KEMAS ANWAR BECK : BERKARYA DALAM MENGABDI
C. Dari Lahat ke Palembang
Kemas Anwar Beck yang dalam kehidupan sehari-hari dikenal dengan Yaii Beck lahir dan dibesarkan di desa Talang Padang yang sekarang menjadi bagian dari Kabupaten Empat Lawang. Kabupaten Empat Lawang merupakan Kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Lahat yang dibentuk dengan Undang-undang (UU) No 1 tahun 2007 Tentang Pembentukan Daerah Tingkat II Kabupaten.
Pasar Talang Padang tempat Yaii Beck dilahirkan merupakan bagian dari Kabupaten Lahat yang berjarak sekitar 30 Km dari Tebing Tinggi dan sekarang telah menjadi IbuKota Kecamatan Talang Padang. Luas daerah Talang Padang adalah 140,90 Km2. Berdasarkan data tahun 2009, jumlah penduduk di daerah ini 10.569 Jiwa.
Sebagian besar masyarakat penghuninya adalah Melayu Palembang Gambar 6. Yaii dan band pengiring ketika tampil pada malam inagurasi
APDN.(Sumber: Repro Koleksi Album Kemas Anwar Back, BA)
Gambar 7. Ijazah Akademi Pemerintahan Dalam Negeri atas nama Kms. Anwar Beck, yang dikeluarkan tahun 1974 (Sumber: Dok.
Pribadi)
(50 %), Komunitas China selebihnya baru masyarakat pendatang.
Mata pencaharian penduduk sempat adalah petani dan pedagang.
Komoditas perdagangan waktu itu adalah manisan, kopi dan karet.
Pergolakan PRRI sekitar tahun 1958 berimbas pada daerah kampung halaman Yaii Beck yang memaksa Yaii dan keluarga pindah ke Lahat. Kabupaten Lahat terletak antara 3’250 – 4’150 Lintang Selatan, 102’370 – 103’450 Bujur Timur, dengan luas wilayah 4.361, 83 Km2. Batas wilayah Kabupaten Lahat, Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Muara Enim dan Musi Rawas, Sebelah Selatan Berbatasan dengan Kota Pagar Alam, Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Bengkulu Selatan Propinsi Bengkulu, Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Empat Lawang, Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Empat Lawang.
Pada awalnya Kabupaten ini hanya terdiri dari 7 kecamatan induk yaitu Lahat, Kikim, Kota Agung, Jarai, Tanjung Sakti, Pulau Pinang, dan Merapi. Namun pasca pemekaran, jumlah Kecamatan di Kabupaten Lahat bertambah menjadi 22 kecamatan.
Memenuhi keinginan orangtua yang berharap anaknya menjadi pegawai, Yaii Beck melanjutkan pendidikan di Kota Palembang. Setelah tamat dari APDN, Yaii tidak lagi kembali ke Lahat, tetapi menetap di Kota Palembang tempat asal-usul keluarga dan bekerja di Kantor Camat Seberang Ulu I Palembang. Jabatan pertama yang diampu oleh Yaii setamat dari APDN, tempat Yaii belajar tentang jadi pelayan public yang baik adalah sebagai staf bagian kesejahteraan rakyat (kesra).
Pada waktu mencari nafkah di Palembang, Yaii menumpang di rumah kakak seayah di Tiga Ulu Laut (Mgs Nungcik Habib). Kemudian Yaii menyewa rumah di Tiga Ulu, di Kampung Lima Ulu. Seterusnya Yaii membeli rumah di Kampung Kemang Manis Palembang. Tahun 1988 rumah tersebut dijual Yaii membeli tanah dan membangun rumah di RT 11 Kelurahan Bukit Lama Palembang, tempat tinggal Yaii sekarang.
Kota Palembang merupakan ibuKota dari Provinsi Sumatera Selatan dan saat ini merupakan salah satu Kota besar di Indonesia.
Kota Palembang terletak antara 2°52’ LS sampai 3°5’ LS dan 104°37’
sampai 104°52’ BT dengan ketinggian rata-rata 8 meter dari permukaan laut. Pada tahun 2007 Kota Palembang dibagi 16 kecamatan dan 107 kelurahan. Adapun nama-nama kecamatannya adalah; Kecamatan Ilir Barat I, Kecamatan Ilir Barat II, Kecamatan Ilir Timur I, Kecamatan Ilir Timur II, Kecamatan seberang Ulu I, Kecamatan Seberang Ulu II, Kecamatan Sukaramai, Kecamatan Gandus, Kecamatan Kertapati, Kecamatan Bukit Kecil, Kecamatan Kemuning, Kecamatan Plaju, Kecamatan Kalidomi dan Kecamatan Sako.
Selain masyarakat yang heterogen, Kota Palembang juga memiliki salah satu jenis tekstil terbaik di dunia yaitu kain songket.
Kain songket Palembang merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan di antara keluarga kain tenun tangan kain ini sering disebut sebagai Ratunya Kain. Hingga saat ini kain songket masih dibuat dengan cara ditenun secara manual dengan alat tenun tradisional. Selain kain songket, masyarakat Palembang juga giat mengembangkan jenis tekstil baru yang disebut batik Palembang.
Berbeda dengan batik Jawa, batik Palembang nampak lebih ceria karena menggunakan warna - warna terang dan masih mempertahankan motif - motif tradisional setempat. Kota Palembang juga selalu mengadakan berbagai festival setiap tahunnya antara lain Festival Sriwijayadi bulan Juni dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Palembang, Festival Bidar dan Perahu Hias merayakan
Gambar 8. Jalur lalu lintas di sekitar pemukiman tempat Yaii dan keluarga tinggal (Sumber:
Dok. Pribadi)
Hari Kemerdekaan, serta berbagai festival memperingati Tahun Baru Hijriah, Bulan Ramadhan dan Tahun Baru Masehi.
Masyarakat yang heterogen juga diiringi dengan pertumbuhan berbagai kesenian, daerah diantaranya :
1. Kesenian Dul Muluk (pentas drama tradisional khas Palembang)
Teater Dulmuluk yang hidup di Palembang berkembang dari tradisi pembacaan kisah petualangan Abdul Muluk oleh Wan Bakar, seorang pedagang keturunan Arab. Lama kelamaan pembacaan kisah tentang Abdul Muluk tersebut disertai peragaan oleh beberapa orang ditambah iringan musik. Pertunjukan Dulmuluk sempat berada di puncak kejayaannya pada era 1960-an dan 1970-an. Ketika itu terdapat puluhan kelompok teater Dulmuluk. Pertunjukan Dulmuluk menjadi tontonan ’wajib’ untuk mengisi berbagai acara seperti perkawinan, khitanan, syukuran saat pertama mencukur rambut bayi atau untuk menyambut kelahiran seorang bayi.
2. Wayang orang, wayang kulit, wayang colek, dan ketoprak 3. Lenggang Palembang dan bangsawan
4. Tari-tarian seperti Gending Sriwijaya yang diadakan sebagai penyambutan kepada tamu-tamu dan tari Tanggai yang diperagakan dalam resepsi pernikahan
5. Syarofal Anam adalah kesenian Islami yang dibawa oleh para saudagar Arab dulu, dan menjadi terkenal di Palembang oleh KH. M Akib, Ki Kemas H. Umar dan S.
Abdullah bin Alwi Jamalullail
6. Lagu Daerah seperti Melati Karangan, Dek Sangke, Cuk Mak Ilang, Dirut dan Ribang Kemambang.
Masyarakat Palembang pada umumnya mempunyai mata pencaharian berdagang. Akan tetapi karena, Kepulauan Sumatera sangat kaya dengan hasil buminya seperti kelapa sawit, tembaga, batubara,timah, bauksit dll. Maka selain berdagang mata pencahariaan masyarakat Palembang juga menjadi pekerja tambang.
Dalam berbagai definisi Kota Palembang tercakup unsur keluasan
wilayah, kepadatan penduduk yang bersifat heterogen dan bermata pencaharian non pertanian.
Walaupun tinggal di Kota dengan kebudayaan yang sangat heterogen, tidak menyurutkan niat Yaii untuk berkecimpung dan mengembangkan kebudayaan tradisional Sumatera Selatan khususnya lagu daerah dan seni tari. Hal ini terbukti dengan sangat padatnya jadwal yang dimiliki oleh suami dari Nyai Zawiyah ini mulai dari mengisi acara perkawinan sampai mengisi rubrik seni dan budaya pada siaran Pro 4 RRI Stasiun Palembang.