• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. Metode Estimasi Perhitungan Sumber Daya Alam

4.4. Data Pembanding

Sebagai uji validasi hasil estimasi perhitungan sumber daya alam metode LPEM-FEUI dan NRM seharusnya digunakan data realisasi bagi hasil tahun 1995-1997. Namun demikian terdapat beberapa masalah:

(1) Beberapa sumber daya alam tidak pernah dibagihasilkan.

Dalam hal ini minyak bumi dan gas alam tidak pernah dibagihasilkan sebelumnya.

Karenanya, informasi yang ada hanyalah data penerimaan pemerintah pusat.

Kesulitan utama dari data ini adalah menelusuri dari propinsi/kabupaten/kota mana penerimaan itu berasal. Di Deptamben ada data mengenai besarnya produksi dari berbagai kontraktor yang beroperasi di berbagai wilayah Indonesia. Walaupun

7 Untuk kepentingan yang relatif netral, Depkeu dan BPS telah terbiasa melakukan penyesuaian terhadap data-data yang dimilikinya sehingga data-data tersebut relatif lebih sesuai dengan kenyataan di lapangan.

kelengkapan dan akurasi data tersebut relatif susah dipertanggungjawabkan, data yang ada di Deptamben ini yang akan digunakan sebagai data pembanding hasil perhitungan metode LPEM-FEUI dan NRM.

(2) Beberapa sumber daya alam sudah pernah dibagihasilkan.

Dalam hal ini pertambangan, kehutanan dan perikanan sudah dibagihasilkan walaupun cara pembagihasilkan tidak sama dengan aturan yang ada di UU No.

25/1999. Untuk membandingkannya dengan hasil estimasi metode LPEM-FEUI dan NRM, penerimaan pemerintah dari sumber daya alam ini harus diredistribusikan sesuai dengan UU No. 25/1999. Untuk sektor pertambangan umum, tim penulis berhasil mendapatkan data mengenai besarnya penerimaan dari sumber daya ini yang diterima daerah. Dengan demikian, dapat diketahui dari daerah mana saja penerimaan pemerintah sumber daya alam tambang umum ini berasal dan peredistribusian penerimaan pemerintah berdasarkan UU No. 25/1999 relatif mudah.

Untuk kehutanan dan perikanan, tim penulis tidak berhasil mendapatkan data penerimaan daerah. Tarif pajak efektif yang diperoleh dari metode NRM akan dipergunakan untuk menghitung penerimaan daerah paska UU No. 25/1999.

4.4.1. Data Pembanding Migas

Perhitungan data pembanding bagi hasil sumber daya alam migas menggunakan data dan informasi menghitung yang bersumber dari Deptamben. Dari Deptamben didapat data lifting minyak bumi dan gas alam yang menjadi bagian pemerintah dari tiap kontraktor yang telah berproduksi. Tahapan perhitungan selanjutnya yang dilakukan adalah sebagai berikut:

 Tahap 1: Menghitung nilai equity share pemerintah.

 Tahap 2: Menghitung seluruh komponen pajak dari lifting (lihat Diagram 1 dan 2)

 Tahap3: Menghitung penerimaan migas pemerintah (net of tax) yang siap dibagihasilkan dengan cara mengurangi hasil Tahap 1 dengan hasil Tahap 2.

 Tahap 4: Menjumlahkan hasil Tahap 3 berdasarkan lokasi kerja kontraktor (lihat Tabel 8). Dalam hal ini kontraktor yang wilayah kerjanya masuk kategori lepas pantai (off-shore) tidak ikut dijumlahkan penerimaan migas yang dibagihasilkan antara pemerintah pusah dan daerah, kecuali untuk kasus ARII, YPF Maxus (Jabar)

dan ARBNI, JDA Kodeco (Jatim). Keempat kontraktor ini ikut dijumlahkan karena wilayah kerja lepas pantainya sudah jelas (kurang dari 4 mil).8

 Tahap 5: Menetapkan bagian daerah sesuai dengan UU No.25/1999. Total penerimaan propinsi dan kabupaten/kota dari minyak bumi adalah 15% dari bagian pemerintah (net of tax) dan untuk gas alam sebesar 30%nya. Perhitungannya:

 Total penerimaan minyak bumi (propinsi+kabupaten+kota) = 0.15 x total penerimaan pemerintah dari minyak bumi di propinsi yang bersangkutan.

 Total penerimaan gas alam (propinsi+kabupaten+kota) = 0.3 x total penerimaan pemerintah dari gas alam di propinsi yang bersangkutan.

Tabel 8. Kontraktor Minyak Bumi dan Gas Alam Berdasarkan Propinsi

Propinsi Kontraktor

Riau CPI (Rokan), C&T (CPP), C&T (MFK), C&T (Siak)

Kaltim VICO (Sanga-Sanga), Total Indonesie (Mahakam), JOB Total Indonesie (Tengah), INPEX (Mahakam), EXSPAN Kalimantan (Tarakan), EXSPAN Kalimantan (Sanga-Sanga)/TAC

Aceh Mobil Oil (Block B), Mobil Oil (Pase), Gulf Resources NS (Block A) Irian Jaya Santa Fe (Salawati), JOB Santa Fe (Kepala Burung)

Sumut JOB JAPEX NS (Gebang)

Jambi Santa Fe (Jabung), EXSPAN Sumatera (Rimau), JOB YPF/SAGA (Jambi Merang)

Jabar ARII, YPF Maxus

Jatim JOB Santa Fe (Tuban), LAPINDO (Brantas), GFB Resources (Bawean), ARBNI (Kangean), JOA Kodeco (W. Madura)

Sulsel Energy Equity (Sengkang) Maluku Karlrez Petroleum (Bula Seram)

Sumsel EXSPAN Sumatera (SNC), Gulf Resources (Grissik) Coridor PSC, Gulf Resources (Ramba) Coridor TAC, JOB Golden Spike (Raja Pendopo), JOB Talisman (OK), Amerada Hess (Lematang)

Sumber: Ditjen Migas, Deptamben.

4.4.2. Data Pembanding Non Migas

Untuk pertambangan umum diperolah data total penerimaan pemerintah dan data penerimaan setiap propinsi. Dengan demikian asal dari total penerimaan pemerintah dapat diketahui dari komposisi penerimaan setiap propinsi. Dengan diketahuinya daerah asal dari penerimaan pemerintah sektor pertambangan umum dapat dilakukan perhitungan penerimaan propinsi yang sesuai dengan UU No. 25/1999.

Untuk kehutanan, tim penulis hanya mendapatkan data total penerimaan pemerintah dan tidak berhasil mendapatkan data penerimaan propinsi dari sektor ini. Karenanya perlu digunakan angka estimasi untuk mendistribusikan total penerimaan pemerintah ke

8 Sumber daya migas lepas pantai yang dibagikan ke daerah adalah yang terletak kurang dari 4 mil (batas kabupaten) dan antara 4 mil sampai dengan 12 mil (batas propinsi). Sedangkan penerimaan sumber daya alam migas dari lokasi lepas pantai diatas 12 mil tidak dibagikan ke daerah.

berbagai propinsi. Tulisan ini menggunakan tarif pajak efektif yang dikembangkan dalam metode NRM untuk mengetahui asal dari penerimaan pemerintah sektor kehutanan.

Selanjutnya penerimaan propinsi dapat dihitung sesuai dengan aturan di UU No. 25/1999.

Catatan:

Pembagian ke propinsi dari iuran hasil hutan yang selama ini dilakukan oleh Dephutbun adalah sebagai berikut:

 Untuk setiap propinsi dengan:

 PAD<100 milyar rupiah, propinsi tersebut (jatah pemerintahan propinsi plus kabupaten dan kota di dalamnya) mendapat 1% dari total penerimaan iuran hutan (IHH dan IHPH);

 PAD 100-200 milyar rupiah, propinsi tersebut mendapat 0.5% dari total iuran hutan;

 PAD>200 milyar rupiah, propinsi tersebut mendapat 0.25% dari total penerimaan iuran hutan.

 Untuk propinsi yang memiliki sumber daya alam hutan, maka propinsi tersebut (jatah pemerintahan propinsi plus kabupaten dan kota di dalamnya) akan mendapatkan tambahan penyaluran sebesar: (porsi daerah setelah dikurangi pembagian berdasarkan PAD) x (penerimaan iuran hutan dari propinsi tsb/total penerimaan yang terkumpul di pusat).

 Bagian propinsi untuk IHPH adalah 70% dari total IHPH (SK Menhut No.94/Kpts-IV/1993), sedangkan untuk PSDH sebesar 45% dari total PSDH.

4.4.3. Hasil Perhitungan Data Pembanding

Hasil perhitungan data pembanding dapat dilihat di Tabel Lampiran 16, 17, 18 dan 19.

Dalam menghitung data pendamping terdapat beberapa masalah. Namun demikian perlu diperhatikan bahwa:

(1) Untuk kasus minyak bumi dan gas alam: Cara perolehan data dan prosedur yang dilakukan dalam menghitung data pembanding di tulisan ini kemungkinan besar akan digunakan menjadi cara perolehan data dan prosedur yang akan diterapkan dalam menghitung bagi hasil sumber daya alam minyak bumi dan gas alam antara pemerintah pusat dan daerah. Perhitungan data pembanding di sektor ini memiliki sedikit kelamahan, yaitu masih ada beberapa kontraktor, diperkirakan tidak banyak, yang tidak tercakup dalam perhitungan data pembanding.

(2) Untuk kasus pertambangan umum: Data yang diperoleh relatif lengkap. Namun kelemahan dalam menghitung data pembanding di sektor ini adalah penerimaan daerah selama ini dihitung berdasarkan lokasi kantor wilayah pertambangan (kanwil) yang menangani kegiatan pertambangan di suatu tempat. Ada beberapa kasus dimana lokasi kanwil dan kegiatan berbeda, serta kualitas pencatatan tiap kanwil berbeda-beda.

(3) Untuk kasus kehutanan: Dalam melakukan redistribusi ke daerah digunakan tarif pajak efektif ala metode NRM. Dengan demikian struktur pembagian antar propinsi dari data pembanding akan memiliki pola yang sama dengan metode NRM, hanya saja besarannya yang berbeda.

Mengamati ketiga poin di atas, maka data pembanding minyak bumi dan gas alam yang relatif valid untuk menjadi acuan hasil perhitungan metode LPEM-FEUI dan NRM.

Tabel Lampiran 20 dan 21 mempresentasikan selisih antara perhitungan dengan metode LPEM-FEUI dengan data pembanding dan selisih antara perhitungan dengan metode NRM dengan data pembanding untuk kasus minyak bumi dan gas alam.

Dari Tabel Lampiran 20 dan 21 terlihat bahwa jumlah absolut selisih antara hasil perhitungan metode LPEM-FEUI dengan data pembanding, untuk setiap tahun kasus minyak bumi dan gas alam, lebih kecil dari pada jumlah absolut selisih antara hasil perhitungan metoda NRM dengan data pembanding. Hal ini mengindikasikan bahwa hasil estimasi metode LPEM-FEUI, kemungkinan besar, lebih tepat dari hasil estimasi metode NRM. Namun demikian, sulit untuk mengatakan bahwa metode LPEM-FEUI merupakan metode yang akurat untuk mengestimasi penerimaan Bagi Hasil Sumber Daya Alam, mengingat rata-rata kesalahan per propinsi dengan metode ini antara 24% hingga 47%

(lihat kolom Rata-rata Kesalahan di Tabel Lampiran 20 dan 21).

Dokumen terkait