• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEGAMANGAN MANUSIA INDONESIA DI ERA MODERN

ANTARA SAINS, PERADABAN DAN PERENNIALISME

B. KEGAMANGAN MANUSIA INDONESIA DI ERA MODERN

Istilah kemodernan sebenarnya muncul beriringan dengan kemunculan renaisance di Eropa pada abad XVII. Istilah zaman modern ini lebih mengacu pada segi teknologis perkembangan pola industris. Zaman tersebut sebenarnya lebih tepat disebut dengan "zaman teknik" (technical age), "karena pada munculnya zaman itu, adanya peran sentral teknikalisme serta bentuk-bentuk kemasyarakatan yang terkait dengan teknikalisme itu" -demikian kata Marshal G. Hudgson-, "...dan ...wujud keterkaitan antara segi teknologis sebagai dorongan besar pertama untuk manusia memasuki zaman sekarang ini, yaitu revolusi industri (teknologis)...

Berkaitan dengan gerakan modernisme ini, Mamarduke Pichthal menulis "tak ada sedikit pun dalam Islam, demikian pula dalam Kristen, ajaran yang menghambat kemajuan. Soalnya adalah bahwa beberapa waktu yang lalu kekristenan telah mendapatkan suatu "modus vivendi"

untuk hidup modern, sedangkan Islam belum sampai ke situ, walapun (begitu) justru sekarang inilah proses itu sedang dilaksanakan".

Namun perlu ditekankan terlebih dulu, kita perlu introspeksi diri agar tidak begitu saja terbuai oleh jargon-jargon Modernismenya secara formal. Sebab sekat-sekat modernis dan tradisionalis dalam skala formal sudah tidak relevan lagi untuk di gunakan sebagai jargon dalam upaya membangun umat sekarang ini.

Hal tersebut disebabkan karena ukuran-ukuran yang digunakan sebagai standar kemodernan dan ketradisionalan baru terletak pada basis sosialnya, yaitu skema sekolah-modern-pedagang-kota-jawa-luar jawa, yang diperhadapkan dengan pesantren-tradisional-petani-desa-jawa-pedalaman, dan hanya pada skematika masalah ikhtilafiyyah-madzhab yang tidak essensial dan tidak menjadi issu dalam masa sekarang ini.

Selain itu diskriminasi antara tradisionalisme dan modernisme mulai banyak dikritik dan cenderung ditinggalkan karena :

1. Makna istilah tradisional dan modern itu dianggap kabur, untuk dijadikan sebagai alat klasifikasi masyarakat atau kelompok masyarakat,

2. Teori yang melatar-belakangi wawasan ini hanya sedikit memberikan penjelasan tentang proses bagaimana masyarakat berkembang,

3. Ada banyak bukti bahwa pertumbuhan ekonomi dan medernisasi yang maju sekalipun tidak serta merta menghilangkan pola tindak tradisional, nilai-nilai dan kepercayaan, sebaliknya masyarakat modern tidak pula serta merta mendukung prestasi.

Maka untuk menghindari problem modernitas dalam pola keagamaan itu, kita harus membedakan antara dua istilah yang sering mengalami kerancuan, terutama saat memahami jargon "menghidupkan kembali rasionalisme dalam Islam".

Yang perlu diperhatikan di sini, bahwa yang digerakkan kembali itu adalah prinsip rasioalisasinya bukan rasionalisme agama. Sebab rasionalisme agama berarti akan menafikan sisi transendensi-spiritual atau ruh agama itu sendiri, sehingga gerakan yang berdasar pada prinsip rasionalisme tidak bisa di terima oleh semua umat Islam, apalagi dengan kultur masyarakat Indonesia yang masih sangat heterogen ini.

Sebab seperti di ungkapkan oleh Kingley Davis, sifat non-rasional agama memainkan fungsi masyarakat pribadi manusia, dan karena itu tidak bisa diatasi dengan mengganti keterangan religius dengan keterangan ilmiah begitu saja (rasionalisme). Yakni manusia tidak akan puas dengan penjelasan rasional dan masih membutuhkan penjelasan yang non rasional namun tetap manusiawi. Berarti pula –menurut David Tracy– keterangan-keterangan rasional (ilmiah) khususnya untuk dapat dipahami dan diterima, memerlukan keterlibatan diri dengan soal ketuhanan dan agama.

Untuk itulah maka yang diperlukan adalah sebatas rasionalisasi agama, yakni penempatan yang proporsional tentang mana yang seharusnya diprofankan dan mana yang seharusnya ditransendensikan (mirip dengan sekularisasi).

Namun, di samping rasionalisasi juga sangat diperlukan kesadaran kita akan wujud transendensi agama seperti di singgung di atas, yang merupakan jasa terbesar yang diberikan agama terhadap manusia, yakni mengarahkan perhatian umat manusia kepada masalah usaha penting yang selalu menggoda pada masalah "arti dan makna" (the problem of meaning) yang menuntun manusia ke arah "kepastian kognitif" tentang

perkara-perkara yang tidak dapat dielakkan akal pikiran, kesusilaan, disiplin, penderitaan, nasib akhir manusia: yang terhadap soal-soal tersebut agama memberikan arah dan tujuan dengan syarat manusia itu mampu dan mau menerima nilai-nilai terakhir dan tertinggi (ultimate goal) dari agama.

Rasionalisasi diperlukan dalam agama karena selain merupakan fenomena transenden, agama juga sekaligus merupakan fenomena sejarah dan budaya, di mana agama-agama tersebut berkembang dalam setting sosio-historis dan budaya tertentu yang tidak saja mempengaruhi pemikiran keagamaan, tetapi juga pada perkembangan doktrin-doktrin agama. Selain itu juga untuk menjawab tantangan modernitas, sebab agama diharapkan selalu mampu memberikan konstribusinya terhadap pengembangan peradaban dan kemanusiaan. Agama yang gagal menjawab tantangan modernitas akan hilang dari peredaran. Atau meminjam istilah Ahmad Syafi'i Maarif, sebuah Islam yang tidak mampu memecahkan masalah-masalah kemanusiaan yang riil mungkin tidak mempunyai masa depan yang cerah. Maka peranan agama di sini sejalan dengan L. Peacock adalah –mengutip Benyamin Nelson dalam Thomas O'dea– menjadikan agama sebagai suatu "directive sistem" yang tersusun dari nilai-nilai normatif yang mencetak dan membentuk jawaban kita atas banyak tingkat pemikiran, perasaan dan perbuatan (manusia)...menurut cara yang diinginkan (agama).

Pada pendahuluan bab ini telah dijelaskan bahwa keterasingan manusia dari jiwanya sendiri (alienasi) terjadi karena manusia telah mempertuhankan hasil-hasil industri yang dihasilkan oleh tangan mereka sendiri. Alienasi ini dari sudut pandang psikologi memang wajar. Industri merupakan implikasi logis dari kemodernan. Ketika teknologi telah mendominasi, bahkan melampaui ilmu pengetahuannya, maka saat itu perkembangan psikologi masyarakat terlampaui kecepatannya, jadilah kesenjangan psikologis secara massal, dan memunculkan alienasi tersebut (akibat dari technical age). Toffler menyebut hal ini sebagai future shock (kejutan masa depan). Manusia selalu dibuat terkejut setiap terjadi capaian-capaian ilmu pengetahuan pada teknologinya, sementara rumus-rumus ilmiahnya kadang masih belum selesai dibuat.

Maka dakwah Islam sebenarnya bukan lagi hanya masalah halal dan haram, sebab kriteria itu sekarang menuntut perangkat penelitian yang berhajat pada iptek tadi. Halal-haram tidak lagi nampak di depan mata, ia menjadi absurd bagi mata telanjang dan indera manusia. Nah, saat seperti

ini dakwah perlu lebih menekankan pada lahan garap psikologi massa, penekanan ‘la rayba fih’ dalam ber-Islam, penanganan patologis, penanggulangan deviasi sosial. Konsep amar ma'ruf di sini tak lebih merupakan hanya tinggal fakta sejarah atau hal yang sudah menyejarah untuk dirujuk kembali saat diperlukan. Amar ma'ruf adalah fosil bagi nahi munkar.

Tetapi realitas yang akan membentuk sejarah adalah penanganan psikologis terhadap masyarakat modern. Mereka terasing secara psikis dan klinis, mereka tidak lagi membutuhkan janji-janji dan doktrin agama yang sudah dianggap biasa dan lagi pula kaku. Mereka mengharapkan siraman keagamaan yang mampu memberi terapi pada kedalaman jiwanya yang dihilangkan dan dikaburkan oleh hasil-hasil kemodernan. Mereka telah kehilangan "makna hidup", sehingga untuk membentuk masyarakat era gelombang ketiga (sebutan Toffler untuk masyarakat masa depan), "makna hidup" harus menjadi pondasinya. Bila demikian, berarti, bukankah agama harus pula menitikberatkan pada "makna hidup" agar kemanusiaan kembali terwujud? Dan bukankah ini mambutuhkan pendekatan keagamaan yang esoteris serta substantif?

Untuk menyentuh aspek tentang makna hidup itulah, maka peranan dakwah Islam harus dikembalikan pada proses pembumian segi-segi spiritualitasnya yang banyak menjanjikan kekayaan dan kebahagiaan batin secara sempurna. Otomatis ini menggiring kita pada pemaknaan yang paling essensial dari agama itu sendiri yakni konsepsi perennialisme keagamaan. Inilah yang perlu kita bahas sekarang di antara wacana gerakan modernisme dan spiritualitas.

C. KOLABORASI MODERNISME DAN TRADISIONALISME-SPIRITUAL