dimana masyarakatnya hanya akan menjadi buruh perkebunan dengan upah harian. Dengan ditopang sarana infrastruktur yang sangat memadai, maka diperkirakan wilayah KISMK akan terus menjadi wilayah sumber-sumber kegiatan ekonomi sekaligus sumber mata pencaharian warga, namun dampaknya tidak akan terasa langsung oleh warga sekitarnya. Lagi-lagi hal ini lebih disebabkan proyek ini adalah proyek nasional. Alasan ini sangat tepat karena di dalam pengaturan sumber-sumber agraria di Indonesia, khususnya ekstraksi sumberdaya alam untuk perkebunan kelapa sawit skala luas, pengaturannya berada di bawah kewenangan pemerintah pusat, sehingga seluruh hasil- hasil dan keuntungan ekonominya akan diatur oleh pemerintah
pusat34.
Kembali melihat semangat praktek desentralisasi di Indonesia sejak tahun 1999, kecenderungannya adalah untuk mengembalikan kekayaan daerah agar kembali dikuasai pemerintah daerah. Walaupun semangat MP3EI ini ditujukan untuk pembangunan ekonomi secara nasional, dan banyak kepala daerah ingin memasukkan wilayah pembangunannya dalam MP3EI, tetapi tujuan akhirnya adalah untuk mempertahankan status quo penguasaan wilayahnya termasuk kekayaannya agar
tetap dikuasai oleh sekelompok kecil ruling elite di wilayahnya
(Tarigan, 2013). Karena itu, proses pembentukan RTRW Kabupaten Simalungun adalah proses pembagian keuntungan dari pembangunan industri di daerah, dengan adanya pembangunan kawasan industri di wilayah Sei Mangkei.
Hal ini ditandai dengan adanya isu pemekaran yang sudah dimulai sejak tahun 2002 dan muncul kembali setelah 10 tahun. Banyak analisa yang mengatakan bahwa hal ini sangat terkait dengan pembentukan KEK Sei Mangkei (Tarigan, 2013; Tribun Medan, 2013). KEK diindikasikan akan berkembang sangat pesat, mengingat kesiapan infrastruktur yang sudah
34 Berdasarkan Keputusan Presiden No. 10/2001 tentang Pelaksanaan Otonomi Daerah di Bidang Pertanahan
kawasan hutan menjadi kawasan non-hutan32, yang berdampak
tidak ditetapkannya dokumen RTRW provinsi Sumut. Jika hal ini dilanggar, maka akan melanggar peraturan yang lebih umum tentang pembagian kawasan Indonesia menjadi kawasan hutan dan non-hutan, walaupun status kawasan sudah ditetapkan sebagai KEK Sei Mangkei.
Pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa proses penetapan
KEK bisa berjalan?33 Hal ini dilatarbelakangi oleh alasan bahwa
keberadaan KEK Sei Mangkei akan menciptakan ketimpangan ekonomi yang luar biasa di Kabupaten Simalungun itu sendiri, karena ini adalah proyek nasional yang diletakkan di provinsi Sumatera Utara (Tarigan, 2013). Alasan-alasan ini bisa menjadi sangat politis yang bermuara kepada kepentingan ekonomi pihak-pihak pengambil keputusan di Sumatera Utara, karena upaya-upaya menghambatnya terletak dalam koridor kebijakan, khususnya pengesahan RTRW tingkat provinsi, yang mana merupakan ranah kewenangan para pengambil kebijakan. (Detik, 2013; Harian Konstruktif, 2013; JPNN, 2013; Metro Siantar, 2013; NA, 2012). Tarik menarik kepentingan terjadi karena proyek ini diproyeksikan hanya akan dinikmati oleh sebagian wilayah di Simalungun yang lokasinya dekat dengan pusat pemerintahan, sedangkan wilayah dimana lokasi KISMK itu berada sangat sedikit akan mendapat manfaat karena sejarah wilayah tersebut sudah menjadi kawasan perkebunan besar
32 Berdasarkan peraturan tentang perubahan status kawasan hutan menjadi kawasan non-hutan, khususnya kawasan industri (UU No. 41/1999). Prosedur perubahan status kawasan hutan menjadi kawasan non-hutan memerlukan keputusan Menteri Kehutanan berdasarkan rekomendasi dari pemerintah daerah. (Berdasarkan peraturan, kawasan Hutan Indonesia ditetapkan kurang lebih 70% dari seluruh daratan Indonesia. Sehingga, berdasarkan ketentuan tersebut, kawasan pengganti harus disediakan sebelum Menteri Kehutanan dapat memutuskan perubahan status sebidang kawasan hutan yang dimintakan).
33 Untuk mengkonfirmasi Jawaban atas pertanyaan ini, penulis tidak berhasil menemui pihak-pihak terkait untuk diwawancarai, karena itu uraiannya hanya mengandalkan publikasi-publikasi yang beredar dan informasi sejumlah informan di Medan, Sumatera Utara.
Walaupun wilayah yang terkena proyek PLTU bukan kantung utama pengorganisasian petani, namun keputusan-keputusan pemilihan lokasi dipengaruhi oleh kelompok gerakan rakyat ini.
Diuraikan di bagian sebelumnya bahwa alternatif lokasi yang disediakan oleh pemerintah daerah adalah di wilayah lain yang salah satunya adalah di Tanjung Celong. Wilayah ini adalah wilayah basis pengorganisasian gerakan petani walaupun secara legal merupakan kawasan perkebunan negara. Pilihan ini sejak awal dimentahkan oleh kelompok gerakan petani karena akan mengganggu wilayah pengorganisasian yang sudah dibangun
sejak lama37. Sehingga, asumsi bahwa lokasi di atas tanah negara
menjadi tidak mungkin di dalam kasus, menambahkan alasan yang dikemukakan oleh pihak perusahaan bahwa biaya yang dikeluarkan akan lebih berlipat-lipat. Penolakan dari pemimpin gerakan petani ini mudah diterima karena pemimpin kelompok gerakan ini cukup berpengaruh di dalam arena politik lokal di Kabupaten Batang.
Selain kelompok gerakan sosial, permainan proses pelaksanaan proyek PLTU Batang juga dikendalikan oleh kelompok pengusaha lokal yang memiliki relasi sangat kuat dengan politisi di lingkungan pemerintahan. Kelompok pengusaha dan penguasa ini kemudian memperumit jalannya rencana proyek ini dengan memainkan isu yang dimainkan oleh kelompok gerakan lingkungan dan perlindungan hak-hak rakyat
(LBH Semarang, Green Peace dan Go Green)38. Permainan
ini bertujuan agar kelompok pengusaha dan penguasa ini mendapatkan peran di dalam mega-proyek ini dan di dalam proyek-proyek yang akan muncul berikutnya karena kehadiran PLTU Batang. Dengan sangat teliti mereka pahami bahwa di
37 Hasil wawancara dengan pemimpin karismatik gerakan petani yang tergabung dalam Omah Tani, tanggal 31 Agustus 2013.
38 Hasil wawancara dengan salah satu wartawan lokal yang merekam proses rencana pembangunan PLTU Batang sejak pertengahan tahun 2000-an, tanggal 2 September 2013.
tertata cukup baik, dan komoditas yang diandalkan adalah komoditas dunia (Detik, 2013; KEK, 2013; Suara Pembaruan, 2013; Sumut Pos, 2013), sehingga isu ketidak-merataan seperti yang diuraikan diatas, kembali mencuat (Harian Konstruktif, 2013; NA, 2012; Tribun Medan, 2013).
Hal serupa juga terjadi dalam proses pelaksanaan proyek pembangunan PLTU Batang, yaitu banyak kepentingan yang bertarung diantara kelompok penguasa di Kabupaten Batang.
Jika disederhanakan dengan pertanyaan berikut, Mengapa
kerumitan di PLTU Batang tidak dapat diselesaikan dengan memindahkan lokasi proyek ke wilayah yang tidak ada penduduknya, sehingga biaya sosial bisa dikurangi?. Pertanyaan yang sederhana namun sulit untuk diJawab yang dipertanyakan oleh banyak orang, termasuk oleh kelompok akademisi di Kyoto dan Tokyo,
Jepang35. Pertanyaan ini tidak didapatkan Jawabannya dari pihak
pengambil keputusan, yaitu pemerintah, karena seperti yang sudah diuraikan dibagian sebelumnya, alasan pemilihannya sangat tekhnis dengan tidak mengutarakan alasan politis lainnya yang sesungguhnya berkembang di antara kelompok-kelompok yang berkepentingan di Kabupaten Batang.
Kabupaten Batang pada perkembangan sejak era Reformasi 1998 hingga sekarang merupakan salah satu kantung gerakan rakyat yang sangat potensial di Indonesia dimana terdapat kelompok gerakan petani, nelayan dan kelompok miskin kota. Khususnya gerakan petani, mereka memiliki potensi perlawanan yang cukup penting untuk menghadang proyek- proyek besar yang hadir di wilayah tersebut yang tidak berpihak
kepada peningkatan kesejahteraan rakyat di pedesaan36.
35 Pertanyaan yang muncul di dalam sesi Tanya Jawab pada seminar tentang Indonesia di Kyoto Univesity, tanggal 30 November 2013 dan di Tokyo bekerjasama dengan JANNI tanggal 2 Desember 2013.
36 Mengenai cerita perlawanan petani di Kabupaten Batang dapat dilihat dalam “Gerakan Politik Forum Paguyuban Petani Batang (FPPB)” (Safitri, 2010) dan “Menuntut Negara: Hak Asasi Manusia, Konflik dan Pendudukan Tanah” (Safitri, 2009).
2013).
Selain persetujuan usulan pemekaran wilayah tersebut, sejumlah peraturan yang menghambat juga diperbaharui untuk mendukung pembentukan KEK. Salah satunya adalah percepatan status KEK yang direncanakan tahun 2023 menjadi tahun 2012. Demikian juga peraturan-peraturan untuk penepatan ijin lokasi yang sebelumnya hanya membatasi hingga
400 ha berdasarkan peraturan pertanahan39, disesuaikan untuk
kepentingan industri khususnya di Sei Mangkei yang luasannya mencapai 2.000 ha. Walaupun jika melihat peraturan tentang
kawasan industri40, luasan ini tidak menyalahi aturan, namun
jika mengacu pada peraturan kepala BPN maka penetapannya menyalahi aturan dan diindikasikan akan menimbulkan sengketa di masa datang. Pada perkembangannya, BPN yang mengatur tentang pertanahan harus menyesuaikan perkembangan yang ada di kawasan Sei Mangkei ini.
Lain halnya yang terjadi di Kabupaten Batang, dimana pemerintah daerah mendapatkan tekanan untuk merubah sejumlah peraturan daerah yang terkait dengan lokasi rencana
pembangunan PLTU Batang sebagai upaya debottlenecking.
Seperti dikemukakan oleh aktivis Go Green, perubahan peraturan yang menyangkut wilayah konservasi laut berlangsung sangat cepat, begitu juga dengan proses dikeluarkannya AMDAL
untuk PLTU Batang ini serta pemilihan lokasinya41. Dimana
semua proses tersebut dilakukan pada saat kebijakan MP3EI sudah disahkan menjadi kebijakan pembangunan nasional.
Perubahan status zona konservasi laut yang bertepatan dengan wilayah pembangunan PLTU berlangsung dalam kurun waktu 2011-2012. Kawasan laut adalah kawasan penyangga untuk limbah yang dihasilkan oleh PLTU adalah kawasan yang
39 Berdasarkan Peraturan tentang Ijin Lokasi yang dikeluarkan oleh Kepala BPN No. 2 tahun 1999.
40 PP No. 24 Tahun 2009
41 Hasil wawancara dengan aktivis Go Green pada tanggal 3 September 2013.
sekitar wilayah pembangunan PLTU Batang ini akan dijadikan kawasan industri berdasarkan Perda No. 7 Tahun 2011 tentang RTRW Kabupaten Batang
Bekerjanya Prinsip Debottlenecking
Dari dua kasus ini dapat dilihat bahwa Kebijakan MP3EI adalah
upaya debottlenecking sejumlah hambatan yang ada di kedua
proyek ini. Proyek ini adalah proyek yang sudah direncanakan sejak sebelum MP3EI disahkan, sejak tahun 2000-an, sebagai sebuah skema pembangunan ekonomi nasional Indonesia tahun 2011. Banyak hambatan yang dihadapi sehingga kedua proyek ini tidak berjalan, dengan diletakkannya di dalam skema MP3EI, kedua proyek ini bisa berjalan bahkan terjadi proses percepatan yang luar biasa. Jargon yang dipergunakan
adalah PLTU Batang sebagai pilot project proyek kerjasama
antara pemerintah dan swasta pertama di Indonesia, dan KEK Sei Mangkei adalah proyek hilirisasi pertama di Indonesia di sektor perkebunan kelapa sawit. Keberhasilan kedua proyek ini merupakan keberhasilan daerah yang berkontribusi sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Percepatan wacana pemekaran wilayah adalah proses debottlenecking untuk menyelesaikan perdebatan siapa yang akan mendapatkan keuntungan dari pembentukan KEK Sei Mangkei. Walaupun masih terdapat perdebatan di kalangan elit- elit lokal di Simalungun (Harian Konstruktif, 2013; NA, 2012), namun prosesnya semakin lancar di era paska diresmikannya kebijakan MP3EI tahun 2011. Jika sebelumnya masih menjadi pertimbangan kesiapan wilayah Kabupaten Simalungun untuk dibagi menjadi dua Kabupaten, namun dengan proses yang sangat cepat, usulan pemekaran segera masuk di dalam pembahasan anggota parlemen di tingkat pusat untuk disahkan (Detik, 2013; JPNN, 2013), bahkan pada pertengahan tahun 2013 telah dilakukan peninjauan lapangan oleh tim peninjau dari pemerintahan tingkat pusat untuk melihat kesiapan pembentukan Kabupatan Simalungun Hataran (AntaraNews,
Batang No. 523/306/2011) dan 2012 (Keputusan Bupati Batang No. 523/194/2012). Perubahannya seperti dapat dilihat pada gambar 6.
Perubahan ini didorong oleh investor yang sudah memutuskan untuk membangun PLTU di wilayah tersebut, yang proses pemilihan lokasinya juga berlangsung sangat cepat, hanya dalam kurun waktu 3 bulan dengan tanpa proses konsultasi dengan masyarakat setempat. Pada tanggal 7 Juni 2011, PT BPI ditunjuk sebagai pemegang tender pembangunan PLTU di Kabupaten Batang, kemudian disusul dengan keputusan pemerintah Kabupaten Batang yang menyatakan persetujuan pembangunan PLTU diwilayahnya (setelah sebelumnya disediakan alternatif di
Kabupaten lain, yaitu Kabupaten Kendal42). Sebulan kemudian,
yaitu Agustus 2011, rencana proyek PLTU di Batang sudah diletakkan di dalam RTRW Kabupaten Batang yang akan berlaku hingga tahun 2031 (Perda No. 7 Tahun 2011). Lembaga Go Green yang sejak awal memperhatikan pembangunan berbasis lingkungan di Kabupaten Batang, menyatakan bahwa proses perumusan RTRW ini sama sekali tidak melibatkan masyarakat, bahkan sosialisasi pun tidak pernah dilakukan
ketika perda RTRW tersebut telah disahkan43.
Untuk melegalkan upaya-upaya meredam proses penolakan- penolakan terhadap kedatangan proyek ini, maka percepatan dikeluarkannya dokumen AMDAL juga menjadi poin
penting di dalam proses debottlenecking. Tuntutan masyarakat
setempat adalah menuntut pihak perusahaan dan pemerintah menyediakan serangkaian skenario untuk menyelesaikan masalah sosial dan ekonomi bagi masyarakat yang terkena dampak langsung maupun tidak langsung pembangunan
PLTU44. Salah satunya akan tertuang di dalam dokumen
42 Hasil wawancara dengan aktivis Go Green tanggal 3 September 2013 43 Hasil wawancara dengan aktivis Go Green tanggal 3 September 2013 44 Hasil wawancara dengan komisioner HAM yang melakukan mediasi antara masyarakat setempat dan pihak perusahaan, pemerintah Kabupaten dan
sudah ditetapkan sebagai zona konservasi laut sejak tahun 2005 (Keputusan Bupati Batang no. 523/283/2005). Hal ini menyalahi aturan dan karena itu pemerintah pusat pada tahun 2011 meminta pemerintah Kabupaten Batang mengubah status kawasan tersebut menjadi zona bebas untuk kepentingan pembangunan PLTU. Hal ini direspon dengan cepat dengan menggeser zona konservasi lautnya sehingga tidak terkena dampak pembangunan PLTU dan tidak menyalahi aturan. Perubahan dilakukan dua kali dengan Keputusan Bupati Kabupaten Batang, yaitu pada tahun 2011 (Keputusan Bupati
PLTU
Sumber: dikompilasi oleh LBH-Semarang dan dikutip dari Mongabay (Mongabay.com, 2012)
(perubahannya dimulai dari kotak no.1 menjadi kotak No.2 dan terakhir menjadi kotak No.3) Keputusan Bupati Batang
No. 253/306/2011 2
1• Kepbup Batang No. 253/283/2005 • PP 26/2008
• Perda Jateng 06/2010 • Perda Kab Batang 7/2011 Gambar 6.
Perubahan Peraturan Tentang Zona Konservasi Laut di Kawasan Rencana Pembangunan PLTU Batang
3• Keputusan Bupati Batang No. 253/194/2012 • KEPMENLUTKAN
proses pembangunan proyek besar seperti PLTU dan KEK Sei Mangkei ini.
Aktor Utama dalam Pelaksanaan Proyek
Baik di proyek PLTU Batang dan KISMK, peran politisi dan pemerintah lokal sangat penting dan memainkan proses keberhasilan jalannya proyek. Seperti halnya kebijakan MP3EI dan rencana sejumlah mega-proyeknya, kelompok-kelompok yang berkepentingan di dua proyek tersebut juga tidak melihat kedua proyek tersebut dengan kacamata pembangunan ekonomi di kedua wilayah tersebut, melainkan hanya melihat bahwa dengan kedua proyek tersebut akan terdapat sejumlah peluang-peluang bisnis lain yang akan tumbuh yang akan menjadi sumber perputaran kapital dan menjadi bagian dari perbesaran aktivitas ekonomi yang selama ini dijalankan oleh kelompok pebisnis tersebut.
PLTU Batang, indikasi bahwa terdapat pertarungan kepentingan antar politisi, khususnya mantan Bupati dan Bupati yang sedang menjabat sekarang, dimainkan oleh para pengusaha lokal dengan menggunakan kepentingan ekonominya masing- masing. Kelompok rakyat bersama-sama dengan LSM yang bergerak di bidang lingkungan menjadi bagian dari permainan kelompok-kelompok yang berkepentingan tersebut. Walaupun muatannya politis, namun yang sesungguhnya terjadi adalah pertarungan kesempatan ekonomi yang akan muncul akibat adanya proyek PLTU tersebut dan setelah PLTU beroperasi di kemudian hari. Bupati yang menjabat menyatakan bahwa pentingnya PLTU ini adalah menjadi prasyarat bagi sejumlah proposal investasi yang akan masuk di Kabupaten Batang.
Bagi pengusaha lokal, tentunya proyek besar ini adalah peluang untuk mengembangkan kegiatan bisnisnya, karena proyek ini akan memberikan jaminan pasokan tenaga listrik bagi investasi yang akan masuk di Kabupaten Batang. Kedatangan rencana proyek ini sudah memberikan banyak peluang proyek, misalnya untuk pembangunan infrastruktur jalan dari dan ke lokasi AMDAL yang hingga pertengahan bulan Agustus 2013
masih dalam proses perumusan. Membaca naskah yang sudah dihasilkan (draft tanggal 5 Juli 2013), terdapat poin-poin yang dinilai negatif sehingga proyek ini dinilai tidak layak. Sejak saat itu, berdasarkan penilaian ketidak-layakan proyek tersebut, maka prosesnya, khususnya pembangunan fisik, harus dihentikan, hingga penilaiannya menjadi layak. Berbeda dengan proses sebelumnya, proses revisi terhadap dokumen sangat cepat dilakukan, dalam kurun waktu 1 bulan, dokumen AMDAL sudah disahkan dengan penilaian yang sudah berubah sangat drastis menjadi layak (terdapat sekitar 80% poin negatif yang dinilai pada draft sebelumnya), yaitu pada tanggal 21 Agustus
201345. Percepatan ini juga terkait dengan dinamika politik di
provinsi Jawa Tengah, dimana berselang beberapa hari setelah disahkannya AMDAL yang ditandatangani oleh Gubernur Provinsi Jawa Tengah, terjadi pelantikan Gubernur yang baru terpilih, yaitu pada tanggal 23 Agustus 2013. Sehingga Gubernur yang baru diharuskan melakukan sosialisasi dengan mengedarkan dokumen tersebut kepada lembaga-lembaga dan pihak-pihak yang berkepentingan termasuk kepada masyarakat di Kabupaten Batang. Hal ini dilakukan pada tanggal 25 Agustus
201346.
Proses birokrasi, pemegang kewenangan dan kepentingan ekonomi menjadi satu keterkaitan yang sangat kuat untuk proses debottlenecking di dalam skema MP3EI. Kelompok pengusaha
dan penguasa di kedua kasus adalah motor debottlenecking
dengan kepentingan yang berbeda-beda, demikian juga dengan pemerintah pusat, sama sekali tidak ada kepentingan yang sama dengan pihak-pihak yang bermain di arena pertarungan
provinsi, tanggal 4 September 2013.
45 Diperkuat dengan hasil wawancara dengan aktivis Go Green pada tanggal 3 September 2013.
46 Berdasarkan surat edara Gubernur Jawa Tengah tentang sosialisasi dokumen AMDAL, tanggal 26 Agustus 2013.
dianggap pemain di dalam proses beroperasinya KISMK tidak banyak berhadapan dengan massa rakyat yang melakukan penolakan. Seperti sudah disebutkan diatas, di KISMK hanya terdapat kerumitan ketika mengesahkan wilayah KISMK sebagai kawasan industri. Yang bertarung adalah faksi-faksi yang terbentuk di dalam lingkungan anggota parlemen. Pertarungannya adalah pembagian manfaat lanjutan dari beroperasinya kawasan menjadi KEK di dalam wilayah Kabupaten Simalungun. Dengan kondisi ini, tidak tampak perlawanan yang mengemuka seperti halnya terjadi di kasus PLTU Batang, melainkan perang lobi antar para anggota parlemen di tingkat Kabupaten dan provinsi untuk mencapai pemerataan distribusi manfaat pengembangan KEK di KISMK.
Jalan Keluar untuk Pertarungan Kepentingan
Skala pertarungan kepentingan diantara kedua proyek ini berbada satu sama lain, jika dilihat progressnya saat ini dimana kedua proyek ini tetap berjalan dan akan terus berjalan. Pertarungan di KEK Sei Mangkei adalah pertarungan antar kelompok kepentingan di kalangan elit (pengusaha dan penguasa), sementara di PLTU Batang berhadap-hadapan antara masyarakat setempat dengan pemegang proyek PLTU dan pemerintah Kabupaten. Kasus Sei Mangkei dinilai menjadi lebih rumit untuk diselesaikan dibandingkan dengan kasus PLTU Batang, karena di PLTU Batang penyelesaiannya cukup di tataran kebijakan, sementara posisi setuju-tidak setuju masyarakat setempat kemudian harus mengikuti ketetapan yang sudah dihasilkan, apalagi proyek PLTU dinilai sebagai proyek besar untuk kepentingan publik yang juga sudah
diatur di dalam peraturan perundang-undangan47. Walaupun
di kasus Sei Mangkei juga seluruhnya diselesaikan dengan perubahan kebijakan atau pembentukan kebijakan yang baru, namun prosesnya lebih berlika-liku mengingat dalih yang
47 UU No. 2 tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum.
proyek, dan untuk memuluskan rencana proyek ini, maka pihak konsorsium perusahaan yang ditunjuk memberikan kesempatan pengerjaannya kepada beberapa pengusaha lokal tersebut. Tetapi, di sisi lain, terdapat kepentingan tersembunyi dibalik pemberian proyek tersebut, yaitu untuk menertibkan sejumlah kendala sosial akibat penolakan-penolakan yang datang dari penduduk setempat terhadap kehadiran proyek ini. Pengusaha yang mendapatkan proyek pembangunan jalan akan juga mendapatkan mandat untuk menjinakkan sejumlah oponen yang tidak menginginkan kehadiran proyek ini dan sekaligus juga agar pengusaha lokal yang ada tidak menghalang- halangi rencana proyek besar tersebut. walaupun tidak sedikit proyek yang sudah diserahkan kepada pengusaha lokal, namun penolakan masyarakat tetap berlangsung. Sehingga pihak PT BPI terpaksa menghentikan sejumlah proyek tersebut karena target utama mendistribusikan proyek kepada sejumlah pengusaha lokal tidak tercapai.
LSM dan aktivis gerakan rakyat yang ada di Batang kemudian hanya menjadi bagian yang dimainkan didalam arena perebutan ruang-ruang bisnis di dalam rencana pembangunan PLTU walaupun sesungguhnya bisa menjadi penentu di dalam keberlangsungan jalannya proyek. Hingga saat ini, LSM yang bekerja bersama warga setempat adalah mereka yang fokus pada kerja-kerja pembelaan hak rakyat yang terkait dengan masalah hukum dan isu lingkungan. Selain melakukan kampanye lingkungan yang diakibatkan oleh beroperasinya PLTU, mereka juga melakukan pembelaan sejumlah warga yang terkena kasus hukum karena mempertahankan hak atas tanahnya. Potensi perlawanan yang sangat tinggi ini tidak terlalu banyak berpengaruh terhadap keputusan untuk mempertimbangkan ulang rencana pembangunan PLTU, melainkan hanya mengulur waktu agar kondisi perlawanan semakin mereda dan sedikit demi sedikit seluruh warga yang terkena langsung berkenan menerima ganti rugi.
menjadi kawasan industri. Hal ini menunjukkan bahwa proyek KEK Sei Mangkei dapat dilaksanakan seperti yang direncanakan oleh PTPN III dan juga persoalan birokrasi yang berakar dari pertarungan kepentingan kelompok elit dan pengusaha lokal bisa diselesaikan.[]
dipergunakan adalah dalih pemerataan dampak ekonomi di Kabupaten Simalungun yang muncul di permukaan.
Pertarungan kepentingan di KISMK relatif bisa diselesaikan dengan ide pemekaran wilayah Kabupaten Simalungun menjadi dua Kabupaten, yaitu Kabupaten Simalungun dan Simalungun Hataran. Dengan pemekaran tersebut, maka distribusi manfaat akan terbagi merata karena wilayah Simalungun Bawah akan menerima langsung manfaat KEK Sei Mangkei, sementara Simalungun Atas akan terkena dampak pembangunan jalan tol yang menghubungkan Simalungun dengan bandara internasional Kualanamu. Dengan disetujuinya usulan pemekaran ini, maka pertarungan kepentingan dapat diselesaikan, serta pengesahan RTRW Kabupaten Simalungun mengubah kawasan KISMK
Sejarahnya sebagai kawasan perladangan berpindah dan kawasan pertanian subsisten
(Simalungun Atas) Menjadi Kabupaten Simalungun Baru atau
Simalungun Induk
Menjadi Kabupaten Simalungun Hataran atau
Simalungun Pemekaran
Sejarahnya sebagai kawasan perkebunan skala luas (Simalungun Bawah) Ibukota Kabupaten Simalungun Ibukota Kabupaten Simalungun Hataran KEK Sei Mangke/KISMK Gambar 7.
Rencana Pemekaran Wilayah Kabupaten Simalungun
Sumber: dikompilasi dari hasil wawancara, kajian dokumen dan kajian-kajian terkait