• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proyeksi Asumsi Dasar Ekonomi Makro Jangka Menengah

Dalam dokumen RINGKASAN APBN TAHUN 2015 (Halaman 35-40)

Pertumbuhan Ekonomi Menurut Lapangan Usaha

2.4 Proyeksi Asumsi Dasar Ekonomi Makro Jangka Menengah

Proyeksi asumsi dasar ekonomi makro jangka menengah merupakan salah satu elemen yang menjadi dasar penyusunan postur APBN jangka menengah serta arah kebijakan fiskal ke depan. Asumsi dasar ekonomi makro jangka menengah digunakan sebagai basis perhitungan dalam memperkirakan besaran pendapatan negara dan hibah, belanja negara, defisit/surplus, serta pembiayaan anggaran dalam tiga tahun berikutnya. Pada sisi lain, asumsi dasar ekonomi makro jangka menengah diharapkan dapat menjadi jangkar dan indikator arah pergerakan dan kondisi perekonomian domestik ke depan. Analisis dan penyusunan perkiraan ekonomi domestik tersebut tidak dapat lepas dari perkiraan gambaran ekonomi global yang akan mempengaruhi berbagai variabel ekonomi dalam negeri. Informasi tersebut kemudian dikombinasikan dengan sasaran-sasaran pembangunan ke depan, sebagai gambaran awal penyusunan kebijakan fiskal dan penganggaran untuk mendukung pelaksanaan program pembangunan nasional sebagaimana dirumuskan di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). Sejak tahun 2011 hingga 2013, perekonomian global diwarnai dengan pelemahan pertumbuhan. Berbagai tekanan telah mewarnai perkembangan ekonomi, khususnya di negara-negara maju.

Berbagai stimulus ekonomi yang telah dikeluarkan oleh pemerintah di negara-negara tersebut belum mampu memberikan hasil yang baik bagi perekonomian, bahkan telah menimbulkan beban fiskal yang cukup besar dan pada gilirannya menjadi sumber tekanan baru bagi perekonomian kawasan dan global. Fenomena tersebut antara lain terlihat pada kondisi perekonomian Eropa dan Amerika Serikat. Namun, di awal tahun 2014, mulai terlihat tanda-tanda perbaikan kondisi ekonomi di berbagai kawasan sebagai dampak berbagai kebijakan ekonomi yang telah diberlakukan dalam beberapa tahun terakhir.

Perkembangan tersebut memberikan harapan bagi pemulihan ekonomi global ke depan dan pada gilirannya akan memberikan dampak positif bagi perekonomian domestik. Berdasarkan proyeksi terkini WEO, rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia dalam jangka menengah 2016-2018 diperkirakan akan mencapai tingkat 4,1 persen per tahun. Pertumbuhan ekonomi global tersebut didorong oleh rata-rata pertumbuhan negara maju sebesar 2,4 persen per tahun dan negara berkembang sebesar 5,2 persen per tahun.

Pertumbuhan ekonomi AS pada periode tersebut diperkirakan rata rata mencapai 2,9 persen per tahun, sebagai kelanjutan pemulihan ekonomi yang mulai terlihat di awal 2014. Peningkatan pertumbuhan ekonomi juga terlihat di kawasan Eropa yang dalam periode yang sama diperkirakan mencapai rata rata pertumbuhan 2,0 persen per tahun. Berbagai kebijakan di kawasan tersebut diperkirakan telah mampu menyelesaikan krisis keuangan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Di antara negara-negara berkembang, Tiongkok masih memegang peranan penting sebagai pendorong laju pertumbuhan ekonomi. Namun, perekonomian negara tersebut diperkirakan masih akan mengalami moderasi laju pertumbuhan sebagai konsekuensi perubahan arah kebijakan dan reformasi ekonomi yang sedang dilaksanakan. Pada tahun 2016 hingga 2018, diperkirakan laju pertumbuhan negara tersebut mencapai rata-rata 6,6 persen per tahun. Sedikit berbeda, India diperkirakan mampu mempercepat laju pertumbuhannya sejalan dengan keberhasilan kebijakan dalam mengatasi permasalahan domestiknya terkait dengan inflasi, defisit anggaran dan neraca transaksi berjalan. Perekonomian India diperkirakan mencapai rata rata pertumbuhan sebesar 6,6 persen per tahun.

Perbaikan pertumbuhan ekonomi global diperkirakan mendorong perbaikan permintaan global dan intensitas perdagangan internasional. Pertumbuhan volume perdagangan selama 2016 hingga 2018 diperkirakan rata-rata mencapai 5,5 persen. Mulai pulihnya daya beli ekonomi di kawasan Eropa dan negara maju berdampak positif bagi kegiatan ekspor negara berkembang yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan aktivitas ekspor dan impor global. Pada periode tersebut rata-rata pertumbuhan ekspor dan impor negara berkembang diperkirakan mencapai rata-rata 6,1 dan 6,3 persen. Sementara itu, di negara maju pertumbuhan ekspor dan impor diperkirakan masing-masing mencapai 5,1 persen dan 5,2 persen.

Perbaikan pertumbuhan ekonomi dunia selama periode 2016 hingga 2018 diperkirakan tidak menimbulkan tekanan pada laju inflasi global. Bahkan perkiraan inflasi di ketiga tahun tersebut menunjukkan tren penurunan. Peningkatan kapasitas produksi dan pasokan yang terjadi diperkirakan mampu mencukupi kenaikan permintaan yang terjadi. Penurunan harga di pasar global antara lain terlihat juga pada kelompok harga bahan makanan dan bahan baku hasil pertanian. Terkait dengan harga sumber energi, khususnya minyak mentah, pergerakan harga komoditas tersebut diperkirakan menurun namun tetap pada tingkat yang tinggi. Mengenai harga minyak dunia, perlu tetap diwaspadai berbagai faktor non fundamental yang mampu

menimbulkan gejolak harga yang tidak diperkirakan sebelumnya, seperti kondisi geopolitik dan gangguan cuaca terhadap kilang-kilang minyak. Secara umum, laju inflasi pada periode tersebut diperkirakan mencapai rata-rata 3,7 persen per tahun.

Sejalan dengan perkembangan ekonomi global, kinerja perekonomian domestik diperkirakan juga akan meningkat. Laju pertumbuhan ekonomi pada periode 2016 hingga 2018, diperkirakan bergerak dengan tren meningkat pada kisaran 5,9 persen hingga 7,4 persen. Dari sisi domestik, peningkatan laju pertumbuhan tersebut antara lain didorong oleh mulai terlihatnya dampak strategi kebijakan pembangunan infrastruktur yang telah dilaksanakan pada periode sebelumnya. Pembangunan infrastruktur diperkirakan akan mampu mendorong perkembangan kapasitas produksi dan peluang usaha di berbagai daerah, serta mampu mendorong percepatan integrasi pasar dalam negeri yang mampu membuka peluang usaha yang lebih baik. Besarnya pasar domestik dan integrasi pasar yang tercipta akan menjadi daya tarik tersendiri bagi kegiatan investasi yang menjadi sumber penting bagi percepatan pertumbuhan ekonomi. Di samping itu, langkah-langkah kebijakan financial deepening dan financial inclusion diperkirakan akan mulai memberikan hasil positif sebagai sumber pendanaan aktivitas sektor riil.

Sebagaimana pada periode-periode sebelumnya, pertumbuhan ekonomi domestik tetap mendapat dorongan cukup baik dari komponen konsumsi rumah tangga. Hal tersebut disebabkan oleh masih adanya bonus demografi dan tren peningkatan kelompok penduduk kelas menengah (middle income class). Di samping itu, kebijakan stabilisasi harga dan ekonomi, serta pematangan sistem perlindungan sosial akan mampu mendukung daya beli masyarakat. Kinerja sektor perdagangan internasional juga akan menunjukkan perkembangan yang jauh lebih baik. Ekspor diperkirakan akan mengalami peningkatan tidak saja didorong oleh perbaikan permintaan pasar global dan mitra dagang, tetapi juga ditopang oleh peningkatan peran ekspor komoditas produk manufaktur. Pada saat yang sama, impor diperkirakan masih meningkat seiring peningkatan aktivitas produksi, tetapi peningkatannya tidak secepat peningkatan ekspor. Hal tersebut disebabkan oleh peningkatan industri manufaktur yang mampu menggantikan peran produk-produk impor. Secara total, kegiatan ekspor dan impor memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi.

Dari sisi sektoral, perbaikan kinerja ekonomi terutama didukung oleh perbaikan kinerja sektor pertanian dan manufaktur. Perbaikan kinerja sektor pertanian terjadi sebagai dampak pelaksanaan program-program perbaikan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan, serta pengembangan sektor agro industri. Sementara itu, perkembangan sektor industri manufaktur akan meningkat seiring strategi percepatan pembangunan industri dalam rangka strategi pembangunan jangka panjang untuk lepas dari middle income trap. Di samping itu, pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN akan mampu memperluas peluang pasar dan juga mendorong terciptanya regional value chain yang mampu mengangkat industri dalam negeri. Stabilitas ekonomi makro diperkirakan dapat terjaga dengan baik. Laju inflasi akan tetap dapat dikendalikan pada tingkat yang rendah dan stabil. Perbaikan ketersediaan infrastruktur dan perbaikan kapasitas produksi akan mampu menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat. Di samping itu, Pemerintah juga akan terus berupaya mengurangi risiko tekanan inflasi yang terkait dengan pengelolaan subsidi energi. Laju inflasi di tahun 2016 dan 2017 diperkirakan 4,0 ± 1 persen dan di tahun 2018 pada kisaran 3,5 ± 1 persen

Pergerakan nilai tukar selama periode 2016 hingga 2018 diperkirakan relatif stabil dengan kecenderungan menguat. Stabilitas ekonomi dan fiskal serta prospek pasar yang cukup baik akan mampu menjadi insentif bagi masuknya arus investasi dari luar negeri, baik dalam bentuk portofolio maupun investasi langsung (foreign direct investment). Arus dana yang masuk dalam pasar domestik tentu memberikan kontribusi positif terhadap ketersediaan valas di dalam negeri. Pada saat yang sama, kebijakan financial deepening di dalam negeri akan memperkuat pasar finansial dalam negeri serta mampu menggeser peran dana asing dalam pasar-pasar keuangan jangka pendek, sehingga mengurangi risiko volatilitas nilai tukar. Nilai tukar rupiah dalam jangka menengah 2016-2018 diperkirakan akan cenderung menguat yaitu pada rentang Rp11.000 - Rp12.000/US$.

Terjaganya stabilitas ekonomi makro yang didukung kondisi fiskal yang sehat berdampak positif pada kinerja pasar keuangan domestik dan perbaikan tingkat imbal hasil surat-surat berharga negara. Perbaikan daya dukung pendanaan dalam negeri disertai terjaganya laju inflasi domestik pada tingkat yang rendah, mampu mendorong pergerakan yield Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan di tingkat yang relatif rendah. Pada periode 2016 hingga 2018, suku bunga SPN 3 bulan diperkirakan berkisar 4,5 persen hingga 7,0 persen.

Indikator lain yang juga perlu mendapat perhatian dalam penyusunan postur APBN dalam jangka menengah adalah harga dan lifting minyak Indonesia. Proyeksi harga minyak mentah Indonesia sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak mentah di pasar global. Pergerakan harga minyak dunia mengandung risiko ketidakpastian yang cukup tinggi mengingat pergerakannya tidak hanya dipengaruhi oleh faktor fundamental, tetapi juga oleh faktor nonfundamental seperti faktor geopolitik, cuaca, dan spekulasi. Ke depan, permintaan terhadap minyak dunia dan sumber energi diperkirakan akan meningkat seiring perbaikan aktivitas ekonomi dan produksi. Di sisi lain, pasokan dan produksi minyak dunia masih dapat meningkat walaupun dihadapkan pada ketersediaan yang terbatas. Dalam kaitan ini, berbagai upaya untuk mendorong perkembangan sumber energi alternatif telah dan akan terus digalakkan, antara lain melalui pengembangan

bio fuel, shale gas, energi surya, dan lain sebagainya. Dengan memperhatikan faktor-faktor

tersebut, harga minyak mentah Indonesia pada tahun 2016-2018 diperkirakan akan bergerak pada kisaran US$100 –US$110 per barel.

Selanjutnya, lifting migas dalam jangka menengah diupayakan dapat dioptimalkan, dengan tetap memperhatikan kapasitas yang ada. Pada saat ini, sebagian besar kapasitas produksi sumur-sumur migas mengalami penurunan akibat usia yang semakin tua. Berbagai langkah akan terus diupayakan untuk memperlambat penurunan produksi dengan mengadopsi teknologi. Sejalan dengan itu, terus dilakukan kebijakan-kebijakan untuk mendorong penemuan sumur-sumur baru, penyederhanaan peraturan dan regulasi untuk mendukung percepatan produksi lapangan-lapangan yang siap olah. Untuk tahun 2016–2018, lifting migas diperkirakan masih dapat meningkat antara lain didukung oleh produksi lapangan Cepu yang pada saat ini belum dioptimalkan. Lifting minyak diperkirakan akan mencapai kisaran rata-rata 700 - 900 ribu barel per hari dan lifting gas diperkirakan mencapai kisaran 1.225 - 1.300 ribu barel setara minyak per hari. Asumsi dasar ekonomi makro jangka menengah disajikan dalam Tabel II.2.4.

2016 2017 2018

a. Pertumbuhan ekonomi (%, yoy) 5,8 5,9 - 6,5 6,2 - 7,0 6,5 - 7,4

b. Inflasi (%, yoy) 4,4 3,0 - 5,0 3,0 - 5,0 2,5 - 4,5

c. Tingkat bunga SPN 3 bulan (%) 6,0 5,0 - 7,0 5,0 - 7,0 4,5 - 6,5

d. Nilai tukar (Rp/US$) 11.900 11.400 - 12.000 11.200 - 11.800 11.000 - 11.600

e. Harga Minyak Mentah Indonesia (US$/barel) 105 100 - 110 100 - 110 100 - 110

f. Lifting Minyak (ribu barel per hari) 900 850 - 900 750 - 800 700 - 750

g. Lifting Gas (ribu barel setara minyak per hari) 1.248 1.250 - 1.300 1.225 - 1.250 1.250 - 1.300

Sumber: Kementerian Keuangan

Jangka Menengah APBN

2015 TABEL II.2.4

ASUMSI DASAR EKONOMI MAKRO TAHUN 2015 DAN JANGKA MENENGAH 2016-2018 Indikator Ekonomi

BAB 3

KEBIJAKAN DAN TARGET PENDAPATAN NEGARA

Dalam dokumen RINGKASAN APBN TAHUN 2015 (Halaman 35-40)