• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.1. Landasan Teoritis

2.1.3. Konsep Evaluasi

2.1.3.1. Defenisi Evaluasi

Menurut Setyawan (2017:144) evaluasi merupakan bentuk pemberian nilai terhadap kebijakan publik, baik secara keseluruhan atau hanya memberikan penilaian pada bagian-bagian tertentu dengan maksud memperbaiki kebijakan publik selanjutnya. Evaluasi kebijakam publik dikatakan efektif apabila fungsi-fungsinya dapat terpenuhi dengan baik. Seperti yang diutarakan oleh Widodo (dalam Setyawan, 2017:144), mengemukakan evaluasi dimaksudkan untuk melihat atau mengukur tingkat kinerja pelaksanaan dan alasan-alasan diambilnya

29

suatu kebijakan publik, tujuan dan kinerja kebijakan publik, berbagai instrumen yang dikembangkan dan dilaksanakan, respon kelompok sasaran dan stakeholder lainnya serta konsistensi aparat, dampak dan perubahan yang ditimbulkan, perkiraan perkembangan tanpa kehadirannya, dan kemajuan yang dicapai kalau kebijakan publik tersebut dilanjutkan atau diperluas.

Pandangan tentang evaluasi juga disampaikan oleh Dunn (1999:608) yang mengatakan bahwa evaluasi berkenaan dengan produksi informasi mengenai nilai atau manfaat hasil kebijakan. Dengan demikian, apabila kebijakan publik dianggap memberikan nilai atau manfaat bagi penyelesaian suatu masalah, maka sekaligus akan memberikan sumbangan pada evaluator atau pengguna lainnya untuk membuat kebijakan publik selanjutnya. Dalam konteks pemberian penilaian terhadap proses kebijakan publik, evaluasi merupakan suatu upaya untuk mengetahui kebenaran, kekeliruan, serta untuk mengetahui kesalahan dalam keseluruhan proses kebijakan publik tersebut (Setyawan, 2017:146).

Menurut Dale (dalam Sardjo et al, 2017:2) evaluasi secara umum diartikan sebagai suatu kegiatan penelitian yang bersifat menyeluruh, dilaksanakan pada waktu tertentu terhadap suatu program atau hasil-hasil yang diperoleh oleh suatu organisasi pelaksana program. Dale juga mengatakan fokus dari kegiatan evaluasi selain pada aspek dampak program atau hasil implementasi program pada masyarakat, juga dapat mencakup aspek relevansi program, efetivitas, efisiensi, keberlanjutan, dan replikasi program.

30 2.1.3.2. Tujuan Evaluasi

Anggara (dalam Setyawan, 2017:146-147) mengemukakan tujuan-tujuan evaluasi terhadap kebijakan publik dilakukan, antara lain adalah :

a) Mengukur dampak suatu kebijakan publik/program pada kehidupan masyarakat sehari-hari dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah kebijakan publik tersebut diterapkan.

b) Memperoleh informasi yang valid menegnai kinerja (hasil) implementasi suatu kebijakan publik serta menilai kesesuaian dan perubahan program dengan rencana.

c) Memberikan umpan balik bagi manajemen dalam rangka perbaikan/penyempurnaan implementasi.

d) Memberi rekomendasi pada pembuat kebijakan publik untuk formulasi keputusan lebih lanjut mengenai program pada masa mendatang.

2.1.3.3.Kriteria Evaluasi

William N. Dunn (dalam Setyawan, 2017:160) memberikan gambaran model evaluasi dengan mengajukan kriteria-kriteria evaluasi kebijakan publik, sebagai berikut.

a) Efektivitas, berkenaan dengan apakah suatu alternatif mencapai hasil (akibat) yang diharapkan, atau mencapai tujuan dari diadakannya tindakan.

b) Efisiensi, berkenaan dengan jumlah usaha yang diperlukan untuk menghasilkan tingakt efektivitas tertentu. Efisiensi biasanya ditentukan melaui perhitungan biaya per unit produk atau layanan. Kebijakan

31

yang mencapai efektivitas tertinggi dengan biaya terkecil dinamakan efisiensi.

c) Kecukupan, berkenaan dengan seberapa jauh suatu tingkat efektivitas memuaskan kebutuhan, nilai, atau kesempatan yang menumbuhkan adanya masalah. Kecukupan masih berhubungan dengan efektivitas yang mengukur seberapa jauh alternatif yang ada dapat memuaskan kebutuhan, nilai, atau kesempatan dalam menyelesaikan masalah yang ada.

d) Pemerataan. Kebijakan yang berorientasi pada pemerataan adalah kebijakan yang usahanya didistribusikan secara adil. Suatu program tertentu mungkin dapat efektif dan mencukupi apabila biaya manfaat merata.

e) Responsivitas. Keberhasilan kebijakan dapat diukur melalui tanggapan masyarakat atas pelaksanaannya setelah terlebih dahulu memprediksi pengaruh apa yang akan terjadi jika suatu kebijakan dilaksanakan.

Tanggapan masyarakat setelah dampak kebijakan sudah mulai dapat dirasakan dalam bentuk yang positif beruapa dukungan ataupun wujud yang negatif berupa penolakan.

f) Ketepatan adalah kriteria yang dipakai untuk menseleksi sejumlah alternatif untuk dijadikan rekomendasi dengan menilai apakah hasil dari alternatif yang direkomendasi tersebut merupakan pilihan tujuan yang layak. Kriteria ini menyangkut substansi tujuan bukan cara atau instrumen untuk merealisasikan tujuan.

32 2.1.3.4.Fungsi Evaluasi

Anggara (dalam Setyawan, 2017:149-150) mengemukakan terdapat empat fungsi evaluasi dari suatu kebijakan publik, diantaranya adalah:

a) Memberikan eksplanasi yang logis atas realitas pelaksanaan dengan pelaksanaan kebijakan publik/program. Eksplanasi merupakan penjelasan mengenai proses mengapa dan bagaimana suatu kebijakan publik/program hubungannya dengan fenomena alam ataupun sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat sebagai kelompok sasaran.

b) Mengukur kepatuhan, dalam arti kata mampu melihat kesesuaian antara pelaksanaan dengan standar dan prosedur yang telah ditetapkan sebelumnya.

c) Melakukan audit untuk melihat keluaran (output) kebijakan publik sampai pada sasaran yang dituju, ada tidaknya kebocoran dan penyimpangan terhadap penggunaan anggaran, serta ada tidaknya penyimpangan tujuan dan pelaksanaan program.

d) Akunting untuk melihat dan mengukur akibat sosial ekonomi dari kebijakan publik. Semisal seberapa jauh program yang dimaksud meningkatkan pendapat masyarakat, dan sejauh mana kesesuaian antara dampak yang ditimbulkan dengan dampak yang diharapkan.

2.1.3.5.Jenis Evaluasi

Menurut Sugiyono (2017:525) terdapat dua jenis evaluasi, yaitu:

33

a. Evaluasi formatif, yaitu evaluasi yang lebih menekankan dan untuk memperbaiki obyek yang diteliti, dengan cara menilai kualitas pelaksanaan program dan konteks organisasi, seperti personil, prosedur kerja, input, dan sebagainya. Evaluasi formatif digunakan untuk mendapatkan feedback dari suatu aktivitas dalam bentuk proses, sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas program atau produk yang berupa barang atau jasa. Evaluasi formatif lebih menekankan pada upaya untuk perbaikan obyek yang dievaluasi.

b. Evaluasi sumatif, yaitu evaluasi yang digunakan untuk mengetahui hasil atau outcome dari suatu program. Evaluasi dilakukan dengan cara mendeskripsikan apa yang terjadi sebagai akibat dari pelaksanaan program, mendeskripsikan seluruh dampak baik yang ditargetkan maupun tidak, dan mengestimasi biaya yang terkait dengan program yang telah dilaksanakan.

Fox, Martin dan Green (dalam Sardjo et al, 2017:3-4) membedakan evaluasi berdasarkan waktu pelaksanaanya. Evaluasi terhadap hasil (outcome)/evaluasi sumatif, dilaksanakan di akhir suatu program/proyek, dan evaluasi terhadap proses atau evaluasi formatif, dilaksanakan pada saat program/proyek sedang berlangsung. Evaluasi hasil/sumatif berhubungan dengan efektivitas atau dampak keseluruhan dari suatu program yang diimplemestasikan dalam suatu komunitas.

Secara umum tujuannya adalah untuk menilai manfaat program/proyek serta rancangan dan pengelolaannya. Fokus utamanya pada penilaian akuntabilitas dari lembaga-lembaga yang bertanggung jawab atas suatu program/proyek dan/atau lembaga-lembaga donor. Sedangkan evaluasi proses/formatif berhubungan

34

dengan pemahaman atas cara-cara atau proses dari pelaksanaan suatu program yang diimplementasikan dalam suatu komunitas. Evaluasi formatif mengacu pada peningkatan pencapaian dari suatu program/proyek yang dievaluasi dengan mengambil pelajaran dari pengalaman yang diperoleh selama suatu program/proyek diimplementasikan dalam suatu komunitas.

2.2.Penelitian Yang Relevan No Peneliti Judul

Penelitian Metode Hasil

1

35

36

37

38 2.3.Kerangka Pemikiran

Indonesia sebagai negara berkembang mempunyai tingkat kemiskinan yang tergolong tinggi dikarenakan ketidakmampuan masyarakat golongan bawah dalam memenuhi kebutuhan pokoknya. Berlandaskan kondisi tersebut, Indonesia sebagai salah satu negara yang menganut paham welfare state, berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mensejahterakan seluruh warga negara atau masyarakatnya. Untuk mencapai kondisi sejahtera tersebut, pemerintah telah melakukan berbagai upaya program pengentasan kemiskinan khususnya adalah Program Keluarga Harapan (PKH) yang sedang berjalan di Desa Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara.

Pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Bandar Baru telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir dengan sasaran utama dalam program adalah ibu hamil (kesehatan), anak (pendidikan), lanjut usia, dan penyandang disabilitas. Meskipun demikian, masih terdapat permasalahan-permasalahan di dalam pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH). Oleh karena itu, peneliti berupaya mengevaluasi pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) berdasarkan kriteria evaluasi yang ada.

Adapun kerangka pemikiran yang dirumuskan peneliti ke dalam bagan alur pikir sebagai berikut :

39 2.3.1. Bagan Alur Pikir

2.4.Defenisi Konsep

Untuk memahami konsep yang digunakan, maka peneliti membatasi konsep yang digunakan yaitu sebagai berikut:

1. Kemiskinan adalah suatu kondisi ketidakmampuan secara ekonomi untuk memenuhi standar hidup rata-rata masyarakat di suatu daerah yang ditandai dengan rendahnya kemampuan memperoleh pendapatan untuk memenuhi kebutuhan pokok baik berupa pangan, sandang, maupun papan.

2. Program Keluarga Harapan (PKH) adalah program pemberian bantuan sosial bersyarat kepada Keluarga Miskin (KM) yang ditetapkan sebagai keluarga penerima manfaat PKH.

3. Evaluasi adalah adalah proses menetukan nilai untuk suatu hal atau objek yang berdasarakan pada acuan-acuan tertentu untuk menentukan tujuan tertentu. 4. Penyaluran Bantuan Sosial 5. Pemutakhiran Data

40 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1.Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian deskriptif kualitatif merupakan sebuah metode penelitian yang memanfaatkan data kualitatif dan dijabarkan sejara deskriptif. Jenis penelitian deskriptif kualitatif menampilkan hasil data apa adanya tanpa proses manipulasi atau perlakuan lain. Penelitian deskriptif kualitatif ditujukan untuk mendeskripsikan dan menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik bersifat alamiah maupun rekayasa manusia, yang lebih memperhatikan mengenai karakteristik, kualitas, keterkaitan antar kegiatan. Jenis penelitian deskriptif kualitatif merupakan jenis penelitian dengan proses memperoleh data bersifat apa adanya yang lebih menekankan makna pada hasilnya. Penelitian deskriptif kualitatif merupakan gabungan penelitian deskriptif dan kualitatif.

Metode penelitian deskriptif adalah metode yang dilakukan untuk mengetahui gambaran, keadaan, suatu hal dengan cara mendeskripsikannya sedetail mungkin berdasarkan fakta yang ada. Menurut Sugiyono (2017:539) penelitian deskriptif lebih digunakan untuk menggambarkan atau memotrait potensi dan masalah kebijakan, agenda kebijakan, pembuat kebijakan, rumusan kebijakan, impelementasi kebijakan dan dampak kebijakan.

Penelitian kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah, dimana peneliti merupakan instrumen kunci. Sugiyono

41

(2017:205) mengemukakan bahwa metode penelitian kualitatif yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme atau interpretif adalah metode penelitian kualitatif naturalistik yang prosesnya bersifat induktif, data yang diperoleh data kualitatif, yang masih perlu diberi interpretasi yang dapat dipahami maknanya. Menurut Dukeshire dan Thurlow (dalam Sugiyono, 2017:206) penelitian kualitatif berkenaan dengan data yang bukan angka, mengumpulkan dan menganalisis data yang bersifat naratif. Metode penelitian kualitatif terutama digunakan untuk memperoleh data yang kaya, informasi yang mendalam tentang isu atau masalah yang akan dipecahkan.

Adapun alasan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif adalah karena dalam penelitian ini data yang dihasilkan berupa data deskriptif yang diperoleh dari data-data berupa tulisan, kata-kata dan dokumen yang berasal dari sumber atau informan yang diteliti dan dapat dipercaya. Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut.

3.2.Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Provisnsi Sumatera Utara. Pemilihan lokasi tersebut berdasarkan pada pertimbangan bahwa permasalahan yang diajukan pada penelitian ini bisa diperoleh jawabannya jika dilakukan pada daerah yang bersangkutan, sehingga dalam penelitian ini peneliti bisa bertemu langsung dengan para obyek yang bersangkutan. Peneliti akan berupaya mencari informasi tentang efetivitas, efisiensi, kecukupan, perataan, responsivitas dan ketepatan program yang sedang berlangsung. Oleh karena itu, peneliti akan

42

berupaya mengkaji secara mendalam tentang Evaluasi Pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang.

3.3.Informan Penelitian a. Informan Kunci

Informan kunci adalah informan yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang dibutuhkan sebagai sumber informasi utama. Informan kunci dalam penelitian ini adalah pendamping PKH.

b. Informan Utama

Informan utama adalah orang yang terlibat secara langsung dengan masalah atau objek yang akan diteliti. Informan utama dalam penelitian ini adalah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dari Program Keluarga Harapan (PKH) desa Bandar Baru Kecamatan Sibolangit.

c. Informan Tambahan

Informan tambahan adalah orang yang tidak terlibat secara langsung dengan objek yang akan diteliti, namun dapat memberikan informasi. Informan tambahan dalam penelitian ini adalah Kepala Dusun di desa Bandar Baru.

3.4.Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan (Sugiyono, 2017:234). Oleh karena itu, agar diperoleh data yang valid dalam penelitian ini perlu ditentukan teknik-

43

teknik pengumpulan data yang sesuai. Dalam hal ini peneliti menggunakan metode sebagai berikut.

a. Observasi

Metode observasi adalah suatu metode yang digunakan dengan cara pengamatan dan pencatatan data secara sistematis terhadap fenomena- fenomena yang diselidiki.

b. Wawancara

Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab langsung antara peneliti dan narasumber. Seiring perkembangan teknologi, metode wawancara dapat pula dilakukan melalui media-media tertentu, misalnya telepon, email, atau skype.

c. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan yaitu teknik pengumpulan data atau informasi terkait dengan masalah yang akan diteliti dengan mempelajari buku, surat kabar, jurnal, serta laporan penelitian yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.

d. Studi Dokumen

Studi dokumen adalah metode pengumpulan data yang tidak ditujukan langsung kepada subjek penelitian. Studi dokumen adalah jenis pengumpulan data yang meneliti berbagai macam dokumen yang berguna untuk bahan analisis.

Dokumen dapat berupa sumber tertulis, film, dan gambar.

3.5.Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses memilih mana yang penting dan tidak penting, mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil

44

wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola hubungan antar kategori, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain (Sugiyono, 2017:239).

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik analisis data kualitatif yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh yang selanjutnya dikembangkan.

Tahapan analisis data terdiri dari data reduction, data display, dan conculsion drawing/verification.

a) Data Reduction (Reduksi Data)

Mereduksi data berarti merangkum, memilah, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, yang baru, dicari makna, tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya.

b) Data Display (Penyajian Data)

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk narasi, uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya.

Dengan mendisplaykan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut.

c) Conclusion Drawing/Verification (Kesimpulan dan Verifikasi)

45

Penarikan kesimpulan dan verifikasi data merupakan tahap akhir dalam teknik analisis data kualitatif yang dilakukan melihat hasil reduksi data tetap mengacu pada tujuan analisis hendak dicapai. Tahap ini bertujuan untuk mencari makna data yang dikumpulkan dengan mencari hubungan, persamaan, atau perbedaan untuk ditarik kesimpulan sebagai jawaban dari permasalahan yang ada.

46 BAB IV

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

4.1. Letak Geografis Lokasi Penelitian

Desa Bandar Baru adalah sebuah desa yang terletak di daerah dataran tinggi berada di lereng pegunungan sibayak, dengan hawanya cukup sejuk dan nyaman, serta berada di Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Desa Bandar Baru terdiri dari lima dusun dengan total jumlah penduduk sebanyak 3.068 jiwa dan 849 KK dengan luas wilayah 1.300,00 Ha.

4.2. Sejarah Perkembangan Lokasi Penelitian

Berdasarkan sejarah diketahui sebelum menjadi Desa Defenitip bahwa desa Bandar Baru dulunya terdiri dari 2 (dua) Kampung, yaitu :

a. Kampung Bandar Baru Central b. Kampung Bandar Baru Perkebunan

Munculnya nama Kampung Bandar Baru Central karena pada masa itu Desa ini merupakan sebagai Central Telepon untuk berkomunikasi ke Areal Perkebunan ke Daerah Tanah Karo, Medan dan Perkebunan Dolok Barus.

Kemudian Kampung Bandar Baru Pekebunan pada 1950 merupakan Area Perkebunan The yang dikuasai oleh Hok Sengli dan pada 1957, Areal Perkebunan The beralih dikuasai oleh Vane Paruhum yang mempunyai buruh lebih kurang 600 orang dan bertempat tinggal di Pondok Perkebunan. Selanjutnya pada 1965, Areal Perkebunan The tersebut beralih digarap oleh masyarakat dan selanjutnya

47

dikuasai oleh Pemerintah untuk menjadi Areal Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit yang luasnya lebih kurang 225 Ha.

Kampung Bandar Baru Perkebunan sejak 1950-1967, dijabat oleh Kepala Kampung : Abdul Manap Pane (Alm).

Kampung Bandar Baru Central sejak :

a. Tahun 1947 s/d 1950 dijabat oleh Abdul Munsi Khan (Alm).

b. Tahun 1951 s/d 1955 dijabat oleh Sumbul Ginting (Alm).

c. Tahun 1956 s/d 1965 dijabat oleh Ngameh Barus (Alm).

d. Tahun 1966 s/d 1983 dijabat oleh Suka Tarigan (Alm).

e. Tahun 1984 s/d 1999 dijabat oleh Teken Ginting (Alm).

f. Tahun 2000 s/d 2006 dijabat oleh Posman Girsang (Alm).

g. April-September 2006 dijabat oleh Drs. H. Naibaho.

h. September 2006 s/d Februari 2009 dijabat oleh Timur Sitepu Amd.

i. Maret 2009 s/d 2014 dijabat oleh Salomo Sembiring.

j. Tahun 2015 dijabat oleh Amos Karo karo.

k. Tahun 2016 s/d sekarang dijabat oleh Bincar Martinus Sitepu, SH.

Sejak mulai 1967-sekarang, kedua Kampung tersebut menjadi Satu Desa sebagaimana sekarang ini menjadi Desa Bandar Baru.

48 4.3. Profil Lokasi Penelitian

Desa Bandar Baru merupakan desa dengan luas wilayah desa Bandar Baru adalah 1.300,00 Ha, yang terbagi menjadi 200,00 Ha digunakan sebagai tanah hutan, 49,80 Ha fasilitas umum, 0,20 Ha tanah perkebunan, 1050,00 Ha tanah kering. Adapun perbatasan wilayahnya meliputi:

Sebelah Utara : Desa Suka Makmur Sebelah Timur : Desa Sikeben

Sebelah Selatan : Desa Doulu/Kabupaten Tanah Karo Sebelah Barat : Desa Durin Serugun

a. Jumlah Penduduk Desa Bandar Baru Jumlah laki-laki 1568 orang

Jumlah perempuan 1500 orang Jumlah total 3068 orang Jumlah kepala keluarga 849 KK

Berdasarkan data monografi di atas, jumlah penduduk laki-laki di Desa Bandar Baru lebih banyak dari pada jumlah penduduk perempuan, dimana komposisinya 1,95% lebih banyak dibandingkan penduduk perempuan.

b. Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Tingkatan Pendidikan Laki-laki Perempuan Usia 3 - 6 tahun yang belum masuk TK 63 orang 71 orang Usia 3 - 6 tahun yang sedang TK/play group 39 orang 46 orang Usia 7 - 18 tahun yang tidak pernah sekolah 5 orang 3 orang Usia 7 - 18 tahun yang sedang sekolah 309 orang 341 orang

49

Usia 18 - 56 tahun tidak pernah sekolah 16 orang 14 orang Usia 18 - 56 tahun pernah SD tetapi tidak tamat 27 orang 28 orang

Tamat SD/sederajat 163 orang 196 orang

Tamat SMP/sederajat 238 orang 204 orang

Tamat SMA/sederajat 570 orang 463 orang

Tamat D-1/sederajat 0 orang 2 orang

Tamat D-2/sederajat 5 orang 7 orang

Tamat D-3/sederajat 44 orang 65 orang

Tamat S-1/sederajat 70 orang 74 orang

Tamat S-2/sederajat 1 orang 2 orang

Tamat S-3/sederajat 1 orang 1 orang

Jumlah Total 3.068 orang

c. Mata Pencaharian

Jenis Pekerjaan Laki-laki Perempuan

Petani 82 orang 64 orang

Buruh Tani 2 orang 4 orang

Pegawai Negeri Sipil 17 orang 39 orang

Pedagang barang kelontong 9 orang 11 orang

Peternak 2 orang 0 orang

Montir 1 orang 0 orang

Dokter swasta 1 orang 1 orang

Perawat swasta 0 orang 1 orang

POLRI 2 orang 0 orang

Guru swasta 8 orang 8 orang

Pedagang Keliling 1 orang 2 orang

50

Tukang Kayu 1 orang 0 orang

Pembantu rumah tangga 1 orang 1 orang

Karyawan Perusahaan Swasta 129 orang 66 orang Karyawan Perusahaan Pemerintah 5 orang 0 orang

Wiraswasta 370 orang 102 orang

Tidak Mempunyai Pekerjaan Tetap 3 orang 6 orang

Belum Bekerja 145 orang 140 orang

Pelajar 599 orang 497 orang

Ibu Rumah Tangga 0 orang 521 orang

Purnawirawan/Pensiunan 5 orang 3 orang

Perangkat Desa 10 orang 4 orang

Buruh Harian Lepas 162 orang 12 orang

Buruh jasa perdagangan hasil bumi 1 orang 1 orang Buruh usaha jasa hiburan dan pariwisata 1 orang 0 orang Pemilik usaha warung, rumah makan dan

restoran 3 orang 3 orang

Jasa pengobatan alternatif 1 orang 0 orang

Sopir 5 orang 0 orang

Tukang Jahit 0 orang 2 orang

Tukang Kue 0 orang 1 orang

Juru Masak 0 orang 2 orang

Karyawan Honorer 2 orang 6 orang

Pemuka Agama 1 orang 0 orang

Satpam/Security 1 orang 0 orang

Biarawati 0 orang 1 orang

Jumlah Total Penduduk 3.068 orang

51 4.4. Visi, Misi dan Tujuan Lokasi Penelitian

Visi :

“Masyarakat Bandar Baru Makmur Sejahtera melalui Peningkatan Kualitas SDM, Pendidikan/Pengetahuan serta Beradab dan Agamis.”

Misi dan Tujuan :

1. Mengembangkan dan meningkatkan hasil pertanian masyarakat.

2. Pembuatan sarana jalan usaha tani dan peningkatan jalan lingkungan.

3. Peningkatan sarana air bersih bagi masyarakat.

4. Perbaikan dan peningkatan layanan sarana kesehatan dan umum.

5. Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan.

6. Meningkatkan keterampilan dan kualitas SDM masyarakat.

7. Pengadaan permodalan untuk usaha kecil, memperluas lapangan kerja dan manajemen usaha masyarakat.

8. Pelestarian Budaya serta peningkatan Keimanan masyarakat.

9. Peningkatan kapasitas Aparat desa dan BPD,

10. Peningkatan Sarana dan Prasarana kerja aparat desa, BPD dan lembaga Desa.

4.5. Struktur Organisasi/Lembaga Lokasi Penelitian

52

SEKRETARIS DESA -

KEPALA DESA

BINCAR MARTINUS SITEPU, SH

KASI KESEJAHTERAAN DAN PELAYANAN JAPERSON

KADUS V ANDI. P. L GINTING KASI PEMERINTAHAN

IMAN KHALIK

KADUS IV JAKUP TARIGAN KADUS III

LODIVA MUNTHE KADUS II

ERNA SRI NINGSIH KADUS I

INDRA KESUMAH

KAUR PERENCANAAN DAN UMUM

ROEDAH

KAUR KEUANGAN HOSEA TARIGAN

53 4.6. Kondisi Umum Tentang Klien

Kondisi klien pada umumnya adalah masyarakat kurang mampu yang terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan memenuhi kriteria penerima Program Keluarga Harapan (PKH). Jumlah penerima Program Keluarga Harapan (PKH) di desa Bandar baru adalah sebanyak 106 Kepala Keluarga per Juni 2021 dengan komponen keshatan, Pendidikan dan Kesejahreaan Sosial. Komponen kesehatan terdiri dari lbu hamil/nifas/menyusui dan anak usia dini dengan rentang usia O - 6 tahun.

Komponen pendidikan terdiri dari anak usia sekolah dengan usia 6 sampai dengan 21 tahun yang belum menyelesaikan wajib belajar, yang menempuh tingkat pendidikan SD/Mi sederajat atau SMP/Mts sederajat, dan/atau SMA/MA sederajat. Komponen kesejahteraan sosial terdiri dari lanjut usia dan penyandang disabilitas berat.

4.7. Kondisi Umum Tentang Petugas

Di desa Bandar Baru terdapat 1 petugas yang bertanggung jawab dalam

Di desa Bandar Baru terdapat 1 petugas yang bertanggung jawab dalam

Dokumen terkait