• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II MAHAR DALAM HUKUM ISLAM

2. Dasar Hukum Mahar dan Hikmah Adanya Mahar Dalam

2.1. Dasar Hukum Mahar

Dasar hukum adanya mahar dalam perkawinan, terdiri dari atas dasar hukum yang diambil dari al-Qur’an dan dasar hukum dari As-Sunnah. Dilengkapi oleh pendapat ulama tentang kewajiban pembayaran mahar oleh mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan (Saebani 2001, 262). Seperti dalam al-Qur’an surah an-Nisa ayat 4, Allah SWT, berfirman :









 





















Artinya: “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan, kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya” (Q.S an-Nisa ayat 4) (Depertemen Agama RI 1998).

Ayat di atas menyebutkan kata “mahar” dengan istilah “Shadaq”

yang dimaknakan sebagai pemberian yang penuh keikhlasan. Ayat ini 17

dijadikan dalil oleh para ulama bahwa mahar dalam pernikahan sepenuhnya menjadi hak mempelai wanita. Siapapun orangnya, termasuk orang tua sang isteri, tidak memiliki hak sedikit pun untuk mengambil

Artinya: Dan barangsiapa diantara kamu tidak mempunyai biaya untuk menikahi perempuan merdeka yang beriman, maka (dihalalkan menikahi perempuan) yang beriman dari hamba sahaya yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu. Sebagian dari kamu adalah dari sebagian yang lain (sama-sama keturuna adam dan hawa), karena itu nikahilah mereka dengan izin tuannya dan berilah mereka maskawin yang pantas, karena mereka adalah perempuan-perempuan yang memelihara diri, bukan pezina dan buka (pula) perempuan yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya. Apabila mereka telah berumah tangga (bersuami), tetapi melakukan perbuatan keji (zina), maka (hukuman) bagi mereka setengah dari (hukuman) perempuan-perempuan merdeka (yang tidak bersuami). (Kebolehan menikahi hamba sahaya) itu, adalah bagi orang-orang yang takut terhadap kesulitan dalam menjaga diri (dari perbuatan zina). Tetapi jika kamu bersabar, itu lebih baik bagimu. Allah Maha Pengampun.

Maha Penyanyang (QS an-Nisa’ 25) (Depertemem Agama RI 2002, 83).

Dalam ayat di atas digunakan istilah ajrun atau ujurohunna. Istilah tersebut makna asalnya upah, dalam kontek ayat itu bermakna mahar atau maskawin bagi hamba sahaya perempuan yang hendak dinikahi, yang di samping itu harus dengan izin orang tuanya, juga harus dibayar maharnya.

Dengan demikian, dalam kontek hak atas mahar, tidak ada perbedaan antara perempuan hamba sahaya dengan merdeka. Ayat tersebut dapat pula dipahami bahwa dari sisi kesetaraan gender Islam telah melakukannya secara adil, terutama dalam upaya membebaskan kaum perempuan dari ketertindasan sosial maupun budaya.

Firman Allah SWT :

Artinya: Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata,? Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri, dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat, (QS. an-Nisa ayat 20-21) (Depertemen Agama RI 1998).

Ayat di atas menjelaskan bahwa jika seseorang menceraikan isterinya agar tidak mengambil atau meminta kembali apa yang telah diberikan kepada isteri, baik itu belanja selama pernikahan atau pemberian kepaada isteri maupun mahar yang telah diberikan kepada isteri. Sedangkan 19

suami telah bergaul (bercampur) seabagai suami isteri. Maka jangan meminta kembali apa yang telah diberikan kepada isteri.

Firman Allah SWT :

Artinya: Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah Telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang Telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban, dan tiadalah Mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS. an-Nisa ayat 24) (Depertemen Agama RI 2002).

Ayat di atas juga menjelaskan agar memberikan mahar isteri seutuhnya karena itu sautu kewajiban bagi suami. Akan tetapi harus sesuai yang telah disepakati kecuali suami isteri tersebut saling ikhlas atau saling merelakan diantara suami isteri atas perjanjian mereka.

Dalam surat al-Baqarah ayat 237 disebutkan :



Artinya: Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal Sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang Telah kamu tentukan itu, kecuali jika isteri-isterimu itu mema'afkan atau dima'afkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pema'afan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha melihat segala apa yang kamu kerjakan (Q.S Al-Baqarah:

ayat 237) (Depertemen Agama RI 2002).

Dari urain di atas jelaslah bahwa mahar adalah pemberian pria kepada wanita sebagai pemberian wajib, bukan sebagai pemberian ganti rugi. Mahar adalah untuk memperkuat hubungan dan menumbuhkan tali kasih sayang dan saling cinta-mencintai antara kedua suami isteri, dengan syari’at mahar ini bahwa Islam sangat memperhatikan dan mengharga kedudukan wanita. Islam juga memberikan hak dan wewenang untuk mengurus harta wanita itu dan mengurus dirinya sendiri (Nur 1993, 83).

Adapun dalil dari hadist diantaranya adalah sabda nabi yang berasal dari Sahal bin Sa’ad al-Sa’idi dalam suatu kisah yang panjang dalam bentuk hadist muttafaq alaih:

َلوُسَر اَي

mengawininya, maka kawinkah saya dengannya. Nabi berkata:

21

“apa kamu memiliki sesuatu”. Ia berkata: “tidak ya Rasul Allah”.

Nabi berkata: “pergilah kepada keluargamu mungkin kamu akan mendapatkan sesuatu. kemudian dia pergi dan segera kembali dan berkata: “tidak saya memperoleh sesuatu ya Rasul Allah”.

Nabi berkata: “carilah walaupun hanya sebentuk cincin besi (Ibnu Majaz 2013, 183) (al-Asqalany 2013, 212-213).

Dalam hadist lain Rasulullah SAW bersabda:

نَعَو

Artinya: Dari Abdullah Amir Ibnu Rabi'ah, dari ayahnya, Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memperbolehkan nikah dengan seorang perempuan dengan (maskawin) dua buah sandal. Hadits shahih riwayat Tirmidzi, dan hal itu masih dipertentangkan (al-Asqalany 2013, 226)

Hadits-hadits di atas menunjukkan mahar kewajiban sekalipun sesuatu yang sedikit. Demikian juga tidak ada keterangan dari Nabi SAW bahwa beliau meninggalkan mahar pada suatu pernikahan. Andaikan mahar tidak wajib tentu Nabi SAW pernah meninggalkannya walaupun sekali dalam hidupnya yang menunjukkan tidak wajib. Akan tetapi, beliau tidak pernah meninggalkannya, karena hal ini menunjukkan kewajibannya.

Para ulama sepakat bahwa mahar wajib diberikan oleh suami kepada istrinya, baik kontan maupun dengan cara tempo. Pembayaran mahar harus sesuai dengan perjanjian yang terdapat dalam akad pernikahan dan tidak dibenarkan menguranginya. Jika suami menambahnya, hal itu lebih baik dan sebagai shadaqah, yang dicatat sebagai mahar secara mutlak yang jenis dan jumlahnya sesuai dengan akad nikah (Saebani 2001, 266).

Dari adanya perintah Allah dan perintah Nabi untuk memberikan mahar itu, maka ulama sepakat menetapkan hukum wajibnya memberi mahar kepada istri. Tidak ditemukan dalam literature ulama

yang menempatkan sebagai rukun. Mereka sepakat menempatkannya sebagai syarat sah bagi perkawinan, dalam artian perkawinan yang tidak pakai mahar adalah tidak sah. Bahkan ulama Zhahiriyah mengatakan bahwa bila dalam akad nikah dipersyaratkan tidak pakai mahar, maka perkawinan tersebut dapat dibatalkan (Syarifuddin 2006, 87).

Dalam UU perkawinan memang tidak diatur tentang mahar dalam pernikahan, tetapi KHI mengatur secara panjang lebar tentang mahar, serperti dalam pasal 30, yaitu. calon mempelai pria wajib membayar mahar kepada calon mempelai wanita jumlah, bentuk, dan jenisnya disepakati oleh kedua belah pihak (Syarifuddin 2006, 98).

2.2. Hikmah Adanya Mahar Dalam Pernikahan

Hikmah diwajibkan mahar adalah bahwa perkawinan merupakan ikatan suci antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Di dalamnya terkandung hak dan kewajiban yang harus dijalani oleh masing-masing pihak. Pemberian mahar mengandung isyarat kepada apa yang diwajibkan oleh perkawinan atas suami yaitu kewajiban memberikan nafkah dan kebutuhan lainnya dalam rumah tangga (al-Kurdi 1995, 35).

Tujuan dan hikmah mahar, merupakan jalan yang menjadikan isteri berhati senang dan ridha menerima kekusaan suaminya kepada dirinya (Shomad 2012 . 287) .

2.2.1. Untuk memperkuat hubungan dan menumbuhkan tali kasih sayang dan cinta mencintai.

2.2.2. Sebagia usaha memerhatikan dan menghargai kedudukan wanita, yaitu memberikan hak untuk memegang urusannya.

Mahar disyariatkan Allah untuk mengangkat derajat wanita dan memberi penjelasan bahwa akad pernikahan ini mempunyai kedudukan yang tinggi. Oleh karena itu Allah mewajibkannya kepada laki-laki bukan kepada wanita, karena ia lebih mampu berusaha. Mahar diwajibkan padanya seperti halnya juga seluru beban materi. Istri pada umumnya

23

dinafkahi dalam mempersiapkan dirinya dan segala perlengkapannya yang tidak dibantu oleh ayah dan kerabatnya, tetapi manfaatnya kembali kepada suami juga. Oleh karena itu, merupakan sesuatu yang releven suami dibebani mahar untuk diberikan kepada sang istri. Mahar ini dalam segala bentuknya menjadi penyebab suami tidak terburu-buru menjatuhkan talak kepada istri karena yang ditimbulkan dari mahar tersebut seperti penyerahan mahar yang diakhirkan, penyerahan mahar bagi wanita yang dinikahinya setelah itu dan juga sebagai jaminan wanita ketika ditalak (Azzam. Hawwas 2014, 177-178).

Mahar itu merupakan pemberian pertama seorang suami kepda istrinya yang dilakukan pada waktu akad nikah. Dikatakan yang pertama karena sesudah itu akan timbul beberapa kewajiban materiil yang harus dilaksanakan oleh suami selama masa perkawinan untuk kelangsungan hidup perkawinan itu. Dengan pemberian mahar itu suami dipersiapkan dan dibiasakan untuk menghadapi kewajiban materil berikutnya (Syarifuddin 2006, 87).

Mahar dalam Islam memiliki hikmah yang cukup dalam di antaranya :

2.2.4. Untuk menghalalkan hubungan antara pria dan wanita, karena keduanya saling membutuhkan.

2.2.5. Untuk memberi penghargaan terhadap wanita dalam arti bukan sebagai alat tukar yang mengesankan pembelian.

2.2.6. Untuk menjadi pegangan bagi istri bahwa perkawinan mereka telah diikat dengan perkawinan yang kuat, sehingga suami tidak mudah menceraikan istrinya sesukanya.

2.2.7. Untuk kenangan dan pengikat kasih sayang antara suami dan istri (Nuruddin dan Taringan tth, 67).

Pernikahan yang dilakukan akan menimbulkan akibat hukum kehalalan hubungan seorang pria dan wanita. Sebelum hubungan itu terjadi maka mahar wajib diserahkan sebagai salah satu bukti

kesungguhan seorang suami terhadap istrinya. Pemberian mahar itulah yang menyebabkan dibolehkannya hubungan suami istri setelah akad nikah. Istri dapat menolak untuk melakukan hubungan suami istri jika maharnya belum dipenuhi oleh suami (Shaleh dan as Sadlan 1996, 22).

Sebagian bukti kesungguhan seorang laki-laki mencintai pasangannya maka hal itu dapat dibuktikan dari pengorbanannya.

Seorang suami dapat memberikan jasa atau benda sebagai mahar dalam pernikahan. Hal seperti itu dapat melembutkan hati perempuan sebab pemberiannya. Cinta dan kasih sayang akan mulai muncul ketika suami memberikan mahar dengan penuh kerelaan terhadap istrinya. Mahar yang dapat diberikan tidak boleh diambil kembali atau menggunakannya tanpa ada izin dari istri (Kamil 2007, 254) . Demikian dapat dipahami bahwa hikmah mahar adalah:

2.2.8. Mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan

2.2.9. Memberikan hak terhadap perempuan untuk menentukan dan menggunakan harta yang ia miliki.

2.2.10. Bukti kesungguhan suami dalam mencintai istrinya.

2.2.11. Kebolehan melakukan hubungan suami istri atau khalwat.

Dengan demikian amatlah jelas bahwa mahar atau maskawin adalah milik istri semata. Adapun kewenangan ayah dan wali lain terbatas dengan kedewasaan atau kemapuan pemilik harta tersebut.

3. Macam - Macam dan Bentuk - Bentuk Mahar

Dokumen terkait