AKUNTABILITAS KINERJA
3.2. EVALUASI DAN ANALISIS KINERJA
3.2.5. DATA DAN INFORMASI BIDANG PERMUKIMAN
Di tahun 2014, output ini menghasilkan kinerja berupa laporan penyusunan data dan informasi bidang permukiman dengan realisasi sebanyak 11 laporan atau 100%
dari target yang telah ditetapkan.
Dalam pelaksanaannya, output ini dilaksanakan oleh Sub Direktorat Data dan Informasi yang merupakan unit eselon III yang dipimpin oleh seorang Kasubdit.Unit ini mempunyai tugas utama pengembangan dan pengelolaan data dan sistem informasi; penyusunan laporan kemajuan pelaksanaan pembangunan; penyusunan dan pengelolaan dokumen dan informasi publik; serta pengelolaan dan pelayanan informasi publik. Kegiatan Cipta Karya yang dimaksud termasuk kegiatan reguler maupun program pemberdayaan.
III – 15 Tabel 3.10. Pencapaian Kinerja Output Data dan Informasi Bidang Permukiman
Indikator Output Target
Sumber: Permen PU Nomor 20/PRT/M/2012 tentang Perubahan Kedua atas Permen PU Nomor 02/PRT/M/2010 tentang Renstra Kementerian PU 2010-2014
Pelaksanaan kegiatan tahun 2014, berdasarkan DIPA output ini menghasilkan kinerja sebanyak 11 laporan penyusunan data dan informasi bidang permukiman.
Jika dikaitkan dengan target Renstra, maka pencapaian output ini hingga tahun 2014 telah melebihi target sebesar 134,88%.
Selama tahun 2014, telah dihasilkan pencapaian diantaranya sebagai berikut:
1. Pengembangan dan pengelolaan data dan sistem informasi di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya
Dalam mengantisipasi tantangan dan kebutuhan data di masa depan, telah disusun rencana strategis pengembangan sistem informasi Direktorat Jenderal Cipa Karya yang diantaranya diimplementasikan melalui 1] Surat Edaran tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengelolaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya Nomor 21/SE/DC/2014 tanggal 24 Desember 2014 untuk diberlakukan pada periode 2015-2019; 2] Penyusunan Struktur Kekerabatan Teknologi Informasi untuk mempercepat berlangsungnya Tata Kelola IT yang baik; 3] Penyusunan Blue Print Sistem Informasi 2015-2019; serta 4] Pengembangan Sistem Monitoring Aplikasi berbasis web di lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya.
2. Pengelolaan dan Pelayanan Komunikasi Publik
Pengelolaan komunikasi publik diarahkan kepada pengelolaan “merk” Cipta Karya dalam membentuk citra positif Ditjen Cipta Karya serta penentuan posisi yang baik sebagai organisasi Pemerintah di mata public dalam penyelenggaraan permukiman yang layak huni dan berkelanjutan. Pelayanan komunikasi publik dilaksanakan dengan berkoordinasi bersama Puskompu dan PPIP.
Pelaksanaan pengelolaan dan pelayanan komunikasi publik juga dilaksanakan melalui 1] penyelenggaraan peresmian, pameran dan display bidang Cipta Karya dalam rangka mempublikasikan dokumentasi hasil-hasil pembangunan yang dilaksanakan melalui media peraga di luar dan di dalam ruangan; 2]
publikasi Buletin Cipta Karya untuk menyebarluaskan informasi mengenai hasil pembangunan dan inovasi bidang Cipta Karya secara reguler dan berkualitas; 3] pengelolaan situs web secara berkala dan konsisten; serta 4]
kampanye komunikasi publik kepada masyarakat luas melalui pelaksanaan dialog publik, talk show, penanyangan iklan dan film melalui media radio dan televisi dan hubungan media (media relations).
III – 16 3.2.6. EVALUASI KINERJA BIDANG PERMUKIMAN
Dalam mendukung pencapaian sasaran, pada akhir tahun 2014, Direktorat Bina Program telah merealisasikan sebanyak 13 kegiatan evaluasi kinerja bidang permukiman (100%). Kegiatan ini didukung oleh unit kerja Sub Direktorat Evaluasi Kinerja setingkat unit eselon 3 (tiga). Unit ini mempunyai tugas utama yaitu mengevaluasi dan memberikan masukan (berdasarkan hasil evaluasi) terhadap kinerja seluruh Direktorat Teknis di bawah Direktorat Jenderal Cipta Karya.
Dengan realisasi kinerja sebesar 100%, dapat dikatakan bahwa output Evaluasi Kinerja memiliki kinerja yang sangat optimal selama tahun 2014. Jika disandingkan dengan capaian tahun-tahun sebelumnya, maka target Renstra 2010-2014 telah terealisasi sebanyak 117,78% dokumen evaluasi kinerja bidang permukiman atau telah melebihi target (Tabel 3.9.).
Tabel 3.11. Pencapaian Kinerja Output Evaluasi Kinerja Bidang Permukiman Indikator Output Target
Sumber: Permen PU Nomor 20/PRT/M/2012 tentang Perubahan Kedua atas Permen PU Nomor 02/PRT/M/2010 tentang Renstra Kementerian PU 2010-2014
Salah satu hasil dari output ini adalah tersusunnya Indeks Permukiman Perkotaan Berkelanjutan tahun 2014 di 41 kota/kabupaten. Indeks ini mencoba mengukur upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah dalam mewujudkan suatu permukiman perkotaan yang berkelanjutan. Indeks ini akan dipantau secara terus menerus, dan digunakan untuk menggambarkan hasil dari pelaksanaan Renstra.
Selain itu, telah pula dihasilkan buku cascading, yang menggambarkan keterkaitan kinerja antara kinerja organisasi dengan kinerja individu melalui penyusunan serangkaian indikator. Buku ini merupakan dokumen pendukung terhadap pelaksanaan Sistem Manajemen Kinerja Direktorat Jenderal Cipta Karya (SMK).
Selain buku ini, dalam mendukung SMK, disusun pula sistem informasi sederhana yang menggambarkan keterkaitan antara individu dengan organisasi.
Pada tahun 2014 pula, telah dihasilkan Panduan Pemantauan dan Evaluasi Kegiatan yang Responsif Gender Bidang Cipta Karya. Penyusunan panduan ini merupakan jawaban atas pelaksanaan kebijakan yang responsif gender. Melalui panduan ini, pelaksanaan monev Responsif Gender dapat dilakukan dengan bertanggungjawab dan segala hasilnya dapat ditindaklanjuti oleh manajemen.
Diluar pencapaian kinerja diatas, dalam pelaksanaan output ini, masih dihadapkan pada kendala terkait ketersediaan dan kualitas data yang dihasilkan, terlebih data kinerja pasca pelaksanaan (manfaat dan dampak). Pada tahun 2014, upaya untuk mengatasi kendala ini terus dilakukan melalui pengumpulan data kinerja kebermanfaatan. Pengumpulan ini dibantu oleh konsultan individu pada satker randal provinsi. Data kinerja ini selanjutnya didokumentasikan dalam Sistem Informasi Manajemen Evaluasi Kinerja (SIM EK)
III – 17 3.2.7. PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PROGRAM BIDANG PERMUKIMAN
Selama tahun 2014, output perencanaan dan pengendalian ditargetkan untuk menghasilkan 84 dokumen laporan perencanaan dan pengendalian program bidang permukiman dengan dukungan dana sebesar Rp 134.845.386.000,-. Di akhir tahun, output ini telah merealisasikan sebanyak 84 dokumen laporan (100%). Dalam pelaksanaannya, output ini dilaksanakan oleh unit kerja Satker Perencanaan dan Pengendalian Program Bidang Cipta Karya Pusat dan Satker Perencanaan dan Pengendalian Program Bidang Cipta Karya Propinsi yang tersebar di 32 propinsi.
Satker Perencanaan dan Pengendalian Program Bidang Cipta Karya merupakan kepanjangan tangan Direktorat Jenderal Cipta Karya untuk memperpendek jangkauan koordinasi kepada Pemerintah Kabupaten/Kota.
Tabel 3.12. Pencapaian Kinerja Output Perencanaan dan Pengendalian Program Bidang Permukiman
Sumber: Permen PU Nomor 20/PRT/M/2012 tentang Perubahan Kedua atas Permen PU Nomor 02/PRT/M/2010 tentang Renstra Kementerian PU 2010-2014
Kemudian, jika dibandingkan dengan target Renstra, capaian output ini hingga 2014 telah terealisasi sebanyak 108,51%. Tentunya jika dibandingkan dengan target Renstra, maka pencapaian hingga 2014 telah melebihi target. Adapun hasil dari output ini adalah termutakhirnya pedoman RPIJM dalam rangka merespon kebijakan penanganan infrastruktur permukiman secara terpadu berbasis entitas.
Selanjutnya di tahun 2014 pula, RPIJM berganti nama menjadi RPI2JM.Terkait perubahan ini, 92 kab/kota di 20 provinsi yang mendapat pendampingan bantuan teknis penyusunan RPI2JM.
RPI2JM sebagai delivery sistem pembangunan bidang Cipta Karya merupakan perwujudan pendekatan bottom up yang merepresentasikan kebutuhan pembangunan dari perspektif Kab/Kota. Sehingga keberpihakan anggaran harus mengacu kepada usulan-usulan yang termuat di dalam RPI2JM. Kebijakan Direktorat Jenderal Cipta Karya memprioritaskan penyelenggaraan pembangunan bidang Cipta Karya pada kegiatan-kegiatan yang termuat di dalam dokumen RPI2JM.
Hasil lain di 2014 adalah terkait pengembangan Sistem Informasi Perencanaan (SIP). Sejak tahun 2012, Satker Randal Pusat menginisiasi terbangunnya Sistem Informasi Perencanaan dan Penganggaran (SIPP) yang bertujuan untuk melakukan perencanaan pembangunandengan prinsip transparan, akuntabel, dan partisipatif.
Sistem yang dibangun berbasis e-planning untuk mendorong perubahan paradigma konvensional menuju e-planning. SIPP didesain berbasis web dan dapat diakses/
digunakan online atau offline. Muatan yang terdapat didalam SIPP mencakup kompilasi usulan kegiatan RPIJM/MP, Konreg, dan Renja yang terintegrasi. Sehingga kronologis penganggaran mulai dari usulan tersebut diusulkan Kabupaten/Kota hingga menjadi RKA-KL dapat terkompilasi, terkonsolidasi, dan terpantau oleh semua pihak yang berkepentingan di pusat dan daerah. Keluaran data dari sistem
III – 18 ini, di antaranya: 1] Rekapitulasi isian dan upload data RPIJM dari seluruh Kabupaten/Kota; 2] Rekapitulasi Penilaian RPIJM Kab/Kota seluruh Provinsi; 3]
Rekapitulasi isian dan upload data MP hasil kesepakatan di Provinsi; 4] Usulan kegiatan Konreg, 5] Usulan kegiatan Renja; 6] Notifikasi evaluasi isian data dan ketidaklengkapan dokumen, readiness criteria pada proses pengusulan; dan 7]
Penajaman dan pengembangan report-report lainnya yangdibutuhkan oleh Pusat (Direktorat Bina Program dan direktorat sektor). SIPP juga diarahkan menjadi tools bagi pusat dan daerah dalam perumusan dan pengambilan keputusan, dan alat yang mempermudah analisis sehingga cepat retrieve data dan rekonsiliasi dari data yang besar. Diharapkan sistem ini menjadi database yang terintegrasi antara kebijakan pusat dan daerah, renstra pusat dan kebutuhan penanganan infrastruktur daerah, serta data-data perencanaan Cipta Karya lainnya.
Memperhatikan pelaksanan aspek perencanaan dan pengendalian pembangunan oleh Satker Randal Provinsi sejak tahun 2011, maka terdapat beberapa catatan penting yang kiranya bisa menjadi pembelajaran dalam manajemen pembangunan sektor Cipta Karya.
a. Peningkatan Kualitas Dokumen RPI2JM
RPI2JM merupakan dokumen investasi infrastruktur bidang Cipta Karya dengan prinsip multi tahun, multi sektor dan multi pendanaan yang menjadi acuan bagi Pusat dan daerah dalam penyelenggaraan pembangunan bidang Cipta Karya.
RPI2JM menjadi tools bagi Kab/kota dalam perencanaan pembangunan jangka menengah sehingga perencanaan pembangunan yang dilakukan dengan paradigma tahunan bisa dirubah menjadi perencanaan pembangunan yang berkesinambungan (kerangka multi tahun). RPI2JM juga diharapkan bisa meningkatkan kepedulian (awareness) Kab/Kota pada pembangunan bidang Cipta Karya yang selama ini cenderung kurang diprioritaskan oleh daerah.
Pada awal penyusunannya di tahun 2008, belum semua Kab/Kota mampu menyusun dokumen RPIJM. Hanya 80% dari seluruh Kab/Kota yang ada di Indonesia yang mampu menyusun dokumen RPIJM dengan kualitas dokumen yang belum sesuai harapan. Sebagai upaya meningkatkan kualitas dokumen RPIJM maka Satker Randal mendampingi masing-masing Kabupaten/Kota dalam penyusunan maupun pemutakhiran dokumen RPIJM. Acuan yang digunakan adalah buku pedoman yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya. Proses ini mendapat dukungan dari Konsultan Individual yang dikontrak oleh Satker Randal Provinsi.
Berdasarkan hasil pengamatan Satker Randal PIP Pusat, maka terlihat bahwasanya terjadi peningkatan kualitas dokumen RPIJM sesuai dengan pedoman yang diberikan dari tahun 2011-2014. Jumlah dokumen RPIJM yang masih belum memadai jumlahnya berkurang sejak tahun 2011-2014.
b. Peningkatan Kualitas pemrograman dan perencanaan
RPI2JM sebagai delivery system pembangunan bidang Cipta Karya merupakan perwujudan pendekatan bottom up yang merepresentasikan kebutuhan
III – 19 pembangunan dari perspektif Kabupaten/Kota. Sehingga keberpihakan anggaran harus mengacu kepada usulan-usulan yang termuat didalam RPI2JM.
Seiring meningkatnya kualitas dokumen RPI2JM, perencanaan program dan anggaran bidang Cipta Karya mengacu kepada usulan-usulan yang berasal dari Kabupaten/Kota (RPI2JM). Hal ini didorong oleh peran Satker Randal Provinsi dalam memfasilitasi Kab/Kota dan Satker Sektor Provinsi dalam berkoordinasi merencanakan dan menyusun program dan anggaran kegiatan-kegiatan bidang Cipta Karya.
Sejak tahun 2011 hingga tahun 2013, persentase kegiatan yang berasal dari usulan RPIJM Kabupaten/Kota meningkat tiap tahunnya. Hal ini merefleksikan semakin meningkatnya komitmen Pemerintah Kabupaten/Kota dalam mengusulkan kegiatan dalam RPIJM yang diikuti dengan kesiapan readiness criteria. Khusus untuk kegiatan tahun 2014, terdapat beberapa Provinsi yang alokasi persentase kegiatan yang berasal dari alokasi RPIJM cukup signifikan seperti Provinsi Aceh, Maluku Utara, Kalteng, Jateng dan Bali. Sedangkan provinsi yang perlu mendapat perhatian adalah Sumatra Utara, Jambi, Papua, Papua Barat dan Kalimantan Timur.
Sumber data: Satker Randal Pusatm 2014
Diagram 3.2. Kesesuaian Kegiatan Tahun 2014 dengan Usulan pada RPI2JM Di masa mendatang, besaran persentase kegiatan tentunya bukan menjadi tujuan akhir dari penyusunan dokumen RPI2JM bidang Cipta Karya, akan tetapi yang diharapkan adalah bagaimana pendanaan dari pusat merupakan program bersama antara Pemerintah Pusat dan Daerah sesuai dengan komitmen dalam dokumen RPI2JM dan Memorandum Program.
c. Meningkatkan Koordinasi Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Bidang Cipa Karya
Untuk meningkatkan kualitas perencanaan dan pengendalian bidang Cipta Karya, maka Satker Randal Provinsi melaksanakan kegiatan-kegiatan strategis yang diharapkan meningkatkan kinerja pembangunan bidang Cipta Karya. Kegiatan
III – 20 tersebut dilaksanakan baik dengan mekanisme kontraktual ataupun swa kelola.
Selain itu Satker Randal Provinsi mendapatkan tugas tambahan sebagai ketua ULP bidang Cipta Karya di masing-masing Provinsi.
Pelaksanaan serangkaian tugas itupun sendiri ternyata amat beragam kualitasnya.
Memperhatikan pengalaman Satker Randal Provinsi dalam melaksanakan tugasnya, maka terdapat beberapa pembelajaran yang dapat dijadikan pedoman, diantaranya; (i) rendahnya kepedulian aparat Pemerintah Kabupaten/Kota dalam melaksanakan tata kelola pelaksanaan pengendalian pembangunan Cipta Karya, seperti ketaatan pengisian e-mon, ketaatan mereview RPIJM dan lain sebagainya;
(ii) komitmen Pemerintah Kabupaten/Kota yang tidak maksimal mendukung pembangunan sektor Cipta Karya; (iii) komunikasi antar Satker bidang Cipta Karya yang masih berjalan secara sektoral dan belum bergerak utuh sebagai satu unit Cipta Karya. Hal ini menghambat proses koordinasi yang dipimpin oleh Satker Randal Provinsi; dan (iv) beragamnya kualitas Pejabat Inti Satker dalam memahami pekerjaan Satker Randal Provinsi secara untuh sehingga “outcome” yang diharapkan muncul dalam proses koordinasn tersebut belum berjalan dengan baik.