BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Garam sebagai komoditas produk kelautan mempunyai peranan penting dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam sektor industri. Kebutuhan garam nasional dari tahun ketahun semakin meningkat seiring dengan bertambahnya penduduk dan berkembangnya industri di Indonesia pada tahun 2000, kebutuhan garam nasional berkisar 855.000-950.000 ton/tahun untuk kebutuhan konsumsi dan 1.150.000-1.345.000 ton/tahun untuk kebutuhan industri. Sehingga total kebutuhan garam 2.100.000-2.200.000 ton/tahun sedangkan produksi garam 900.000 ton/tahun.
Kebutuhan akan garam pada tahun 2008 mencapai 2.790.000 ton/tahun yang terdiri dari garam konsumsi 1.120.000 ton dan kebutuhan industri 1.670.000 ton, produksi garam nasional sebesar 1.200.000 ton sehingga untuk memenuhi kebutuhan tersebut harus mengimpor sebesar 1.630.000 atau 157,89% (Jati dan Purwoko, 2009). Dengan kekurangan produksi garam nasional akan membuka lahan baru untuk tambak garam, sedangkan menurut Manning dan Jayasura dalamSugiarto (2008). Lambatnya peningkatan produktivitas tenaga kerja adalah lambatnya peningkatan upah riil buruh pertanian.
Saat ini luas tambak garam di Indonesia 30.685 hektar terdiri dari luas penggaraman rakyat seluas 25.542 hektar dengan produktivitas minimum 40 ton/hektar/tahun dan luas penggaraman yang dikelola PT. Garam (persero) seluas
1
5.116 dengan produktivitas maksimum 60 ton/hektar (Sumahamijaya, 2009).
Sampai tahun 2030 kebutuhan garam nasional diperkirakan mencapai 5.190.625 ton yang terdiri dari industri cap (chiore alkali) 3.329.280 ton garam rumah tangga 910.718 ton dan pembersih 956.628 ton. Apabila produktivitas garam nasional tidak ada peningkatan maka Indonesia akan terus menjadi negara pengimpor garam.
Garam adalah sebuah komoditas yang seringkali terlupakan dan dipandang bukan merupakan komoditas yang populer dalam kebijakan pemerintah. Padahal apabila dilihat lebih jauh garam merupakan komoditas pelengkap yang tidak saja diperlukan bagi kebutuhan konsumsi namun juga untuk kebutuhan industri.
Sehingga dengan demikian kebutuhan akan garam dapat diklasifikasikan menjadi kebutuhan untuk konsumsi dan kebutuhan untuk industri. Tercatat kebutuhan garam dalam negeri untuk kebutuhan konsumsi dan industri pada tahun 2010 sebesar 2,985 juta ton. Sedangkan produksi garam dan baik oleh rakyat maupun oleh PT. Garam (sebagai satu-satunya BUMN yang memproduksi garam) adalah sebesar 1,4 juta ton. Sedangkan sisanya sebesar 1,585 juta ton masih dipenuhi dari impor.
Kebutuhan tersebut diperkirakan meningkat dimana pada 2011 diperkirakan mencapai 3,402 juta ton yang terdiri atas 1,6 juta ton garam untuk keperluan industri. Sedangkan produksi garam nasional tahun ini diperkirakan hanya mencapai 1,3 juta ton. Sehingga kekurangan dari kebutuhan tersebut pastinya akan dipenuhi dari import.
Hal ini tentu sangat ironis mengingat Indonesia adalah negara maritim yang kaya dengan sumber daya dan memiliki sejarah kejayaan akan garam ini.
Tidak mengherangkan jika kemudian pemerintah melalui kementerian kelautan dan perikanan mencetuskan pencapaian swasembada garam konsumsi pada tahun 2012 dan garam industri tahun 2015.
Awal pencetusan swasembada garam adalah dilatarbelakangi tujuan (1) memenuhi kebutuhan garam nasional baik garam konsumsi maupun garam industri yang belum bisa terpenuhi. Perlu diingat bahwa pemenuhan kebutuhan garamini bukan saja berkaitan dengan kuantitas namun juga dengan kualitas (terutama yang diperlukan industri). (2) menghentikan atau paling tidak mengurangi jumlah import garam nasional yang sedikitnya menyerap devisa sekitar $100juta/tahun. (3) adanya manfaat efek ganda (multipliereffect) dari usaha penggaraman yang sangat tinggi. Efek ganda ini terkait engan jalannya kegiatan ekonomi (baik pada aktivitas di lahan, transportasi, pemasaran atau industri). (4) mendukung pencapaian kualitas kesehatan masyarakat (pemenuhan kebutuhan garam konsumsi beriodium penduduk yang masih 72,81%).
Beberapa hal yang menjadi penghambat itu terjadi mulai dari sektor hulu hingga hilir dalam usaha pegaraman. Jika dikaji lebih mendalam permasalahan pegaraman ini salah satunya adalah permasalahan teknis produktivitas dan kualitas garam masih rendah yang dikarenakan: teknologi yang dipergunakan masih sederhana, adanya degradasi kuantitas dan kualitas lahan, iklim dan skala usaha.
Maka pemerintah dalam paparannya mengungkapkan 5 isu strategis dalam mewujudkan swasembada garam. Salah satu isu strategis itu yang terkait dalam upaya produksi secara langsung diungkapkan bahwa infrastruktur dan fasilitas produksi rendah, pengelolaan lahan potensial pegaraman masih 20.089 Ha dari lahan potensial seluas 34.731 Ha lahan yang belum berproduksi. Maka, dalam upaya pemecahan permasalahan guna mencapai swasembada garam ini dilakukan dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi dengan biaya intensifikasi, revitalisasi dan ekstensifikasi lahan pegaraman. Cara atau strategis ini perlu dilakukan secara bijaksana dengan melihat kondisi yang ada di lapangan.
Guna mendorong peningkatan kemampuan pemenuhan kebutuhan garam nasional melalui produksi dalam negeri, pada akhir tahun 2009 pemerintah mencanangkan program swasembada garam nasional. Hal ini dapat dimungkinkan mengingat lahan potensial garam di Indonesia yang tersebar di 8 provinsi (Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Gorontalo dan Sulawesi Utara) luasnya mencapai 34.731 ha, akan tetapi baru sekitar setengahnya yang dimanfaatkan.Kualitas garam yang dihasilkan umumnya juga masih memenuhi Standar Nasonal Indonesia (SNI), demikian juga apabila dibandingkan dengan garam impor. Kualitas garam yang dihasilkan oleh petambak memiliki kadar NaCI dibawah 94%, sedangkan garam konsumsi memerlukan kadar NaCI >
94,7%, garam industri memerlukan kadar NaCI diatas 99% (dry basis).
Distribusi dan pemasaran garam khususnya garam konsumsi selama ini dirasakan kurang efisien, hal ini disebabkan oleh karena penggaraman berada di
pinggir pantai (lokasinya terpencil) dengan konisi sarana dan prasarana yang sangat terbatas.
Faktor tersebut menjadi salah satu penyebab rendahnya harga yang diterima petambak garam, jauh lebih rendah dibandingkan harga di tingkat konsumen. Rendahnya harga di tingkat petambak garam akan menurunkan daya tarik bagi masyarakat/petambak dalam memproduksi garam, hal ini akan berdampak secara nasional atau ketergantungan Indonesia kepada garam impor akan semakin tinggi.
Ketergantungan pada garam impor khususnya untuk keperluan garam konsumsi sangat tidak mendukung ketahanan nasional karena garam nasional adalah komoditi yang secara terus menerus dibutuhkan oleh seluruh masyarakat sehingga apat dikategorikan sebagai komoditi strategis.
Berdasarkan uraian yang dipaparkan diatas maka penulis tertarik untuk membahas “Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Garam di Kabupaten Jeneponto”.