• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMIKIRAN ISLAM MEMASUKI ERA MILENIUM KETIGA

PASANG SURUT SEJARAH PEMIKIRAN DAKWAH ISLAM

B. PEMIKIRAN ISLAM MEMASUKI ERA MILENIUM KETIGA

Dengan latar belakang historis di atas, dan karena realitas sekarang dengan maraknya pemikiran Islam kontemporer yang kadang dianggap

"menyalahi" konsepsi jumhur dan ijma', maka penelusuran pemikiran modern yang tidak tercerabut dari akar khazanah intelektual klasik sangat diperlukan. Kehadiran intelektual seperti Mohammed Arkoun, Shorous, Nashr Abu Zaid, dan Hassan Hanafi di awal abad ke-15 H dan awal milenium ke-3 M sekarang ini, tampaknya memenuhi kebutuhan ini.

Abad ke-15 H dipenuhi dengan perbenturan peradaban Barat-Islam, globalisasi dan seterusnya. Sehingga sampai saat ini yang cukup kompatibel menyandang gelar mujaddid, dengan melihat skala pengaruhnya yang demikian luas nampaknya Prof. Dr. Fazlur Rahman (1340-1409 H/1919-1988 M) pantas diunggulkan lewat karya-karya monumentalnya: Islam (1979), The Philosophy oh Mulla Shadra (1975), Major Themes oh the Qoran (1980), Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition (1982), Islamic Methodology in History (1965) dan sebagainya.

Meliputi berbagai bidang sejak tafsir Qur'an, Hadits, Ilmu Kalam dan Filsafat, Tasawuf, konsep pendidikan Islam dan lain-lain. Namun untuk kedua yang terakhir nampaknya masih perlu mengadakan kajian secara lebih komprehensif. Selain itu ada nama besar seperti Yusuf al-Qardhawi dan Muhammad al-Ghazali. Sedangkan dalam konteks pemikiran spiritual, ada nama-nama Sayyed Hosein Nasr, Muhammad Isa Nurdin dan lain-lain.

Tetapi yang menonjol, walaupun pengaruh pemikirannya belum dibuktikan secara signifikan sampai saat ini, salah satunya adalah Prof. Dr. Mohammed Arkoun, ilmuwan dari Aljazair yang menetap dan menyuarakan pemikiran-pemikirannya yang atraktif, progresif serta bercorak rekonstruktif-dekonstruktif tentang Islam dari kota Sorbonne, Perancis. Arkoun merupakan dekonstruktor peradaban Islam dewasa ini, disamping Hassan Hanafi.

Kajian-kajian serius mengenai pemikiran keagamaan Mohammed Arkoun, apalagi dengan pemikiran dakwahnya, hingga kini tampaknya belum muncul. Memang telah ada beberapa tulisan terutama tentang pemikiran keagamaannya, akan tetapi tulisan-tulisan itu baru mengupas kulit luarnya dan terlalu beragam gambaran yang ditampilkan, bahkan bertentangan antara satu dengan lainnya, mengenai sosok pemikiran Arkoun.

Johan Hendrik Meuleman, dalam tulisan-tulisannya yang masih merupakan suatu "kajian awal" atau pengantar bagi buku-buku dan artikel Arkoun25 mengungkapkan berbagai informasi tentang kehidupan dan pribadinya beserta pokok-pokok pikiran keagamaannya. Meuleman juga mengungkapkan bahwa dalam memahami pemikiran keagamaan Arkoun, kita harus terlebih dahulu menyadari, bahwa dalam pemikiran Arkoun mengandung dua masalah utama: pertama, dari segi teoritis –di mana karya Arkoun sendiri bersifat sangat teoritis–, Arkoun memakai banyak istilah dan anggitan (penalaran) tanpa rumusan yang jelas atau dalam berbagai arti yang berbeda. Hal ini antara lain dikarenakan keanekaragaman sumber rujukan yang dipakai di samping karena latar belakang geografis kehidupan Arkoun, Aljazair dan Perancis yang sangat mempengaruhi bagaimana ia mengembangkan pemikiran keislamannya. Ini nampak misalnya, ketika Arkoun berupaya mendekonstruksi wacana klasik, baik korpus Kitab Suci maupun karya ulama terdahulu, banyak menggunakan ungkapan-ungkapan filsafat sebagai pisau bedah analisisnya.

Pemikir yang banyak mempengaruhinya misalnya, Michael Foucoult, Jaqkues Derrida, Paul Ricoeur, Northrop Frye dan lain-lain. Namun begitu Arkoun juga tidak tercerabut dari akar Islam, sebab kebanyakan tulisan Arkoun sendiri tampaknya memusatkan perhatian pada berbagai teks dari

25 Pengantar Meuleman dalam buku Mohammed Arkoun, Nalar Islami Nalar Modern: Berbagai Tantangan dan Jalan Baru, INIS Jakarta, 1994, hlm. 1-37, Berbagai Pembacaan Qur’an, INIS Jakarta, 1997, hlm. xi-xiv.

tokoh klasik yang besar: Miskawaih (pokok persoalan disertasinya), al-Hassan al-'Amiri, al-Syafi'i, al-Ghazali, al-Syatibi, at-Tabari dan sebagainya, atau juga beberapa tokoh kontemporer yang mewakili tradisi besar tertentu seperti pemikir Syi'ah al-Sayyid Husain Yusuf Makki al-'Amili dan tokoh Sunni, Abu Zahrah.

Kedua dan terpokok dan masalah terbesar, dalam karya Arkoun terkandung jarak pemikirannya yang sangat dipengaruhi berbagai perkembangan pemikiran dan ilmu pengetahuan mutakhir Barat, dan pemikiran umat Islam pada umumnya. Selain itu, kebanyakan tulisan Arkoun bersifat agak abstrak, atau menurut Karl Mannheim, terkesan sebagai pemikiran yang utopis. Salah satu akibat dari jarak pemikiran yang

"demikian jauh" itu, apalagi untuk muslim Indonesia yang jauh dari cafe Paris yang terkenal sebagai lahan subur munculnya filosof besar dunia, adalah kesulitan menerjemahkan karyanya ke dalam bahasa-bahasa utama umat Islam, termasuk bahasa Indonesia. Padahal terjemahan yang biasa saja oleh para intelektual dinyatakan sebagai "bohong" bagi terjemahan yang enak dibaca dan mudah dipahami –sebab pasti jauh "lari" dari teks asli, sintaksis aslinya diubah ke dalam bahasa Indonesia–, atau terjemahan itu "bodoh" sebab sangat dekat konteksnya dengan teks asli –di mana sintaksis asli dipertahankan, yang ini hampir tidak mungkin terdapat dalam terjemahan ke bahasa lain.26

Kesimpulan Meuleman terhadap pemikiran Arkoun adalah: terdapat banyak gagasan dan analisis yang sangat bermutu dan bisa bermanfaat, bersama karya pemikir dan ilmuwan lain, dalam usaha menciptakan suatu pemikiran Islami yang terbuka dan dinamis serta dapat menjadi sarana kemajuan umat Islam dan pembebasannya dari berbagai belenggu yang diciptakannya sendiri atau oleh orang lain. Hanya, supaya karya Arkoun dapat membawa hasilnya, perlu banyak usaha menjembatani jarak antara karyanya dan umat Islam pada umumnya, usaha berupa teks pengantar misalnya. Karya ini juga berupaya untuk mempersempit jarak tersebut dengan masyarakat muslim Indonesia, untuk merumuskan sebagian dari konstruk dakwah Islam di Indonesia.

Namun Luthfi Syaukani memiliki nada pesimis tentang pemikiran Arkoun. Luthfi menyebut bahwa Arkoun –bersama-sama pemikir Hassan

26 Dr. Nurcholish Madjid pada pengantar buku W. Montgomory Watt, Islam dan Peradaban Dunia Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1995, hlm. xii

Hanafi, Afghani, Iqbal, Maududi, Rahman, Shari'ati dan Nasr yang hadir di tanah air Indonesia– adalah fenomena. Mereka menjadi "besar" karena sikapnya yang radikal terhadap tradisi Islam. Mereka sangat kritis terhadap usaha-usaha tradisionalisasi Islam. Di tanah air Arkoun bersama Hanafi, seperti halnya pula pemikiran Soroush, Abu Zaid, Asghar Engeener, Ahmad Na’im, dan Mohammed Thoha sangat digandrungi oleh kaum muda yang justru akan membawa efek negatif berupa pemujaan dan menelan pemikirannya bulat-bulat. Sehingga Luthfi menganggap jika itu terjadi maka upaya Arkoun justru digagalkan oleh pengikutnya. Dan bagi Luthfi, "Hanafi dan Arkoun akan berlalu, meninggalkan kesan atau tidak, memberikan pengaruh atau tidak." Sikap Luthfi ini nampak semata dilandasi keinginannya agar umat Islam Indonesia tidak terjatuh dalam kebingungan berlarut-larut menyikapi dua pemikir yang penuh kontroversi itu.

Terlepas dari pro dan kontra itu, Arkoun sendiri berpendapat tentang masa depan pemikirannya di Indonesia:

"Sebenarnya saya yakin bahwa masyarakat Indonesia kontemporer lebih dapat menerima pemikiran Islami yang kritis, pembaru, berkembang dibandingkan dengan banyak masyarakat Islam lainnya yang terlalu didominasi oleh mendesaknya perjuangan politik.

Tujuan yang ingin dicapai bagaimanapun, adalah pemersatuan berbagai kemampuan besar yang berdaya cipta dari generasi-generasi muda yang sudah kita lihat dinamisme dan jumlahnya di seluruh lingkungan muslim kontemporer."27

Berangkat dari pernyataan Arkoun tersebut, maka kita harus merasa optimis dan bersemangat tentang masa depan pemikiran Islam, terutama di Indonesia sebagaimana prediksi Arkoun itu. Apalagi dari sudut pandang (perspektif) materi dakwah, Arkoun dan para tokoh dekonstruktor yang disebutkan di atas, bisa disebut sebagai pelopor dan penarik gerbong usaha-usaha rekonstruksi dan dekonstruksi dalam berbagai wacana pemikiran dakwah Islam. Tentu ini sangatlah penting untuk diteliti secara mendalam. Sebab untuk menyongsong gerakan umat Islam di masa mendatang, umat Islam tidak hanya membutuhkan konstruk pemikiran yang sekedar modern, namun harus lebih dari itu yang umumnya disebut

27 Pengantar Arkoun untuk edisi terjemahan Indonesia, buku Nalar Islami Nalar Modern, hlm. 41.

sebagai pemikiran alternatif, pemikiran kontemporer, atau juga pemikiran mutakhir. Di sinilah Mohammed Arkoun memantapkan garis pendiriannya.

Sebagai seorang intelektual –atau sebutan lain menurut Dr. Mukti Ali, seorang guru–, Arkoun tidak peduli apakah gagasan-gagasannya itu diterima atau tidak, dianggap sesuai atau tidak untuk masanya, disetujui atau tidak. Yang penting ia melontarkan pendapat dan teguh, kokoh berpegang pada pendapatnya itu. Sebab mungkin walau untuk masanya belum sesuai, maka hal yang dilontarkan itu akan memiliki urgensi paradigmatik bagi masa berikutnya. Kewajiban seorang guru adalah selalu menambah ilmu, sehingga ia harus berani berbuat sesuai dengan ilmunya sekalipun berbeda dengan kemauan banyak orang. Seorang guru dengan ilmunya berani mengatakan sesuatu sekalipun perkataannya itu tidak dimengerti orang. Ilmulah yang menjadi tujuan, bukan orang.28

Perbedaan sudut pemikiran dan pemahaman memang tidak bisa dihindarkan dengan pangkal tolak bahwa Islam merupakan sistem atau jalan hidup yang lengkap serta memiliki proporsi seimbang antara nilai-nilai dan prinsip-prinsipnya, dan dalam tataran realitas sosial ia memiliki garis sekularisme (secularism-ridden)29, yang menjadi landasan perkembangan dunia muslim pada masa-masa berikutnya.

Jadi, justru dikarenakan Islam merupakan sistem syar'i yang lengkap itu, maka ia membuka diri pada berbagai wacana pemikiran untuk mewujudkan kesempurnaan sistem yang dijanjikan tersebut. Dari sini dapat dipahami asumsi bahwa Islam adalah agama yang dari sisi universal bersifat hanif. Sedangkan secara partikular, ia merupakan agama ishlah: yakni suatu tatanan yang selalu menuntut perbaikan dalam sikap maupun pertumbuhan. Ini berarti secara kultural dan historis, ia harus selalu selalu bersifat reformatif, tidak boleh berhenti. Di sini dibutuhkan inovasi-inovasi dan kreatifitas pemikiran yang selalu makin meningkat dalam rangka menciptakan cita-cita peradaban Islam yang hegemonik. Dan inilah tugas besar pemikiran Dakwah Islam pada era millenium ketiga dewasa ini,

28 Bandingkan dengan Dr. Mukti Ali, dalam kata sambutan untuk buku Prof.

Dr. Nourouzzaman Shidiqi, Fiqh Indonesia; Pengagas dan Gagasannya, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Juni 1997, hlm. vii-x; juga dalam buku Alam Pikiran Modern di Indonesia, Yayasan Nida, Yogyakarta, 1971, bab terakhir.

29 Khursid Ahmad (Edt.), Studies in Islamic Economics, The Islamic Foundation, UK, 1981, hlm. xiii.

sebagai era "milik" para dekonstruktor keagamaan seperti Prof. Dr.

Mohammed Arkoun, Hassan Hanafi, Nashr Abu Zaid, dan sejenisnya.❑

4

ORIENTASI PEMIKIRAN PEMBARUAN ISLAM