• Tidak ada hasil yang ditemukan

DUL MULUK DAN WAK “PET”

WAK PET: SANG AKTOR PENGAWAL TEATER TRADISI

DUL MULUK DAN WAK “PET”

Pada tahun 1961 sebagai seorang pemain Dul Muluk, saat berumur 18 tahun menikahi seorang gadis pilihannya yang berumur 16 tahun. Dari pernikahan ini Wak Pet memiliki anak 3 orang yang bernama Kurnia, Ahmad Junaidi, dan Anita. Tak lama setelah melahirkan anak ketiga, istri Wak Pet meninggal dunia.

Kehilangan istri tidak membuat Wak Pet patah semangat, justru semakin melarutkan dirinya dalam dunia Dul Muluk. Kesibukan untuk memenuhi permintaan untuk tampil di berbagai daerah mampu menghilangkan kesedihannya ditinggal istri tercinta.

Dalam kesibukan sebagai pemain utama di Dul Muluk, Wak Pet selalu tampil sebagai pemeran utama yaitu raja, pangeran, penyamun, dan peran lainnya. Selama manggung, Wak Pet sering bertemu dengan seorang biduanita yang sering dipanggil Amoi. Amoi sering membawakan lagu-lagu dangdut atau lainnya sebagai hiburan sebelum pertunjukan Dul Muluk ditampilkan. Setiap Wak Pet tampil di berbagai tempat, Amoi juga tampil sebagai penghibur. Wak Pet penasaran dan mulai mendekati Amoi dan menawarkan untuk ikut sebagai pemain Dul Muluk maupun Bangsawan. Awalnya Amoi menolak karena tidak memiliki keahlian dalam bidang teater terlebih lagi sudah gabung dengan grup musik Pertamina ketika itu. Wak Pet tidak mau kalah, pada kesempatan lain saat pertunjukan berikutnya, Amoi kembali dibujuk untuk gabung dan akhirnya Amoi mau untuk sekedar pemain figuran. Melihat ini, Wak Pet bersemangat dan memotivasi Amoi untuk belajar akting dan naskah cerita yang sering mereka tampilkan. Ketika itu Wak Pet tidak hanya tergabung sebagai pemain Dul Muluk tetapi juga sebagai pemain Bangsawan. Setelah dianggap mampu, akhirnya Wak Pet menawarkan peran utama untuk Amoi dalam cerita berjudul “Dimadu”. Tawaran tersebut diterima oleh Amoi sehingga Wak Pet dan Amoi satu panggung sebagai pemeran utama. Cerita Dimadu ini menjadi awal hubungan pribadi Wak Pet dengan Amoi dan sangat berkesan bagi Wak Pet. Setiap ada

Gambar 5. Wak Pet Ketika Wisuda Sarjana Putrinya (Sumber: Wak Pet)

pertunjukan Bangsawan, Wak Pet dan Amoi menjadi pemeran utama dengan berbagai lakon yang harus mereka mainkan.

Pertemuan yang intens tersebut menumbuhkan rasa saling suka bagi Wak Pet dan Amoi. Akhirnya Wak Pet memberanikan diri untuk melamar Amoi yang bernama asli Anisa tersebut. Dari pernikahan keduanya ini Wak Pet mendapat anak 7 orang anak hingga akhirnya memiliki anak 10 orang dan saat ini sudah memiliki cucu 18 orang. Anak-anak Wak Pet dari istri kedua tersebut bernama Ratna Kumala Dewi (sudah meninggal), Yanto, Iskandar, Marini, Maisaro, Yuniwati, dan Muhammad Syahwani.

Dari kesepuluh anak Wak Pet ada tiga orang yang mewarisi bakat orang tuanya yaitu Muhammad Syahwani, Maisaro, dan Marini. Mereka selalu ditawari untuk tampil di grup Bangsawan.

Setelah Maisaro dan Marini menikah dan memiliki anak, pekerjaan tersebut ditinggalkan dan fokus mengurus keluarga. Sedangkan Muhammad Syahwani terlibat di dunia teater dan menjadi anggota dari salah satu grup Bangsawan dan komedi yang tampil di hotel-hotel di Palembang.

Gambar 6. Pernikahan Putri Wak Pet (Sumber: Wak Pet)

Setelah Amoi menikah dengan Wak Pet, mereka berdua sering tampil bersama ke berbagai daerah seperti Prabumulih dan Muaraenim. Ketika mereka akan tampil, karcis selalu terjual habis karena banyaknya penonton.

Dalam perjalanannya sebagai pemain Dul Muluk, Wak Pet untuk pertama kali mendirikan grup Dul Muluk yang diberi nama Sinar Palembang dengan personel 32 orang yang merupakan teman-temannya di 14 Ulu. Grup ini tidak berjalan lama dan harus bubar karena para pemainnya ada yang pindah rumah, ada yang meninggal dunia, dan ada yang juga yang takut dimarahi istrinya karena ikut main di Dul Muluk.

Gambar 7. Wak Pet dan Ketiga anaknya pewaris seni teater (sumber:

Wak Pet)

Gambar 8. Para Pemain Dul Muluk Pada Tahun 1970-an (Sumber: Wak Pet)

Lalu Wak Pet dengan beberapa teman sesama pemain Dul Muluk membentuk grup baru yang diberi nama Tunas Muda yang dipimpin oleh Atmo. Sekretariat grup berada di Jalan Banten Seberang Ulu. Wak Pet meminta Zakariah dan Ardjo Kamaluddin35 untuk melatih mereka. Tiga tahun kemudian diadakan pemilihan ketua baru dan Wak Pet terpilih sebagai ketua. Namun Wak Pet mengganti nama grup menjadi HIBRA (Hiburan Rakyat). Grup ini juga tidak bertahan lama dan akhirnya bubar.

Selanjutnya Wak Pet membentuk grup baru yang diberi nama Fajar Harapan. Di grup ini Wak Pet memiliki peran yang cukup besar sebagai sutradara, aktor utama, dan ketua grup. Grup ini tidak lagi fokus hanya pada teater Dul Muluk tetapi juga pada Bangsawan yang ceritanya lebih bebas. Tahun 1970-an hingga tahun 1990-an, grup Dul M uluk dan Bangsawan menjadi hiburan utama masyarakat Palembang sehingga menjadi sumber ekonomi para pemainnya.

Mulai dari bayaran yang hanya Rp3000 (tiga ribu rupiah) hingga saat ini sekitar Rp6000.000 (enam juta rupiah) untuk sekali tampil per grup.

Tarif manggung yang ditetapkan berdasarkan pada kesepakatan antara pengundang dengan pimpinan grup. Biasanya total bayaran yang ditetapkan sudah meliputi seluruh kebutuhan grup Dul Muluk termasuk Bangsawan seperti transportasi, penggunaan properti (kostum, make up, dan alat musik), dan honor

35 Arjo Kamaluddin adalah anak dari Yek Kamaluddin seorang maestro Dul Muluk Gambar 9. Salah Satu Peran Wak Pet Sebagai Raja (Sumber: Wak Pet)

tim yang terlibat. Biasanya ada pilihan paket yaitu paket lengkap dengan alat musik atau paket Dul Muluk saja tanpa alat musik.

Perbandingan bayaran untuk paket lengkap rata-rata Rp.6.000.000,- (enam juta rupiah) sedangkan tanpa alat musik rata-rata Rp4.000.000,- (empat juta rupiah).

Pembayaran yang diterima akan dikurangi dengan biaya operasional (transportasi dan properti) sisanya dibagi kepada anggota tim sebagai honor sesuai dengan kapasitasnya dalam pertunjukan tersebut. Seorang pemeran utama akan lebih besar honornya daripada pemain pembantu. Demikian juga dengan tim perlengkapan akan lebih kecil honornya dibandingkan dengan pemain lainnya. Dengan honor tersebut terkadang tidak sebanding dengan usaha mereka dalam pertunjukan tersebut. Namun sepertinya besar kecilnya honor bukan menjadi ukuran untuk para pemain Dul Muluk untuk tetap tampil tetapi sudah lebih pada idealisme untuk tetap eksis di dunia pertunjukan.

Ki Agus Wahab Said merupakan nama yang diberikan orang tuanya, tetapi masyarakat justru lebih mengenal nama Wak Pet.

Ternyata penamaan Wak Pet memiliki kisah tersendiri. Wak merupakan istilah panggilan Bapak kepada orang tua umumnya sedangkan Pet adalah salah satu jenis topi yaitu Pet. Penggunaan topi pet ini berawal dari keseriusan Wak Pet mencari identitas yang unik bagi dirinya sebagai ciri khas sehingga mudah dikenal orang. Saat itu sekitar tahun 1964 ada pelawak dari Malaysia bernama Ji Pet yang menggunakan topi pet sebagai ciri khasnya. Ketika Ji Pet meninggal dunia, Wak Pet tertarik untuk mengikuti Ji Pet menggunakan topi pet.

Setiap keluar rumah, Wak Pet tidak pernah lupa menggunakan topi petnya termasuk saat tampil di pertunjukan.

Tahun 1964 Televisi Republik Indonesia (TVRI) sebagai satu-satunya stasiun televisi di Indonesia menjadi media publikasi bagi Wak Pet dengan topi petnya. Teater Dul Muluk dan Bangsawan mulai sering ditampilkan dan Wak Pet selalu hadir sebagai pemain dengan penampilan barunya. Akhirnya masyarakat semakin akrab dengan penampilannya saat itu sehingga sering di panggil Wak Pet.

Saat ini diusianya yang mulai senja, Wak Pet masih terus berusaha mempertahankan Dul Muluk agar tetap Eksis. Walau sudah berulangkali membentuk grup dan bubar, Wak Pet tidak mau menyerah, saat ini beliau membentuk grup baru yang diberi nama Komunitas Teater Tradisional Bangsawan Karya Muda dengan sekretariat di Jalan K. H. Azhary Lorong Merdeka 14 Ulu No. 170 RT.

13 Plaju Palembang. Sekretariat ini merupakan sekaligus rumah tinggal beliau beserta beberapa anak dan cucunya.

Susunan pengurus Komunitas Teater Tradisional Bangsawan Karya Muda terdiri dari ketua yang dipegang oleh Wak Pet sendiri, sekretaris oleh Marini yang merupakan putrid beliau, demikian juga jabatan bendahara dipegang oleh Yuniawati yang juga putrid beliau.

Gambar 10. Wak Pet dengan topi petnya (sumber: Rois L Arios)

Gambar 11. Grup Kesenian Tradisional bentukan baru Wak Pet (sumber: Rois L Arios)

Sedangkan anggota yang tercatat adalah Ibnuh, Sarjauali, Satar, Sudirman, A. Latip, Syaiful, Rabu, Soleh, Maria, Usup, dan Diana.

Pendirian sanggar ini merupakan sebagai upaya mengajak generasi muda untuk menekuni kesenian tradisional khususnya teater tradisional Dul Muluk, Bangsawan, dan Komedi Palembang.

Seperti yang dialami Wak Pet, sangat sulit untuk mengajak anak muda untuk terlibat dalam teater ini sehingga butuh strategi. Salah cara yang dilakukan oleh Wak Pet adalah dengan berbohong kepada anak muda tersebut. Beberapa anak muda yang mau awalnya hanya diajak untuk latihan bermain bangsawan maupun Dul Muluk. Ketika ada yang serius dan menilai hasil latihannya, maka esoknya mereka diajak untuk tampil pada pementasan di salah satu hajatan. Awalnya mereka kesulitan dan grogi tampil di depan umum, namun setelah mampu beradaptasi akhirnya ketagihan untuk tampil lagi.