BAB I PENDAHULUAN
F. Definisi Operasional
Agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami judul yang terdapat pada proposal skripsi ini, maka selanjutnya penulis mengemukakan penjelasan dalam istilah judul proposal ini sebagai berikut:
UP2K adalah segala kegiatan ekonomi yang diusahakan oleh keluarga, baik secara perorangan maupun kelompok, yang modalnya bersumber dari swadaya masyarakat, bantuan pemerintah, bantuan luar negeri, swasta serta sumber lain yang sah dan tidak mengikat (Pedoman Pelaksanaan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K)-PKK, 2010).
Pendapatan masyarakat adalah jumlah penghasilan yang diterima oleh masyarakat atas prestasi kerjanya selama satu periode tertentu, baik harian, mingguan, bulanan ataupu tahunan. Kondisi pendapatan masyarakat Nagari Situmbuk Kecamatan Salimpaung adalah, suatu keadaan pendapatan keluarga kurang mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari sehingga kaum ibu-ibu ikut serta membantu suaminya untuk ke sawah dan berkebun.
9
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pendapatan
1. Pengertian Pendapatan
Setiap faktor produksi yang terdapat dalam perekonomian ada dimiliki oleh seseorang. Pemiliknya menjual faktor produksi tersebut kepada pengusaha dan sebagai balas jasanya mereka akan memperoleh pendapatan. Tenaga kerja mendapat gaji dan upah, tanah memperoleh sewa, modal memperoleh bunga, dan keahlian keusahawanan memperoleh keuntungan. Pendapatan yang diperoleh masing-masing jenis faktor produksi tersebut tergantung kepada harga dan jumlah masing-masing faktor produksi yang digunakan. Jumlah pendapatan yang diperoleh berbagai faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan sesuatu barang adalah sama dengan harga dari barang tersebut (Sukirno, 2002). Pengertian pendapatan menurut para ahli:
a. Sadono Sukirno mengemukakan pendapatan adalah penghasilan yang diterima tanpa memberikan suatu kegiatan apapun yang diterima oleh suatu negara.
b. Mardiasmo, pendapatan dengan definisi yang lebih luas merupakan setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri yang dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan dengan nama dan bentuk apapun. Yang termasuk dalam pendapatan menurut Mardiasmo adalah : 1) Imbalan atau penggantian yang berkenaan dengan pekerjaan atau jasa. Pendapatan yang tergolong imbalan yaitu gaji, upah, hononarium, komisi, bonus, uang pension, dan lain-lain. 2) Hadiah. Hadiah dapat berupa uang ataupun barang yang berasal dari pekerjaan, undian, penghargaan
dan lain-lain. 3) Laba usaha. Pendapatan yang berasal dari laba usaha adalah pendapatan yang didapat dari selisih penjualan barang dengan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk membuat barang tersebut, yang termasuk biaya-biaya antara lain : biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya penjualan dan lain-lain. 4) Keuntungan karena penjualan. Pendapatan yang berasal dari keuntungan karena penjualan adalah pendapatan yang didapat dari selisih penjualan barang dan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan barang tersebut, yang termasuk biaya-biaya antara lain : biaya transportasi, biaya tenaga kerja, biaya penjualan dan lain-lain. 5) Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya. Hal tersebut terjadi karena kesalahan perhitungan pajak yang telah dilakukan. 6) Bunga dari pengembalian utang kredit. Setiap kelebihan pengembalian piutang dari jumlah uang yang dipinjamkan kepada orang lain termasuk pendapatan dalam pengertian. 7) Deviden dan pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU). Pembagian laba perusahaan ataupun koperasi yang sebanding dengan modal yang ditanamkan juga termasuk pendapatan. 8) Royalti. Royalti adalah pendapatan yang diterima dari balas jasa terhadap hak cipta yang digunakan oleh orang lain. 9) Sewa. Sewa adalah pemindahan hak guna dari hak milik kepada orang lain dalam kurun waktu yang telah ditentukan. 10) Penerimaan atau pembayaran berkala. 11) Keuntungan karena pembebasan utang.
12) Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing. 13) Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva. 14) Premi asuransi.
c. Menurut Faisal H. Basri, sumber pendapatan dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu : 1) Pendapatan dari gaji dan upah. Maksudnya yaitu imbalan dari jabatannya sebagai buruh. 2) Pendapatan dari usaha. Maksudnya yaitu imbalan dari jabatannya sebagai pemilik usaha. 3) Pendapatan dari transfer rumah tangga lain yang terdiri
dari uang kiriman, warisan sumbangan, hadiah, hibah dan bantuan. 4) Pendapatan dari lainnya yang meliputi pendapatan dari sewa, bunga deviden, pension, beasiswa dan sebagainya.
Sumber pendapatan menurut lapangan usaha yang ada di Indonesia, yaitu : 1) Pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan. 2) Pertambangan dan penggalian. 3) Industri pengolahan. 4) Listrik, gas dan air minum. 5) Bangunan. 6) Perdagangan, hotel dan restoran. 7) Pengangkutan dan komunikasi. 8) Bank dan lembaga keuangan lainnya. 9) Sewa rumah. 10) Pemerintahan dan pertahanan. 11) Jasa-jasa Dari pendapat diatas, pendapatan tidak hanya berasal dari hasil perdagaangan atau pekerja dari perusahaan saja tetapi juga dapat berasal dari penanaman modal dan bahkan dapat berasal dari hadiah ataupun pemberian orang lain.
2. Standar Pendapatan yang Baik
Adapun standar pendapatan yang baik adalah:
a. UU pemerintahan Ukuran kesejahteraan keluarga dapat dilihat kesanggupannya dalam memenuhi kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan kerohanian. Dan kesejahteraan dapat diraih jika seseorang dapat mengakses pekerjaan, pendapatan, pangan, pendidikan, tempat tinggal, kesehatan dan lainnya. Standar pendapatan menurut pemrintah adalah apabila ia digaji sebesar UMR.
b. Kebutuhan Kebutuhan sehari-hari merupakan suatu hal yang tidak bisa terlepas dari kehidupan manusia itu sendiri. Kebutuhan itu bisa tercukupi seperti sandang, pangan dan papan apabila memperoleh penghasilan yang cukup, karena dari kecukupan dalam memenuhi kebutuhan sehari-harilah ia dikatakan berpenghasilan besar. Dalam arti lain semakin besar penghasilan
yang diperoleh seseorang maka ia bisa berinvestasi hartanya keberbagai tempat seperti berinvestasi di Bank.
c. Perbandingan tempat sekarang dengan tempat lain Tempat sangat menetukan kesuksesan dalam berdagang, karena tempat merupakan peran yang sangat penting dalam menjalankan usaha.
Dalam hal ini tempat juga menetukan suatu penghasilan seseorang. Apabila memliki suatu tempat yang strategis tentu saja akan dapat mengebangkan laju usaha seseorang kedepannya.
Perbandingan tempat sangat diperlukan gunanya untuk minimalisirkan lokasi dengan ongkos terkecil dan tempat yang penerimaan keuntungan terbesar.
d. Pendidikan Statistik menunjukkan orang yang menempuh pendidikan lebih tinggi cenderung menghasilkan lebih banyak uang dari pada mereka yang tidak. Ini seringkali membutakan mata masyarakat yang akhirnya cenderung menganggap bahwa seorang tidak akan mendapatkan penghasilan tinggi sebelum mereka menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Ini tentu saja merupakan mitos yang salah. Yang benar adalah pendidikan yang tinggi bisa membantu seseorang untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar, meski hal itu bukan satu-satunya jaminan. Kita banyak melihat para wiraswastawan yang tidak lulus pendidikan tinggi bisa mendapatkan penghasilan yang besar. Namun demikian kebanyakan dari mereka yang memiliki pendidikan tinggi biasanya berpenghasilan lebih besar.
3. Pendapatan dalam Ekonomi Islam
Ekonomi Islam merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang diilhami oleh nilai-nilaiIslam. (Gampito, 2012) Pengertian sederhana ini berimplikasi luas salah satunya pada tujuan ekonomi yang hendak dicapai. Jika ekonomi konvensional bertujuan untuk mencapai
keuntungan yang berorientasi keduniaan semata, maka ekonomi Islam bertujuan untuk mensejahterakan pelakunya di dunia dan akhirat atau falah. Lalu bagaimana cara untuk menggapai kesejahteraandunia dan akhirat (falah) ini? Ekonomi Islam memandang, perlu terciptanya maslahah atau bentuk keadaan, baik material ataupun non material, yang mampu meningkatkan kedudukan manusia sebagai makhluk yang paling mulia.
Mengukur pendapatan nasional berdasarkan ekonomi islam, terdapat 4 hal tingkat keberhasilan perekenomian, diantaranya:
a. Pendapatan nasional harus dapat mengukur penyebaran pendapatan individu rumah tangga. Penghitungan pendapatan nasional Islami harus dapat mengenali penyebaran alamiah dari output perkapita tersebut, karena dari sinilah nilai- nilai sosial dan ekonomi Islam bisa masuk. Jika penyebaran pendapatan individu secara nasional bisa dideteksi secara akurat, maka akan dengan mudah dikenali seberapa besar rakyat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.
b. Pendapatan nasioanal harus dapat mengukur produksi di sektor pedesaan. Sangatlah disadari bahwa tidaklah mudah mengukur secara akurat produksi komoditas subsisten, namun bagaimanapun juga perlu satu kesepakatan untuk memasukkan angka produksi komoditas yang dikelola.dari hasil produksi subsisten tersebut harus masuk kedalam pendapatan nasional. Khususnya pangan.
c. Pendapatan nasional harus dapat mengukur kesejahteraan ekonomi Islam. Angka rata-rata tidak menyediakan informasi yang cukup untuk mengukur kesejahteraan yang sesungguhnya.
Adalah sangat penting untuk mengekspresikan kebutuhan efektif dan kebutuhan dasar akan batang dan jasa sebagai persentase total konsumsi. Hal itu perlu dilakukan karena kemampuan untuk menyediakan kebutuhan dasar seperti pangan, perumahan, pelayanan kesehatan, pendidikan, air bersih, rekreasi, dan
pelayanan publik lainnya sesungguhnya bisa menjadi ukuran bagaimana tingkat kesejahteraan dari suatu negara.
d. Penghitungan pendapatan nasional sebagian ukuran dari kesejahteraan nasional Islam melalui pendugaan nilai santunan antar saudara dan sedekah. GNP adalah ukuran moneter dan tidak memasukkan transfer payment seperti sedekah. Namun haruslah disadari, sedekah memiliki peran yang segnifikan di dalam masyarakat Islam. Ini bukan sekedar pemberian sukarela kepada orang lain, namun merupakan bagian dari kepatuhan dalam menjalankan kehidupan beragama. Pendapatan atau upah juga dapat didefinisikan dengan sejumlah uang yang dibayar oleh orang yang memberi pekerjaan kepada pekerja atas jasanya sesuai perjanjian.
Pendapatan atau disebut juga income dari seorang warga masyarakat adalah hasil penjualannya dari faktor-faktor produksi yang dimilikinya pada sektor produksi. Dan sektor produksi ini membeli faktor-faktor produksi tersebut untuk digunakan sebagai input proses produksi dengan harga yang berlaku di pasar faktor produksi. Harga faktor produksi di pasar faktor produksi (seperti halnya juga untuk barang-barang di pasar barang) ditentukan oleh tarik-menarik antara penawaran dan permintaan (Jaya, 2011) dalam kusumawardani (2014:9-10).
Pendapatan merupakan suatu unsur penting dalam perekonomian yang berperan meningkatkan derajat hidup orang banyak melalui kegiatan produksi barang dan jasa. Besarnya pendapatan seseorang tergantung dari jenis pekerjaannya. Pendapatan merupakan jumlah seluruh uang yang diterima oleh seseorang atau rumah tangga selama jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun).
Tidak jauh berbeda pula dengan yang dirumuskan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) yang menyatakan bahwa pendapatan yaitu yang diterima oleh seseorang sebagai balas jasa berupa uang dari segala hasil
kerja atau usahanya baik dari sektor formal maupun non formal yang terhitung dalam jangka waktu tertentu. Berdasarkan pengertian pendapatan yang telah disebutkan di atas, maka pendapatan rumah tangga petani tebu dapat diklasifikasikan sebagai pendapatan total petani tebu, yaitu besarnya pendapatan total anggota keluarga yang diperoleh dari penjumlahan hasil tani dan pendandapatan lainnya.
A.Landasan Teori Jume’edi (2005, h.12) menuliskan partisipasi wanita secara umum dikelompokkan dalam dua peran yaitu peran tradisi dan peran transisi. Peran tradisi cukup mencakup peran wanita sebagai istri dan ibu rumah tangga, sedangkan peran transisi meliputi pengertian wanita sebagai tenaga kerja, anggota masyarakat, dan masyarakat pembangunan. Menurut Istoyono Kirnoprasetyo (2007, h. 55-57) peranan wanita dalam rumah tangga akan dilihat dalam tiga hal, yaitu:
1) Peranan wanita sebagai tenaga kerja dalam rumah tangga dan sebagai tenaga kerja dalam usaha keluarga. Dalam peran ini wanita mempunyai pekerjaan yang sangat kompleks. Pekerjaan rumah tangga wanita dapat digolongkan pada kegiatan-kegiatan; menyiapkan makanan, mengasuh anak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, mencuci perabot rumah tangga, mengambil air dan pekerjaan pekerjaan lain.
2) Peranan wanita sebagai pencari nafkah diluar usaha keluarga. Dalam peran ini wanita terdorong untuk bekerja mencari nafkah guna menambah pendapatan keluarga.
3) Peranan wanita pada pengambil keputusan dalam rumah tangga.
Dalam peran ini wanita dan pria dalam ikatan suami-istri, masing-masing mempunyai potensi untuk mempengaruhi pasangan dan potensi ini nampak dalam proses pengambilan keputusan dalam berbagai kegiatan yang mempengaruhi kehidupan keluarga.
Menurut Jume’edi (2005, h. 12) dalam perannya sebagai pencari nafkah keluarga wanita dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor sosial ekonomi, seperti usia, pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, dan pendapatan anggota rumah tangga yang lainnya.
1) Usia Wanita Suparyo Hugeng (2011, h.127) berpendapat usia wanita diduga sangat berpengaruh terhadap aktivitas mereka dalam bekerja sehari-hari. Pada mulanya semakin bertambah usia seseorang akan semakin tinggi waktu kerjanya. Namun pada usia tertentu dengan kekuatan fisik yang semakin menurun waktu kerjanya pun akan menurun.
2) Jumlah Tanggungan Keluarga
Jumlah tanggungan keluarga akan mempengaruhi curahan kerja ibu rumah tangga yang secara tidak langsung memberikan pengaruh terhadap perannya dalam mencari nafkah. Jumlah anggota keluarga dan komposisinya mempengaruhi curahan waktu kerja rumah tangga untuk mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi guna memenuhi kebutuhan keluarganya yang semakin meningkat.
3) Pendapatan Rumah Tangga
Di dalam keluarga dimana pendapatan suami kadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam keluarganya sehingga anggota keluarga yang lain seperti istri dan anak-anaknya ikut dilibatkan dalam kegiatan mencari nafkah. Hasil Penelitian Hananto Sigit dan Abuzar dalam Maria Rumondang Sihotang (2011, h. 388-389) menunjukan adanya korelasi positif yang erat antara banyaknya pencari pendapatan dengan tingkat pendapatan dalam rumah tangga.
4. Sumber Pendapatan
Pada dasarnya pendapatan keluarga berasal dari berbagai sumber, kondisi ini bisa terjadi karena masing-masing anggota rumah tangga mempunyai lebih dari satu jenis pekerjaan baik sebagai pekerjaan tetap maupun pekerjaan pengganti. Konkretnya penghasilan
keluarga dapat bersumber pada: a) Usaha sendiri, misalnya berdagang, wiraswasta. b) Bekerja pada orang lain, misalnya karyawan atau pegawai. c) Hasil dari milik, misalnya punya sawah atau rumah disewakan. Pendapatan keluarga dapat diterima dalam bentuk uang, dapat juga dalam bentuk barang (disebut “in natura”
misalnya tunjangan beras, hasil dari sawah atau pekarangan sendiri), atau fasilitas-fasilitas (misalnya rumah dinas, pengobatan gratis).
Dalam masyarakat modern kebanyakan orang mendapat penghasilannya dalam bentuk uang. Berhubung dengan itu dibedakan penghasilan nominal (Money Income), yaitu jumlah rupiah yang diterima, dan penghasilan riil/nyata (Real Income), yaitu jumlah barang yang dapat dibeli dengan sejumlah uang tertentu, (atau dapat dinilai dalam uang). Pembedaan ini penting terutama bila harga-harga tidak stabil.
Islam menganggap harta adalah anugrah dari Allah SWT.
Manusia berhak mencari harta dan menggunakannya untuk berbagai macam kebaikan. Islam membolehkan pencarian harta dengan berbagai macam cara, kecuali jika ada dalil yang mengharamkannya, karena sebab dan alasan yang bertentangan dengaan ajaran kebaikan dalam islam. Sebagaimana firman Allah SWT:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. (Al-Baqoroh: 172)
5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan
Pendapatan keluarga yang satu berbeda dengan pendapatan keluarga yang lain, sesuai dengan kegiatan perekonomian mereka.
akan tetapi pendapatan setiap keluarga tidak akan terlepas dari hal-hal
berikut, diantaranya: a) Pendapatan pokok Pendapatan pokok dapat berbentuk pendapatan per semester atau semi semester bergantung pada mata pencaharian pokok kepala rumah tangga. b) Pendapatan tambahan Pendapatan tambahan adalah pendapatan keluarga yang dihasilkan anggota keluarga yang sifatnya tambahan, seperti bonus atau pemberian dana bantuan.
Pendapatan lain-lain Pendapatan lain-lain dapat berupa bantuan atau hibah dari orang lain atau hasil dari perputaran harta. Bantuan istri kepada suaminya dalam masalah keuangan keluarga dianggap sebagai pendapatan lain-lain karena hal ini dapat membantu pembelanjaan keluarga.
6. Jenis – Jenis Pendapatan
Secara garis besar pendpaatan digolongkan menjadi tiga golongan (Suparmoko dalam Artaman, 2015), yaitu:
a. Gaji dan Upah. Imbalan yang diperoleh setelah orang tersebut melakukan pekerjaan untuk orang lain yang diberikan dalam waktu satu hari, satu minggu maupun satu bulan.
b. Pendapatan dari usaha sendiri. Merupakan nilai total dari hasil produksi yang dikurangi dengan biaya – biaya yang dibayar dan usaha ini merupakan usaha milik sendiri atau keluarga dan tenaga kerja berasal dari anggota keluarga sendiri, nilai sewa kapital milik sendiri dan semua biaya ini biasanya tidak diperhitungkan.
c. Pendapatan dari usaha lain. Pendapatan yang diperoleh tanpa mencurahkan tenaga kerja dan ini biasanya merupakan pendapatan sampingan antara lain yaitu pendapatan dari hasil menyewakan aset yang dimiliki seperti rumah, ternak dan barang lain, bunga dari uang, sumbangan dari pihak lain dan pendapatan dari pension.
7. Pengukuran Pendapatan
Ada dua hal yang perlu diperhatikan pada saat suatu pendapatan diakui yaitu pengukuran pendapatan dengan satuan atau ukuran moneter dan penetapan waktu bahwa pendapatan tersebut dapat dilaporkan sebagai pendapatan. Ikatan Akuntan Indonesia (2002:23) memberikan ketentuan mengenai pengukuran pendapatan yang dinyatakan dalam Standar Akuntansi Keuangan yang isinya sebagai berikut:
“Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang dapat diterima, jumlah pendapatan yang timbul dari suatu transaksi biasanya ditentukan oleh persetujuan antara perusahaan pembeli atau pemakai perusahaan tersebut. Jumlah tersebut, dapat diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima perusahaan dikurangi jumlah diskon dagang dan rabat volume yang diperbolehkan perusahaan”.
8. Unsur - unsur Pendapatan
Didalam unsur-unsur pendapatan yang dimaksud adalah asal dari pada pendapatan itu diperoleh, dimana unsur-unsur tersebut meliputi:
a. Pendapatan hasil produksi barang atau jasa
b. Imbalan yang diterima atas penggunaan aktiva atau sumber-sumber ekonomis perusahaan oleh pihak lain
c. Penjualan aktiva diluar barang dagangan merupakan unsur-unsur pendapatan lain-lain suatu perusahaan.
9. Sumber-Sumber Pendapatan
Dalam pendapatan diketahui bahwa sumber pendapatan itu dapat melalui beberapa aspek dimana dapat dijabarkan menjadi tiga sumber pendapatan yaitu:
a. Pendapatan operasional, yaitu pendapatan yang berasal dari aktivitas utama perusahaan.
b. Pendapatan non operasional, pendapatan yang tidak terkait dengan aktivitas perusahaan, yaitu pendapatan yang didapat dari faktor eksternal.
c. Pendapatan luar biasa (extra ordinary), yaitu pendapatan yang tak terduga dimana pendapatan ini tidak sering terjadi dan biasanya diharapkan tidak terulang lagi dimasa yang akan datang.
(Baridwan, 2011:28-35).
10. Klasifikasi Pendapatan
Menurut Kusnadi (2000;19) menyatakan bahwa pendapatan dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu:
a. Pendapatan Operasional
Pendapatan Operasional adalah pendapatan yang timbul dari penjualan barang dagangan, produk atau jasa dalam periode tertentu dalam rangka kegiatan utama atau yang menjadi tujuan utama perusahaan yang berhubungan langsung dengan usaha (operasi) pokok perusahaan yang bersangkutan. Pendapatan ini sifatnya normal sesuai dengan tujuan dan usaha perusahaan dan terjadinya berulang-ulang selama perusahaan melangsungkan kegiatannya.
Pendapatan operasional untuk setiap perusahaan berbeda-beda sesuai dengan jenis usaha yang dikelola perusahaan. Salah satu jenis pendapatan operasional perusahaan adalah pendapatan yang bersumber dari penjualan. Penjualan ini berupa penjualan barang dan penjualan jasa yang menjadi objek maupun sasaran utama dari usaha pokok perusahaan. Pendapatan operasional dapat diperoleh dari dua sumber yaitu:
1) Penjualan kotor yaitu merupakan semua hasil atau penjualan barang-barang maupun jasa sebelum dikurangi dengan berbagai potongan-potongan atau pengurangan lainnya untuk dibebankan kepada langganan atau yang membutuhkannya.
2) Penjualan bersih yaitu merupakan hasil penjualan yang sudah diperhitungkan atau dikurangkan dengan berbagai potongan-potongan yang menjadi hak pihak pembeli.
Jenis pendapatan operasional timbul dari berbagai cara, yaitu:
1) Pendapatan yang diperoleh dari kegiatan usaha yang dilaksanakan sendiri oleh perusahaan tersebut.
2) Pendapatan yang diperoleh dari kegiatan usaha dengan adanya hubungan yang telah disetujui, misalnya penjualan konsinyasi.
3) Pendapatan dari kegiatan usaha yang dilaksanakan melalui kerjasama dengan para investor.
b. Pendapatan Non Operasional
Pendapatan yang diperoleh perusahaan dalam periode tertentu, akan tetapi bukan diperoleh dari kegiatan operasional utama perusahaan. Adapun jenis dari poendapatan ini dapat dibedakan sebagai berikut:
1) Pendapatan yang diperoleh dari penggunaan aktiva atau sumber ekonomi perusahaan oleh pihak lain. Contohnya, pendapatan bunga, sewa, royalti dan lain-lain.
2) Pendapatan yang diperoleh dari penjualan aktiva diluar barang dagangan atau hasil produksi. Contohnya, penjualan surat-surat berharga, penjualan aktiva tak berwujud.
Pendapatan bunga, sewa, royalti, keuntungan (laba), penjualan aktiva tetap, investasi jangka panjang dan dividen merupakan pendapatan diluar usaha bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur dan perdagangan. Dan pendapatan yang diperoleh dari peningkatan ekuitas dari
transaksi-transaksi yang bukan kegiatan utama dari entitas dan dari transaksi-transaksi atau kejadian-kejadian lainnya serta keadaan-keadaan yang mempengaruhi entitas selain yang dihasilkan dari investasi pemilik disebut dengan keuntungan.
B. Pemberdayaan
1. Pengertian Pemberdayaan
Secara etimologis pemberdayaan berasal dari kata dasar “daya”
yang berarti “kemampuan”. Berdasarkan keterangan tersebut maka pemberdayaan adalah kemampuan yang dimiliki oleh orang atau organisasi dalam upaya untuk membuat orang atau organisasi berdaya saing. Pemberdayaan dalam Bahasa Indonesia merupakan terjemahan dari Bahasa Inggris yaitu “empowerment” yang berasal dari kata
“power” yang berarti kekuatan. Pemberdayaan menunjuk pada kemampuan orang, khususnya kelompok rentan dan lemah sehingga mereka memiliki kekuatan atau kemampuan dalam beberapa hal sebagai berikut:
a. Memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga mereka memiliki kebebasan (freedom), dalam arti bukan saja bebas mengemukakan pendapat, melainkan bebas dari kelaraan, bebas dari kebodohan, bebas dari kesakitan.
b. Menjangkau sumber-sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatannya dan memperoleh barang-barang dan jasa-jasa yang mereka perlukan.
c. Berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka.
c. Berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka.