• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

HASIL PENELITIAN

A. Latar Belakang Pembentukan Kumiai

2. Dampak Sosial

Penyerahan padi yang luar biasa besarnya telah menekan ekonomi petani secara terus menerus. Pada zaman Belanda saja rakyat hanya makan 60% dari apa yang dibutuhkan, pada penjajahan Jepang ini rakyat harus lebih banyak lagi mengurangi konsumsi mereka, dan akan menderita kelaparan. Untuk mengatasi kekurangan tersebut pemerintah juga menganjurkan agar rakyat makan bubur perjuangan dan bubur asia raya. Dimana sebagaian besar menu yang dianjurkan pemerintah adalah menggunakan singkong, jagung, kedele dan palawija lainnya bukan dari padi.

Makanan pengganti yang seharusnya mudah didapat juga sulit di dapat oleh rakyat karena harga makanan pengganti ini naik cepat di pasaran bebas, karena produksi berkurang sedangkan permintaan bertambah. Keadaan di pedesaan lebih buruk dari pada di perkotaan, dan yang lebih menyedihkan penghasil makanan lebih banyak menderita kelaparan dibandingkan dengan konsumen di kota. Hal ini dikarenakan di kota-kota beras disalurkan melalui koperasi distribusi Haikyu Kumiai dengan harga yang sangat murah. Sebagai akibatnya hongoroedeem atau busung lapar menjalar di masyarakat pedesaan. Banyaknya kematian, penyakit-penyakit membuat keadaan penduduk semakin menderita. Kesejahteraan sosial sudah mulai buruknya sehingga pada tahun 1944 disemua karesidenan tingkat kematian lebih tinggi dari tingkat kelahiran, dan jumlah penduduk menurun untuk pertama kalinya dalam sejarah penduduk Jawa (Akira Nagazumi, 1988: 92-93). Merosotnya jumlah penduduk di Jawa adalah akibat keadaan penduduk yang susah dan memprihatinkan karena kekurangan pangan dan penyakit, menurut taksiran pada masa penjajahan Jepang jumlah kelahiran di Jawa merosot dari 20% sampai 18 %. Namun tingkat kematian naik dari 16% sampai 40%. Hal ini berbeda dengan pada saat penjajahan Belanda,

walaupun Belanda juga menjajah namun kesejahteraan rakyat masih diperhatikan sehingga jumlah kematian karena kekurangan pangan dan penyakit tidak terlalu parah ( Praduji Atmosudirjo, 1970:26).

Peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah Jepang semakin menakutkan dan menghina penduduk. Pada tahap inilah terjadi pemberontakan-pemberontakan petani secara besar-besaran. Pemberontakan petani ini misalnya pemberontakan petani yang terjadi di desa Kaplongan Kabupaten Indramayu. Pada tahun 1944 ketika panen baru saja dimulai. Para petani di Desa Kaplongan Indramayu diberitahu oleh pejabat desa atau Kucho bahwa petani harus menyerahkan semua padi mereka kecuali padi gedeng per rumah tangga. Satu gedeng kira-kira seberat 5 kilogram. Dengan adanya peraturan ini maka para petani tidak boleh menyimpan padi lebih dari 10 kilogram. Keadaan ini tentu saja membuat para petani merasa tertekan dan akhirnya menimbulkan perlawanan terhadap pemerintah Jepang.

Dalam keadaan apapun selalu Kucho yang bertanggung jawab paling terakhir sebagai wakil dari pemerintah sehingga Kucho tidak bisa bertindak selain sangat kejam pada penduduk. Misalnya Kucho yang melakukan penggeledahan di rumah-rumah untuk mencari beras yang disembunyikan. Para Kucho biasanya lebih bertindak otoriter dan sangat mempunyai pengaruh di dalam masyarakat sehingga kebencian penduduk biasanya terpusat pada Kucho yang semena-mena dan otoriter (Aiko Kurasawa, 1993: 448-449). Berdasarkan laporan dari polisi setempat menyatakan yang menyebabkan pemberontakan terjadi di Indramayu dalah adanya pengumuman pemerintah supaya seluruh padi termasuk yang di cadangkan untuk bibit dan konsumsi rumah tangga harus diserahkan pada pada pemerintah. Salah satu mantan Azacho (kepala rukun tetangga) di desa umerah menyatakan secara tegas yang mendorong pemberontakan tersebut adalah cara penanganan Kumiai di daerah ini, menurut sumber lain dari desa singaparna ketua koperasi bernama ketos adalah seorang komunis yang sangat membenci masyarakat Islam (Aiko Kurasawa, 1993: 466-491). Kemudian juga di Indramayu tepatnya di Bugis ken pemberontakan dimulai dengan serangan terhadap rumah-rumah pamong desa. Rumah kucho Perwata mengalami rusak ringan, sedangkan

rumah sekretaris desa Tohir dan Daspin rusak berat. Dua orang ini bekerja sebagai staf Nogyo Kumiai dan dianggap tidak berlaku adil dalam penyaluran minyak tanah dan bahan makanan lainnya (Akira Nagazumi, 1988: 101).

Selain itu masih banyak pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Indramayu dan sekitarnya serta daerah-daerah lainnya yang selama ini merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah Jepang. Pada intinya terjadi pemberontakan di berbagai daerah, akan tetapi Kumiai juga mempunyai peranan dalam pemberontakan yang terjadi di daerah tersebut.

Kumiai juga mempunyai dampak positif kususnya menambah pengalaman

staf sehingga mampu mengangkat diri sebagai pemimpin potensial di masa depan. Melalui pengalaman mereka memeperoleh keuntungan karena sebagai staf Kumiai

mereka mendapatkan pengaruh dari reputasi di masyarakat desa, sehingga dapat menjadi pemimpin di desanya. Biasanya orang yang pernah menjadi staf Kumiai

dan mempunyai reputasi yang baik di desanya maka ia akan cepat menjadi pemimpin di desanya. Selain itu mereka yang aktif dalam staf Kumiai dapat dengan mudah menanamkan pengaruh atas penduduk. Mereka juga lebih mudah mendapatkan akses kepemimpinan di desa-desa (Aiko Kurasawa, 1993: 216-219).

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian hasil penelitian dalam bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Latar belakang pembentukan organisasi Kumiai di Jawa antara lain adalah:

a) Keadaan sosial ekonomi masyarakat Jawa pada awal masa

penjajahan Jepang yang masih belum teratur karena Jepang sibuk memulihkan keamanan pasca penjajahan Belanda.

b) Kebutuhan sumber daya alam untuk mendukung perang. Jawa adalah

salah satu pulau di Indonesia yang memiliki kekayaan alam dan sumber tenaga manusia yang melimpah supaya dapat meneruskan perang melawan sekutu.

2. Kumiai atau koperasi gaya Jepang didirikan disetiap karesidenan yang ada

dengan memiliki peraturan yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Pembentukan Kumiai berdasarkan pada undang-undang yang dikeluarkan oleh Jepang yang menyadari potensi yang dimiliki koperasi untuk dapat mempengaruhi rakyat, Jepang mengeluarkan Undang-undang No.23 untuk menggantikan UU No.91 Tahun 1927 yang isinya larangan berkumpul dan melakukan persidangan-persidangan yang tidak diketahui oleh Jepang.

Kumiai didirikan di berbagai sektor yaitu perdagangan, perindustrian dan

pertanian. Struktur kepengurusan Kumiai terdiri dari penasehat, pemimpin, wakil pemimpin, kepala komisaris, komisaris dan pengurus.

3. Peran Kumiai pada masa penjajahan Jepang adalah mengontrol kegiatan perekonomian. Dalam bidang pertanian Kumiai berperan sebagai pengumpul dan pendistribusian makanan untuk mendukung kepentingan Jepang. Di desa-desa Kumiai yang bertugas mengumpulkan hasil panen adalah Nogyo Kumiai. Untuk memenuhi kebutuhan makanan di kota-kota besar maka dibentuk Haikyu Kumiai sebagai distributor makanan dari desa

dan sebagai penanggung Jawab dari Kumiai adalah kepala desa atau kepala rukun tetangga.

4. Kumiai mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Dampak

sosial Kumiai adalah kekurangan makanan sehingga munculnya busung lapar dan penyakit yang menyerang masyarakat. Dampak sosial Kumiai

lainnya adalah adanya pemberontakan-pemberontakan sporadis di berbagai wilayah di Jawa karena ketidakpuasan terhadap sistem Kumiai. Sedangkan dampak ekonomi dari Kumiai adalah pedagang pedagang yang tidak tergabung dengan Kumiai maka tidak akan mendapat pasokan. Begitu pula penentuan harga panen dari rakyat, mereka hanya menjual dengan harga rendah kepada pemerintah.

A. Implikasi

Dokumen terkait