i
ii
iii
iv
menyelesaikan skripsi ini. Segala usaha dan upaya telah dilakukan oleh penulis dalam rangka menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik mungkin. Namun, penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak luput dari berbagai kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun.
Penyusunan skripsi ini disadari banyak kendala dan rintangan yang dihadapi, baik dalam pelaksanaan penelitian maupun dalam penulisan skripsi ini.
Namun, berkat ketekunan dan ketabahan serta uluran tangan dari berbagai pihak utamanya Ridha Allah Swt maka hambatan itu dapat diatasi. Terima kasih kepada kedua orang tuaku atas dorongan dan Do’a-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih juga kepada teman-teman yang selalu memberiku dukungan dan semangat serta Do’a-Nya.
Dan dengan penuh kerendahan hati penulis menyampaikan ucapan teerima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:
1. Bapak Dr. H. Irwan Akib, M.pd,. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.
2. Bapak Dr. H. Mahmud Nuhung, MM., Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Bapak Moh. Aris Pasigai, SE., MM., Ketua Jurusan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Bapak Dr. Andi Jam’an. SE., M.Si., dan Bapak Samsul Rizal, SE., MM., pembimbing I dan pembimbing II yang telah meluangkan waktunya untuk memberi arahan dan petunjuk serta koreksi dalam penyusunan skripsi. Sejak awal hingga akhir penyusunan skripsi ini.
5. Bapak dan Ibu Dosen serta Staf Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar.
v saya.
8. Semua pihak yang penulis tidak dapat menyebutkan semua namanya karena keterbatasan tempat, tanpa mengurangi rasa hormat penulis ucapkan terima kasih.
Akhirnya tak ada gading yang tak retak, tak ada ilmu yang memiliki kebenaran mutlak, tak ada kekuatan dan kesempurnaan, semuanya hanya milik Allah Swt. karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun guna penyempurnaan dan perbaikan skripsi ini senantiasa dinantikan dengan penuh keterbukaan.
Makassar, 8 November 2014
Penulis
vi
Penelitian ini adalah penelitian langsung ketempat produksi garam. Yang bertujuan untuk mengetahui apakah tanah, modal, dan tenaga kerja berpengaruh terhadap produksi garam di Kabupaten Jeneponto.
Dalam penelitian ini metode analisis yang digunakan adalah model analisis regresi berganda dengan bantuan soft ware spss. Data ini melipurti data yang bersifat mikro dan mudah di dapat. Data berasal dari berbagai sumber, antara lain statistik provinsi terbitan Badan Pusat Statistik (BPS), observasi dan wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Luas lahan sangat berpengaruh untuk meningkatkan hasil produksi tambak garam di Kabupaten Jeneponto. Karena, semakin luas area tambak garam, maka akan semakin banyak pula hasil produksi garam yang akan diperoleh. Modal merupakan salah satu faktor yang terpenting dan juga merupakan suatu dasar memulai pengolahan lahan garam. Biasanya disini yang dimaksud modal bagi para petani adalah modal awal Seperti penyewaan pompa air, biaya untuk tenaga kerja, pembelian karung, keranjang, perbaikan alat-alat untuk produksi dll. Sedangkan, Tenaga Kerja juga sangat berpengaruh untuk meningkatkan hasil produksi garam di Kabupaten Jeneponto.
Karena, setiap usaha pertanian yang akan dilaksanakan pasti memerlukan tenaga kerja.
Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa faktor luas lahan, modal dan tenaga kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produksi garam di Kabupaten Jeneponto.
vii
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
ABSTRAK ... vi
DAFTAR ISI ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat penelitian ... 6
BAB IITINJAUAN PUSTAKA ... 7
A. Pengertian Garam ... 7
B. Pengertian Produksi ... 11
C. Macam-Macam Produksi ... 12
D. Faktor-Faktor Produksi ... 14
E. Biaya Produksi ... 19
F. Pengertian pendapatan ... 20
G. Kerangka Pikir ... 27
H. Hipotesis ... 27
BAB IIIMETODE PENELITIAN ... 28
A. Lokasi Dan Waktu Penelitian ... 28
B. Tehnik Pengumpulan Data ... 28
C. Populasi dan Sampel ... 30
D. Jenis Dan Sumber Data ... 31
E. Metode Analisis... 31
F. Defenisi Operasional ... 35
viii
A. Kesimpulan ... 50 B. Saran-saran ... 50 DAFTAR PUSTAKA... 51
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Garam sebagai komoditas produk kelautan mempunyai peranan penting dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam sektor industri. Kebutuhan garam nasional dari tahun ketahun semakin meningkat seiring dengan bertambahnya penduduk dan berkembangnya industri di Indonesia pada tahun 2000, kebutuhan garam nasional berkisar 855.000-950.000 ton/tahun untuk kebutuhan konsumsi dan 1.150.000-1.345.000 ton/tahun untuk kebutuhan industri. Sehingga total kebutuhan garam 2.100.000-2.200.000 ton/tahun sedangkan produksi garam 900.000 ton/tahun.
Kebutuhan akan garam pada tahun 2008 mencapai 2.790.000 ton/tahun yang terdiri dari garam konsumsi 1.120.000 ton dan kebutuhan industri 1.670.000 ton, produksi garam nasional sebesar 1.200.000 ton sehingga untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus mengimpor sebesar 1.630.000 atau 157,89% (Jati dan Purwoko, 2009). Dengan kekurangan produksi garam nasional akan membuka lahan baru untuk tambak garam, sedangkan menurut Manning dan Jayasura dalamSugiarto (2008). Lambatnya peningkatan produktivitas tenaga kerja adalah lambatnya peningkatan upah riil buruh pertanian.
Saat ini luas tambak garam di Indonesia 30.685 hektar terdiri dari luas penggaraman rakyat seluas 25.542 hektar dengan produktivitas minimum 40 ton/hektar/tahun dan luas penggaraman yang dikelola PT. Garam (persero) seluas
1
5.116 dengan produktivitas maksimum 60 ton/hektar (Sumahamijaya, 2009).
Sampai tahun 2030 kebutuhan garam nasional diperkirakan mencapai 5.190.625 ton yang terdiri dari industri cap (chiore alkali) 3.329.280 ton garam rumah tangga 910.718 ton dan pembersih 956.628 ton. Apabila produktivitas garam nasional tidak ada peningkatan maka Indonesia akan terus menjadi negara pengimpor garam.
Garam adalah sebuah komoditas yang seringkali terlupakan dan dipandang bukan merupakan komoditas yang populer dalam kebijakan pemerintah. Padahal apabila dilihat lebih jauh garam merupakan komoditas pelengkap yang tidak saja diperlukan bagi kebutuhan konsumsi namun juga untuk kebutuhan industri.
Sehingga dengan demikian kebutuhan akan garam dapat diklasifikasikan menjadi kebutuhan untuk konsumsi dan kebutuhan untuk industri. Tercatat kebutuhan garam dalam negeri untuk kebutuhan konsumsi dan industri pada tahun 2010 sebesar 2,985 juta ton. Sedangkan produksi garam dan baik oleh rakyat maupun oleh PT. Garam (sebagai satu-satunya BUMN yang memproduksi garam) adalah sebesar 1,4 juta ton. Sedangkan sisanya sebesar 1,585 juta ton masih dipenuhi dari impor.
Kebutuhan tersebut diperkirakan meningkat dimana pada 2011 diperkirakan mencapai 3,402 juta ton yang terdiri atas 1,6 juta ton garam untuk keperluan industri. Sedangkan produksi garam nasional tahun ini diperkirakan hanya mencapai 1,3 juta ton. Sehingga kekurangan dari kebutuhan tersebut pastinya akan dipenuhi dari import.
Hal ini tentu sangat ironis mengingat Indonesia adalah negara maritim yang kaya dengan sumber daya dan memiliki sejarah kejayaan akan garam ini.
Tidak mengherangkan jika kemudian pemerintah melalui kementerian kelautan dan perikanan mencetuskan pencapaian swasembada garam konsumsi pada tahun 2012 dan garam industri tahun 2015.
Awal pencetusan swasembada garam adalah dilatarbelakangi tujuan (1) memenuhi kebutuhan garam nasional baik garam konsumsi maupun garam industri yang belum bisa terpenuhi. Perlu diingat bahwa pemenuhan kebutuhan garamini bukan saja berkaitan dengan kuantitas namun juga dengan kualitas (terutama yang diperlukan industri). (2) menghentikan atau paling tidak mengurangi jumlah import garam nasional yang sedikitnya menyerap devisa sekitar $100juta/tahun. (3) adanya manfaat efek ganda (multipliereffect) dari usaha penggaraman yang sangat tinggi. Efek ganda ini terkait engan jalannya kegiatan ekonomi (baik pada aktivitas di lahan, transportasi, pemasaran atau industri). (4) mendukung pencapaian kualitas kesehatan masyarakat (pemenuhan kebutuhan garam konsumsi beriodium penduduk yang masih 72,81%).
Beberapa hal yang menjadi penghambat itu terjadi mulai dari sektor hulu hingga hilir dalam usaha pegaraman. Jika dikaji lebih mendalam permasalahan pegaraman ini salah satunya adalah permasalahan teknis produktivitas dan kualitas garam masih rendah yang dikarenakan: teknologi yang dipergunakan masih sederhana, adanya degradasi kuantitas dan kualitas lahan, iklim dan skala usaha.
Maka pemerintah dalam paparannya mengungkapkan 5 isu strategis dalam mewujudkan swasembada garam. Salah satu isu strategis itu yang terkait dalam upaya produksi secara langsung diungkapkan bahwa infrastruktur dan fasilitas produksi rendah, pengelolaan lahan potensial pegaraman masih 20.089 Ha dari lahan potensial seluas 34.731 Ha lahan yang belum berproduksi. Maka, dalam upaya pemecahan permasalahan guna mencapai swasembada garam ini dilakukan dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi dengan biaya intensifikasi, revitalisasi dan ekstensifikasi lahan pegaraman. Cara atau strategis ini perlu dilakukan secara bijaksana dengan melihat kondisi yang ada di lapangan.
Guna mendorong peningkatan kemampuan pemenuhan kebutuhan garam nasional melalui produksi dalam negeri, pada akhir tahun 2009 pemerintah mencanangkan program swasembada garam nasional. Hal ini dapat dimungkinkan mengingat lahan potensial garam di Indonesia yang tersebar di 8 provinsi (Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Gorontalo dan Sulawesi Utara) luasnya mencapai 34.731 ha, akan tetapi baru sekitar setengahnya yang dimanfaatkan.Kualitas garam yang dihasilkan umumnya juga masih memenuhi Standar Nasonal Indonesia (SNI), demikian juga apabila dibandingkan dengan garam impor. Kualitas garam yang dihasilkan oleh petambak memiliki kadar NaCI dibawah 94%, sedangkan garam konsumsi memerlukan kadar NaCI >
94,7%, garam industri memerlukan kadar NaCI diatas 99% (dry basis).
Distribusi dan pemasaran garam khususnya garam konsumsi selama ini dirasakan kurang efisien, hal ini disebabkan oleh karena penggaraman berada di
pinggir pantai (lokasinya terpencil) dengan konisi sarana dan prasarana yang sangat terbatas.
Faktor tersebut menjadi salah satu penyebab rendahnya harga yang diterima petambak garam, jauh lebih rendah dibandingkan harga di tingkat konsumen. Rendahnya harga di tingkat petambak garam akan menurunkan daya tarik bagi masyarakat/petambak dalam memproduksi garam, hal ini akan berdampak secara nasional atau ketergantungan Indonesia kepada garam impor akan semakin tinggi.
Ketergantungan pada garam impor khususnya untuk keperluan garam konsumsi sangat tidak mendukung ketahanan nasional karena garam nasional adalah komoditi yang secara terus menerus dibutuhkan oleh seluruh masyarakat sehingga apat dikategorikan sebagai komoditi strategis.
Berdasarkan uraian yang dipaparkan diatas maka penulis tertarik untuk membahas “Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Garam di Kabupaten Jeneponto”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya, maka permasalahan yang dibahas pada penelitian ini adalah :Apakahluaslahan, modal dan tenaga berpengaruhterhadapprodusigaram di KabupatenJeneponto ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini yaitu:Untukmengetahuipengaruhluaslahan, modal dan tenaga kerjaterhadapproduksigaram di KabupatenJeneponto.
D. Manfaat Penelitian
1. Sebagai bahan informasi bagi pemerintah Daerah Kabupaten Jeneponto dalam strategi kebijakan dimasa yang akan datang.
2. Sebagai referensi bagi peneliti lainnya yang ingin meneliti masalah yang berkaitan dengan faktor-faktor produksi dan pendapatan petani garam di Kabupaten Jeneponto.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Garam
Dalam ilmu Sains yang tepatnya pada Ilmu Kimia yang dimaksud dengan garam adalah suatu senyawa yang terdiri atas Kation dan Anion seperti Natrium Karbonat (Na Co) dan Natrium Klorida (Na CL).
Secarafisikgaramadalahbendapadatberwarnaputihberbentuk Kristal yangmerupakankumpulansenyawadenganbagianterbesarNatriumChlorida
(>80%) sertasenyawalainnyasepertiMagnesium Chlorida, Magnesium Sulfat, Calcium chloride, dan lain-lain.Garammempunyaisifat/karakteristikHigrokropis yang berartimudahmenyerap air, bulk density (tingkatkepadatan) sebesar 0,8 – 0,9 dantitikleburpadatingkatsuhu 8010C (Burhanuddin,2001).
Dalam pengertian sehari-hari yang dimaksud dengan garam (garam rakyat atau yang lebih dikenal dengan garam dapur) adalah suatu kumpulan senyawa kimia yang diperoleh dari penguapan air laut dengan cara yang lainnya dan banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari sebagai penambah rasa pada makanan dan pengawet pada bahan makanan. Selain itu merupakan bahan penting dalam berbagai macam industri seperti industri logam, industri keramik dan indutri kimia.
Didalam pembuatan garam dengan menggunakan air laut dan sinar matahari ada beberapa faktor utama yang menunjang yaitu:
a. Kondisi tanah yang baik dan tidak berpasir
7
b. Air laut yang dijadikan sebagai bahan baku
c. Kondisi iklim yang cocok untuk dijadikan sumber energi
d. Alat-alat penunjang produksi seperti kipas, pompa air dan lain sebagainya.
1. Macam-macam dan Jenis Garam
Kemudian membahas tentang macam-macam dan jenis garam, dimana ada tiga macam sumber garam yaitu;
1. Brine Salt yaitu garam yang berbentuk dari cairan asin yang diperoleh dari air laut, danau, tanah dain-lain.
2. Rock Salt yaitu garam yang berbentuk gumpalan-gumpalan yang biasanya berada dalam tanahyang merupakan bahan tambang.
3. Suface deposit yaitu garam yang terdapat dipermukaan bumi pada tempat-tempat tertentu, dalam jumlah yang besar.
2. Proses Pembuatan Garam
Proses pembuatan garam pertama-tama membuat pepang, apabila garamnya sudah mengental kemudian, menggunakan kayu atau mereka sebut sebagai padengkang. Yang panjangnya kurang lebih 25 cm.
Kemudian di injak dengan menggunakan kayu tersebut sebagai pegangan agar tanahnya padat. Proses terjadinya garam kurang lebih setengah bulan. Adapun proses pada pembuatan garam/penambakan garam sebagai berikut:
1. Pengeringan lahan
- pengeringan lahan dilaksanakan pada bulan april.
- pengeringan lahan kristalisasi 2. pengolahan air peminian/waduk
- pemasukan air laut kepeminian/waduk.
- pemasukan air laut kelahan kristalisasi.
- pengaturan air di peminian.
3. pengolahan air laut ke tanah - proses pengeringan
- lepas air laut dilakukan pada siang hari dengan ketebalan air 3-5 cm.
4. proses kristalisasi
- pemeliharaan meja bergaram
- aflak (perataan permukaan dasar garam) 5. proses pemungutan
- pemungutan kristal garam dilakukan hati-hati dengan ketebalan air meja 3-5 cm.
- angkutan garam di meja ketimbunan, kemudian diangkut kegudang atau siap untuk proses pencucian.
6. prose pencucian
- pencucian dilakukan untuk meningkatkan kandungan NacL dan mengurangi unsur Mg, Ca, So4 dan kotoran lainnya.
- air pencucian garam semakin bersih dari kotoran maka akan menghasilkan garam yang lebih baik dan bersih.
Pada proses pertambakan garam terdapat pula hambatan atau berbagai pengaruh dari hasil prouksinya seperti:
1. panjang kemarau berpengaruh langsung kepada kesempatan yang diberikan kepada kita untuk membuat garam dengan pertolongan matahari.
2. Curah hujan dan pola hujan distribusinya dalam setahun rata- rata merupakan indikator yang berkaitan erat dengan panjang kemarau yang mempengaruhi daya penguapan air laut.
3. Kecepatan angin, kelembaban udara dan suhu udara sangat mempengruhi kecepatan penguapanair. Di mana makin besar penguapan, maka akan semakin besar pula jumlah kristal garam yang mengendap.
3. Metode pembuatan garam
Metode yang dipakai dalam produksi garam tergantung pada iklim (musim kemarau) dan penyediaan air. Dikenal ada 3 metode, yaitu:
1. Metode portugis atau PT. Garam (Persero)
Metode ini dapat dilaksanakan apabila penyediaan air (volume dan konsentrasinya) memadai dan iklim (musim kemarau) pada daerah tersebut cukup panjang (di atas 5 bulan) serta relatif tidak ada gangguan hujan. Pada metode ini, garam yang di hasilkan kualitasnya pada umumnya sangat baik.
2. Metode Maduris
Metode ini dilaksanakan apabila penyediaan air (volume dan konsentrasinya) kurang memadai dan iklim (musim kemarau) pada daerah tersebut relatif pendek (kurang dari 5 bulan) serta sering ada gangguan hujan. Pada metode ini, garam yang dihasilkan pada umumnya kurang baik. Lay outpegaraman yang cocok untuk metode ini adalah Trap sistem (bertangga) yaitu lahan pemilihan letaknya tepat di atas meja penggaraman.
3. Metode Campuran/Tussen
Metode ini adalah gabungan/campuran dari 2 (dua) metode terdahulu (Portugis dan Maduris) yang dilaksanakan apabila iklim (musim kemarau) tidak menentu. Pada metode ini, garam yang dihasilkan kualitasnya pada umumnya kurang baik. Lay outpegaraman yang cocok untuk metode ini adalah Trap sistem (bertangga).
B. Pengertian Produksi
Dalam teori ekonomi produksi disebutkan bahwa produksi suatu komoditas dapat didorong oleh kekuatan-kekuatan tertentu. Ada empat kekuatan yang berinteraksi dalam menentukan tindakan memaksimumkan keuntungan, yaitu pengetahuan teknis, permintaan produk, suplai faktor (input), dan suplai modal (capital)(soekartawi. 2002).
Pengertian produksi menurut Sudarsono adalah: produksi adalah faktor- faktor produksi yang dibutuhkan untuk memproduksi suatu satuan produksi.
Diantara dua pengertian yang dipaparkan di atas mengenai pengertian produksi dapat disimpulkan bahwa produksi adalah suatu proses dimana mengubah suatu barang (input) sehingga memiliki nilai tambah dan nilai jual yang lebih tinggi, atau mengubah dari barang setengah jadi menjadi barang jadi.
Pengertian lainproduksi, yang dikemukakan oleh Mubyarto adalah sebagai berikut: produksi pertanian adalah hasil yang diperoleh sebagian akibat dari bekerjanya beberapa faktor produksi sekaligus yaitu faktor tanah, modal dan tenaga kerja.
Dengan berbagai pengertian produksi di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa produksi adalah suatu kegiatan dengan tujuan untuk menciptakan hasil yang dicapai/diperoleh sebagai akibat dan bekerjanya beberapa faktor produksi secara bersama-sama,baik usaha industri maupun usaha pertanian.
Dalam peningkatan penggunaan atau pemanfaatan sumber daya yang tersedia dapat memberikan manfaat yang lebih besar terdapat kebutuhan manusia maka diperlukan adanya perubahan sumber daya tersebut melalui proses waktu, tempat, bentuk dimana setiap perubahan itu meliputi penggunaan faktor-faktor produksi (input) sehingga dapat menghasilkan produksi (output).
C. Macam-macam Produksi
Produksi total (total product) adalah banyaknya produksi yang dihasilkan dari penggunaan total produksi. Produksi marjinal satu unit faktorproduksi.
Produksi rata-rata (average product) adalah rata-rata output yang dihasilkan perunit faktor produksi.
a. Produksi Total TP=F (K,L)
Dimana:TP= Produksi total
K= Barang modal (yang dianggap konstan) L= Tenaga kerja/buruh
Secara matematis TP akan maksimum akan apabila turunan pertama dari fungsi nilainya sama dengan nol. Turunan pertama TP adalah MP (persamaan 5.3) maka TP maksimum pada saat MP sama dengan nol.
b. Produksi Marjinal MP=TP=
Dimana: MP=Produksi Marjinal
Perusahaan dapat terus menerus menambah tenaga kerja selama MP>0.
Jika Mp sudah <0, penambahan tenaga kerja justru mengurangi produksi total. Penurunan nilai MP merupakan indikasi telah terjadinya hukum pertambahan hasil yang semakin menurun atau the law of diminishing retun (LDR).
c. Produksi Rata-rata AP=
Dimana:AP=Produksi Rata-rata
AP akan maksimum bila turunan pertama fungsi AP adalah 0 (AP’=0). Dengan penjelasan matematis, Ap maksimum tercapai pada saat AP, dan MP akan memotong AP pada saat nilai AP maksimum. Contoh kasus
usaha tekstil tradisionalyang menggunakan ATBM (alat tenun bukan mesin) berikut ini akan memperjelas lagi.
D. Faktor-faktor produksi
Dalam aktivitas produksinya produsen (perusahaan) mengubah berbagai faktor produksi menjadi barang dan jasa. Berdasarkan hubungannya dengan tingkat produksi, faktor produksi dibedakan menjadi faktor produksi tetap (fixet input) dan faktor produksi variabel (variable input).
Dalam jangka panjang (long Run) dan sangat panjang (very long run) semua faktor produksi sifatnya variabel. Perusahaan dapat menambah atau mengurangi kapasitas produksi dengan menambah atau mengurangi mesin produksi. Dalam konteks manajemen, dalam jangka panjang dan jangka sangat panjang berkaitan dengan ukuran waktu kronologis. Misalnya ada kualifikasi yang menyatakan bahwa jangka panjang berkisar antara 5-25 tahun. Jangka sangat panjang bila waktunya lebih dari 25 tahun.
Faktor produksi tetap adalah faktor produksi yang jumlah penggunaannya tidak tergantung pada jumlah produksi. Ada atau tidak adanya kegiatan produksi, faktor produksi itu tetap harus tersedia. Mesin-mesin pabrik adalah salah satu contoh. Sampai tingkat interval produksi tertentu jumlah mesin tidak perlu ditambah. Tetapi jika tingkat produksi menurun bahkan sampai nol unit (tidak produksi), jumlah mesin tidak bisa dikurangi.
Jumlah penggunaan faktor produksi variabel tergantung pada tingkat produksi-nya. Makin besar tingkat produksi, makin banyak faktor produksi
variabel yang digunakan. Begitu juga sebaliknya. Buruh harian lepas dipabrik rokok adalah contoh-nya. Jika perusahaan ingin meningkatkan produksi, maka jumlah buruan hariannya ditambah. Sebaliknya jika ingin mengurangi produksi, buruh harian dapat dikurangi.
Dari pengertian produksi yang telah dikemukakan bahwa produksi tanah adalah perpautan iput-input atau kombinasi faktor-faktor produksi dalam proses produksi, baik itu dibidang industri, pertanian, jasa dan lain-lain.
Adapun faktor yang dapat mempengaruhi peningkatan produksi sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya bahwa produksi sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya bahwa produksi adalah merupakan kombinasi dari berbagai faktor produksi. Dalam hal ini faktor-faktor yang mempengaruhi dalam peningkatan produksi pertanian adalah:
a. Tanah b. Tenaga kerja
c. Biaya barang modal
Ketika faktor produksi tersebut merupakan kesatuan yang sulit dipisahkan dalam suatu sistem usaha tani. Apabila dari salah satu ketiga dari faktor produksi tersebut tidak ada, maka tidak akan memberikan hasil yang diinginkan atau optimal karena ketiga faktor produksi yang utama tersebut dapat menentukan produksi yang akan dicapai.
Dari ketiga faktor inilah, manusia merupakan faktor penentu utama, karena yang mengendalikan faktor lain adalah unsur manusia. Pada hakekatnya.
Manusialah yang produktif. Namun demikian, sekalipun ada tenaga kerja atau
manusia, tanpa didukung oleh faktor lain seperti modal, bahan atau peralatan, maka kegiatan produksi pun tidak terwujud.
Untuk lebih jelasnya dibawah ini akan diuraikan masing-masing faktor produksi didalam menentukan hasil yang dicapai dalam proses produksi, utamanya dalam produksi usaha tani berikut :
1. Tanah
Sifat porositas tanah mempengaruhi kecepatan perembesan (kebocoran) air laut kedalam tanah yang dipeminihan ataupun di meja.
Jika kecepatan perembesan ini lebih cepat dari kecepatan penguapan, apalagi bila terjadi hujan selama pembuatan garam, maka tidak akan dihasilkan garam. Jenis tanah juga mempengaruhi warna dan kemurnian (impurity) yang terbawa oleh garam yang dihasilkan.
Hampir semua jenis produksi, tanah merupakan sumber daya yang paling utama, khususnya produksi hasil pertanian. Oleh sebab itu maka tanah merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting atau faktor produksi yang paling mendasar, sebagaimana yang dikemukakan oleh Mubyarto bahwa tanah sebagai salah satu faktor produksi, adalah merupakan pabriknya hasil-hasil pertanian yaitu dimana produksi berjalan dan dari produksi keluar.
Keberadaan faktor produksi tanah, tidak hanya dilihat dari segi luas atau sempitnya saja. Tetapi juga dari segi yang lain, seperti jenis tanah, macam penggunaan lahan (tanah swah, tegalan, dan sebagainya), topografi
(tanah dataran tinggi, rendah, dan dataran pantai), pemilikian tanah, nilai tanah, fragmentasi tanah, dan konsolidasi tanah.
2. Modal
Yang dimaksud dengan modal adalah barang-barang atau peralatan yang dapat digunakan untuk melakukan proses produksi. Modal dpat digolongkan berdasarkan sumbernya, bentuknya, berdasarkan pemilikan, serta berdasarkan sifatnya. Berdasarkan sumbernya, modal dapat dibagi menjadi dua: modal sendiri dan modal asing. Modal sendiri adalah modal yang berasal dari dalam perusahaan sendiri. Misalnya setoran dari pemilik perusahaan. Sementara itu, modal asing adalah modal yang bersumber dari luar perusahaan. Misalnya modal yang berupa pinjaman bank.
Menurut Von Bohm Bawerk, arti modal atau capital adalah segala jenis barang dihasilkan dan dimiliki masyarakat, disebut kekayaan masyarakat. Sebagaian kekayaan itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan sebagian lagi digunakan untuk memperoduksi barang-barang baru dan inilah yang disebut modal masyarakat atau modal sosial. Jadi, modal adalah setiap hasil produk atau kekayaan yang digunakan untuk memproduksi hasil selanjutnya.
Modal dapat dibagi menjadi dua, yaitu Modal tetap adalah barang yang digunakan dalam proses produksi yang dapat digunakan beberapa kali, meskipun akhirnya barang-barang modal itu habis juga, tetapi tidak sama sekali terhisap dalam hasil. Modal bergerak adalah barang-barang
yang digunakan dalam proses produksi, misalnya bahan mentah, pupuk, bahan bakar, dan lain-lain.
Berdasarkan bentuknya, modal dibagi menjadi modal konkret dan modal abstrak. Modal konkret adalah modal yang dapat dilihat secara nyata dalam proses produksi. Misalnya mesin, gedung, mobil, dan peralatan. Sedangkan yang dinaksud dengan modal abstrak adalah modal yang tidak memiliki bentuk nyata, tetapi mempunyai nilai bagi perusahaan. Misalnya hak paten, nama baik, dan hak merek.
Berdasarkan pemilikannya, modal dibagi menjadi modal individu dan modal masyarakat. Modal individu adalah modal yang sumbernya dari perorangan dan hasilnya menjadi sumber pendapatan dari pemiliknya.
Contohnya adalah rumah pribadi yang disewakan atau bunga tabungan di bank. Sedangkan yang dimaksud dengan modal masyarakat adalah modal yang dimiliki oleh pemerintah dan digunakan untuk kepentingan umum dalam proses produksi. Contohnya adalah rumah sakit umum milik pemerintah, jalan, jembatan, atau pelabuhan.
3. Tenaga kerja
Tenaga kerja merupakan faktor produksi insani yang secara langsung maupun tidak langsung menjalankan kegiatan produksi. Faktor produksi tenaga kerja juga dikategorikan sebagai faktor produksi asli. Dalam faktor produksi tenaga kerja, terkandung unsur fisik, pikiran serta kemampuan yang dimiliki oleh tenaga kerja. Oleh karena itu, tenaga kerja dapat
dikelompokkan berdasarkan kualitas (kemampuan dan keahlian) dan berdasarkan sifat kerjanya.
Dalam ilmu ekonomi, yang dimaksud tenaga kerja adalah suatu alat kekuatan fisik dan otak manusia, yang tidak dapat dipisahkan dari manusia dan ditujukandan pada usaha produksi.
Berdasarkan kualitasnya, tenaga kerja dapat dibagi menjadi tenaga kerja terdidik, tenaga kerja terampil, dan tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih. Tenaga kerja terdidik adalah tenaga kerja yang memerlukan pendidikan tertentu sehingga memiliki keahlian dibidangnya, misalnya dokter, akuntan, dan ahli hukum. Tenaga kerja terampil adalah tenaga kerja yang memerlukan kursus atau latihan bidang-bidang keterampilan tertentu sehingga terampil dibidangnya. Misalnya tukang listrik, montir, tukang lasm dan sopir. Sementara itu, tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih adalah tenaga kerja yang tidak membutuhkan pendidikan dan latihan dalam menjalankan pekerjaannya. Misalnya tukang sapu, pemulung dan lain-lain.
E. Biaya Produksi
a. Biaya Total Jangka Pendek
Biaya ini mencakup biaya eksplisit maupun biaya implisit. Biaya eksplisit merupakan pengeluaran aktual yang dikeluarkan perusahaan untuk membeli dan menyewa input yang diperlukan. Biaya implisit merupakan nilai input yang dimiliki dan digunakan oleh perusahaan dalam proses produksinya.
Dalam jangka pendek, satu atau lebih (tetapi tidak sama) faktor produksi jumlahnya adalah tetap. Biaya Tetap Total (TFC) mencerminkan seluruh kewajiban atau biaya yang ditanggung oleh perusahaan per unit waktu atas semua input tetap. Biaya Variabel Total (TVC) adalah seluruh biaya yang ditanggung oleh perusahaan per unit waktu atas semua input variabel yang digunakan. Biaya Total (TC) adalah TFC ditambahTVC.
b. Biaya Rata-rata Jangka Panjang
Kita mendefinisikan jangka panjang sebagai periode waktu yang cukup panjang sehingga memungkinkan perusahaan untuk mengubah jumlah semua input yang digunakan. Jadi, di dalam jangka panjang tidak ada faktor produksi tetap dan tidak ada biaya tetap, dan perusahaan dapat mengembangkan skala operasinya pada berbagai tingkatan. Kurva biaya rata-rata jangka panjang (LAC) menunjukkan biaya produksi per unit minimum untuk setiap tingkat output pada setiap skala operasi yang diinginkan.
F. Pengertian Pendapatan
Pembangunan ekonomi maupun pertumbuhan ekonomi mengandung pengertian adanya pertambahan hasil produksi atau incomeperkapitamasyarakat dalam suatu perekonomian.Pembangunan ekonomi perlu dipandang sebagai kenaikan didalam pendapatan perkapita karena itu merupakan suatu pencerminan timbulnya perbaikan dalam kesejahteraan ekonomi masyarakat.Tingkat
kemakmuran suatu Negara biasanya diukur dengan Gross National Produk (GNP) yaitu produk yang dihasilkan dan tingkat pendapatan.
Menurut Munawir, pendapatan meliputi sumber-sumber ekonomi yang diterima oleh perusahaan dari transaksi penjualan barang dalam penyerahan bahan terhadap pihak lain. Sukirno mengatakan, pendapatan merupakan istilah yang menerangkan barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksilkan kesuatu Negara dalam kurun waktu tertentu.
Sementara itu Boeediyono, mendefenisikan pendapatan yaitu sebagai saluranm penerimaan baik berupa uang maupun barang, baik dari pihak lain maupun pihak sendiri dengan jalan dinilaidengan jumlah uangatau jasa atas dasar harga yang berlaku pada saat itu.
Defenisi pendapatan menurut Christopher dan Bryan lowes, uang yang berbentuk upah, gaji, sewa, bunga, komisi, ongkos dan laba bersama juga dengan bantuan, tunjangan pengangguran pension, usia lanjut dll.
1. Macam-macam Pendapatan
Dalam hal ini departemen pendidikan membedakan pendapatan antara lain;
a. Pendapatan yang diterima pegawai, karyawan-karyawati atau orang lain secara teratur karena suatu pekerjaan atau jabatan. Pendapatan itu dapat berupa gaji, upah, honorarium, uang lembur, premi atau tunjangan untuk keluarga, tunjangan jabatan dan pembayaran lain sejenis dengan nama apapun.
b. Pendapatan yang diterima oleh pegawai, karyawan-karyawati atau orang lain yang tingkat pemberiaannyaitu tidak tetap dan biasanya diberikan sekali saja dalam setahun. Pendapatan tersebutdapat berupa jasa produksi, bonus, tunjangan hari raya (THR), premi dan pendapatan yang sejenisnya.
Disisi lainMunawir berpendapat bahwa pendapatan timbul diakibatkan oleh beberapa hal seperti;
1. penyerahan barang atau penjualan 2. penyerahan jasa
3. penggunaan aktiva perusahaan oleh pihak lain yang menghasilkan;
a. pendapatan biaya b. pendapatan deviden
c. pendapatan royalty atau sewa
4. pendapatan dari penghentian aktiva selain barang dengan tidak termnasuk sebagai pendapatan adalah aktiva-aktiva yang didapat dari transaksi pembelian, penarikan piutang, setoran modal pemilik, kenaikan nilai aktiva perusahaan yang berasal dari penilaiaan kembali (revalusi) penyesuaian modal.
Menurut na’im pendapatan adalah;
1. suatu aliran masuk asset netto sebagai hasil dari penjualan atau jasa.
2. Suatau aliran keluar atau jasa oleh suatu perusahaan atau langganannya.
3. Pendapatan dari hasil penciptaan barang atau jasa adalah suatu perusahaan pada satu periode tertentu.
Dari kedua pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa pendapatan merupakan banyaknya penerimaan yang diterima dari hasil memproduksi barang-barang atau jasa baik dikalangan sendiri ataupun pihaklain pada masa tertentu dinilai dari mata uang.
Untuk menstabilkan pendapatan produsen hasil pertanian berbagai Negara banyak melalui campur tangan pemerintahdalam pemantauan produksi dan harga. Campurtangn tersebut menurut sukirno, dapat dikatakan dengan beberapa cara;
1. membatasi atau menentukan quota tingkat produksi yang dapat dilakukan tiap-tiap produsen.
2. Melakukan pembelian-pembelian barang yang ingin distabilkan harganya dipasaran bebas.
3. Memberikan subsidi kepada para produsen apabila harga pasar adalah lebih rendah daripada harga yang dianggap sesuai dengan pemerintah.
Di sisi lain Na’im, berpendapat ada 2 cara menstabilkan harga barang atau jasa dari hasil pertanian guna menjaga hasil pendapatan para petani;
1. Menjaga jumlah produksi
Untuk menjaga agara produksi mencapai tingkat yang berlebihan sehingga menimbulkan masalah-masalah yang menyebabkan kemerosotan pendapatan produsen, hasil pertamnian, pemerintah dapat membatasi jumlah produksi yang ditetapkan oleh produsen.kebijakan membatasi produksi kalau dibandingkan dengan penentuan produksi dengan pasar bebas, akan menimbulkan dua macam perubahan.
Dalam kebijakan ini menurut Sukirno, ada dua cara menganalisis campur tangan pemerintah yaitu;
1. Harga barang yang akan naik.
2. Jumlah yang diproduksi dan dijual para petani 3. Campur tangan dalam jual beli
Cara lain yang dapat dilakukan pemerintah untuk menstabilkan harga agar petani menerima hargayang wajar yaitu dengan melakukan jual beli hasil pertanian yang harganya distabilkan. Untuk melaksanakan campur tangan ini pemerintah perlu mendirikan badan yang akan melakukan jual beli barang dan menyimpan stock barang tersebut yang akan diperjual belikan.
Menurut Sukirno ada 2 cara menganalisis campur tangan pemerintah yaitu;
1. Pemerintah menstabilkan harga pada tingkat yang ditentukan pasar.
2. Pemerintah menstabilkan harga pada tingkat yang lebih tinggi dengan keseimbangan pasar bebas.
2. Distribusi Pendapatan
Penghapusan kemiskinan dan berkembangnya ketidak merataan distribusi pendapatan merupakan inti dari proses pembangunan.
Meskipun titik perhatian kita ada masalah ketidakmerataan seringkali tercurah pada masalah ketidakmerataan distribusi pendapatan dan kekayaan, hal tersebut merupakan bagian kecil dari masalah ketidak merataan.Misalnya, ketidakmerataan kekuasaan, prestasi, kepuasan kerja, tingkat partisipasi, dan kebebasan untuk memilh.
Sebuah cara yang paling sederhana untuk menganalisi masalah distribusi pendapatan dan kemiskinan adalah dengan menggunakan analisis kurva kemungkinan produksi (production possibility curve = PPC). Atau batas kemungkinan produksi (production possibility flontier
= PPF). Untuk menggambarkan analisis tersebut, produksi barang dalam sebuah perekonomian dibagi menjadi 2 jenis baran, masing-masing adalah;
1. Barang-barang kebutuhan pokok(necessitygoods), seperti makanan pokok, pakaian, perumahan, dll.
2. Barang-barang mewah seperti mobil mewah, televise, pakaian mewah dll.
Pendapatan (income) adalah adalah total penerimaan (uang dan bukan uang) seseorang atau suatu rumah tangga selama periode
tertentu.Pendapatan merupakan konsep aliran (flow cocept) ada 3 sumber penerimaan untunk rumah tangga yaitu;
1. Gaji damn upah adalah adalah balas jasa terhadap kesediaan menjadi tenga kerja. Besar gaji atau upah seseorang secara teoritis sangat tergantung dari produktivitasnya. Ada beberapa factor yang mempengaruhi produktivitas, yaitu;
a. keahlian(skill) adalah kemampuan teknis yang dimilki seseorang untuk mampu menangani pekerjaan yang dipercayakan.akan tinggi jabatan seseorang, keahlian yang dibutuhkan makin tinggi,karena itu gaji atau upahnya makin tinggi.
b. Mutu modal manusia (Human Capital)adalah kapasitas pengetahuan, keahlian dan kemampuan yang dimiliki seseorang, baik karena bakat bawaan maupun hasil pendidikan dan pelatihan.
c. kondisi kerja (working condutions) adalah lingkungan dimana seseorang bekerja. Penuh resiko atau tingkat kondisi kerja makin berat, bila resiko kegagalan bila resiko kegagalan dan kecelakaan makin tinggi. Untuk pekerjaan makin berisiko tinggi upah atau gaji makin besar, walaupun tingkat keahlian yang dibutuhkan tidak jauh berbeda.
2. Pendapatan dari asset produktif
Asset produktif adalah asset yang memberikan pemasukan atau balas jasa penggunaannya.Ada dua kelompok asset produktif, pertama
asset finansial (finansial assets), seperti deposito yang menghasilkan pendapatn bunga, saham yang menghasilkan deviden dan keuntungan atas modal (capital Gain) bila diperjual belikan.Kedua asset bukan finansial (real assets), seperti rumah yang memberikan penghasilan sewa.
3. pendapatan dari pemerintah (transfer payment)
Pendapatan dari pemerintah atau penerimaan transfer (transfer payment) adalah pendapatan uyang diterima bukan sebagai balas jasa atau input yang diberikan. Di Negara-negara yang telah maju, penerimaan transfer diberikan, misalnya dalam bentuk tunjangan penghasilan bagi para penganggur (unemployment compentatin), jaminan bagi orang-orang miskin dan pendapatan rendah.
G. Kerangka Pikir
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor produksi untuk meningkatkan pendapatan petani garam di Kabupaten Jeneponto seperti terlihat pada gambar.
Gambar 1 Kerangka pikir
H. Hipotesis
Berdasarkan teori ekonomi dan penelitian terdahulu, maka hipotesis yang diajukan untuk diteliti adalah:Didugaadapengaruhluaslahan, modal dan tenaga kerjaterhadapproduksigaram di KabupatenJeneponto.
(Tanah)X1
(Modal)X2
(Tenaga Kerja)X3
(Produksi Garam)Y
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada ladang Penggaraman di Kabupaten Jeneponto merupakan salah satu daerah sentra pengembangan produksi garam di Sulawesi Selatan. Adapun target waktu penelitian yaitu selama dua bulan.
B. Tehnik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui metode pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Oleh karena itu, untuk mendapatkan data sesuai dengan yang diinginkan, maka penulis melakukan penelitian dengan menggunakan dua metode pengumpulan. Yaitu Penelitian Kepustakaan (Library Research) yaitu teknik pengumpulan data dengan membaca dan menelusuri sejumlah literatur yang berhubungan dengan pembahasan skripsi ini. Penelitian lapangan (Field Research), yaitu teknik pengumpulan data dengan melakukan penelitian di lapangan untuk mendapatkan data-data konkrit yang berkaitan dengan skripsi ini.
Dalam pengumpulan data di lapangan, penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data sebagai berikut:
29
1. Wawancara, yakni metode untuk mendapatkan data dengan cara memberikan pertanyaan-pertanyaan secara langsung kepada pihak yang bersangkutan guna mendapatkan data dan keterangan yang menunjang analisis dalam penelitian.
2. Observasi, yakni proses pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan langsung pada objek yang diteliti dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang jelas mengenai masalah faktor-faktor produksi dan pendapatan petani garam di Kabupaten Jeneponto.
3. Dokumentasi, yakni suatu metode pengumpulan data dengan cara membuka dokumen-dokumen atau catatan-catatan yang berhubungan dengan masalah faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dan pendapatan petani garam di Kabupaten Jeneponto.
C. Populasi dan Sampel
Dalam melakukan penelitian selalu dihadapkan pada sumber data tertentu yang diharapkan dapat memberikan informasi dan keterangan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.Adapun sumber data dalam penelitian disebut populasi penelitian.Pengertian populasi menurut Husein Umar (2002:136) adalah;
“populasi diartikan sebagaikumpulan elemen yang mempunyai karakteristik tertentu yang sama dan mempunyai kesempatan yang sama dipilih menjadi menjadi anggota sampel.
Adapun pengertian sampel menurut Husein Umar (2002:136) yaitu;
“sampel adalah bagian dari populasi”. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data
jumlah luas lahan petani tambak garam responden yang paling banyakberada pada kisaran 0-190 Are, Yaitu sebanyak 49 responden (49%). Sedangkan yang terendah berada pada kisaran 310-550 Are, Yaitu sebanyak 13 responden (13%).
Sedangkan penggunaan Tenaga Kerja terbanyak pada kisaran 8 ja, yaitu 53 responden (53%). Dengan yang terkecil terdapat pada kisaran 32 orang, yaitu 6 responden (6%). Dan penggunaan modal terbanyak pada kisaran Rp 100.000 - Rp 300.000, yaitu 63 responden (63%). Sedangkan penggunaan modal terendah pada kisaran Rp 700.000 yaitu 6 responden (6 %).
D. Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini dibatasi dengan menganalisis data sekunder kuantitatif tahunan pada rentang waktu antara tahun 2003-2012 dengan pertimbangan ketersediaan data. Data sekunder digunakan karena penelitian yang dilakukan meliputi objek yang bersifat mikro dan mudah didapat. Data tersebut diolah kembali sesuai dengan kebutuhan model yang digunakan. Sumber data berasal dari berbagai sumber, antara lain Statistik Provinsi terbitan Badan Pusat Statistik, dan jurnal-jurnal ilmiah serta literatur-literatur lain yang berkaitan dengan topik penelitian.
E. Metode Analisis
Metode ekonometrik yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode regresi berganda dengan metode kuadrat terkecil sederhana (Ordinary Least Square). Analisis regresi adalah studi ketergantungan dari variabel
dependen pada satu atau lebih variabel lain, yaitu variabel dependen.Dalam analisis ini dilakukan dengan bantuan program spss dengan tujuan untuk mehat pengaruh variabel-variabel independennya terhadap variabel dependennya.
Untuk mengetahui pengaruh variabel faktor tanah (X1), modal (X2), dan tenaga kerja (X3) yang merupakan faktor-faktor produksi terhadap pendapatan petani garam di Kabupaten Jeneponto digunakan persamaan regresi sebagai berikut:
Ln Y = Ln + Ln X1 + Ln X2 + + Ln X3 Dimana:
Y : Pendapatan Petani X1 : Tanah
X2 : Modal X3 : Tenaga Kerja
: Konstanta , , :Parameter
Ln : Logaritma Natural : Error Term
Dalam penelitian ini metode analisis yang digunakan adalah model analisis regresi panel data dengan bantuan software SPSS, dan untuk mengetahui tingkat signifikasi dari masing-masing koefisien regresi variabel independen terhadap variabel dependen maka digunakan uji statistik diantaranya:
1. Analisis Koefisien Determionasi (R2)
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui besarnya proporsi sumbangan pengaruh dari variabel bebas (Faktor Produksi) terhadap variabel terikat (Pendapatan Petani). Semakin besar R2 maka semakin kuat pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat.
2. Analisis Koefisien Korelasi (R)
Analisis koefisien korelasi digunakan untuk menunjukkan keeratan hubungan antara variabel bebas *Faktor Produksi) terhadap variabel terikat (Pendapatan Petani).
3. Uji Statistik t
Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel bebas secara sendiri-sendiri mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat. Dengan kata lain, untuk mengetahui apakah masing-masing variabel independen dapat menjelaskan perubahan yang terjadi pada variabel dependen secara nyata. Dimana jika thitung>ttabel Hi diterima (signifikan) dan jika thitung< ttabel Ho diterima (tidak signifikan).
Uji t digunakan untuk membuat keputusan apakah hipotesis terbukti atau tidak, dimana tingkat signifikan yang digunakan yaitu 5%.
4. Uji Statistik F
Uji ini digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara signifikan terhadap variabel dependen. Dimana jika Fhitung< Ftabel, maka Ho diterima atau variabel independen secara bersama-sama tidak memiliki pengaruh terhadap variabel dependen (tidak signifikan) dengan
kata lain perubahan yang terjadi pada variabel terikat tidak dapat dijelaskan oleh perubahan variabel independen, dimana tingkat signifikan yang digunakan yaitu 5%. Untuk mengetahui apakah semua variabel penjelas yang digunakan dalam model regresi secara serentak atau bersama-sama berpengaruh terhadap variabel yang dijelaskan, digunakan uji statistik F, hipotesis yang digunakan adalah:
semua variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen secara bersama-sama.
semua variabel independen mempengaruhi variabel dependen secara bersama-sama.
Pada tingkat signifikan 5% dengan kriteria pengujian yang digunakan sebagai berikut:
1. diterima dan ditolak apabila Fhitung< Ftabel, atau jika probabilitas Fhitung> tingkat signifikasi 0,05 maka ditolak, artinya variabel penjelas secara serentak atau bersama-sama tidak mempengaruhi variabel yang dijelaskan secara signifikan.
2. ditolak dan diterima apabila Fhitung> Ftabel, atau jika probabilitas Fhitung< tingkat signifikasi 0,05 maka ditolak, artinya variabel penjelas secara serentak atau bersama-sama mempengaruhi variabel yang dijelaskan secara signifikan.
F. Defenisi Operasional
Penelitian ini menggunakan satu variabel dependen dan tiga variabel indenpenden. Defenisi operasional masing-masing variabel dalam penelitian ini adalah sebagaio berikut:
1. Variabel produksi, yaitu penduksi garam adalah total jumlah produksi garam dalam satu musim.
2. Tanah, yaitu jumlah uang yang harus dikeluarkan dalam menyelenggarakan faktor-faktor alam untuk memproduksi atau menghasilkan garam yang dihitung dalam satuan rupiah per bulan.
3. Modal adalah sejumlah uang yang harus dikeluarkan untuk membiayai produksi garam dalam satu musim.
4. Tenaga kerja, faktor tenaga kerja yang digunakan dalam penelitian ini yaitu upah atau gaji yang dikeluarkan untuk membayar tenaga kerja yang diperlukan untuk memproduksi atau menghasilkan garam.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
a. Perkembangan Luas Lahan Pertanian Garam
Luas lahan (tanah) merupakan faktor produksi yang menentukan uasa tambak garam yang akan dihasilkan dalam menganalisa bidang lahan, terlihat dengan berbagai macam hal seperti keadaan tanah dan juga letak tanah, setiap usaha tambak garam memiliki hubungan positif terhadap produksi perhektar. Tingkat keadaan tanah yang kurang baik akan memberikan hasil yang rendah pula. Optimalisasi produksi perlu ditunjang oleh adanya lahan yang menjadi faktor utama dan luas lahan yang sangat menentukan tingkat produksi garam.
Perkembangan luas area tambak garam di Kabupaten Jeneponto nenunjukkan perkembangan yang cukup baik yang sangat berpengaruh pada produksi garam di Kabupaten Jeneponto. Perkembangan luas area produksi tambak garam salah satunya di sebabkan karena harga komoditas garam yang menunjukkan peningkatan dari tahun ketahun dan produksi garam yang bertumpu pada musim kemarau> selain itu kemampuan para petambak garam semakin meningkat dalam mengelola tambak garam secara baik dan benar dengan adanya pelatihan oleh pihak pemerintah untuk mengetahui perkembangan luas lahan yang digunakan petani sebagai tambak garam di Kabupaten Jeneponto dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut:
36
Tabel 4.1 Luas Areal Tambak Garam di Kabupaten JenepotoTahun2003-2012
No Tahun Luas Lahan
(Ha)
Pertumbuhan (%)
1 2003 565,63 -
2 2004 549,55 -1,6
3 2005 549,55 0
4 2006 551,55 2
5 2007 506,65 -44,9
6 2008 556,55 47,5
7 2009 556,55 0
8 2010 556,55 0
9 2011 591,56 35,01
10 2012 591,56 0
Pada tabel 4.1 terlihat bahwa luas lahan yang digunakan sebagai tambak garam di Kabupaten Jeneponto dari tahun 2003-2012 luasnya mengalami perubahan yang cukup signifikan. Pada tahun 2004 sampai dengan tahun 2006 mengalami peningkatan luas lahan tambak Garam pada angka 591,56 Hektar.
Lahan tambak garam pada lokasi penelitian sebagian besar merupakan lahan sewa dan sebagian kecil merupakan milik lahan sendiri, untuk mengetahui luas lahan petani responden di Kabupaten Jeneponto, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tael 4.2 Jawaban Responden Terhadap Luas Lahan di Kabupaten Jeneponto Tahun 2013
Luas Lahan Garapan (Are)
Jumlah Responden (Keluarga)
Presentase (%)
0-190 49 49
200-300 38 38
310-550 13 13
Total 100 100
Pada tabel 4.2 terlihat bahwa luas lahan garapan petani tambak garam responden yang paling banyak berada pada kisaran 0-190 are, yaitu sebanyak 49 responden (49%), sedangkan yang terendah 310-550 are yaitu sebanyak 13 responden (13%)
b. Tenaga Kerja Tambak Garam
Setiap usaha pertanian yang akan dilaksanakan pasti memerlukan tenaga kerja. Oleh karena itu dalam analisa ketenagakerjaan dibidang pertanian khususnya tambak garam, penggunaan tenaga kerja dinyatakan oleh besarnya curahan tenaga kerja. Curahan tenaga kerja yang dipakai adalah besarnya tenaga kerja efektif yang terpakai. Tenaga kerja merupakan faktor produksi dalam proses produksi pertanian dalam hal ini produksi tambak garam. Kabupaten Jeneponto sebagai daerah agraris dimana sebagian besar penduduknya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian tambak garam.
Untuk mengetahui perkembangan tenaga kerja sektor pertanian tambak garam di Kabupaten Jeneponto dapat dilihat pada tabel 4.5.
berikut:
Tabel 4.3 Perkembangan Tenaga Kerja Petani Tambak Garam di Kabupaten Jeneponto, Tahun 2003-2012
No Tahun Tenaga Kerja
(Orang)
Pertumbuhan (%)
1 2003 2.174 -
2 2004 2.097 -77
3 2005 2.126 29
4 2006 2.132 14
5 2007 2.152 20
6 2008 2.132 -20
7 2009 2.125 -7
8 2010 2.162 37
9 2011 2.275 16
10 2012 2.278 0
Pada tabel 4.3 terlihat bahwa tenaga kerja pada sektor pertanian khususnya usaha tani garam di Kabupaten Jeneponto dari tahun 2003-2012 mengalami fluktuasi (naik turun) dalam hal kuantitas tenaga kerja. Pada tahun 2003 jumlah tenaga kerja untuk usaha tani tambak garam sebesar 2.174 oarang. Namun tahun 2004 jumlah tenaga kerja pada tambak garam mengalami penurunan sebesar 2.097 jiwa. Tahun 2005-2007 mengalami peningkatan jumlah tenaga kerja pada tambak garam sebesar 2.152 jiwa.
Namun ditahun 2008 jumlah tenaga kerja pada tambak garam kembali
mengalami penurunan yaitu sebesar 2.132 jiwa, tahun 2009 turun kembali menjadi 2.125 jiwa. Lalu pada tahun 2010-2012 terus mengalami peningkatan sebanyak 2.278 jiwa. Fluktuasi tenaga kerja tidak lepas dari jumlah lahan penggaraman yang semakin kurang dari tahun ketahun disebabkan oleh faktor alam, selain itu pula disebabkan karena banyak petani tambak garam yang beralih profesi disebabkan oleh cuaca yang tidak menentu.
Tenaga kerja yang digunakan dalam tambak garam berasal dari dua sumber, yaitu tenaga kerja keluarga dan diluar keluarga (tenaga kerja harian) yang diupah dengan gaji sebesar Rp. 30.000,00 per hari atau tergantung dari jenis pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kerja harian tersebut, sementara tenaga kerja yang berasal yang berasal dari keluarga tidak di gaji harian tetapi mengeluarkan biaya pada saat-saat tertentu.
Untuk melihat jumlah tenaga kerja yang digunakan oleh petani tambak garam responden, dapat dilihat dari tabel berikut:
Tabel 4.4 Jawaban Responden Terhadap Tenaga Kerja yang digunakan Petani TambakGaram di Kabupaten Jeneponto Tahun 2013
Jumlah Tenaga Kerja (Jam Kerja)
Jumlah Responden (Keluarga)
Presentase (%) 8
16 24 32
43 36 15 6
43 36 15 6
Total 100 100
Pada tabel 4.4 dilihat bahwa titik penggunaan tenaga kerja terbanyak pada kisaran 8 jam yaitu 53 responden (53%) dan yang terkecil terdapat pada kisaran 32 orang yaitu 6 responden. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan tenaga kerja dalam bertani tambak garam sangat diperlukan.
Hal ini dikarenakanperawatan petak tempat proses penggaraman itu berlangsung harus dilakukan secara baik agar memperoleh garam yang bermutu. Kemudian ketersediaan air di area penggaraman dimana dalam satu petak itu dibagi beberapa bagian, pertama tempat air dingin yang gunanya menampung air yang baru diangkat dari laut memakai pompa air atau kipas. Bagian kedua yaitu tempat memanaskan air laut, bagian ketiga yaitu tempat memanaskan air laut dengan diameter air yang lebih rendah selanjutnya bagian tempat mengolah air laut yang sudah panas diubah menjadi garam biasanya disebut meja kristal.
c. Modal yang digunakan
Dalam kegiatan bartani tambak garam modal merupakan salah satu faktor yang terpenting dan juga merupakan suatu dasar dalam memulai aktivitas pengolahan lahan garam. Biasanya disini yang dimaksud modal bagi para petani adalah modal awal seperti penyewaan pompa air, biya untuk tenaga kerja, pembelian karung, keranjang, perbaikan gudang penampungan garam, perbaikan alat-alat untuk produksi. Jadi bisa dikatakan penggunaan modal baik secara langsung maupun tidak langsung merupakan salah satu upaya peningkatan produksi. Penggunaan modal untuk petani tambak garam respondsen dapat dilihatr pada tabel berikut:
Tabel 4.5 Jumlah Modal yang digunakan Petani Tambak Garam di Kabupaten Jeneponto Tahun 2013
Jumlah Modal (Rupiah)
Jumlah Responden (Keluarga)
Persentase (%) 100.000-300.000
310.000-690.000 700.000-900.000
63 31 6
63 31 6
Total 100 100
Pada tabel 4.5 terlihat penggunaan modal terbanyak pada kisaran Rp.
100.000 – Rp. 300.000, yatu 63 responden (63%). Sedangkan penggunaan modal terendah pada kisaran Rp. 700.000, yaitu 6 responden atau (6%) dari 100 keluarga petani garam yang diambil sebagai sampel responden.
d. Hasil Pengaruh Luas Lahan, Tenaga Kerja dan Modal Terehadap Produksi Garam di Kabupaten Jeneponto.
Untuk membuktikan hipotesa dalam penuliasan ini, maka dalam pengujian empiris digunakan metode regresi berganda. Metode ini merupakan suatu analisa kuantitatif yang digunakan untuk menghitung koefisien regresi, variasi hubungan variabel bebas dengan variabel terikat secara parsial dan secara simultan.
Adapun variabel yang digunakan dalam perhitungan ini adalah jumlah luas lahan dalam are, jumlah orang yang bekerja dalam sektor tambak garam, nilai nominal modal dalam rupiah dan pendapatan petani dalam nominal rupiah di kabupaten jeneponto.
a. analisis regrasi berganda
analisis regresi linaer berganda digunakan untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dan variabel dependen.persamaan regresi dapat dilihat dari tabel hasil uji coefficients berdasarkan output SPSS versi 17 terhadap keempat variabel independen yaitu tanah,modal dan tenaga kerja terhadap produksi garam ditujukan pada tabel 4.6 berikut:
Tabel 4.6 Hasil Analisis Regresi
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized
coefficients t Sig.
B Std. Error Beta 1 (Constant)
Tanah Modal T. Kerja
73.875 .749 3.361 1.902
10.147 .078 .000 .918
.728 061 .160
7.281 9.593 .820 2.071
.000 .000 .414 .041
Berdasarkan pada tabel 4.6 di atas,terlihat bahwa nilai konstanta a sebesar 73.875 dan koefisien regresi B1749;b23.361;b3 1.91.nilai konstanta dan koefisien regresi (a,b1,b2,b3)ini dimasukkan dalam persamaan regrasi linear berganda berikut ini:
Y=a+b1x1+b2X2+b3X3+ e
Sehingga,persamaan regresinya menjadi sebagai berikut:
P.garam=73.875+749 Tanah-3,361 Modal-1.902 T.kerja+e
Dari persamaan regresi linear berganda diatas, dapat dilihat nilai konstanta sebesar 73.875 berarti jika tanah(x1),modal(x2), dan T.kerja (x3) nilainya 0 atau konstan maka p.garam (Y) nilainya 73.875. apabila koefisien regresi X1 (Tanah) meningkat 1 % dengan asumsi variabel independen lainnya tetap maka Y’(p.Garam) meningkat sebesar 3,049 begitu juga seterusnya dengan variabel independen lainnya (X2X3).
b. pengujian hipotesis
selanjutnya dari persamaan regrasi berganda dilakukan uji statistik dengan prosedur pengujiannya sebagai berikut:
1. uji koefisien determinasi (R2)
Koefisen determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh determinasi (R2) yang mendekati satu berarti variabel-variabel independennya menjelaskan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen.hasil perhitungan koefisien determinasi penelitian ini dapat terlihat pada tabel 4.7 berikut:
Tabel 4.7 Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi (R2)
Model R R
Square
Adicted R Square
Std. Error of theEstimate
Durbin Watson
1 .909a .827 .822 .41.55851 2.030
Berdasarkan Out-put SPSS tampak bahwa dari hasil perhitungan diperoleh nilai koefisien determinasi (R2)sebesar 0,822.dengan kata lain hal ini:menunjukkan bahwa besar presentase variasi produksi garam yang bisa dijelaskan oleh variasi dari keempat variabel bebas yaitu tanah,modal dan tenaga kerja.sebesar 82%,sedangkan sisanya sebesar 18 % dijelaskan oleh variabel-variabel lain diluar variabel penelitian.
2. Uji F(secara simultan)
Uji statistik f pada dasarnya menujukkan apakah semua variabel independen yang di masukkan dalm model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependennya.hasil perhitungan uji f ini dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut :
Tabel 4.8 Hasil Perhitungan Uji F (Secara Simultan)
Model
Sum Of Squares
df Mean Square F Sig
1 Regression Residual
Total
792671.571 165802.539 958474.110
3 96 99
264223.857 17.27.110
152.986 .000
Dari hasil analisis regresi dapat diketahui bahwa secara bersama-sama variabel independen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Hal ini dapat dibuktikan dari nilai F hitung sebesar 152,986 dengan signifikan (sig) sebesar 0,00.karna nilai signifikan(sig)jauh dari 0,05 maka model regresi dapat digunakan untuk prediksi produksi garam atau dapat dikatakan bahwa tanah,modal dan tenaga kerja. Secara bertsama- sama berpengaruh terhadap produksi garam.sehingga bisa dilanjutkan kepengujian selanjutnya.
3. Uji t (secara parsial)
Uji t dilakukan untuk mengetahui pengaruh masing-masing atau secara parsial variabel independen (tanah,modal dan tenaga kerja) terhadap variabel dependen(produksi garam).sementara itu secara parsial pengaruh dari ketiga variabel independen tersebut terhadap produksi garam ditunjukkan pada tabel 4.9 berikut:
Tabel 4.9 Hasil Perhitungan Uji t (Secara Parsial)
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized
Coefficients T Sig B Std. Error Beta
1 (Constant) Tanah
73.875 .749
10.147
.078 .728
7.281 9.593
.000 .000
Modal T. Kerja
3.361 1.902
.000 .918
.061 .160
.820 2.071
.414 .041
pengaruh dari masing-masing variabel, tanah, modal dan tenaga kerja terhadap produksi garam dapat dilihat dari arah tanda dan tingkat signifikasi (probabilitas).ketiga variabel mempunyai arah yang postif.variabel tanah,modaldan tenaga kerja.berpengaruh signifikan terhadap produksi garam karna nilai signifikan <0,05.
Hasil pengujian hipotesis masing-masing variabel independen secara parsial terhadap variabel dependennya dapat dianalisis sebagai berikut:
a. uji hipotesis pengaruh tanah terhadap produksi garam hasil pengujian parsial (uji t) antara variabel hitung sebesar 9,593 koefisien regresi sebesar 749,9 dan nilai probabilitas sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05 hal ini berarti bahwa tanah berpengaruh positif dan signifikan yang menyatakan luas tanah berpengaruh signifika terhadap produksi garam dapat diterimah hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin luas area semakin penggaraman menujukkan bahwa semakin tinggi produksi garam yang dihasilkan .
b. uji hipotesis pengaruh modal terhadap produksi garamhasil pengujian parsial (uji t ) antara variabel modal dengan variabel
produksi garam menujukkan nilai t hitung sebesar 0,820,koefisen regresi sebesar 3,361, dan nilai probabilitas sebesar 0,414 yang lebih besar dari 0,05 hal ini berarti bahwa modal berpengaruh signifikan terhadap produksi garam tidak dapat diterima.
c. uji hipotesis tenaga kerja terhdap produksi garam hasil pengujian parsial (uji t) antara variabel tenaga kerja dengan variabel produksi garam melanjutka nilai t hitung sebesar 2,071, koefisen regresi sebesar 1.902 dan nilai probabilitas sebesar 0,041 yang lebih besar dari 0,05 hal ini berarti bahwa tenaga kerja memiliki pengaruh tidak signifikan dan positif terhadap produksi garam pada ladang garam di Kabupaten Jeneponto.sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa faktor produksi tenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap produksi garam tidak dapat diterima.
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil analisis data sekunder kuantitatif tahunan, dapat dilihat pada tabel 4.1 dapat dilihat bahwa luas area tambak garam di Kabupaten Jeneponto dari tahun 2003-2012 luasnya mengalami perubahan yang cukup signifikan. Pada tahun 2006 mengalami peningkatan luas lahan tambak garam pada angka 591,56 hektar.pada tabel 4.3 terlihat bahwa tenaga kerja pada usaha tambak garam di Kabupaten Jeneponto dari tahun 2003-2012 mengalami fluktuasi (naik turun) dalam hal kuantitas