• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN DAN TARGET PENDAPATAN NEGARA APBN 2015 DAN PROYEKSI JANGKA MENENGAH

Dalam dokumen RINGKASAN APBN TAHUN 2015 (Halaman 40-43)

3.1 Kebijakan dan Target Pendapatan Negara APBN 2015

Dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Pasal 11 ayat (3) disebutkan bahwa pendapatan negara terdiri atas penerimaan perpajakan, penerimaan negara bukan pajak, dan penerimaan hibah. Selain merupakan sumber dari kapasitas fiskal Pemerintah dalam membiayai belanja negara, pendapatan negara juga memiliki peran yang sangat penting dalam menahan defisit anggaran. Mengingat perkembangan dan dinamika pembangunan yang membutuhkan anggaran yang makin besar, optimalisasi pendapatan negara menjadi tantangan yang tidak mudah. Oleh karena itu, pelaksanaan kebijakan optimalisasi pendapatan negara dari tahun ke tahun senantiasa ditingkatkan.

Dalam kerangka tersebut, pendapatan negara tahun 2015 diproyeksikan sebesar Rp1.793.588,92 miliar atau meningkat sebesar Rp158.210,4 miliar dari target pendapatan negara dalam APBNP 2014 sebesar Rp1.635.378,5 miliar. Selain dipengaruhi oleh asumsi dasar ekonomi makro, target pendapatan negara dalam APBN 2015 juga dipengaruhi oleh perkiraan realisasi pendapatan negara tahun 2014, dan kebijakan pendapatan negara yang akan ditempuh ke depan.

Secara umum kebijakan pendapatan negara di tahun 2015 masih terfokus pada optimalisasi pendapatan negara baik dari sisi penerimaan perpajakan dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Dari sisi penerimaan perpajakan, Pemerintah menempuh kebijakan optimalisasi penerimaan perpajakan melalui penyempurnaan peraturan perundang-undangan perpajakan, ekstensifikasi dan intensifikasi perpajakan, serta penggalian potensi penerimaan perpajakan. Sementara itu, dari sisi PNBP, kebijakan optimalisasi PNBP lebih dititikberatkan pada optimalisasi penerimaan migas, serta optimalisasi pendapatan bagian laba BUMN. Perbandingan proyeksi pendapatan negara tahun 2014 dan 2015 disajikan dalam Tabel II.3.1.

3.1.1 Pendapatan Dalam Negeri

Pendapatan dalam negeri terdiri atas penerimaan perpajakan dan PNBP. Dari target pendapatan negara tahun 2015, pendapatan dalam negeri ditargetkan mencapai Rp1.790.332,6 miliar, atau meningkat 9,6 persen bila dibandingkan dengan target APBNP 2014. Kondisi perekonomian global dan domestik yang diperkirakan akan mengalami perbaikan di tahun 2015 mendasari peningkatan target pendapatan dalam negeri tahun 2015. Target pendapatan dalam negeri tersebut akan bersumber dari penerimaan perpajakan sebesar 77,0 persen dan PNBP sebesar 22,9 persen.

3.1.1.1 Penerimaan Perpajakan

Penerimaan perpajakan dalam APBN 2015 diperkirakan mencapai Rp1.379.991,6 miliar, atau meningkat 10,7 persen bila dibandingkan dengan target dalam APBNP 2014. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh membaiknya kondisi perekonomian domestik yang didukung

oleh perbaikan stabilitas dan fundamental ekonomi, serta membaiknya perekonomian global yang diharapkan dapat meningkatkan kinerja ekspor. Grafik II.3.1 menyajikan perbandingan penerimaan perpajakan tahun 2014 dan 2015.

Untuk mencapai target penerimaan perpajakan dalam APBN 2015, Pemerintah akan menerapkan beberapa kebijakan di bidang perpajakan, antara lain: (1) kebijakan perpajakan dalam rangka optimalisasi penerimaan perpajakan melalui penyempurnaan peraturan p e r u n d a n g - u n d a n g a n p e r p a j a k a n , e k s t e n s i f i k a s i d a n i n t e n s i f i k a s i perpajakan, serta penggalian potensi penerimaan perpajakan secara sektoral; (2) kebijakan perpajakan dalam rangka menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui penyesuaian kebijakan di bidang bea masuk, bea keluar, dan PPh nonmigas; (3) kebijakan perpajakan dalam rangka peningkatan daya

1.189,8 1.328,4 56,3 51,5 400,0 600,0 800,0 1.000,0 1.200,0 1.400,0 2014 APBNP APBN2015 Sumber: Kementerian Keuangan

GRAFIK II.3.1

PENERIMAAN PERPAJAKAN, 2014−2015

Pajak Perdagangan Internasional Pajak Dalam Negeri

Trilliun Rp

I Pendapatan Dalam Negeri 1.633.053,4 1.7 90.332,6 1. Penerim aan Perpajakan 1.246.107 ,0 1.37 9.991,6 a. Pendapatan Pajak Dalam Negeri 1.189.826,6 1.328.487 ,8 1) Pendapatan Pajak Penghasilan 569.866,7 644.396,1 a) Pendapatan PPh Migas 83.889,8 88.7 08,6 b) Pendapatan PPh Nonmigas 485.97 6,9 555.687 ,5 2) Pendapatan Pajak Pertambahan Nilai 47 5.587 ,2 524.97 2,2 3) Pendapatan Pajak Bumi dan Bangunan 21.7 42,9 26.684,1 5) Pendapatan Cukai 117 .450,2 126.7 46,3 6) Pendapatan Pajak Lainnya 5.17 9,6 5.689,1 b. Pendapatan Pajak Perdagangan Internasional 56.280,4 51.503,8 1) Pendapatan Bea masuk 35.67 6,0 37 .203,9 2) Pendapatan Bea keluar 20.604,4 14.299,9 2. Penerim aan Negara Bukan Pajak 386.946,4 410.340,9 a. Penerimaan Sumber Daya Alam 241.114,6 254.27 0,5 1) Penerimaan Sumber Daya Alam Migas 211.668,2 224.263,1 1) Pendapatan Minyak Bumi 154.7 50,4 17 0.342,3 2) Pendapatan Gas Bumi 56.917 ,8 53.920,8 2) Penerimaan Sumber Daya Alam Non migas 29.446,4 30.007 ,4 a) PendapatanPertambangan Minerba 23.599,7 24.599,8 b) PendapatanKehutanan 5.017 ,0 4.57 3,9 c) PendapatanPerikanan 250,0 250,0 d) PendapatanPanas Bumi 57 9,7 583,7 b. PendapatanBagian Laba BUMN 40.000,0 44.000,0 1) Perbankan 8.7 91,5 8.800,0 2) Non Perbankan 31.208,5 35.200,0 c. PNBP Lainnya 84.968,4 89.823,7 d. Pendapatan BLU 20.863,4 22.246,8 II Penerim aan Hibah 2.325,1 3.256,3

1.635.37 8,5

1.7 93.588,9 Jum lah

Sumber: Kementerian Keuangan

TABEL II.3.1

PENDAPATAN NEGARA, 2014—2015 (miliar rupiah)

saing dan nilai tambah dalam bentuk pemberian insentif fiskal serta penerapan kebijakan hilirisasi pada sektor atau komoditas tertentu; dan (4) kebijakan perpajakan dalam rangka pengendalian konsumsi barang kena cukai antara lain dalam bentuk penyesuaian tarif cukai hasil tembakau.

Pemerintah juga akan mengambil beberapa langkah kebijakan yang bersifat teknis terkait dengan upaya optimalisasi penerimaan, baik dari sisi penerimaan pajak maupun penerimaan kepabeanan dan cukai. Kebijakan yang bersifat teknis di bidang penerimaan pajak antara lain: (1) meningkatkan penggalian potensi pajak wajib pajak orang pribadi (WP OP) dengan sasaran orang pribadi golongan pendapatan tinggi dan menengah atas; (2) mengintensifkan penggalian sektor ekonomi non-tradable (misalnya properti, jasa keuangan, dan perdagangan) serta kegiatan ekonomi di bidang sumber daya alam dan perkebunan; (3) menyempurnakan sistem administrasi perpajakan untuk meningkatkan kepatuhan WP dengan mengembangkan sistem administrasi berbasis IT seperti e-filing untuk SPT PPh dan e-invoice untuk PPN; (4) menggali potensi pajak secara langsung dari beberapa transaksi ekonomi strategis melalui pengembangan sistem online dengan institusi yang mengadministrasikan transaksi ekonomi strategis tersebut; (5) meningkatkan efektivitas pemeriksaan dan penagihan melalui pemeriksaan yang berorientasi pada pemeriksaan khusus bagi WP strategis dan implementasi model compliance

risk management (CRM); (6) meningkatkan sinergi dengan kepolisian dan kejaksaan dalam

pelaksanaan law enforcement di bidang perpajakan; (7) memperbaiki regulasi yang memperluas basis pajak untuk meningkatkan penerimaan pajak; dan (8) meningkatkan infrastruktur administrasi perpajakan dan kualitas serta kuantitas SDM.

Di bidang kepabeanan, Pemerintah akan melanjutkan dan menyempurnakan kebijakan teknis, yaitu: (1) menggalakkan pemberitahuan dini lewat skema pra-notifikasi; (2) mendorong peralihan pengiriman pemberitahuan impor barang (PIB) dan dokumen pelengkap pabean impor secara tunggal (single submission); (3) mengembangkan sistem layanan dan pengawasan yang berjenjang dan terotomasi berdasarkan manajemen risiko terpusat di kawasan berikat; (4) implementasi penuh aplikasi perizinan tempat penimbunan berikat (TPB) online; (5) meluncurkan integrated monitoring room untuk pengawasan kawasan berikat di dua belas kantor pelayanan; (6) meningkatkan ketersediaan informasi untuk pengiriman dan penerimaan barang kiriman dengan melibatkan penyelenggara pos, dengan cara menyediakan informasi mengenai prosedur, larangan dan pembatasan, klarifikasi barang, dan ketentuan nilai pabean, serta menyediakan informasi untuk tracking pengiriman barang kiriman pada saat proses

customs clearance; (7) meningkatkan akurasi penetapan nilai pabean, klasifikasi barang,

dan pemeriksaan fisik; (8) meningkatkan konfirmasi surat keterangan asal dalam rangka skema free trade area; (9) meningkatkan akurasi penelitian jumlah dan jenis barang ekspor; (10) meningkatkan pengawasan modus antar pulau dan modus switching jenis barang ekspor; (11) optimalisasi operasi pengawasan terpadu, patroli laut, dan patroli darat; serta (12) melakukan joint audit dengan Direktorat Jenderal Pajak.

Sementara itu, kebijakan teknis di bidang cukai pada tahun 2015 lebih diarahkan kepada manajemen risiko dan perbaikan sistem, antara lain yaitu: (1) mendesain risk engine cukai terintegrasi yang handal, meliputi penentuan fokus strategis dan area risiko, identifikasi risiko pada tiap area risiko, menganalisis dan memprediksi risiko, dan formulasi risk engine; (2) mendesain database cukai terpusat, melalui identifikasi data untuk manajemen risiko, memilih data untuk disimpan di database, mengembangkan pemetaan data, formulasi mekanisme update, dan otomasi database; (3) peluncuran sistem otomasi cukai melalui deklarasi

secara elektronik untuk permohonan penyediaan pita cukai (P3C), permohonan pemesanan pita cukai hasil tembakau (CK-1), pemberitahuan barang kena cukai yang selesai dibuat (CK-4), pemberitahuan mutasi barang kena cukai (CK-5), dan pemberitahuan pelindung pengangkutan etil alkohol (EA)/minuman mengandung etil alkohol (MMEA) yang sudah dilunasi cukainya di peredaran bebas (CK-6); (4) meluncurkan sistem laporan aplikasi cukai (LACK); dan (5) melakukan penyesuaian besaran tarif cukai.

Selain itu, kebijakan lain yang dapat mendukung pengamanan pendapatan kepabeanan dan cukai antara lain: (1) persiapan ASEAN Economic Community (AEC) 2015 melalui integrasi ASEAN

Single Window (ASW); (2) evaluasi sistem aplikasi piutang dan pengembalian (SAPP); (3) integrasi

sistem kepabeanan dan cukai dengan government agencies dan entitas pelabuhan atau bandara; (4) pengembangan portal pertukaran data dengan instansi terkait lainnya; (5) perbaikan layanan informasi dan optimalisasi publikasi media; dan (6) penyelarasan organisasi, sumber daya manusia, dan infrastruktur.

Dalam rangka mendorong investasi dan meningkatkan daya saing industri dalam negeri, pada tahun 2015 Pemerintah tetap akan memberikan insentif perpajakan dalam bentuk pajak ditanggung Pemerintah (DTP) atas PPh DTP dan bea masuk DTP untuk sektor tertentu. PPh DTP diberikan pada komoditas panas bumi sebesar Rp1.750,0 miliar, PPh DTP atas bunga, imbal hasil, penghasilan pihak ketiga atas jasa yang diberikan Pemerintah dalam penerbitan dan/atau pembelian kembali atau penukaran SBN di pasar internasional tidak termasuk jasa konsultan sebesar Rp6.300,0 miliar, dan bea masuk DTP untuk industri-industri sektor tertentu sebesar Rp600,0 miliar.

Dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian Indonesia pada tahun 2015 dan didukung oleh pelaksanaan kebijakan perpajakan secara menyeluruh, penerimaan perpajakan direncanakan sebesar Rp1.379.991,6 miliar. Adapun rincian target penerimaan perpajakan berdasarkan jenisnya disampaikan sebagai berikut.

Dalam dokumen RINGKASAN APBN TAHUN 2015 (Halaman 40-43)