TASAWUF DAN TAREKAT
3. Dasar- dasar Tasawuf
Selain problem definisi, tasawuf juga memiliki permasalahan sekitar apakah keberadaanya secara autentik memiliki dasar yang menjadi bagian dari Islam atau tidak, dan bahkan dipahami sebagai ajaran yang sesat dan menyimpang. Artinya unsur-unsur di luar Islam secara dominan mewarnai praktek-praktek tasawuf dianggap semakin memperkuat dugaan bahwa tasawuf bukan dari Islam, atau menyimpang dari ajaran Islam.9
Di tempat lain dikatakan bahwa tasawuf secara eksplisit memang tidak secara langsung dinyatakan dalam al-Qur’an maupun al-Sunnah, akan tetapi juga tidak ada anjuran atau larangan dengan jelas untuk mengamalkan tasawuf. Meski demikian bukan beraerti tasawuf merupakan ajaran yang bukan dari Islam, atau praktek keagamaan yang menyimpang, sesat, dan menyesatkan. Sesungguhnya kehidupan sufistik lahir bersamaan dengan lahirnya Islam itu sendiri, karena ia tumbuh dan berkembang dari pribadi pembawa Islam yaitu Nabi Muhammad saw.10 Dan jika ditelusuri secara mendalam, bahwa amaliah tasawuf pada dasarnya memiliki sandaran dari
Humaniora, 2005), 79; Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf (Jakarta: Grafindo Persada,19997), 179; Harun Nasution. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 2014), 43; Ris’an Rusli, Tasawuf dan Tarekat Studi Pemikiran dan Pengalaman Su>fi> (Jakarta: PT, Raja Grafindo Persada, 2013), 5; Hamka, Tasawuf Modern (Jakarta: Pust aka Panjimas, 1990), 12; M.Solihin dan Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf (Bandung: Pustaka Setia, 2011), 12
9 Ihsan Ilahi Dzahir, Sejarah Hitam Tasawuf: Latar belakang Kesesatan Kaum Su>fi, terj. Fadhi Bahri (Jakarta: Darul Falah, 2001), 41. Lihat Ibrahim Hilal, Tasawwuf Isla>mi >bain al-Di>n wa al-Falsafah (Kairo: dar al-Nahd}ah al-Arabiyah, 1979), 32. Dugaan bahwa tasawuf bukan dari Islam adalah dugaan yang tidak punya alasan yang jelas, sebab kalau dicermati dengan baik, bahwa secara implisit tasawuf yang sebenarnya justru bersumber dari Quran dan al-Hadith, serta prilaku para sahabat dan para ulama salaf, seperti akan disebutkan pada halaman berikutnya.
al-Qur’an,11 al-Sunnah,12 dan juga prilaku para sahabat dan ulama
al-‘A<rifi>n yang kemudian sampai kepada generasi kita sekarang ini.
4. Takhalli>, Tah}alli>, dan Tajalli>.
Upaya untuk membuka h}ija>b (tabir) yang membatasi diri dengan Tuhan, antara lain mengadakan latihan-latihan batin dan tingkatan-tingkatan yang harus ditempuh yaitu takhalli>, tah}alli>, dan tajalli>.
Tingkatan pertama, yaitu takhalli> secara sederhana dapat diartikan
dengan “mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela” (al-Takhalli> ‘an al-
Radha>il).13 Dapat pula dipahami sebagai upaya untuk membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an, surat al-Syams ayat 9-10 yang artinya:.
11 Beberapa ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan larangan perbuatan keji (dendam, ria, iri hati, dan kemunafikan) baik yang nampak atau tersembunyi di antaranya; (QS, 7: 33), dan (QS, 91: 9, yang memberikan khabar gembira bagi setiap manusia yang berhasil mengikis sifat jahatnya dengan selalu mensucikan diri. Begitu pula (QS, 12: 53) yang menunjuk pada pengendalian dan penguasaan hawa nafsu, kemudian di susul (QS, 80: 40-41) yang memberikan pahala sorga bagi setiap manusia yang mampu menahan hawanafsunya. Ada pula ayat yang menegaskan agar manusia berhati-hati terhadap kehidupan dunia, dunia penuh dengan tipu daya (QS, 35: 5) dan kehidupan hanyalah permainan dan tipu daya yang melalaikan (QS, 57: 20). Dan yang sangat urgen adalah, keharusan menjahui kemewahan dunia, karena seluruh yang ada di dalamnya bersifat sementara (QS, 4: 7), dan masih banyak ayat-ayat lain yang mendorong dan tuntutan berprilaku asketis.
12 Hadith nabi yang berkaitan dengan Ih}sa>n, yaitu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, jika kamu tidak melihat-Nya, maka sungguh Allah melihat kamu. Ih}sa>n merupakan salah satu dari tiga elemen dasar agama, yaitu Islam adalah ketaatan dan ibadah, Iman adalah cahaya dan aqidah, sedangkan Ih}sa>n adalah maqa>m mura>qabah (pengawasan) dan musha>hadah (penglihatan), Abdul Qadir Isa, Hakekat Tasawuf, 9. Hadith nabi yang mengatakan bahwa “Allah tidak melihat bentuk dan postur tubuhmu, tapi Allah melihat hati dan amalmu”, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Riyad} al-S{a>lihi>n (Surabaya: Salim Nabhan dan Putranya, 1965), 8. Hadith yang maksudnya, barang siapa yang kenal dirinya sendiri, maka ia kenal dengan Tuhannya, artinya mengetahui bahwa dirinya baru (h}udu>th), sedangkan Allah yang lama (Qida>m), dirinya yang sirna (Fana>’), Allah yang kekal (Baqa>’), dirinya yang lemah (‘Ajz), Allah yang berkuasa (Qudrat), Ibrahim Muhammad bin Ibrahim al-Halabi al-Hanafi, Ni‘mat al-Dhari>’ah Fi> Nus}rati al-Syari>‘ah (Riyad}: Da>r al-Masi>r, 1998), 43. Dan masih banyak lagi Hadith yang menjadi dasar ilmu tasawuf.
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id
49
Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang-orang yang mengotori-nya.14
Sifat-sifat tercela yang dapat mengotori jiwa, antara lain adalah, h}asad (iri hati), h}aqad (dengki), su’uz}z}an (sangka buruk), takabbur (sombong),
nami>mah (adu domba), dan yang lainnya.15
Tingkatan kedua yakni tah}alli>, yakni berusaha menghiasi diri dengan cara membiasakan bersikap dan berbuat kebaikan (Tah}alli> bi
al-Fad}a>’il) serta sepenuhnya menjalankan agama.16 Sebagaimana dikuatkan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an surat al-Nahl, ayat 90 yang artinya :
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan prerbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan). Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.17
Dengan semakin banyak mengamalkan kebaikan (yang wajib maupun yang sunnah), maka semakin tinggi derajatnya di sisi Allah SWT dan di sisi manusia. Oleh karena itu, kaum sufi mengatur suatu ajaran untuk memperbaiki tata kehidupan dan penghidupan manusia, agar menjadi manusia yang ikhlas beribadah kepada Allah SWT, dan ikhlas dalam pengabdian melayani masyarakat serta damai dalam kehidupan.
Tingkatan ketiga adalah tajalli>, yaitu menemukan terbukanya cahaya
ghaib dalam hati setiap penganut su>fi.18 Seorang sufi akan memperoleh tingkatan tajalli> jika dirinya berhasil membuka tabir penghalangnya,
14 Departemen Agama RI, al-Qur’an Terjemah, 595.
15 Mustafa Zahri, Kunci Memahami Ilmu Tasawwuf (Surabaya: Bina Ilmu, 1995), 74-75.
16 Siregar, Tasawuf, 104.
17 Departemen Agama, Terjemah, 277.
sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur’an surat al-Nur ayat 34, yang artinya adalah : “Allah itu cahaya langit dan bumi”.19
Dengan landasan ayat tersebut, kaum su>fi yakin akan memperoleh pancaran nu>r tajalli> dari Allah SWT. Jika Allah SWT tajalli> dengan
Af-‘al-Nya, Asma-Nya, dan Dhat-Nya yang tidak tersembunyi, maka dari itu
para sufi mengadakan riya>d}ah (latihan) berusaha untuk melepaskan dirinya serta mengosongkan hatinya dari sifat-sifat tercela (madhmu>mah) yang disebut takhalli>. Menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji
(mahmu>dah) yang disebut tah}alli>, serta memutuskan segala hubungan
yang dapat mengotori kesucian dirinya untuk dapat menerima nu>r (cahaya) Allah SWT yang disebut tajalli>.20
B. Tarekat