Penerimaan Daerah dari Bagi Hasil
Sumber Daya Alam
Oktober 2000
LPEM FEUI
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
BAPPENAS
Bekerjasama dengan :
Penerimaan Daerah dari Bagi Hasil Sumber Daya Alam
Oktober 2000
The NRM Program’s Policy and Planning Group supports cross-cutting policy analysis and institutional development and provides economic and quantitative policy analysis services to all project components and partner organizations. Working with BAPPENAS and its provincial government counterparts, NRM Policy and Planning Group works in three main subject areas:spatial and land use planning; environmental eco- nomic valuation; economic analysis/impact assessment. In addition, policy issues related to community- based resource management and land use issues are supported in collaboration with the Forestry Manage- ment Group.
For further information, please contact:
Raksaka Mahi (LPEM-FEUI), Anton Hendranata (LPEM-FEUI), Vid Adrison (LPEM-FEUI), Riatu Mariatul Qibthiyyah (LPEM-FEUI), Budy Resosudarmo (NRM),
Timothy Brown (NRM), Virza Sasmitawidjaja (NRM), Vivi Yulaswati Hadi (Bappenas) dan Mas Wedar H. Adji (Bappenas)
at: Ratu Plaza Bldg., 17th fl., Jl. Jend Sudirman 9, Jakarta 10270.
Telephone 62-21 720-9596; fax: 62-21 720-4546;
e-mail: [email protected]
Daftar Isi
Daftar Isi... i
Daftar Tabel ...iii
Daftar Diagram... vii
Daftar Singkatan ... ix
Ringkasan Eksekutif... xi
1. Pendahuluan ... 1
2. Peranan Penerimaan Bagi Hasil Dalam Membiayai Pengeluaran Daerah Selama Ini ... 3
3. Undang-Undang Serta Peraturan Daerah yang Mengatur Penerimaan dan Bagi Hasil.. 7
3.1. Jenis Penerimaan Bagi Hasil Menurut UU No.25/1999 ... 7
3.1.1. Penerimaan pajak yang dibagi-hasilkan ... 7
3.1.2. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang dibagi-hasilkan ... 8
3.1.2.1. Minyak Bumi dan Gas Alam ... 8
3.1.2.2. Pertambangan umum ... 9
3.1.2.3. Kehutanan... 9
3.1.2.4. Perikanan ... 10
3.2. Penjelasan Peraturan Perhitungan Bagi Hasil Sumber Daya Alam ... 11
3.2.1. Sumber Daya Alam Minyak Bumi dan Gas Alam (Migas) ... 11
3.2.2. Sumber Daya Alam Non Migas ... 17
3.2.2.1. Sektor Pertambangan Umum... 17
3.2.2.2. Sektor Kehutanan ... 18
3.2.2.3. Sektor Perikanan... 19
4. Metode Estimasi Perhitungan Sumber Daya Alam ... 21
4.1. Metode LPEM-FEUI ... 21
4.1.1. Minyak Bumi dan Gas Alam... 21
4.1.1.1. Minyak Bumi... 22
4.1.1.2. Gas Alam ... 24
4.1.2. Pertambangan Umum... 28
4.2. Metode NRM ... 31
4.2.1. Minyak dan Gas ... 33
4.2.2. Kehutanan ... 33
4.3. Hasil Perhitungan ... 33
4.4. Data Pembanding... 34
4.4.1. Data Pembanding Migas ... 35
4.4.2. Data Pembanding Non Migas ... 36
4.4.3. Hasil Perhitungan Data Pembanding ... 37
5. Penutup... 39
5.1. Migas ... 39
5.2. Non Migas ... 40
5.3. Aturan Bagi Hasil Secara Umum... 41
5.4. Metode Estimasi ... 42
Daftar Tabel
Tabel 1: Perbandingan Bagi Hasil Plus PAD dengan Pengeluaran Total dan
Pengeluaran Rutin Daerah Propinsi... 4
Tabel 2: Nama Propinsi, Perbandingan Bagi Hasil Plus PAD dengan Rata-rata Pengeluaran Total dan Rata-rata Pengeluaran Rutin ... 5
Tabel 3: Perbandingan Bagi Hasil Plus PAD dengan Pengeluaran Total dan Pengeluaran Rutin Daerah Kabupaten Kotamadya... 5
Tabel 4: Nama Kabupaten/Kota Perbandingan Bagi Hasil Plus PAD dengan Rata-rata Pengeluaran Total dan Rata-rata Pengeluaran Rutin... 6
Tabel 5::Pembagian (%) Penerimaan Sumber Daya Alam Menurut UU No. 25/1999 ... 11
Tabel 6: Tiga Rejim Pajak yang Berlaku di Indonesia ... 13
Tabel 7: Tarif Sumber Daya Pertambangan Menurut Jenisnya... 28
Tabel 8: Kontraktor Minyak Bumi dan Gas Alam Berdasarkan Propinsi... 36
Daftar Tabel Lampiran
Tabel Lampiran 1: Daftar Jenis Penerimaan, Mekanisme, Pembagian dan Distributor dan Peraturan Penjelas pada Setiap Tingkat Pemerintahan... 44Tabel Lampiran 2: Daftar Equity Share dan Tax Rate, Terinci Menurut Kontraktor Production Sharing Minyak Bumi ... 51
Tabel Lampiran 3: Daftar Equity Share & Tax Rate, Terinci Menurut Kontraktor Production Sharing Gas Alam... 52
Tabel Lampiran 4: Tarif Royalti Sektor Pertambangan Umum Berdasarkan PP No. 13/2000 ... 53
Tabel Lampiran 5: Tarif Iuran Tetap untuk PMA Berdasarkan SK Mentamben No. 931K/844/M.PE/1986 . 54 Tabel Lampiran 6: Tarif Iuran Tetap (Land Rent) untuk PPMDN Berdasarkan SK Mentamben No. 1165K/844/1992... 54
Tabel Lampiran 7:
Tarif Dana Reboisasi Berdasarkan PP No. 92/1999 ... 55
Tabel Lampiran 8:
Tarif PSDH Berdasarkan PP SK Menhutbun No. 859/Kpts-II/1999 ... 56
Tabel Lampiran 9:
Tarif IHPH Berdasarkan PP No. 59/1998 ... 60
Tabel Lampiran 10:
Tarif Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP) Berdasarkan SK Mentan
No. 424/Kpts/7/1977 ... 61
Tabel Lampiran 11:
Tarif Pungutan Hasil Perikanan (PHP) Berdasarkan SK Mentan No. 424/Kpts/7/1977 . 61
Tabel Lampiran 12:
Estimasi Bagi Hasil Minyak Bumi Menurut Propinsi dan Metode Estimasi ... 62
Tabel Lampiran 13:
Estimasi Bagi Hasil Gas Alam Menurut Propinsi dan Metode Estimasi ... 63
Tabel Lampiran 14:
Estimasi Bagi Hasil Pertambangan Umum Menurut Propinsi dan Metode Estimasi. ... 64
Tabel Lampiran 15:
Estimasi Bagi Hasil Sumber Daya Kehutanan Metode NRM Terinci Menurut Propinsi 65
Tabel Lampiran 16:
Data Pembanding Bagi Hasil Minyak Bumi ... 66
Tabel Lampiran 17:
Data Pembanding Bagi Hasil Gas Alam ... 67
Tabel Lampiran 18:
Data Pembanding Bagi Hasil Pertambangan Umum... 68
Tabel Lampiran 19:
Data Pembanding Bagi Hasil Sumber Daya Kehutanan 1997 ... 69
Tabel Lampiran 20:
Selisih Estimasi Bagi Hasil Minyak Bumi Metode NRM dan LPEM-FEUI dengan
Data Pembanding ... 70
Tabel Lampiran 21:
Selisih Estimasi Bagi Hasil Gas Alam Metode NRM dan LPEM-FEUI dengan
Data Pembanding ... 71
Daftar Diagram
Diagram 1: Perhitungan Komposisi Pajak dan Non Pajak Minyak Bumi Berdasarkan
UU No. 25/1999 ... 15
Diagram 2: Perhitungan Komponen Pajak dan Npn Pajak Gas Alam Berdasarkan UU No.25/1999 ... 16
Daftar Gambar
Gambar 1: Bagi Hasil Sumber Daya Alam Minyak Metode LPEM-FEUI ... 26Gambar 2: Bagi Hasil Sumber Daya Alam Gas Metode LPEM-FEUI ... 27
Gambar 3: Bagi Hasil Sumber Daya Alam Tambang Metode LPEM-FEUI ... 30
Gambar 4: Perhitungan Bagi Hasil Sumber Daya Alam Metode NRM... 33
Daftar Singkatan
Bappenas : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional BPHTB : Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan
DAK : Dana Alokasi Khusus
DATI : Daerah Tingkat …..
DAU : Dana Alokasi Umum
Deptamben : Departemen Pertambangan dan Energi
DHPB : Dana Hasil Produksi Batubara
DPR RI : Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
DR : Dana Reboisasi
DWT : Dead Weight Ton
EOR : Enhanced Oil Recovery
HPH : Hak Pengusahaan Hutan
HPHH : Hak Pemungutan Hasil Hutan
HPHTI : Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri
IHH : Iuran Hasil Hutan
IHPH : Iuran Hak Pengusahaan Hutan
IPK : Izin Pemanfaatan Kayu
IT : Iuran Tambang
JOB : Joint Operation Body
LHP : Laporan Hasil Penebangan
LPEM-FEUI : Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat – Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Migas : Minyak Bumi dan Gas Alam
NOI : Net Operating Cost/Keuntungan Operasi Bersih
NRM : Natural Resources Management Program
PAD : Pendapatan Asli Daerah
PBB : Pajak Bumi dan Bangunan
PBDR : Pajak Bunga Dividen dan Royalti
PBBKB : Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor
PDB : Produk Domestik Bruto
PDRB : Produk Domestik Regional Bruto
PERTAMINA : Perusahaan Tambang Minyak Negara
PHP : Pungutan Hasil Perikanan
PMA : Penanaman Modal Asing
PMDN : Penanaman Modal Dalam Negeri
PNBP : Penerimaan Negara Bukan Pajak
PP : Peraturan Pemerintah
PPN : Pajak Penerimaan Negara
PPP : Pungutan Pengusahaan Perikanan
PSC : Production Sharing Contract/Jenis Kontrak Bagi Hasil Murni
PSDH : Provisi Sumber Daya Hutan
RAPBD : Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
SDA : Sumber Daya Alam
SHU : Sisa Hasil Usaha
SIKP : Surat Ijin Kapal Perikanan
SK : Surat Keputusan
SKSHH : Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan
TPE : Tarif Pajak Efektif
UU : Undang-undang
Ringkasan Eksekutif
UU No. 25/1999 (dan juga UU No. 22/1999) akan dilaksanakan secara menyeluruh pada tahun depan ini. Satu hal penting yang perlu diketahui dengan baik oleh daerah adalah aturan bagi hasil sumber daya alam dan cara menghitungnya. Selain bagi hasil ini akan merupakan sumber penerimaan penting bagi pemerintah daerah, akan banyak pemerintah daerah yang berusaha meningkatkan penerimaannya melalui peningkatan kegiatan eksploitasi sumber daya alam daerahnya.
Secara ringkas aturan bagi hasil sumber daya alam antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah per jenis sumber daya alam menurut UU No. 25/1999 adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Pembagian Penerimaan SDA Menurut UU No. 25/1999
No. Penerimaan Pusat Propinsi
penghasil
Kabupaten / Kota penghasil
Kabupaten / Kota lainnya
dalam propinsi
(total)
Kabupaten/
Kota lainnya di
seluruh Indonesia
(total) A Migas
1 Penerimaan negara bukan pajak berasal dari minyak bumi
85% 3% 6% 6% -
2 Penerimaan negara bukan pajak berasal dari gas alam
70% 6% 12% 12% -
B Non-migas 1 Pertambangan
- Sewa tanah (Land rent) 20% 16% 64% - -
- Royalti 20% 16% 32% 32% -
2 Kehutanan
- PSDH 20% 16% 32% 32% -
- IHPH 20% 16% 64% - -
- Dana Reboisasi 60% - 40% - -
3 Perikanan 20% - - - 80%
Namun demikian perlu diperhatikan mengenai apa tepatnya penerimaan negara dari sumber daya alam yang dibagi-hasilkan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Yang dibagi-hasilkan adalah penerimaan negara bukan pajak dari kegiatan ekplorasi dan eksploitasi sumber daya alam. Berikut ini adalah penjelasan perhitungannya secara singkat.
Minyak Bumi dan Gas Alam (Migas)
Pembagian antara pemerintah/negara dengan kontraktor (production sharing contract dan joint operation body) ditentukan berdasarkan Keuntungan Operasi Bersih atau Net Operating Income (NOI), yaitu pendapatan dari produksi dikurangi pengeluaran untuk operasi produksi. Sebenarnya, penerimaan negara dari minyak bumi dan gas alam ini selain berasal dari kontraktor, ada juga yang berasal dari Pertamina. Namun untuk penerimaan yang berasal dari Pertamina belum jelas akan dibagi-hasilkan juga atau tidak, karena, menurut UU No. 8/1971 tentang Pertamina, bagian yang diserahkan Pertamina ke pemerintah adalah sebesar 60% dari keuntungan dan dikategorikan sebagai penerimaan pajak.
Secara umum, untuk suatu operasi penambangan di suatu daerah, total penerimaan negara (pajak dan bukan pajak) adalah 85% dari NOI untuk minyak bumi dan 70% dari NOI untuk gas alam. Adapun dari total penerimaan ini, total komponen penerimaan pajaknya adalah 31,6% dari NOI untuk minyak bumi dan 43,19% dari NOI untuk gas alam, dengan demikian penerimaan yang dibagi-hasilkan antara pemerintah pusat dengan daerah besarnya adalah 53,4% dari NOI untuk minyak bumi atau 26,81% dari NOI untuk gas alam. Dengan menerapkan aturan pada UU No. 25/1999, maka penerimaan bagi hasil yang diterima oleh kabupaten/kota penghasil adalah 3,2% dari NOI untuk minyak bumi dan 3,22% dari NOI untuk gas alam (lihat Tabel 2). Kabupaten-kabupaten dan kota-kota lain yang berada di satu propinsi dengan kabupaten/kota penghasil akan menerima sebagian dari 3,2% dari NOI untuk minyak bumi dan 3,22% dari NOI untuk gas alam.
Tepatnya bagaimana cara membagi-bagi yang 3,2% dan 3,22% ini ke kabupaten dan kota lainnya tersebut belum jelas.
Tabel 2. Bagi Hasil Sumber Daya Alam Migas (persentasi dari NOI)
No. Penerimaan Pusat Propinsi
penghasil
Kabupaten / Kota penghasil
Kabupaten/
Kota lainnya dalam propinsi
(total) 1 Penerimaan negara bukan pajak
berasal dari minyak bumi
45,39% 1,60% 3,2% 3,2%
2 Penerimaan negara bukan pajak berasal dari gas alam
18,77% 1,61% 3,22% 3,22%
Sekurangnya ada dua hal kelemahan pembagian berdasarkan NOI yang perlu diperhatikan. Pertama, pada dua operasi penambangan yang berbeda, operasi penambangan yang menghasilkan produksi lebih banyak belum tentu menghasilkan NOI yang lebih besar, karena tergantung dari besarnya biaya produksi di kedua operasi penambangan tersebut. Kedua, ada kemungkinan untuk suatu penambangan (walaupun sudah berproduksi), besarnya NOI sama dengan nol untuk suatu tahun. Hal ini dapat terjadi pada operasi penambangan yang relatif baru atau pada operasi penambangan yang nilai ekonomisnya rendah.
Lebih jauh lagi, dalam pelaksanaan perhitungannya diperkirakan akan muncul beberapa persoalan, antara lain:
(1) Penentuan suatu lokasi penambangan migas masuk wilayah kabupaten/kota mana kadang kala sulit ditentukan. Misalnya untuk kasus penambangan lepas pantai (off- shore) dengan jarak 12 mil dari pantai, hingga saat ini, belum semuanya jelas masuk dalam wilayah kabupaten/kota mana.
(2) Penentuan suatu kegiatan penambangan migas masuk dalam wilayah suatu kabupaten/kota tertentu tergantung dari tempat diekspoitasinya migas tersebut, walaupun asal dari migas ini berada juga di bawah beberapa wilayah kabupaten/kota lainnya. Kalau kabupaten/kota, yang migas di wilayahnya di eksploitasi di kabupaten/kota lain, ternyata berada di luar propinsi kabupaten pengeksploitasi, maka kabupaten/kota yang migasnya di eksploitasi oleh kabupaten/kota lain tidak mendapat bagian bagi hasil sedikit pun. Hal ini akan menimbulkan masalah.
(3) Standar biaya operasi penambangan migas belum jelas. Akan timbul perdebatan apakah suatu kegiatan dapat dikategorikan sebagai biaya operasi dan apakah besarnya biaya relatif bisa diterima. Dengan sistem pembagian berdasarkan NOI, kontraktor tidak punya banyak insentif menekan biaya produksi seminimum mungkin.
Pertambangan Umum
Berbeda dengan migas, penerimaan negara bukan pajak yang akan dibagi-hasilkan dengan pemerintah daerah dari sektor pertambangan umum terdiri dari royalti dan iuran tetap sewa tanah (land rent). Peraturan mengenai royalti di sektor pertambangan umum tercantum dalam PP No. 13/2000. Dalam peraturan tersebut tarif royalti adalah persentasi
tertentu yang dikenakan terhadap pendapatan kotor kontraktor atau harga jual yang dikalikan dengan jumlah produksi. Adapun besarnya tarif royalti berbeda-beda untuk setiap jenis dan kualitas bahan galian: antara 2 sampai 7%. Dengan demikian penerimaan bagi hasil royalti pertambangan umum yang akan diterima kabupaten/kota penghasil adalah sekitar 0,64 sampai 2,24 % dari total pendapatan kotor kontraktor di daerahnya.
Besarnya iuran tetap sewa tanah di sektor pertambangan umum dibedakan berdasarkan kategori kontraktor: PMA atau PMDN. Tarif iuran tetap kontraktor PMA merupakan tarif satuan atas nilai US $ per luas area eksploitas/eksplorasi (hektar), dan besarnya tarif ini dibedakan atas dasar tahap kegiatan dan status (perpanjangan atau tidak): antara 0,025 sampai 3 US $ per hektar. Adapun tarif iuran tetap yang dikenakan pada kontraktor PMDN merupakan tarif satuan atas nilai rupiah per satuan luas eksploitasi/eksplorasi (hektar), dan besarnya tarif juga dibedakan atas dasar tahap kegiatan dan status (perpanjangan atau tidak): antara 50 sampai 1500 rupiah per hektar. Pemungutan iuran tetap ini, baik PMA maupun PMDA, dilakukan setiap semester.
Dalam kasus pertambangan umum ini, hal yang perlu diamati dengan baik adalah, pertama, jenis dan kualitas hasil tambang yang dihasilkan. Kontraktor punya insentif untuk mengkategorikan produksinya pada jenis hasil tambang dengan kualitas dimana besarnya tarif royalti relatif rendah. Kedua, mengenai penambangan yang daerah tambangnya meliputi beberapa kabupaten, sementara kantor operasi produksinya berada di satu kabupaten tertentu. Dalam hal ini perlu dijelaskan bagaimana penentuan kabupaten/kota penghasilnya.
Perlu diperhatikan, kombinasi royalti dan iuran sewa tanah pada penambangan umum ini memiliki kelebihan dibandingkan dengan sistem bagi hasil pada migas. Satu, kontraktor pertambangan umum akan punya insentif yang besar untuk menekan biaya produksi seminimum mungkin. Dua, walaupun belum berproduksi, negara sudah menerima pendapatan dari suatu kegiatan penambangan. Begitu suatu operasi penambangan mulai berproduksi, maka penerimaan negara akan naik sesuai dengan naiknya tingkat produksi (untuk harga yang relatif tetap). Namun dilain pihak, jika usaha kontraktor dalam meminimisasi biaya produksi berlebihan, maka perlindungan terhadap kualitas lingkungan sebagai dampak dari kegiatan penambangannya, yang seharusnya dilakukan oleh kontraktor, bisa terabaikan.
Kehutanan
Penerimaan negara bukan pajak dari sektor kehutanan terdiri: (1) Dana Reboisasi; (2) PSDH (Provisi Sumber Daya Hutan) yang merupakan royalti; dan (3) IHPH (Iuran Hak Pengusahaan Hutan) yang berupa iuran tetap sewa tanah (land rent).
Tarif Dana Reboisasi merupakan tarif dengan satuan US $ per m³ (ada juga yang dalam US $ per ton) dimana besarnya tarif tergantung dari (1) kategori wilayah dan (2) kelompok jenis kayu/bukan kayu. Besarnya tarif berkisar antara 0 sampai US $ 18 per m³, untuk kayu cendana US $ 18 per ton. Pungutan Dana Reboisasi ini dikenakan terhadap pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan pemegang Hak Pemungutan Hasil Hutan. Khusus untuk Dana Reboisasi, pelaksanaan bagi-hasilnya akan menggunakan mekanisme Dana Alokasi Khusus.
Tarif PSDH umumnya merupakan tarif dengan satuan rupiah per m³ (ada juga yang rupiah per ton, per batang, per kg, per lembar, per keping, atau per liter) yang besarnya tergantung dari (1) kategori wilayah dan (2) kelompok jenis kayu/bukan kayu. Besarnya tarif PSDH sangat bervariasi: antara 5000 sampai 100 ribu rupiah per m³, antara 2000 sampai 700 ribu rupiah per ton, dan antara 10 rupiah sampai 35 ribu rupiah per batang.
PSDH dikenakan terhadap pemegang HPH, pemegang Hak Pemungutan Hasil Hutan dan pemegang Izin Pemanfaatan Kayu. Adapun tarif IHPH dikenakan dalam rupiah per satuan luas HPH (hektar). Besarnya tarif tergantung dari (1) kategori wilayah dan (2) status HPH (baru, perpanjangan atau HPHTI). Besarnya IHPH antara 2600 sampai 50 ribu rupiah per hektar. IHPH dikenakan satu kali untuk jangka waktu berlakunya HPH (atau umumnya sekitar 20 tahun).
Persoalan penting dari iuran di sektor kehutanan ini adalah sangat beragamnya besaran dan satuan tarif, serta luasnya daerah operasi. Kontrol terhadap apa dan berapa yang diproduksi sangat sulit dilakukan. Seperti halnya dalam kasus pertambangan umum, pengusaha hutan punya insentif yang besar untuk efisien, tapi usaha perlindungan lingkungan hutan yang seharusnya dilakukan dapat terabaikan.
Perikanan
Penerimaan negara bukan pajak dari sektor perikanan terdiri dari Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP) dan Pungutan Hasil Perikanan (PHP). Pungutan Pengusahaan Perikanan
(PPP) bersifat iuran perijinan (license fee), dikenakan satu kali pada saat pengajuan permohonan Surat Ijin Kapal Perikanan. Tarif PPP merupakan tarif nominal (US $) dan didasarkan atas ukuran kapal penangkapan ikan (DWT). Dalam hal ini tarif dikenakan atas dasar berat kosong kapal. Untuk kapal dengan berat kosong lebih kecil dari 50 DWT, dikenakan tarif sebesar US $ 500. Untuk kapal dengan berat kosong antara 50 sampai 100 DWT dikenakan tarif sebesar US $ 1000. Untuk setiap kelebihan diatas 100 DWT dengan pembulatan perhitungan sampai dengan 50 DWT dikenakan tambahan US $ 250 per 50 DWT.
Adapun Pungutan Hasil Perikanan (PHP) hanya dikenakan pada hasil produksi sektor perikanan yang diekspor. Tarif yang dikenakan bersifat persentasi dari nilai produksi ekspo, di mana besar tarif dibedakan menurut kelompok jenis ikan: antara 1 sampai 2%.
Mengingat transaksi penjualan dapat dilakukan di atas kapal, efektivitas penarikan iuran PHP merupakan sebuah persoalan. Ditambah lagi dengan banyaknya pencurian ikan, terkurasnya sumber daya ikan akan tidak sebanding dengan penerimaan negara di sektor ini.
Penutup
Mengestimasi berapa besarnya penerimaan bagi hasil yang diterima daerah ternyata sangat sulit. Dua metode yang dikembangkan tulisan ini: metode LPEM-FEUI dan metode NRM tidak berhasil dibuktikan sebagai metode yang relatif valid dan reliabel.
Usaha pengembangan metode untuk dapat mengestimasi penerimaan bagi hasil perlu terus dilakukan agar setiap tahun pemerintah daerah dapat mengestimasi penerimaannya dari bagi hasil sumber daya alam.
Sebagai penutup ada beberapa masalah yang perlu diperhatikan sehubungan dengan penerimaan negara bukan pajak dari sumber daya alam, yang tentunya punya implikasi terhadap penerimaan pemerintah daerah:
1. Cara penarikan pungutan/bagi hasil. Misalnya di sektor migas, cara penarikan bagi hasil berdasarkan NOI tidak memberikan banyak insentif bagi kontraktor untuk menekan biaya produksi.
2. Macam pungutan/bagi hasil. Perlu dipertimbangkan untuk menarik pungutan untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan. Tentunya dalam hal ini bisa juga dilakukan dalam bentuk pajak daerah. Tapi bukan dalam bentuk pajak nasional, karena tidak dibagi-hasilkan ke daerah. Adanya sifat kompensasi bagi yang terkena kerusakan amat penting dalam hal ini.
3. Besaran pungutan/bagi hasil. Dapat dilihat bahwa besarnya penerimaan negara dan daerah relatif sangat kecil dibandingkan dengan nilai produksi sumber daya alam yang dieksploitasi. Perlu dipertanyakan apakah besaran tarif pungutan dan persentasi bagi hasil yang diterapkan pada kontraktor/pengusaha sekarang ini merupakan besaran maksimum yang mungkin dicapai. Catatan, penerimaan daerah (dan juga negara) dari pajak sehubungan dengan kegiatan sumber daya alam pun relatif kecil dibandingkan dengan nilai produksi sumber daya alam yang dieksploitasi. Studi banding dengan keadaan di negara lain perlu diperlihatkan secara transparan.
4. Kontrol akan berapa dan apa yang diproduksi. Areal operasi dari berbagai usaha eksploitasi ini sulit diawasi. Karenanya, kontrol terhadap apa dan berapa yang diproduksi oleh para kontraktor dan pengusaha akan sulit dilakukan oleh pemerintah.
Selain itu, kolusi antara pengusaha dan penguasa lokal juga perlu diawasi. Jika lebih murah, pengusaha akan membayar penguasa lokal untuk dapat menghindari iuran sumber daya alam pemerintah.
5. Persentasi Bagi Hasil Pemerintah Pusat dan Daerah. Dari waktu ke waktu akan ada pertanyaan mengapa persentasi pola bagi hasil yang ada adalah seperti sekarang ini. Apakah persentasi ini merupakan yang terbaik bagi masyarakat di daerah penghasil khususnya dan Indonesia pada umumnya? Pengalaman negara-negara lain perlu diperhatikan dan didiskusikan secara terbuka.
6. Transparansi penerimaan negara bukan pajak dari sumber daya alam.
Pemerintah daerah menerima bagi hasil ini setelah dana ini dikumpulkan di pemerintah pusat dan melibatkan beberapa instansi. Transparansi dari proses penarikan dana dan penyalurannya harus transparan.
Tanpa menyelesaikan masalah-masalah ini, pada akhirnya, sumber daya alam daerah terkuras habis tanpa ada peningkatan kesejahteraan didaerah tersebut yang sesuai dengan nilai sumber daya alam yang terkuras.
1. Pendahuluan
Pelaksanaan Undang-Undang No. 22 dan 25 tahun 1999 (UU No. 22 dan 25/1999) secara menyeluruh yang akan diterapkan dalam waktu dekat ini memberikan kewenangan, atau secara tidak langsung tanggungjawab, kepada pemerintah daerah untuk merencanakan dan mengatur pola pengembangan daerahnya. Untuk itu, pemerintah daerah dituntut untuk mampu merencanakan pengembangan daerahnya dengan baik.
Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa tugas pemerintah daerah dalam perencanaan pembangunan daerah diawali dengan menyusun Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD), yang merupakan penjabaran tahunan dari strategi global kebijakan pembangunan daerah jangka panjang (5 tahun). Tulisan ini, karenanya, berpendapat bahwa tugas paling utama (tahap pertama) pemerintah daerah dalam merencanakan pembangunan pada era desentralisasi dan otonomi daerah adalah menyusun RAPBD secara baik dan benar. Pada tahap selanjutnya, RAPBD ini perlu diterjemahkan lagi ke dalam program-program sektoral, seperti progam peningkatan pendidikan dasar, peningkatan kesehatan dasar dan sebagainya, serta program-program listas sektoral seperti program pengembangan wilayah terpadu, program penanggulangan kemiskinan, dan sebagainya. Tahapan lanjutan ini bersifat lebih teknis dan memerlukan data yang lebih rinci.
Format RAPBD terdiri dari dua bagian besar yaitu (1) sisi Penerimaan dan (2) sisi Pengeluaran. Pada sisi penerimaan terdapat bagian Bagi Hasil Sumber Daya Alam.
Bagian ini mengestimasi penerimaan suatu daerah dari sumber daya alam melalui aturan bagi hasil yang diterapkan berdasarkan UU No. 25/1999. Di beberapa daerah, bagian ini akan relatif dominan besarnya dibandingkan dengan sumber penerimaan daerah lainnya.
Di banyak daerah, baik untuk tingkat propinsi maupun tingkat kabupaten/kota, diperkirakan akan terjadi berbagai usaha untuk membesarkan penerimaan daerah di bagian ini semaksimal mungkin. Karenanya, mengetahui secara jelas aturan bagi hasil dan mampu memperkirakan dengan benar berapa penerimaan daerah dari Bagi Hasil Sumber Daya Alam merupakan hal yang penting.
Persoalannya saat ini adalah: (1) informasi mengenai aturan bagi hasil, di mana Bagi Hasil Sumber Daya Alam adalah salah satu komponennya, belum tersosialisasi dengan baik di banyak daerah, terutama sekali di tingkat kabupaten; (2) data-data detail yang
dibutuhkan untuk menghitung penerimaan Bagi Hasil Sumber Daya Alam seringkali tidak ada, susah didapat, atau kualitasnya amat rendah; (3) waktu yang ada bagi pemerintah daerah untuk menyelesaikan RAPBD-nya, terutama saat-saat ini, relatif amat singkat.
Tulisan ini ditujukan kepada pemerintah daerah dan berbagai kalangan yang terkait dengan perencanaan pembangunan daerah. Tulisan ini bertujuan untuk membantu menjelaskan aturan Bagi Hasil Sumber Daya Alam yang akan diterapkan dalam waktu dekat dan berusaha mengembangkan beberapa metode untuk mengestimasi besarnya penerimaan Bagi Hasil Sumber Daya Alam untuk suatu daerah dengan data-data yang relatif mudah didapat. Tulisan ini juga menunjukkan berbagai kesulitan yang akan dihadapi daerah dalam mengestimasi penerimaan Bagi Hasil Sumber Daya Alam. Karena keterbatasan data dan waktu, dalam melakukan estimasi penerimaan Bagi Hasil Sumber Daya Alam, tulisan ini hanya melakukannya untuk tingkat propinsi. Namun demikian, penjelasan mengenai cara estimasi dilakukan sedemikian rupa sehingga relatif jelas jika cara estimasi ini akan diterapkan hingga tingkat kabupaten/kota.
Secara umum, alur dari tulisan ini adalah sebagai berikut. Setelah bagian pendahuluan akan dijelaskan peranan penerimaan bagi hasil dalam pembiayaan pengeluaran daerah selama ini. Selanjutnya didiskusikan mengenai peraturan yang berkenaan dengan penerimaan bagi hasil secara umum. Kemudian, diuraikan secara khusus, aturan yang mengatur Bagi Hasil Sumber Daya Alam.
Pada bagian selanjutnya, tulisan ini menjelaskan beberapa metode untuk mengestimasi penerimaan Bagi Hasil Sumber Daya Alam yang berkembang saat ini. Pada bagian akhir dari tulisan ini disimpulkan beberapa hal-hal penting mengenai aturan Bagi Hasil Sumber Daya Alam dan berbagai persoalan menyangkut estimasi penerimaan Bagi Hasil Sumber Daya Alam.
2. Peranan Penerimaan Bagi Hasil Dalam Membiayai Pengeluaran Daerah Selama Ini
Bagi Hasil Sumber Daya Alam adalah salah satu penerimaan daerah melalui mekanisme penerimaan bagi hasil. Adapun penerimaan bagi hasil adalah penerimaan yang diterima oleh pemerintah daerah dalam bentuk persentase tertentu dari penerimaan pemerintah pusat yang sumbernya berasal dari daerah yang bersangkutan. Perlu diketahui bahwa mekanisme penerimaan pemerintah daerah terdiri dari tiga macam: (1) bagi hasil, (2) Pendapatan asli daerah (PAD) dan (3) bantuan pusat ke daerah dalam bentuk Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK).
PAD adalah pajak atau pungutan di daerah yang 100% hasilnya diterima oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. Jika dibandingkan dengan PAD, Bagi Hasil terlihat “kurang bebas” dan “kurang memberikan kepastian bagi daerah”, karena persentasi bagi hasil dan prosedurnya ditentukan oleh pemerintah pusat.
Dalam hal mengestimasi penerimaan, umumnya pemerintah daerah memiliki kemampuan yang lebih baik dalam hal mengestimasi PAD yang akan diterimanya dibandingkan dengan bagi hasil. Pada PAD, sumber dan aturannya penerimaannya 100% berada pada kontrol/pengawasan pemerintah daerah. Pada bagi hasil, kalau pun sudah jelas besarnya dana yang diberikan ke pusat oleh suatu daerah, alokasi yang dikembalikan ke daerah (share daerah) seringkali tidak jelas. Hal ini dapat terjadi karena: (1) mekanisme penyaluran yang kurang baik dan (2) Alokasi ke daerah tidak sepenuhnya didasarkan atas variabel potensi pajak bagi hasil. Misalnya pada pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB). Pajak ini dipungut berdasarkan banyaknya mobil, tetapi dialokasikan kembali ke daerah didasarkan atas panjang jalan.
Adapun bantuan pusat ke daerah adalah penerimaan pusat yang dibagikan ke daerah berdasarkan aturan tertentu. Pada PAD dan bagi hasil, terdapat hubungan yang positif antara usaha melakukan pungutan (tax effort) dan produksi sumber daya alam di suatu daerah dengan penerimaan yang akan diterimanya. Semakin besar suatu daerah melakukan usaha pungutan atau usaha memproduksi sumber daya alam, semakin besar pendapatan yang akan diterimanya. Pada bantuan pusat ke daerah, hingga saat ini, tidak jelas apakah ada hubungan yang positif antara usaha suatu daerah dengan dana bantuan pusat ke daerah yang akan diterimanya.
Sebelum diterapkannya UU No. 25/1999 secara penuh, penerimaan bagi hasil amatlah terbatas, baik jenis maupun besarnya. Jenis bagi hasil sebelum UU No. 25/1999 antara lain: (1) Pajak Bumi dan Bangunan, (2) Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan, (3) Iuran Hasil Hutan, (4) Iuran Hak Pengusahaan Hutan, dan (5) Iuran Tambang.
Karenanya, umum diketahui bahwa peran bagi hasil dalam pembiayaan pengeluaran daerah selama ini relatif kecil. Bahkan peran bagi hasil ditambah dengan PAD terhadap pengeluaran daerah juga relatif kecil.
Tabel 1 menunjukkan jumlah propinsi dengan bagi hasil plus PAD yang lebih besar dari rata-rata pengeluaran total propinsi per tahun (kurang lebih Rp. 283 milyar1) dan jumlah propinsi dengan bagi hasil plus PAD lebih besar dari rata pengeluaran rutin tingkat propinsi per tahun (kurang lebih Rp. 134 milyar). Adapun nama-nama dari propinsi tersebut dapat dilihat di Tabel 2. Adapun untuk tingkat kabupaten/kota, datanya dapat dilihat di Tabel 3 dan 4. Perhatian, besarnya rata-rata pengeluaran total kabupaten/kota per tahun adalah Rp. 67 milyar, adapun rata-rata pengeluaran rutin kabupaten/kota per tahun adalah Rp. 46 milyar.
Tabel 1. Perbandingan Bagi Hasil Plus PAD dengan Pengeluaran Total dan Pengeluaran Rutin Daerah Propinsi
Jumlah Propinsi* Persentase PAD + Bagi Hasil ≥ Rata-rata
Pengeluaran Total
4 15.38
PAD + Bagi Hasil < Rata-rata Pengeluaran Total
22 84.62
Total Propinsi 26 100.00
PAD + Bagi Hasil ≥ Rata-rata Pengeluaran Rutin
7 26.92
PAD + Bagi Hasil < Rata-rata Pengeluaran Rutin
19 73.08
Total Propinsi 26 100.00
* Data tahun 1998, tidak termasuk Timor-Timur
1 Pengeluaran Total dan Pengeluaran Rutin DKI Jakarta tidak dimasukkan dalam perhitungan rata-rata tahunan Pengeluaran Total dan Pengeluaran Rutin Propinsi.
Tabel 2. Nama Propinsi, Perbandingan Bagi Hasil Plus PAD dengan Rata-rata Pengeluaran Total dan Rata-Rata Pengeluaran Rutin
Propinsi dgn PAD + Bagi Hasil ≥≥≥≥ Rata- rata Pengeluaran Total
Propinsi dengan PAD + Bagi Hasil ≥≥≥≥
Rata-rata Pengeluaran Rutin Jawa Tengah
Jawa Barat Jawa Timur DKI Jakarta
Riau Irian Jaya Kalimantan Timur
JawaTengah Jawa Barat Jawa Timur DKI Jakarta
Tabel 3. Perbandingan Bagi Hasil Plus PAD dengan Pengeluaran Total dan Pengeluaran Rutin Daerah Kabupaten/Kotamadya
Jumlah Kabupaten/Kota
Persentase
PAD + Bagi Hasil ≥ Rata-rata Pengeluaran Total
8 2.77
PAD + Bagi Hasil < Rata-rata Pengeluaran Total
281 97.23
289 100.00
PAD + Bagi Hasil ≥ Rata-rata Pengeluaran Rutin
17 5.88
PAD + Bagi Hasil < Rata-rata Pengeluaran Rutin
272 94.12
289 100.00
** Tidak termasuk Timor Timur
Tabel 4. Nama Kabupaten/Kota Perbandingan Bagi Hasil Plus PAD dengan Rata- rata Pengeluaran Total dan Rata-rata Pengeluaran Rutin
Kabupaten/Kota dgn PAD + Bagi Hasil
≥≥≥≥ Rata-rata Pengeluaran Total
Kabupaten/Kota dengan PAD + Bagi Hasil ≥≥≥≥ Rata-rata Pengeluaran Rutin Semarang (Kodya)
Medan (Kodya) Tangerang
Bogor Bandung (Kodya)
Kutai Surabaya (Kodya)
Badung
Bekasi Kepulauan Riau Tangerang (Kodya)
Karawang Sidorarjo
Serang Denpasar (Kodya)
Bandung Semarang (Kodya)
Medan (Kodya) Tangerang
Bogor Bandung (Kodya)
Kutai Surabaya (Kodya)
Badung
Setelah diberlakukannya UU No. 25/1999 secara penuh, kemungkinan besar peran bagi hasil dan PAD, terutama sekali Bagi Hasil Sumber Daya Alam, dalam membiayai pengeluaran daerah di beberapa daerah akan meningkat cukup berarti. Untuk daerah- daerah di propinsi Aceh, Riau, Kalimantan Timur dan Papua, hal ini terjadi karena tingkat produksi sumber daya di propinsi-propinsi ini sudah relatif tinggi. Di daerah-daerah lainnya, penerimaan Bagi Hasil Sumber Daya Alam diperkirakan akan meningkat karena pemerintah daerah terdorong untuk mengeksploitasi sumber daya alam di daerahnya semaksimal mungkin dalam rangka meningkatkan penerimaan pemerintah daerah.
Perhatian, pemerintah daerah umumnya melihat adanya hubungan positif antara peningkatan produksi sumber daya alam dengan penerimaan bagi hasil, sekurangnya untuk kurun waktu dekat.
3. Undang-Undang Serta Peraturan Daerah yang Mengatur Penerimaan dan Bagi Hasil
Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai undang-undang yang mengatur bagi hasil secara umum dan berbagai peraturan yang mengatur Bagi Hasil Sumber Daya Alam.
Kemudian dijelaskan secara khusus peraturan yang mengatur perhitungan Bagi Hasil Sumber Daya Alam.
3.1. Jenis Penerimaan Bagi Hasil Menurut UU No.25/1999
Penerimaan pemerintah pusat yang akan dibagi hasilkan ke pemerintah daerah menurut UU No. 25/1999 terdiri atas dua macam: (1) penerimaan pajak dan (2) penerimaan negara bukan pajak.2
3.1.1. Penerimaan pajak yang dibagi-hasilkan
Yang utama, ada dua penerimaan pajak pusat yang dibagihasilkan ke daerah dan telah memiliki aturan yang jelas adalah (1) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan (2) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).
Mekanisme pembagian dari penerimaan pajak bumi dan bangunan adalah 10% untuk pemerintah pusat, 16% untuk propinsi, dan 65% untuk kabupaten/kota. Sedangkan 9%
lainnya adalah kompensasi biaya penarikan.
Untuk BPHTB, berdasarkan PP No. 33/1997 pasal 2, pemerintah pusat mendapatkan bagian sebesar 20% dari total penerimaan BPHTB dan 80% lainnya merupakan bagian daerah yaitu 16% untuk propinsi dan 64% untuk kabupaten/kota.
Selain kedua pajak di atas, jenis pajak lainnya yang dibagihasilkan antara propinsi dan kabupaten/kota adalah pajak bahan bakar kendaraan bermotor. Berdasarkan PP No.21/1997 bab 2 pasal 7, propinsi mendapat bagian 10% dari total penerimaan pajak bahan bakar bermotor sedangkan 90% lainnya disalurkan ke kabupaten/kota. Mekanisme pembagian antar kabupaten/kota didasarkan atas panjang jalan.
2 Lihat juga Tabel Lampiran 1 untuk mengetahui jenis pajak/penerimaan negara utama, instansi pemungut serta mekanisme bagi hasilnya, jika dibagihasilkan, setelah diberlakukannya UU No.25/1999.
Dalam rapat dengan DPR RI pada pertengahan bulan Juli 2000, disetujui kebijakan bagi hasil yang berasal dari pajak penerimaan perseorangan antara pusat dan daerah. Dalam usulan yang diajukan oleh Menteri Keuangan dan disetujui DPR, disepakati bahwa untuk pajak penerimaan perseorangan akan dibagihasilkan dengan perimbangan sebagai berikut:
pusat akan memperoleh 80%, sedangkan daerah akan memperoleh 20%. Walaupun demikian, belum ditindak lanjuti lebih lanjut peraturan yang mengatur bagaimana distribusi bagian daerah tersebut kepada daerah-daerah non-penghasil serta ke propinsi.
Kemungkinan besar pajak penerimaan perseorangan yang dibagikan ke daerah ini akan juga menjadi penerimaan pajak penting bagi daerah, selain penerimaan bagi hasil dari pajak PBB dan BPHTB.
3.1.2. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang dibagi-hasilkan
Saat ini PNBP yang dibagihasilkan ke daerah hanyalah PNBP yang berasal dari penerimaan sumber daya alam. Karenanya, PNBP yang dibagihasilkan ke daerah inilah yang dalam tulisan ini disebut sebagai penerimaan Bagi Hasil Sumber Daya Alam. PNBP ini terdiri dari PNBP sumber daya alam minyak bumi, gas alam, kehutanan, pertambangan umum dan perikanan.
Untuk kehutanan dan pertambangan umum, penerimaan negara dari sumber daya ini diatur berdasarkan prinsip besarnya produksi ataupun luas area, khususnya melalui pengenaan royalti dan land rent. Penerimaan negara yang berasal dari minyak bumi dan gas alam diatur berdasarkan prinsip NOI (Net Operating Income). Untuk perikanan, penerimaan negara diatur berdasarkan nilai ekspor ikan dan license fee usaha perikanan.
3.1.2.1. Minyak Bumi dan Gas Alam
Sebelum UU No. 25/1999, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari minyak bumi dan gas alam tidak dibagihasilkan. Saat ini, berdasarkan UU No. 25/1999, penerimaan negara dari minyak bumi akan diberikan ke daerah sebesar 15%-nya dan 85%-nya untuk pemerintah pusat. Dari 15% bagian pemerintah daerah tersebut, 3% untuk propinsi, 6%
untuk kabupaten/kota penghasil, dan 6% untuk kabupaten/kota lainnya dalam propinsi tersebut.
Untuk penerimaan negara dari gas alam, menurut UU No.25/1999, sebesar 30% untuk pemerintah daerah dan 70% untuk pemerintah pusat. Dari 30% bagian pemerintah daerah ini, 6% untuk propinsi, 12% untuk kabupaten/kota penghasil, dan 12% untuk kabupaten/kota lainnya di propinsi tersebut.
Penerimaan minyak bumi dan gas alam yang dibagihasilkan ke daerah adalah penerimaan pemerintah dari kontraktor (production sharing contractor dan joint operation body) yang telah dikurangi pajak, baik pajak pemerintah pusat (pajak badan/corporate tax, pajak penghasilan, Pajak Bunga Dividen dan Royalti/PBDR), retribusi/pajak daerah (PBB, PPN), dan retensi Pertamina. Sebenarnya, penerimaan pemerintah dari minyak bumi dan gas alam ini selain berasal dari kontraktor, ada juga yang berasal dari Pertamina. Namun untuk penerimaan yang berasal dari Pertamina, belum jelas akan dibagihasilkan juga atau tidak, karena menurut UU No.8/1971 tentang Pertamina, bagian yang diserahkan ke pemerintah adalah sebesar 60% dari keuntungan dan dikategorikan sebagai penerimaan pajak.
3.1.2.2. Pertambangan umum
Di sektor pertambangan umum, terdapat iuran pertambangan yang telah dibagihasilkan ke daerah sebelum UU No. 25/1999 diberlakukan. Pada awalnya aturan iuran pertambangan ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.32/1969 pasal 62, yang kemudian mengalami perubahan dengan ditetapkannya PP No. 79/1992. Iuran pertambangan yang dimaksud disini adalah penerimaan pemerintah dari iuran tetap (land rent), iuran eksplorasi dan iuran eksploitasi (royalti).
Mulanya dalam PP No. 32/1969 pasal 62, bagian pemerintah pusat adalah 30%
sedangkan pemerintah daerah mendapat bagian 70% dari total iuran pertambangan.
Selanjutnya dalam PP No.79/1992, perimbangan tersebut berubah dimana porsi daerah meningkat. Pemerintah pusat mendapat bagian 20%, sedangkan 80% sisanya dibagikan ke daerah dengan perincian sebagai berikut: propinsi mendapat bagian 16% dan Daerah Tingkat (Dati) II mendapat bagian 64%. Dalam peraturan terbaru yaitu UU No.25/1999, aturan pembagian tidak jauh berbeda dengan peraturan sebelum. Perbedaan terletak pada (1) pemisahan penerimaan dari royalti dan iuran tetap (landrent) dan (2) perimbangan bagi hasil antara propinsi dan kabupaten/kota untuk iuran-iuran tersebut.
3.1.2.3. Kehutanan
Untuk sektor kehutanan, penerimaan negara berasal dari dari: (1) royalti yaitu PSDH (Provisi Sumber Daya Hutan), (2) land rent yang bersifat license fee yaitu IHPH (Iuran Hak Pengusahaan Hutan), dan (3) dana reboisasi.
Dalam UU No.25/1999, PSDH dan IHPH masuk dalam kategori penerimaan dari sumber alam, karenanya penerimaan ini akan dibagihasilkan ke daerah dengan mekanisme bagi hasil. Sedangkan dana reboisasi dipungut oleh pemerintah pusat dan disalurkan ke daerah melalui mekanisme Dana Alokasi Khusus (DAK).
Selama ini, penerimaan PSDH, yang sebelumnya disebut IHH (Iuran Hasil Hutan), dan IHPH telah dibagihasilkan berdasarkan SK Menhut No.94/Kpts-IV/1993. Untuk IHPH, pemerintah daerah mendapat 70% dari total penerimaan, sedangkan pemerintah pusat mendapat bagian 30%-nya. Untuk IHH/PSDH, pemerintah daerah mendapat bagian bagi hasil sebesar 45% dari total penerimaan, sedangkan pemerintah pusat mendapat 55%-nya.
Selanjutnya, berdasarkan Keppres No.67/1998, bagian pemerintah daerah ini dibagi menjadi 30% untuk propinsi dan 15% untuk kabupaten/kota.
3.1.2.4. Perikanan
Sebelum pemberlakuan UU No.25/1999 penerimaan dari sektor perikanan tidak dibagihasilkan. PNBP di sektor perikanan terdiri dari Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP) dan Pungutan Hasil Perikanan (PHP). PPP bersifat license fee dan didasarkan atas jenis/ukuran kapal serta dikenakan setiap pengajuan perijinan (surat ijin kapal perikanan).
Sedangkan PHP didasarkan atas produksi hasil perikanan yang diekspor dan menurut SK Mentan No.424/Kpts/Um/77, besarnya tarif berbeda-beda untuk setiap jenis kelompok ikan.
Dalam UU No. 25/1999 dijelakan bahwa penerimaan negara dari sektor perikanan harus dibagihasilkan dengan perincian sebagai berikut: pemerintah daerah mendapat 80% dari total penerimaan dan akan dibagikan secara merata ke seluruh kabupaten/kota di wilayahnya, sedangkan pemerintah pusat mendapat 20%-nya.
Dengan demikian, secara ringkas, sistem bagi hasil dari penerimaan sumber daya alam dapat disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Pembagian (%) Penerimaan SDA Menurut UU No. 25 Tahun 1999
No. Penerimaan Pusat Propinsi
penghasil
Kabupaten / Kota penghasil
Kabupaten / Kota lainnya
dalam propinsi
(total)
Kabupaten/
Kota lainnya di
seluruh Indonesia
(total) A Migas
1 Penerimaan negara bukan pajak berasal dari minyak bumi
85% 3% 6% 6% -
2 Penerimaan negara bukan pajak berasal dari gas alam
70% 6% 12% 12% -
B Non-migas 1 Pertambangan
- Sewa tanah (Land rent) 20% 16% 64% - -
- Royalti 20% 16% 32% 32% -
2 Kehutanan
- PSDH 20% 16% 32% 32% -
- IHPH 20% 16% 64% - -
- Dana Reboisasi 60% - 40% - -
3 Perikanan 20% - - - 80%
3.2. Penjelasan Peraturan Perhitungan Bagi Hasil Sumber Daya Alam
Bagian ini mencoba menjelaskan secara detail peraturan yang berkaitan dengan pelaksanaan perhitungan Bagi Hasil Sumber Daya Alam. Berbeda dengan subbagaian 3.1.2., pada bagian ini penjelasannya dibagi atas sumber daya alam minyak dan gas bumi (Migas) dan sumber saya alam non migas.
3.2.1. Sumber Daya Alam Minyak Bumi dan Gas Alam (Migas)
Seperti dijelaskan sebelumnya, penerimaan pemerintah dari sumber daya alam minyak bumi dan gas alam yang akan dibagihasilkan ke daerah adalah bagian pemerintah dari hasil produksi minyak bumi dan gas alam yang sudah dikurangi pajak dan pungutan lainnya. Berikut ini akan dijelaskan lebih rinci mengenai penerimaan pemerintah yang akan dibagihasilkan tersebut.
Pertama, pola bagi hasil produksi antara kontraktor (production sharing contractor dan joint operation body) dan pemerintah diatur berdasarkan NOI (Net Operating Income), di mana NOI merupakan lifting (hasil produksi minyak bumi/gas alam yang dijual) setelah dikurangi biaya eksplorasi. Jadi, bagi hasil antara pemerintah dan kontraktor ini baru dilakukan setelah biaya eksplorasi tertutupi. Dengan demikian, besar kemungkinan jika pemerintah tidak mendapatkan penerimaan dari sumber daya alam ini pada awal periode
kontraktor berproduksi. Kebijakan ini diterapkan karena risiko kerugian (eksplorasi) ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan/kontraktor yang terlibat. Ketentuan bagi hasil antara kontraktor dan pemerintah ini disebut sebagai Equity Share (entitlement).
Kedua, Equity Share (entitlement) pada dasarnya belum mengeluarkan komponen pajak pusat (masih ada pajak perseroan dan pajak dividen didalamnya). Bagian pemerintah dari kontraktor yang telah dikurangi komponen pajak dan pungutan inilah yang akan dibagihasilkan ke daerah. Dengan demikian, besarnya penerimaan pemerintah yang akan dibagihasilkan ke daerah dipengaruhi oleh:
Proses produksi (eksploitasi) yang terdiri dari primary recovery, secondary recovery, dan third recovery.
Pola bagi hasil atau Equity Share (entitlement), yang tentunya tergantung dari jenis production sharing.
Rejim pajak yang berlaku.
Sebelum tahun 1950, ketentuan bagi hasil minyak bumi (Equity Share entitlement) antara pemerintah dan kontraktor adalah 65:35 (65% dari NOI adalah bagian pemerintah dan 35% lainnya bagian kontraktor). Pada tahun 1950, ketentuan bagi hasil berubah menjadi 85:15 (85% pemerintah, 15% kontraktor) dan perusahaan dibebaskan dari pungutan pajak apapun.
Namun pada kenyataannya, banyak perusahan-perusahaan minyak asing yang tetap harus membayar pajak penghasilan di negara asal, terutama perusahaan yang berasal dari Amerika. Untuk itu, di tahun 1978 pemerintah melalui SK Menteri Keuangan No. 267 tahun 1978, berdasarkan UU Ordonansi 1925 (lihat Tabel 6), mengatur mekanisme pajak production sharing. Kontraktor tetap membayar pajak perusahaan dan pajak dividen, namun sebagai gantinya, bagian kontraktor sebelum pajak meningkat.3
Peraturan ini kemudian diperbaharui dengan keluarnya SK Menteri Keuangan 458 berdasarkan UU Pajak 1983. Tarif pajak perusahaan berubah dari 45% menjadi 35%, sedangkan pajak dividen (PBDR) tetap pada level 20% dari tingkat keuntungan setelah pajak (lihat Tabel 6).
3 Meningkatnya bagian kontraktor bervariasi dari satu kontraktor ke kontraktor yang lainnya. Lihat Tabel Lampiran 2.
Tabel 6. Tiga Rejim Pajak yang Berlaku di Indonesia
UU Ordonansi 1925
Corporate tax =45%
Pajak penghasilan dari dividen dan royalti (PBDR) =20%.
UU Pajak tahun 1983
Corporate tax =35%
Pajak penghasilan pasal 26 besarnya tetap sama (20%).
UU Pajak tahun 1994
Corporate tax =30%
Pajak penghasilan pasal 26=20%
Saat ini mayoritas Equity Share (entitlement) untuk minyak bumi adalah 71,15% (bagian pemerintah) dan 28,85% (bagian kontraktor). Kontraktor tidak hanya menerima bagian sebanyak 15% seperti pada bagi hasil ditetapkan di tahun 1950, tetapi naik menjadi 28,85%. Namun demikitan, bagian yang 13.85% (=28,85% - 15%) adalah estimasi nilai pajak/pungutan yang harus dibayar oleh perusahaan kepada pemerintah. Jika ternyata tarif pajak (tax rate) turun dan nilai pajak yang harus dibayar perusahaan lebih kecil dari 13.85%, maka aturan perjanjian dengan kontraktor akan disesuaikan: kontraktor mengembalikan surplus dari pembayaran pajak sehingga bagian untuk kontraktor tetap 15%. Dalam hal ini, pemerintah menerima bonus dari selisih pembayaran pajak yang dilakukan kontraktor. Dengan demikian bagi hasil akhir (setelah memperhitungkan penerimaan pemerintah dari pajak) antara pemerintah dengan kontraktor adalah 85%
(pemerintah): 15% (kontraktor).
Penting sekali untuk diperhatikan sekali lagi bahwa yang dibagikan ke daerah bukan 85%
dari NOI (total penerimaan pajak dan non pajak pemerintah) melainkan 85% - 12,75%
(pajak daerah) – 13,85% (pajak pusat) – 5% (Pertamina) = 53,4% dari NOI (lihat juga Diagram 1).
Mekanisme yang sama berlaku untuk penerimaan dari sumber daya gas alam. Perbedaan hanya terletak pada pola pembagian dan estimasi komponen pajak. Mayoritas Equity Share antara pemerintah dan kontraktor gas alam adalah 42,31% (bagian pemerintah) dan 57,6% (bagian kontraktor). Estimasi nilai pajak (PPs dan PBDR) yang harus dibayar oleh kontraktor yaitu sebesar 27,69%. Dengan demikian bagi hasil akhir (termasuk penerimaan pajak dari pajak) yang berlaku umum untuk gas alam adalah 70:30, di mana
pemerintah menerima 70% dan kontraktor menerima 30% dari NOI. Adapun yang dibagihasilkan ke daerah adalah 70% – 10,5% (pajak daerah) – 23,69% (pajak pusat) – 5% (Pertamina) = 26,81% dari NOI (lihat juga Diagram 2).
Diagram 1 dan 2 menjelaskan bagan umum perhitungan komponen pajak dan non pajak untuk sumber daya alam minyak dan gas. Perhatikan, komponen pajak/pungutan pemerintah secara umum dibagi atas komponen pajak/restribusi pemerintah pusat, pajak/restribusi pemerintah daerah, dan rentesi Pertamina. Besarnya retensi Pertamina untuk minyak bumi dan gas alam adalah sebesar 5% dari NOI. Adapun pajak/retribusi daerah untuk minyak bumi diestimasikan sebesar 12,75% dan untuk gas alam adalah sebesar 10,5% dari NOI.
Catatan, pada minyak bumi ada 3 macam kontrak sebagai berikut:
(1) Jenis kontrak bagi hasil murni atau production sharing contract (PSC). Yang mewakili pemerintah Indonesia disini adalah Departemen Pertambangan dan Energi.
Namun demikian, uang bagi hasil bagian pemerintah diterima oleh Departemen Keuangan. Perhatian, penerimaan pemerintah disini dalam bentuk uang tunai, bukan hasil produksi. Aturan penerimaan pemerintah dari PSC adalah seperti yang diuraikan sebelumnya di subbagian ini.
(2) Jenis kontrak kedua adalah antara kontraktor dan Pertamina, umumnya untuk kasus Enhanced Oil Recovery (EOR). Penerimaan Indonesia masuk ke Pertamina dalam bentuk bagian produksi. Setoran dari Pertamina ke pemerintah tidak secara langsung, tapi berupa 60% dari keuntungan bersih Pertamina.
(3) Jenis kontrak ketiga adalah antara pemerintah Indonesia, kontraktor dan Pertamina.
Jenis kontrak ini disebut sebagai joint operation body (JOB). Wilayah kerja kontraktor merupakan milik Pertamina. Pertamina mendapat bagian 50% dari produksi (bukan uang tunai), sedangkan kontraktor mendapat 50% sisanya. Disini, penerimaan negara dari kontraktor diatur seperti pada PSC berdasarkan 50% bagian kontraktor. Sedangkan penerimaan negara dari Pertamina adalah berupa 60% dari keuntungan bersih Pertamina.
Diagram 1
Perhitungan Komponen Pajak Dan Non Pajak Minyak Bumi Berdasarkan UU No. 25/1999
Basis Pajak
Bagian Pusat-Daerah : 85:15
Basis Pajak : Net Operating Income (NOI)
Tingkat Pajak : 48% (PPh 35% + PPh ps 26 (e) 20%) Peraturan Pajak Tahun 1983
Bagian Daerah : 15% dari total bagian Indonesia setelah pajak
PPN, PBB, dll : 15% dari bagian Indonesia (asumsi)
Net Operating Income (NOI)
Bagian Indonesia 71.15%
Penerimaan Pajak 13.85%
Total Bagian Indonesia 85%
Bagian Kontraktor 28.85%
Pajak Kontraktor 13.85%
Bagian Bersih Kontraktor 15%
Pajak :
PPh 35% + PPh ps 26 (e) 20%
Total Bagian Indonesia : 85% dari NOI a. Komponen Pajak : 31,6%
1. PPN, PBB, Pajak Daerah
dan retribusi Daerah : 12,75% (15% dari total bagian Indonesia) 2. PPh + PPh ps 26 (e) : 13,85%
3. Retensi Pertamina : 5%
b. Komponen Non Pajak : 53,4%
1. Bagian Daerah (15%) : 8,01%
2. Bagian Pusat : 45,39%
Diagram 2
Perhitungan Komponen Pajak Dan Non Pajak Gas Alam Berdasarkan UU No. 25/1999
Basis Pajak
• Bagian Pusat-Daerah : 70:30
• Basis Pajak : Net Operating Income (NOI)
• Tingkat Pajak-- : 48% (PPh 35% + PPh ps 26 (e) 20%) Peraturan Pajak Tahun 1983
• Bagian Daerah : 30% dari total bagian Indonesia setelah pajak
• PPN, PBB, dll : 15% dari bagian Indonesia (asumsi)
Net Operating Income (NOI)
Bagian Indonesia 42.31%
Penerimaan Pajak 27.69%
Total Bagian Indonesia 70%
Bagian Kontraktor 57.6%
Pajak Kontraktor 27.69%
Bagian Bersih Kontraktor 30%
Pajak :
PPh 35% + PPh ps 26 (e) 20%
Total Bagian Indonesia : 70% dari NOI a. Komponen Pajak : 43,19%
1. PPN, PBB, Pajak Daerah
dan Retribusi Daerah : 10,5% (15% dari total bagian Indonesia) 2. PPh + PPh ps 26 (e) : 27,69%
3. Retensi Pertamina : 5%
b. Komponen Non Pajak : 26,81%
1. Bagian Daerah (15%) : 8,04%
2. Bagian Pusat : 18,77%
3.2.2. Sumber Daya Alam Non Migas
Sumber daya alam non migas disini terdiri dari sumber daya alam pertambangan umum (di luar Migas), kehutanan, dan perikanan.
3.2.2.1. Sektor Pertambangan Umum
Penerimaan negara bukan pajak dari sektor pertambangan umum terdiri dari royalti dan iuran tetap (land rent). Peraturan mengenai royalti di sektor pertambangan umum tercantum dalam PP No. 13/2000 (lihat Tabel Lampiran 4). Dalam peraturan tersebut tarif royalti bersifat advalorem (dalam persentasi) dan dikenakan terhadap harga jual yang telah dikalikan dengan jumlah produksi. Adapun besarnya tarif berbeda-beda untuk setiap jenis dan kualitas bahan galian.
PP No.13/2000 ini juga memasukkan peraturan mengenai besarnya tarif royalti untuk bahan tambang batubara. Sebelumnya pengenaan royalti untuk batubara sudah termasuk dalam bagian pemerintah dari Dana Hasil Produksi Batubara (DHPB) yang diatur dalam Keppres No.75 Tahun 1996. Dalam peraturan tersebut, pemerintah mendapat 13,5% dari produksi batubara (dana hasil produksi batubara/DHPB). Bagian pemerintah sebesar 13,5% tersebut sudah mencakup pembayaran royalti yang diestimasikan sebesar 3,3%
dari 13,5% DHPB.
Iuran tetap (land rent) di sektor pertambangan umum dibedakan berdasarkan kategori kontraktor: PMA atau PMDN. Tarif iuran tetap sektor pertambangan umum untuk kontraktor jenis PMA (kontrak karya) diatur berdasarkan SK Mentamben No.931K/844/M.PE/1986 (lihat Tabel Lampiran 4). Dalam peraturan tersebut, tarif iuran tetap merupakan tarif satuan atas nilai US $ per luas area eksploitas/eksplorasi (hektar).
Besarnya tarif dibedakan atas dasar tahap kegiatan dan status (perpanjangan atau tidak).
Adapun untuk kuasa pertambangan (PMDN), pengenaan tarif iuran tetap diatur dalam SK Mentamben No.1165/844/1992 (Tabel Lampiran 5). Tarif iuran tetap yang dikenakan kuasa pertambangan (PMDN) merupakan tarif satuan atas nilai rupiah per satuan luas eksploitasi/eksplorasi (hektar) dan besarnya tarif juga dibedakan atas dasar tahap kegiatan dan status (perpanjangan atau tidak). Pemungutan iuran tetap, yang dikenakan pada PMA maupun PMDN di sektor pertambangan, dilakukan setiap semester.
3.2.2.2. Sektor Kehutanan
Penerimaan Negara Non Pajak dari sektor kehutanan terdiri: (1) Dana Reboisasi; (2) PSDH (Provisi Sumber Daya Hutan) yang merupakan royalti; dan (3) land-rent (Iuran Hak Pengusahaan Hutan/IHPH) yang bersifat license fee.
Peraturan pemerintah terbaru yang mengatur mengenai tarif Dana Reboisasi adalah PP no. 92/1999 (lihat Tabel Lampiran 7) yang merupakan perubahan kedua atas PP No.59/1999. Tarif Dana Reboisasi merupakan tarif satuan US $ per m³, dimana besarnya tergantung dari (1) kategori wilayah dan (2) kelompok jenis kayu/bukan kayu. Menurut UU No. 41/1999 tentang Kehutanan, pungutan Dana Reboisasi ini dikenakan terhadap pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan pemegang Hak Pemungutan Hasil Hutan.
Peraturan terbaru mengenai tarif PSDH tertuang dalam SK Menhutbun No.859/Kpts- II/1999 (lihat Tabel Lampiran 8). Dalam peraturan tersebut, tarif yang dikenakan adalah tarif satuan Rp per m³, yang besarnya tergantung dari (1) kategori wilayah dan (2) kelompok jenis kayu/bukan kayu. PSDH dikenakan terhadap pemegang HPH, pemegang Hak Pemungutan Hasil Hutan (HPHH) dan pemegang Izin Pemanfaatan Kayu (IPK) (lihat UU No. 41/1999 juga PP No. 6/1999). Pada HPH, untuk penyaluran produksi ke industri terkait dengan HPH, pembayaran dilakukan oleh pihak industri penerima. Untuk produksi yang disalurkan ke industri yang tidak terkait dengan pemegang HPH, pembayaran dilakukan oleh pemegang HPH pada saat pengangkutan. Pembayaran dilakukan setiap bulan atas dasar produksi bulan sebelumnya, disetor langsung ke Rekening Menteri Kehutanan.
Perhatian, perhitungan jumlah kayu yang dikenai kewajiban untuk membayar PSDH dan Dana Reboisasi didasarkan dari Laporan Hasil Penebangan (LHP). Sistem pelaporan produksi hasil hutan tersebut bersifat self assesment yaitu perusahaan pemegang HPH mengisi volume produksi dan jenis tanaman. Setelah itu diterbitkan dokumen SKSHH (Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan) yang sebelumnya disebut SAKO. Pengesahan LHP dilakukan setelah diadakan pengukuran sampling 10% dari area produksi oleh petugas kehutanan untuk menguji kebenaran pengisisan dokumen LHP. Jika terjadi penyimpangan volume <5%, LHP tetap disahkan, namun tidak berlaku untuk kesalahan pengisian jenis tanaman.
Adapun IHPH (Iuran Hak Pengusahaan Hutan) merupakan pungutan yang bersifat license fee (terkait dengan perizinan). Tarif IHPH diatur dalam PP No.59/1998 (lihat Tabel
Lampiran 9). Di dalam peraturan tersebut dinyatakan bahwa tarif yang dikenakan adalah tarif satuan Rp per satuan luas HPH (hektar). Besarnya tarif tergantung dari (1) kategori wilayah dan (2) status HPH (baru/perpanjangan/HPHTI). IHPH dikenakan satu kali untuk jangka waktu berlakunya HPH (atau sekitar 20 tahun).
3.2.2.3. Sektor Perikanan
Penerimaan Negara Bukan Pajak dari sektor perikanan terdiri dari Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP) dan Pungutan Hasil Perikanan (PHP). Pungutan untuk sektor perikanan ini diatur dalam SK Menteri Pertanian No.424/Kpts/7/1977 (lihat Tabel Lampiran 10 dan 11).
Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP) bersifat license fee, dikenakan satu kali pada saat pengajuan permohonan Surat Ijin Kapal Perikanan. Tarif PPP merupakan tarif nominal (US $) dan didasarkan atas ukuran kapal penangkapan ikan (DWT). Dalam hal ini tarif dikenakan atas dasar berat kosong kapal.
Adapun Pungutan Hasil Perikanan (PHP) dikenakan pada hasil produksi sektor perikanan yang diekspor. Tarif yang dikenakan bersifat advalorem (persentasi), dimana besar tarif dibedakan menurut kelompok jenis ikan.
4. Metode Estimasi Perhitungan Sumber Daya Alam
Kendala yang sangat besar dalam perhitungan penerimaan Bagi Hasil Sumber Daya Alam adalah data. Data yang diperlukan dalam perhitungan bagi hasil yang sesuai dengan peraturan pemerintah masih belum tersedia sampai saat ini. Karenanya pekerjaan ini lebih diarahkan pada menjelaskan beberapa metode estimasi penerimaan Bagi Hasil Sumber Daya Alam, bukan pada hasil perhitungannya. Perhitungan dipekerjaan ini tetap dilakukan, tapi hanya untuk contoh perhitungan. Harapannya pembaca dapat mengumpulkan data yang lebih lengkap dan melakukan perhitungan untuk propinsi/kabupaten/kota yang menjadi perhatiannya.
Dua metode estimasi yang diuraikan dibagian ini adalah metode estimasi penerimaan Bagi Hasil Sumber Daya Alam yang dikembangkan oleh LPEM-FEUI dan NRM.4
4.1. Metode LPEM-FEUI
Metode ini akan diterapkan untuk menghitung bagi hasil sumber daya alam migas dan pertambangan, sedangkan untuk perikanan dan kehutanan belum dapat dilakukan karena sulitnya menemukan proksi data yang cocok untuk kedua sumber daya tersebut. Dalam perhitungannya metode LPEM-FEUI dapat menghitung penerimaan bagi hasil minyak dan gas sampai tingkatan kabupaten/kota.
4.1.1. Minyak Bumi dan Gas Alam
Perhitungan untuk minyak bumi dan gas alam di bawah ini mencoba mengaplikasikan peraturan pemerintah seperti yang disajikan Diagram 1 pada pembahasan sebelumnya.
Seperti yang telah diuraikan dalam Bab 3, sebagai dasar perhitungan jumlah uang yang akan dibagikan antara pemerintah dan kontraktor digunakan net operating income (NOI), yaitu penerimaan bersih setelah dikurangi berbagai pembiayaan operasional.
Data NOI umumnya sulit didapat. Data ekonomi yang dapat dipergunakan untuk memperkirakan besarnya NOI dari sumber daya alam minyak bumi dan gas alam di suatu propinsi adalah Tabel Input-Output Propinsi/Kabupaten/Kota. Dengan menggunakan data
4 Pencarian data dan perhitungan untuk tulisan ini dilakukan dari sekitar Februari 2000 sampai dengan sekitar Juli 2000. Karenanya nama kementerian/departemen dalam tulisan ini masih menggunakan nama kementerian/departemen pada perioda tersebut. Pembaca diminta menyesuaikan sendiri nama-nama ini dengan nama kementerian/departement saat ini.
Input-Output, akan diperoleh besaran nilai sisa hasil usaha (SHU), yaitu besarnya keuntungan bersih kegiatan sektor minyak bumi dan gas alam setelah penerimaan dikurangi berbagai biaya operasional. SHU ini merupakan proksi besaran NOI dalam rumusan perhitungan bagi hasil SDA minyak bumi dan gas alam. Namun demikian, tidak setiap propinsi/kabupaten/kota memiliki Tabel Input-Output, karenanya untuk mengestimasi besar NOI di tingkat propinsi digunakan Tabel Input-Output Nasional dan data PDRB Propinsi/Kabupaten/Kota menurut sektor ekonomi.5
Dari Tabel Input-Output Nasional diperoleh rasio SHU nasional untuk minyak bumi dan gas alam terhadap value-added nasional (atau total output nasional) untuk minyak bumi dan gas alam. Rasio tersebut dipergunakan untuk melakukan estimasi penerimaan SDA bersangkutan di suatu propinsi yaitu dengan cara mengalikan rasio tersebut dengan PDRB Propinsi/Kabupaten/Kota untuk sektor minyak bumi dan gas alam. Rumusan yang dihasilkan adalah sebagai berikut:
NOI migas propinsi/kabupaten/kota i = (SHUmigas nasional/VA migas nasional) x PDRB migas propinsi/kabupaten/kota i
Mengeluarkan komponen pajak (PPN, PBB, pajak daerah, retribusi, PPs + PPh dan retensi pertamina) dilakukan dengan mengalikan hasil perhitungan NOI 53.40% dan 26.81% berturut-turut untuk minyak bumi dan gas alam (persentase komponen bukan pajak yang akan dibagikan ke pemerintah pusat dan daerah). Setelah diperoleh nilai yang akan dibagikan antara pemerintah pusat dan daerah baru diterapkan UU No. 25/1999 untuk mendistribusikannya ke masing-masing daerah.
Mengingat bahwa besarnya bagi hasil untuk minyak bumi dan gas alam harus diestimasi secara sendiri-sendiri, maka untuk lebih lengkapnya, berikut ini dipaparkan tahapan- tahapan estimasi untuk minyak bumi dan gas alam menurut pendekatan LPEM FEUI.
4.1.1.1. Minyak Bumi
Tahap-tahap perhitungan bagi hasil sumber daya alam minyak bumi yaitu (lihat Gambar 1):
5 Jika yang dimiliki adalah PDRB tingkat kabupaten/kota, maka estimasi NOI dapat dilakukan hingga tingkat kabupaten/kota. Pada tulisan ini hanya digunakan PDRB tingkat propinsi, karenanya estimasi NOI dilakukan di tingkat propinsi.