5.1. Deskripsi Data Hasil Penelitian
5.1.2. Hasil Penelitian
5.1.2.2. Informan Utama
Peneliti bertanya bagaimana cara Ibu mendaftarkan diri dalam DTKS desa Bandar Baru?
Informan 1 menuturkan:
“Sejujurnya saya tidak tau DTKS, tetapi setelah dijelaskan ya saya sedikit lebih paham. Ngurusnya kemarin ke kantor kepala desa ketemu sama perangkat desa, ngomong gitu gimana caranya biar dapat PKH pak/ibu. Lalu mereka bilang lah syarat-syaratnya begini begitu dan bukan saya saja kemarin. Ada juga beberapa sama teman.”
Informan 2 menuturkan:
“Saya tidak tau bagaimana caranya karena saya sudah lama terdaftar dalam DTKS itu. Saya juga sudah lama jadi penerima PKH ini. Lupalah cara-caranya.”
Informan 3 menuturkan:
“Daftarnya ke kantor kepala desa. Diminta fotocopy kartu keluarga lah, KTP lah, bukti pembayaran listrik sama air, penghasilan berapa. Di bilang lah sekian, bilang seadanya.”
Informan 4 menuturkan:
65
“Saya tidak tau nak. Kemarin dapat informasi dari teman tetangga gitu kalo ada pendaftaran bantuan gitu, saya ikut tuh. Saya tidak tau jelasnya kemarin bantuan apa tapi inilah saya dapat bantuan PKH. Mungkin seperti itulah kemarin daftarnya.”
Informan 5 menuturkan:
“Saya tidak mengerti DTKS ini, saya lebih tau kalau di bilang data penduduk orang-orang miskin desa Bandar Baru seperti yang kamu bilang tadi. Cara mendaftarkannya ke kantor desa lah karna kan mereka yang bisa mengeluarkan surat keterangan kurang mampu.”
Informan 6 menuturkan:
“DTKS ini data penduduk miskin nak ya? Saya tidak terlalu ingat bagaimana cara mengurus atau daftar-daftar DTKS ini. Tapi saya rasa pasti ke pemerintah desa kita lah nak ya, karna bantuan ini pertama kan harus di urus ke desa dulu kan. Tidak bisa langsung dapat begitu.”
Informan 7 menuturkan:
“Daftarnya ke kantor kepala desa dek dan mereka bilang kemarin belum tentu lolos dapat bantuan. Itu banyak kemarin tahun lalu atau tahun sebelumnya yang daftar, kan tidak mungkin dapat semua kan. Pasti adalah yang tidak lolos. Dapat info pendaftaran PKH ini kemarin kepala dusun datang ke rumah bilang kalo ada pendaftaran bantuan sosial, lalu saya di suruh ikut kan gitu.
66
Yaudah saya ikutin, dia bilang bawa fotocopy kartu keluarga, KTP dan segala macam gitu.”
Informan 8 menuturkan:
“Anak saya kemarin yang mengurusnya karena saya kan tidak mengerti, sudah tua dan tidak tau apa apa tentang DTKS ini.
Syukur bisa dapat PKH ini. Jadi saya hanya tinggal menerimanya saja.”
Peneliti bertanya apakah Ibu menghadiri sosialisai tentang PKH pada pertemuan awal dan apa yang ibu pahami dari sosialisasi PKH tersebut?
Informan 1 menuturkan:
“Hadir. Memang harus hadir itu semua peserta PKH biar tau kan PKH itu bagaimana, apa saja yang di dapat, berapa bulan sekali seperti itu. Yang saya pahami PKH itu bantuan untuk orang miskin terutama yang anaknya sulit untuk sekolah, lalu untuk Ibu hamil diperiksa kesehatannya. Setau saya seperti itu yang dijelaskan oleh pendamping.”
Informan 2 menuturkan:
“Ya hadir kemarin saat belum ada Covid-19. Katanya tetap ada sosialisasi tapi prokes tapi tidak tau betul atau tidak karna saya sendiri tidak ada yang bilang sosialisasi gitu setelah Covid-19 ini.
Waktu sosialisasi kemarin itu dibilangin PKH itu gimana, dapatnya apa aja, aturan-aturannya, ga boleh begini begitu, kalau
67
dilanggar kena sanksi atau tidak dapat bantuan lagi dan banyak lagi.”
Informan 3 menuturkan:
“Ya hadir. Kemarin sosialisasi nya di gedung serbaguna yang di samping kantor Kepala Desa. Tiap sosialisasi disitu. Kalo Covid-19 seperti ini ga ada lagi sosialisasi dari pendamping PKH nya.
Yang didapat waktu sosialisasi itu pemahaman tentang bantuan PKH ini. Diberi tahu lah alasan kenapa kami semua yang hadir itu dapat PKH, yang lain kenapa tidak dapat, kami harus rutin datang pertemuan kelompok ya macam macam yang dibilang. Kalo ada yang tidak kami pahami, disuruh bertanya supaya ada kejelasan.”
Informan 4 menuturkan:
“Ya hadir dulu sebelum masa Covid lah. Sekarang ga ada lagi.
Sudah lama tidak ada. Yang saya pahami itu PKH dapatnya apa saja, kewajibannya seperti rajin datang ke balai desa untuk sosialisasi, cek kesehatan untuk yang sedang sakit, untuk Ibu hamil dan anak juga ada. “
Informan 5 menuturkan:
“Kalau di undang hadir nak. Sosialisasi itu kan di kasih pemberitahuan. Kalo ga ada yang bilang, tidak datanglah. Iya pas pertama kemarin datang dan yang saya pahami itu PKH itu bagaimana, kapan aja dapat bantuan nya. Kalo tahun ini tinggal bulan Oktober kalau tidak salah. Lalu dibimbing cara-cara
68
pencairan uangnya karna pakai kartu kredit Bank BNI. Nah kami kan kebanyakan tidak paham, jadi di kasih tau syarat-syaratnya.”
Informan 6 menuturkan:
“Ya hadir. Sebenarnya lebih banyak yang belum saya pahami ya.
Yang saya pahami itu ya tentang bantuan yang didapat itu apa aja gitu, uang sama beras PKH. Sisanya masih kurang-kurang paham.
Yang belum di pahami itu seperti bisa jadi menerima PKH ini sampai kapan, sosialisasi ini juga saya tidak tau kapan aja jadwalnya karna udah lama disini tidak ada sosialisasi.”
Informan 7 menuturkan:
“Ya hadir. Yang saya pahami dari sosialisasi PKH adalah informasi bahwa yang boleh dapat PKH adalah orang yang benar-benar miskin. Kemarin ada dibilang syarat-syarat PKH tapi saya lupa apa tapi yang pasti untuk orang miskin. Lalu untuk orang yang punya anak yang sedang bersekolah, nah seperti itu dapat bantuan PKH.”
Informan 8 menuturkan:
“Pernah kemarin hadir tapi cuma sekali. Itu juga datang nya bersama anak saya karna saya sudah tua, jadi di temani sama anak saya.”
69
Peneliti bertanya menurut Ibu apakah Ibu sudah memenuhi kriteria kepesertaan PKH? Kriteria apa saja yang Ibu penuhi dan apakah kriteria PKH di publikasi kepada masyarakat?
Informan 1 menuturkan:
“Ya sudah memenuhi. Kriteria yang sudah saya penuhi itu pertama sudah ada surat kurang mampu dari desa, lalu saya ada dua orang anak yang sedang sekolah SD, lalu seperti kamu bilang tadi sudah terdaftar DTKS. Saya kurang tau kriteria itu kemarin di umumkan ke masyarakat atau tidak karena saya kemarin taunya dari kepala dusun yang datang kerumah untuk suruh datang ke balai desa.”
Informan 2 menuturkan:
“Sudah. Kalau tidak, kan ga mungkin dapat PKH. Kriteria yang memenuhi pertama saya tergolong miskin, kedua saya punya anak yang bersekolah tiga orang. Itulah yang saya pahami dari penjelasan nak Dius. Setau saya PKH ini di umumkan ke masyarakat tapi seperti yang Dius bilang tidak semua bisa mendapat bantuan PKH. Saya bilang diumumkan ke masyarakat karena saya sendiri kemarin taunya dari teman saya.”
Informan 3 menuturkan:
“Tidak tau. Karena saya kurang tau tentang kriteria PKH ini.
Yang saya tau tentang bantuan PKH ini macam beras, telur sama kacang hijau yang diterima sekali sebulan. Setau saya informasi
70
tentang PKH di kasih tau ke masyarakat tapi saya rasa tidak semua masyarakat tau dan tidak merasa perlu dengan PKH.”
Informan 4 menuturkan:
“Memenuhi. Itu makanya kita dapat PKH ini. Kriteria yang memenuhi itu kami tergolong miskin, saya tidak punya pekerjaan tetap dan saya punya anak yang baru tamat sekolah. Saya tidak tau informasi tentang PKH di umumkan ke masyarakat atau tidak.
Saya sendiri diberitahu oleh orang desa untuk datang ke balai desa.”
Informan 5 menuturkan:
“Iya memenuhi. Yang saya penuhi itu kriterianya punya anak yang sedang bersekolah dan termasuk kategori warga miskin. Bantuan PKH ini setau saya diumumkan kepada masyarakat tetapi mungkin tidak semua masyarakat mengetahui PKH ini. Itu sebabnya ada masyarakat yang protes kepada desa mempertanyakan mengapa mereka tidak dapat bantuan PKH.”
Informan 6 menuturkan:
“Saya rasa memenuhi karna PKH setau saya untuk warga miskin.
Kriteria yang memenuhi itu termasuk warga miskin dan ada anak yang bersekolah. Saya rasa bantuan PKH ini di publikasikan lah kepada masyarakat agar masyarakat tau dan bisa dapat bantuan juga bagi yang memenuhi kriteria.”
71 Informan 7 menuturkan:
“Iya memenuhi. Kiteria yang saya penuhi itu termasuk warga miskin, terdaftar DTKS, dan ada anak saya yang masih sekolah.
Mengenai publikasi bantuan PKH iya di publikasi kepada masyarakat.”
Informan 8 menuturkan:
“Itu saya kurang tau. Menurut saya memenuhi lah. PKH untuk orang yang miskin kan.Llihat itu di depan rumah ada ternak ayam.
Saya juga tidak sanggup lagi ke ladang, makanya di depan rumah saja pelihara ayam.”
Peneliti bertanya apa saja bentuk bantuan yang didapat oleh keluarga terutama dalam pendidikan anak Ibu selama menjadi peserta PKH?
Apakah Ibu mematuhi protokol kesehatan saat pelaksanaan program PKH (Sosialisasi PKH, Pertemuan, Pencairan PKH)?
Informan 1 menuturkan:
“Dapat keringanan pembayaran uang sekolah. Saya punya tiga anak. Dua anak masih sekolah dan sangat membantu. Pasti mematuhi lah kan lagi Covid-19. Kalau tidak pakai masker saat pencairan, tidak diizinkan untuk mengambil uang.”
Informan 2 menuturkan:
“Dapat uang saku untuk bayar uang sekolah anak dan kemarin ada imunisasi di sekolah anak saya. Ya saya mematuhi prokes
72
dengan memakai masker dan membawa bawa handsanitizer setiap berpergian.”
Informan 3 menuturkan:
“Dapat bantuan KIP gitu. Beberapa bulan sekali ya dapat uang.
Bisalah untuk membantu bayar uang sekolah anak saya.
Lumayanlah karna ada 3 anak saya yang masih sekolah. Ya mematuhi.”
Informan 4 menuturkan:
“Sekarang udah ga ada lagi. Tahun kemarin anak saya kan sudah lulus SMA. Kemarin uangnya itu untuk bayar uang sekolah anak saya. Kalau sekarang untuk keperluan sehari-hari. Ya patuh prokes.”
Informan 5 menuturkan:
“Dapat KIP. Kadang-kadang pakai pakai masker karna sering lupa juga bawa masker.”
Informan 6 menuturkan:
“Dapat uang saku untuk anak sekolah. Ya patuh sama protokol kesehatan. Pakai masker, cuci tangan sama jaga jarak.”
Informan 7 menuturkan:
73
“Terbantu bayar uang sekolah anak. meski ga seberapa yang di dapat, tapi lumayan sekali. Jadi mengurangi beban. Mematuhi prokes.”
Informan 8 menuturkan:
“Saya kan tidak punya anak yang bersekolah lagi. Jadi ya tidak ada yang di dapat dalam pendidikan. Uang yang saya dapat di pergunakan untuk kebutuhan sehari-hari.”
Peneliti bertanya bagaimana cara Ibu memanfaatkan bantuan sosial PKH?
Informan 1 menuturkan :
“Memanfaatkannya itu bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti beli ikan sayur gitukan. Biasanya Cuma sanggup dua kali seminggu, sekarang bisalah empat kali begitu. Lalu sekolah anak juga tercukupi, belu bukunya lah, pulpen, baju segala macam.
Mengurangi bebanlah PKH ini.”
Informan 2 menuturkan :
“Manfaatnya sangat lumayan, saya punya tiga anak yang sedang bersekolah. Agak tertutupi jadinya uang sekolahnya. Lalu dapat beras, telur sama daging ayam kan mengurangi pengeluaran.
Tidak boros jadinya.”
Informan 3 menuturkan :
“Pertama membantu bayar uang sekolah anak, kedua bisa beli keperluan rumah dan keperluan usaha saya dan ketiga bisa beli
74
beras dan lauk. Kemarin nak saya juga dapat beras dan telur sama seperti penerima PKH yang lain. Tapi sekarang tidak lagi dan saya tidak tau kenapa.”
Informan 4 menuturkan :
“Bantuan PKH ini biasa saya pergunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti daging,ikan dan sayur-sayuran. Bayar air, listrik, beli keperluan anak seperti bukunya sama uang sekolahnya. Beras tidak pelru beli lagi karena itu kami sudah mencukupi di rumah, hanya lauknya saja yang setiap hari harus disediakan.”
Informan 5 menuturkan :
“Cara memanfaatkannya itu pertama bisa lebih memenuhi kebutuhan kami sekeluarga, mengurangi pengeluaran untuk uang sekolah anak saya dan sisanya ditabung untuk kalau ada keperluan yang lain.”
Informan 6 menuturkan :
“Bantuan PKH yang saya dapatkan itu bisa untuk memenuhi kebutuhan pokok kami sekeluarga, mulai dari dapat beras PKH, ayam, telur dalam tiap bulan. Kadang kalau ada sisa uangnya, ditabung supaya irit.”
Informan 7 menuturkan :
“Cara saya memanfaatkannya itu beli baju anak sekolah, bayar uang sekolahnya sama uang jajannya lah. Kalau kebutuhan
75
sehari-hari iya juga, belanja sayuran, daging, ikan, susa anak lagi.
Begitu aja nak.”
Informan 8 menuturkan :
“Saya gunakan untuk keperluan hidup keluarga di rumah, makan minum, beli pakan ternak/ayam dan pakaian.”
Peneliti bertanya apakah pendamping PKH pernah melakukan kunjungan ke rumah? Jika pernah, apa yang dilakukan pendamping? Jika tidak, bagaimana tanggapan Ibu?
Informan 1 menuturkan:
“Sebelum corona kemarin seingat saya ada datang ke rumah untuk bersilaturahmi gitu, nanya-nanya kondisi perekonomian. Setelah corona tidak pernah lagi ada kunjungan pendamping PKH.”
Informan 2 menuturkan:
“Belum pernah. Saya tidak keberatan kalau pun didatangi karena kan benar memenuhi kriteria PKH. Kalau memang sudah menjadi tugas pendamping PKH, lebih baik di datangi saja setiap rumah penerima PKH.”
Informan 3 menuturkan:
“Pernah. Hanya sekedar bertutur sapa saja. Tapi sudah lama tidak ada kunjungan dari pendamping lagi yang mungkin karena Covid-19. Bukan kunjungan saja, pertemuan kelompok juga sudah lama tidak ada.”
76 Informan 4 menuturkan:
“Tidak pernah. Tanggapan saya pendamping datang kerumah tidak apa apa karna kan itu memang tugasnya untuk melihat kami.
Tapi pendamping belum kesini mungkin karena tidak tau rumah saya yang mana karna dia juga kan bukan orang sini.”
Informan 5 menuturkan:
“Tidak pernah. Saya rasa sebaiknya pendamping melakukan kunjunganlah karena ada beberapa di antara kami penerima PKH ini yang ingin menyampaikan keluh kesah kami seperti kasus teman saya yang hanya dapat uang saja, sembako tidak dapat.
Jadi kami pun tau kenapa itu bisa terjadi dan bagaimana cara mengatasinya. Seperti itulah dari saya.”
Informan 6 menuturkan:
“Belum pernah. Kalau dari saya mau datang atau tidak tidak menjadi masalah ya. Hanya saja kalau mau datang baiknya kan di beri informasi terlebih dahulu.”
Informan 7 menuturkan:
“Belum pernah. Tangapan saya datang saja tidak apa apa. Paling mau sekedar lihat kondisi perekonomian tidak masalah.”
Informan 8 menuturkan:
77
“Tidak pernah. Datang tidak apa apa, tidak juga tidak apa apa.
Kalau datang, kan bisa nanti ngomong –ngomong tentang PKH ini”
Peneliti bertanya apakah anggota keluarga dapat memenuhi kebutuhan akan kesehatan dan pendidikannya serta bagaimana cara Ibu memanfaatkan pelayanan kesehatan yang diberikan PKH?
Informan 1 menuturkan:
“Iya dapat. Ini macam jaminan kesehatan kan. Kalo ke puskesmas ga perlu bayar karena sudah punya kartu jaminan kesehatan itu.
Pendidikan juga dapat, bisa beli buku buat anak yang lagi sekolah sama bisa bayar uang sekolahnya juga. Sangat membantu sekali PKH.”
Informan 2 menuturkan:
“Dapat memenuhi. Setau saya untuk ibu-ibu yang sedang mengandung atau baru melahirkan itu dapat pelayanan dari PKH.
Kalau kami secara pribadi jarang ke puskesmas, kalau sakit lebih sering beli obatnya saja ke apotik atau klinik. Kalo di pendidikan bisa bayar uang sekolah anak, lumayan kan mengurangi pengeluaran.”
Informan 3 menuturkan:
“Kalau kesehatan sudah terpenuhi. Kalau ada anggota keluarga yang sakit, bisalah bawa ke puskesmas yang di depan sekolah itu.
78
Tapi semenjak Covid-19, belum berani ke puskesmas. Kalau di pendidikan anak saya sudah terpenuhi juga seperti dapat uang sekolah anak.”
Informan 4 menuturkan:
“ya keshatan dapat memenuhi. Cara memanfaatnya kalau sedang dalam kondisi kurang sehat, dapat pergi ke puskesmas untuk cek kesehatan dan dapat obat dari bidannya. Pendidikan juga dapat memenuhi. Cara memanfaatkanya mengurangi beban pengeluaran uang sekolah anak saya.”
Informan 5 menuturkan:
“Iya di kesehatanna dapat Kartu Indonesia Sehat (KIS). Jadi kalau ada anggota keluarga yang sedang sakit, bisa dapat obat gratis dari dokter menggunakan KIS. Anak saya yang bersekolah dapat uang bayar sekolah dari PKH sehingga beban pengeluaran berkurang.”
Informan 6 menuturkan:
“Kesehatan memenuhi tapi jarang dimanfaatkan, ke puskesmas jarang dan sebaiknya tidak usah. Pendidikan juga memenuhi, cara memanfaatkannya sebagian uang bantuan PKH bisa buat bayar uang sekolah anak, beli perlengakapan sekolah anak dan kebutuhan lainnya.”
Informan 7 menuturkan:
79
“Ya anggota keluarga dapat memenuhi pelayanan kesehatan.
Kalau ada anggota keluarga yang sakit, kami bisa berobat ke puskesmas tanpa di pungut biaya karena ada jaminan kesehatan.
Ya anggota keluarga juga dapat memenuhi pelayanan pendidikan, mengurangi pengeluaran untuk bayar uang sekolah anak dan membeli kebutuhan kami sehari-hari.”
Informan 8 menuturkan:
“Pelayanan kesehatan dapat. Kalau pendidikan tidak ada anak saya yang bersekolah lagi.”
Peneliti bertanya apakah Ibu rutin menghadiri Pertemuan Kelompok (PK) dan Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) dan apa yang dilakukan saat pertemuan kelompok tersebut?
Informan 1 menuturkan:
“Jika diundang pasti datang lah ya. Jika tidak, tidak datang.
Karena saya sendiri masih belum lama menjadi peserta PKH. Jadi saya masih belum mengerti pertemuan kelompok itu seperti apa.
Harapannya pandemi ini segera berakhir agar pertemuan-pertemuan kelompok ini bisa diadakan lagi.”
Informan 2 menuturkan:
“Selalu menghadiri. P2K2 pendamping PKH memberi edukasi mulai dari pengetahuan tentang kesehatan, gizi dan sampai pengasuhan anak dan pendidikan.”
80 Informan 3 menuturkan:
“Selalu hadir. Yang kami lakukan di pertemuan kelompok adalah membahas tentang bantuan PKH ini. Apakah ada keluhan atau masalah, lalu didiskusikan bersama bagaimana solusinya. Lalu dapat materi tentang kesehatan dan pendidikan yang di sampaikan oleh pendamping setiap pertemuan kelompok.”
Informan 4 menuturkan:
“Tidak rutin karena terkadang saya tidak tau kalau diadakan pertemuan kelompok PKH. Kegiatan saat pertemuan kelompok itu kami lebih sering bediskusi antara sesama penerima bantuan.”
Informan 5 menuturkan:
“Rutin hadir. Tapi semenjak Covid-19, tidak. Kegiatan kami saat pertemuan kelompok PKH mendengarkan pendamping menjelaskan materi pendidikan anak. Kami diminta menerapkan materi yang di sampaikan kepada anak kami yang bersekolah.
Kemudian tentang pentingnya menjaga kesehatan mulai dari yang muda sampai tua diberi pemahaman.”
Informan 6 menuturkan:
“Setau saya itu belum ada dibuat, masih rencana saja. Kalau ada yang sudah menghadiri, ya berarti saya tidak mendapatkan informasi itu. Yang datang kerumah tidak ada, yang bilang juga tidak ada.”
81 Informan 7 menuturkan:
“Kalau diundang datang. Kalau tidak ya tidak. Kegiatan saat pertemuan kelompok itu kami duduk mendengarkan pendamping menyampaikan informasi tentang PKH, pendidikan anak, dan kesehatan untuk Ibu hamil, imunisasi anak, kesehatan lansia dan banyak lagi.”
Informan 8 menuturkan:
“Hadir. Iya dulu hadir. Sekarang tidak lagi karna tidak sanggup lagi. Kegiatan nya itu berkumpul semua penerima PKH, diskusi bersama pendamping PKH.”
Peneliti bertanya menurut Ibu bagaimana PKH dalam proses pendampingannya/pelayanannya?
Informan 1 menuturkan :
“Menurut saya pelayanannya sudah baik. Mulai dari sosialisasinya dan bantuan yang diberikan juga bagus. Yang kurang itu saya rasa pas pendampingan saat pencairan, ini kan masih Pandemi. Masih banyak penerima itu yang tidak patuh prokes, kalau bisa pendamping datang mengarahkan, diberi masker dan himbauan.”
Informan 2 menuturkan :
“Menurut saya sudah baik. Yang baik itu bantuannya, informasi yang diberikan dan itu sajalah menurut saya karena sejauh ini
82
saya merasa nyaman-nyaman saja dengan pelayanan PKH. Tapi kalau boleh memberi saran ya itu untuk penerima PKH yang hanya dapat uang saja biar bisa dapa sembako lagi biar sama-sama enak kan.”
Informan 3 menuturkan :
“Keluhan saya ada sama pendampingannya. Saya kan hanya dapat uang saja, padahal dulu saya juga dapat beras PKH dan sembako yang lain. Sekarang tidak lagi, tidak tau sebabnya apa dan salahnya dimana. Persoalannya kenapa yang lain dapat, sedangkan saya tidak kan gitu. Kalau alasannya ada kan kita tau kenapa jadinya. Oh begini harus begitu, kan enak. Jadi bisa diperbaiki, sedangkan ini yang hanya dapat uang seperti digantung tidak diberi penjelasan.”
Informan 4 menuturkan :
“Sejauh ini pendampingan/pelayanannya baik baik saja, bagus dan tidak ada masalah. Tapi kalau bisa bantuan PKH ini ditambahkan uang nya.”
Informan 5 menuturkan :
“Kalau saya secara pribadi kurang memuaskan nak ya. Misalnya lah kan dari tutur bahasanya itu kurang enak didengar. Tapi kita kan apalah, lebih baik diam saja kan. Lalu teman saya yang hanya dapat uang, tetapi sembakonya tidak. Nah itu bagaimana itu karena setau saya belum ada penjelasan kepada kami dari mereka.
83
Harapannya biar bisa diperjelas karna kan kasian itu merekan yang tidak dapat beras lagi.”
Informan 6 menuturkan :
“Pendampingannya sudah bagus lah. Iya dari pelayanan kesehatannya, posyandu di balai desa itu kan bagus. Dapat kartu jaminan kesehatan lagi, cukup memuaskanlah. Tapi bagaimana lah Pandemi kan masih ada, kegiatan PKH juga jadinya belum ada lagi.”
Informan 7 menuturkan :
“PKH pendampingannya saya rasa sudah bagus dek ya. Saya rasa
“PKH pendampingannya saya rasa sudah bagus dek ya. Saya rasa