TINJAUAN PUSTAKA
2.4. Kota dan Daerah di Belakangnya
2.4.1. Definisi Kota
Didalam perencanaan wilayah sangat perlu untuk menetapkan suatu tempat pemukiman atau tempat berbagai kegiatan itu sebagai kota atau bukan. Hal ini karena kota memiliki fungsi yang berbeda sehingga kebutuhan fasilitasnyapun berbeda dibanding dengan daerah pedesaan/pedalaman, padahal di pedesaanpun terdapat lokasi permukiman plus berbagai kegiatan non-pertanian seperti perdagangan, warung kopi, tukang pangkas, tukang jahit pakaian, dan lain-lain walaupun dalam jumlah dan intensitas yang kecil dan biasanya hanya ditujukan untuk melayani kebutuhan masyarakat setempat.
Karena fungsinya yang berbeda, maka kebijakan pembangunan pun bisa berbeda antara wilayah perkotaan dengan wilayah pedesaan. Di pedesaan umumnya yang menjadi kegiatan basis adalah sektor penghasil barang (pertanian, industri dan pertambangan). Di perkotaan selain sektor penghasil barang maka sektor perdagangan dan jasa dapat menjadi basis asalkan kegiatan tersebut mendatangkan
uang dari luar wilayah (pelanggannya datang dari luar wilayah). Karena kegiatan sektor penghasil barang, seringkali kegiatannya dibatasi di perkotaan maka kota umumnya mengandalkan kegiatan perdagangan dan jasa sebagai basis utama.
Dengan demikian maka adalah wajar apabila program pemerintah pun seringkali dibedakan antara program untuk perkotaan dan program untuk perdesaan. Namun perlu dicatat disini bahwa sektor perdagangan dan jasa diluar yang melayani pariwisata, bukanlah basis murni. Perkembangan perdagangan dan jasa di perkotaan tergantung pada perkembangan perekonomian wilayah belakangnya. Perkembangan perekonomian wilayah belakangnya tergantung pada sektor basis di wilayah belakang tersebut. Dengan demikian perkembangan perekonomian secara keseluruhan tetap tergantung pada perkembangan sektor basis murni.
Didalam menetapkan apakah sesuatu konsentrasi pemukiman itu sudah dapat dikategorikan sebagai kota atau belum, maka perlu ada kriteria yang jelas untuk membedakannya. Salah satu kriteria yang umum digunakan adalah jumlah dan kepadatan penduduk. Bagi kota yang dulunya sudah berstatus kotamadya atau sudah dikenal luas sebagai kota, maka permasalahannya adalah berapa besar sebetulnya kota tersebut, misalnya ditinjau dari sudut jumlah penduduk ataupun luas wilayah yang masuk dalam kesatuan kota. Menggunakan jumlah penduduk berdasarkan wilayah administrasi pemerintahan, seringkali hasilnya tidak tepat untuk menggambarkan besarnya sebuah kota, karena terkadang ada bagian (pinggiran) dari wilayah administrasi kota tersebut yang belum tepat dikatakan sebagai wilayah kota, karena belum memenuhi persyaratan sebagai wilayah kota (misalnya masih sebagai
wilayah pertanian/ perkebunan). Pada kondisi lain kota itu sebetulnya sudah melebar melampaui batas administrasinya, artinya kota itu telah menyatu dengan wilayah tetangga yang bukan berada pada wilayah administrasi kota tersebut. Didalam menganalisis fungsi kota ataupun dalam menetapkan orde perkotaan, maka luas dan penduduk sebaiknya didasarkan atas wilayah kota yang benar-benar telah memiliki ciri-ciri perkotaan.
Permasalahan bagi konsentrasi pemukiman atau bagi kota kecil (ibukota kecamatan) adalah apakah konsentrasi itu dapat dikategorikan sebagai kota atau masih sebagai desa. Jadi perlu menetapkan kriteria apakah suatu lokasi konsentrasi itu sudah memenuhi syarat untuk dinyatakan sebagai kota atau belum. Biro Pusat Statistik (BPS), dalam pelaksanaan “Survei Status Desa/Kelurahan 2000” yang dilakukan pada tahun 2000, menggunakan beberapa kriteria untuk menetapkan apakah suatu desa/ kelurahan itu dikategorikan sebagai desa atau sebagai kota. Kriteria yang digunakan adalah:
1) Kepadatan penduduk per km2
2) Prosentase rumah tangga yang mata-pencaharian utamanya adalah pertanian atau
non-pertanian;
,
3) Prosentase rumah tangga yang memiliki telepon;
4) Prosentase rumah tangga yang menjadi pelanggan listrik;
5) Fasilitas umum yang ada di desa/kelurahan tersebut seperti: fasilitas pendidikan, pasar, tempat hiburan, kompleks pertokoan, dan fasilitas lain seperti: hotel, bilyar, diskotik, karaoke, panti pijat dan salon. Masing-masing fasilitas ini diberi skor
(nilai). Atas dasar skor gabungan yang dimiliki desa/kelurahan tersebut, maka ditetapkanlah apakah masuk kategori kota dan dinamakan kelurahan atau masuk kategori desa. Atas dasar gabungan skor beberapa kelurahan/desa yang berada dalam satu wilayah administrasi maka ditetapkanlah wilayah tersebut masuk dalam salah satu kategori berikut: Perkotaan Besar, Perkotaan Sedang, Perkotaan Kecil dan Perdesaan.
Kriteria BPS diatas hanya didasarkan atas kondisi (besaran) phisik dan mestinya dilengkapi dengan melihat apakah tempat konsentrasi itu menjalankan fungsi perkotaan. Misalnya mengenai mata pencaharian penduduk perlu dibuat ketentuan bahwa mata-pencaharian penduduknya adalah bervariasi, dan tidak tergantung hanya pada satu sektor yang dominan (walaupun itu bukan pertanian), sehingga terdapat transaksi antar berbagai kegiatan/sektor yang bernilai ekonomi. Selain itu perlu ditambah dengan kriteria bahwa konsentrasi itu berfungsi melayani wilayah belakangnya. Artinya berbagai fasilitas yang ada di tempat itu seperti tempat perdagangan, jasa, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain tidak hanya melayani/ dimanfaatkan oleh penduduk kota itu sendiri, tapi juga melayani masyarakat yang datang dari luar kota yang sering disebut sebagai wilayah belakangnya.
Di lain sisi Direktorat Cipta Karya Departemen PU (berubah menjadi KIMPRASWIL tapi kemudian berubah lagi ke nama semula) secara implicit meganggap bahwa suatu konsentrasi pemukiman yang kepadatannya 50 jiwa atau lebih per ha berhak mendapat pelayanan fasilitas perkotaan (seperti pelayanan sampah, air minum, dan lain-lain). Juga ada kriteria bahwa jaringan jalannya sudah
berlapis (berbentuk grid, bukan berbentuk pita atau ribbon type). Kriteria diatas masih perlu dipertegas tentang berapa luas wilayah minimal yang kepadatannya 50 jiwa atau lebih per ha dalam satu kesatuan wilayah yang utuh, artinya tidak terputus-putus. Dalam kebutuhan praktis (misalnya dalam menetapkan ibukota kabupaten yang berhak mendapat program P3KT perkotaan), maka Dirjen Cipta Karya Dep. P.U. menetapkan jumlah penduduk ibukota kabupaten itu minimal 10.000 jiwa. Tetapi instansi yang sama untuk kondisi yang berbeda menetapkan bahwa ibukota kecamatan yang perlu disusun Rencana Tata Ruangnya adalah setidak-tidaknya terdapat 10 ha lahan dengan jumlah penduduk minimal 1.000 jiwa.
Pada dasarnya untuk melihat apakah konsentrasi itu sebagai kota atau tidak, adalah dari seberapa banyak jenis fasilitas perkotaan yang tersedia dan seberapa jauh kota itu menjalankan fungsi perkotaan. Fasiltas perkotaan/fungsi perkotaan antara lain adalah sebagai berikut:
1) Pusat Perdagangan, yang tingkatannya dapat dibedakan atas: melayani masyarakat kota itu sendiri, melayani masyarakat kota dan daerah pinggirannya (daerah yang berbatasan), melayani beberapa kota kecil (misalnya Pusat Kabupaten), melayani beberapa kabupaten/kota yang lebih kecil lainnya (misalnya Pusat Propinsi) dan pusat kegiatan perdagangan antar pulau/ekspor di propinsi tersebut atau Pusat perdagangan beberapa propinsi sekaligus.
2) Pusat Pelayanan Jasa baik jasa perorangan maupun jasa perusahaan. Jasa
perorangan, misalnya: tukang-pangkas, salon, tukang-jahit, perbengkelan, reparasi alat elektronik, pengacara, dokter, notaris, warung-kopi/nasi, dan lain-lain. Jasa
perusahaan misalnya: Perbankan, Perhotelan, Asuransi, Pengangkutan, Pelayanan Pos, Tempat hiburan, Jasa Penyewaan Peralatan, dan lain-lain.
3) Tersedianya Prasarana Perkotaan seperti: Sistim Jalan Kota yang baik, Jaringan Listrik, Jaringan Telepon, Jaringan Air Minum, Pelayanan Sampah, Sistim Drainase, Taman Kota, Pasar, dan lain-lain.
4) Pusat Penyediaan Fasilitas Sosial seperti Prasarana pendidikan (Universitas,
Akademi, SMU, SLTP, SD), termasuk berbagai kursus ketrampilan, Prasarana Kesehatan dengan berbagai tingkatannya termasuk Apotik, Tempat beribadah, Prasarana Olahraga, Prasarana Sosial seperti Gedung pertemuan,dan lain-lain. 5) Pusat Pemerintahan, banyak kota adalah sekaligus lokasi pusat pemerintahan. Kota
terbesar di suatu propinsi seringkali adalah pusat pemerintahan tingkat propinsi, demikian pula untuk tingkat kota/kabupaten, tingkat kecamatan dan tingkat kelurahan/desa. Pusat pemerintahan turut mempercepat tumbuhnya suatu kota, karena banyak masyarakat yang perlu datang ke tempat itu dalam rangka urusan pemerintahan.
6) Pusat Komunikasi dan Pangkalan Transportasi, artinya dari kota tersebut masyarakat bisa berhubungan ke banyak tujuan dengan berbagai pilihan alat penghubung. Masyarakat bisa berkomunikasi ke banyak tempat dengan berbagai pilihan alat penghubung (mis. telepon, telex, internet, radio, faksimil, dan lain-lain). Bisa mengirim uang atau berita dengan banyak cara (bank, kantor pos, perusahaan pengiriman - forwarding, dan lain-lain). Bisa bepergian langsung ke berbagai tujuan
dengan berbagai pilihan alat transportsi (Bus, Kapal Laut, Kereta Api, dan Pesawat Udara)
7) Lokasi pemukiman yang tertata, sesuatu lokasi dikatakan kota karena jumlah
penduduknya yang banyak. Penduduk membutuhkan tempat tinggal. Hal ini berarti kota adalah sekaligus lokasi pemukiman, dan mestinya di kota, pemukiman itu kelihatan teratur/tertata (karena harus meminta IMB bila ingin membangun).
Makin banyak fasilitas perkotaan yang dimiliki serta makin banyak fungsi perkotaan yang di-embannya, menggambarkan hierarki yang sebenarnya dari kota tersebut. Makin tinggi hierarkinya makin luas wilayah pengaruhnya