• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

3. Kelembagaan KEK: Administrator

4.4.1 Pertumbuhan UMKM

Dalam pembahasan ini peneliti menggunakan teori pertumbuhan usaha menurut Kim dan Choi (1994) dalam Mohammad Soleh (2008:25), yang meliputi: 1) Peningkatan Omzet Penjualan; 2) Pertumbuhan Tenaga Kerja; dan 3) Pertumbuhan Pelanggan.

1. Omzet Penjualan

Harapan adanya KEK Tanjung Lesung tidak hanya sebatas pada peningkatan UMKM secara kuantitas saja, melainkan harus tumbuh secara kualitas pula. Pertumbuhan UMKM secara kualitas dapat dilihat dari

peningkatan omzet penjualan usaha tersebut. Setiap usaha didirikan untuk mencapai tujuan, salah satu tujuan utama dibuatnya usaha adalah mencapai omzet sebesar-besarnya. Sebuah usaha dikatakan produktifitasnya baik jika omzet penjualannya meningkat, karena tentunya ini akan berpengaruh terhadap laba atau keuntungan dari usaha tersebut.

Sejak Tanjung Lesung dijadikan Kawasan Ekonomi Khusus mulai tumbuh UMKM-UMKM di sekitar KEK, seperti homestay, rumah makan, penyewaan alat snorkeling, batik, dan kerajinan lainnya. Hal ini dikarenakan peningkatan wisatawan baik itu domestik maupun mancanegara yang datang ke Tanjung Lesung. Seorang wisatawan tentunya membawa uang untuk mereka gunakan di tempat wisata, tentunya hal ini berkaitan erat dengan peningkatan omzet penjualan para UMKM. Berdasarkan hasil wawaancara, saat ini peningkatan omzet penjualan para pelaku UMKM cukup signifikan, bisa mencapai 30-90% terutama di hari libur. Untuk di sektor jasa yaitu homestay, kamar-kamar yang ada di homestay setiap weekend selalu penuh, bahkan di weekdays pun selalu ada yang menginap. Sama halnya dengan sektor jasa, di sektor perdagangan seperti Rumah Makan juga mengalami peningkatan yang cukup drastis, karena bukan hanya wisatawan domestik yang datang untuk makan, melainkan wisatawan mancanegara pun mulai banyak berdatangan. Namun sepertinya hal yang agak berbeda terjadi pada sektor industri pengolahan, salah satunya adalah Batik Cikadu. Omzet penjulan mereka memang sangat meningkat, bahkan sampai dibuat waiting list

karena tidak bisa memenuhi permintaan, namun hal ini lebih dikarenakan dikeluarkannya SK Bupati yang mewajibkan seluruh pegawai intansi Pemerintah Kabupaten Pandeglang harus menggunakan batik tersebut. Sedangkan penjualan di KEK Tanjung Lesung cenderung kurang, dikarenakan belum adanya gerai khusus untuk UMKM di sektor industri pengolahan.

2. Pertumbuhan Tenaga Kerja

Keberhasilan suatu usaha salah satunya dipengaruhi oleh faktor produksi. Faktor-faktor produksi tersebut salah satunya adalah Sumber Daya Manusia (man). Yang dimaksud sumber daya manusia disini ialah tenaga kerja yang bekerja di usaha tersebut, yang tentunya merupakan usia produktif untuk bekerja. Pertumbuhan tenaga kerja berkaitan dengan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan oleh UMKM tersebut. Pertumbuhan tenaga kerja ini disebabkan oleh banyaknya permintaan barang dan jasa oleh pelanggan.

Seperti halnya Tanjung Lesung ketika mulai dijadikan Kawasan Ekonomi Khusus Zona Pariwisata, tentu saja banyak wisatawan yang datang untuk berlibur, sehingga meningkatkan permintaan produk barang dan jasa pada UMKM di Tanjung Lesung. Dengan meningkatnya permintaan tersebut, maka membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak lagi.

Karena wisatawan Tanjung Lesung masih didominasi oleh wisatawan domestik, maka masih banyak wisatawan yang tidak menginap,

namun pastinya mereka mampir ke rumah makan. Berdasarkan hasil wawancara, pertumbuhan tenaga kerja yang paling drastis ialah pada usaha Rumah Makan. Rumah makan yang dulunya saat dibuat belum memiliki tenaga kerja, kini sudah memiliki tujuh tenaga kerja. Hal ini dikarenakan meningkatnya konsumen rumah makan mereka.

Jika pada sektor jasa dan industri pengolahan seperti Homestay, dan Batik Cikadu, tenaga kerja mereka cenderung tidak meningkat. Namun jika dikala ramai permintaan atau konsumen, mereka biasanya mempekerjakan para ibu-ibu atau pemuda di sekitar kawasan untuk menjadi tenaga kerja freelance.

3. Pertumbuhan Pelanggan

Pertumbuhan pelanggan atau konsumen tentunya merupakan dambaan dari setiap para pelaku usaha. Dengan dijadikannya Tanjung Lesung sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata, dengan tujuan meningkatkan wisatawan yang datang. Setiap wisatawan berlibur pastinya mereka membutuhkan tempat untuk menginap, makan, dan membeli oleh-oleh.

Wisatawan yang datang ke Tanjung Lesung tidak hanya datang satu kali, biasanya mereka ke Tanjung Lesung untuk yang kesekian kalinya. Dan biasanya mereka sudah memiliki tempat biasa mereka menginap, makan, menyewa alat snorkeling, dan membeli oleh-oleh. Tentunya hal ini akan berdampak langsung pada pertumbuhan pelanggan UMKM yang ada di Tanjung Lesung.

Pada intinya adalah peningkatan jumlah wisatawan akan berbanding lurus dengan pertumbuhan pelanggan para UMKM. Seperti hasil wawancara dengan informan, salah staunya dengan pemilik dan pengurus homestay, mereka mengatakan bahwa tamunya sekarang meningkat drastis, bahkan sering tamu datang dimalam hari. Selain itu, sudah banyak tamu mereka yang menjadi langgangan. Tamunya tidak hanya berasal dari Jakarta, melainkan wisatawan dari Bandung dan kota-kota lainnya sering mengadakan acara di Tanjung Lesung dan mereka menginap di homestay untuk waktu yang lumayan lama seperti 4-7 hari. Hal tersebut juga terjadi pada pelaku usaha Rumah Makan, konsumen mereka selalu meningkat, sehingga mereka melakukan pembangunan kembali untuk membesarkan tempat makannya.

Seperti yang dijelaskan pada bagian Pertumbuhan Omzet Penjualan, UMKM pada sektor industri pengolahan juga mengalami, karena setiap wisatawan pasti tujuannya ialah untuk membeli oleh-oleh asli daerah Tanjung Lesung. Namun dikarenakan belum adanya gerai khusus untuk UMKM sektor industri pengolahan, maka wisatawan pun kesulitan untuk mencari oleh-oleh. Dan peningkatan pelanggan yang dirasakan oleh UMKM sektor industri pengolahan itu biasanya karena mereka menjual barangnya ke luar wilayah Tanjung Lesung, seperti di pusat kota Kabupaten Pandeglang.

Berdasarkan hasil wawancara pula, pertumbuhan pelanggan juga biasanya terjadi karena promosi yang dilakukan oleh tamu yang sudah

pernah datang ke Tanjung Lesung, dan memberi tahukan kepada kerabatnya yang lain.

4.4.2 Dampak Ekonomi

Dalam penelitian ini teori yang digunakan untuk menganalisis dampak ekonomi dijadikannya Tanjung Lesung sebagai Kawasan Ekonomi Khusus ialah teori dampak ekonomi menurut Cohen (2006), yang meliputi: 1) Penerimaan Devisa; 2) Pendapatan Masyarakat; 3) Kesempatan Kerja; 4) Pendapatan Pemerintah.

1. Penerimaan Devisa

KEK Tanjung Lesung zona pariwisata merupakan salah satu sumber penerimaan devisa. Sektor pariwisata memberikan kontribusi yang cukup besar bagi perolehan devisa negara. Apabila dibandingkan dengan sepuluh komoditi utama penghasil devisa negara, kontribusi pariwisata dalam devisa negara berada pada urutan keempat, setelah minyak dan gas bumi, batubara, minyak kelapa sawit pada tahun 2014 dan 2015.

Sumber Devisa pada suatu negara dari sektor pariwisata yang didapatkan dari turis mancanegara maupun turis domestik. Semakin banyak turis yang datang untuk pariwisata khususnya turis asing, maka devisa negara akan semakin meningkat. Karena wisatawan asing akan menukarkan mata uang negaranya dengan mata uang negara Indonesia.

Tabel 4.9

Prakiraan Jumlah Penerimaan Devisa (dalam USD Dollar) Tahun 2010 – 2017

Tahun Prakiraan Jumlah Penerimaan Devisa (dalam USD Dollar)

2010 7.002.944 7603446448 2011 7.213.032 7831549841 2012 7.429.923 8066496337 2013 7.652.306 8308491227 2014 7.881.875 8557745964 2015 8.118.331 8814478342 2016 8.361.881 9078912693 2017 8.612.738 9351280074

Sumber: FS KEK Pariwisata Tanjung Lesung, 2014

Tabel 4.9 menunjukkan prakiraan penerimaan Devisa setelah Tanjung Lesung ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Namun untuk data rill mengenai penerimaan devisa saat ini tidak bisa menunjukkan datanya, dikarenakan sampai saat ini penerimaan devisa masih menjadi wewenang pemerintah pusat. Karena belum adanya pelimpahan wewenang kepada Administrator Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

2. Pendapatan Masyarakat

Peningkatan pendapatan masyarakat merupakan suatu kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat melalui adanya peningkatan daya beli keluarga untuk membiayai kebutuhan sehari-hari baik kebutuhan dasar, kebutuhan sosial, maupun kebutuhan lainnya yang terlihat dari

penghasilan keluarga. Meningkatnya jumlah wisatawan yang datang setiap tahunnya, mendorong masyarakat sekitar KEK Tanjung Lesung untuk terkait dalam kegiatan wisata.

Wisatawan yang datang akan berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat sekitar lokasi KEK. Sebelum Tanjung Lesung dijadikan KEK, masyarakatnya bermata pencaharian nelayan, dan petani. Namun setelah dijadikan KEK mata pencaharian masyarakat sekitar mulai berubah, saat ini masyarakat sekitar mulai memiliki usaha yang berkaitan dengan kegiatan pariwisata, seperti homestay, souvenir, oleh-oleh, rumah makan, serta pelayanan jasa lainnya. Mayoritas informan yang memiliki usaha tersebut, menyatakan terjadinya peningkatan pendapatan mereka, walaupun belum signifikan. Sedangkan untuk masyarakat yang mata pencahariannya tidak ada kaitannya dengan kegiatan pariwisata, tidak mengalami peningkatan pendapatan, dan belum merasakan dampak dari adanya Kawasan Ekonomi Khusus. Pada intinya adalah peningkatan pendapatan masyarakat hanya pada mata pencaharian di sektor yang berkaitan dengan pariwisata. Sedangkan untuk masyarakat yang berprofesi diluar sektor pariwisata mengalami penurunan pendapatan. Salah satunya ialah petani yang merasakan dampak negatifnya. Saat ini lahan pertanian sudah berkurang sehingga para petani sekarang menjadi buruh serabutan yang penghasilannya lebih rendah.

Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung memberikan kesempatan kerja yang cukup besar bagi masyarakat setempat. Jika KEK Tanjung Lesung sudah rampung atau selesai dalam pembangunan, investor sudah datang, maka KEK Tanjung Lesung mampu menyerap 200.000 lebih tenaga kerja. Untuk saat ini, dikarenakan proyek KEK Tanjung Lesung ini belum selesai, maka kesempatan kerja pun belum terbuka luas. Kesempatan kerja saat ini lebih bersifat tidak langsung dan/atau tidak tetap. Karena yang secara langsung hanya sekitar 350 orang yang terserap menjadi karyawan di Kawasan, warga lokal yang bekerja di kawasan biasanya menjadi pramusaji, pramuwisata, bagian staf di Hotel, OB, dan pekerjaan low skill lainnya. Karena untuk jajaran direksi SDM masyarakat sekitar belum mumpuni. Namun untuk dampak tidak langsungnya itu tidak terhitung, karena usaha-usaha UMKM di buffer zone nya tumbuh, seperti homestay, rumah makan, souvenir, dan pelayanan jasa pariwisata lainnya.

Berdasarkan hasil wawancara, sejauh KEK berlangsung, pengangguran yang ada di sekitar KEK Tanjung Lesung, sedikit demi sedikit sudah berkurang walaupun tidak signifikan. Seperti para pemuda yang dulunya tidak memiliki pekerjaan yang jelas, sekarang sudah menjadi para pegawai di Homestay, Rumah Makan, dan Industri Pengolahan. Karena memang jumlah yang bekerja di dalam KEK Tanjung Lesung masih sedikit, tapi karena tumbuhnya usaha-usaha juga mengakibatkan kesempatan kerja terbuka, dan penggangguran sedikit bisa diatasi.

4. Pendapatan Pemerintah

Dampak Ekonomi secara makro dengan dijadikannya Tanjung Lesung sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) ialah pada pendapatan pemerintah. Sumber pendapatan pemerintah ialah bersumber dari perpajakan, penerimaan negara bukan pajak, retribusi, pinjaman, serta penerimaan hibah dari dalam dan luar negeri.

Tabel 4.10

PDRB Kabupaten Pandeglang Atas Dasar Harga Konstan (2010) Tahun 2013-2015

No Lapangan Usaha 2013 2014 2015

1 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

4.770.539,33 4.703.522,35 5.068.620,30 2 Pertambangan dan Penggalian 1.370.534,41 1.448.233,67 1.494.333,01 3 Industri Pengolahan 964.402,44 1.004.829,57 1.048.398,07 4 Pengadaan Listrik dan Gas 99.471,83 99.693,17 102.514,48 5 Pengadaan Air, Pengelolaan

Sampah, Limbah, dan Daur Ulang

9.462,53 10.336,86 10.883,68

6 Konstruksi 706.120,28 780.145,98 835.302,30

7 Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

1.803.091,65 1.941.864,65 2.020.283,30

8 Transportasi dan Pergudangan 843.045,76 942.494,50 981.789,83 9 Penyediaan Akomodasi dan

Makan Minum

711.606,18 800.752,23 874.266,37 10 Informasi dan Komunikasi 57.225,36 67.085,00 69.714,73 11 Jasa Keuangan Asuransi 370.380,58 384.540,68 402.940,30 12 Real Estate 1.178.350,17 1.260.515,65 1.333.121,36 13 Jasa Perusahaan 34.113,53 35.572,60 37.858,69 14 Administrasi Pemerintahan, 743.697,96 833.588,73 893.440,40

Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

15 Jasa Pendidikan 443.569,36 489.674,92 522.238,31 16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan

Sosial

137.743,13 150.054,62 159.478,05 17 Jasa Lainnya 144.528,91 155.926,15 164.997,73

PDRB 14.387.883,39 15.108.831,33 16.010.180,90 Sumber: BPS Kabupaten Pandeglang, 2016

Berdasarkan tabel 4.10 pendapatan Pemerintah dari sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mengalami peningkatan, dapat dilihat dari tahun 2013 sebesar Rp.711.606,18 meningkat sebesar 89.146,05 pada tahun 2014 atau pertumbuhannya sekitar 12.53%, dan terjadi peningkatan lagi pada tahun 2016 yaitu sebesar 73.514,14 atau sekitar 9.2%. hal ini mengindikasikan terjadi peningkatan yang cukup tinggi bagi pendapatan pemerintah dari sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, yang termasuk didalamnya ialah pendapatan dari hotel, dan restoran.

Peningkatan tersebut dikarenakan banyaknya peningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Pandeglang khususnya Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung, sehingga penyediaan akomodasi ke kawasan tersebut meningkat, dan hotel-hotel dan restoran juga tumbuh di KEK Tanjung lesung, hal ini tentunya meningkatnya pajak dan retribusi Izin Mendirikan Pembangunan (IMB) Kabupaten Pandeglang.

Selain itu, sektor transportasi juga meningkat pada tahun 2013 sebesar Rp. 843.045,76, dan pada tahun 2014 sebesar Rp. 942.494,50, itu

berarti terjadi peningkatan sebesar Rp. 99.448,74 atau 11,79%. Sedangkan dari tahun 2014 ke tahun 2015 terjadi peningkatan sebesar Rp.39.295,33 atau 4%. Dari perbandingan 3tahun terakhir tersebut, peningkatan pendapatan pemerintah dari sektor transportasi cukup tinggi.

Namun sepertinya dengan adanya KEK Tanjung Lesung hanya berdampak signifikan pada pendapatan pemerintah daerah atau dalam hal ini ialah Kabupaten Pandeglang. Berdasarkan wawancara dengan informan, sampai saat ini pihak Kecamatan Panimbang dan Desa Tanjung Jaya tidak ada pendapatan secara langsung dari adanya KEK Tanjung Lesung ini, melainkan secara tidak langsung.

Secara tidak langsungnya yaitu, PT BWJ mengeluarkan dana untuk mengembangkan Desa dan Kecamatan yaitu dana Corporate Social Responsibility (CSR), dan itu pun tidak berbentuk uang. Melainkan mereka membuat sekolah pariwisata, perkebunan salak yang tujuannya adalah agar masyarakat sekitar mampu berkembang.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian mengenai dampak pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus terhadap pertumbuhan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Tanjung Lesung Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten yang didalamnya menggunakan teori pertumbuhan usaha menurut Kim dan Choi (1994) dalam Mohammad Soleh (2008:25) yang terdiri dari tiga dimensi yaitu Pertumbuhan Omzet Penjualan, Jumlah Tenaga Kerja, dan Jumlah Pelanggan. Selain itu penelitian ini juga menggunakan teori dampak ekonomi menurut Cohen (1994) yaitu Penerimaan Devisa, Pendapatan Masyarakat, Kesempatan Kerja, dan Pendapatan Pemerintah.

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan penelitian serta penjabaran dari masing-masing dari teori yang digunakan, maka kesimpulan dari penelitian ini bahwa dampak pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus terhadap pertumbuhan UMKM di Tanjung Lesung sudah memberikan dampak yang cukup positif. Hal ini terlihat dari tumbuhnya UMKM baik secara jumlah maupun kualitas. Kualitas UMKM dilihat menggunakan teori pertumbuhan usaha, maka pada dimensi pertumbuhan omzet penjualan memang dirasakan oleh para pelaku usaha yang bidangnya mendorong pariwisata. Seperti homestay, Rumah Makan, Jasa penyewaan alat snorkeling, dan kerajinan-kerajinan. Pertumbuhan omzet penjualan dirasakan oleh usaha-usaha yang mendukung sektor pariwisata. Hal ini

terlihat dari peningkatan permintaan barang dan jasa dari para wisatawan. Sedangkan untuk dimensi peningkatan jumlah tenaga kerja itu belum terjadi pada seluruh UMKM di Tanjung Lesung, peningkatan tenaga kerja hanya terjadi pada usaha Rumah Makan. Dan untuk dimensi peningkatan pelanggan, dikarenakan wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang ke Tanjung Lesung meningkat, maka tentulah hal ini meningkatkan pertumbuhan pelanggan atau konsumen bagi para UMKM. Namun yang terjadi dilapangan, usaha Batik Cikadu merasakan peningkatan pelanggan di luar kawasan Tanjung Lesung, sedangkan dampak dari pembangunan KEK Tanjung Lesung terhadap pertumbuhan pelanggan masih kurang hal ini dikarenakan belum adanya gerai khusus UMKM di Tanjung Lesung

Sedangkan untuk dampak ekonomi dari adanya pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus dilihat dari dimensi Penerimaan Devisa, Pendapatan Masyarakat, Kesempatan Kerja, dan Pendapatan Pemerintah. Dimensi Penerimaan Devisa, peningkatan wisatawan mancanegara tentu akan berpengaruh terhadap penerimaan devisa Negara. Namun sangat disayangkan sampai saat ini pengurusan devisa masih oleh pemerintah pusat, jadi belum dilimpahkan kepada Administrator KEK. Selain itu, peningkatan wisatawan mancanegara belum signifikan dikarenakannya belum tersedia fasilitas-fasilitas pendukung yang ada di KEK, terutama aksesibilitas seperti bandara Banten Selatan. Dimensi Pendapatan Masyarakat, setelah ada KEK Tanjung Lesung pendapatan masyarakat terjadi peningkatan. namun peningkatan tersebut belum dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, jadi yang merasakan peningkatan pendapatan hanyalah para pelaku

usaha di sektor pariwisata yang ada di Tanjung Lesung, sedangkan untuk masyarakat yang berprofesi sebagai petani merasakan dampak negatif dari adanya KEK dikarenakan berkurangnya lahan pertanian, sehingga mereka beralih menjadi buruh atau serabutan yang penghasilannya lebih kecil. Dimensi Kesempatan Kerja, pada dasarnya tujuan dari KEK Tanjung Lesung ialah mampu menyerap 200.000 tenaga kerja. Dikarenakan KEK Tanjung Lesung belum terselesaikan, maka kesempatan kerja belum terbuka lebar. Namun saat ini sudah banyak warga sekitar yang bekerja di Tanjung Lesung yaitu 95% adalah warga lokal. Biasanya mereka bekerja sebagai pegawai di Hotel. Walaupun yang terserap baru 350 lebih, namun setelah Tanjung Lesung dijadikan KEK kesempatan warga sekitar membuka usaha sangat terbuka lebar, terbukti dari tumbuhnya usaha-usaha di sekitar KEK Tanjung Lesung, tentunya hal ini sedikit mengurangi pengangguran. Dimensi terakhir yaitu pendapatan pemerintah, PDRB Kabupaten Pandeglang dari tahun 2013-2015 mengalami peningkatan dari sektor Penyediaan akomodasi dan makan minum. Hal ini dikarenakan tumbuhnya hotel-hotel dan restoran yang ada di Tanjung Lesung sehingga meningkatkan pendapatan retribusi dan pajak pemerintah daerah.

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka saran yang menjadi rekomendasi peneliti sebagai berikut:

1. Dilihat dari Dampak terhadap Pertumbuhan Usaha Mikro Kecil dan