• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Heteroskedastisitas

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini mengenai analisis pengaruh DPK, pembiayaan, dan nilai FDR bank terhadap laba. Penelitian ini hanya difokuskan pada perkembangan DPK yang terdiri dari tabungan, deposito, dan giro. Perkembangan pembiayaan, dan perkembangan nilai FDR yang diperoleh dari total pembiayaan per total DPK serta pengaruh DPK, pembiayaan dan nilai FDR tersebut terhadap laba bersih PT. Bank X KCP. Sedangkan sumber pendanaan lain yang mempengaruhi laba tidak dimasukkan dalam penelitian. Data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data per empat bulan dari tahun 2007 sampai tahun 2009 pada Bank X KCP.

2.1.Pengertian Bank

Bank umum didefinisikan oleh undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 sebagai bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Menurut Kasmir dalam Rohaeni (2009), bank diartikan sebagai lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana tersebut ke masyarakat serta memberikan jasa bank lainnya.

2.1.1 Bank Syariah

Menurut Triandaru dan Budisantoso (2006), Bank syariah adalah bank yang dalam aktivitasnya, baik penghimpunan dana maupun dalam rangka penyaluran dananya memberikan dan mengenakan imbalan atas dasar prinsip syariah yaitu jual beli dan bagi hasil. Bank Syariah merupakan lembaga intermediasi dan penyedia jasa keuangan yang bekerja berdasarkan etika dan sistem nilai islam, khususnya yang bebas dari bunga (riba), bebas dari kegiatan spekulatif yang non produktif seperti perjudian (masyir), bebas dari hal-hal yang tidak jelas dan meragukan (gharar), berprinsip keadilan, dan hanya membiayai kegiatan usaha yang halal. Bank syariah secara aktif turut berpartisipasi dalam mencapai sasaran dan tujuan dari ekonomi islam yang berorientasi pada kesejahteraan sosial (Ascarca dan Yumanita, 2005).

Landasan hukum Bank Syariah adalah Undang-Undang No.10 Tahun 1998 tentang Perubahan UU No. 7 tentang Perbankan. Bank Syariah adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah dalam kegiatannya dapat memberikan atau tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

Berdasarkan UU No. 10 Tahun 1998 Pasal 1 ayat 13, Prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan/ atau pembiayaan kegiatan

7

usaha, atau kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan syariah, antara lain:

- pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah) - pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan (musyarakah)

- prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah),

- atau pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan (ijarah)

- atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina). 2.1.2 Kelembagaan Perbankan Syariah di Indonesia

Perbankan syariah memiliki kelembagaan yang agak berbeda dengan perbankan konvensional. Menurut Ascarca dan Yumanita (2005), bank terbagi menjadi bank umum syariah, unit usaha syariah, dan BPR Syariah.

A Bank Umum Syariah (BUS)

BUS adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. BUS adalah badan usaha yang setara dengan bank umum konvensional dengan bentuk hukum Perseroan Terbatas, Perusahaan Daerah atau Koperasi.

B. Unit Usaha Syariah (UUS)

UUS adalah unit kerja di kantor pusat bank umum konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor cabang syariah dan atau unit syariah. Dalam struktur organisasi, UUS berada satu tingkat di bawah direksi bank umum konvensional yang bersangkutan. Sebagai suatu unit kerja khusus, UUS mempunyai tugas untuk

1.Mengatur dan mengawasi seluruh kegiatan kantor cabang syariah.

2.Melaksanakan fungsi treasury dalam rangka pengelolaan dan penempatan dana yang bersumber dari kantor cabang syariah.

3.Menyusun laporan keuangan konsolidasi dari seluruh kantor cabang syariah.

4.Melakukan tugas penatausahaan laporan keuangan kantor cabang syariah.

C. Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS)

BPRS adalah bank yang melaksanakan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. BPRS merupakan badan usaha yang setara dengan bank perkreditan rakyat konvensional dengan bentuk hukukm perseroan terbatas, Perusahaan Daerah atau Koperasi.

2.1.3 Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional

Menurut Antonio (2001), dalam beberapa hal bank syariah dan konvensional memiliki persamaan, terutama dalam sisi teknis seperti penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi komputer yang digunakan, syarat-syarat umum memperoleh pembiayaan. Persamaan lain yang terdapat pada bank syariah dan konvensional yaitu keduanya merupakan lembaga intermediasi, keduanya merupakan lembaga bisnis (Profit oriented) dan keduanya tunduk pada pada UU Perbankan RI dan Peraturan Bank Indonesia. Akan tetapi terdapat banyak perbedaan mendasar diantara keduanya. Perbedaan itu menyangkut aspek legal, struktur organisasi, usaha yang dibiayai dan lingkungan kerja. Secara umum perbedaan antara bank syariah dan bank konvensional yaitu pada “akad” dalam penghimpunan dan penyaluran dana, serta perhitungan yang menyertai akad tersebut. Perbedaan bank syariah dan bank konvensional dapat dilihat pada Tabel 2 berikut.

9

Tabel 2. Perbedaan bank syariah dan bank konvensional Perbedaan Bank Syariah Bank Konvensional

Penghimpunan Dana 1.Bertujuan bisnis, menggunakan akad bisnis (Mudharabah ÆPenyertaan Modal) 2.Pendapatan Bank

belum pasti, sehingga hasil kepada Nasabah

tidak dipastikan di awal dalam akad. Yang dipastikan hanyalah nisbah (Proporsi)

pendapatan Nasabah dari pendapatan bank

Î persen atas

Pendapatan (bagi hasil)

1. Bertujuan bisnis, tapi akadnya tidak jelas (Menabung,Investasi/ Titip dana)

2. Pendapatan Bank

belum pasti, tapi hasil kepada Nasabah sudah dipastikan di awal dalam akad (persen atas pokok), yang disebut “bunga”ÎPraktek Riba nasi’ah Penyaluran Dana 1. Karena bertujuan bisnis, maka menggunakan akad-akad bisnis, seperti Jual Beli, Sewa Menyewa, dan Penyertaan 2. Akad disesuaikan

dengan kebutuhan nasabah dan pola kerjasama bank-nasabah

1. Bertujuan bisnis, tapi akadnya sosial.

“Pinjaman”ÎPraktek Riba Jahiliyah

2. Tujuan penggunaan dana oleh nasabah bervariasi (produktif, konsumtif), namun akadnya hanya satu macam,yaitu pinjaman

Struktur Organisasi Pengawas

Ada lembaga yang mengawasi halal-haramnya produk yang diluncurkan, yaitu: - Dewan Pengawas Syariah (intern bank) - Dewan Syariah Nasional (negara-MUI) Halal-haram (boleh-tidaknya secara syar’i) suatu produk menjadi pertimbangan utama

Tidak ada lembaga yang mengawasi halal-haram suatu produk yang diluncurkan

Berdasarkan Ascarca dan Yumanita (2005) Perbedaan bank syariah dan bank konvensional dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3. Perbedaan bank syariah dan bank konvensional Bank Konvensional Bank Syariah Fungsi dan Kegiatan Bank Mekanisme dan Objek Usaha Intermediasi, Jasa Keuangan Intermediasi, Manager Investasi, Investor, Sosial, Jasa Keuangan Prinsip Dasar

Operasi

Tidak antiriba dan

antimaysir Antiriba dan antimaysir

Prioritas Pelayanan

- Uang sebagai komoditi - Bunga

-Uang sebagai alat tukar dan bukan komoditi -Bagi hasil, jual beli,

sewa

Orientasi Keuntungan Tujuan sosial-ekonomi Islam, keuntungan Bentuk

Kepastian

pengembalian pokok dan bunga

Lebih hati-hati karena partisipasi dalam risiko Hubungan

Nasabah

Terbatas debitor-kreditor

Erat sebagai mitra usaha

Sumber Likuiditas Jangka Pendek

Pasar Uang, bank

sentral Terbatas

Pinjaman yang diberikan

-Risiko bank tidak terkait langsung dengan debitur, risiko debitur tidak terkait langsung dengan bank -Kemungkinan terjadi

negative spread

-Dihadapi bersama antara bank dan

nasabah dengan prinsip keadilan dan kejujuran -Tidak mungkin terjadi

negative spread Struktur Organisasi Pengawas Dewan komisaris Dewan komisaris, dewan pengawas syariah, Dewan Syariah Nasional

Investasi Halal atau haram Halal Sumber: Diolah dari berbagai sumber.

Islam mengharamkan bunga dan menghalalkan bagi hasil. Keduanya memberikan keuntungan, tetapi memiliki perbedaan

11

mendasar sebagai akibat adanya perbedaan antara investasi dan pembungaan uang (lihat Tabel 4). Menurut Antonio (2001) perbedaan antara bunga dengan bagi hasil adalah sebagai berikut:

Tabel 4. Perbedaan antara bunga dan bagi hasil

Bagi Hasil Bunga

Penentuan rasio/nisbah bagi hasil ditentukan pada waktu akad dengan asumsi untung-rugi

Penentuan bunga dibuat pada waktu akad dengan asumsi selalu untung Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan

pada jumlah keuntungan yang diperoleh

Besaran bunga berdasarkan prosentase dari jumlah uang yang dipinjamkan Besaran bagi hasil berdasarkan jumlah

Keuntungan proyek yang dijalankan. Jika Usaha merugi maka akan ditanggung bersama

Besaran bunga bersifat tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah proyek yang dijalankan oleh nasabah untung atau rugi

Jumlah pembagian bagi hasil meningkat sesuai dengan tingkat keuntungan yang diperoleh

Jumlah pembayaran bunga tidak

Meningkat/tetap sekalipun jumlah keuntungan berlipat atau keadaan ekonomi sedang booming

Tidak ada yang meragukan keabsahan bagi hasil

Eksistensi bunga diragukan (jika tidak dikecam) oleh seluruh agama termasuk Islam

2.2. Sumber Dana Bank

Kegiatan usaha yang utama dari suatu bank adalah penghimpunan dan penyaluran dana. Menurut Ascarca dan Yumanita (2005), sumber dana bank syariah selain dari kegiatan penghimpunan dana, tentunya juga dari modal disetor sehingga secara keseluruhan sumber dana bank syariah dapat dibagi menjadi modal, Rekening Giro, Rekening tabungan, Rekening Investasi Umum, Rekening Investasi Khusus, dan Obligasi Syariah. Berikut penjelasan dari masing-masing sumber dana.

2.2.1 Modal

Modal merupakan dana yang diserahkan oleh para pemilik (Owner) sebagai bagian keikutsertaannya dalam usaha bank syariah. Sebagai buktinya, pemilik akan menerima sejumlah saham sesuai

dengan porsi keikutsertaannya. Setiap tahun pemegang saham akan mendapatkan bagian bagi hasil usaha dalam bentuk dividen.

2.2.2 Rekening Giro

Bank syariah menerima simpanan dari nasabah dalam bentuk rekening giro untuk keamanan dan kemudahan pemakaiannya dengan prinsip al-wadi’ah yad-dhamanah (singkatnya wadi’ah) atau titipan. Wadiah merupakan perjanjian perwalian untuk tujuan melindungi harta seseorang. Bank dapat menggunakan dana nasabah selama tidak ditarik sementara bank memberikan garansi bahwa nasabah dapat menarik dananya sewaktu-waktu dengan fasilitas yang disediakan bank, seperti cek dan/atau ATM.

2.2.3 Rekening Tabungan

Bank syariah menerima simpanan nasabah dalam bentuk rekening tabungan untuk kemudahan dan keamanan pemakaian, tetapi nasabah tidak dapat menarik dananya melalui cek.

2.2.4 Rekening Investasi Umum/Investasi Tidak Terikat

Bank syariah menerima simpanan deposito berjangka ke dalam rekening investasi umum dengan prinsip Mudharabah al-muthlaqah. Dalam Mudharabah al-muthlaqah bank sebagai mudharib mempunyai kebebasan mutlak dalam pengelolaan investasinya. 2.2.5 Rekening Investasi Khusus/Investasi Terikat

Nasabah langsung menginvestasikan dananya langsung dalam proyek yang disukainya yang dilaksanakan oleh bank dengan prinsip mudharabah al- muqoyyadah.

2.2.6 Obligasi Syariah

Penerbitan obligasi syariah dimaksudkan untuk mendapatkan alternatif sumber dana jangka panjang (lima tahun atau lebih) sehingga dapat digunakan untuk pembiayaan-pembiayaan berjangka panjang.

13

2.3. Pembiayaan Bank Syariah

Dokumen terkait