• Tidak ada hasil yang ditemukan

ORIENTASI PEMBERDAYAAN EKONOMI UMAT DALAM DAKWAH

A. DAKWAH DAN KESENJANGAN SOSIAL-EKONOMI UMAT

Dalam al-Qur'an konsepsi dakwah menjadi tema sentral konteks perubahan sosial masyarakat. Jika kita mengambil pelajaran dari kisah-kisah dakwah, sangat jelas bahwa gerakan dakwah yang dilancarkan oleh individu-individu yang tangguh akan mampu menghasilkan perubahan tingkat sosial masyarakat yang ideal.

Misalnya kasus pemuda ash-hab al-kahfì, ketika melancarkan gerakan dakwah kemudian ditolak raja Romanus dan karena intimidasi yang sangat kuat, maka terpaksa mereka melarikan diri ke hutan dan bersembunyi di dalam sebuah gua. Ratusan tahun kemudian, ketika mereka dibangkitkan, mereka menemukan bahwa masyarakat yang ada sekarang adalah masyarakat pada tingkat kondisi ideal sebagaimana diserukan mereka ratusan tahun yang lalu.

Kisah Nabi Ibrahim tidak berbeda jauh. Yang mereka serukan justru pada saat seruan datang akan menemukan tantangan yang cukup berat.

Ibrahim disiksa, dikucilkan dan dilempari karena seruan dakwahnya.

Namun ratusan bahkan ribuan tahun kemudian seruan agama tauhid Ibrahim dijadikan panutan tiga agama besar di dunia yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam. Beliau sendiri diberi gelar bapak monoteisme dan bapak rohani dunia.

Itu semua menunjukan bahwa suatu proses merekayasa kondisi sosial masyarakat tidak bisa langsung jadi begitu dimulai, namun harus menunggu proses panjang dan lama. Di sinilah letak relevansinya jihad dalam berdakwah. Dan jihad yang paling menuntut pengorbanan besar saat ini adalah upaya meningkatkan kemampuan sektor finansial umat

Islam atau dikenal dengan upaya pemberdayaan ekonomi umat.1 Pertama, kesenjangan sosial yang berawal dari kecemburuan ekonomi yang hanya terpusat pada kelompok terbatas, rakyat umum sebagai korban "sapi perah" kapitalisme ala Indonesia yang kolutif dan koruptif. Kedua, kefakiran ekonomi bisa membawa penganut agama menjadi kafir. Ketiga, dakwah akan bisa berjalan secara mapan apabila ekonomi telah terjamin. Keempat, gerakan pemberdayaan ekonomi kerakyatan lebih bermanfaat daripada hanya bersandar pada kebijakan pemerintah.

B. UPAYA TINGKAT NEGARA

Pada tingkat negara ada dua langkah yang diprioritaskan. Pertama, mengikis kecenderungan korupsi. Langkah ini tidak seçara langsung memiliki keterkaitan dengan pemberdayaan ekonomi umat Islam, akan tetapi umat ini mayoritas dan para pemegang tampuk pemerintahan nota bene muslim, maka hal ini menjadi sangat penting. Dan yang perlu diingat saat ini posisi hutang negara kita berada di atas ambang psikologis. Kedua, menyusul upaya pemberantasan korupsi serta upaya perbaikan ekonomi, ternyata upaya-upaya tersebut belum mampu menempatkan kembali kekuatan mata uang rupiah terhadap sistem keuangan dunia, bahkan menunjukkan indikasi semakin terpuruk.

Ulama yang terlembaga dalam kesatuan MUI, MDI dan lain-lain perlu merekomendasikan pada pemerintah beberapa upaya antisipasi yang perlu diusahakan bersama yakni:2

1) Kebijakan ekonomi harus mengacu ke masa depan untuk menciptakan struktur ekonomi yang kokoh.

2) Mempersiapkan diri dengan memperkokoh mental guna menghadapi krisis yang muncul setiap saat dengan menggenjot produktifitas dan efisiensi yang selama ini rendah, serta mempertajam peningkatan ekspor non-migas yang selama ìni cenderung lambat.

3) Dalam ekonomi global bangsa Indonesia dituntut mampu meningkatkan daya saing yang beberapa waktu lalu disorot nomor dua terendah di dunia. Daya saing tinggi itu guna

1 Muhammad Sholikhin, “Menggagas Orientasi Pemikiran Pembaruan Islam Era Generasi Kedua”, Artikel Tabloid AMANAT, edisi LXII/Desember 1995.

2 Ibid.

mangasilkan produk dan jasa yang juga mampu bersaing tidak saja secara domestik, tapi juga internasional.

4) Selama ini, struktur industri nasional sangat rapuh, di mana kita masih sangat tergantung pada impor negara industri maju.

Implikasi negatifnya adalah makin besarnya defisit transaksi berjalan, sementara perolehan devisa menurun. Untuk ini diperlukan langkah jangka pendek dalam bentuk penghapusan bagi eksportir seperti perijinan, kemudian mendapatkan kembali pembayaran pajak, dan kemudian administratif lain.

Dalam hal ini, sebelum krisis kemarin terjadi kita telah salah langah di mana peningkatan ekspor dalam jangka pendek diperlukan dengan mendepresiasi rupiah.

Sedang dalam jangka menengah dan panjang kebijaksanaan dalam mendukung transformasi industri dalam rangka menghasilkan produk yang berkualitas harus dilakukan. Ini hanya dapat dicapai dengan meningkatkan SDM dan penguasaan teknologi menengah dan tinggi. Dan dapat diwujudkan dalam bentuk penguasaan keterampilan pekerja untuk meningkatkan produktìfitas dengan pemanfaatan teknologi canggih. Di sinilah kerja sama pemerintah dengan swasta serta kesadaran masyarakat luas diperlukan.

Pada tataran-tataran ini pengusaha muslim memiliki peluang besar berpartisipasi penuh mengatasi krisis perekonomian.

C. TINGKAT INTERN UMAT ISLAM

Sedang pada tingkat umat Islam secara umum diperlukan langkah-langkah menyangkut masalah pemberdayaan ekonomi rakyat, antara lain peningkatan etos kerja dan SDM umat, menyusun kurikulum pendidikan yang berorientasi kerja di samping peningkatan intelektualitas, peningkatan sarana teknologi tepat guna untuk lingkungan lembaga pendidikan Islam seperti pesantren dan lain-lain.

Langkah utama adalah peningkatan penggalakan zakat, infaq, dan shadaqah. Langkah ini lebih baik tidak dikelola oleh negara secara langsung, biarlah ditangani oleh lembaga-lembaga keislaman yang terpercaya (independen), dengan alasan:

1) Kepercayaan masyarakat pada BAZ (Badan Amil Zakat) bentukan pemerintah luntur karena sebab-sebab antara lain: tidak pernah

adanya laporan (neraca akhir tahun) secara transparan di muka umum dan tentang penggunaan dana telah ada ketetapan Pemda bahwa sejak tingkat RT sampai lembaga tingkat Propinsi mendapatkan komisi dalam prosentase yang cukup besar.

Padahal dalam agama memang Amil mendapatkan jatah, akan tetapi yang utama adalah penanganan fakir miskin dan kaum papa yang lain:

2) Kecenderungan korupsi, manipulasi dan kolusi masih sangat besar, sehingga masyarakat khawatir dana ZIS (zakat, infaq, shadaqah) justru malah akan terkorupsi tanpa ketahuan jluntrungan-nya (kejelasan arah distribusi, dll.).

3) ZIS merupakan dana umat maka pengelolaannya pun diserahkan pada lembaga milik umat sendiri.

Dalam hal ini upaya-upaya seperti yang dilakukan oleh dompet Dhu'afa Republika misalnya, harus didukung secara penuh. Sebab pentasarufan (penyaluran) dana ZIS sangat jelas, sementara dana tersebut digunakan bukan dengan begitu saja diberikan. Namun disertai dengan pembinaan sektor skill dan diupayakan ada pengembalian modal setelah memperoleh keuntungan pada jangka waktu tertentu.

Demikian upaya beberapa LAZ (Lembaga Amil Zakat) yang juga memiliki kejelasan penggunaan dana, yakni pengentasan kemiskinan intelektual umat melalui penerbitan buku-buku bermutu dan pendirian berbagai lembaga pendidikan dengan kualitas internasional. Dalam rangka upaya pemberdayaan lain, seharusnya para alim ulama, muballigh atau khatib mempelopori bergabung dengan bank dengan sistem syariah. Bukan sekedar berceramah namun juga ikut berpartisipasi, memberikan kesadaran bahwa umat Islam telah memiliki bank tersendiri, yang sesuai dengan syariat.

Dalam wacana praktis tingkat pedesaan, hendaknya para takmir masjid juga mengelola keuangannya dalam manajemen yang rapi dan terencana secara profesional. Misalnya uang takmir yang terkumpul dari infaq Jum'at, dari para donatur tetap masjid dan dari sumber yang lain seperti ZIS, diinventarisir secara sistematis dan jelas. Kemudian mengalokasikan dana khusus untuk dikembangkan sekaligus mengangkat kemiskinan di sekitar lingkungan masjid.

Secara sederhana, para takmir bisa bekerja sama dengan pedagang kecil di sekitar masjid, atau penduduk sekitar yang berminat pada dunia bisnis walaupun secara kecil-kecilan, masjid memberikan modal dari pengumpulan uang tadi, lalu di atas kertas diterangkan perjanjian kerjasama dengan sistem bagi hasil.

Kita harus menyadarkan masyarakat muslim tentang potensi dan kekuatan ekonominya. Kalau bisa mendikte produsen, bahkan kalau memang bisa mengapa tidak menjadi produsen sekalian saja dengan memenuhi kriteria syariatnya? Sebenarnya potensi pasar ada di pihak kita.

Kalau potensi pasar di pihak muslim, tetapi produsennya non muslim, itu menimbulkan suatu pertanyan mendasar. Apa hal ini tidak berarti membuang kesempatan untuk pengusaha muslim? Tetapi memang untuk menyadarkan hal ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Kalaupun kesadaran ini belum ada, itulah bagian dari tantangan kita untuk berdakwah memberdayakan ekonomi umat kita yang mayoritas dalam kuantitas ini, namun kualitasnya tetap under-ground. Oleh minoritas, kita tetap tertinggal, dan oleh karenanya tertindas. Wallahu a'lam.❑

7

STRATEGI UMAT ISLAM MEMBENTUK