B. Unit Usaha Syariah (UUS)
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
3. Produk Jasa lainnya
4.7. Pengaruh Dana Pihak Ketiga, Pembiayaan, Financing To Deposit Ratio Terhadap Laba
4.7.7 Hasil Dampak Perubahan Secara Parsial
Peubah (Zi) Koefisien (γi) Simpangan Baku S(γi) t-hitung t(γi) t-tabel Keterangan Z1 0,29197 0,0623 4,68331 3,182 Signifikan Z2 0,26772 0,0572 4,68331 3,182 Signifikan Z3 0,27985 0,0598 4,68331 3,182 Signifikan
Hasil perhitungan t hitung (Lampiran 3) ditunjukkan pada Tabel 12. Hasil t hitung pada Tabel 12 untuk variabel Z1, Z2, dan Z3 adalah masing 4,68331. Hasil uji menunjukkan bahwa t hitung > t tabel, yaitu 4,68331 > 3,182. Dengan demikian secara parsial variabel Z1, Z2, dan Z3 berpengaruh secara signifikan terhadap laba Bank X KCP. Variabel Z1, Z2, dan Z3 merupakan hasil dari pembakuan variabel X1, X2, dan X3. Hal ini berarti DPK (X1), pembiayaan (X2), dan FDR (X3) masing-masing secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap laba Bank X KCP.
4.7.7 Hasil Dampak Perubahan Secara Parsial
Hasil uji validasi terhadap model menunjukkan bahwa
model tersebut telah memenuhi asumsi normalitas, multikolinearitas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas. Dimana residual dari model tersebut menyebar saling bebas mengikuti sebaran normal, memiliki ragam homogen atau tidak terdapat masalah heteroskedastisitas, serta tidak terdapat masalah autokorelasi dan multikolinearitas.
Kebaikan model juga didukung oleh nilai standar deviasi residual, R-Square dan R-Square adj yang cukup baik. Nilai
R-Square 79,5 persen dapat dijelaskan oleh keragaman variabel
independen (Gambar 18) menunjukkan bahwa 79,5 persen keragaman dari variabel dependen (laba), sedangkan sisanya 20,5 persen dijelaskan oleh variabel lain diluar model yang tidak
64
dijelaskan dalam penelitian ini. Nilai konstanta menunjukkan nilai rata-rata dari Y pada saat peubah bebas tidak bekerja atau nol. Pada penelitian ini, Y = -21,9215, yaitu jika yang lain tidak bekerja, maka akan terjadi penurunan laba sebesar Rp 2.192.150, hal ini disebabkan bank harus membayar biaya operasional.
Tabel 13. Dampak DPK, pembiayaan dan FDR terhadap laba Bank X KCP periode 2007-2009
Perubahan Sektoral Koefisien Regresi
Konstanta - 21,9215
DPK 0,535 Pembiayaan 1,25287
FDR - 0,780
a) Dampak DPK
Berdasarkan Tabel 13, terdapat pengaruh positif antara peningkatan DPK terhadap laba Bank X KCP yang ditunjukkan oleh koefisien regresi 0,535. Hal ini menunjukkan bahwa bila jumlah DPK bertambah Rp 1.000.000,- dan DPK tersebut disalurkan dengan baik kepada masyarakat. Maka laba Bank X KCP akan bertambah Rp 535.000. Hal ini berarti DPK memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap laba. Dimana peningkatan DPK akan berdampak pada peningkatan laba Bank X KCP. Kondisi tersebut dikarenakan bank memiliki dana untuk disalurkan kepada masyarakat dalam bentuk pembiayaan, yang pada akhirnya bank akan mendapatkan nisbah dari penyaluran dana yang sumber dananya berasal dari DPK.
b) Dampak Pembiayaan
Pembiayaan memberikan pengaruh positif paling besar diantara ketiga variabel independen lain terhadap laba, sehingga semakin besar pembiayaan yang disalurkan, maka laba akan semakin besar. Pembiayaan berpengaruh
sebesar 1,25287 terhadap laba. Hal ini berarti bahwa jika pembiayaan bertambah Rp 1.000.000, maka laba Bank X KCP akan bertambah Rp 1.252.870 (cateris paribus). Pengaruh yang besar, positif dan signifikan dari pembiayaan tarhadap laba dikarenakan bank akan mendapatkan nisbah dari pembiayaan bagi hasil serta margin dari pembiayaan jual beli. Akan tetapi pengaruh yang positif dan besar serta segnifikan ini juga memiliki risiko yang cukup besar. Oleh karena itu Bank X KCP perlu menerapkan menajemen risiko yang baik dalam menyalurkan pembiayaan.
c) Dampak Financing to Deposit Ratio
Koefisien regresi Financing to Deposit Ratio yang bernilai – 0,780 menunjukkan adanya pengaruh negatif perkembangan Financing to Deposit Ratio terhadap laba Bank X KCP. Koefisien tersebut dapat diartikan bahwa bila nilai FDR meningkat 1persen, maka laba Bank X KCP akan berkurang 0,780persen (cateris paribus).
Penurunan laba tersebut dikarenakan, Bank X KCP
tidak mempunyai cukup dana untuk membiayai penyaluran dananya, sehingga Bank X KCP harus meminjam dana yang berasal dari aktiva antar kantor, yang mengakibatkan Bank X KCP harus membayar nisbah hasil penyaluran pembiayaannya dengan kantor yang menyediakan sumber dana tersebut, dalam hal ini kantor cabang Bank X . Dengan demikian, penggunaan dana yang berasal dari aktiva antar kantor memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap laba. Kondisi ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Data historis pembiayaan Bank X KCP periode 2007-2009 menunjukkan bahwa pembiayaan yang disalurkan melebihi dari DPK yang berhasil dihimpun oleh Bank X KCP, sehingga hal ini berimplikasi terhadap
66
meningkatnya penggunaan dana yang berasal dari aktiva antar kantor.
2. Sumber dana yang berasal dari aktiva antar kantor mengakibatkan Bank X KCP harus menyisihkan laba yang diperoleh untuk membayar beban nisbah aktiva antar kantor. Beban nisbah dari penggunaan aktiva antar kantor memberikan pengaruh negatif terhadap laba Bank X KCP. Pengaruh yang signifikan juga disebabkan oleh penggunaan aktiva antar kantor yang cukup besar sebagai implikasi belum mampunya Bank X KCP meningkatkan sumber pendanaan yang berasal dari produk penghimpun DPK.
4.8. Implikasi Manajerial
Implikasi manajerial yang dapat mempengaruhi peningkatan laba Bank X KCP dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembiayaan memberikan pengaruh positif terbesar terhadap laba, oleh karena itu Bank X KCP perlu terus melakukan ekspansi pembiayaan, akan tetapi dalam melakukan ekspansi pembiayaan Bank X KCP juga perlu memperhatikan nilai FDR agar berada di kondisi aman menurut Bank Indonesia. Ekspansi pembiayaan akan berjalan dengan baik apabila proses penghimpunan dananya pun berjalan dengan baik, oleh karena itu sebaiknya bank terus melakukan penghimpunan dana pihak ketiga supaya proses pembiayaan ini dapat berjalan dengan lancar dan nilai FDR berada dibatas aman menurut peraturan Bank Indonesia.
2. Bank juga perlu menjalankan fungsi intermediasi dengan baik, artinya dana yang disalurkan mampu menggerakkan sektor riil, terutama sektor UMKM. Penyaluran pembiayaan ini perlu menerapkan manajemen risiko yang baik dan berpegang pada
prinsip kehati-hatian agar tidak terjadi pembiayaan macet dikemudian hari.
3. Terus melakukan controling kepada nasabah pembiayaan untuk menghindari pembiayaan macet.
4. Persaingan diantara perbankan syariah yang semakin kompetitif juga, mengharuskan Bank X KCP untuk menyusun strategi pemasaran yang efektif dalam memasarkan DPK dan produk pembiayaan.
5. Terus memantau perkembangan informasi terkini mengenai
dunia perbankan, kondisi sosial dan ekonomi, serta regulasi bank sentral.