PSIKOLOGI SOSIAL
C. DARI KREDO MENUJU KREDIT
Sering ketika kita menyerukan kebenaran ajaran agama, kita mendapatkan jawaban masyarakat yang kurang sedap. Misalnya: pada zaman mencari yang haram saja sulit kok bicara pemberantasan korupsi, di saat orang jalan harus mlipir-mlipir saja perlu kehati-hatian, kok bersemboyan "katakan yang benar walaupun akibatnya pahit", buka-bukaan aurat saja tidak laku, eh... kok disuruh brukut. Itu semua kan aneh bin gharib namanya. Itulah jawaban orang sekarang.
Kerusakan yang harus kita benahi kadang bisa nampak sangat transparan seperti pembakaran hutan, pencemaran air bersih oleh limbah industri dan sebagainya. Bisa juga tersembunyi di balik kenikmatan sesaat.
Bila akhlak tergantikan oleh matematika demi kepentingan teknologi, di saat miras diproduksi dan diproteksi keberadaannya demi melupakan sekejap keruwetan duniawi, jika pergaulan bebas tanpa kendali agama telah dibiarkan demi modernissi, dan lokalisasi diabsahkan untuk pemasukan devisa dan lain-lain, maka apa jadinya masyarakat religius yang kita dambakan?
Demikian pula ketika urusan telah diserahkan bukan lagi kepada ahlinya, amanah telah dipersetankan demi gengsi gaya hidup kekinian, ini yang tersembunyi, yang baru akan nampak jika azhab Allah turun dan bala' menimpa.
Benarlah apa yang dikaji oleh Komaruddin Hidayat,4 ‘kredo’ telah tergantikan oleh ‘kredit’ di abad modern ini. Menurut Anthonio Sampson (1991), sekarang lembaga keagamaan, yang sangat berperan pada masyarakat tradisional, telah diambil alih oleh lembaga keuangan yang tidak kalah kekuatannya, dalam mengendalikan dan menciptakan perubahan sosial. Sebuah ungkapan klasik money alone sets all the world in motion semakin memperkukuh kecenderungan ini. Sedemikian kuatnya pengaruh uang dalam masyarakat modern sehingga –menurut Sampson–
agama yang paling dominan saat ini disebutnya sebagai the religion of money (dalam The Midas Touch).
Struktur, spirit dan kinerja lembaga keagamaan telah diambil alih oleh lembaga keuangan dengan lembaga teknologi yang lebih canggih lagi sehingga dampak sosialnya lebih kuat ketimbang lembaga keagamaan.
4 Komaruddin Hidayat, “Agama: Antara Kredo dan Kredit”, Kompas, 17 Oktober 1997, hlm. 6.
Gereja yang dahulunya –mengklaim– menjadi pusat kredo keselamatan (claim of salvation) digantikan oleh bank-bank yang menawarkan kredit untuk memperoleh kenyamanan hidup. Sakralitas yang melekat pada konsep kredo tidak lagi dijumpai pada konsep kredit yang konotasinya memang sangat sekuleristik dan hedonistik. Para missionaris dan pendeta yang dulunya gigih menyebarkan berita keselamatan digantikan oleh para banker, fund manager dan customer service yang mengejar para calon debitur untuk ditahbiskan dan diikat sebagai nasabah. Kesaksian iman (syahadat) berubah bentuk dan prosedurnya menjadi sebuah transasksi administratif di bawah sanksi hukum positif.
Maka jika kita ingat Perang Salib, psikologisasinya sekarang: terjadi perang antar nilai mata uang yang telah membuat beberapa negara Asia harus menderita. Pendeknya struktur dan kinerja lembaga keagamaan yang pernah berjaya di masa lalu telah kehilangan dimensi spiritualnya, dan kini digantikan oleh lembaga perbankan yang selalu mengejar untung, tidak mengenal kasih sayang dalam relasi sosialnya. Ia selalu siap menghisap darah para nasabah.
Pergeseran ini diperkuat lagi oleh pemikiran filsafat Barat yang sekuleristik, sejak dari Freudianisme, Darwinisme, Marxisme dan sejenisnya, yang berusaha melakukan klasifikasi paradigma agama dengan paradigma filsafat empirisme-positivisme.
Bagi masyarakat sekuler jika memperoleh kesulitan di tengah jalan bukanya mencari gereja atau masjid untuk berdoa, melainkan datang ke ATM (automated teller machine) yang langsung bisa mengabulkan permohonan berupa uang tunai, sedangkan doa pada Tuhan tidak bisa diukur maupun dibuktikan secara langsung hasilnya. Orang modern bisa merasa hidup nyaman tanpa agama, tetapi tersiksa tanpa uang.
Demikianlah kredo agama yang tadinya menjembatani dan mengikat antara seseorang dengan Tuhan, kini tidak ampuh lagi sebab orang lebih tertarik untuk menciptakan ikatan dan komunikasi antara dirinya dengan orang atau lembaga sekuler yang menawarkan kucuran uang karena uang diyakini bisa menawarkan kenikmatan dan keselamatan yang bersifat instan. Memang dari sisi keagamaan ini adalah jahiliyyah dan musyrik, akan tetapi bagi orang modern, bukankah ini gejala psikologis yang memang
"seharusnya" terjadi?
Istilah money sendiri diduga berasal dari kata moneta, julukan bagi dewa Kuno dalam legenda Romawi Kuno yang artinya "dia yang selalu mengingatkan". Di kuil moneta inilah orang Romawi kuno membuat kepingan logam sebagai alat tukar perdagangan, mengganti alat tukar lama dari tulang, kulit, kerang dan sebagainya.
Di era modern ini dalil-dalil ekonomi lebih menarik dikaji daripada dalil-dalil Kitab suci ataupun filsafat yang dipandang spekulatif. Namun untungnya walau begitu, kita masih dapat meghibur diri, sebab baik agama maupun uang yang sama-sama menjanjikan jalan keselamatan dan tawaran kebahagiaan, namun antara keduanya tetap terdapat perbedaan mendasar dalam hal substansi nilai dan jangka masa berlakunya.
Dalam agama yang berpusat di vihara atau mesjid, janji dan doktrin keselamatan disebut kredo, sedangkan dalam lembaga keuangan yang berpusat di bank-bank dinamakan kredit uang, keduanya memiliki makna yang sama, yaitu sebuah transaksi untuk memperoleh jaminan keselamatan yang didasarkan atas dasar kepercayaan.
Dalam agama janji keselamatan lebih bersifat metafisis dan sebagian besar pemenuhannya masih harus ditunggu di alam akhirat, sedangkan transaksi kredit hasilnya langsung bila dinikmati dalam waktu yang relatih dekat. Dalam filafat Cina, huruf untuk uang dilambangkan sebagai emas yang diapit oleh dua tombak. Tombak pertama bermakna untuk mencari uang, manusia harus berjuang keras memperebutkannya, kalau perlu harus rela menusuk temannya. Tombak kedua bermakna, kesiapan mental batin, pergolakan batin, sebab kemiskinan lebih merupakan kondisi batin (mental) daripada kondisi lahir.
Walaupun dari segi materi manusia kaya, namun jika tetap bermental miskin, maka akumulasi kekayaanlah yang selalu dikejar tidak peduli apapun jalan yang ditempuh, korupsi, kolusi, meniup dan merampas harta rakyat serta kekayaan negara. Mereka terjangkiti virus love of money for its own sake dan telah mengkhianati missi dan makna uang sebagai alat tukar untuk mendukung produksi dalam rangka menyejahterakan masyarakat.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara efek ajaran agama Tuhan dengan agama uang ciptaan manusia. Agama wahyu selalu membentuk kepribadian untuk selalu bersyukur pada Tuhan dan berbagi kasih sayang pada sesama, sedangkan moralitas the religion of money
adalah selalu ingin menaklukkan yang lain. Agama mengajarkan bahwa kesalehan dan kemuliaan justru dalam berempati dengan penderitaan sesamanya, namun agama uang memunculkan kebanggaan melihat orang lain miskin dan hidup menderita.
Tentunya yang ideal adalah kekayaan materi yang didukung oleh kekayaan batin sehingga materi tidak akan menjajah terhadap pemiliknya, melainkan melayaninya. Jadi kalau sering kita dengar bahwa pembangunan ini berhasil dan pendapatan rata-rata penduduk naik, bahkan bagi sementara orang bukan hanya sekedar naik, tapi berlipat-lipat ganda, mengapa masih saja terdapat pejabat tinggi dan orang kaya yang mau korupsi dan mengambil kekeyaan rakyat? Mengapa banyak orang muslim kaya tak mau zakat? Mungkinkah mereka telah menambahkan investasi uang sebesar-besarnya sebagai rukun iman ketujuh?