Melalui Sanggar yang dibinanya Muhammad Rasyid aktif mengembangkan berbagai Tari Kreasi dan juga Musik Tradisional Muara Enim. Tari dan Musik yang Muhammad Rasyid kembang dan ciptakan selalu berdasarkan keadaan/situasi daerah setempat, berpola pada materi yang ada di daerah baik ide, tema, gerak juga musik selalu Muhammad Rasyid kembangkan berpola pada pijakan daerah. Sering juga Muhammad Rasyid melMuhammad Rasyidkan survey secara pribadi ke suatu tempat/daerah untuk mencari bentuk-bentuk kesenian yang masih ada seperti pada tahun 1989 berdasarkan hasil pengamatannya akhirnya Muhammad Rasyid dapat merenofasi Tari Persembahan yang sudah tinggal ceritanya lagi. Pada tahun 2004 Tari Persembahan yang Muhammad Rasyid beri judul Tari Sambut sudah diperdakan oleh Kabupaten Muara Enim. Berikut berbagai tari yang telah diciptakan dan dikembangkan oleh Muhammad Rasyid:
1. Judul Tari: NGIBENG ( 1985 )
Tari ini merupakan tari pergaulan untuk menghormati tamu-tamu yang masih hidup didaerah dalam Kabupaten Muara Enim.
Gadis-gadis menari memakai selendang dengan di iringi musik dan tembang, kemudian selendang tersebut diserahkan kepada tamu-tamu yang hadir untuk diajak menari bersama atau disebut NGIBENG.
2. Judul Tari: GEMA SERASAN ( 1987 )
Tari masal pembukaan MTQ ke-16 Tingkat Provinsi Sumatera Selatan di Kabupaten Muara Enim, melibatkan 750 orang penari. Tari ini menggambarkan semangat dan kesiapan masyarakat Kabupaten Muara Enim dalam menyambut dan melaksanakan MTQ Tingkat Provinsi Sumatera Selatan.
3. Judul Tari: BEHUSEK ( Anak-anak) ( 1988 )
Tari ini diciptakan pada tahun 1988 yang diilhami oleh permainan tradisional anak-anak dipedesaan. Yang menggambarkan keceriaan sekelompok anak-anak yang sedang bermain diwaktu malam terang bulan, mereka tertawa, bercanda, bercerita bersama.
4. Judul Tari: IBANG PETANG ( 1990 )
Tari ini menggambarkan kegiatan sekelompok remaja putri yang sedang bersenang-senang diwaktu sore/petang hari, meraka berjalan diseputaran dusun sambil menunggu malam tiba dengan harapan malam nanti ada jejaka pujaan yang bertandang kerumahnya.
5. Judul Tari: BEBEHAS ( 1992 )
Menggambarkan kegiatan sosial masyarakat dipedesaan yang masih kental dengan adat gotong-royong. Bebehas artinya mengolah padi menjadi beras, mulai dari pekerjaan mengirik, menampi, mengisar, menumbuk padi dilMuhammad Rasyidkan bersama-sama, untuk menbantu suatu keluarga yang akan mengadakan persedekahan.
6. Judul Tari: SAMBUT ( 1990 )
Merupakan tari persembahan khas Kabupaten Muara Enim yang sudah diperdakan pda tahun 2004. Tari ini merupakan rasa syukur kehadirat yang Tuhan Yang Maha Esa dan ucapan selamat datang oleh masyarakat Kabupaten Muara Enim dibumi Serasan Sekundang.
7. Judul Tari: BEKARANG ( 1995 )
Gambaran suasana kegiatan sekelompok masyarakat yang sedang mencari ikan disebuah danau/tebat pada musim kemarau tiba, laki-laki dan perempuan turun beramai-ramai kedanau/tebat dengan menggunakan tangguk, serekap, dll.
8. Judul Tari: NGARAK ( 1995 )
( Tari Masal menyambut DUAJA di Kabupaten Muara Enim yang melibatkan 1000 orang penari). NGARAK berarti menyambut, yang mempunyai makna perasaan suka cita masyarakat Kabupaten Muara Enim dalam menerima penghargaan DUAJA.
9. Judul Tari: PERTEMUAN (1996 )
( Tari Masal dalam Rangka Peringatan Hari Keluarga Nasional/HARGANAS Tingkat Nasional di Prabumulih Sumatera Selatan ) Tari ini menggambarkan lintasan sejarah yang menceritakan pertemuan para pejuang dengan keluarganya dan menggambarkan kegiatan kemajuan bangsa Indonesia dalam mengisi Kemerdekaan.
Tari ini melibatkan 1200 orang penari.
10. Judul Tari: NETAU ( 1997 )
Tari ini adalah gambaran bahwa dalam hidup haruslah benar dalam menentukan langkah awal untuk meniti kehidupan berikutnya karena titik awal akan berpengaruh pada perjalanan hidup selanjutnya, apabila salah NETAU atau mengawali maka akan salah pula akhirnya/jadinya.
11. Judul Tari: PAYUNG API ( 1997 )
Diangkat dari sebuah cerita yang berawal dari diangkat janji/sumpah dua kelompok masyarakat yang terpecah karena pertikaian. Dalam sumpahnya kedua masyarakat tersebut tidak boleh terjadi perkawinan dalam keturunannya, ketika hal itu dilanggar dan terjadi perkawinan maka pengantinnya harus diarak dan menari dibawah naungan payung yang diatasnya diberi api ataupun lilin.
12. Judul Tari: BEHUHUNG ( 1999 )
Sumber ide : dari kebiasaan masyarakat pedesaan yang membungkus tubuhnya dengan kain/sarung untuk menahan rasa dingin. Tari ini bermakna upaya manusia untuk menahan diri dari pengaruh yang datang baik dari luar maupun dari dalam diri sendiri, ambisi bias berakhir pada keputusasaan, tetapi akhirnya kita harus yakin padaketentuan Sang Pencipta dan senantiasa bersyukur.
13. Judul Tari: LENTIK ( 2000 )
Tari ini gambaran sifat dan perilaku remaja putri yang dalam masa-masa serba “ ingin cantik, ingin bahagia, ingin diperhatikan, masa-masa ke emasan yang menjadikan mereka membuat pola tingkah yang terkadang kelihatan aneh tapi juga menarik perhatian “.
14. Judul Tari: ELANG MENARAP ( 2001 )
Gambaran sekelompok remaja putri yang nebar pesona mengharapkan perhatian dari jejaka harapan hati, mereka nebar kelebihan masing-masing berjalan hilir mudik laksana sekelompok elang yang terbang siap menghampiri mangsanya.
15. Judul Tari: KINJAU IBUNGAN ( 2003 )
KINJAU artinya Keranjang, IBUNGAN : adalah panggilan kepada perempuan yang lebih muda dari ibu kita. Tari ini menggambarakan kegigihan kaum perempuan dipedesaan yang tidak pernah memilih pekerjaan yang dapat dilakukannya, sama halnya dengan Kinjau/Keranjang yang selalu siap dengan apa saja yang isikan kepadanya.
16. Judul Tari: PENGANTIN NUJU MAHLIGAI ( 2005 )
Merupakan tari persembahan mempelai wanita, sebagai ungkapan rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa serta permohonan dan doa restu kepada orang tua, sanak keluarga, handai tolan. Pengantin wanita menari diatas nampan/baki kuningan didampingi mempelai laki-laki, merupakan simbol bahwa manakala seoarang remaja putri telah memasuki kehidupan rumah tangga maka harus patuh akan norma-norma yang melingkari, meskipun
masih dapat melakukan aktivitasnya selaku seorang istri yang senantiasa dalam naungan suami serta bimbingan orang tua.
17. Judul Tari: KUMPAI BERANYUT ( 2006 )
Menggambarkan sepak terjang perjuangan anak manusia dalam miniti kehidupannya, terkadang hanyut, terdampar dan hanyut lagi. Sering dianggap tidak berarti dan terpisah dari keluarga namun sesungguhnya kumpai mempunyai cita-cita luhur, ingin hidup dan sampai dimuara kejayaan.
18. Judul Tari: GAWI IBUNGAN ( 2003 )
Tari ini menggambarkan sekelompok kaum wanita pedesaan yang sedang melakukan kegiatan pekerjaan sehari-hari mulai dari mencuci, menumbuk padi, mengangkut barang bawakan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
19. Judul Tari: SETALAM SEHUMA ( 2010 )
(Satu Nampan Satu Rumah) Tari ini menggambarkan suasana keceriaan sekelompok remaja putri yang sedang mengantarkan bantuan kepada keluarga yang akan mengadakan persedekahan dengan membawa nampan yang berisi nasi dan lauk pauk. Sebuah potret cuplikan dari adat kebersamaan kegotong royongan masyarakat yang masih hidup dan berkembang dan tetap harus dijunjung tinggi sampai sekarang ini.
20. Judul Tari: KINJAU BETUAH ( Keranjang Bertuah ) ( 2012 ) Tari ini diilhami dari tradisi pengantin adat tunggu tubang semendo yang dibekali atau membawa kinjau yang berisi berlaku, niru, selimut yang disebut Kinjau Bunting. Tari ini lebih bermakna bahwa dalam hidup ini harus mematuhi adat istiadat dan jangan pernah malu dengan hal-hal yang dianggap tradisi dan sederhana.
Adat istiadat tradisi harus dijunjung dengan demikian, kehidupan akan bahagia.
21. Juduk Tari: ZAPIN KIPAS SERASAN ( 2013 )
Tari ini adalah kombinasi tari Zapin joget dengan properti kipas, yang menggambarkan keceriaan sekelompok gadis dalam bercengkrama dengan sesama temannya mengisi masa-masa remaja yang penuh mimpi dan harapan.
22. Judul Tari: KEPRAK BEDANA ( 2014 )
Di ilhami hari Bedana yang ada di Kabupaten Muara Enim dengan properti rebana kecil. Tari ini menggambarkan kegiatan remaja putri yang sedang belajar rebana sehabis belajar mengaji.
Keprak Rebana adalah simbol semangat dan harap dalam kehidupannya.
23. Judul Tari: NGAMBIN MENTAHI ( 2015 )
Tari ini di ilhami dari kebiasaan masyarakat di pedesaan yang sedang menunggu/mencari sinar matahari untuk memanaskan tubuhnya. Tari ini lebih bermakna bahwa dalam hidup ini memerlukan energi dan semangat. untuk memulai aktivitas dan kesuksesan harus berani melakukan perubahan, bagaikan mentari yang senantiasa siap dengan sinarnya. Dan yang paling penting manakala sang mentari akan bersinar maka tidak ada seorang pun yang mampu untuk menutupi/menghalanginya