• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis Pembangkit Listrik

PTPN III: pemain utama di KISMK

II. Jenis Pembangkit Listrik

PLTG 2 1 2 3 8 PLTU 6 11 7 8 3 35 PLTG Bumi 2 2 PLTS 9 24 9 1 1 44 PLTP 2 21 15 10 1 49 PLTG dan PLTU 2 2 4 PLTA 4 1 2 7 PLTB 1 1 PS 4 4 8 TOTAL 17 4 64 37 1 27 8 158

Sumber: Rencana Tahunan Penyediaan Listrik 2012-2021 (PLN, 2012, hlm. 785-790)

Dengan asumsi bahwa industri yang masuk dalam implementasi kebijakan KPI-MP3EI di Jawa adalah industri yang sudah ada dan siap untuk ditingkatkan, maka proyeksi kebutuhan listrik, khususnya untuk wilayah operasional Jawa-Bali, tetap sama. Kenyataannya, beberapa proyeksi yang membutuhkan pengembangan atau pembiayaan yang lebih banyak dan telah terhambat akan dipercepat melalui dikeluarkannya kebijakan MP3EI. Berbagai keuntungan, seperti penawaran investasi untuk sektor swasta yang akan lebih mudah, baik untuk skala kecil atau di atas 1000 MW. Hingga 2011, total terdapat 33 satu pembangkit listrik skala besar, terutama untuk menyediakan

listrik bagi industri yang akan terkonsentrasi di Jawa Barat (terdapat 23 kegiatan ekonomi utama, lihat Tabel 6 di atas), serta kegiatan ekonomi lainnya di JawaTengah, Jawa Timur & Bali.

Sementara itu, PT PLN selalu menghitung kebutuhannya dengan mengamati indikator tetap setiap tahunnya untuk memperkirakan kebutuhan 10 tahun ke depan. Dalam perencanaan tahunannya, yang secara ringkas terlihat pada Tabel 8, indikator pertama yang digunakan untuk memperkirakan kebutuhan listrik adalah pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan kepadatan penduduk di Jawa dan Bali adalah 1,3% per tahun, dengan target rasio elektrifikasi, yang menjadi indikator kedua, diperkirakan akan mencapai 93% pada tahun 2021 (dari hanya 72% pada tahun 2011). Target ini akan dicapai dengan meningkatkan penjualan daya (sebagai indikator ketiga) dari hanya 132.000 GWh (tahun 2011) menjadi 259.000 GWh pada tahun 2021, atau meningkat menjadi 95%. Target penjualan akan meningkat hingga 95% dengan penggunaan listrik untuk tujuan komersial diikuti oleh penggunaan untuk perumahan, industri dan yang terakhir adalah untuk kepentingan umum. PT PLN melihat bahwa sektor komersial akan memberikan kontribusi pendapatan terbesar dari penjualan listrik pada tahun 2021.

Oleh karena itu, indikator keempat, yaitu daya terpasang (power

contracted) yang tertinggi juga diperkirakan disektor komersial, yang akan menjadi 66% (yang melebihi target peningkatan di Jawa-Bali yang targetnya hanya 63%). Tentunya, sektor ini akan mendominasi penggunaan daya listrik di Jawa-Bali sebesar 58% dari total semua penggunaan pada tahun 2012 (indikator terakhir). Indikator terakhir ini merupakan interpretasi dari faktor yang digunakan sebagai asumsi untuk kebutuhan listrik di wilayah tertentu, dengan mengamati pertumbuhan ekonomi, program kelistrikan serta perubahan daya listrik (pengalihan penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar minyak) ke konsumen PLN (PLN, 2012, hlm. 43).

tengah pulau Jawa, lokasi ini memang strategis, karena listrik yang dihasilkan akan dengan mudah didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan industri di Pulau Jawa dalam rangka pelaksanaan MP3EI, bukan untuk memenuhi kebutuhan Kabupaten Batang atau Jawa Tengah, khususnya ketersediaan

listrik untuk rumah tangga pedesaan17.

Hal-hal yang Harus di De-bottlenecking oleh Kebijakan MP3EI

Untuk memastikan terbangunnya KISMK, PTPN III sebagai inisiator mengalami sejumlah hambatan, yang hingga saat ini masih dalam proses penyelesaian. Berbagai hambatan tersebut adalah persoalan legalitas wilayah yang direncanakan akan menjadi KISMK, kerumitan peraturan dan kebijakan investasi, serta dukungan pemerintah dalam menyediakan fasilitas infrastruktur di sekitar wilayah tersebut.

Kerangka Kebijakan dan Tumpang Tindih Perundang-undangan dan Peraturan

Terdapat sejumlah persoalan yang belum selesai terkait dengan perencanaan tata ruang, terutama penyelenggaran dan pengelolaaan yang menjadi kewenangan pemerintahan di tingkat provinsi atau Kabupaten di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk pembagian kewenangan antar departemen, seperti Kementerian Kehutanan yang memiliki kewenangan untuk mengontrol hampir 70% lahan-lahan kehutanan di Indonesia.

“Kerumitan” Kebijakan Investasi

Banyak pengusaha menganggap iklim investasi di Indonesia

17 Hal ini bisa diperdebatkan merujuk pada kebutuhan listrik di Jawa, berdasarkan data statistic, di Jawa menunjukkan level yang memadai dibandingkan dengan kebutuhan di luar Jawa, karena hingga tahun 2011 Rasio Elektrifikasi di Jawa diatas 70% atau minimum 67%, dengan melihat data di tahun 2010 dan 2011 (PLN, 2012).

pembangkit listrik15, dengan kapasitas terpasang sebanyak

26.000 MW, yang disediakan oleh PT PLN dan produser listrik

swasta (Independent Power Producers/IPP) (PLN, 2012, hlm. 22)16.

Untuk rencana pada periode 2012-2021, PT PLN memproyeksikan jumlah proyek pembangunan pembangkit listrik di Jawa - Bali, baik yang akan dioperasikan oleh PT PLN atau IPP yang keseluruhannya berjumlah 158 proyek, 112 di antaranya akan dilakukan oleh IPP dan sisanya (42 proyek) akan dioperasikan oleh PT. PLN (PLN, 2012, hlm. 785-790). Proyeksi pembangunan tidak terbatas hanya untuk satu jenis pembangkit listrik, atau berfokus pada pembangkit listrik skala besar, yang terpenting adalah dapat memenuhi target proyeksi sampai dengan tahun 2021 (lihat tabel 9).

Salah satu pembangunan proyek pembangkit listrik terbesar adalah PLTU di Batang, Jawa Tengah, dengan kapasitas 2x1000MW. Kabupaten Batang, terletak di provinsi Jawa Tengah, terpilih sebagai lokasi untuk dibangunnya pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batubara. Hal ini

dianggap tidak sesuai dengan konsep regional balance.yaitu

indikator kemampuan daerah tertentu untuk menyediakan listrik di daerah tersebut, yang ditandai dengan kecukupan/

memadainya suatu persentase Reserve Margin. Dengan kata

lain, strategi pemilihan lokasi harus didasarkan pada presentase reserve margin di setiap daerah tertentu. Berdasarkan data PLN

tahun 2011, reserve margin di Jawa Barat adalah 16%, di Jawa

Tengah (provinsi di mana akan dibangun PLTU) hampir mencapai 60%, sedangkan di Jawa Timur dan Bali adalah 45% (PLN, 2012, hlm. 58). Dari data tersebut lokasi di Jawa Tengah

menjadi kurang tepat, karena memeliki persentase reverse margin

paling tinggi. Namun demikian, karena lokasi yang dipilih, yang terletak di sekitar pantai utara Jawa dan tepat berada di tengah-

15 Terdiri dari 24 Pembangkit listrik tenaga Air (PLTA), 5 Pembangkit Listrik tenaga Uap dengan bahan dasar batubara (PLTU), 3 Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), 1 Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).

16 Berdasarkan Tabel 3.7. dalam Buku Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2012-2021.

lokasi didasarkan pada kemampuan wilayah laut yang mampu menerima kapal besar untuk bersandar dan bongkar muat batubara yang menjadi bahan baku utama pembangkit listrik.

Debottlenecking di Mega-Proyek KISMK dan PLTU

Batang

Bagian ini akan memberi gambaran lebih detail tentang prinsip-

prinsip pelaksanaan debottlenecking yang dijalankan di mega-

proyek KISMK dan PLTU Batang. Pertama, akan diuraikan tentang persoalan yang muncul dan menjadi penghambat, baik ditingkat perencanaan maupun pelaksanaannya. Semua proses dan pengalaman yang terjadi dikategorikan ke dalam tiga aspek utama yang harus diselesaikan atau harus dimasukkan ke

dalam agenda pelaksanaan prinsip debottlenecking, yaitu kerangka

kebijakan, kerumitan kebijakan investasi dan penyediaan fasilitas infrastruktur.

Dalam tabel berikut (tabel 10.) akan dijelaskan tiga hal yang

menjadi aspek utama pelaksanaan prinsip debottlenecking.

Terutama, hal-hal yan terjadi di pelaksanaan mega-proyek KISMK dan PLTU Batang.

Perbedaan antara proses debottlenecking di KISMK dan PLTU

Batang adalah memotong hambatan birokrasi di pemerintah lokal dan antar departemen di tingkat pusat. Pada kasus KISMK adalah pemerintah daerah menahan ijin yang dikeluarkan oleh Menteri Kehutanan wilayah kehutanan di Sumatera Utara, yang menjadi bagian yang dimohonkan untuk mewujudkan kawasan KISMK, dan merupakan sesuatu yang tidak mungkin memasukkan kawasan industri dalam dokumen tata ruang di tingkat Kabupaten dan provinsi. Sementara di PLTU Batang, wilayah sasaran adalah kawasan konservasi laut berdasarkan keputusan pemerintah lokal. Seperti telah dijelaskan dalam matriks (tabel 10), kedua persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui “permainan wacana”, dimana pemerintah lokal harus mengubah keputusannya melalui diskursus kepentingan tidak memberikan banyak fasilitas, meski memiliki potensi

yang besar untuk berinvestasi. Salah satu masalah yang harus

diperhatikan adalah kebijakan yang berkaitan dengan investasi18.

Secara umum, kebijakan yang dianggap sebagai penghalang adalah yang terkait dengan sumber daya manusia, penyediaan dan jaminan pasokan bahan bakar, bahan baku untuk industri, ketersediaan lahan, bea masuk untuk alat-alat berat dan mesin untuk industri dan ketentuan tarif ekspor serta peraturan tentang kerja sama antara pemerintah dan perusahaan untuk pengembangan infrastruktur.

Fasilitas Infrastruktur

Pada proyek pengembangan wilayah industri kelapa sawit di Sei Mangkei maupun PLTU Batang, kelayakan fasilitas infrastruktur, terutama di areal pabrik/pembangkit merupakan faktor penting, karena bahan baku (khususnya untuk produk minyak sawit serta produk turunannya) memiliki batas waktu untuk menjaga kualitas. PTPN III sebagai operator KISMK menilai bahwa

fasilitas transportasi perlu ditingkatkan19, karena dengan kondisi

saat ini – lalu lintas, kualitas jalan dan kepadatan – dibutuhkan 48 jam untuk mencapai pabrik dari lokasi kebun. Idealnya, bahan baku kelapa sawit harus tiba di pabrik pengolahan dalam waktu 24 jam dan begitu pula untuk mengekspor produk perkebunan. Peningkatan kualitas jalan dan regulasi yang lebih baik akan mengurangi biaya produksi dan memberikan margin keuntungan yang lebih besar. Persoalan lain adalah kapasitas pabrik pengolahan tidak memadai. Idealnya pabrik pengolahan mampu melakukan 3 shift sehari, namun saat ini hanya mampu 1-2 shift dalam sehari. Sementara, di PLTU Batang, pemilihan

18 Dalam dokumen MP3EI, disebutkan daftar sejumlah peraturan dan UU yang harus direvisi, terdiri dari 7 UU, 7 Peraturan Pemerintah, 5 Peraturan / Dekrit/Instruksi Presiden, and 9 eraturan Kementrian (Coordinating Ministry of Economic Affairs, 2011, hlm. 181)

19 Sejalan dengan analisa yang dilakukan the Boston Consulting Group (Boston Consulting Group, 2010)

P rinsip D ebot tlene cking dalam K ebijak an M as ter Plan P er cepat an P embangunan Ek onomi Indonesia (MP3EI) 47 P rinsip D ebot tlene cking dalam K ebijak an M as ter Plan P er cepat an P embangunan Ek onomi Indonesia (MP3EI)

Target Debottlenecking KISMK PLTU-Batang

Masalah Penyelesaian Masalah Solusi

Sebagian wilayah yang diajukan adalah kawasan Hutan (: hutan negara), berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan No. 44/2005.

Menerbitkan Instruksi Presiden No. 10/2011 tentang Penundaan Penerbitan Ijin dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Primer dan Lahan Gambut

Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Jawa Tengah telah memperingatkan mengenai dampak lingkungan yang akan dialami masyarakat lokal. Dan pada tahap awal pembangunan pemerintah lokal telah menolak proyek ini.

Disetujui sebagai salah satu proyek nasional dari pelaksanaan MP3EI yang menggunakan skema PPP, sebagai proyek pertama dalam program penyediaan listrik. Sehingga masalah yang diutarakan oleh BLH dan Pemkab terhapus dengan sendirinya.

Wilayah KISMK sangat tergantung pada keputusan mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah (Kabupaten dan Provinsi).

Menjadi salah satu KPI (Kawasan Perhatian Investasi) – KPI Sei Mangkei, pemerintah daerah, baik pemerintah kabupaten dan Provinsi harus melakukan penyesuaian dokumen. “Kerumitan” Kebijakan

Investasi

Pasokan bahan bakar dan bahan baku

Pembatasan ekspor batubara sebagai bahan bakar industri pengolahan, melalui keputusan kementrian ESDM No. 1991 K/30/MEM/2011

Pembagian resiko antara sektor swasta dan sektor publik (pemerintah)

Perubahan peraturan PPP tahun 2005 pada 2011, yang menetapkan PT SMI, PT IIF dan PT IIGF dibiayai oleh pemerintah

Tabel 10. (lanjutan)

Target Debottlenecking KISMK PLTU-Batang

Masalah Penyelesaian Masalah Solusi

Kerangka Kebijakan Direncanakan sebagai kawasan ekonomi Khusus pada 2023-2024 (PTPN III sebagai inisiator)

Dipercepat dengan diterbitkannya Peraturan pemerintah No. 29 Tahun 2012 tentang KEK Sei Mangkei.

Daerah yang dipilih adalah Kawasan konservasi (berdasarkan Keputusan Bupati Nomor523/283/2005 tentang penunjukan kawasan konservasi laut Ujungnegoro-Roban di Kabupaten Batang)

Keputusan sudah berubah dan lokasi yang disebutkan dalam surat keputusan sudah berpindah ke lokasi yang lain yaitu di sebelah lokasi semula (Surat Keputusan Bupati Batang No. 523.194/2012).

Dikuasai PTPN III

dengan sertifikat HGU (Hak Guna Usaha) No. 31/HGU/BPN/ 1995, seluas 2.002,77 ha (BPN, 2006)

PTPN III bertindak sebagai pengelola dan bersama dengan pemerintah lokal dan pusat dapat mengundang investor sebanyak mungkin untuk pembangunan kawasan

Pembebasan lahan: terkait dengan lahan pertanian yang dikuasai masyarakat lokal.

Menerbitkan UU baru tentang Penyediaan lahan bagi kepentingan umum (UU No. 2/2012)

P rinsip D ebot tlene cking dalam K ebijak an M as ter Plan P er cepat an P embangunan Ek onomi Indonesia (MP3EI) 49 P rinsip D ebot tlene cking dalam K ebijak an M as ter Plan P er cepat an P embangunan Ek onomi Indonesia (MP3EI)

Target Debottlenecking KISMK PLTU-Batang

Masalah Penyelesaian Masalah Solusi

Ketidak-stabilan, Fluktuasi harga dan ketergantungan terhadap pasar internasional (CIF

Rotterdam) (Peraturan

Menteri Keuangan No. 67/PMK.011/ 2011)

Peraturan diubah menjadi harga tidak hanya tergantung pada ketetapan

CIF Rotterdam, namun

juga ditentukan oleh harga yang berlaku di Jakarta dan Malaysia. (Peraturan Kementrian Keuangan No. 128/PMK.011/2011) Fasilitas Infrastruktur Akses jalan dan

dan menuju KISMK direncanakan dibangun oleh PTPN III. Ini artinya, biaya tambahan bagi PTPN III untuk pembangunan sarana infratsruktur.

Jalan yang direncanakan tersebut diintegrasikan ke dalam prioritas utama pembangunan infrastruktur dalam kerangka pelaksanaan MP3EI.

Tidak ada pelabuhan untuk mengangkut batubara; akses jalan dan rel kereta api menjadi penting untuk diperbaiki kualitasnya dan diadakan.

Semua persoalan infrastruktur tercakup dalam kerangka pelaksanaan kebijakan MP3EI

Tabel 10. (lanjutan)

Target Debottlenecking KISMK PLTU-Batang

Masalah Penyelesaian Masalah Solusi

Jaminan ketersediaan batubara sebagai bahan baku utama yang selama ini lebih banyak dijual ke pasar global.

Pelaksanaan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 1991 K/30/MEM/2011mengenai Pembatasan Ekspor Batubara

Persoalan Tarriffs: Ketentuan bea masuk atau keluar bagi peralatan dan mesin

Penerapan kebijakan Tax

Holiday.

Ketidak-tersediaan tanah negara menyebabkan kesulitan dalam proses pembebasan lahan.

Masalah yang belum

terselesaikan. Pembayaran ganti rugi kepada masyrakat lebih dipilih daripada menggunakan tanah negara; proses ini juga lebih mudah setelah diberlakukannya UU No. 2/2012.

Fasilitas investasi (Peraturan Pemerintah No. 1/2007 tentang Fasilitas pajak untuk Penanaman Modal di bidang Usaha tertentu dan/atau di daerah- daerah tertentu), dimana setiap pengusaha dapat menggunakan fasilitas ini hingga mereka berhasil merealisasikan seratus persen rencana investasinya.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 52/2011, mereka baru dapat menggunakan fasilitas jika berhasil merealisasikan minimal 80% dari perencanaan.

Tidak ada jaminan bagi sektor swasta (investor) jika terjadi resiko besar selama proses pembangunan.

Perubahan kembali peraturan PPP yang meliputi jaminan resiko bagi sektor swasta melalui pembentukan PT IIGF (Peraturan Presiden No. 56/2011), begitu pula dengan modal awal bagi perusahaan penjaminan yang disediakan oleh pemerintah melalui PP No. 88/2010.

nasional melalui kerangka kebijakan MP3EI. Pada kasus PLTU Batang, pemerintah Kabupaten telah mengubah keputusan awal mengenai kawasan konservasi, sementara di KISMK karena terbitnya instruksi presiden, terjadi penundaan semua ijin penunjukkan kawasan kehutanan untuk sementara, sehingga proses pembangunan KISMK terus berjalan tanpa harus menunggu tebitnya dokumen RTRW.

Diluar banyak persoalan yang telah diselesaikan, faktor penting yang membuat proyek tersebut mulus berjalan, adalah karena kedua proyek tersebut dimasukkan sebagai “pilot project” kebijakan MP3EI. KISMK dimasukkan sebagai KPI pertama dalam daftar KPI koridor ekonomi Sumatera dengan nama KPI

Sei Mangkei20,sementara, PLTU Batang dimasukkan menjadi

proyek nasional pertama yang menggunakan skema PPP dalam kerangka MP3EI. Penjelasan selanjutnya adalah gambaran lebih detail dan penting seperti yang telah diuraikan dalam matriks.

KISMK – Sumatera Utara

Pada tahun 2012, pemerintah Indonesia mendorong Kawasan Industri Sei Mangkei (KISMK) sebagai salah satu proyek percontohan didalam penerapan kebijakan Kawasan Ekonomi Khusus (ZEE) di Indonesia. Oleh karenanya, pemerintah secara resmi menerbitkan PP No. 29 tahun 2012 mengenai KEK Sei Mangkei pada tanggal 27 Februari 2012, terletak di Kecamatan Bosar Maligas Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Kawasan industri yang secara khsusus di inisiasi oleh PTPN III, yang sejak awal pendiriannya lebih fokus pada pembangunan perkebunan besar, khususnya kelapa sawit dan karet di Sumatera Utara.

KISMK adalah wilayah yang diprioritaskan untuk pembangunan industri kelapa sawit, dengan luas mencapai 2.002,77 Ha. Berbatasan dengan sungai Bah Bolon dan wilayah

20 http://www.kp3ei.go.id/in/main_ind/kpi/Sumatera/133/134/a/b12/c/d/e1/f9, diakses pada 20 September 2013.

tiga wilay ah industri berbasis kelapa sawit PP No. 29/2012 tentang KEK Sei Mangke Sei Mangke/ Sumatera Utara Dumai/ Riau Maloy/ Kalimantan Barat Kementrian P erdagangan: 13 industri prioritas,

industri no.1 adalah

Kelapa sawit P eta P anduan 35 Kluster industri Prepres No. 32/2011 tentang MP3EI RTR W Tingkat Kabupaten RTR W Tingkat Provinsi RTR W Nasional Menentukan (menunjuk) PTPN III sebagai P emegang proy ek Menyusun rencana turunan terkait Mengundang inv estor P ersiapan lain, seperti pembenahan

kebijakan tentang pajak

DISESUAIKAN DISESUAIKAN Keputusan Menteri Kehutanan No. 44/2005 tentang P enentuan Kaw asan hutan di Sumatera DISESUAIKAN Kaw asan Hutan Hak P enggunaan Lain (HPL ) Gambar 3.

Pelaksanaan Prinsip Debottlenecking di Mega-Proy

ek

pusat khususnya untuk setiap persoalan yang muncul ditingkat lokal yang menurut analisa sulit ditemukan solusinya.

Proses perpanjangan KISMK sangat ditentukan oleh keputusan pemerintah ditingkat Kabupaten dan provinsi. Menurut peraturan penataan ruang, wilayah di KISMK diatur berdasarkan potensi dan kebutuhan, baik didasarkan pada pertimbangan pembangunan ekonomi lokal, yang pada akhirnya menunjang pembangunan ekonomi Indonesia atau untuk kebutuhan melayani kepentingan publik. Pemerintah pusat, dalam kasus ini, hanya meratifikasi sejumlah peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah, baik Kabupaten maupun provinsi. Namun demikian, yang sangat dibutuhkan adalah penetapan KISMK sebagai kawasan industri oleh pemerintah, baik ditingkat Kabupaten maupun provinsi, sehingga PTPN III dapat segera beroperasi seperti yang direncanakan sebagai kawasan ekonomi khusus pada 2023- 2024. Pada saat ini, sebagian kawasan KISMK adalah wilayah

kehutanan sesuai ketetapan Menteri Kehutanan pada 200522.

Sementara itu, hingga akhir 2012, karena pemerintah Kabupaten Simalungun belum juga mengeluarkan keputusan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten, pemerintah Provinsi belum dapat meratifikasi keputusan kementrian tersebut.

Berbagai perubahan kebijakan terkait investasi, tentu saja, tidak hanya dilaksanakan di kasus pembangunan proyek KISMK, namun juga kawasan industri kelapa sawit yang akan di bangun. Selain kebijakan MP3EI, sejumlah perubahan menjadi dinamika tersendiri dalam kegiatan investasi di Indonesia. Sebagai contoh, pemberian fasilitas investasi yang didorong oleh kelompok pengusaha, karena mereka membutuhkan kepastian untuk menempatkan modal mereka di industri kelapa sawit, selain tentu saja kebijakan fasilitas perpajakan. Namun demikian, pelaksanan kebijakan tersebut cukup sulit dilaksanakan oleh

22 Keputusan Menteri Kehutanan No. 44/2005 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Wilayah Sumatera Utara

perkebunan yang dikuasai PTPN IV21. Karena PTPN tidak

berkeinginan untuk memperluas perkebunan kelapa sawit di Sumatera utara (Bisnis.com, 2012; Bisnis.com, 2012), melalui terbitnya peraturan KEK Sei Mangkei, PTPN mengubah fokus pengembangannya hanya pada pembangunan industri hilir untuk mengejar kebutuhan nilai tambah di pasar internasional, sementara sisanya akan dipergunakan untuk kebutuhan domestik.

Seperti telah disebutkan dalam dokumen perencanaan, PTPN III merencanakan mengubah kawasan industrinya menjadi KEK pada 2023-2024, namun karena kebijakan MP3EI 2011-2025, kawasan ini ditetapkan sebagai Kawasan Perhatian Investasi (KPI). Sehingga, pembangunan KEK di Sei Mangkei dipercepat untuk dijadikan model percontohan pembangunan industri kelapa sawit di Indonesia, untuk dijadikan salah satu model keberhasilan pelaksanaan MP3EI di Indonesia. Hal ini

menjadi salah satu model pelaksanaan debottlenecking di KISMK.

Berdasarkan RTRW 2010-2030, pemerintah provinsi Sumatera Utara telah menetapkan kawasan Sei Mangkei sebagai kawasan industri berbasis kelapa sawit, yang sejalan dengan peraturan pemerintah daerah provinsi Sumatera Utara no. 29/2012, yang menetapkan wilayah kelola yang diberikan kepada PTPN III melalui penerbitan izin HGU no, 31/HGU/BPN/1995 seluas 2.002,77 ha (BPN, 2006). Namun demikian, pemerintah Kabupaten Simalungun tetap menolak menetapkan wilayah tersebut sebagai kawasan industri. Akibatnya, rencana pembangunan KISMK masih tetap menunggu sejumlah formalisasi kebijakan yang mendukungnya. Inilah akar persoalan koordinasi yang tidak pernah dapat diselesaikan terkait pembangunan KSMIK. Kemudian, kebijakan MP3EI

datang dengan prinsip debottlenecking yang relatif menyelesaikan

persoalan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kebijakan MP3EI adalah kebijakan yang instruksional dari pemerintah

khususnya di Jepang (Fukuda, 2007), teknologi ini tidak akan mencemarkan lingkungan karena prosesnya mengurangi kadar sulfur di dalam limbah yang dihasilkan oleh mesin pembangkit listrik.

Pelaksanaan PPP di PLTU Batang menjadi proses debotlenecking yang cukup cepat untuk menghilangkan sejumlah hambatan dalam rangka memenuhi kebutuhan listrik, yang terkait dengan alasan pemerintah yang tidak memiliki anggaran untuk memenuhinya. Dalam proyek ini, pelaksanaan skema

PPP menjadi bagian penting dalam proses debotlenecking.

Pada gambar 5 dibawah, terlihat sejumlah kesepakatan terkait pendanaan yang melibatkan pihak swasta, sehingga banyak persoalan terselesaikan. Termasuk banyak persoalan yang dirasakan para pengusaha yang merasa tidak aman melakukan

fossil. Untuk tipe stasiun pembangkit listrik tenaga uap tertentu, FGD ini akan membuang 95% atau lebih kadar SO2 di dalam pipa gas.

Provinsi Yogyakarta Provinsi Jawa Tengah

Kab. Batang

Gambar 5. Lokasi Pembangunan PLTU Batang pemerintah lokal, yang memiliki kewenangan cukup besar di

wilayah tersebut. Kebijakan MP3EI menjadi strategi yang tepat untuk membuat sejumlah kesepakatan atas konflik kepentingan tersebut, dan tentu saja kelompok pengusahalah yang kemudian memperoleh apa yang mereka inginkan, yaitu kemudahan fasilitas investasi dan pajak.

Melalui pembangunan kawasan industri kelapa sawit yang terintegrasi, diperkirakan akan meningkatkan nilai dan jumlah investasi yang datang di Sumatera Utara, khususnya Kabupaten Simalungun. Hal ini adalah timbal balik yang terjadi antara kepentingan pemerintah lokal dan inisiatif KISMK. Paling tidak, pemerintah lokal mempertimbangkan KISMK sebagai material utama dan bahan promosi untuk mengundang lebih banyak investor untuk menanamkan modalnya di Sumatera Utara (Bisnis.com, 2012; Bisnis.com, 2012).

PLTU Batang

Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap

Dokumen terkait