Uji Heteroskedastisitas
III. METODOLOGI PENELITIAN
4.1. Gambaran Umum Perusahaan 1 Profil Bank X
4.1.2 Profil Bank X KCP a. Sejarah Pendirian
Bank X KCP merupakan salah satu kantor cabang pembantu PT. Bank X yang terletak di kota Bogor. Bank X KCP didirikan pada tahun 2004 dan diresmikan oleh Direksi yang diwakili oleh Bapak T. M. Pimpinan Bank X KCP pertama adalah Bapak G.D, periode jabatan beliau tahun 2004 – tahun 2009. Sedangkan Bank X KCP saat ini dipimpin oleh Bapak I.B. Jumlah pegawai Bank X KCP awalnya 5 orang dan sekarang berjumlah 11 orang. Penambahan jumlah pegawai ini sejalan dengan semakin meningkatnya usaha Bank X KCP.
39
b. Struktur Organisasi Bank X KCP
Struktur organisasi yang terdapat pada Bank X KCP dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7. Struktur organisasi Bank X KCP
4.2. Produk dan Jasa Bank X KCP
Produk-Produk yang terdapat di Bank X KCP terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Produk Penghimpunan Dana
a. Tabungan X, adalah simpanan dalam mata uang rupiah yang
penarikan dan setorannya dapat dilakukan setiap saat selama jam kas dibuka di kounter Bank X atau melalui ATM.
b. Tabungan berencana adalah simpanan berjangka yang memberikan nisbah bagi hasil berjenjang serta kepastian pencapaian target dana yang telah ditetapkan.
c. Tabungan Simpatik adalah simpanan dalam mata uang rupiah
berdasarkan prinsip wadiah yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat berdasarkan syarat-syarat tertentu yang telah disepakati.
Kepala KCP
Account Officer Officer Gadai Operational Officer
Back Office Teller Customer Service
d. Tabungan Haji adalah simpanan dalam mata uang rupiah yang bertujuan membantu masyarakat muslim dalam merencanakan ibadah haji dan umrah, tabungan ini dikelola berdasarkan prinsip
Mudharbah Muthlaqah.
e. Tabungan Kurban adalah simpanan dalam mata uang rupiah yang
bertujuan membantu nasabah dalam perencanaan dan pelaksanaan ibadah kurban dan aqiqah.
f. Tabungan Investasi adalah tabungan berjangka dalam valuta rupiah dengan jumlah setoran tetap yang dilengkapi dengan perlindungan asuransi.
g. Deposito X, adalah produk investasi berjangka waktu tertentu dalam mata uang rupiah yang dikelola berdasrkan prinsip Mudharbah Muthlaqah.
h. Giro X, adalah sarana penyimpanan dana yang disediakan bagi
nasabah dengan pengelolaan berdasarkan prinsip wadiah
yaddhamanah. Dan lain-lain.
2. Produk Penyaluran Dana
a. Pembiayaan PKPA (Pembiayaan kepada Koperasi Karyawan untuk
Para Anggotanya), yaitu fasilitas penyaluran pembiayaan kepada anggota koperasi karyawan.
b. Pembiayaan Pendidikan, yaitu pembiayaan kepada calon pelajar
dalam mendapatkan dana pendidikan yang dibutuhkan.
c. Pembiayaan MMOB (Mudharabah Muqayyadah On Balance Sheet),
yaitu fasilitas pembiayaan dengan alokasi sumber daya yang terikat (spesifik) dari pemilik dana (Shahibul maal).
d. Pembiayaan pemilikan Rumah, yaitu fasilitas pembiayaan pemilikan rumah tinggal.
e. Pembiayaan Peralatan Kedokteran, yaitu pembiayaan untuk pembelian barang modal atau peralatan penunjang kerja di bidang kedokteran.
3. Produk Jasa lainnya.
Selain produk penghimpunan dan penyaluran dana di atas, Bank X juga memiliki produk jasa lain yang digunakan untuk meningkatkan
41
pelayanan terhadap nasabah. Beberapa produk jasa tersebut yaitu Mobile
Banking GPRS, Electronic Payroll, Save Deposit Box, serta PPBA
(Pembayaran melalui menu pemindahbukuan di ATM).
4.3. Penghimpunan Dana Bank X KCP
Proses penghimpunan dana merupakan salah satu aktivitas operasional utama yang dilakukan oleh bank. Bank X KCP yang merupakan salah satu kantor cabang pembantu PT. Bank X terus menghimpun dana dari masyarakat supaya kebutuhan untuk memberikan pembiayaan dapat berjalan dengan baik. Berikut diagram perkembangan DPK yang berhasil dihimpun Bank X KCP dari tahun 2007 sampai tahun 2009 per empat bulan.
Gambar 8. Grafik perkembangan DPK Bank X KCP periode 2007-2009.(Bank X KCP, data diolah).
Diagram di atas menunjukkan bahwa DPK yang berhasil dihimpun oleh Bank X KCP terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Krisis global yang terjadi di Indonesia pada tahun 2008 ternyata tidak berpengaruh negatif terhadap penghimpunan dana pada Bank X KCP, hal tersebut dikarenakan kepercayaan nasabah terhadap Bank X KCP cukup tinggi. Tingginya kepercayaan tersebut dikarenakan nasabah memiliki persepsi bahwa bank syariah memiliki kelebihan dibandingkan bank konvensional dalam menghadapi krisis, seperti krisis yang telah terjadi pada tahun 1998, dimana pada waktu itu mayoritas bank mengalami kerugian sedangkan bank syariah adalah satu-satunya bank yang mendapat
keuntungan. Pada periode April 2008 sampai Agustus 2008 terjadi pertumbuhan paling besar yaitu 78persen, hal tersebut dikarenakan ada seorang nasabah yang menginvestasikan dananya sebesar 10 miliyar pada Bank X KCP.
Penghimpunan dana pada Bank X KCP dapat dilihat pada DPK yang terdiri dari tabungan, deposito, dan giro. Gambar 7 memperlihatkan DPK yang berhasil dihimpun oleh Bank X KCP selama 3 tahun terakhir. Komposisi DPK menunjukkan bahwa deposito memberikan kontribusi terbesar yaitu sebesar 52 persen. Sedangkan kontribusi paling kecil diberikan oleh giro yang sebesar 5 persen, tabungan memberikan kontribusi yang tidak berbeda jauh dengan deposito yaitu sebesar 43 persen.
Deposito memberikan kontribusi DPK terbesar yaitu 52 persen, hal tesebut dikarenakan nisbah deposito yang diberikan untuk nasabah cukup besar yaitu sebesar 51-55 persen dari uang yang didepositokan per total DPK Bank X . Nisbah yang relatif besar tersebut tentu mampu bersaing dengan bunga deposito yang terdapat pada bank konvensional, sehingga mengakibatkan para nasabah lebih tertarik untuk menyimpan uangnya pada produk deposito walaupun memiliki waktu yang lebih lama dibandingkan produk DPK lainnya. Faktor lain yang membuat nasabah tertarik untuk menginvestasikan uangnya dalam bentuk deposito di Bank X KCP yaitu, ketika deposito sudah jatuh tempo dan nasabah tidak ingin menarik depositonya tersebut, maka nasabah tidak perlu datang ke bank untuk memperpanjang investasinya, karena Bank X KCP secara otomatis akan memperpanjang waktu jatuh tempo. Selain itu Bank X KCP memiliki seorang nasabah yang sangat loyal dengan bank tersebut, dimana nasabah tersebut menginvestasikan uangnya sejumlah 10 miliyar rupiah dalam bentuk deposito. Diagram di bawah ini menunjukkan komposisi DPK Bank X KCP selama periode 2007-2009.
43 0,43 0,52 0,05 Tabungan Deposito Giro
Gambar 9. Komposisi DPK Bank X KCP periode 2007-2009. (Bank X KCP, data diolah).
Giro memberikan kontribusi terkecil yaitu sebesar 5persen, hal tersebut karena bank tidak menjanjikan nisbah ataupun margin kepada nasabah giro, akan tetapi nasabah akan mendapatkan bonus dari simpanannya tersebut, dimana pemberian bonus tergantung dari kinerja PT. Bank X . Hal inilah yang menyebabkan nasabah kurang tertarik untuk menginvestasikan dalam bentuk giro. Sedangkan tabungan memberikan kontribusi yang tidak jauh berbeda dengan deposito yaitu sebesar 43persen.
4.4. Penyaluran Dana Bank X KCP
Pembiayaan merupakan produk-produk perbankan dalam
penyaluran dana, yang berarti penyediaan dana dan atau barang serta fasilitas lainnya kepada nasabah yang tidak bertentangan dengan konsep syariah dan standar akuntansi perbankan yang berlaku. Pembiayaan tersebut bisa berbentuk jual beli, bagi hasil dan jasa-jasa lain. Dana yang didapatkan untuk pembiayaan sebagian besar berasal dari DPK. Bank harus meningkatkan prinsip kehati-hatiannya dalam menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat, karena pembiayaan yang disalurkan bank syariah tersebut secara langsung akan mempengaruhi laba perusahaan. Oleh karena itu bank harus lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaannya kepada masyarakat.
Proses penyaluran pembiayaan berbeda dengan penyaluran kredit. Ketika bank syariah akan memberikan pembiayaan kepada nasabah, maka pihak bank akan mempelajari permohonan pembiayaan yang diajukan oleh
nasabah, dan menentukan struktur pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan dana nasabah. Mayoritas struktur pembiayaan yang digunakan menggunakan prinsip bagi hasil dan jual beli.
Sumber pembiayaan pada Bank X KCP berasal dari seluruh DPK
yang berhasil dihimpun oleh Bank X KCP, dan aktiva antar kantor, yaitu sumber dana yang diperoleh dari kantor cabang Bank X. Komposisi pembiayaan pada Bank X KCP berdasarkan Gambar 10 menunjukkan bahwa selama tahun 2007 sampai dengan tahun 2009 pembiayaan dengan prinsip bagi hasil mendominasi penyaluran dana yaitu sebesar 89,07 persen, sedangkan pembiayaan dengan prinsip jual beli memberikan kontribusi sebesar 9,32 persen dan pembiayaan dengan prinsip sewa hanya sebesar 1,61 persen. Berdasarkan besarnya risiko, pembiayaan dengan prinsip bagi hasil memberikan risiko yang lebih besar dari pembiayaan dengan prinsip jual beli, karena ketika bank memberikan fasilitas pembiayaan bagi hasil, apabila usaha yang dibiayai dengan pembiayaan tersebut mengalami kerugian maka pihak bank pun akan rugi, berbeda dengan prinsip jual beli dimana bank akan mendapatkan margin yang sudah jelas nilainya ketika akad.
Gambar 10 memperlihatkan bahwa mayoritas pembiayaan yang disalurkan Bank X KCP menggunakan prinsip bagi hasil. Strategi yang digunakan Bank X KCP untuk meminimalisir terjadinya risiko pembiayaan yaitu dengan menawarkan jenis pembiayaan PKPA. PKPA, Pembiayaan kepada Koperasi Karyawan untuk Para Anggotanya, adalah fasilitas penyaluran pembiayaan kepada anggota koperasi karyawan, dimana bank bekerjasama dengan pengurus koperasi dalam menyiapkan dana untuk kebutuhan dana anggota koperasi, pembiayaan ini menggunakan skim mudharabah, sehingga bank dan pengurus koperasi akan mendapat nisbah yang telah disepakati ketika akad. Jenis pembiayaan tersebut juga lebih sering digunakan karena lebih efektif dan efisien. Keefektifan dan keefisienan dari produk PKPA tersebut terlihat dari waktu dan biaya yang digunakan oleh pihak bank lebih sedikit/berkurang ketika melakukan solisit (analisa agunan) dan
45
mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan dalam pembiayaan. Hal tersebut juga mempermudah calon debitur untuk mengajukan pembiayaan dengan nilai nominal yang tidak terlalu besar, karena salah satu persyaratan pembiayaan untuk individu adalah minimal pengajuan pembiayaan 50 juta rupiah. Berikut komposisi pembiayaan yang terdapat pada Bank X KCP. 89,07% 9,32% 1,61% Bagi Hasil Jual Beli Sewa
Gambar 10. Komposisi pembiayaan Bank X KCP periode
2007-2009.(Bank X KCP, data diolah).
Total pembiayaan yang terdapat di Bank X KCP terus mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun dengan pertumbuhan tetap yaitu 24persen pada tahun 2008 dan 2009. Pertumbuhan pembiayaan per empat bulan cenderung fluktuatif. Pembiayaan sempat mengalami penurunan pada empat bulan kedua di tahun 2008 yaitu sebesar 2 persen dari empat bulan pertama yang pertumbuhannya mencapai 13 persen, hal tersebut dikarenakan plafon pembiayaan tidak bertambah dan outstanding terus berkurang, sehingga Bank X KCP perlu waktu untuk memproses pembiayaan kembali, misalnya mengajukan penawaran pembiayaan, melakukan solisit atau melakukan analisis agunan, melakukan akad, dan lain sebagainya. Namun hal tersebut dapat segera diperbaiki oleh pihak manajemen, terbukti pembiayaan meningkat sebesar 3persen di empat bulan berikutnya dan terus meningkat di empat bulan selanjutnya.
Pembiayaan dengan prinsip bagi hasil mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, tetapi pada empat bulan ketiga di tahun 2008 mengalami penurunan dari empat bulan sebelumnya, hal tersebut dikarenakan nasabah khawatir dengan krisis yang terjadi pada bulan Oktober 2008 sehingga nasabah memperpanjang waktu pencairan dari plafon yang pernah
diajukkan ketika akad. Sedangkan untuk pembiayaan dengan prinsip jual beli, nilainya cenderung meningkat pada periode penelitian. Krisis global tidak terlalu berpengaruh pada jenis pembiayaan ini, terbukti pembiayaan pada periode April 2008 sampai dengan Desember 2008 terus meningkat. Pembiayaan dengan prinsip jual beli terbesar terjadi pada bulan Desember 2009 yaitu sebesar Rp 7.512.974.942 dan pembiayaan dengan prinsip jual beli dengan jumlah terkecil terjadi pada bulan April tahun 2008 yaitu Rp 759.501.918. Sedangkan pembiayaan sewa memperlihatkan nilai yang cenderung fluktuatif dengan nilai terbesar pada periode Desember 2009 yaitu Rp 1.617.722.583, dan pembiayaan sewa terkecil terjadi pada periode Desember 2007 yaitu sebesar Rp 153.778.163.
Tabel 7. Persentase tingkat pertumbuhan penyaluran pembiayaan per empat bulan pada periode 2007-2009
Periode Bagi Hasil Jual Beli Sewa Total Pembiayaan Tingkat
Pertumbuhan Apr-07 18.624.497.317 1.055.740.224 190.428.984 19.870.666.525 - Agust-07 23.604.999.862 1.085.426.673 153.988.014 24.844.414.549 0,25 Des-07 24.788.438.276 917.571.920 153.778.163 25.859.788.359 0,04 Jumlah 67.017.935.455 3.058.738.817 498.195.161 70.574.869.433 - Apr-08 28.082.036.895 759.501.918 425.005.419 29.266.544.232 0,13 Agust-08 27.339.554.668 767.804.130 438.245.726 28.545.604.524 (0,02) Des-08 25.768.844.232 3.584.440.193 240.478.056 29.353.284.425 0,03 Jumlah 81.190.435.795 5.111.746.241 1.103.729.202 87.165.433.182 0,24 Apr-09 26.042.157.060 3.814.339.163 222.797.918 30.079.294.141 0,02 Agust-09 30.301.401.237 5.537.144.821 874.972.364 35.838.546.058 0,19 Des-09 34.574.406.495 7.512.974.942 1.617.722.583 42.087.381.437 0,17 Jumlah 90.917.964.792 16.864.458.926 2.715.492.865 108.005.221.636 0,24
Pada tahun 2007, selama empat bulan berturut-berturut pembiayaan dengan prinsip bagi hasil, prinsip jual beli dan pembiayaan sewa pada Bank X KCP terus mengalami peningkatan, akan tetapi pada empat bulan terakhir pembiayaan dengan prinsip jual beli menurun menjadi Rp 917,5 juta dari empat bulan sebelumnya yang mencapai Rp 1,08 miliyar. Akan tetapi jika dilihat per
47
tahunnya dan secara total pembiayaan, ketiga pembiayaan tersebut terus mengalami peningkatan. persentase tingkat pertumbuhan pembiayaan serta jumlah komposisi pembiayaan pada Bank X KCP dapat dilihat pada Tabel 7. dan grafik perkembangan pembiayaan pada Bank X KCP dapat dilihat pada Gambar 11 di bawah ini. 0 5.000.000.000 10.000.000.000 15.000.000.000 20.000.000.000 25.000.000.000 30.000.000.000 35.000.000.000 40.000.000.000 45.000.000.000
Apr-07 Agust-07 Des-07 Apr-08 Agust-08 Des-08 Apr-09 Agust-09 Des-09
Gambar 11. Grafik perkembangan pembiayaan Bank X KCP Periode 2007-2009. (Bank X KCP, data diolah).
4.5. Perkembangan Financing To Deposit Ratio
Financing To Deposit Ratio merupakan salah satu rasio yang
menggambarkan sejauh mana perbankan mampu melaksanakan fungsi perantaranya diantara penabung di satu pihak dan investor di pihak lain. Berdasarkan Gambar 12, Financing to Deposit Ratio pada Bank X KCP menunjukkan nilai yang selalu berada di atas 100 persen, hal ini berarti Bank X KCP terus melakukan ekspansi pembiayaan dan Bank X KCP temasuk ke dalam bank yang agresif menyalurkan pembiayaan. Grafik perkembangan FDR pada Bank X KCP dapat dilihat pada Gambar 12 berikut 0% 50% 100% 150% 200% 250% 2007 2008 2009 Total FDR
Gambar 12. Grafik perkembangan FDR Bank X KCP periode 2007-2009.(Bank X KCP, data diolah)
FDR yang selalu berada di atas 100 persen, seperti yang tertera pada grafik di atas mengindikasikan bahwa Bank X KCP termasuk bank yang agresif dalam menyalurkan pembiayaan. Pembiayaan yang disalurkan oleh Bank X KCP berasal dari seluruh DPK yang berhasil dihimpun. Penyaluran pembiayaan ini melebihi dari DPK yang telah dihimpun. Proses penyaluran dana tersebut dapat terus berjalan karena bank mendapatkan sumber dana lain yaitu berupa aktiva antar kantor, dimana Bank X KCP bekerja sama dengan kantor cabang Bank X yang memiliki kelebihan dana, dan kelebihan dana tersebut dijadikan sebagai sumber dana untuk proses penyaluran dana pada Bank X KCP. Kerja sama
antara dua bank tersebut menggunakan skim mudharabah, Sehingga
kantor cabang Bank X yang memberikan pinjaman dana ke Bank X KCP akan mendapatkan bagi hasil sesuai dengan yang telah disepakati.
Keagresifan Bank X KCP dalam menyalurkan pembiayaan pada tiga tahun terakhir ternyata memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan nisbah dan bagi hasil yang diperoleh. Pertumbuhan nisbah dan bagi hasil pada Bank X KCP tahun 2007 sampai dengan tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar 13.
‐
5.000.000.000,00
10.000.000.000,00
15.000.000.000,00
2007 2008 2009
Gambar13. Diagram perkembangan margin dan bagi hasil
Bank X KCP Periode 2007-2009. (Bank X KCP, data diolah).
Sedangkan dalam hal penilaian kinerja bank, nilai FDR yang berada di atas 100 persen menunjukkan bahwa berdasarkan peraturan Bank Indonesia yang terdapat dalam Surat Edaran Bank Indonesia No. 26/5/BPP tanggal 29 Mei 1993, Bank X KCP termasuk ke dalam kategori negatif/tidak sehat. Oleh karena itu Bank X KCP terus mempebaiki kondisi likuiditasnya, hal tersebut terbukti dengan pertumbuhan nilai FDR
49
Bank X KCP yang menunjukkan kondisi lebih baik (cenderung mengalami penurunan) selama tiga tahun terakhir. Perbandingan pertumbuhan DPK dan pembiayaan dapat dilihat pada Gambar 14 sebagai berikut.
0% 104% 51% 0% 24% 24% 0% 20% 40% 60% 80% 100% 120% 2007 2008 2009 DPK Pembiayaan
Gambar 14. Diagram perbandingan pertumbuhan DPK dan pembiayaan Bank X KCP Periode 2007-2009.(Bank X KCP, data diolah).
Gambar 14 memperlihatkan bahwa Bank X KCP mampu memperbaiki kondisi likuiditasnya, hal tersebut dikarenakan pertumbuhan DPK pada Bank X KCP lebih besar dari pertumbuhan pembiayaannya. Pada tahun 2008 DPK tumbuh sebesar 104 persen dari tahun 2007, sedangkan pembiayaan tumbuh 24 persen. Dan pada tahun 2009 pertumbuhan DPK mengalami penurunan dari tahun sebelumnya sebesar 53 persen menjadi 51 persen, sementara itu pertumbuhan pembiayaan tetap dengan pertumbuhan sebesar 24 persen, meskipun demikian pertumbuhan DPK tetap lebih besar dari pertumbuhan pembiayaan.
4.6. Laba Bank X KCP
Laba yang diperoleh suatu perusahaan menunjukkan keberhasilan perusahaan tersebut dalam mengelola usahanya, baik dalam penghimpunan dana maupun penyaluran pembiayaannya. Laba juga dapat dijadikan tolak ukur keefektifan suatu perusahaan. Peningkatan laba dari periode ke periode berikutnya dapat dijadikan sumber informasi bagi pihak yang berkepentingan dalam rangka pengambilan keputusan.
Bank X KCP yang merupakan perusahaan profit oriented
pendapatan non operasional. Kegiatan operasional memberikan sumbangan laba lebih besar dari non operasional terutama berasal dari margin dan bagi hasil pembiayaan.
Diagram perkembangan laba bersih pada Bank X KCP per empat bulan pada tahun 2007 – 2009 ditunjukkan oleh Gambar 15. Gambar tersebut memperlihatkan bahwa laba yang terdapat pada Bank X KCP terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, pada tahun 2007 laba menunjukkan nilai Rp 1.617.607.800,89, dan meningkat 14 persen pada tahun berikutnya menjadi Rp 3.879.072.567,64. Sedangkan pada tahun 2009 hanya tumbuh sebesar 4,1persen menjadi Rp 5.480.301.280,12. Meskipun demikian secara keseluruhan kinerja Bank X KCP berada pada kineja baik, karena laba setiap tahunnya menunjukkan peningkatan.
Gambar 15. Diagram perkembangan laba Bank X KCP Periode 2007-2009. (Bank X KCP, data diolah).
4.7. Pengaruh Dana Pihak Ketiga, Pembiayaan, Financing To Deposit Ratio Terhadap Laba
Analisis dilakukan untuk melihat pengaruh Penghimpunan dana
dan penyaluran dana, serta fungsi intermediasi yang tercermin dari Dana Pihak Ketiga, Pembiayaan dan Financing To Deposit Ratio terhadap laba bersih perusahaan.
4.7.1 Analisis Regresi Berganda
Hasil pengolahan regresi berganda antara laba sebagai
variabel dependen dan DPK, pembiayaan, serta FDR sebagai variabel independen dapat dilihat pada Gambar 16 berikut.
51
Gambar 16. Hasil analisis regresi (Bank X KCP, data diolah)
Gambar 16 memperlihatkan bahwa model regresi yang terbentuk yaitu
Laba = - 25,3 - 3,48 DPK + 5,41 Pembiayaan - 4,77 FDR....(4)
Namun, model pada persamaan 4 tidak dapat digunakan, karena terjadi kendala multikolinearitas.
Multikolinearitas adalah suatu keadaan dimana antar variabel independen terdapat hubungan yang erat. Identifikasi adanya multikolinieritas dalam model dapat dilakukan dengan melihat nilai variance inflation factors (VIF). Multikolinieritas dapat diidentifikasi pada parameter yang memiliki nilai VIF ≥ 5 (Iriawan dan Astuti, dalam Rismayanti, 2009)). Nilai VIF variabel DPK, Pembiayaan dan FDR dapat dilihat pada Tabel 8 berikut.
Regression Analysis: Laba versus DPK; Pembiayaan; FDR
The regression equation is
Laba = - 25,3 - 3,48 DPK + 5,41 Pembiayaan - 4,77 FDR
Predictor Coef SE Coef T P VIF Constant -25,32 26,21 -0,97 0,378 DPK -3,477 2,537 -1,37 0,229 94,0 Pembiayaan 5,410 2,361 2,29 0,071 12,5 FDR -4,772 2,851 -1,67 0,155 51,5 S = 0,403258 R-Sq = 87,4% R-Sq(adj) = 79,9% Analysis of Variance Source DF SS MS F P Regression 3 5,6449 1,8816 11,57 0,011 Residual Error 5 0,8131 0,1626 Total 8 6,4580 Source DF Seq SS DPK 1 4,7710 Pembiayaan 1 0,4184 FDR 1 0,4556
Tabel 8. Nilai VIF dalam model regresi
Prediktor VIF
DPK 94 Pembiayaan 12,5
FDR 51,5
Sumber: Laporan keuangan Bank X KCP (data diolah)
4.7.2 Analisis Korelasi
Pada tahap ini, dihasilkan nilai korelasi antar variabel independen serta nilai korelasi antara variabel independen dan variabel dependen. Nilai korelasi antar variabel independen dapat digunakan untuk mendeteksi secara dini adanya multikolinearitas. Iriawan dan Astuti dalam Rismayanti (2009) menyatakan bahwa multikolinearitas dalam kasus dapat dideteksi apabila:
- Terdapat korelasi yang kuat antar variabel independen yang ditandai dengan nilai korelasi mendekati 1
- Tanda parameter model berlawanan dengan tanda nilai korelasi antara variabel independen dengan variabel dependen.
Tabel 9 menunjukkan nilai korelasi antar variabel pada Bank X KCP.
Tabel 9. Nilai korelasi antar variabel DPK, pembiayaan, FDR, dan laba pada Bank X KCP
Variabel Laba DPK Pembiayaan
DPK Nilai Korelasi 0,860 p-value 0,003 Pembiayaan Nilai Korelasi 0,873 0,870 p-value 0,002 0,002 FDR Nilai Korelasi -0,820 -0,970 -0,746 p-value 0,007 0,000 0,021
Sumber: Laporan keuangan Bank X KCP (data diolah)
Hasil analisis korelasi memperlihatkan bahwa variabel pembiayaan menunjukkan korelasi yang paling kuat diantara ketiga variabel independen yang lain terhadap laba dengan pengaruh
53
positif, yaitu dengan nilai korelasi sebesar 0,873. Dengan menggunakan taraf nyata 5 persen, p-value korelasi antara laba dan pembiayaan adalah 0, 002. Nilai p-value cukup signifikan untuk menolak Ho, yang berarti bahwa Laba dan pembiayaan memiliki korelasi sangat kuat (Nugroho dalam Rohaeni, 2009). Variabel laba dan DPK juga memiliki nilai korelasi yang sangat kuat, dengan nilai korelasi yang mencapai 0,860 dan nilai p-value 0,003. Sama halnya dengan kedua variabel independen tersebut, variabel FDR pun memiliki korelasi yang sangat dengan laba yaitu 0,820 dengan
p-value 0,007 tetapi dengan pengaruh negatif. Berdasarkan Tabel 6
ketiga variabel independen tersebut mempunyai korelasi sangat kuat terhadap laba.
Tabel 8 memperlihatkan bahwa korelasi antar variabel independen yang cukup erat adalah DPK dan FDR dengan nilai korelasi -0,970 dengan nilai p-value 0. Dengan menggunakan taraf nyata 5persen, p-value cukup signifikan untuk menolak Ho, yang berarti bahwa DPK dan FDR mempunyai korelasi yang erat. Korelasi yang sangat kuat juga ditunjukkan oleh variabel pembiayaan dan DPK dengan nilai korelasi 0,87. Pembiayaan dan FDR pun menunjukkan korelasi yang kuat dengan nilai korelasi 0,746 dengan pengaruh negatif. Korelasi yang cukup erat antara ketiga variabel independen di atas mengindikasikan adanya multikolinearitas.
Tabel 9 di atas menunjukkan bahwa model regresi pada persamaan 4 mengalami kendala multikolinieritas karena VIF > 5. Kendala multikolnieritas pada model dapat diatasi dengan menggunakan analisis komponen utama.
4.7.3 Analisis Komponen Utama
Analisis komponen utama (Principal Component Analysis ) digunakan untuk mengatasi kendala multikolinearitas. Dengan analisis komponen utama, persamaan yang terbentuk bebas dari masalah multikolinearitas tanpa menghilangkan peubah bebas yang
mengalami korelasi. Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam analisis komponen utama yaitu (Ulfah, 2006):
1. Membakukan variabel DPK, pembiayaan, FDR menjadi Z Hasil pembakuan dalam minitab dengan menggunakan rumus:
Z=
………(5)
Ket: Z = hasil pembakuan variabel X Xi = variabel independen ke- i
= rata-rata variabel independen ke-i Si = Standar Deviasi ke-i
i = 1,2,3,
Hasil pembakuan variabel DPK, pembiayaan dan FDR menjadi Z dapat dilihat pada Tabel 10 berikut
Tabel 10. Pembakuan peubah-peubah X
No. Z1 Z2 Z3 1 -1,55455 -1,7582 1,27731 2 -1,08847 -0,7128 1,1921 3 -0,70247 -0,52534 0,71746 4 -0,63875 0,05381 0,96567 5 0,41808 -0,06292 -0,70909 6 0,64942 0,06765 -0,9827 7 0,86516 0,18199 -0,76355 8 0,8715 1,00183 -0,78421 9 1,18008 1,75398 -0,91301 Sumber: Laporan keuangan Bank X KCP 2007-2009 (data diolah)
2. Menentukan akar ciri dan vektor ciri
Akar ciri dapat dilihat dari niai Eigenvalue pada output analisis komponen utama dengan minitab 14. Sebagian ahli menganjurkan agar memilih komponen utama yang akar cirinya lebih besar dari satu, karena jika akar cirinya lebih kecil dari satu, keragaman data yang dapat dijelaskan oleh komponen
55
Principal Component Analysis: z1; z2; z3
Eigenanalysis of the Correlation Matrix
Eigenvalue 2,7274 0,2661 0,0065 Proportion 0,909 0,089 0,002 Cumulative 0,909 0,998 1,000 Variable PC1 PC2 PC3 z1 -0,602 -0,168 -0,781 z2 -0,552 0,794 0,256 z3 0,577 0,585 -0,570
utama tersebut kecil sekali. Sedangkan vektor ciri dapat dilihat dari nilai Pci.
Berdasarkan Gambar 17, terlihat bahwa akar ciri pertama menjelaskan sekitar 90,9 persen dari keragaman total, akar ciri yang kedua menjelaskan 8, 9 persen dan akar ciri yang ketiga 0,2 persen. Hal ini berarti bahwa dari tiga komponen utama