HASIL PENELITIAN
3. Kelembagaan KEK: Administrator
4.2.2 Data Informan Peneliti
Dalam penelitian ini yang berjudul “Dampak Pembangunan Kawasan
Ekonomi Khusus (KEK) terhadap Pertumbuhan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Tanjung Lesung Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten”,
peneliti melibatkan informan-informan yang dipilih terkait dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Peneliti mengklasifikasikan informan kedalam dua jenis yaitu key informan dan secondary informan, dimana key informan atau informan
kunci peneliti pilih dari semua pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang ada di sekitar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung. Dalam penelitian ini key informan diharapkan dapat menjawab indikator mengenai pertumbuhan usaha. Sedangkan secondary informan atau informan pembantu peneliti melibatkan Pihak Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Panimbang, Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pandeglang, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pandeglang, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Pandeglang, Dewan Administrator KEK, dan Working Group Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kabupaten Pandeglang, dan PT BWJ.
Adapun informan-informan pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 4.8 Informan Penelitian No Informan Kode Informan Status Informan
1 Nama I1.1 Pengurus Penginapan
Kampoeng Nelayan
2 Syarif Gunawan I1.2 Pemilik Setya Homestay
4 Agus Ni’am Milah I1.3 Pengurus Batik Cikadu
5 Cecep I1.5 Pemilik Rumah Makan
6 Asep I2.1 Sekretaris Desa Tanjung
Jaya
7 Drs. Suaedi Kurdiatna M.Si I3.1 Camat Panimbang
8 H. Aang Ansori I4.1 Wakil Ketua Working
Kabupaten Pandeglang
9 Kusaeri I5.1 Kabid UMKM Dinas
Koperasi dan UMKM Kabupaten Pandeglang 10 Enik Rahmawati S.Ip I6.1 Kasi Pengelolaan Data
Pariwisata Kabupaten Pandeglang
11 Abdul Azis S.Ip I7.1 Kepala Sub Bidang
Pengembangan Sumber Daya Buatan Bappeda Kabupaten Pandeglang
12 Joice Irmawati I8.1 Administrator KEK
13 Kunto I9.1 Direktur Operasional PT
BWJ
14 Hendra I10.1 Masyarakat
15 Kusniah I10.2 Masyarakat
16 Faiz I11.1 Wisatawan
17 Neni I11.2 Wisatawan
Sumber: Peneliti, 2017 4.3 Penyajian Data
Penyajian data ini merupakan hasil deskriptif dan fakta yang peneliti temukan dilapangan serta disesuaikan dengan teori yang peneliti gunakan yaitu menggunakan teori Pertumbuhan Usaha menurut Kim dan Choi (1994) dalam Mohammad Soleh (2008:25) dan teori Dampak Ekonomi menurut Cohen (2006). Dimana dalam teori ini memberikan tolak ukur atas komponen-komponen penting yang harus dipertimbangkan dalam mengukur pertumbuhan usaha dan dampak ekonomi secara makro dari ditetapkannya Tanjung Lesung sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Kawasan Ekonomi Khusus dikembangkan melalui penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan geoekonomi dan geostrategi dan berfungsi untuk menampung kegiatan industri, ekspor, impor, dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional. Dimana Kawasan ekonomi khusus terdiri dari beberapa zona; yakni Pengelolahan ekspor; Logistik, Industri, Pengembangan teknologi, Pariwisata, Energi, dan Ekonomi lain. Di dalam KEK dapat dibangun fasilitas pendukung dan perumahan bagi pekerja, dalam setiap KEK juga disediakan lokasi untuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), dan koperasi, baik sebagai pelaku usaha maupun sebagai pendukung kegiatan perusahaan yang berada di dalam KEK.
Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti bahwa gambaran umum UMKM yang ada diKabupaten Pandeglang khususnya di Tanjung Lesung, saat ini masih belum berkembang. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan yang disampaikan oleh I4.1 adalah sebagai berikut:
“Masih jauh, jauh daripada pantas. Tapi kami tidak pesimis yah. Artinya untuk kita mensejajarkan dengan wilayah lain itu masih jauh, tetapi kami berusaha maksimal, akan mencurahkan kemampuan kami. Artinya kami mau meyetarakan dengan daerah-daerah lain, tapi itu pun jika para pihak kepentingan mau bersinergi dengan kami, pasti itu akan lebih cepat prosesnya. Kaya dinas terkait gitu, lembaga akademisi juga ayo kita bareng-bareng agar lebih mudah. Tapi kalau boleh jujur pandeglang saat ini jauh tertinggal.” (Wawancara, di Gerai WG UMKM Kabupaten Pandeglang, tanggal 5 Mei 2017 pukul 13.49)
Pernyataan tersebut dilengkapi oleh I5.1 sebagai berikut:
“Kalau gambarannya sebenarnya sudah jalan sudah ada tapi masih belum
digarap secara profesional. Kalau profesionalkan artinya manajemen pengelolaannya, manajemen keuangannya, manajemen pemasarannya
sudah profesional. Yang saya datangi ke KEK itu masih belum dijadikan profesi, jadi masih sampingan. Nah kalo masih sampingan kan gimana mau berkembangnya kan, jadi masih belum bicara “saya ini profesinya pekerjaan ini”. Yang namanya profesi kan harusnya menghasilkan keuntungan kan. Tapi kemarin saya datangi ibu-ibu katanya “ya daripada nganggur lah”, jadi intinya masih belum profesional, masih belum dijadikan suatu profesi.” (Wawancara di Kantor Dinas Koperasi dan UMKM, 10 Mei 2017 pukul 11.31)
Berdasarkan pernyataan yang telah disampaikan oleh I4.1 dan I5.1 keadaan UMKM di Kabupaten Pandeglang khususnya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung masih jauh tertinggal. Saat ini pelaku UMKM masih belum menjadikan usahanya sebagai pekerjaan tetap, menurut mereka menjadi pelaku usaha hanya sebagai sampingan dikala waktu kosong mereka. Mereka belum fokus terhadap usahanya, sehingga menjadikan usaha mereka tidak diatur secara profesional atau manajemen yang baik. Selain itu, tidak berkembangnya UMKM juga dikarenakan kurang bersinerginya antara para pelaku UMKM dengan birokrasi, sehingga para pelaku UMKM merasa kurang diberikan perhatian oleh instansi terkait. Hal ini seusai dengan pernyataan yang disampaikan oleh I4.1 adalah sebagai berikut:
“Ya sebenarnya kita hanya butuh dorongan dari birokrasi, tapi itu ga ada. Kenapa saya selama 8 tahun selalu berbenturan dengan pihak birokrasi, ya semua orang di Dinas pasti tau lah sama saya kalu saya itu orang yang rese, orang tukang protes, saya sadar, tapi dibalik itu kan saya punya tujuan, membangun. Intinya bukan membangun tapi mau bersinergi antara pelaku usaha dengan birokrasi. Itu intinya. Tapi kenapa birokrasi di kita itu selalu ada aja alasan, paling sering adalah alasan tentang anggaran. Padahal kan bukan itu. Pada dasarnya kami pelaku usaha tidak hanya membutuhkan modal, modal itu nomor sekian, yang paling kami butuhkan adalah motivasi. Dorongan, ayo mau gimana nih masyarakat nih dengan potensi lokal yang sangat luar biasa. Mestinya kaya gitu, tapi alhamdulillah beberapa minggu ini birokrasi mulai terasa. Kalau dibilang 180˚. Sebelumnya kan selama ini kita selalu dijadikan obyek gitu,
sekali-sekali dong jadikan kami subyek.” (Wawancara, di Gerai WG UMKM Kabupaten Pandeglang, tanggal 5 Mei 2017 pukul 13.49)
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus Pasal 3 menjelaskan bahwa didalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) harus disediaan lokasi untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), baik sebagai pelaku usaha maupun sebagai pendukung kegiatan yang berada didalam KEK. Namun berdasarkan obeservasi peneliti, sampai saat ini belum ada ruang khusus yang bisa digunakan untuk para UMKM. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang disampaikan oleh I4.1, yakni sebagai berikut:
“Oh gini jadi itu kan hanya sebatas wacana sementara, jadi ke depan tujuan pemerintah kabupaten Pandeglang akan menjadikan wilayah selatan itu jadi Kawasan Ekonomi Khusus. Yang saya katakan tadi, tidak akan pernah terwujud suatu kawasan jika tidak ditopang oleh unsur-unsur lain, termasuk dari pelaku usaha. Selama ini belum jalan, apa yang beda? Gerai aja belum ada. Jadi hanya wacana. Tapi kita harus siap, dan kita harus mendukung program itu. Dan yang namanya pemerintah sudah membuat program, ya tentunya kan harus dijalankan. Dan kalaupun tidak, kan kasihan para pelaku usaha. Jadi itu hanya konsep, hanya wacana. Kalau boleh jujur yah, untuk saat ini itu belum. Tapi dalam hal ini Bupati menekankan pada semua dinas untuk berpacu dan bersinergi mengembangkan program Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung.” (Wawancara, di Gerai WG UMKM Kabupaten Pandeglang, tanggal 5 Mei 2017 pukul 13.49)
Pernyataan tersebut diperkuat dengan pernyataan yang disampaikan oleh I5.1, yakni sebagai berikut:
“Nah kan yang kita harapkan begini seharusnya ada PLUT yah, dipandeglang itu belum ada. PLUT itu Pelayanan Usaha Terpadu disana itu ada pelatihannya, pemasarannya, kemasannya untuk pertemuan dengan para pelaku usaha. Tapi sementara ini kan gerai gitu belum ada kan, tapi untuk solusi pemasaran saya sih kepinginnya terobosannya setiap hotel memiliki gerai gitu. Ya ruangan sekitar 2x2 meter nah itu diisi
dari kerajinan dari tempat itu ya kalau bisa mah gratis tempatnya tapi hotel juga bisa menikmati keuntungannya gitu kan. Itu terobosan pemasaran.” (Wawancara, di kantor Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pandeglang, tanggal 10 Mei 2017 pukul 11.31)
Pernyataan tersebut juga didukung dengan pernyataan yang disampaikan oleh I8.1, yakni sebagai berikut:
“Iya betul, berdasarkan masterplan yang lama itu akan diposisikan di Public Beach. Public beach itu didekat pintu utama yang memang dibuka untuk umum. Disana juga akan ada macam-macam kuliner, handycraft, ya pokonya UMKM. Namun kemarin sesuai dengan perkembangan investasi yah, dinamika investasi, kalau berbicara tentang investasi ya itu berarti terserah investornya yah, kita boleh punya masterplan tapi kemudian investor maunya ada perubahan di masterplan.” (Wawancara, di Kantor Administrator KEK, 15 Mei 2017 pukul 11.04)
Berdasarkan pernyataan yang telah disampaikan oleh I4.1, I5.1, dan I8.1 bahwa didalam masterplan KEK memang memberikan ruang khusus untuk UMKM, namun sampai saat ini belum tersedia, sehingga para UMKM masih sulit untuk memasarkan produknya. Belum dibentuknya ruang khusus untuk UMKM disinyalir karena adanya perubahan masterplan atas keinginan para investor. 4.3.1 Pertumbuhan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)
Pertumbuhan pada dasarnya mencerminkan produktivitas usaha dan merupakan suatu harapan yang diinginkan oleh pemilik usaha dan pemilik modal. Pertumbuhan usaha menjadi orientasi dalam melakukan kegiatan wirausaha. Karena pertumbuhan usaha merupakan salah satu indikator dalam perkembangan UMKM (Susilo, 2007). Tolak ukur pertumbuhan usaha menurut Kim dan Choi (1994) dalam Mohammad Soleh (2008:26) dilihat dari peningkatan omzet penjualan, pertumbuhan tenaga kerja, dan pertumbuhan pelanggan.
4.3.1.1 Omzet Penjualan
Kata Omzet penjualan adalah jumlah penghasilan atau laba yang diperoleh dari hasil menjual barang atau jasa. Jadi omzet Penjualan merupakan jumlah total hasil produksi yang dapat dijual dalam sekali bakulan atau penjualan yang dihasilkan oleh pengusaha UMKM. Adapun omset penjualan ini dapat dihitung dengan mengalikan total jumlah yang terjual dengan harga. Dengan dijadikannya Tanjung Lesung sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) maka diharapkan dapat meningkatkan omzet penjualan bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Tanjung Lesung. Peningkatan omzet penjualan para pelaku UMKM di Tanjung Lesung sebagaimana telah disampaikan oleh I1.1 adalah sebagai berikut:
“Peningkatan laba atau omzet yah, hmm ibaratnya gini dulu itu cuma 20% sekarang sampai 90%, luar biasa. Karena mungkin kalau mau peningkatannya lebih bagus lagi itu harus dibenarkan dulu akses jalannya. Soalnya tamu-tamu saya suka pada ngeluh kalau jalannya itu rusak, apalagi kalau malem-malem dateng duh katanya gelap sekali” (Wawancara, di Hotel Kharisma saat acara Bimtek Homestay, tanggal 11 April 2017 pukul 12.27)
Berdasarkan wawancara dengan informan I1.1 maka dapat disimpulkan bahwa semenjak ada Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung tamu yang datang untuk menginap dihomestay itu terjadi peningkatan. Bahkan tidak tanggung-tanggung peningkatan omzet penjualannya mencapai 70%. Karena sebelum ada KEK omzet yang didapatkan hanya sekitar 20%, namun setelah ada KEK omzet penjualannya menjadi 90%. Hal serupa juga senada dengan apa yang disampaikan oleh I1.2, yakni sebagai berikut:
“Laba meningkat lah, ya sekitar 30% lah, pokonya setiap tahun meningkat lah. Nanti tamu saya aja tuh 80 orang tuh akhir bulan ini dia udah booking. Peningkatan mah ada setiap tahun setiap bulan juga ada.” (Wawancara, di Hotel Kharisma saat acara Bimtek Homestay, tanggal 11 April 2017 pukul 13.13)
Pernyataan tersebut diperkuat dengan pernyataan yang disampaikan oleh I.4, yakni sebagai berikut:
“Omzet penjualan itu pasti meningkatlah, kan sekarang yang dateng bukan cuma wisatawan lokal, tapi asing juga udah banyak. (Wawancara, di Pondok Makan Nelayan, tanggal 18 Mei 12.23)
Dari hasil wawancara dengan I1.1, I1.2. dan I1.4 bahwa para pemilik Homestay dan Rumah Makan merasakan semenjak adanya Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung tamu yang datang untuk menginap dihomestay dan makan di Rumah Makan mereka itu terjadi peningkatan setiap tahun bahkan setiap bulannya. Hal ini tentunya membuat omzet penjualan mereka pun meningkat. Namun hal tersebut tidak berbanding lurus dengan apa yang dirasakan oleh pelaku UMKM Batik Cikadu Tanjung Lesung, seperti hasil wawancara dengan I1.3 sebagai berikut:
“Bahkan sekarang pemesanan itu waiting list, jadi jumlah pesanan lebih banyak dari jumlah produksi. Karena tenaga, jadi kan dampaknya kan ketika pesanan banyak kapasitas produksi nya kurang, maksudnya tenaga kerjanya kurang, jadi kan harus nunggu pesanan gitu. Karena karyawannya dikit, karena kita mempertahankan tradisional, kalau pakai printing kan lebih cepat, karena kita dikerjakannya manual tradisional jadinya makan waktu. Namun kalau boleh jujur sebenarnya penjualan lebih banyak itu diluar bukan dari KEKnya, jadi kalau penjualan itu lebih banyak keluar kalau di Tanjung Lesungnya itu kurang.” (Wawancara di Gallery Batik Cikadu Tanjung Lesung, tanggal 23 Maret pukul 13.49) Berdasarkan wawancara dengan I1.3 bahwa penjualan mereka memang meningkat, namun peningkatan tersebut bukan karena adanya KEK Tanjung Lesung. Karena penjualan di KEK Tanjung Lesung itu masih kurang, karena
sulitnya pemasaran. Peningkatan penjuala tersebut meningkat justru lebih banyak keluar, karena penjualan juga dilakukan diluar KEK Tanjung Lesung.
4.3.1.2 Pertumbuhan Tenaga Kerja
Menurut BPS, tenaga kerja adalah penduduk dalam usia kerja 15-64 tahun yang siap melakukan pekerjaan, antara lain mereka yang sudah bekerja, mereka yang sedang mencari pekerjaan, yang diukur dalam satuan orang. Jumlah tenaga kerja disini adalah jumlah orang atau pekerja yang bekerja pada UMKM tersebut. Mengenai peningkatan tenaga kerja para pelaku UMKM di Tanjung Lesung sebagaimana telah disampaikan oleh I1.2 adalah sebagai berikut:
“Tenaga kerja saya ada 2, asli orang sini gampang orang lain lah. Paling nyapu, tukang ganti sprei, ya tukang suruh-suruh lah. Kalau misalkan lagi ramai tamu ya pokonya mereka standbye, pemuda-pemuda disini. Kan tamu suka minta dibakarin ikan, atau dianterin kemana gitu kan tamunya.”(Wawancara, di Hotel Kharisma saat acara Bimtek Homestay, tanggal 11 April 2017 pukul 13.13)
Pernyataan tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan oleh I1.3 adalah sebagai berikut:
Kalau disini gak tetap, soalnya freelance sih. Kalau pegawai tetapnya cuma 5 orang, pegawai sekaligus instruktur. Kalau yang freelancenya bisa mencapai lebih dari 25 orang. (Wawancara di Gallery Batik Cikadu Tanjung Lesung, tanggal 23 Maret pukul 13.49)
Berdasarkan kedua wawancara dengan I1.2 dan I1.3 tersebut bahwa jumlah pegawai tetap mereka tidak ada penambahan atau peningkatan jumlah karyawan, dikarenakan karyawan mereka masih mampu menangani pelanggan yang datang, hanya saja jika pelanggan sedang meningkat seperti di hari libur maka mereka memakai jasa warga sekitar yang sedang tidak bekerja, dan dijadikan pegawai freelance. Seperti misalnya pelanggan yang datang membutuhkan tour guide,
maka masyarakat sekitar lah yang mengantar. Selain itu jika permintaan batik sedang meningkat, maka ibu-ibu disekitar Batik Cikadu lah yang menjadi pegawai freelance.
Namun pendapat berbeda justru diungkapkan oleh I1.4 yakni sebagai berikut:
“Kalau dulu bahkan kita ga pakai karyawan, kalau sekarang kita udah mulai tambah-tambah yah seperti itu. Sekarang karyawan udah ada 7, kalau dulu Cuma kita-kita aja keluarga. Nah sekarang memang butuh karyawan, karena memang penanganannya harus lebih baik gitu.” (Wawancara, di Pondok Makan Nelayan, tanggal 18 Mei 12.23)
Berdasarkan hasil wawancara dengan I1.2, I1.3, dan I1.4 dapat diambil kesimpulan bahwa peningkatan jumlah tenaga kerja hanya dirasakan oleh pelaku UMKM di bidang Rumah Makan, karena karyawan di rumah makan selalu bertambah. Sedangkan untuk bidang Homestay belum ada peningkatan pegawai, Hal ini karena banyaknya wisatawan domestik yang datang ke Tanjung Lesung tapi tidak menginap, namun mereka sebagian besar pasti makan di Rumah Makan sekitar Tanjung Lesung. Jika untuk pelaku usaha Batik Cikadu, walaupun pegawai tetapnya hanya 5 orang, namun banyak ibu-ibu yang dijadikan pegawai paruh waktu, dan saat ini sudah mencapai 25 orang.
4.3.1.3 Pertumbuhan Pelanggan
Pelanggan bisa disebut juga dengan konsumen. Pelanggan atau konsumen adalah orang yang menjadi pembeli atau pengguna produk yang telah dibuat oleh pelaku usaha. Pertumbuhan pelanggan dimaksudkan untuk peningkatan jumlah pelanggan atau jumlah konsumen yang membeli produk atau menggunakan jasa
layanan dari UMKM tersebut. Pertumbuhan pelanggan para pelaku UMKM di Tanjung Lesung telah disampaikan oleh I1.1 adalah sebagai berikut:
“Sekarang luar biasa, weekend penuh, kalau hari biasa homestay 5 atau 7 kamar, sedangkan cottage bisa 2 atau 3 rumah. Sekarang aja cottage ada yang ngisi 4 rumah, ngambilnya 3 malem itu dari Bandung mereka sedang ada kegiatan. Bahkan ada tamu saya yang sudah sering sekali menginap di homestay saya, katanya kalau ke Tanjung Lesung ya harus meningap disini”(Wawancara, di Hotel Kharisma saat acara Bimtek Homestay, tanggal 11 April 2017 pukul 12.27)
Hal serupa juga disampaikan oleh I1.2 sebagai berikut:
“Tidak bisa diperdiksi, karena kadang-kadang tengah malem datang tamu. Jadi tidak bisa diduga gitu. Kalau weekend mah waduuhh full, semua full mbak. Ya pokonya semenjak ada KEK sewa kamar meningkat lah.” (Wawancara, di Hotel Kharisma saat acara Bimtek Homestay, tanggal 11 April 2017 pukul 13.13)
Berdasarkan wawancara dengan I1.1 dan I1.2 bahwa pelanggan atau konsumen yang menggunakan jasa homestay saat ini meningkat. Hal ini dikarenakan dijadikannya Tanjung Lesung sebagai Kawasan Ekonomi Khusus. Bahkan yang datang bukan hanya sekali, melainkan sudah menjadi pelanggan setia mereka.
Pernyataan kedua informan tersebut juga didukung oleh I1.4 yaitu sebagai berikut:
“Yaa dampaknya lumayan lah, kalau dulu kan kebanyakan lokal yah dari jakarta gitu. Kalau sekarang alhamdulillah banyak dari luar kaya dari Korea gitu yah. Orang asing juga udah mulai masuk kesini.”( (Wawancara, di Pondok Makan Nelayan, tanggal 18 Mei 12.23)
Berdasarkan pernyataan I1.4 bahwa saat ini yang menjadi pelanggannya bukan lagi hanya wisatawan domestik, seperti sekitar Jakarta dan Jawa Barat.
Melainkan saat ini pelanggannya sudah mulai dari wisatawan mancanegara, salah satunya ialah wisatawan dari Korea.
Hal berbeda diungkapkan oleh I1.3 yang merasa bahwa pemasaran di Tanjung Lesung masih sulit, sehingga pelanggan meningkat bukan karena Tanjung Lesung yaitu sebagai berikut:
“Meningkat sekarang, peningkatannya drastis. Apalagi semenjak ada SK dari Bupati, SK tentang para pegawai itu kan diwajibkan mengenakan batik Cikadu. Jadi otomatis itu pesanan dari Dinas banyak banget. Sampe ada waiting listnya.” (Wawancara di Gallery Batik Cikadu Tanjung Lesung, tanggal 23 Maret pukul 13.49)
Berdasarkan pernyataan dari I1.3 bahwa KEK Tanjung Lesung belum memberikan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan pelanggan, karena masih sulitnya memasarkan barang jualan, dikarenakannya belum ada ruang khusus di KEK Tanjung Lesung untuk para pelaku UMKM di bidang barang atau kerajinan. Pelanggan batik cikadu memang meningkat, namun peningkatan tersebut dikarenakan keluarnya SK Bupati yang mewajibkan para pegawai di instansi pemerintahan Kabupaten Pandeglang setiap hari rabu dan kamis untuk memakai batik cikadu. Sehingga yang menjadi pelanggan batik cikadu ialah para pegawai instansi pemerintah Kabupaten Pandeglang.