

Semua anak pasti menginginkan orang tuanya utuh dan kehidupan keluarganya harmonis dan bahagia. Namun anak hanya bisa meminta dan

berdo’a karena yang menentukan keutuhan adalah yang mempunyai konflik

yaitu orang uanya. Setelah terjadinya perceraian anak merasa tidak senang, marah, bahkan dia merasa sakit hati karena apa yang dia inginkan tidak terjadi. Lagi pula dia merasa iri dengan teman-temannya yang mempunyai keluarga utuh. Maka dari itu anak sering sensitiv (ora kenanan). Seperti yang dituturkan Ibu LS sebagai berikut.

“DD niku bu, galak e pol niku. Kalih adik e mawon geh galak. Omongane niku banter bu. (DD itu galak nya bukan main. Sama adiknya saja galak juga. Berbicaranya juga keras).”(LL, 1-3-2017). 3. Anak merasa tidak nyaman di rumah

Setelah orang tua bercerai orang tua yang mengasuh menjadi orang tua tunggal. Misal ketika Bapak/ Ibu yang masih bekerja anak di rumah sendiri pasti tidak nyaman. Karena tidak ada teman. Ada pula yang misal tinggal dengan kakek neneknya juga sama dia merasa keluarga itu tidak ada

71

rasa kenyamanan. Pokoknya enak di luar, mencari teman yang bisa diajak curhat dan itu seumuran. Sebagaimana yang dituturkan oleh Ibu LS.

“Mboten nate crios kalih mbahe nopo kalih kulo bu, malah piyambakke remen curhat kalih tonggone. (tidak pernah cerita sama nenek kakeknya atau pun saya bu, malah sukanya curhat dengan tetangganya).”(LS, 1-3-2017)

Sesuai pendapat Dagun (2013: 115) menyatakan bahwa kelompok anak yang pada saat orang tuanya bercerai itu belum memasuki usia sekolah umumnya anak menjadi tidak akrab dengan orang tuanya, anak sering dibayangi rasa cemas, selalu ingin mencari ketenangan.

4. Anak tidak mau lagi melaksanakan kebiasaan yang dilakukan sebelum perceraian

Biasanya semangat anak tumbuh ketika melakukan apapun ada

reward kalau tidak pasti ada yang memotivasi, memperhatikan, mengawasi

membimbing. Namun ketika orang tua sudah bercerai pasti pengawasan berkurang, motivasi berkurang, perhatian pun berkurang. Maka dari itu yang awalnya anak aktif dalam mengaji di TPA menjadi jarang untuk mengaji atau bahkan sampai berhenti dan tidak mengaji lagi. Awalnya aktif sholat lima waktu menjadi bolong-bolong atau bahkan tidak melaksanakan sholat dan lain-lain.

“Iya bu, aku disana itu setiap hari harus sholat lima waktu. Kalau tidak nanti kalau aku mau minta sesuatu tidak dikasih sama papa. Terus disana itu bu setiap sore TPA kalau malam pas papa tidak tugas pasti papa ngajari aku sama abang ngaji bu, dan sebelum ngaji sama papa harus wudhu dulu. Kalau abang waktu itu sudah sampai al Qur’an tapi kalau aku masih sampai iqro’.”(CT, 2-3-2017).

72

Sesuai dengan yang dikemukakan Djamarah (2004: 25) bahwa kebiasaan yang orang tua tampilkan dalam bersikap dan berperilaku tidak lepas dari perhatiannya.

73 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian di Kelurahan Lodoyong Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang tahun 2017 maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut.

1. Penyebab terjadinya perceraian ketiga keluarga di Kelurahan Lodoyong Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang pada tahun 2017 yaitu suami melakukan kekerasan atau penganiayaan berat yang membahayakan terhadap istri,suami mendapat hukuman penjara, selingkuh, berganti pasangan dan zina.

2. Pendidikan Agama Anak dalam Keluarga Sebelum Terjadinya Perceraian orang tua, anak dididik dengan keteladanan, anak dididik dengan kebiasaan dan anak dididik dengan nasehat-nasehat agar anak giat untuk melaksanakan sholat, mau mengaji, sopan dengan orang lain, melakukan ibadah-ibadah sunnah dan sabar dalam ujian.

3. Dampak Perceraian orang tua terhadap pendidikan agama anak dalam ketiga keluarga di Kelurahan Lodoyong Kabupaten Semarang adalah anak malas mengaji, malas melakukan sholat, kesopanan kepada orang lain berkurang dengan orang tua berani membantah dan malas dalam melakukan ibadah-ibadah wajib lainnya.

74 B. Saran

1. Bagi orang tua: Sebisa mungkin menjaga hubungan suami istri agar tetap harmonis dan jauh dari konflik agar sehingga tidak terjadi perceraian. Karena kasus perceraian orang tua sangat berdampak terhadap fisik, psikis dan perilaku anak.

2. Bagi tokoh masyarakat: Harus memperhatikan kondisi dan keadaan masyarakat agar dapat mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat.

75