• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dana Transfer Lainnya

Dalam dokumen RINGKASAN APBN TAHUN 2015 (Halaman 155-158)

PROYEKSI JANGKA MENENGAH

JUMLAH ALOKASI DAK 2015

5.1.1.4 Dana Transfer Lainnya

Dana Transfer Lainnya adalah dana yang dialokasikan untuk membantu daerah dalam rangka melaksanakan kebijakan tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dana Transfer Lainnya terdiri atas dana Tunjangan Profesi Guru PNSD, dana Tambahan Penghasilan Guru PNSD, dana Bantuan Operasional Sekolah, dana Insentif Daerah, dan dana Proyek Pemerintah Daerah dan Desentralisasi.

5.1.1.4.1 Dana Tunjangan Profesi Guru PNSD

Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa guru sebagai tenaga pendidik yang berkedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah pada jalur formal, diwajibkan memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikasi pendidik, sehat jasmani dan rohani, dan mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Selain itu, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 mengamanatkan pula bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya, guru berhak memperoleh penghasilan diatas kebutuhan hidup minimun dan jaminan kesejahteraan. Oleh karena itu, pemerintah memberikan tunjangan profesi kepada guru yang telah memiliki sertifikasi pendidik dan persyaratan lainnya sesuai peraturan perundang-undangan.

Tunjangan Profesi Guru PNSD diberikan kepada guru PNSD yang telah memperoleh sertifikasi pendidik dan memenuhi persyaratan lainnya sesuai peraturan perundang-undangan. Tunjangan Profesi Guru PNSD tersebut diberikan sebesar satu kali gaji pokok PNS yang bersangkutan, tidak termasuk untuk bulan ke-13.

Rencana alokasi Tunjangan Profesi Guru PNSD disampaikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kepada Kementerian Keuangan berdasarkan hasil rekonsiliasi data guru dengan Pemerintah Daerah seluruh Indonesia. Alokasi Tunjangan Profesi Guru PNSD untuk DOB dilaksanakan berdasarkan pembagian data jumlah guru antara daerah induk dan DOB. Alokasi Tunjangan Profesi Guru PNSD dalam APBN tahun 2015 direncanakan sebesar Rp70.252,7 miliar atau naik sebesar Rp9.712,0 miliar (16,0 persen) jika dibandingkan dengan APBNP TA 2014 sebesar Rp60.540,7 miliar.

5.1.1.4.2 Dana Tambahan Penghasilan Guru PNSD

Dalam rangka meningkatkan gairah kerja bagi guru PNSD khususnya bagi yang belum menerima tunjangan profesi, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan diberikan tambahan penghasilan setiap bulan sebesar Rp 250.000,00. Hal ini sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 52 Tahun 2009 tentang Tambahan Penghasilan bagi Guru PNSD.

Alokasi Dana Tambahan Penghasilan Guru PNSD dalam APBN tahun 2015 direncanakan sebesar Rp1.096,0 miliar atau turun Rp757,6 miliar (40,9 persen) jika dibandingkan dengan APBNP TA 2014 sebesar Rp1.853,6 miliar.

5.1.1.4.3 Dana Bantuan Operasional Sekolah

Program BOS merupakan pelaksanaan dari ketentuan Pasal 34 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 yang menyebutkan bahwa Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya. Selanjutnya, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan, diatur bahwa penyelenggaraan pendidikan dasar merupakan urusan daerah. Sejalan dengan hal tersebut, dana BOS dialokasikan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan dasar yang merupakan urusan daerah.

Selain Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, dasar hukum dalam pengalokasian BOS adalah Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar, Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan, Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, dan Peraturan Menteri Keuangan tentang Pedoman Umum dan Alokasi Bantuan Operasional Sekolah.

BOS dialokasikan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan dasar sebagai urusan daerah melalui penyaluran dana ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) Provinsi, untuk selanjutnya diteruskan ke sekolah dengan mekanisme hibah. Oleh karena itu, BOS untuk pendidikan dasar melalui komponen dana Transfer Lainnya.

Alokasi BOS yang diterima sekolah dihitung berdasarkan jumlah siswa per sekolah dan satuan biaya BOS satuan pendidikan dasar. Adapun kebutuhan alokasi BOS diusulkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang kemudian ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

BOS merupakan dana yang digunakan terutama untuk biaya nonpersonalia bagi satuan pendidikan dasar sebagai pelaksanaan program wajib belajar, dan dimungkinkan untuk mendanai beberapa kegiatan lain sesuai petunjuk teknis Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pemberian dana BOS bertujuan untuk membebaskan biaya pendidikan bagi siswa tidak mampu dan meringankan beban biaya bagi siswa yang lain sehingga memperoleh layanan pendidikan yang lebih bermutu dalam rangka penuntasan Wajib Belajar Sembilan Tahun.

Dana BOS merupakan stimulus bagi daerah dan bukan pengganti (substitusi) dari kewajiban daerah untuk menyediakan anggaran pendidikan. Sehubungan dengan itu pemberian dana BOS akan diikuti dengan perkuatan monitoring dan evaluasi untuk menghindari terjadinya penyimpangan sekaligus memastikan bahwa daerah tidak mengurangi alokasi anggaran untuk penyelenggaraan BOS Daerah (BOSDA). BOS dikelola oleh Tim Pusat, Tim Provinsi, dan Tim Kabupaten/Kota yang berkoordinasi secara berkala untuk menjamin agar pelaksanaan BOS

mulai dari perencanaan, penganggaran, pengalokasian, penyaluran, pelaporan, monitoring dan evaluasi berjalan lancar dan meminimalkan permasalahan.

Alokasi BOS untuk DOB dilaksanakan berdasarkan pembagian data jumlah siswa antara daerah induk dan DOB. Pembagian data jumlah siswa dan rincian alokasi BOS untuk satuan pendidikan dasar masing-masing daerah induk dan DOB dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan memperhatikan pagu alokasi BOS.

Anggaran dana BOS dalam APBN tahun 2015 direncanakan sebesar Rp31.298,3 miliar, atau naik Rp7.223,6 miliar (30,0 persen) jika dibandingkan dengan alokasinya dalam APBNP tahun 2014 sebesar Rp24.074,7 miliar.

5.1.1.4.4 Dana Insentif Daerah

Dana Insentif Daerah (DID) dialokasikan kepada daerah sebagai penghargaan atas pencapaian kinerja daerah di bidang pengelolaan keuangan, kinerja pendidikan, dan kinerja ekonomi dan kesejahteraan dan ditujukan untuk membantu daerah dalam rangka melaksanakan fungsi pendidikan sebagai salah satu kebijakan pemerintah pusat. Tujuan utama dialokasikannya DID adalah sebagai berikut: (1) mendorong agar daerah berupaya untuk mengelola keuangannya dengan lebih baik yang ditunjukkan dengan perolehan opini BPK terhadap Laporan Keuangan Pemda (LKPD); dan (2) mendorong agar daerah berupaya untuk selalu menetapkan APBD tepat waktu dan mencapai kinerja dalam pengelolaan keuangan daerahnya (administrasi dan

impact-nya).

Penentuan daerah dan perhitungan alokasi DID dengan mempertimbangkan kriteria kinerja tertentu, yang terdiri dari kinerja utama, kinerja keuangan, kinerja pendidikan, kinerja ekonomi dan kesejahteraan, dan batas minimum kelulusan kinerja. Kriteria Kinerja Utama adalah kriteria yang harus dimiliki oleh suatu daerah sebagai penentu kelayakan daerah penerima.Kriteria Kinerja Utama terdiri dari: (a) opini BPK atas LKPD: daerah yang mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atau Wajar Dengan Pengecualian (WDP) dari BPK atas LKPD-nya; dan (b) penetapan Perda APBD tepat waktu. Kriteria Kinerja Keuangan adalah kriteria yang ditetapkan sebagai unsur penilaian terhadap upaya kinerja daerah di bidang keuangan. Kriteria Kinerja Pendidikan adalah kriteria yang ditetapkan sebagai unsur penilaian terhadap upaya kinerja daerah di bidang pendidikan. Kriteria Kinerja Ekonomi dan Kesejahteraan adalah kriteria yang ditetapkan sebagai unsur penilaian terhadap upaya kinerja daerah di bidang ekonomi dan kesejahteraan.

Alokasi minimum DID diberikan kepada daerah: (1) memperoleh opini WTP dan menetapkan Perda APBD tepat waktu; atau (2) memperoleh opini WTP, menetapkan Perda APBD dan menyampaikan LKPD kepada BPK tepat waktu. DID digunakan untuk mendanai kegiatan-kegiatan dalam rangka melaksanakan fungsi pendidikan yang menjadi urusan daerah. Anggaran DID dalam APBN tahun 2015 direncanakan sebesar Rp1.664,5 miliar, atau naik Rp276,7 miliar (19,9 persen) jika dibandingkan dengan alokasinya dalam APBNP 2014 sebesar Rp1.387,8 miliar.

5.1.1.4.5 Dana Proyek Pemerintah Daerah dan Desentralisasi

Dalam rangka mendukung pembiayaan APBN, Pemerintah RI dan Bank Dunia menandatangani perjanjian pinjaman (loan agreement) pada tanggal 23 Juni 2010 untuk melaksanakan pinjaman program dengan nama Proyek Pemerintah Daerah dan Desentralisasi (P2D2) atau Local

Government and Decentralization Project (LGDP).Pelaksanaan kegiatan P2D2 akan berakhir

pada tanggal 31 Desember 2015.

Dana P2D2 bersumber dari APBN dan dialokasikan sebagai insentif kepada provinsi, kabupaten, dan kota daerah percontohan P2D2 berdasarkan hasil verifikasi keluaran sesuai dengan perjanjian pinjaman antara Pemerintah RI dengan Bank Dunia. Verifikasi keluaran (output) adalah proses verifikasi atas keluaran pelaksanaan DAK bidang infrastruktur jalan, infrastruktur irigasi, dan infrastruktur air minum yang dilakukan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Pelaksanaan P2D2 dimaksud diharapkan dapat memberikan dampak bagi daerah, antara lain: (a) peningkatan akuntabilitas dan pelaporan DAK pada sektor infrastruktur; (b) peningkatan pelaporan keuangan dan teknis serta verifikasi output; dan (c) persentase output fisik dari infraktruktur yang diverifikasi meningkat.

Adapun Daerah percontohan P2D2 tersebut meliputi provinsi, kabupaten, dan kota di lima wilayah provinsi, yaitu Provinsi Jambi, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, dan Maluku Utara. Daerah percontohan P2D2 yang telah diverifikasi output pelaksanaan DAK infrastruktur diberikan insentif berupa dana sebesar maksimal 10 persen dari total alokasi DAK infrastruktur.

Pada kuartal I setiap tahunnya BPKP melakukan verifikasi output pelaksanaan DAK infrastruktur tahun anggaran sebelumnya pada daerah percontohan. Secara garis besar pelaksanaan verifikasi DAK adalah memastikan bahwa proyek yang dilaksanakan oleh daerah (percontohan P2D2) dan dibiayai oleh DAK bidang infrastruktur digunakan sesuai dengan petunjuk teknis dan memastikan bahwa output sudah selesai dikerjakan dengan kualitas yang dijanjikan di awal pelaksanaan proyek.

BPKP melaporkan hasil verifikasinya kepada Kementerian Keuangan dan Bank Dunia. Laporan ini yang kemudian dijadikan sebagai acuan Kementerian Keuangan untuk mengalokasikan dana insentif kepada daerah percontohan. Arah kebijakan P2D2 pada tahun 2015 tidak berubah dengan tahun anggaran sebelumnya, yakni meningkatkan akuntabilitas, pelaporan, dan kualitas

output dari pelaksanaan DAK infrastruktur dengan jumlah bidang yang sama yakni jalan,

infrastruktur, dan air minum dan diterapkan pada daerah percontohan yang sama.

Dalam APBN tahun 2015 dana P2D2 direncanakan sebesar Rp99,6 miliar, meningkat sebesar Rp7,7 miliar (8,4 persen) dari APBNP tahun 2014 sebesar Rp91,8 miliar.

Dalam dokumen RINGKASAN APBN TAHUN 2015 (Halaman 155-158)