• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perjalanan Hidup Muhammad Rasyid

Kehidupan keluarga Muhammad Rasyid serba kekurangan hal ini terbukti dari seringanya orang tuanya untuk pindah mencari kehidupan untuk keluarga. Sejak bayi sampai dengan usia ku 5 tahun, beliau tinggal dan dibesarkan di Desa Nanjungan. Setelah itu orang tuanya pindah mencari kehidupan di Kecamatan Talang Ubi, dekat Benakat Minyak, tepatnya Desa Pintu Baru. Di Desa Pintu Baru ini orang tuanya menggarap kebun jeruk, pisang dan juga berladang.

Perpindahan tempat tinggal tidak menghalang keingginan dari Muhammad Rasyid untuk bersekolah. Di Desa Pintu Baru inilah dia mengenal pendidikan untuk pertama kali yaitu menjadi siswa di Sekolah Dasar di kawasan ini. Sulit kehidupan dan kebijakan pemerintah menyebabkan mereka tidak bisa bermukim lebih lama di Desa Pintu Baru, karena tentara mengusur seluruh masyarakat yang ada di kawasani ini. Kondisi ini menyebabkan Muhammad Rasyid sekeluarga harus kembali ke desa Nanjung dan penduduk lainnya terpaksa kami kembali lagi ke desa mereka masing-masing.

Pengusuran yang dilakukan oleh aparat pemerintah mengakibatnya Muhammad Rasyid hanya sekolah di Desa Pintu Baru sampai kelas III SD dan meneruskan sekolah di Desa Nanjung tepatnya di SD Gedung Agung. Saat itu sekolah yang dimasuki oleh Muhammad Rasyid adalah sebuah sekolah baru yang masih sangat terbatas dari sarana dan prasaran. Kondisi ini tidak menghalangi Muhammad Rasyid Untuk Sekolah dan tamat pada tahun 1966.

Sekolah di SD Gedung Agung merupakan masa-masa yang memberikan pengalaman terhadap Muhammad Rasyid sehingga sampai saat ini masih teringat oleh beliau yang menjadi kepala sekolah di SD tersebut adalah Ahmad Nawawi dari Lahat.

Kehidupan Muhammad Rasyid ketika waktu kecil, sama dengan anak seusia beliau yang lebih banyak menghabiskan waktu di bermain dan membantu orang tua di kebun atau ladang sehabis pulang sekolah. Di sore hari bersama teman-teman pergi ke sungai untuk mandi-mandi, ketika sang dewi malam telah menyelimuti bumi mereka bersama-sama untuk pergi ke mushalla untuk belajar membaca Al Qur’an yang dibimbing oleh seorang ustad yang merupakan paman dari Muhammad Rasyid.Sejak SD Muhammad Rasyid senang pelajaran melukis dan menyanyi. Kalau ada tamu sekolah, Muhammad Rasyid disuruh guru menyanyi. Pada upacara bendera sering disuruh guru ku memimpin lagu Indonesia Raya. Di SD inilah bakat dan jiwa seni mulai tumbuh dan berkembang dalam jiwa Muhammad Rasyid.

Ketika masih kecil Muhammad Rasyid terkenal paling penjijik, tidak suka dengan bau karet/balam dan lain-lain. Kalau Muhammad

Rasyid melihat kotoran hewan, apalagi manusia di pinggir jalan pastilah Muhammad Rasyid tak henti-hentinya membuang ludah terus menerus sampai-sampai sering ditegur orang tua. Sifat ku terbawa sampai dewasa bahkan tua ku.Muhammad Rasyid paling tidak suka di kamar mandi melihat pakaian yang digantung terutama pakaian dalam, handuk dan lain-lain.

Setamat pendidikan dari Sekolah Dasar 1966, Muhammad Rasyid melanjutkan pendidikan SMP di Muara Enim. Tinggal jauh dari orang tua memberikan penggalaman yang sangat besar terhadap kehidupan Muhammad Rasyid dimasa depan. Bagaimana suka duka yang beliau hadapi ketika tinggal jauh dari orang tua dijelaskan sangat baik oleh Muhammad Rasyid dalam buku harian. Oleh orang tua Muhammad Rasyid dititipkan pada keluarga Bapak Majenang/Pandi di Kemayoran, karena masih satu daerah dengan orang tua. Di rumah Majenang/Pandi hanya 8 bulan, kemudian pindah ke rumah Ayuk (kakak) di Tanjung Periuk. Karena waktu itu ayuk dan suaminya berjualan beras di Los Pasar Pagi.

Tahun 1978, Muhammad Rasyid pindah kos ke Kemayoran di Perumahan Kehutanan. 1979 kelas III saya pindah lagi ke Tungkal, menyewa satu kamar rumah Yais Kafi orang tua ibu Fadilah Dahlan.

Di sini Muhammad Rasyid betahan sampai 4 tahun. Tahun 1969, Muhammad Rasyid tamat dari SMP Muara Enim. Pengalaman tinggal jauh dari orang tua dan selalu berpindah rumah kos memberikan pelajaran untuk hidup mandiri dan berusaha tabah menghadapi segala kekurangan yang dihadapi. Hal itu memberi pengaruh terhadap kemampuan Muhammad Rasyid dalam menghadapi hidup dimasa depan.

Masa Remaja Dan Cita-Cita

Pergulatan dalam memilih jalan hidup yang harus ditempuh mulai terasa ketika lulus SMP, Muhammad Rasyid binggung mau meneruskan ke mana. Pada satu sisi Muhammad Rasyid inginnya sekolah di Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA),sisi yang lain juga ingin ke SMT di Palembang, juga ada yang menyarankan ke SHD

(Sekolah Hakim Djaksa) di Padang. Tapi keinginan itu tidak pernah terungkap kepada orang tua ku. Sebab disadari ekonomi keluarga saat itu sangat sulit, jadi Muhammad Rasyid akan membebani orang tua kalau semua impian dan cita-cita disampaikan ke orang tua.

Kesulitan ekonomi dan kondisi orang tua tidak menghentikan keingginan untuk sekolah dan meriah cita-cita,entah informasi dari mana dan siapa, tau-tau Muhammad Rasyid mendaftarkan diri Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Swasta di Muara Enim.Tahun 1970, resmi Muhammad Rasyid sekolah di SPG. Saat itu Muhammad Rasyid belum tahu bahwa kalau lulus SPG nanti akan jadi guru, yang penting Muhammad Rasyid sekolah dulu. Menjadi guru sesungguhnya bukanlah satu-satunya cita-cita ku. Tapi waktu Muhammad Rasyid kelas VI SD memang pernah terbersit satu keinginan di hati kecil ku ingin mengajar anak-anak karena waktu itu SD ku kekurangan guru.

SPG memberikan peluang yang lebih besar bagi Muhammad Rasyid untuk mengembangkan jiwa seninya. Hal ini dibuktikan ketika di SPG bakat menyanyi terus berkembang dan saat peringatan 17 Agustus 1970, dia mengikuti festival menyanyi dan menjadi utusan sekolah. Pada lomba tersebut dia berhasil sebagai juara ke II. Inilah raihan pertama yang berhasil beliau toreh sebagai seorang seniman.

Dua tahun berikutnya masih ikut aktif dan setiap kegiatan 17-an dan iven lainnya sering tampil menyanyi. Setiap iven yang diikuti jarang tidak berhasil, meskipun waktu itu untuk tempat-tempat latihan dan sarana sangat kurang bahkan tidak ada.

Semasa di SPG beliau pernah punya keinginan untuk menjadi seorang penyanyi, pemain drama atau pun bintang film, tapi itu hanya sebuah mimpi. Disamping dibidang seni Muhammad Rasyid aktif dalam kegiatan olahraga seperti basket dan kesukaannya adalah olahraga lari.Masa remaja penuh dengan keinginan dan hayalan karena keadaan keluarga yang serba kekurangan. Muhammad Rasyid sadari keadaan orang tuanya waktu itu, sehingga Muhammad Rasyid hanya bisa berhayal ingin punya pakaian yang banyak dan bagus-bagus. Ingin punya rumah bagus lengkap perabotnya seperti teman-temannya yang lain.