BAB II PENGATURAN PERJANJIAN PERKAWINAN YANG
C. Dasar Hukum Pertimbangan Hakim Pengadilan
Permohonan Penetapan Perjanjian Perkawinan Setelah Perkawinan
Untuk lebih mengetahui mengenai pembuatan perjanjian perkawinan yang dilakukan setelah perkawinan maka perlu diketahui pula apa yang menjadi dasar hakim Pengadilan Negeri dalam memutuskan pembuatan perjanjian perkawinan sesudah perkawinan. Hal ini dapat diketahui dari adanya dua penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Timur Nomor: 207/Pdt/P/2005/PN.Jkt.Tmr dan Penetapan Nomor: 459/Pdt/P/2007/PN.Jkt.Tmr.
Dalam Penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Timur Nomor: 207/Pdt/P/2005/PN.Jkt.Tmr, diketahui yang menjadi dasar pertimbangan hukum bagi hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur adalah :139
PERTIMBANGAN HUKUM
Menimbang, bahwa maksud dan tujuan permohonan Para Pemohon sebagaimana terurai di atas.
Menimbang, bahwa untuk memperkuat dalil-dalil permohonan, Para Pemohon mengajukan bukti-bukti surat P.1 sampai dengan P.7 dan saksi Bernadetta Sri Wahyu S. dan Veranti.
Menimbang, bahwa berdasarkan bukti surat P.1 sampai dengan P.6 dan keterangan saksi Bernadetta Sri Wahyu S. dan Veranti, yang dikaitkan satu sama lain, terungkap fakta Yuridis;
1. Bahwa Para Pemohon adalah suami istri. 2. Bahwa Para Pemohon keduanya bekerja.
3. Bahwa Para Pemohon dikaruniai dua orang anak.
4. Bahwa Pemohon I memiliki 3(tiga) Bidang tanah dan bangunan di daerah Tangerang a.n Pemohon I;
Bahwa menimbang, bahwa seharusnya Para Pemohon telah membuat Perjanjian Perkawinan tentang harta bersama sebelum perkawinan dilangsungkan, akan tetapi karena kealpaan dan ketidaktahuan Para Pemohon sehingga baru sekarang Para Pemohon berniat membuat perjanjian pemisahan harta bersama.
Menimbang, bahwa pada kutipan Akta perkawinan Para pemohon ternyata tidak terdapat catatan tentang Perjanjian Perkawinan.
Menimbang, bahwa berdasarkan fakta Yuridis, Pengadilan Negeri Jakarta Timur tidak menemukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum, agama dan kesusilaan, karena itu permohonan Para Pemohon beralasan untuk dikabulkan. Menimbang, bahwa karena permohonan Para Pemohon dikabulkan, maka biaya yang timbul dalam permohonan ini dibebankan kepada Para Pemohon. Memperhatikan ketentuan UU No. 1 Tahun 1974 dan ketentuan-ketentuan hukum lainnya.
Dalam Penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Timur Nomor: 459/Pdt/P/2007/PN.Jkt.Tmr, diketahui yang menjadi dasar pertimbangan hukum bagi hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur adalah :140
PERTIMBANGAN HUKUM
Menimbang, bahwa maksud dan tujuan permohonan Para Pemohon sebagaimana terurai di atas.
Menimbang, bahwa untuk memperkuat dalil-dalil permohonan, Para Pemohon mengajukan bukti-bukti surat P.1 sampai dengan P.5 dan saksi Ny. Lie Mie Fa dan Nn. Dessy Gunawi;
Menimbang, bahwa berdasarkan bukti surat P.1 sampai dengan P.5 dan keterangan saksi Ny.Lie Mie Fa dan Nn. Dessy Gunawi yang dikaitkan satu sama lain, terungkap fakta Yuridis;
1. Bahwa Para Pemohon adalah suami istri. 2. Bahwa Para Pemohon keduanya bekerja.
Menimbang, bahwa seharusnya Para Pemohon telah membuat Perjanjian Perkawinan tentang harta bersama sebelum perkawinan dilangsungkan, akan tetapi karena kealpaan dan ketidaktahuan Para Pemohon, sehingga baru sekarang Para Pemohon berniat membuat perjanjian pemisahan harta bersama. Menimbang, bahwa pada kutipan Akta perkawinan Para Pemohon ternyata tidak terdapat catatan tentang Perjanjian Perkawinan.
Menimbang, bahwa berdasarkan fakta yuridis tersebut, Pengadilan Negeri Jakarta Timur tidak menemukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum, agama dan kesusilaan, karena itu permohonan Para Pemohon beralasan untuk dikabulkan.
Menimbang, bahwa karena permohonan Para Pemohon dikabulkan, maka biaya yang timbul dalam permohonan ini dibebankan kepada Para Pemohon;. Memperhatikan ketentuan UU No.1 Tahun 1974 dan ketentuan-ketentuan hukum lainnya.
Dari kedua penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Timur di atas, maka dapat diketahui yang menjadi dasar hukum dan pertimbangan hakim dalam memutuskan permohonan terhadap pembuatan perjanjian perkawinan setelah perkawinan adalah sebagai berikut:
1. Adanya kealpaan dan ketidaktahuan para pemohon tentang ketentuan perjanjian perkawinan.
Dalam hal ini diketahui bahwa salah satu pertimbangan hakim adalah karena kealpaan dan ketidaktahuan para pemohon tentang adanya ketentuan perjanjian
perkawinan bahwa perjanjian perkawinan tentang harta bersama seharusnya dibuat sebelum perkawinan berlangsung dan harus dibuat dengan akta notaris, sebagaimana yang tercantum dalam permohonan Penetapan Pengadlan Negeri Jakarta Timur Nomor: 207/Pdt/P/2005/PN.Jkt.Tmr dan Penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Timur Nomor: 459/Pdt/P/2007/PN.Jkt.Tmr, yang pada intinya menyatakan “bahwa seharusnya para pemohon membuat perjanjian status harta bersama sebelum dilangsungkan perkawinan, akan tetapi oleh karena kealpaan dan ketidaktahuan Para Pemohon sehingga baru sekarang, Para Pemohon berniat membuat perjanjian status harta bersama”.141
Dasar dan pertimbangan hukum hakim mengabulkan permohonan pemisahan harta dengan alasan-alasan kealpaan atau ketidaktahuan mereka mengenai ketentuan pembuatan perjanjian perkawinan masih lemah karena tidak ada dasar hukumnya. KUHPerdata dan Undang-Undang Perkawinan itu sendiri adalah hukum, karena berisi kaedah hukum untuk melindungi kepentingan manusia. Agar kepentingan manusia itu seberapa dapat terlindungi, maka undang-undang harus diketahui oleh setiap orang. Bahkan setiap orang dianggap tahu akan undang-undang (iedereen wordt geacht de wet te kennen, nemo ius ignorare consetur). Bahwa setiap orang mengetahui setiap undang-undang ini merupakan asas yang berlaku dewasa ini.142
141Penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Timur Nomor : 207/Pdt/P/2005/PN.Jkt.Tmr.
142Sudikno Mertokusumo,Mengenal Hukum Suatu Pengantar, (Yogyakarta: Liberty, 2003),
Dalam hal ini seharusnya para pemohon sudah mengetahui akan adanya ketentuan mengenai perjanjian perkawinan karena sebagaimana diketahui bahwa semua peraturan perundang-undangan haruslah diumumkan di dalam Lembaran Negara dengan tujuan untuk diketahui oleh masyarakat umum sehingga peraturan perundang-undangan itu dapat dilaksanakan dan berfungsi untuk melindungi kepentingan hukum dari masyarakat itu sendiri. Para pemohon (Syam Lal Uttam dan Kavita Uttam dalam Penetapan Nomor: 207/Pdt/P/2005/PN.Jkt.Tmr serta Dubagunta Ramesh dan Selvia Setiawan dalam Penetapan Nomor: 459/Pdt/P/2007/PN.Jkt.Tmr) yang dalam hal ini sebagai warga negara Indonesia seharusnya sudah tahu atau berkewajiban untuk mengetahui akan adanya ketentuan mengenai perjanjian perkawinan itu sehingga tidaklah menjadi suatu alasan bagi para pemohon bahwasanya mereka tidak mengetahui akan adanya ketentuan perjanjian perkawinan yang dapat mengatur tentang akibat hukum dari harta kekayaan dan hutang piutang yang ada atau timbul dari perkawinan mereka.
Namun dikarenakan banyaknya peristiwa hukum yang timbul di kalangan masyarakat di mana dalam hal ini belum ada pengaturan yang jelas mengenai peristiwa hukum tersebut sehingga hakim sebagai salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman diberikan kewenangan untuk melakukan penemuan hukum untuk dapat menyelesaikan permasalahan hukum yang timbul di masyarakat.
Hal ini sesuai dengan Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 Pasal 10 ayat (1) tentang Kekuasaan Kehakiman menentukan “bahwa Pengadilan dilarang
menolak untuk memeriksa, mengadili, memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalil hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya”. Ketentuan pasal ini memberi makna bahwa hakim sebagai organ utama Pengadilan dan sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman wajib hukumnya bagi Hakim untuk menemukan hukumnya dalam suatu perkara meskipun ketentuan hukumnya tidak ada atau kurang jelas.143
Penemuan hukum oleh hakim dianggap suatu hal yang mempunyai wibawa sebab penemuan hukum oleh hakim merupakan hukum yang mempunyai kekuatan mengikat sebagai hukum karena hasil penemuan hukum itu di tuangkan dalam bentuk putusan. Hakim dalam mengabulkan permohonan penetapan perjanjian perkawinan para pemohon harus sungguh-sungguh dan mendasar apabila alasan yang diajukan benar dan sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku dan alasan yang dikemukakan didukung oleh fakta atau bukti yang jelas dan sempurna.
Suatu penetapan Pengadilan Negeri tersebut merupakan produk yudikatif, yang berisi kaedah atau peraturan hukum yang mengikat pihak-pihak yang bersangkutan. Hal ini ditempuh karena Pengadilan Negeri sebagai instansi hukum yang dijunjung tinggi, di mana produk hukumnya harus dipatuhi oleh siapapun. Oleh karena itu, penetapan tersebut dapat dipergunakan oleh Notaris sebagai landasan hukum untuk dibuatnya perjanjian perkawinan setelah perkawinan bagi pasangan suami-istri.
Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam KUHPerdata Pasal 147 yang menyebutkan: “Atas ancaman kebatalan, setiap perjanjian perkawinan harus dibuat dengan akta notaris sebelum perkawinan berlangsung. Perjanjian mulai berlaku semenjak saat perkawinan dilangsungkan, lain saat untuk itu tak boleh ditetapkannya”. Demikian juga yang tercantum dalam UU Perkawinan Pasal 29 ayat (1) yang pada intinya mengatur tentang pembuatan perjanjian perkawinan yaitu pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan, kedua pihak atas persetujuan bersama dapat mengadakan perjanjian tertulis yang disahkan oleh Pegawai Pencatat Perkawinan.
Adanya kealpaan dan ketidaktahuan para pemohon ini dianggap sebagai suatu hal yang wajar dikarenakan kedua belah pihak adalah masyarakat umum yang tidak mengetahui secara pasti tentang ketentuan yang mengatur tentang perjanjian perkawinan sebagaimana yang diatur dalam KUHPerdata maupun UU Perkawinan. Namun dikarenakan perjanjian ini didasarkan pada kesepakatan dan itikad baik kedua belah pihak untuk mengatur tentang harta benda perkawinan mereka dan telah memenuhi syarat-syarat dari sahnya suatu perjanjian sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata yaitu sepakat mereka yang mengadakan perjanjian, kecakapan untuk membuat perjanjian, suatu hal tertentu dan suatu sebab yang halal, sehingga hal ini dibenarkan dan disetujui oleh majelis hakim yang memutuskan permohonan penetapan tersebut.
Pasal 1320 KUHPerdata tersebut di atas merupakan landasan hukum bagi legalitas dari suatu perjanjian, apapun bentuk dan jenisnya yang dimaksud
dengan sepakat antara kedua belah pihak yang mengikatkan dirinya ke dalam suatu perjanjian adalah suatu kesepakatan atas dasar suka sama suka tanpa adanya paksaan ataupun tekanan dari pihak manapun juga. Hal ini juga harus didukung dengan kecakapan para pihak yang membuat perjanjian sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, kewenangan bertindak untuk membuat perjanjian tersebut, hal yang diperjanjikan harus jelas dan tertentu dan obyek yang diperjanjikan merupakan obyek yang halal, legal dan tidak bertentangan dengan undang-undang.144
Hal ini juga tidak bertentangan bila ditinjau dari asas-asas dalam perjanjian yang harus dipenuhi oleh para pihak dalam membuat suatu perjanjian, yaitu asas kebebasan berkontrak (freedom of contract) yang terkandung dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata, “semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”. Pasal ini mengandung asas kebebasan yang menyatakan bahwa setiap orang leluasa untuk membuat perjanjian mengenai apa saja asal tidak melanggar hukum, kesusilaan dan ketertiban umum.
Berdasarkan asas ini maka siapa saja yang dalam hal ini adalah para pemohon diperbolehkan untuk menyusun dan membuat kesepakatan atau perjanjian yang melahirkan kewajiban apa saja, sepanjang hal tersebut bukanlah sesuatu hal yang dilarang. Konsekuensi hukum dari Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata tersebut
144Salim HS,Hukum Kontrak (Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak), (Jakarta: SinarGrafika,
adala bahwa setiap orang/pihak yang telah mengikatkan dirinya ke dalam suatu perjanjian harus mematuhi perjanjian tersebut karena telah berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang telah menandatanganinya.145
Selain asas kebebasan berkontrak, hal ini juga sesuai dengan asas personalia yang terkandung dalam Pasal 1315 juncto Pasal 1340 KUHPerdata, yang pada intinya menyatakan bahwa, “setiap orang mengikatkan dirinya dalam suatu perjanjian atau perikatan dikarenakan kehendaknya sendiri, atas namanya sendiri, dan hanya berlaku bagi pihak-pihak yang membuatnya, tanpa adanya paksaan dari pihak manapun”.
Pembuatan perjanjian perkawinan ini juga dilaksanakan dengan itikad baik sebagaimana asas itikad baik (good faith) yang terkandung dalam Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata, yaitu: “Perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik”. Dalam hal ini perjanjian perkawinan yang dibuat harus dilaksanakan secara pantas dan patut oleh para pihak atau para pemohon. Itikad baik itu bukan hanya ada pada saat pelaksanaan perjanjian tapi juga pada saat dibuat atau ditandatanganinya perjanjian perkawinan tersebut.
Dari hal-hal yang telah diuraikan di atas maka dapat diketahui bahwa perjanjian perkawinan yang dibuat setelah perkawinan oleh para pemohon adalah dibuat berdasarkan kesepakatan, kehendak sendiri, dan dengan itikad sehingga dapat dianggap tidak bertentangan dan dapat dibenarkan karena sudah memenuhi ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi dalam membuat suatu perjanjian.
2. Adanya risiko pekerjaan terhadap harta bersama
Dari permohonan para pemohon diketahui adanya kekhawatiran para pemohon akan adanya risiko pekerjaan mereka terhadap harta bersama mereka dalam perkawinan, karena pekerjaan para pemohon memiliki konsekuensi dan tanggung jawab sampai kepada harta-harta pribadi, sehingga masing-masing harta yang didapat bisa tetap menjadi milik harta pribadi pemohon. Khususnya para pemohon yang menjabat sebagai direksi atau direktur Perseroan Terbatas, di mana jabatan mereka masing-masing tersebut mempunyai risiko terhadap harta bersama dalam perkawinan, karena konsekuensi dan tanggung jawab pekerjaan mereka sampai pada harta-harta pribadi, sehingga masing-masing harta yang didapat tetap menjadi milik pribadi dari para pemohon.
Resiko dari jabatan pekerjaan terhadap harta bersama ini dapat saja terjadi dalam kehidupan rumah tangga para pemohon yang dalam hal ini adalah Para Pemohon I sebagaimana yang dicantumkan dalam permohonannya yaitu :
“Bahwa karena status sosial masing-masing sebagaimana tersebut di atas, di mana pekerjaan Pemohon I mempunyai resiko terhadap harta bersama dalam perkawinan, karena pekerjaan Pemohon I mempunyai konsekuensi dan tanggung jawab sampai pada harta-harta pribadi, oleh karena itu dengan persetujuan Pemohon II berkehendak agar harta–harta atas nama Pemohon I dengan Pemohon II dan tetap menjadi milik Pribadi Pemohon I…”
Dari permohonan tersebut dapat diketahui bahwa pekerjaan para pemohon I mempunyai resiko terhadap harta bersama dalam perkawinan mereka dikarenakan pekerjaan para pemohon I mempunyai konsekuensi dan tanggung
jawab sampai kepada harta-harta pribadi, sehingga hal ini dikhawatirkan dapat menimbulkan kerugian dalam kehidupan rumah tangga para pemohon.
Bila hal ini kita tinjau dari Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dalam Pasal 97 ayat (3) yang berbunyi : “Setiap anggota Direksi bertanggung jawab penuh secara pribadi atas kerugian Perseroan apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)”, maka jelas terlihat resiko pekerjaan yang mengharuskan Direksi mengganti kerugian perseroan terbatas sampai ke harta-harta pribadi apabila Direksi atau Direktur bersalah atau lalai dalam menjalankan jabatannya membuat keputusan maupun perbuatan hukum yang merugikan perusahaan. Sehingga untuk tidak menghancurkan biduk rumah tangga maka suami istri yang dalam hal ini adalah para pemohon yang belum membuat perjanjian perkawinan akhirnya membuat perjanjian perkawinan untuk melindungi harta benda masing-masing pihak suami istri dengan mengajukan permohonon penetapan perjanjian perkawinan dari Pengadilan Negeri.
Seorang suami atau istri bekerja dalam jabatannya sebagai Direksi suatu perusahaan Perseroan Terbatas bertanggung jawab penuh atas kerugian Perseroan Terbatas sampai harta kekayaan pribadi jika yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya. Keadaan ini mulai dirasakan oleh para pasangan suami istri sangat merugikan bagi harta bersama mereka, sehingga memberikan implikasi terhadap pasangan suami isteri untuk membuat perjanjian perkawinan setelah perkawinan mereka.
Dari gambaran di atas pasangan suami-istri ini mengkhawatirkan akan adanya risiko dari perilaku suami-istri atau risiko pekerjaan suami-istri selama perkawinan terhadap harta bersama mereka, hal ini berkaitan dengan pihak ketiga yang menjadi kreditur agar kepastian terlunasinya piutang. Jika suami-istri kawin dengan persatuan bulat harta kekayaan perkawinan, maka utang yang dibuat oleh suami atau istri dapat dituntut pelunasannya dari harta persatuan. Sebaliknya jika suami-istri dengan perjanjian perkawinan pisah mutlak harta kekayaan perkawinan maka utang suami hanya dapat ditagih dari harta pribadi suami, demikian pula utang yang dibuat oleh istri.
Dari keadaan tersebut di atas membawa dampak terhadap pasangan suami istri membuat perjanjian perkawinan setelah perkawinan dengan tujuan yaitu pertama, jika terjadi pemberian hibah atau testamen dari orang tua kepada suami atau istri dengan maksud agar tidak dimasukan dalam pencampuran harta bersama selama perkawinan mereka. Kedua, melindungi perekonomian keluarga. Jika bisnis suami atau istri hancur, maka bisnis si istri atau suami tak perlu ikutan jadi korban, sehingga masih ada modal untuk membiayai pendidikan anak serta menata ulang kehidupan. Ketiga, sebagai tindakan preventif untuk mencegah terjadinya kerugian lebih besar. Terutama kepada pihak suami atau istri yang bekerja dalam jabatannya sebagai direktur suatu perseroan terbatas yang mempunyai utang kepada pihak bank sehingga apabila terjadi kesalahan atau kelalaian maka hanya harta pribadi suami atau harta pribadi istri dapat ditagih pelunasannya.
Adanya penetapan perjanjian perkawinan setelah perkawinan dari Pengadilan Negeri tersebut nantinya sudah pasti akan berakibat hukum pula terhadap harta benda para pemohon. Sehingga setelah adanya pembuatan perjanjian perkawinan berdasarkan Penetapan Pengadilan Negeri maka harta benda masing-masing pihak suami istri akan menjadi semakin kuat pula secara hukum. Masing-masing pihak suami maupun istri harus mematuhi segala isi perjanjian perkawinan berdasarkan penetapan dari Pengadilan Negeri tersebut sebab segala hal yang menyangkut pemisahan harta sudah jelas dipisahkan, juga terhadap harta-harta lain yang kemudian hari timbul setelah tanggal penetapan tersebut tetap terpisah satu dengan yang lainnya, sehingga tidak ada lagi berstatus harta bersama. Sebagaimana yang dinyatakan dalam Pasal 164 KUHPerdata bahwa apabila dijanjikan suatu persatuan hasil dari pendapatan, maka tidak akan terjadi persatuan harta kekayaan secara bulat dan persatuan untung rugi.
Demikian juga halnya dengan hutang piutang yang ditimbulkan akibat perbuatan hukum dari pasangan hidupnya yang dilakukan setelah perjanjian perkawinan berdasarkan penetapan Pengadilan Negeri, maka hal tersebut menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari pihak yang melakukan perbuatan hukum tersebut tanpa dapat melibatkan tanggung jawab dari pasangan kawinnya. Sehingga adanya penetapan perjanjian perkawinan ini dapat melindungi secara hukum harta benda kekayaan yang dimiliki oleh masing-masing pihak suami istri meskipun resiko pekerjaan dari masing-masing pihak dapat melibatkan harta bersama perkawinan mereka.
3. Adanya keinginan untuk tetap memiliki hak milik atas tanah
Keinginan untuk memiliki hak milik atas tanah ini dikarenakan salah satu dari para pemohon adalah bukan Warga Negara Indonesia yaitu Pemohon II (Kavita Uttam) dalam Penetapan Nomor: 207/Pdt/P/2005/PN.Jkt.Tmr dan Pemohon I (Dubagunta Ramesh) dalam Penetapan Nomor: 459/Pdt/P/2007/PN.Jkt.Tmr, di mana menurut ketentuan dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria yang menyebutkan :146
a. Hanya warga negara Indonesia dapat mempunyai Hak Milik.
b. Oleh pemerintah ditetapkan badan-badan hukum yang dapat mempunyai Hak Milik dengan syarat-syarat.
c. Orang Asing yang sesudah berlakunya undang-undang ini memperoleh Hak Milik karena pewarisan-tanpa-wasiat atau percampuran harta karena perkawinan, demikian pula warga negara Indonesia yang mempunyai Hak Milik dan setelah berlakunya undang-undang ini kehilangan kewarganegaraannya wajib melepaskan hak itu di dalam jangka waktu satu tahun sejak diperolehnya hak tersebut atau hilangnya kewarganegaraan itu. Jika sesudah jangka waktu tersebut lampau hak milik itu tidak dilepas maka hak tersebut hapus karena hukum dan tanahnya jatuh pada negara dengan ketentuan bahwa hak-hak pihak lain yang membebaninya tetap berlangsung. d. Selama seseorang di samping kewarganegaraan Indonesianya mempunyai
kewarganegaraan asing maka ia tidak dapat mempunyai tanah dengan Hak Milik dan baginya berlaku ketentuan dalam ayat 3 pasal ini.
Dari bunyi pasal 21 UUPA yang menyebutkan bahwa hanya Warga Negara Indonesia yang bisa memegang sertipikat hak milik atas tanah dan apabila yang bersangkutan, setelah memperoleh sertifikat hak milik kemudian menikah dengan eks patriat (bukan WNI), maka dalam jangka waktu 1 tahun setelah pernikahannya itu tanpa perjanjian perkawinan (percampuran harta), maka ia harus melepaskan hak milik atas tanah dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah
pernikahannya itu. Ia harus melepaskan hak milik atas tanah tersebut kepada subyek hukum lain yang berhak dan jika sesudah jangka waktu tersebut lampau maka hak milik atas tanah hapus karena hukum dan tanahnya jatuh pada Negara.
Hal ini jelas menimbulkan kekhawatiran bagi para pemohon akan hilangnya kepemilikan dari harta benda perkawinan mereka dikarenakan adanya ketentuan dalam Pasal 21 UUPA tersebut, di mana pasangan kawin para pemohon dalam hal ini pemohon Kavita Uttam dan pemohon Dubagunta Ramesh adalah Warga Negara Asing (WNA) sebagaimana dapat diketahui dari adanya bukti tertulis Foto Copy Kartu Izin Tinggal Tetap atas nama Kavita Uttam (P-4) dalam Penetapan Nomor: 207/Pdt/P/2005/PN.Jkt.Tmr dan Foto Copy Kartu Izin Tinggal Tetap Terbatas atas nama Dubagunta Ramesh (P-4) serta Foto Copy Passport India atas nama Dubagunta Ramesh No. Z1420292 (P-5) dalam Penetapan Nomor: 459/Pdt/P/2007/PN.Jkt.Tmr. Sehingga untuk menghindari hilangnya hak kepemilikan dari harta benda perkawinan tersebut maka