D. Persyaratan Finansial
4. Dasar Pertimbangan Hakim
Majelis hakim telah mempertimbangkan apakah berdasarkan fakta-fakta hukum tersebut diatas, terdakwa dapat dinyatakan telah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya ;
Menimbang, bahwa terdakwa telah didakwa oleh Penuntut Umum dengan dakwaan alternatif sebagaimana diatur dalam kesatu Pasal 161 jo Pasal 37 (a) Jo Pasal 48 (a) Jo Pasal 105 Ayat(1) Jo pasal 164 UURI no 4 tahun 2009 tentang mineral dan batu bara jo pasal 64 ayat (1) KUHP, kedua, Pasal 161 jo Pasal 37 Jo Pasal 48 Jo Pasal 105 Ayat(1) Jo pasal 164 UURI no 4 tahun 2009 tentang mineral dan batu bara jo pasal 64 ayat (1) KUHP, yang unsur-unsurnya adalah sebagai berikut :
1. Setiap orang
2. Sebagai seorang atau pemegang IUP operasi produksi atau IUPK operasi produksi yang menampung, memanfaatkan, melakukan pengolahan, dan permurnian, pengangkutan, penjualan mineral, dan batu bara yang bukan pemegang IUP, IUPK
3. Jika antara beberapa perbuatan, meskipun masing-masing merupakan kejahatan atau pelanggaran, ada hubunganya sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai suatu perbuatan berlanjut
Bahwa terhadap unsur-unsur tersebut Majelis Hakim mempertimbangkan sebagai berikut :
Ad.1. Unsur Setiap Orang
Menimbang, bahwa yang dimaksud unsur setiap orang adalah setiap “orang”
sebagai subyek hukum yang diajukan ke persidangan sebagai terdakwa yang didakwa sebagai pelaku tindak pidana yang dapat dimintakan
pertanggungjawaban pidananya dengan syarat apabila perbuatan yang dilakukan memenuhi semua unsur dari tindak pidana yang didakwakan tersebut;
Menimbang, bahwa orang sebagai subyek hukum yang di maksudkan dalam perkara ini sebagai pelaku tindak pidana tersebut adalah Terdakwa Rudi Sutanto yang oleh Penuntut Umum diajukan ke persidangan sebagai terdakwa yang didakwa telah melakukan tindak pidana yang dapat dimintakan
pertanggungjawaban pidananya;
Menimbang, bahwa dari fakta hukum yang terungkap di Persidangan, terbukti bahwa Rudi Sutanto sehat jasmani dan rohani serta dianggap cakap untuk melakukan setiap perbuatan hukum, sehingga apabila perbuatan yang dilakukannya memenuhi semua unsure dalam pasal dakwaan ini, maka
kepadanya dapat dimintakan pertanggungjawaban pidananya, dengan demikian unsur “setiap orang” telah terpenuhi;
Ad.2. Sebagai seorang atau pemegang IUP operasi produksi atau IUPK operasi produksi yang menampung, memanfaatkan, melakukan pengolahan, dan permurnian, pengangkutan, penjualan mineral, dan batu bara yang bukan pemegang IUP, IUPK
Menimbang Bahwa Penambangan didalam pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor : 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara menyatakan ”Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pasca tambang;
Menimbang bahwa dalam pasal 1 ayat 7 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor : 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara menyatakan “Izin Usaha Pertambangan, yang selanjutnya disebut IUP, adalah izin untuk melaksanakan usaha pertambangan”
Menimbang bahwa Pasal 37 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara menyatakan “IUP diberikan oleh:
Bupati/walikota apabila WIUP berada di dalam satu wilayah kabupaten/kota Gubernur apabila WIUP berada pada lintas wilayah kabupaten/kota dalam 1 (satu) provinsi setelah mendapatkan rekomendasi dari bupati/walikota setempat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
Menteri apabila IUP berada pada lintas wilayah provinsi setelah mendapatkan rekomendasi dari gubernur dan bupati/walikota setempat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
Menimbang bahwa Pasal 40 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor : 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara menyatakan
“Pemegang IUP yang bermaksud mengusahakan mineral lain sebagaimana dimaksud pada ayat (2), wajib mengajukan permohonan IUP baru kepada Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya;
Menimbang bahwa Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam
persidangan, kejadiannya pada hari Jumat tanggal 10 Oktober 2014 sekitar pukul 11.00 Wib, bertempat di Desa kaliwungu, kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang, berawal ketika petugas dari polres lumajang melakukan operasi penertiban ijin pertambangan pasir di Kabupaten Lumajang. Pada saat petugas dari polres Lumajang sampai dilokasi penambangan pasir milik saksi Puryanto Bin Supangat di Desa Kaliwungu, Kecamatan Sumbersuko,
Kabupaten Lumajang, dimana lokasi tersebut berbatasan dengan Desa Kebonsari, Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang petugas
menemukan pekerja tambang sedang melakukan kegiatan penambangan pasir tanpa ijin dari pemerintah daerah Kabupaten Lumajang, Saksi Sony Renata selaku ceker dan saksi Holis selaku operator alat berat Exavator dimana para saksi bekerja atas perintah saksi Puryanto Bin Supangat selaku pengelola dan yang bertanggung jawab atas kegiatan atas pertambangan pasir tersebut.
Setelah petugas dari Polres Lumajang melakukan introgasi kepada para
pekerja akhirnya para pekerja mengatakan bahwa pertambangan tersebut tidak memiliki ijin dari pihak pemerintah Kabupaten Lumajang selanjutnya para pekerja dimankan oleh petugas dari Polres Lumajang, beserta alat yang digunakan didalam pertambangan tersebut, adapun sistim pembayaran yang
dilakukan pada saat pembelian pasir dilokasi pertambangan pasir tetapi pembayaran antara pemilik kegiatan tambang pasir dengan pimpinan pembeli hasil pertambangan untuk penghitungannya sopir yang akan membeli pasir membawa surat kecil permintaan pengisian pasir (DO) warna putih dari perusahaan pembeli yaitu CV TMG (tanah mas gemilang) setelah dilokasi kertas (DO) tersebut diberikan kepada ceker saksi Sony Renata kemudian menyuruh sopir truk untuk memarkir mobil truk dekat dengan alat berat Exavator dan diisi pasir dan setelah penuh sopir diberi surat jalan oleh ceker saksi Sony Renata dan pembayaran berdasarkan jumlah surat DO yang ada dilokasi dicocokkan dengan surat jalan pada pembeli. Pasir yang telah di ambil dilokasi milik saksi Puryanto Bin Supangat diangkut dengan menggunakan mobil truk milik saksi Puryanto Bin Supangat dan mobil terdakwa dan ditampung ke CV TMG (tanah mas gemilang) yang
beralamatkan di Desa Sumbersuko Kecamatan Sumbersuko Kab Lumajang yang merupakan milik dari terdakwa;
Menimbang bahwa Hal perijinan yang berkaitan dengan kegiatan
pertambangan baik IUP maupun IUPK atau penampungan yang dilakukan oleh CV TMG (tanah mas gemilang) milik terdakwa, CV TMG (tanah mas gemilang) sama sekali tidak mempunyai ijin dari pemerintah daerah
Kabupaten Lumajang dan kegiatan penampungan pasir yang dilakukan oleh CV TMG (tanah mas gemilang) tersebut adalah menampung pasir yang
berasal dari penambangan yang dilakukan saksi Puryanto Bin Supangat dimana saksi Puryanto Bin Supangat tersebut bukan pemegang IUP, IUPK Ad.3. Unsur Jika antara beberapa perbuatan, meskipun masing-masing merupakan
kejahatan atau pelanggaran, ada hubunganya sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai suatu perbuatan berlanjut.
Menimbang bahwa, berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan, pasir yang telah di ambil dilokasi penambangan milik saksi Puryanto Bin Supangat diangkut dengan menggunakan mobil truk milik saksi Puryanto Bin Supangat dan mobil terdakwa dan ditampung ke CV TMG (tanah mas gemilang) yang beralamatkan di Desa Sumbersuko Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang yang merupakan milik dari terdakwa Menimbang bahwa terdakwa telah melakukan penampungan pasir dari hasil penambangan yang dilakukan oleh saksi Puryanto Bin Supangat sejak bulan Juni 2014 sampai dengan dilakukannya penghentian kegiatan penambangan pasir milik saksi Puryanto Bin Supangat oleh Petugas Polres Lumajang.
Menimbang bahwa didalam persidangan, Majelis Hakim tidak menemukan hal-hal yang dapat menghapuskan pertanggungjawaban pidana, baik sebagai alasan pembenar dan atau alasan pemaaf, maka terdakwa harus
mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dalam hal untuk menjatuhkan pidana terhadap terdakwa maka perlu dipertimbangkan terlebih dahulu keadaan yang memberatkan dan yang meringankan Terdakwa;
Keadaan yang memberatkan :
1. Perbuatan Terdakwa berpotensi merusak lingkungan hidup Keadaan yang meringankan :
1. Terdakwa berterus terang dan menyesali perbuatannya;
2. Terdakwa bersikap sopan di depan persidangan;
3. Terdakwa belum pernah dihukum;
4. Terdakwa kurang memahami masalah ijin penambangan
Setelah Majelis Hakim mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan dan oleh karena terdakwa mampu bertanggung jawab, maka harus dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana, Majelis Hakim memberikan putusan sebagi berikut :