• Tidak ada hasil yang ditemukan

Surat Berharga Negara Neto

Dalam dokumen RINGKASAN APBN TAHUN 2015 (Halaman 174-177)

KEBIJAKAN DEFISIT DAN PEMBIAYAAN ANGGARAN APBN 2015 DAN PROYEKSI JANGKA MENENGAH

PEMBIAYAAN UTANG, 2014—2015 (miliar rupiah)

6.1.2.2.1 Surat Berharga Negara Neto

Upaya pemenuhan target pembiayaan utang melalui penerbitan SBN Neto tahun 2015 akan dilakukan Pemerintah dengan menerbitkan instrumen SBN domestik dan valas dengan porsi masing-masing sekitar 80 persen dan 20 persen. Pemilihan instrumen dan tenor penerbitan akan dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor antara lain kebijakan pengelolaan utang, biaya penerbitan SBN, risiko pasar keuangan domestik dan global, preferensi investor, dan kapasitas daya serap pasar.

Penerbitan SBN domestik akan diprioritaskan pada SBN tenor menengah dan panjang. Penerbitan SBN di pasar domestik akan dilakukan dengan memanfaatkan instrumen surat utang negara (SUN) dan surat berharga syariah negara (SBSN). Instrumen SUN tersebut terdiri dari Obligasi Negara (ON) reguler, obligasi ritel, dan surat perbendaharaan negara (SPN). Penerbitan SPN, khususnya SPN 3 bulan, akan dilakukan secara terukur guna meminimalisir risiko refinancing utang dalam jangka pendek. Penerbitan SPN tenor tersebut masih tetap diperlukan sebagai acuan penentuan bunga obligasi seri variable rate, mengingat SBI 3 bulan yang sebelumnya digunakan sebagai acuan suku bunga tidak lagi diterbitkan oleh BI. Sedangkan instrumen SBSN di pasar domestik terdiri dari SBSN reguler (ijarah fixed rate/IFR), sukuk project financing, sukuk ritel (SUKRI), sukuk dana haji Indonesia (SDHI), dan surat perbendaharaan negara syariah (SPNS). Dalam rangka mendukung pembiayaan kegiatan/proyek pada kementerian negara/lembaga, sukuk project financing terus didorong perkembangannya. Pada tahun 2015, direncanakan untuk menerbitkan sukuk project financing sebesar Rp7.459,8 miliar dengan rincian Kementerian Perhubungan sebesar Rp2.924,5 miliar, Kementerian Pekerjaan Umum sebesar Rp3.535,3 miliar, dan Kementerian Agama sebesar Rp1.000,0 miliar.

Dalam rangka pengelolaan SBN yang baik, Pemerintah menetapkan kebijakan pengelolaan SBN, baik SBN domestik maupun SBN valas. Kebijakan pengelolaan SBN domestik adalah sebagai berikut: Pertama, pengembangan pasar perdana SBN domestik, antara lain dengan: (1) memaksimalkan penerbitan di pasar domestik, terutama penerbitan SBN seri benchmark; (2) meningkatkan transparansi dan prediktabilitas jadwal dan target lelang penerbitan, antara lain mengoptimalkan publikasi dan jadwal lelang penerbitan, dan konsistensi target dan realisasi penerbitan menuju lelang berdasarkan target (target-based auction), dimana Pemerintah bertindak sebagai price taker; (3) mengoptimalkan metode penerbitan, antara lain pengembangan jalur distribusi SBN ritel, pemanfaatan opsi greenshoe, dan private placement secara selektif, khususnya bagi investor jangka panjang dan/atau pada saat likuiditas kering; (4) meningkatkan kualitas penetapan seri benchmark (tenor dan jumlah seri benchmark) dengan mempertimbangkan likuiditas dan preferensi investor serta kebutuhan pengelolaan risiko utang; dan (5) meningkatkan koordinasi jadwal dan besaran target dengan BI terkait jumlah likuiditas pasar domestik; Kedua, pengembangan pasar sekunder SBN, antara lain dengan (1) mengoptimalkan peran dan kapasitas dealer utama (primary dealers), diantaranya melalui revisi peraturan terkait dealer utama dan menyempurnakan sistem evaluasi kinerja

dealer utama yang berkelanjutan; (2) meningkatkan likuiditas pasar sekunder SBN domestik,

melalui pengembangan pasar repo dan derivatif yang memakai SBN sebagai underlying

instrument; pengembangan produk government bonds futures (GBF); dan pembelian

kembali seri-seri SBN yang tidak likuid dan/atau penukaran seri-seri SBN yang tidak likuid dengan SBN seri benchmark; (3) memperkuat bond stabilization framework (BSF)

melalui review cakupan dan mekanisme operasionalnya; (4) menyempurnakan electronic

trading platform, khususnya trading platform untuk dealer utama yang dapat dieksekusi

dan trading platform untuk obligasi ritel (modified exchange); (5) membentuk pro-active

investor relations, dengan membentuk dedicated investor relations team, menentukan

dan menyusun database target investor; menentukan strategi komunikasi dengan investor, termasuk diantaranya menyiapkan jadwal roadshow secara regular di dalam dan luar negeri;

Ketiga, pengembangan instrumen SBN, antara lain saving bonds; dan index-linked bonds; dan Keempat, khusus untuk pengelolaan SBSN/Sukuk, ditetapkan tambahan arahan sebagai berikut

(1) melakukan lelang penerbitan SBSN secara konsisten untuk memastikan ketersediaan SBSN yang cukup di pasar domestik; (2) melanjutkan kajian tentang pendirian dealer utama untuk peserta lelang SBSN secara bertahap; (3) mengupayakan peningkatan pemahaman pelaku pasar mengenai instrumen SBSN; (4) mengkaji upaya peningkatan minat investor; dan (5) optimalisasi pembiayaan proyek melalui SBSN PBS.

Sedangkan kebijakan pengelolaan SBN valas adalah sebagai berikut: (1) menerbitkan SBN valas secara terukur dan sebagai pelengkap, dengan menjamin pemenuhan pembiayaan APBN tanpa menimbulkan crowding out effect di pasar domestik, menurunkan tingkat biaya portofolio utang pada tingkat risiko yang terkendali, memberikan benchmark yield bagi sektor korporasi/ swasta; (2) mempertimbangkan pengelolaan portofolio utang, termasuk untuk mendukung penerapan ALM negara; dan (3) mengembangkan metode penerbitan yang lebih fleksibel untuk mengakomodasi perubahan target pembiayaan dan ketidakpastian kondisi pasar keuangan serta efisiensi waktu penerbitan dan biaya utang. Selain itu, penerbitan SBN valas juga dapat digunakan untuk membayar kewajiban-kewajiban valas Pemerintah dan memperkuat cadangan devisa nasional. Pemilihan tenor dan mata uang dalam penerbitan SBN valas dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar, biaya penerbitan, dan risiko nilai tukar.

6.1.2.2.2 Pinjaman Luar Negeri Neto

Pinjaman luar negeri neto merupakan selisih antara penarikan pinjaman bruto dengan alokasi untuk penerusan pinjaman dan pembayaran cicilan pokok utang luar negeri.

TabelII.6.9 menyajikan rencana pinjaman luar negeri neto tahun 2015. Indikasi penarikan

pinjaman program tahun 2015 terutama bersumber dari World Bank dan Asian Development

Bank (ADB). Sedangkan penarikan pinjaman proyek terutama berasal dari Jepang, Tiongkok,

Jerman, Korea Selatan, World Bank, Islamic Development Bank (IDB), dan ADB, serta kreditur komersial.

Pinjaman proyek terdiri atas pinjaman proyek Pemerintah Pusat dan penerusan pinjaman

(on-lending). Pinjaman proyek Pemerintah Pusat digunakan untuk membiayai kegiatan prioritas

yang dilaksanakan oleh kementerian negara/lembaga dan kegiatan yang dilaksanakan oleh Pemda melalui mekanisme belanja hibah (on-granting).

Pinjaman proyek pada kementerian negara/lembaga terutama digunakan untuk mendukung: (1) pembangunan infrastruktur yang dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perhubungan; (2) pengembangan fasilitas pendidikan pada perguruan tinggi negeri yang dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; dan (3) pengadaan alutsista dan almatsus yang dilaksanakan oleh Kementerian Pertahanan dan Polri dalam rangka pemenuhan kekuatan dasar minimum (minimum essential forces/MEF). Sementara itu pinjaman yang diterushibahkan digunakan untuk mendanai proyek mass rapid transit (MRT) di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan water resources and irrigation sector management

Dalam rangka pengelolaan pinjaman luar negeri yang baik, Pemerintah menetapkan kebijakan pengelolaan pinjaman luar negeri sebagai berikut: (1) mengendalikan pinjaman luar negeri melalui kebijakan negative net flow secara konsisten; (2) komitmen pinjaman kegiatan (project

loan) baru diarahkan untuk membiayai pembangunan infrastruktur dan energi serta membiayai

pembelian barang yang belum dapat diproduksi di dalam negeri dalam rangka alih teknologi; (3) meningkatkan kualitas persiapan kegiatan dan pengadaan pinjaman luar negeri, melalui: (a) peningkatan peran serta dalam penyusunan dokumen kerjasama dengan lender untuk menghindari terjadinya pengadaan pinjaman luar negeri yang didikte oleh lender

(lender-driven); (b) negosiasi pinjaman luar negeri hanya dilakukan setelah terpenuhinya seluruh kriteria

kesiapan (readiness criteria) dari kegiatan yang akan dibiayai dengan pinjaman luar negeri; dan (c) menetapkan syarat dan ketentuan (terms and conditions) pinjaman luar negeri yang sesuai dengan target risiko dan biaya utang; (4) pinjaman luar negeri tunai/program dilakukan secara selektif, antara lain dalam rangka mendukung fleksibilitas pembiayaan utang; dan (5) meningkatkan kinerja pemanfaatan pinjaman luar negeri, melalui: (a) mengoptimalkan evaluasi pemanfaatan pinjaman luar negeri untuk memastikan penarikan pinjaman luar negeri sesuai jadwal; (b) mengambil langkah penanganan atas kegiatan yang bermasalah dan berdampak signifikan terhadap APBN berdasarkan hasil monitoring; dan (c) meningkatkan koordinasi antarunit terkait dalam penganggaran, serta monitoring dan evaluasi pinjaman luar negeri. Selain akan menempuh upaya-upaya tersebut, khusus untuk mengoptimalkan pengelolaan pinjaman luar negeri yang diteruspinjamkan, juga akan ditempuh kebijakan antara lain: (1) melanjutkan penerusan pinjaman dengan meningkatkan prinsip kehati-hatian dengan mempertimbangkan kemampuan pengembalian; (2) pengelolaan penerimaan pembiayaan yang bersumber dari penerusan pinjaman pada tahun 2015 juga harus dilandasi kehati-hatian dengan mempertimbangkan kemampuan penyerapan anggaran (penerimaan yang berasal dari program/kegiatan yang telah berjalan/on-going dan program/kegiatan baru; serta (3) komitmen program/kegiatan baru yang dapat dibiayai melalui penerusan pinjaman akan mengacu pada kegiatan-kegiatan prioritas yang telah sesuai dengan kebijakan Pemerintah yang diarahkan untuk pembangunan infrastruktur melalui BUMN, Pemda, dan BUMD.

Alokasi penerusan pinjaman dalam APBN 2015 dilakukan secara selektif berdasarkan tujuan penggunaan yang diprioritaskan pada pembangunan infrastruktur terutama untuk energi, fasilitas pembiayaan dan penjaminan infrastruktur, serta pengendalian banjir. Debitur yang akan menerima alokasi penerusan pinjaman terbesar dalam APBN 2015 adalah PT PLN, PT Pertamina, dan Pemprov. DKI Jakarta. Alokasi penerusan pinjaman kepada PT PLN digunakan untuk menyediakan infrastruktur dibidang energi kelistrikan melalui pembangunan dan restrukturisasi pembangkit listrik, jaringan transmisi, dan distribusi, serta sistem interkoneksi jaringan listrik. Alokasi penerusan pinjaman kepada PT Pertamina digunakan untuk meningkatkan pembangkit energi yang berasal dari sumber daya geothermal terbarukan dan mengurangi dampak terhadap lingkungan. Sementara itu, alokasi penerusan pinjaman untuk Pemprov. DKI Jakarta digunakan untuk mendanai proyek Jakarta emergency

dredging initiative project (JEDI)/Jakarta urban flood mitigation project (JUFMP) dalam

rangka meningkatkan pengendalian banjir.

Di samping melakukan penarikan pinjaman luar negeri, Pemerintah juga melakukan pembayaran cicilan pokok utang luar negeri yang dialokasikan dalam APBN 2015 sebesar negatif Rp66.532,8 miliar. Alokasi tersebut dihitung berdasarkan proyeksi pembayaran sesuai jadwal pembayaran utang dan rencana percepatan pembayaran pinjaman Indonesia di IDA, serta mempertimbangkan perkembangan nilai tukar rupiah terhadap beberapa mata uang asing

terutama USD. Dari sisi mata uang, cicilan pokok utang luar negeri jatuh tempo tahun 2015 akan dibayarkan terutama dalam mata uang USD, JPY, dan EUR. Sedangkan dari sisi kreditur terbesar, cicilan pokok utang luar negeri jatuh tempo 2015 akan dibayarkan kepada Jepang, ADB, World Bank, Jerman, dan Perancis.

Dalam dokumen RINGKASAN APBN TAHUN 2015 (Halaman 174-177)