3. Undang-Undang Serta Peraturan Daerah yang Mengatur Penerimaan dan Bagi Hasil
3.2. Penjelasan Peraturan Perhitungan Bagi Hasil Sumber Daya Alam
3.2.1. Sumber Daya Alam Minyak Bumi dan Gas Alam (Migas)
Seperti dijelaskan sebelumnya, penerimaan pemerintah dari sumber daya alam minyak bumi dan gas alam yang akan dibagihasilkan ke daerah adalah bagian pemerintah dari hasil produksi minyak bumi dan gas alam yang sudah dikurangi pajak dan pungutan lainnya. Berikut ini akan dijelaskan lebih rinci mengenai penerimaan pemerintah yang akan dibagihasilkan tersebut.
Pertama, pola bagi hasil produksi antara kontraktor (production sharing contractor dan joint operation body) dan pemerintah diatur berdasarkan NOI (Net Operating Income), di mana NOI merupakan lifting (hasil produksi minyak bumi/gas alam yang dijual) setelah dikurangi biaya eksplorasi. Jadi, bagi hasil antara pemerintah dan kontraktor ini baru dilakukan setelah biaya eksplorasi tertutupi. Dengan demikian, besar kemungkinan jika pemerintah tidak mendapatkan penerimaan dari sumber daya alam ini pada awal periode
kontraktor berproduksi. Kebijakan ini diterapkan karena risiko kerugian (eksplorasi) ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan/kontraktor yang terlibat. Ketentuan bagi hasil antara kontraktor dan pemerintah ini disebut sebagai Equity Share (entitlement).
Kedua, Equity Share (entitlement) pada dasarnya belum mengeluarkan komponen pajak pusat (masih ada pajak perseroan dan pajak dividen didalamnya). Bagian pemerintah dari kontraktor yang telah dikurangi komponen pajak dan pungutan inilah yang akan dibagihasilkan ke daerah. Dengan demikian, besarnya penerimaan pemerintah yang akan dibagihasilkan ke daerah dipengaruhi oleh:
Proses produksi (eksploitasi) yang terdiri dari primary recovery, secondary recovery, dan third recovery.
Pola bagi hasil atau Equity Share (entitlement), yang tentunya tergantung dari jenis production sharing.
Rejim pajak yang berlaku.
Sebelum tahun 1950, ketentuan bagi hasil minyak bumi (Equity Share entitlement) antara pemerintah dan kontraktor adalah 65:35 (65% dari NOI adalah bagian pemerintah dan 35% lainnya bagian kontraktor). Pada tahun 1950, ketentuan bagi hasil berubah menjadi 85:15 (85% pemerintah, 15% kontraktor) dan perusahaan dibebaskan dari pungutan pajak apapun.
Namun pada kenyataannya, banyak perusahan-perusahaan minyak asing yang tetap harus membayar pajak penghasilan di negara asal, terutama perusahaan yang berasal dari Amerika. Untuk itu, di tahun 1978 pemerintah melalui SK Menteri Keuangan No. 267 tahun 1978, berdasarkan UU Ordonansi 1925 (lihat Tabel 6), mengatur mekanisme pajak production sharing. Kontraktor tetap membayar pajak perusahaan dan pajak dividen, namun sebagai gantinya, bagian kontraktor sebelum pajak meningkat.3
Peraturan ini kemudian diperbaharui dengan keluarnya SK Menteri Keuangan 458 berdasarkan UU Pajak 1983. Tarif pajak perusahaan berubah dari 45% menjadi 35%, sedangkan pajak dividen (PBDR) tetap pada level 20% dari tingkat keuntungan setelah pajak (lihat Tabel 6).
3 Meningkatnya bagian kontraktor bervariasi dari satu kontraktor ke kontraktor yang lainnya. Lihat Tabel Lampiran 2.
Tabel 6. Tiga Rejim Pajak yang Berlaku di Indonesia
UU Ordonansi 1925
Corporate tax =45%
Pajak penghasilan dari dividen dan royalti (PBDR) =20%.
UU Pajak tahun 1983
Corporate tax =35%
Pajak penghasilan pasal 26 besarnya tetap sama (20%).
UU Pajak tahun 1994
Corporate tax =30%
Pajak penghasilan pasal 26=20%
Saat ini mayoritas Equity Share (entitlement) untuk minyak bumi adalah 71,15% (bagian pemerintah) dan 28,85% (bagian kontraktor). Kontraktor tidak hanya menerima bagian sebanyak 15% seperti pada bagi hasil ditetapkan di tahun 1950, tetapi naik menjadi 28,85%. Namun demikitan, bagian yang 13.85% (=28,85% - 15%) adalah estimasi nilai pajak/pungutan yang harus dibayar oleh perusahaan kepada pemerintah. Jika ternyata tarif pajak (tax rate) turun dan nilai pajak yang harus dibayar perusahaan lebih kecil dari 13.85%, maka aturan perjanjian dengan kontraktor akan disesuaikan: kontraktor mengembalikan surplus dari pembayaran pajak sehingga bagian untuk kontraktor tetap 15%. Dalam hal ini, pemerintah menerima bonus dari selisih pembayaran pajak yang dilakukan kontraktor. Dengan demikian bagi hasil akhir (setelah memperhitungkan penerimaan pemerintah dari pajak) antara pemerintah dengan kontraktor adalah 85%
(pemerintah): 15% (kontraktor).
Penting sekali untuk diperhatikan sekali lagi bahwa yang dibagikan ke daerah bukan 85%
dari NOI (total penerimaan pajak dan non pajak pemerintah) melainkan 85% - 12,75%
(pajak daerah) – 13,85% (pajak pusat) – 5% (Pertamina) = 53,4% dari NOI (lihat juga Diagram 1).
Mekanisme yang sama berlaku untuk penerimaan dari sumber daya gas alam. Perbedaan hanya terletak pada pola pembagian dan estimasi komponen pajak. Mayoritas Equity Share antara pemerintah dan kontraktor gas alam adalah 42,31% (bagian pemerintah) dan 57,6% (bagian kontraktor). Estimasi nilai pajak (PPs dan PBDR) yang harus dibayar oleh kontraktor yaitu sebesar 27,69%. Dengan demikian bagi hasil akhir (termasuk penerimaan pajak dari pajak) yang berlaku umum untuk gas alam adalah 70:30, di mana
pemerintah menerima 70% dan kontraktor menerima 30% dari NOI. Adapun yang dibagihasilkan ke daerah adalah 70% – 10,5% (pajak daerah) – 23,69% (pajak pusat) – 5% (Pertamina) = 26,81% dari NOI (lihat juga Diagram 2).
Diagram 1 dan 2 menjelaskan bagan umum perhitungan komponen pajak dan non pajak untuk sumber daya alam minyak dan gas. Perhatikan, komponen pajak/pungutan pemerintah secara umum dibagi atas komponen pajak/restribusi pemerintah pusat, pajak/restribusi pemerintah daerah, dan rentesi Pertamina. Besarnya retensi Pertamina untuk minyak bumi dan gas alam adalah sebesar 5% dari NOI. Adapun pajak/retribusi daerah untuk minyak bumi diestimasikan sebesar 12,75% dan untuk gas alam adalah sebesar 10,5% dari NOI.
Catatan, pada minyak bumi ada 3 macam kontrak sebagai berikut:
(1) Jenis kontrak bagi hasil murni atau production sharing contract (PSC). Yang mewakili pemerintah Indonesia disini adalah Departemen Pertambangan dan Energi.
Namun demikian, uang bagi hasil bagian pemerintah diterima oleh Departemen Keuangan. Perhatian, penerimaan pemerintah disini dalam bentuk uang tunai, bukan hasil produksi. Aturan penerimaan pemerintah dari PSC adalah seperti yang diuraikan sebelumnya di subbagian ini.
(2) Jenis kontrak kedua adalah antara kontraktor dan Pertamina, umumnya untuk kasus Enhanced Oil Recovery (EOR). Penerimaan Indonesia masuk ke Pertamina dalam bentuk bagian produksi. Setoran dari Pertamina ke pemerintah tidak secara langsung, tapi berupa 60% dari keuntungan bersih Pertamina.
(3) Jenis kontrak ketiga adalah antara pemerintah Indonesia, kontraktor dan Pertamina.
Jenis kontrak ini disebut sebagai joint operation body (JOB). Wilayah kerja kontraktor merupakan milik Pertamina. Pertamina mendapat bagian 50% dari produksi (bukan uang tunai), sedangkan kontraktor mendapat 50% sisanya. Disini, penerimaan negara dari kontraktor diatur seperti pada PSC berdasarkan 50% bagian kontraktor. Sedangkan penerimaan negara dari Pertamina adalah berupa 60% dari keuntungan bersih Pertamina.
Diagram 1
Perhitungan Komponen Pajak Dan Non Pajak Minyak Bumi Berdasarkan UU No. 25/1999
Basis Pajak
Bagian Pusat-Daerah : 85:15
Basis Pajak : Net Operating Income (NOI)
Tingkat Pajak : 48% (PPh 35% + PPh ps 26 (e) 20%) Peraturan Pajak Tahun 1983
Bagian Daerah : 15% dari total bagian Indonesia setelah pajak
PPN, PBB, dll : 15% dari bagian Indonesia (asumsi)
Net Operating Income (NOI)
Bagian Indonesia 71.15%
Penerimaan Pajak 13.85%
Total Bagian Indonesia 85%
Bagian Kontraktor 28.85%
Pajak Kontraktor 13.85%
Bagian Bersih Kontraktor 15%
Pajak :
PPh 35% + PPh ps 26 (e) 20%
Total Bagian Indonesia : 85% dari NOI a. Komponen Pajak : 31,6%
1. PPN, PBB, Pajak Daerah
dan retribusi Daerah : 12,75% (15% dari total bagian Indonesia) 2. PPh + PPh ps 26 (e) : 13,85%
3. Retensi Pertamina : 5%
b. Komponen Non Pajak : 53,4%
1. Bagian Daerah (15%) : 8,01%
2. Bagian Pusat : 45,39%
Diagram 2
Perhitungan Komponen Pajak Dan Non Pajak Gas Alam Berdasarkan UU No. 25/1999
Basis Pajak
• Bagian Pusat-Daerah : 70:30
• Basis Pajak : Net Operating Income (NOI)
• Tingkat Pajak-- : 48% (PPh 35% + PPh ps 26 (e) 20%) Peraturan Pajak Tahun 1983
• Bagian Daerah : 30% dari total bagian Indonesia setelah pajak
• PPN, PBB, dll : 15% dari bagian Indonesia (asumsi)
Net Operating Income (NOI)
Bagian Indonesia 42.31%
Penerimaan Pajak 27.69%
Total Bagian Indonesia 70%
Bagian Kontraktor 57.6%
Pajak Kontraktor 27.69%
Bagian Bersih Kontraktor 30%
Pajak :
PPh 35% + PPh ps 26 (e) 20%
Total Bagian Indonesia : 70% dari NOI a. Komponen Pajak : 43,19%
1. PPN, PBB, Pajak Daerah
dan Retribusi Daerah : 10,5% (15% dari total bagian Indonesia) 2. PPh + PPh ps 26 (e) : 27,69%
3. Retensi Pertamina : 5%
b. Komponen Non Pajak : 26,81%
1. Bagian Daerah (15%) : 8,04%
2. Bagian Pusat : 18,77%