• Tidak ada hasil yang ditemukan

Defenisi Operasional

Dalam dokumen Makassar, 8 November Penulis (Halaman 43-71)

BAB I PENDAHULUAN

F. Defenisi Operasional

Penelitian ini menggunakan satu variabel dependen dan tiga variabel indenpenden. Defenisi operasional masing-masing variabel dalam penelitian ini adalah sebagaio berikut:

1. Variabel produksi, yaitu penduksi garam adalah total jumlah produksi garam dalam satu musim.

2. Tanah, yaitu jumlah uang yang harus dikeluarkan dalam menyelenggarakan faktor-faktor alam untuk memproduksi atau menghasilkan garam yang dihitung dalam satuan rupiah per bulan.

3. Modal adalah sejumlah uang yang harus dikeluarkan untuk membiayai produksi garam dalam satu musim.

4. Tenaga kerja, faktor tenaga kerja yang digunakan dalam penelitian ini yaitu upah atau gaji yang dikeluarkan untuk membayar tenaga kerja yang diperlukan untuk memproduksi atau menghasilkan garam.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

a. Perkembangan Luas Lahan Pertanian Garam

Luas lahan (tanah) merupakan faktor produksi yang menentukan uasa tambak garam yang akan dihasilkan dalam menganalisa bidang lahan, terlihat dengan berbagai macam hal seperti keadaan tanah dan juga letak tanah, setiap usaha tambak garam memiliki hubungan positif terhadap produksi perhektar. Tingkat keadaan tanah yang kurang baik akan memberikan hasil yang rendah pula. Optimalisasi produksi perlu ditunjang oleh adanya lahan yang menjadi faktor utama dan luas lahan yang sangat menentukan tingkat produksi garam.

Perkembangan luas area tambak garam di Kabupaten Jeneponto nenunjukkan perkembangan yang cukup baik yang sangat berpengaruh pada produksi garam di Kabupaten Jeneponto. Perkembangan luas area produksi tambak garam salah satunya di sebabkan karena harga komoditas garam yang menunjukkan peningkatan dari tahun ketahun dan produksi garam yang bertumpu pada musim kemarau> selain itu kemampuan para petambak garam semakin meningkat dalam mengelola tambak garam secara baik dan benar dengan adanya pelatihan oleh pihak pemerintah untuk mengetahui perkembangan luas lahan yang digunakan petani sebagai tambak garam di Kabupaten Jeneponto dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut:

36

Tabel 4.1 Luas Areal Tambak Garam di Kabupaten tambak garam di Kabupaten Jeneponto dari tahun 2003-2012 luasnya mengalami perubahan yang cukup signifikan. Pada tahun 2004 sampai dengan tahun 2006 mengalami peningkatan luas lahan tambak Garam pada angka 591,56 Hektar.

Lahan tambak garam pada lokasi penelitian sebagian besar merupakan lahan sewa dan sebagian kecil merupakan milik lahan sendiri, untuk mengetahui luas lahan petani responden di Kabupaten Jeneponto, dapat dilihat pada tabel berikut:

Tael 4.2 Jawaban Responden Terhadap Luas Lahan di garam responden yang paling banyak berada pada kisaran 0-190 are, yaitu sebanyak 49 responden (49%), sedangkan yang terendah 310-550 are yaitu sebanyak 13 responden (13%)

b. Tenaga Kerja Tambak Garam

Setiap usaha pertanian yang akan dilaksanakan pasti memerlukan tenaga kerja. Oleh karena itu dalam analisa ketenagakerjaan dibidang pertanian khususnya tambak garam, penggunaan tenaga kerja dinyatakan oleh besarnya curahan tenaga kerja. Curahan tenaga kerja yang dipakai adalah besarnya tenaga kerja efektif yang terpakai. Tenaga kerja merupakan faktor produksi dalam proses produksi pertanian dalam hal ini produksi tambak garam. Kabupaten Jeneponto sebagai daerah agraris dimana sebagian besar penduduknya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian tambak garam.

Untuk mengetahui perkembangan tenaga kerja sektor pertanian tambak garam di Kabupaten Jeneponto dapat dilihat pada tabel 4.5.

berikut:

Tabel 4.3 Perkembangan Tenaga Kerja Petani Tambak Garam di Kabupaten Jeneponto, Tahun 2003-2012 khususnya usaha tani garam di Kabupaten Jeneponto dari tahun 2003-2012 mengalami fluktuasi (naik turun) dalam hal kuantitas tenaga kerja. Pada tahun 2003 jumlah tenaga kerja untuk usaha tani tambak garam sebesar 2.174 oarang. Namun tahun 2004 jumlah tenaga kerja pada tambak garam mengalami penurunan sebesar 2.097 jiwa. Tahun 2005-2007 mengalami peningkatan jumlah tenaga kerja pada tambak garam sebesar 2.152 jiwa.

Namun ditahun 2008 jumlah tenaga kerja pada tambak garam kembali

mengalami penurunan yaitu sebesar 2.132 jiwa, tahun 2009 turun kembali menjadi 2.125 jiwa. Lalu pada tahun 2010-2012 terus mengalami peningkatan sebanyak 2.278 jiwa. Fluktuasi tenaga kerja tidak lepas dari jumlah lahan penggaraman yang semakin kurang dari tahun ketahun disebabkan oleh faktor alam, selain itu pula disebabkan karena banyak petani tambak garam yang beralih profesi disebabkan oleh cuaca yang tidak menentu.

Tenaga kerja yang digunakan dalam tambak garam berasal dari dua sumber, yaitu tenaga kerja keluarga dan diluar keluarga (tenaga kerja harian) yang diupah dengan gaji sebesar Rp. 30.000,00 per hari atau tergantung dari jenis pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kerja harian tersebut, sementara tenaga kerja yang berasal yang berasal dari keluarga tidak di gaji harian tetapi mengeluarkan biaya pada saat-saat tertentu.

Untuk melihat jumlah tenaga kerja yang digunakan oleh petani tambak garam responden, dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 4.4 Jawaban Responden Terhadap Tenaga Kerja yang digunakan Petani TambakGaram di Kabupaten Jeneponto Tahun 2013

Pada tabel 4.4 dilihat bahwa titik penggunaan tenaga kerja terbanyak pada kisaran 8 jam yaitu 53 responden (53%) dan yang terkecil terdapat pada kisaran 32 orang yaitu 6 responden. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan tenaga kerja dalam bertani tambak garam sangat diperlukan.

Hal ini dikarenakanperawatan petak tempat proses penggaraman itu berlangsung harus dilakukan secara baik agar memperoleh garam yang bermutu. Kemudian ketersediaan air di area penggaraman dimana dalam satu petak itu dibagi beberapa bagian, pertama tempat air dingin yang gunanya menampung air yang baru diangkat dari laut memakai pompa air atau kipas. Bagian kedua yaitu tempat memanaskan air laut, bagian ketiga yaitu tempat memanaskan air laut dengan diameter air yang lebih rendah selanjutnya bagian tempat mengolah air laut yang sudah panas diubah menjadi garam biasanya disebut meja kristal.

c. Modal yang digunakan

Dalam kegiatan bartani tambak garam modal merupakan salah satu faktor yang terpenting dan juga merupakan suatu dasar dalam memulai aktivitas pengolahan lahan garam. Biasanya disini yang dimaksud modal bagi para petani adalah modal awal seperti penyewaan pompa air, biya untuk tenaga kerja, pembelian karung, keranjang, perbaikan gudang penampungan garam, perbaikan alat-alat untuk produksi. Jadi bisa dikatakan penggunaan modal baik secara langsung maupun tidak langsung merupakan salah satu upaya peningkatan produksi. Penggunaan modal untuk petani tambak garam respondsen dapat dilihatr pada tabel berikut:

Tabel 4.5 Jumlah Modal yang digunakan Petani Tambak Garam di Kabupaten Jeneponto Tahun 2013

Jumlah Modal

Pada tabel 4.5 terlihat penggunaan modal terbanyak pada kisaran Rp.

100.000 – Rp. 300.000, yatu 63 responden (63%). Sedangkan penggunaan modal terendah pada kisaran Rp. 700.000, yaitu 6 responden atau (6%) dari 100 keluarga petani garam yang diambil sebagai sampel responden.

d. Hasil Pengaruh Luas Lahan, Tenaga Kerja dan Modal Terehadap Produksi Garam di Kabupaten Jeneponto.

Untuk membuktikan hipotesa dalam penuliasan ini, maka dalam pengujian empiris digunakan metode regresi berganda. Metode ini merupakan suatu analisa kuantitatif yang digunakan untuk menghitung koefisien regresi, variasi hubungan variabel bebas dengan variabel terikat secara parsial dan secara simultan.

Adapun variabel yang digunakan dalam perhitungan ini adalah jumlah luas lahan dalam are, jumlah orang yang bekerja dalam sektor tambak garam, nilai nominal modal dalam rupiah dan pendapatan petani dalam nominal rupiah di kabupaten jeneponto.

a. analisis regrasi berganda

analisis regresi linaer berganda digunakan untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dan variabel dependen.persamaan regresi dapat dilihat dari tabel hasil uji coefficients berdasarkan output SPSS versi 17 terhadap keempat variabel independen yaitu tanah,modal dan tenaga kerja terhadap produksi garam ditujukan pada tabel 4.6 berikut:

Tabel 4.6 Hasil Analisis Regresi

Berdasarkan pada tabel 4.6 di atas,terlihat bahwa nilai konstanta a sebesar 73.875 dan koefisien regresi B1749;b23.361;b3 1.91.nilai konstanta dan koefisien regresi (a,b1,b2,b3)ini dimasukkan dalam persamaan regrasi linear berganda berikut ini:

Y=a+b1x1+b2X2+b3X3+ e

Sehingga,persamaan regresinya menjadi sebagai berikut:

P.garam=73.875+749 Tanah-3,361 Modal-1.902 T.kerja+e

Dari persamaan regresi linear berganda diatas, dapat dilihat nilai konstanta sebesar 73.875 berarti jika tanah(x1),modal(x2), dan T.kerja (x3) nilainya 0 atau konstan maka p.garam (Y) nilainya 73.875. apabila koefisien regresi X1 (Tanah) meningkat 1 % dengan asumsi variabel independen lainnya tetap maka Y’(p.Garam) meningkat sebesar 3,049 begitu juga seterusnya dengan variabel independen lainnya (X2X3).

b. pengujian hipotesis

selanjutnya dari persamaan regrasi berganda dilakukan uji statistik dengan prosedur pengujiannya sebagai berikut:

1. uji koefisien determinasi (R2)

Koefisen determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh determinasi (R2) yang mendekati satu berarti variabel-variabel independennya menjelaskan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen.hasil perhitungan koefisien determinasi penelitian ini dapat terlihat pada tabel 4.7 berikut:

Tabel 4.7 Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi (R2)

Model R R

Berdasarkan Out-put SPSS tampak bahwa dari hasil perhitungan diperoleh nilai koefisien determinasi (R2)sebesar 0,822.dengan kata lain hal ini:menunjukkan bahwa besar presentase variasi produksi garam yang bisa dijelaskan oleh variasi dari keempat variabel bebas yaitu tanah,modal dan tenaga kerja.sebesar 82%,sedangkan sisanya sebesar 18 % dijelaskan oleh variabel-variabel lain diluar variabel penelitian.

2. Uji F(secara simultan)

Uji statistik f pada dasarnya menujukkan apakah semua variabel independen yang di masukkan dalm model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependennya.hasil perhitungan uji f ini dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut :

Tabel 4.8 Hasil Perhitungan Uji F (Secara Simultan)

Model

Dari hasil analisis regresi dapat diketahui bahwa secara bersama-sama variabel independen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Hal ini dapat dibuktikan dari nilai F hitung sebesar 152,986 dengan signifikan (sig) sebesar 0,00.karna nilai signifikan(sig)jauh dari 0,05 maka model regresi dapat digunakan untuk prediksi produksi garam atau dapat dikatakan bahwa tanah,modal dan tenaga kerja. Secara bertsama-sama berpengaruh terhadap produksi garam.sehingga bisa dilanjutkan kepengujian selanjutnya.

3. Uji t (secara parsial)

Uji t dilakukan untuk mengetahui pengaruh masing-masing atau secara parsial variabel independen (tanah,modal dan tenaga kerja) terhadap variabel dependen(produksi garam).sementara itu secara parsial pengaruh dari ketiga variabel independen tersebut terhadap produksi garam ditunjukkan pada tabel 4.9 berikut:

Tabel 4.9 Hasil Perhitungan Uji t (Secara Parsial)

Model

Modal

pengaruh dari masing-masing variabel, tanah, modal dan tenaga kerja terhadap produksi garam dapat dilihat dari arah tanda dan tingkat signifikasi (probabilitas).ketiga variabel mempunyai arah yang postif.variabel tanah,modaldan tenaga kerja.berpengaruh signifikan terhadap produksi garam karna nilai signifikan <0,05.

Hasil pengujian hipotesis masing-masing variabel independen secara parsial terhadap variabel dependennya dapat dianalisis sebagai berikut:

a. uji hipotesis pengaruh tanah terhadap produksi garam hasil pengujian parsial (uji t) antara variabel hitung sebesar 9,593 koefisien regresi sebesar 749,9 dan nilai probabilitas sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05 hal ini berarti bahwa tanah berpengaruh positif dan signifikan yang menyatakan luas tanah berpengaruh signifika terhadap produksi garam dapat diterimah hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin luas area semakin penggaraman menujukkan bahwa semakin tinggi produksi garam yang dihasilkan .

b. uji hipotesis pengaruh modal terhadap produksi garamhasil pengujian parsial (uji t ) antara variabel modal dengan variabel

produksi garam menujukkan nilai t hitung sebesar 0,820,koefisen regresi sebesar 3,361, dan nilai probabilitas sebesar 0,414 yang lebih besar dari 0,05 hal ini berarti bahwa modal berpengaruh signifikan terhadap produksi garam tidak dapat diterima.

c. uji hipotesis tenaga kerja terhdap produksi garam hasil pengujian parsial (uji t) antara variabel tenaga kerja dengan variabel produksi garam melanjutka nilai t hitung sebesar 2,071, koefisen regresi sebesar 1.902 dan nilai probabilitas sebesar 0,041 yang lebih besar dari 0,05 hal ini berarti bahwa tenaga kerja memiliki pengaruh tidak signifikan dan positif terhadap produksi garam pada ladang garam di Kabupaten Jeneponto.sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa faktor produksi tenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap produksi garam tidak dapat diterima.

B. Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil analisis data sekunder kuantitatif tahunan, dapat dilihat pada tabel 4.1 dapat dilihat bahwa luas area tambak garam di Kabupaten Jeneponto dari tahun 2003-2012 luasnya mengalami perubahan yang cukup signifikan. Pada tahun 2006 mengalami peningkatan luas lahan tambak garam pada angka 591,56 hektar.pada tabel 4.3 terlihat bahwa tenaga kerja pada usaha tambak garam di Kabupaten Jeneponto dari tahun 2003-2012 mengalami fluktuasi (naik turun) dalam hal kuantitas

tenaga kerja. Sedangkan pada tabel 4.5 terlihat penggunaan modal terbanyak pada kisaran Rp. 100.000–Rp. 300.000, yaitu 63 responden (63%). Sedangkan penggunaan modal terendah pada kisaran Rp. 700.000, yaitu 6 responden atau (6%) dari 100 keluarga petani garam yang diambil sebagai sampel responden.

Dari hasil analisis regresi dapat diketahui bahwa secara bersama-sama variabel independen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Hal ini dapat dibuktikan dari nilai F hitung sebesar 152,986 dengan signifikan (sig) sebesar 0,00. Karena, nilai signifikan (sig) jauh dari 0,05 maka modal regresi dapat digunakan untuk prediksi produksi garam atau dapat dikatakan bahwa tanah, modal, dan tenaga kerja. Secara bersama-sama berpengaruh terhadap produksi garam.

Dari hasil analisis data sekunder kuantitatif dan hasil analisis regresi dapat dilihat dari masing-masing variabel; tanah, modal dan tenaga kerja mempunyai arah yang positif dan sangat berpengaruh signifikan terhadap produksi garam.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Faktor luas lahan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan petani garam di kabupaten jeneponto. Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan uji T untuk variabel Luas lahan (Tanah) memperoleh tingkat signifikan (sig) yaitu .000 jauh lebih kecil dari 0,05.

2. Modal usaha mempunyai pengaruh yang tidak signifikan terhadap pendapatan petani garam di Kabupaten Jeneponto. Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan uji T untuk variabel modal memperoleh tingkat signifikan (sig) .414 jauh lebih besar dari 0,05.

3. Tenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani garam di Kabupaten Jeneponto. Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan uji T untuk Tenaga Kerja memperoleh tingkat signifikansebesar .041 jauh lebih kecil dari 0,05.

B. Saran-saran

Untuk lebih meningkatkan pendapatan industri kecil garam rakyat perlu kerja keras dari semua pihak, baik pemerintah maupun dunia usaha, mengingat industri kecil garam rakyat sangat berhenti total, sedangkan dimusim kemarau yang panjang harga jual sangat merosot karena suplay

50

garam dipasaran sangat melimpah. Oleh karena itu diperlukan berbagai langkah antara lain:

1. Penciptaan iklim usaha yang menunjang iklim usaha yang menunjang perkembangan usaha industri kecil tambak garam rakyat.

2. Program bantuan permodalan dengan bunga rendah.

3. Diversifikasi produk dengan memproduksi garam beriodium sehingga memungkinkan usaha industri kecil tambak garam rakyat dapat berkembang dengan baik.

4. Peningkatan prasarana jalan akses ke lokasi produksi garam sehingga dapat menghemat biaya transportasi dan mempermudah pemasaran yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan petani industri kecil garam rakyat.

DAFTAR PUSTAKA

Domirick Salcatore, 2008, Schaum Mikro Ekonomi. Jakarta: Salemba Empat.

Gujarati, Damodar, 1999, Ekonometrika Dasar, Jakarta. Penerbit Rineka Cipta.

Hery, 2012, Analisis dasar ekonomi, Edisi Cetakan Pertama, Penerbit Bumi Aksara, Jakarta.

Ihsanuddin, 2012, Pengelolaan Sumber daya lahan, Madura, Jurnal Penelitian, Prodi agribisnis Fakultas pertanian Universitas Trumojoyo Madura.

Nurul komariyatin, 2012, Pengembangan produksi untuk meningkatkan pendapatan petani garam, Jepara. Jurnal penelitian Sains STIE Nahdatul Ulama.

Masyuri, 2007, Otonomi dan manajemen sumber daya alam. Penerbit Andi, Yogyakarta.

Moehar Daniel, 2004, Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta.: Bumi Aksara.

Pratama Rahardja, 2005, Prinsip-prinsip manajemen, Edisi kesembilan belas.

Fakultas Ekonomi UI. Jakarta.

Soekartawati, 2002, Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian. Jakarta : Rajawali Pers.

Subandi, 2011, Ekonomi Pembangunan. Bandung : Alfabeta.

LAMPIRAN

Dalam dokumen Makassar, 8 November Penulis (Halaman 43-71)

Dokumen terkait