DAFTAR PUSTAKA
D. Data Pengamatan dan Pembahasan
1. Hasil Pengamatan
a. Subsistem persawahan
Tabel 4.1 Profil Tempat Subsistem persawahan No. Profil Tempat Keterangan
1. Alamat Papahan kecamatan Karanganyar 2. Letak Geografis 07o 36’ 21,0” LS dan 110o 55’ 06,3” BT 3. Slope 0% (datar)
4. Tinggi Tempat 147 mdpl
5. Vegetasi Jati, pisang, papaya, mangga
6. pH 6,6
7. Batas-batas
-Utara: Rumah warga -Timur: Sawah -Selatan: Sawah -Barat: Rumah Warga 8. Kelembaban tanah 70 %
9. Kelembaban udara 73 % 10 Suhu Udara 27oC
11. Intensitas cahaya -Tidak Ternaungi: 2270 fc/lux -Ternaungi: 1490 fc/lux 12. Pengolahan lahan a. Pola tanam b. Jarak tanam Hj M Monokultural Bj 22 cm x 22 cm
13. Input Pupuk ZA 2kg, Urea 50 kg, SP36 50 kg, ppestisida ‘Furada’
14. Output 13 kw gabah kering 15. Siklus hara Terbuka
16. Luas lahan 3000 m2 per petak Sumber: Boardlist
Gambar 4.1 Denah subsistem sawah
lviii √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ SAWAH √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ PARIT JALAN RUMAH
b. Subsistem talun
Tabel 4.2 Profil Tempat Subsistem talun No
. Profil Tempat Keterangan
1. Alamat dukuh Ngasinan, desa Tugu, kecamatan Jumantono, kabupaten Karanganyar 2. Letak Geografis 07o 39’ 34,8” LS dan 110o 58’ 14,9” BT 3. Slope 6% (datar)
4. Tinggi Tempat 261 mdpl
5. Vegetasi Jati, pisang, pepaya, mangga, sengon,nangka, jeruk
6. pH 6,2 7. Batas-batas -Utara: Pemukiman -Timur: Pemukiman -Selatan: Pemukiman -Barat: Pemukiman 8. Kelembaban tanah 30 % 9. Kelembaban udara 66 % 10 Suhu Udara 27oC
11. Intensitas cahaya -Tidak Ternaungi: - fc/lux -Ternaungi: 1550 fc/lux 12. Pengolahan lahan a. Pola tanam b. Jarak tanam Hj M Multikultural Bj Tidak teratur 13. Input Bibit dan seresah
14. Output Kayu
15. Siklus hara Tertutup 16. Luas lahan 300-500 m2
Sumber: Boardlist
Gambar 4.2 Denah subsistem talun
lix
JATI NANGKA JATI JATI
JATI JATI JATI NANGKA
JERUK JATI JATI JATI
PEPAYA PISANG PISANG PISANG
JATI JATI
c. Subsistem tegal
Tabel 4.3 Profil Tempat Subsistem tegal No
. Profil Tempat Keterangan
1. Alamat dukuh Ngasinan, desa Tugu, kecamatan Jumantono, kabupaten Karanganyar 2. Letak Geografis 07o 39’ 29,2” LS dan 110o 58’ 03,5” BT 3. Slope 6% (datar)
4. Tinggi Tempat 250 mdpl
5. Vegetasi Jati, pisang, pepaya, mangga, sengon,nangka, jeruk
6. pH 6,2
7. Batas-batas
-Utara: Rumah
-Timur: Pepohonan jati -Selatan: Sawah tadah hujan -Barat: Lapangan
8. Kelembaban tanah 23 % 9. Kelembaban udara 45 % 10 Suhu Udara 42oC
11. Intensitas cahaya -Tidak Ternaungi: 85000 fc/lux -Ternaungi: 22900 fc/lux 12. Pengolahan lahan a. Pola tanam b. Jarak tanam Hj M Multikultural Bj 60x40 cm
13. Input Pupuk ponska 2kw, Urea 2kw 14. Output Singkong 5 ton
15. Siklus hara Terbuka
16. Luas lahan 3000 m2 per petak Sumber: Boardlist
Gambar 4.3 Denah subsistem tegal
lx O O O O O O O O O SINGKONG O O O O O O √ √ √ √ √ √ √ √ √ PADI √ √ √ √ √ √ ∫ ∫ ∫ ∫ ∫ ∫ ∫ ∫ ∫ TEBU ∫ ∫ ∫ ∫ ∫ ∫ GALENGAN/PARIT
d. Subsistem pekarangan
Tabel 4.4 Profil Tempat Subsistem pekarangan No
. Profil Tempat Keterangan
1. Alamat dukuh Ngasinan, desa Tugu, kecamatan Jumantono, kabupaten Karanganyar 2. Letak Geografis 07o 39’ 32,2” LS dan 110o 38’ 10,9” BT 3. Slope 6% (datar)
4. Tinggi Tempat 250 mdpl
5. Vegetasi Jati, pisang, pepaya, mangga, sengon,nangka, kelapa
6. pH 6,3 7. Batas-batas -Utara: Pemukiman -Timur: Pemukiman -Selatan: Pemukiman -Barat: Pemukiman 8. Kelembaban tanah 25 % 9. Kelembaban udara 44 % 10 Suhu Udara 43oC
11. Intensitas cahaya -Tidak Ternaungi: 8370 fc/lux -Ternaungi: 3630 fc/lux 12. Pengolahan lahan a. Pola tanam b. Jarak tanam Hj M Multikultural Bj Tidak teratur
13. Input Pupuk kandang dan pupuk urea
14. Output 10 kg buah untuk masing-masingtanaman 15. Siklus hara Terbuka
16. Luas lahan 1000 m2 per petak Sumber: Boardlist lxi JALAN RUMAH JAL AN PETAI PISANG MANGGA PISANG MANGGA NANGKA KELAPA MANGGA NANGKA KELENGKENG PISANG
Gambar 4.4 Denah subsistem pekarangan
e. Subsistem perkebunan karet
Tabel 4.5 Profil Tempat Subsistem perkebunan karet No
. Profil Tempat Keterangan
1. Alamat Mojogedang kabupaten Sukoharjo 2. Letak Geografis 07o 36’ 04,1” LS dan 110o 02’ 33,6” BT 3. Slope 15% (miring)
4. Tinggi Tempat 474 mdpl
5. Vegetasi Pohon karet dan rumput
6. pH 5,6 7. Batas-batas -Utara: Pemukiman -Timur: Tegal -Selatan: Talun -Barat: Pemukiman 8. Kelembaban tanah 50 % 9. Kelembaban udara 65 % 10 Suhu Udara 26oC
11. Intensitas cahaya -Tidak Ternaungi: - fc/lux-Ternaungi: 8250 fc/lux 12. Pengolahan lahana. Pola tanam
b. Jarak tanam Hj
M Monokultural Bj 3x7 m
13. Input Urea, SP36, KCl, Hormon 14. Output Lateks
15. Siklus hara Terbuka 16. Luas lahan 6943,11 ha Sumber: Boardlist lxiii O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O PERKEBUNAN KARET O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O O JALA N
Gambar 4.5 Denah subsistem perkebunan karet
f. Subsistem perkebunan teh
Tabel 4.6 Profil Tempat Subsistem perkebunan teh No
. Profil Tempat Keterangan
1. Alamat Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar 2. Letak Geografis 07o 36’ 8,6” LS dan 110o 7’ 18” BT 3. Slope 10% (miring)
4. Tinggi Tempat 912 mdpl
5. Vegetasi Teh, pepaya, pisang
6. pH 6,4 7. Batas-batas -Utara: Pemukiman -Timur: Pemukiman -Selatan: Jalan -Barat: Pemukiman 8. Kelembaban tanah 72 % 9. Kelembaban udara 64 % 10 Suhu Udara 29oC
11. Intensitas cahaya -Tidak Ternaungi: 210 fc/lux-Ternaungi: - fc/lux 12. Pengolahan lahana. Pola tanam
b. Jarak tanam Hj
M Monokultural Bj 1x1 m
13. Input Bibit, pupuk organic, Urea, SP36, KCl 14. Output Daun teh/pucuk
15. Siklus hara Terbuka 16. Luas lahan >2 ha Sumber: Boardlist
Gambar 4.6 Denah subsistem perkebunan teh
lxv
U RUMAH RUMAH RUMAH RUMAH
R U M A H O O O O O O O O KEBUN TEH O O O O O O O O O O O O O O O O KEBUN TEH O O O O O O O O JALAN R U M A H
2. Pembahasan
a. Subsistem Persawahan
Pada subsistem sawah yang telah diteliti pada daerah Suruh, Kalang, Jaten, Karanganyar. Diperoleh letak astronomis 070 36’ 21,0” LS dan 110° 55’ 06,3” BT dengan ketinggian tempat 147 meter dpl dan kemiringan lahan 0 % yang tergolong datar. pH tanah sekitar 6,6 dengan kelembaban tanah 70% dan kelembapan udara 73%. Luas daerah persawahan sekitar 3000 m2 per petaknya. Intensitas cahaya sekitar yang tidak ternaungi sebesar 2270 lux dan yang ternaungi sebesar 1490 lux. Hal ini sesuai dengan syarat tumbuh tanaman padi menurut Rahardja (2005), yaitu tanaman padi tumbuh baik di daerah yang beriklim panas dan lembab, curah hujan yang dikehendaki antara 1.500-2.000 mm per tahun, suhu lebih dari 23°. Persyaratan tumbuh yang terkait dengan elevasi (tinggi tempat), mulai dari 0-500 m di atas permukaan laut. Menghendaki tanah yang gembur, subur, dan PH tanah 4-7.
Pola tanam yang diterapkan pada subsistem sawah yaitu pola tanam secara monokultur dengan jarak tanamn 22x22 cm. Jenis tanaman yang diusahakannya yaitu padi jenis IR 64. Tanah dikelola menggunakan peralatan-peralatan seperti cangkul, traktor, sabit dengan pengairan menggunakan sistem irigasi. Input tanaman berasal dari berbagai macam pupuk seperti urea sebanyak 50kg pada 2 mingu pertama, ZA sebanyak 2kg pada 5 hari pertama, dan pupuk SP 36 sebanyak 50kg. Permasalahan yang ditemukan di sawah tersebut adalah adanya serangan hama tikus, belalang, dan ada sedikit hama burung. Petani tidak melakukan usaha tertentu untuk mengurangi serangan hama tersebut, petani lebih bergantung pada predator alami dari hama tersebut.
Output padi di panen sekitar 3 kali dalam setahun. Hasil yang diperoleh dari sawah tersebut mencapai kurang lebih 1,3 ton dalam
bentuk gabah.Sawah tersebut mempunyai siklus hara terbuka karena memiliki jumlah kehilangan hara yang besar.
b. Subsistem Tegal
Pada subsistem sawah tadah hujan yang telah diteliti pada dukuh Ngasinan, desa Tugu, kecamatan Jumantono, kabupaten Karanganyar. Diperoleh letak astronomis 070 39’ 29,2” LS dan 110° 58’ 03,5” BT dengan ketinggian tempat 250 meter dpl dengan kemiringan lahan 6 % yang tergolong datar. pH tanah sekitar 6,7 dengan kelembaban tanah 23% dan kelembapan udara 45%. Luas daerah tanam sekitar 3000 m2
per petaknya. Intensitas cahaya sekitar yang tidak ternaungi sebesar 85000 lux dan yang ternaungi sebesar 22900 lux.
Hasil pengamatan pola tanam pada sawah tadah hujan yaitu secara multikultur. Jenis tanaman yang diusahakannya yaitu padi jenis IR 64 atau Ciherang, Singkong, dan Tebu dengan jarak tanaman 60x40 cm. Tanah dikelola menggunakan peralatan-peralatan seperti cangkul, traktor, sabit dan dibuat bedengan untuk singkong dan tebu. Input tanaman berasal dari berbagai macam pupuk seperti urea sebanyak 2kw diawal masa tanam dan phonska sebanyak 2kw yang juga diawal masa tanam. Pengairan menggunakan sistem tadah hujan. Permasalahan yang ditemukan di sawah tersebut adalah adanya serangan hama tikus dan wereng, selain itu ditemukan masalah irigasi Petani melakukan gropyokan untuk mengurangi hama tikus tersebut.
Output dari subsistem ini hanya diketahui untuk singkong. Hasil yang diperoleh dari sawah tadah hujan tersebut mencapai kurang lebih 5 ton dalam bentuk umbi singkong. Sawah tadah hujan tersebut mempunyai siklus hara terbuka karena memiliki jumlah kehilangan hara yang besar.
c. Subsistem Talun
Pada subsistem talun yang telah diteliti pada dukuh Ngasinan, desa Tugu, kecamatan Jumantono, kabupaten Karanganyar. Diperoleh letak astronomis 070 39’ 34,8” LS dan 110° 58’ 14,9” BT dengan
ketinggian tempat 261 meter dpl dan kemiringan lahan 6 % yang tergolong datar. pH tanah sekitar 6,2 dengan kelembaban tanah 30% dan kelembapan udara 66%. Luas daerah tanam sekitar 300-500 m2. Intensitas cahaya sekitar yang tidak ternaungi tidak ada dan yang ternaungi sebesar 1550 lux.
Hasil pengamatan pola tanam pada talun yaitu secara multikultur. Jenis tanaman yang diusahakannya yaitu jati, pisang, pepaya, nangka, dan jeruk dengan jarak tanam yang tidak teratur. Tanah yang digunakan hanya dikelola secara minimum. Input berasal dari bibit tanaman dan seresah. Permasalahan yang ditemukan di talun tersebut adalah tanah yang kurang subur karena kurangnya perhatian dari petani. Seharusnya petani melakukan pemupukan dan perawatan lahan untuk mengatasi masalah tersebut.
Output dari subsistem ini adalah kayu. Dalam subsistem ini tanaman utama yang diusahakan adalah jati. Talun tersebut mempunyai siklus hara tertutup karena tidak menggunakan tambahan hara berupa pupuk.
d. Subsistem Pekarangan
Pada subsistem pekarangan yang telah diteliti pada dukuh Ngasinan, desa Tugu, kecamatan Jumantono, kabupaten Karanganyar. Diperoleh letak astronomis 070 39’ 32,2” LS dan 110° 38’ 10,9” BT dengan ketinggian tempat 250 meter dpl dan kemiringan lahan 6 % yang tergolong datar. pH tanah sekitar 6,3 dengan kelembaban tanah 25% dan kelembapan udara 44%. Luas daerah sekitar 1000 m2. Intensitas cahaya sekitar yang tidak ternaungi sebesar 8370 lux dan yang ternaungi sebesar 3630 lux.
Hasil pengamatan pola tanam pada pekerangan yaitu secara multikultur. Jenis tanaman yang diusahakannya yaitu pisang, mangga, rambutan, kelapa, kelengkeng, dan nangka dengan jarak tanam yang tidak teratur. Tanah tidak dikelola, tanaman langsung ditanam tanpa pengolahan tanah terlebih dahulu. Input tanaman berasal dari pupuk
kandang diawal masa tanam dimana setiap tanaman diberi 5kg pupuk kandang dan sedikit urea pada saat tanaman memasuki masa pembungaan. Permasalahan yang ditemukan di pekarangan tersebut adalah adanya penyakit blood desease pada tanaman pisang. Petani melakukan pemangkasan pada tanaman pisang yang terkena penyakit tersebut.
Output dari subsistem ini adalah buah. Hasil yang diperoleh dari pekarangan tersebutt mencapai kurang lebih 10 kg untuk setiap tanaman. Pekarangan tersebut mempunyai siklus hara terbuka karena memiliki jumlah kehilangan hara yang besar.
e. Subsistem Kebun Karet
Pada subsistem perkebunan karet yang telah diteliti pada daerah Mojogedang. Diperoleh letak astronomis 070 37’ 04,1” LS dan 111° 02’ 33,6” BT dengan ketinggian tempat 474 meter dpl dan kemiringan lahan 15 % yang tergolong miring. pH tanah sekitar 5,6 dengan kelembaban tanah 50% dan kelembapan udara 65%. Luas daerah sekitar 6943,11 Ha. Intensitas cahaya sekitar yang tidak ternaungi tidak ada dan yang ternaungi sebesar 8250 lux.
Hasil pengamatan pola tanam pada perkebunan karet yaitu secara multikultur. Jenis tanaman yang diusahakannya yaitu karet dengan jarak tanam 3x7 m. Tanah yang digunakan dikelola secara minimum. Input tanaman berasal dari berbagai macam pupuk seperti urea, SP 36, KCl yang diberikan 2 kali dan setahun setiap pergantian musim dan pupuk organic diawal pembibitan. Selain itu diberikan hormone yang berguna untuk meningkatkan produksi lateks dan meningkatkan kualitasnya. Permasalahan yang ditemukan di sawah tersebut adalah adanya serangan gulma, selain itu ditemukan masalah lain yaitu karet yang dihasilkan bisa terkena air ketika hujan. Petani memanfaatkan herbisida untuk mengurangi gulma tersebut dan menggunakan seacam payung-payungan untuk menghindari getah karet yang terkena air disaat hujan.
Output dari subsistem ini adalah getah karet (latex). Pada perkebunan karet ini digunakan hormon untuk menambah produksi getah karet. Perkebunan karet tersebut mempunyai siklus hara terbuka karena memiliki jumlah kehilangan hara yang besar.
f. Subsistem Kebun Teh
Pada subsistem perkebunan teh yang telah diteliti pada daerah Kemuning, Ngargoyoso. Diperoleh letak astronomis 070 36’ 08,6” LS dan 111° 7’ 18” BT dengan ketinggian tempat 912 meter dpl dan kemiringan lahan 10 % yang topografinya tergolong miring. pH tanah sekitar 6,4 dengan kelembaban tanah 72% dan kelembapan udara 64%. Intensitas cahaya sekitar yang tidak ternaungi sebesar 210 lux dan yang ternaungi tidak ada.
Hasil pengamatan pola tanam pada perkebunan teh yaitu secara monokultur. Jenis tanaman yang diusahakannya yaitu tanaman teh dengan jarak tanam 1x1 m. Tanah dikelola menggunakan peralatan-peralatan seperti traktor. Input tanaman berasal dari berbagai macam pupuk seperti urea, SP 36, KCl yang diberikan 2 kali dalam setahun dan pupuk organic yang diberikan pada awal masa tanam. Permasalahan yang ditemukan di sawah tersebut adalah adanya serangan hama ulat, selain itu ditemukan masalah embun tepung yang terdapat dibalik daun. Petani memanfaatkan pestisida untuk mengurangi hama tersebut.
Output dari subsistem ini adalah pucuk daun teh. Pemetikan pucuk daun dilakukan pada pukul setengah 6 pagi dengan tujuan untuk mengurangi transpirasi. Sawah tadah hujan tersebut mempunyai siklus hara terbuka karena memiliki jumlah kehilangan hara yang besar.
E. Komprehensif
Pada pengamatan berbagai subsistem seperti subsistem persawahan, tegal/talun, pekarangan, dan perkebunan didapat pengetahuan tentang cara pengolahan subsistem tersebut yang berbeda satu dengan yang lainnya. Pengelolaan dalam hal pemberian input bahkan sampai pengelolaan tanah dan
system irigasi. Semua subsistem memiliki tingkat kesulitan yang beragam. Seperti pada subsistem persawahan yang diperlukan pengelolaan yang intensif baik sebelum, selama dan setelah penanaman dengan pemberian pupuk yang jenis dan jumlahnya berbeda sesuai kebutuhan. Pengolahan tanah juga diperlukan untuk sawah dengan system irigasi yang baik. Sedangkan pada tegal, talun, dan pekarangan pengolahan lahan relatif minim. Pada subsistem tegal masih mendapat masukan berupa pupuk buatan pabrik. Sedangkan pada subsistem talun dan pekarangan masukan berupa pupuk kompos dan pupuk kandang. Berbeda halnya dengan subsistem perkebunan yang dibagi menjadi perkebunan teh dan perkebunan karet. Pengolahan lahan perkebunan teh menggunakan traktor dengan masukan campuran antara pupuk organic dan pupuk non organic. Sedangkan pada subsistem perkebunan karet pengolahan lahan sangat minim karena lahan yang terlalu luas. Masukan pada subsistem perkebunan karet tidak hanya dengan pemberian pupuk melainkan juga pemberian hormone pada tanaman.
F. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum Analisis Beberapa Tipe Penggunaan Lahan Untuk Produksi Pertanian dapat disimpulkan bahwa :
a. Tiap subsistem mempunyai cara tersendiri dalam pengolahan lahan dan memiliki siklus hara tersendiri pula.
b. Pada subsistem sawah, tanah dikelola menggunakan peralatan-peralatan seperti cangkul, traktor, sabit. Input tanaman berasal dari berbagai macam. Pupuk berasal dari urea, SP 36, dan ZA.
c. Talun merupakan gabungan dari tegal dan pekarangan, jarak tanam yang diterapkan tidak teratur. Input dari talun adalah biji dan seresah yang berasal dari daun.
d. Talun banyak ditanami tanaman musiman dan tahunan yang kayunya dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan maupun untuk kayu bakar. e. Tegal banyak ditanami tanaman holtikultura, pada tegal hasilnya
dijual, karena pada umumnya tegal lebih luas daripada pekarangan.
Tanaman yang dibudidaya di tegal biasanya merupakan tanaman musiman dan di tanam secara tumpang sari agar lebih meningkatkan hasil produktivitas.
f. Pada pekarangan, tanaman yang dibudidayakan biasanya yang mengandung manfaat, baik dari segi keindahan, untuk konsumsi sampai untuk obat. Pemeliharaannya pun tidak seintensif pada subsistem sawah, hanya cukup disiram setiap pagi dan sore, jika diperlukan dapat diberi pupuk (biasanya diberikan saat tanaman tampak tidak sehat).
g. Berdasarkan rantai makanan (siklus hara) subsistem perkebunan tergolong terbuka.
h. Perkebunan memiliki diversitas rendah karena penerapan monokultur, pengolahan dan pengeringan tanah dilakukan secara berkala. Pengolahan tanah bertujuan untuk menggemburkan tanah sedangkan pengeringan tanah bertujuan untuk membunuh atau mengurangi jasad renik yang ada pada tanah. Pola tanamnya monokultur sehingga diversitasnya rendah mengakibatkan stabilitas juga rendah. Karena rentan terhadap gangguan hama dan penyakit maka perlu tambahan input berupa pestisida.
2. Saran
Saran untuk Praktikum Analisis Subsistem ini adalah kepada praktikan agar serius dalam mengikuti rangkaian praktikum dan Co-ass lebih memperjelas setiap penjelasan tentang subsistem.